Adrenalin masih meledak-ledak di dalam pembuluh darahmu, menciptakan sensasi kesemutan di ujung jari saat kamu menekan tombol close di lift berkali-kali dengan kalap. Begitu pintu logam itu tertutup rapat, kamu menyandarkanpunggungmu, merosot pelan hingga terduduk di lantai lift yang dingin. Napasmu tersenggal, pendek dan panas. Di antara kedua pahamu, sensasi lengket dan basah itu masih ada-pengingat nyata bahwa hanya beberapa menit yang lalu, seorangpria asing telah mengklaim tubuhmu di depan umum.
Kamu merasa kotor, terancam, namun ada bagian dari hormon ovulasimu yang justru berdenyut puas karena benih yang tertanam di dalam sana. “Gila… aku benar-benar gila,” rintihmu sambil meremas rambut. Begitu lift berdenting di lantaimu, kamu berlari keluar, menerjang lorong apartamen yang sunyi, dan membanting pintu unitmu keras-keras. Brak!
Kamu segera mengunci semua slot pintu, menyandarkan dahi di permukaan kayu yang dingin. Kamu yakin pria itu tidak mengejarmu. Keamanan disini sangat ketat, tidak mungkin orang asing bisa naik tanpa kartu akses. Kamu merasa aman. Kamu merasa menang. Namun, di sisi lain pintu kayu itu-hanya berjarak beberapa jengkal dari tempatmu berdiri-sesuatu yang lebih mengerikan sedang terjadi.
Riki berdiri di lorong, tepat di depan unitmu. Tidak terengah-engah sepertimu. Dia tenang, ritme napasnya sudah kembali normal, namun matanya masih berkilat gelap. Dia mendengarkan suara banting pintu dan deru napasmu dari balik pintu unit nomor 402 itu.
Sebuah seringai tipis muncul di wajahnya. Dia meraba saku jaket denimnya, mengeluarkan kartu akses unit. Selama dua tahun ini, dia adalah hantu di gedung ini. Dia berangkat saat fajar belum menyingsing dan pulang saat tengah mulam, atau sekadar berdiam di dalam unitnya tanpa menyalakan lampu ruang tamu. Dia tahu tetangga depannya—kamu—adalah gadis yang teratur, manis, dan terlalu “polos” untuk tinggal sendirian di kota sekeras ini.
Riki tidak pernah berencana untuk menyentuhmu. Tapi pertemuan di bus tadi, dengan cara kamu menatapnya penuh rasa ingin tahu yang tersembunyi, mematahkan kontrol dirinya.
Dia membalikkan badan, menempelkan kartu ke unit nomor 401—tepat di depan unitmu. Beep. Pintu terbuka. Riki melangkah masuk ke dalam kegelapan kamarnya, melempar jaketnya ke sembarang tempat. Dia tidak perlu mengejarmu karena dia tahu persis di mana kamu akan tidur setiap malam.
Didalam unitmu, kamu masih diliputi kecemasan. Rasa penasaran yang gila membuatmu mendekat ke arah peephole (lubang intip) di pintumu. Kamu melihat keluar melalui lensa cembung itu. Lorong tampak kosong. Namun, sayup-sayup kamu mendengar suara pintu tertutup dari arah depan.
Unit depan baru saja tertutup? Pikirmu. Selama 2 tahun tinggal di sini, kamu hampir yakin unit 401 itu kosong atau hanya digunakan sebagai gudang karena pemiliknya yang tidak pernah terlihat. Kamu menghembuskan napas lega yang panjang. “Mungkin cuma penghuni lain,” gumammu menenangkan diri.
Dengan tangan yang masih gemetar, kamu meraih ponsel. Hal pertama yang kamu lakukan adalah memesan obat pencegah kehamilan darurat melalui aplikasi layanan kesehatan. Hormon ovulasimu memang sedang di puncak, dan kamu tidak boleh membiarkan “kesalahan” di bus itu menjadi beban seumur hidup.
“Semuanya bakal baik-baik aja,”bisikmu meyakinkan diri sendiri. “Dia cuma orang asing. Dia nggak punya akses ke sini. Besok semuanya akan kembali normal.”
Kamu melangkah ke kamar mandi, melepas pakaianmu satu persatu. Saat kain terakhir jatuh ke lantai, udara dingin AC menyentuh kulitmu yang masih panas. Kamu melangkah ke depan cermin besar yang mulai berembun karena uap panas dari shower yang baru saja kamu nyalakan. Kamu tertegun.
