Pukul 04:00 AM.
Suara deru napas yang tadinya memburu kini perlahan melambat, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam kamar. Aroma keringat, sisa alkohol, dan keintiman yang baru saja usai menguar di udara, bercampur dengan aroma parfum maskulin Jungwon yang mulai memudar.
Jungwon tidak bergerak sedikit pun. Dia tetap memosisikan tubuhnya di atasmu, menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu yang masih panas. Kamu bisa merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang di dadamu—ritme yang jujur, tidak seperti kata-kata Jake yang penuh manipulasi.
Perlahan, Jungwon menggeser tubuhnya ke samping, namun lengannya yang kokoh segera melingkar di pinggangmu, menarikmu masuk ke dalam dekapan yang sangat erat. Dia memelukmu seolah-olah jika dia melonggarkan pegangannya satu inci saja, kamu akan segera menguap bersama kabut Jakarta di luar sana.
“Won... berat,” gumammu pelan, suaramu serak karena terlalu banyak mendesah dan menangis sebelumnya.
Jungwon hanya menjawab dengan gumaman rendah. Bukannya menjauh, dia malah semakin menenggelamkan wajahnya di rambutmu yang berantakan. Dia tidak ingin momen ini selesai. Dia tidak ingin melepaskanmu. Baginya, setiap detik di atas jam empat pagi adalah musuh yang nyata. Karena sebentar lagi, alarm ponsel akan berbunyi, lampu-lampu jalanan akan mati, dan kamu akan kembali menjadi sosok yang “terikat” pada orang lain.
“Bentar lagi,” bisik Jungwon, suaranya terdengar sangat rapuh. “Biarin kayak gini sebentar lagi.”
Kamu bisa merasakan jemari Jungwon yang gemetar mengusap punggungmu yang polos dengan gerakan melingkar yang menenangkan. Tidak ada nafsu di sana, yang ada hanyalah kasih sayang yang begitu dalam hingga terasa menyakitkan untuk diterima.
Di bawah selimut tebal itu, dalam kegelapan yang hanya ditembus cahaya lampu kota dari balik gorden, Jungwon sedang mengumpulkan puing-puing harga dirinya yang berserakan. Dia tahu, sebentar lagi kamu mungkin akan menyesali ini. Kamu mungkin akan merasa bersalah pada Jake, dan dia akan kembali menjadi orang yang harus menghiburmu atas rasa bersalahmu sendiri.
Tapi untuk saat ini, Jungwon memilih untuk tuli. Dia memilih untuk tidak peduli pada ego atau logikanya sebagai budak korporat yang harus bangun dua jam lagi untuk menghadapi meeting pagi. Di matanya, kamu adalah satu-satunya dunianya, dan dia rela membiarkan dirinya hancur berkali-kali asal bisa memelukmu sedekat ini.
“Tidur, ya,” bisiknya lagi, kali ini sambil mengecup puncak kepalamu dengan lembut. “Aku nggak bakal lepasin. Tidur aja.”
Dia membohongi dirinya sendiri. Dia tahu dia harus melepaskanmu. Tapi di jam empat pagi yang sunyi ini, Jungwon membiarkan dirinya menjadi pria egois yang hanya ingin memiliki cintanya seutuhnya, meski hanya dalam kepura-puraan yang sunyi.
Pukul 07:05 AM.
Suara dering telepon itu membelah kesunyian kamar seperti pisau yang tajam. Pekak, memaksa, dan sangat tidak tahu diri.
Kamu tersentak bangun. Kesadaran menghantammu lebih keras daripada rasa pening di kepalamu akibat sisa alkohol semalam. Bau tubuh Jungwon, tekstur sprei yang berantakan, dan beban berat di pinggangmu membuatmu seketika tersadar; kamu melakukannya lagi.
Kamu menunduk, menatap Jungwon yang masih terlelap. Lengannya yang kokoh melingkar di perutmu dengan posesif, seolah dalam mimpinya pun dia sedang berperang untuk menahanmu agar tidak pergi. Wajahnya tampak begitu damai saat tidur, jauh dari ekspresi lelah khas budak korporat yang biasanya dia tunjukkan.
Rasa bersalah mulai merayap di dadamu. Bukan rasa bersalah karena telah mengkhianati Jake—karena Jake sendiri sudah lebih dulu menghancurkanmu—tapi rasa bersalah karena kamu terus menarik Jungwon ke dalam lubang hitam ini. Kamu tahu Jungwon terjebak, dan kamu tahu dialah yang paling terluka di sini, tapi anehnya, hanya Jungwon yang bisa membuatmu merasa “pulang” saat duniamu hancur.
Layar ponsel di atas nakas terus menyala. Nama “Jake” berkedip-kedip di sana.
Kamu mencoba bergerak untuk meraih ponsel itu, namun Jungwon mengerang rendah dalam tidurnya. Alih-alih melepaskan, dia justru mempererat dekapannya, menyembunyikan wajahnya di punggung polosmu. Dia seolah tahu bahwa getaran ponsel itu adalah tanda berakhirnya waktu pinjaman yang dia miliki semalam.
“Jangan diangkat...” gumam Jungwon dengan suara serak khas orang bangun tidur. Dia tidak membuka mata, tapi kamu tahu dia sudah sadar sepenuhnya sejak dering pertama tadi. “Tetap di sini sebentar lagi, please.”
Dering itu berhenti sejenak, lalu berbunyi lagi. Jake tidak pernah suka diabaikan, meskipun dia sendiri sering mengabaikanmu selama berhari-hari.
Kamu bimbang. Hatimu masih milik Jake—atau setidaknya, kamu meyakinkan dirimu begitu—tapi tubuh dan jiwamu yang lelah pagi ini hanya ingin tenggelam lebih lama dalam kehangatan Jungwon. Jungwon selalu menjadi tempat bersandar yang paling kokoh, pria yang rela menjadi nomor dua asalkan dia bisa menjadi orang pertama yang menghapus air matamu.
“Aku harus angkat, Won,” bisikmu pelan, sambil mencoba melepaskan jemari Jungwon satu per satu dari pinggangmu. “Kalau dia tahu aku di sini, semuanya bakal makin rumit.”
Jungwon akhirnya membuka mata. Sorot matanya bukan lagi tentang gairah semalam, melainkan luka yang sangat dalam namun diredam dengan paksa. Dia perlahan melonggarkan pelukannya, membiarkan dinginnya AC apartemen menyentuh kulitmu yang tadi hangat karena dekapannya.
“Rumit buat kamu,” sahut Jungwon datar, suaranya terdengar seperti sedang menelan duri. “Buat aku, semuanya selalu sederhana, kamu butuh pelarian, dan aku selalu ada.”
Dia berbalik membelakangimu, menatap tembok kamarnya yang dingin, memberimu ruang untuk mengangkat telepon dari pria yang baru saja ia “gantikan” beberapa jam yang lalu.
Perjalanan pulang menuju apartemenmu terasa sangat dingin, meski matahari Jakarta mulai memanaskan aspal. Jungwon menyetir dalam diam, sesekali melirikmu dari balik kacamata kerjanya. Dia tidak membahas kejadian semalam. Baginya, itu adalah rahasia yang terkunci rapat di unit apartemennya. Begitu sampai di lobi, dia hanya mengusap kepalamu singkat sebelum memacu mobilnya menuju gedung kantornya di Sudirman.
Kamu kembali ke duniamu. Sebagai konten kreator, kamarmu adalah kantormu. Namun, fokusmu berantakan. Kamu hanya duduk di depan tumpukan barang endorse, merekam review secara mekanis, lalu mengirimkan file mentahannya ke editor dengan kepala kosong.
Hingga bel pintumu berbunyi.
Di sana Jake berdiri. Wajahnya tampak sedikit pucat, dengan ekspresi khawatir yang jika diteliti lebih dalam terasa sedikit terlalu dramatis—seperti akting yang sudah dilatih di depan kaca.