Tanganmu perlahan meraba leher dan area tulang selangkamu. Di sana, di bawah pendar lampu kamar mandi yang kekuningan, jejak itu terlihat sangat jelas. Bekas gigitan yang dalam dan hisapan yang meninggalkan warna kemerahan pekat-cupang yang sangat mencolok. Bukan hanya satu, tapi beberapa, tersebar hingga ke area dada.
Sentuhan jarimu pada bekas itu membuatmu berjengit. Kamu bisa merasakan kembali bagaimana kasar dan panasnya lidah Riki di sana. Kamu melihat bayangan dirimu di cermin, matamu masih sayu, bibirmu sedikit bengkak, dan dilehermu tertulis tanda kepemilikan seorang pria yang kamu anggap sudah jauh, padahal dia hanya berjarak satu koridor darimu.
Ada konflik batin yang hebat. Kamu membencinya karena telah melecehkanmu, tapi tubuhmu masih menyimpan sisa gairah dari penyatuan brutal itu. Kamu merasa aman dibalik dinding apartemenmu, tidak menyadari bahwa pria yang memberimu bekas luka nikmat ini sedang berada di balik dinding yang lain, mungkin sedang membayangkan hal yang sama sepertimu sambil menatap pintu unitmu dari balik lubang intipnya sendiri.
Suara notifikasi di ponselmu menandakan bahwa kurir telah meletakkan pesanan obatmu di depan pintu. Kamu menarik napas panjang, merapatkan bathrobe putihmu, dan perlahan membuka slot kunci. Sebelum membuka pintu, kamumengintip sekali lagi lewat lubang Intip, Lorong itu sunyi, lampu temaramnya memantul di lantai marmer yang mengkilap.
Dengan gerakan kilat, kamu membuka pintu, menyambar kantong plastik kecil itu, dan membantingnya kembali. Klik. Terkunci.
Kamu segera menuju dapur, meneguk obat pencegah kehamilan itu dengan segelas air mineral sampai tandas. Perasaan lega yang semu menyergapmu. Kamu berjalan gulai menuju kamar, merebahkan tubuhmu di atas kasur yang empuk. Ikatan bathrobe-mu terasa menyesakkan, maka kamu menarik talinya, membiarkan kain itu terbuka lebar hingga mengekspos dadamu yan masih menyisakan bekas kemerahan dan area intimmu yang masih terasa sensitif.
Perutmu terasa aneh, ada sensasi geli yang berputar-putar disana. Diantara rasa takut yang mulai memudar, ada secercah rindu yang tidak masuk akal akan sentuhan kasar pria di bus tadi. Untuk mengalihkan pikiran gila itu, kamu meraih laptop dan membuka sebuah situs blog anonim yang biasa kamu gunakan untuk membuang beban pikiran.
Di sana, tidak ada yang mengenalmu sebagai mahasiswi komunikasi yung teladan. Kamu hanya sebuah username tanpa wajah. Jari-jarimu mulai menari di atas keyboard, mengetikkan setiap detail kejadian di bus sore tadi.
“Stranger in the bus. He didn’t ask, he just took. And God, why do I still feel his hands on my waist? Is it the ovulation or am I just losing my mind?”
Setelah menekan tombol publish, kamu menutup laptop dan melemparnya ke sisi kasur. Kamu menunggu komentar masuk, berharap ada orang asing lain yang membalas dan memvalidasi kegilaanmu. Namun, kesunyian kamar ini justru membuat gairahmu yang terpendam kembali naik ke permukaan.
Hormon ovulasimu benar-benar menjadi musuh terbesar malam ini. Kamu mencoba memejamkan mata, tapi yang terbayang justru seringai Riki, bisikan kotornya yang vulgar, dan bagaimana rasanya saat dia mengisi dirimu sampai penuh.
Tanganmu perlahan merayap naik, menyentuh lehermu sendiri, tepat diatas bekas hisapan Riki. Kamu mengerang pelan saat jarimu mulai turun, melewati sela payudaramu, dan berakhir di antara kedua pahamu yang mulai kembali lembap.
“Ahhh… Riki…” desahmu tanpa sadar, membayangkan jemari kasar pria asing itu yang sedang bermain disana, bukan jarimu sendiri.