“Sayang, I’m so sorry,” Jake langsung masuk dan memelukmu. Bau parfumnya yang tajam segera menggantikan sisa aroma Jungwon yang masih menempel di ingatanku. “Semalam aku benar-benar nggak bisa pegang HP. Teman-teman aku... mereka nahan aku, you know how it is.”
Kamu tahu itu bohong. Kamu tahu dia hanya butuh pengampunanmu agar egonya tetap aman. Tapi hatimu yang haus akan validasinya tetap luluh.
“Sebagai gantinya, ayo jalan sekarang. Aku udah pesan tempat. Kita bikin konten bareng, oke?” Jake tersenyum, kilatan matanya menunjukkan maksud asli: dia butuh engagement dari pengikutmu untuk menaikkan kembali namanya yang sempat redup.
Tanpa pikir panjang, seolah rasa sakit semalam menguap begitu saja, kamu mengangguk. Kamu segera bersiap, mengenakan sebuah dress satin hitam pemberian Jake. Potongan dadanya sangat rendah, membuatmu merasa sedikit terlalu “terbuka”.
Secara refleks, tanganmu meraih sebuah scarf sutra bermotif cantik yang tersampir di kursi—hadiah dari Jungwon saat dia pertama kali naik jabatan. Kamu melilitkan scarf itu di lehermu, menutupi sebagian kulitmu yang masih meninggalkan jejak merah samar dari ciuman Jungwon semalam.
Scarf itu terasa hangat dan lembut, seolah Jungwon masih mencoba melindungimu dari dunia—bahkan dari dirimu sendiri yang sedang melangkah masuk kembali ke dalam api.
Restoran di bilangan Senopati itu dipenuhi cahaya matahari estetis yang masuk lewat jendela besar—tempat yang sempurna untuk sebuah “permintaan maaf” yang harus didokumentasikan.
Jake duduk di depanmu, tapi matanya lebih sering tertuju pada layar ponsel daripada matamu. Dia sudah mengatur posisi lighting, menggeser piring pasta yang belum disentuh agar masuk ke dalam bingkai foto.
“Sayang, coba senyum dikit. Scarf-nya agak turunin, biar dress-nya kelihatan,” perintah Jake sambil mengarahkan kamera ponselnya ke arahmu, Jake tidak menyadari bahwa scarf yang kamu pakai adalah dari Jungwon.
Kamu menurut secara mekanis. Kamu menyentuh scarf pemberian Jungwon yang melilit lehermu. Kain sutra itu terasa seperti pelukan terakhir Jungwon yang tertinggal, melindungimu dari rasa tidak nyaman karena potongan baju pemberian Jake yang terlalu terbuka. Tapi demi Jake, kamu sedikit melonggarkannya. Kamu tersenyum lebar ke arah kamera—senyum profesional konten kreator yang menyembunyikan mata sembabmu.
“Oke, perfect. Aku tag kamu ya, biar engagement-nya naik. Orang-orang suka kalau kita kelihatan mesra lagi setelah drama semalam,” ucap Jake puas, langsung sibuk mengetik caption tanpa menyentuh tanganmu sedikit pun.
Tepat saat itu, pintu restoran terbuka.
Sekelompok orang berpakaian formal masuk dengan aura sibuk khas budak korporat SCBD yang sedang lunch meeting. Di tengah mereka, ada Jungwon. Dia masih memakai kemeja yang sama dengan yang dia gunakan saat mengantarmu tadi pagi, hanya saja sekarang lengan bajunya digulung hingga siku, dan wajahnya tampak sangat lelah.
Pandangan kalian bertemu selama dua detik.
Jungwon terpaku sejenak. Dia melihatmu duduk di sana, memakai dress pemberian pria yang semalam membuatnya hancur, sedang berpose cantik untuk kamera pria itu. Namun, matanya jatuh pada lehermu—pada scarf pemberiannya yang kamu gunakan untuk menutupi jejak-jejak yang dia tinggalkan di kulitmu.
Jungwon segera mengalihkan pandangan. Dia kembali fokus pada kliennya, bersikap seolah kamu hanyalah orang asing yang kebetulan berada di restoran yang sama. Dia tidak menghampirimu. Dia tidak menyapa. Dia hanya menarik kursi, duduk membelakangimu, dan mulai membuka laptopnya untuk presentasi.
Di saat Jake sibuk membalas komentar di Instagram-mu dengan kata-kata manis yang palsu, Jungwon duduk hanya beberapa meter darimu, memeras otaknya untuk bekerja, sambil menahan sesak karena melihat perempuan yang baru saja tidur di pelukannya kini kembali menjadi properti konten pria lain.
Kamu merasa mual. Scarf di lehermu tiba-tiba terasa mencekik. Kamu sadar, Jungwon baru saja melihat bagaimana kamu menggunakan cintanya hanya sebagai penutup luka agar kamu bisa kembali pada orang yang melukaimu.
Kencan dengan Jake berakhir persis seperti dugaannya: hampa. Begitu kamera ponsel mati, perhatian Jake pun ikut padam. Kamu ditinggalkan di lobi apartemen dengan perasaan lebih kosong daripada saat kamu bangun tadi pagi.
Hanya ada satu nama di kepalamu. Satu orang yang tidak pernah menuntut konten, tidak pernah peduli pada engagement, dan selalu ada bahkan saat harga dirinya sudah diinjak-berulangkali.
Kamu mengirim pesan singkat: “Won, aku mau keluar dari Jakarta sebentar. Jemput?”
Dan seperti orang bodoh yang setia, Jungwon datang. Dia mengabaikan rasa lelah setelah meeting seharian dan kemacetan gila di Jumat malam. Dia hanya diam saat kamu masuk ke mobilnya, memacu kendaraan menuju Bogor, mencari udara yang tidak sesak oleh polusi dan kepalsuan.
Di dalam mobil yang melaju menembus dinginnya malam, kamu merogoh tas. Kamu mengeluarkan sebuah pod yang sudah setengah tahun kamu tinggalkan—janji yang pernah kamu buat pada Jake untuk berhenti. Tapi malam ini, stres itu mencekikmu. Kamu butuh sesuatu untuk dihirup, sesuatu untuk membakar rasa sesak di dadamu.
Baru saja kamu hendak menyesapnya, tangan Jungwon bergerak cepat. Dia merebut alat itu dari jemarimu tanpa suara.
“Won, balikin. Aku stres banget,” rengekmu, suaramu parau.
Jungwon tidak mengembalikan pod itu. Dia menepikan mobil di bahu jalan yang sepi, di bawah rimbun pohon yang gelap. Dia mematikan mesin, membuat kesunyian langsung menyergap kabin mobil.
Jungwon menatapmu. Matanya memerah, menunjukkan betapa lelahnya dia secara fisik dan batin. Dia tahu kamu sedang mencari validasi. Dia tahu kamu sedang hancur karena Jake lagi. Dan dia benci fakta bahwa dia selalu menjadi orang yang memunguti kepinganmu.
“Jangan ngerusak diri kamu buat cowok yang bahkan nggak peduli kamu napas atau nggak malam ini,” bisik Jungwon rendah.
“Terus aku harus apa, Won? Aku sakit hati!” teriakmu frustrasi.
Bukannya membalas dengan kata-kata, Jungwon justru menarik tengkukmu. Dia menghancurkan jarak di antara kalian dengan sebuah ciuman impulsif yang memabukkan. Ciuman itu tidak lembut seperti tadi subuh; kali ini rasanya seperti sebuah klaim, sebuah keputusasaan, dan cara Jungwon untuk bilang: ‘Lihat aku. Aku yang di sini, bukan dia.’
Kamu tidak menolak. Kamu justru membalasnya dengan rakus, menghisap oksigen dari mulut Jungwon seolah dialah satu-satunya sumber kehidupanmu. Kamu membiarkan Jungwon mengisi kekosongan itu, membiarkannya menelan rasa stresmu melalui ciuman yang terasa seperti racun sekaligus obat.