Kamu mulai menyentuh dirimu sendiri dengan ritme yang semakin cepat, mencoba mengejar bayangan kenikmatan yang diberikan Riki di bus tadi. Kamu menggelinjang diatas sprei, kepalamu mendongak, membayangkan pria di unit seberang-yang tidak kamu ketahui adalah dia-sedang melihatmu dalam posisi sehina ini.
Sementara itu, di unit 401, cahaya biru dari layar ponsel menerangi wajah Riki yang gelap. Dia sedang membuka situs blog anonim yang sama. Sebuah senyum tipis, hampir seperti seringai predator, muncul di wajahnya saat dia membacapostingan terbaru dari seorang pengguna anonim yang menceritakan kejadian di bus.
Dia tahu itu kamu. Dia sangat tahu itu tulisanmu.
Jemari Riki bergerak di atas layar, mengetikkan sebuah komentar singkat yan akan membuat jantungmu berhenti berdetak saat kamu membacanya nanti:
“I can still feel how tight you were. Maybe I should come over and finish what we started in the bus?”
Tubuhmu melengkung di atas sprei, napasmu terputus-putus saat jemarimu bekerja kencang di area yang sudah sangat sensitif itu. Nama “Riki” lolos dari bibirmu berkali-kali seperti doa yang berdosa. Bayangan wajah tampannya yang tertutuptopi baseball, rahangnya yang tegas, dan tatapan matanya yang haus membuatmu berada diambang ledakan.
Dengan satu tangan masih gemetar di bawah sana, tanganmu yang lain meraih laptop, ingin melihat apakah ada yang merespons ceritamu. Matamu membelalak saat melihat satu komentar baru dibagian paling atas.
“I can still feel how tight you were. Maybe I should come over and finish what we started in the bus?”
Jantungmu seolah berhenti berdetak. Darahmu mendesir dingin. Bagaimana dia bisa tahu?
TOK. TOK. TOK.
Ketukan itu pelan, namun terdengar sangat otoriter di tengah kesunyian unitmu. Kamu tersentak, hampir melempar laptopmu ke lantai. Puncak kenikmatan yang baru saja akan meledak tertahan di ujung sarafmu, menciptakan rasa sesak yang tak tertahankan. Dalam keadaan kacau, napas memburu, dan tubuh yang basah karena peluh serta gairah, kamu tidak sempat berpikir logis.
Kamu menyambar kaos oversized yang tergeletak di kursi, memakainya dengan terburu-buru hingga menutupi paha, meski tanpa panties. Kamu berdiri membungkuk sedikit, mencoba menyembunyikan putingmu yang mengeras dan menembuskain kaos tipis itu.
“Siapa?” suaramu serak, nyaris hilang. Pikiranmu kacau, kamu mengira itu kurir susulan atau petugas keamanan. Kamu memutar kunci dan membuka pintu sedikit, bermaksud mengintip. Namun, baru saja pintu terbuka beberapa inci, sebuahtekanan kuat dari luar mendorongnya hingga terbuka lebar.
“S-siapa-“
Belum sempat kamu melihat wajahnya dengan jelas, sebuah bayangan tinggi merengsek masuk. Suara klik yang dingin dari kunci pintu yang diputar kembali terdengar seperti vonis mati. Sebelum kamu bisa berteriak, sebuah tangan besar mencengkeram pinggangmu dan membanting tubuhmu ke dinding di samping pintu.
Bugh.
Kamu terkesiap, punggungmu menghantam tembok, dan kamu terkunci di antara kedua lengannya kekar pria itu. Bau maskulin yang sama, aroma keringat dan parfum yang kamu hirup di bus tadi, kini memenuhi indra penciumanmu.
Riki ada di sini. Di dalam unitmu. Dia menunduk, topi baseball-nya masih terpasang, memberikan bayangan gelap yang membuat matanya terlihat lebih mengintimidasi. Tatapannya turun, memperhatikan dadamu yang naik turun karena napasyang memburu dan kaosmu yang sedikit tersingkap di bagian bawah.
“Baru aja aku mau jawab di blog” bisiknya dengan suara bariton yang berat, tepat di depan wajahmu. “Tapi kayaknya lebih enak kalau aku bilang langsung... Kamu berisik banget dari balik tembok seberang, sayang.”
Kamu mematung. Tembok seberang? Dia…Dia tetanggamu?
“Tadi di bus belum cukup, ya?” Jemarinya yang dingin mulai menyentuh rahangmu, memaksa wajahmu mendongak menatapnya. “Sampai kamu harus ‘main’ sendiri sambil manggil nama aku?”
Riki tidak memberimu ruang untuk memprotes. Begitu kalimat itu keluar dari bibirnya, dia langsung membungkam mulutmu dengan ciuman yang jauh lebih brutal daripada di bus tadi. Ini bukan ciuman yang meminta izin, ini adalah penaklukan. Lidahnya merangsek masuk, mengacak-acak rongga mulutmu dengan beringas, menghisap lidahmu sampai kamu merasa paru-parumu hampir meledak karena kehabisan oksigen.
Tanganmu yang gemetar mencoba mendorong bahunya, meremas jaketnya, berusaha melakukan pemberontakan terakhir yang sia-sia. Dalam pergulatan itu, tanganmu tidak sengaja menyenggol topi baseball-nya hingga terlepas, jatuh ke lantaidan menyingkap rambut hitamnya yang berantakan. Wajah tampannya kini terlihat sepenuhnya-tajam, dominan, dan penuh nafsu yang meledak-ledak.
“Nghh-Riki-“
“Diem” geramnya disela ciuman. Dia menangkap kedua pergelangan tanganmu, menguncinya diatas kepala dengan satu tangan besarnуа, melumpuhkan semua gerakanmu hingga kamu hanya bisa melengkung pasrah.
Riki menyadari kaos oversized yang kamu pakai tidak menyembunyikan apa pun di bawahnya. Dia menyeringai gelap, merasakan panas yang memancar dari selangkanganmu yang sudah sangat becak. Dengan gerakan cepat yang terlatih, diamelepaskan cengkraman tangannya hanya untuk meraih pinggangmu, mengangkat tubuhmu hingga kakimu melingkar di pinggang kekarnya.
Punggungmu terhimpit keras di dinding dingin, menciptakan kontras yang gila dengan panas tubuh Biki. Dengan tangan yang lain, dia dengan kasar melepas ikat pinggangnya. Suara denting logam gespernya yang jatuh ke lantai terdengar nyaring di lorong unitmu yang sunyi. Dia menurunkan celananya hanya sampai batas paha, membebaskan kejantanannya yang sudah menegang maksimal, berurat, dan berdenyut tidak sabar.
“Kamu udah siap banget, kan? Liat sebecek apa kamu cuma karena denger suara aku,” bisiknya vulgar, menatap tepat ke matamu yang sudah berkaca-kaca karena gairah yang memuncak.
Tanpa aba-aba, Riki sedikit merosotkan tubuhmu dan…
JLEBB!
Hantaman itu begitu buta dan dalam. Kamu menjerit tertahan, matamu mendelik keatas saat batangnya yang panjang dan besar merobek pertahananmu, mengisi liangmu yang sempit sampai mentok ke rahim. Rasanya jauh lebih intensdaripada di bus, di sini, di kamarmu yang sunyi, setiap gesekan kulit dan suara penyatuan kalian terdengar begitu nyata.
“Ahhh! Riki! Terlalu… besar… nghhh!” kamu meracau, kepalamu terkulai di bahunya, sementara kuku-kukumu tertanam di kulit punggungnya yang keras.
Riki tidak memberikan jeda. Dia mulai menghujammu di dinding, menggunakan berat tubuhnya untuk menekankanmu lebih dalam setiap kali dia menyentak. Suara plak, plak, plak dari bokongmu yang beradu dengan tembok dan pinggulnyamemenuhi ruangan, menciptakan irama yang mematikan.
“Teriak nama aku lagi, (y/n). Panggil aku kayak tadi di kasur,” perintahnya serak, sambil menggigit lehermu tepat di atas bekas hickey yang lama, memperbaharui tanda kepemilikannya dengan lebih kasar.
Kamu tidak bisa menolak lagi. Hormonmu, masa ovulasimu, dan dominasi Riki yang gila membuatmu hancur berkeping-keping. Kamu hanya bisa pasrah saat dia membawamu menuju puncak yang lebih tinggi dan lebih brutal dari sebelumnya.
To Be Continued
like nyampe 100 ke atas update part 3





WKAHAHJAJA, OMGGG LANJUT MOMM BISA GILA GUE BACA SI RIKI🤤🤤🫦🫦🥵🥵
lanjuttt mommmmmmmmmmm, uda lebi 100likee