Jungwon tahu ini salah. Dia tahu dia sedang ditekan ke titik terendah egonya. Dia sadar kamu hanya sedang butuh pengalihan, tapi bagi Jungwon, menjadi pelarianmu jauh lebih baik daripada tidak menjadi apa-apa bagimu. Dia lebih memilih menekan egonya hingga hancur berkeping-keping asalkan dia bisa menahanmu di sisinya sedikit lebih lama.
Di tengah keheningan jalan menuju Bogor, Jungwon menciummu seolah-olah dunia akan berakhir besok, membiarkan dirinya menjadi budak atas perasaanmu yang sebenarnya bukan miliknya.
Mobil Jungwon akhirnya berhenti di sebuah sudut jalan buntu yang menghadap langsung ke lembah. Di luar, kabut mulai turun, menyelimuti kaca mobil dengan embun tipis, mengisolasi kalian dari dunia—dari Jakarta, dari pekerjaan, dan tentu saja, dari bayang-bayang Jake.
Ciuman impulsif di bahu jalan tadi menyisakan rasa haus yang tidak masuk akal. Begitu mesin mati, suasana kabin yang hanya diterangi lampu dasbor yang remang terasa begitu panas.
“Won...” bisikmu, jari-jarimu gemetar menyentuh rahang tegasnya.
Jungwon tidak langsung menjawab. Dia menatapmu dengan sorot mata yang menggelap, ada pergulatan hebat di sana. Dia tahu, jika dia melanjutkan ini, dia sedang menabung rasa sakit untuk esok hari. Tapi melihatmu menatapnya dengan penuh harap—meski itu hanya karena kamu sedang hancur—membuat egonya kalah telak.
“Kamu beneran mau ini?” suara Jungwon serak, hampir hilang ditelan dinginnya malam. “Bukan karena kamu lagi pengen bales dendam ke dia, kan?”
Kamu tidak menjawab. Kamu justru menarik kerah jaketnya, membungkam keraguannya dengan pagutan yang lebih dalam. Kamu tidak butuh logika sekarang, kamu hanya butuh seseorang yang bisa membuatmu merasa ada. Dan Jungwon, dengan segala kebodohan cintanya, selalu siap memberikan itu.
Jungwon mengerang rendah, sebuah suara yang penuh dengan keputusasaan. Dia akhirnya menyerah. Dia memindahkan posisimu ke pangkuannya di kursi pengemudi yang sempit. Ruang yang terbatas itu justru membuat setiap gesekan kulit terasa lebih intens.
Di bawah selimut kabut Bogor, Jungwon kembali menjajahmu. Namun kali ini, ada amarah yang terselip dalam setiap sentuhannya. Amarah karena dia sangat mencintaimu, dan amarah karena dia tahu dia tidak akan pernah bisa memilikimu seutuhnya.
Tangannya merayap masuk ke balik dress satin pemberian Jake, seolah ingin menghapus jejak pria itu dari kulitmu dengan kasar. Dia menciumi lehermu, tempat di mana scarf pemberiannya tadi melilit, memberikan tanda-tanda baru yang lebih dalam, lebih merah, dan lebih menyakitkan.
“Cuma aku, kan?” bisik Jungwon di sela napasnya yang memburu. Dia menjepit pinggangmu dengan kuat, memaksa matamu untuk terus menatapnya. “Di sini, malam ini... cuma ada aku. Jangan berani-berani sebut nama dia.”
Kamu mengangguk lemah, tenggelam dalam sensasi yang Jungwon berikan. Di saat itu, kamu benar-benar melupakan Jake. Kamu melupakan segalanya. Hanya ada detak jantung Jungwon yang berpacu liar melawan dadamu, dan rasa hangat yang menjalar saat kalian kembali menyatu dalam keintiman yang toksik.
Jungwon melakukannya dengan penuh pemujaan sekaligus penghancuran diri. Dia memberikan segalanya—tenaganya, napasnya, dan sisa-sisa harga dirinya yang dia injak sendiri di atas aspal Bogor malam itu. Dia tahu, setelah ini dia akan tetap menjadi backburner. Tapi setidaknya, untuk beberapa jam ke depan, dalam pengapnya kabin mobil yang berembun, dia adalah satu-satunya tuan atas tubuh dan desahanmu.
Kaca mobil kini tertutup embun sepenuhnya, menghalangi pandangan ke luar, seolah dunia memang benar-benar hanya sebatas kabin sempit ini. Suasana menjadi sunyi senyap, hanya terdengar suara napas teratur Jungwon di telingamu.
Kamu tertidur di dadanya, terbungkus jaket tebal milik Jungwon yang baunya sangat menenangkan—perpaduan antara wangi kopi, sisa parfum mahal, dan aroma tubuhnya yang khas. Jungwon sendiri tidak benar-benar tidur. Dia bersandar pada kursi pengemudi, satu tangannya masih melingkar protektif di bahumu, sementara jemarinya sesekali mengusap lenganmu yang polos dengan gerakan mekanis.
Matanya menatap kosong ke arah dasbor yang gelap.
Di jam-jam seperti ini, saat Jakarta mulai bersiap untuk bangun dan kemacetan mulai merayap, Jungwon merasakan kehampaan yang luar biasa. Dia tahu, sebentar lagi dia harus menghidupkan mesin, memutar balik kemudi, dan mengantarmu kembali ke realita di mana dia tidak punya hak atas dirimu.
Kamu menggeliat kecil, perlahan membuka mata. Hal pertama yang kamu lihat adalah rahang tegas Jungwon dan matanya yang tampak sangat lelah—bukan karena kurang tidur, tapi karena beban perasaan yang ia pikul sendirian.
“Won...” bisikmu parau.
Jungwon menoleh, memberikan senyum tipis yang tidak sampai ke mata. “Bangun? Kita harus balik sekarang. Kalau nggak, kita bakal kena macet parah di Jagorawi.”
Kata-katanya sangat praktis, khas budak korporat yang selalu menghitung waktu. Namun, dia tidak segera bergerak. Dia justru menarikmu lebih dekat, mencium keningmu lama sekali, seolah sedang menyimpan pasokan oksigen sebelum dia harus kembali tenggelam dalam perannya sebagai “teman nyaman”.
“Setelah ini... kamu bakal hubungin dia lagi?” tanya Jungwon tiba-tiba. Suaranya datar, namun ada getaran luka yang tidak bisa dia sembunyikan.
Kamu terdiam. Kamu teringat ponselmu yang tergeletak di bawah kursi, mungkin penuh dengan notifikasi dari Jake yang baru bangun dan merasa kehilangan “properti konten”-nya. Kamu tidak menjawab, dan diammu adalah jawaban yang paling menghancurkan bagi Jungwon.
Jungwon menghela napas panjang, lalu perlahan melepaskan pelukannya. Dia mulai merapikan pakaiannya, memakai kembali kacamatanya, dan kembali menjadi sosok Jungwon yang profesional dan terkendali.
“Oke. Aku paham,” ucapnya singkat.
Dia menghidupkan mesin mobil. Suara mesin yang menderu seolah menjadi tanda bahwa babak fantasi di Bogor telah usai. Saat mobil mulai bergerak membelah kabut, kamu melihat ke arah jendela yang berembun. Kamu menggambar garis kecil di sana dengan jarimu, merasa seolah kamu sedang meninggalkan sebagian jiwamu di jalanan dingin ini.
Jungwon tetap diam sepanjang jalan, matanya lurus menatap aspal. Dia telah menekan egonya sedalam mungkin malam ini, memberikan segalanya untukmu, hanya untuk mengantarmu kembali ke pelukan pria yang menghancurkanmu.
Dan yang paling menyakitkan adalah, Jungwon tahu dia akan melakukan hal yang sama lagi minggu depan, jika kamu memintanya.
Pukul 07:30 AM.
Mobil Jungwon berhenti tepat di depan lobi apartemenmu. Mesinnya tidak mati, menandakan dia ingin segera pergi dari sana—atau mungkin, dia tidak sanggup berlama-lama melihatmu kembali ke sarang yang menghancurkanmu.
“Won, makasih ya buat semalam,” bisikmu, tanganmu ragu di gagang pintu.
Jungwon tidak menoleh. Dia hanya mengangguk kecil, jemarinya mengetuk kemudi dengan ritme yang gelisah. “Mandi air anget. Kamu pucat banget.”
Hanya itu. Tidak ada “Aku sayang kamu” atau “Hubungi aku nanti”. Jungwon kembali menjadi pria praktis yang tahu diri. Begitu kamu turun, dia langsung melaju, meninggalkan asap tipis di udara pagi Jakarta yang mulai menyesakkan.
Kamu melangkah masuk ke unit apartemenmu dengan langkah berat. Begitu pintu terbuka, aroma parfum ruangan yang manis—aroma yang dipilih Jake—menyambutmu. Dan di sana, di ruang tengah, Jake duduk dengan menyilangkan kaki, menatapmu dengan mata yang tajam dan menuntut.
“Habis dari mana?” suaranya rendah, jenis suara yang selalu membuat nyalimu menciut.
“Udah aku bilang kan, aku nginep di tempat temen, Jake. Aku mabuk banget semalam,” jawabmu, mencoba terdengar santai sambil meletakkan tas di meja. Kamu merasa kotor. Bukan karena alkohol, tapi karena kamu bisa merasakan sisa sentuhan Jungwon di balik dress satin ini.
Jake berdiri, melangkah mendekat. Dia tidak memelukmu. Dia justru meraih ujung scarf pemberian Jungwon yang masih melilit lehermu, lalu menariknya sedikit terlalu kencang hingga kamu terpaksa menatap matanya.
“Nginep di tempat temen tapi pulang jam segini pakai scarf yang nggak pernah aku liat?” Jake menyipitkan mata, Jake baru menyadarinya sekarang, hidungnya mengendus udara di sekitarmu. “Bau kamu beda. Ini bukan bau parfum kamu.”
Jantungmu berdegup liar. Kamu merasa seperti sedang disidang. Kamu ingin marah karena dia sendiri menghilang semalam demi model-modelnya, tapi posisimu sekarang terlalu rapuh.
“Ini pemberian Jungwon, Jake. Dia kasih aku udah lama, kamu aja yang nggak sadar,” kamu mencoba membela diri, namun suaramu sedikit bergetar.
Mendengar nama Jungwon, tawa sinis keluar dari mulut Jake. “Oh, si supir setia itu lagi? Hebat ya dia, selalu ada pas aku lagi sibuk. Kamu nggak kasihan sama dia? Dijadiin cadangan terus?”
Kalimat Jake seperti sembilu yang menyayat luka lama. Kamu melepaskan paksa tangan Jake dari scarf-mu. “Setidaknya dia ada pas aku butuh, Jake! Nggak kayak kamu!”
Kamu segera berlari ke kamar mandi, mengunci pintunya dari dalam. Di bawah kucuran air shower yang panas, kamu menangis sejadi-jadinya. Kamu menggosok lehermu, bahumu, dan setiap inci kulitmu, mencoba menghilangkan jejak Jungwon agar Jake tidak curiga, namun di saat yang sama, kamu benci dirimu sendiri karena harus menghapus satu-satunya bukti bahwa semalam ada seseorang yang mencintaimu dengan begitu tulus.
Di luar, Jake berteriak menyuruhmu cepat karena ada jadwal syuting konten jam 10 pagi. Dan di dalam sana, kamu menyadari satu hal: kamu adalah monster yang sedang menghancurkan dua pria sekaligus.
Di sebuah kafe rooftop yang panas namun “estetik” di daerah Jakarta Selatan, kamu berdiri di bawah terik matahari demi sebuah angle video yang sempurna. Jake berdiri di sampingmu, merangkul pinggangmu dengan erat, bibirnya mendekat ke pelipismu seolah hendak membisikkan kata cinta.
“Senyum, Sayang. Tahan tiga detik,” bisik Jake, tapi nadanya datar, tanpa emosi.
Begitu kameramen sekaligus editornya memberi jempol tanda rekaman selesai, Jake langsung melepas rangkulannya. Dia menjauh untuk mengecek hasil video di kamera, meninggalkanmu yang merasa seperti manekin pajangan. Kamu membetulkan letak scarf pemberian Jungwon yang sengaja kamu lilitkan di tas—kamu tidak sanggup memakainya di leher karena Jake terus-menerus menatapnya dengan benci.
“Bagus. Engagement kita pasti naik kalau video rekonsiliasi ini naik,” gumam Jake puas, sibuk dengan dunianya sendiri.
Kamu memalingkan wajah, menatap deretan gedung tinggi di kejauhan, bertanya-tanya di mana Jungwon berada di antara rimba beton itu.
Pukul 11:45 AM.
Di saat yang sama, beberapa kilometer darimu, Jungwon duduk di ruang rapat yang dingin di kawasan SCBD. Di depannya, seorang klien sedang memaparkan rencana kerja sama tahun depan, tapi suara itu hanya terdengar seperti dengung statis di telinganya.
Jungwon menatap layar tabletnya, tapi jarinya justru bergerak membuka Instagram. Hal pertama yang muncul di feed-nya adalah unggahan terbaru Jake: Foto kalian berdua di restoran tadi siang dengan caption puitis tentang “kesetiaan”.
Jungwon mematikan layar tabletnya dengan gerakan kasar. Dia melepaskan kacamata anti-radiasinya, memijat pangkal hidungnya yang terasa perih. Matanya sembab, bukan karena kurang tidur setelah menyetir ke Bogor, tapi karena sesak yang tidak bisa ia keluarkan di depan rekan kerjanya.
“Pak Jungwon? Ada masukan untuk poin ini?” tanya atasannya.
Jungwon tersentak. Dia menarik napas panjang, memaksakan otaknya kembali ke mode budak korporat yang handal. “Saya rasa budget untuk aktivasi di lapangan bisa ditekan lagi, Pak,” jawabnya tenang, suaranya stabil meski hatinya baru saja hancur untuk kesekian ribu kalinya hari itu.
Bagi rekan-rekannya, Jungwon adalah manajer muda yang ambisius dan tanpa cela. Tidak ada yang tahu bahwa semalam pria ini baru saja mengemis pengakuan di sebuah mobil berembun, dan pagi ini dia harus menyaksikan perempuan yang dia puja kembali menjadi bahan konten pria lain.
Beberapa jam kemudian syuting kontenmu selesai. Jake sedang sibuk menelepon manajernya di pojok ruangan. Kamu diam-diam membuka ponsel dan mengirim pesan singkat ke Jungwon.
“Won, udah makan siang? Jangan lupa minum air putih, kamu kurang tidur semalam.”
Kamu menunggu. Satu menit, lima menit, sepuluh menit.
Di kantornya, ponsel Jungwon bergetar di atas meja. Dia melihat namamu muncul di layar. Jarinya sudah berada di atas tombol balas, ingin mengetik: “Aku nggak butuh perhatian kamu kalau cuma buat bayar rasa bersalah.”
Tapi Jungwon berhenti. Dia menghela napas, menghapus kalimat itu, dan menggantinya dengan jawaban yang paling aman—jawaban yang akan menjaganya tetap berada di orbitmu sebagai si “pria nyaman”.
“Sudah. Kamu juga jangan telat makan.”
Jungwon meletakkan ponselnya kembali dengan posisi layar menghadap ke bawah. Dia memilih untuk menekan egonya lagi. Dia memilih untuk tetap menjadi cadangan, karena dia tahu, suatu saat nanti, Jake akan melukaimu lagi, dan dia ingin memastikan bahwa dialah orang pertama yang akan kamu cari.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
TO BE CONTINUED
plis kasih aku feedback🥺👉🏻👈🏻
thank u michies💖





Aku mau sama jungwon aja plsss aku engga maruk kok😭
yeen pls jangan maruk 🫰