like and comment jangan lupa 🤍🫶🏻
Sinar matahari pagi menyelinap melalui celah gorden tipis kamarmu, menyinari debu-debu yang menari di udara. Sunghoon mengerang pelan. Kepalanya terasa seperti dihantam palu godam—efek hangover dari bir semalam mulai menagih janji. Ia membuka mata perlahan, mengerjap bingung menatap langit-langit kamar yang asing. Bukan langit-langit apartemennya yang mewah dan dingin, melainkan langit-langit dengan sedikit bekas selotip yang tampak janggal.
Sunghoon mendudukkan dirinya dengan susah payah. Hal pertama yang menyerang indranya bukanlah rasa sakit, melainkan aroma gurih yang sangat menenangkan. Bau sup hangat dan nasi baru matang merayap dari dapur kecil yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempat tidur.
Ia menoleh ke samping, menatap nakas kecil di samping tempat tidur. Di sana, sudah tersedia segelas air putih dan satu tablet obat pereda mabuk yang sudah dikeluarkan dari kemasannya. Di bawah gelas itu, terdapat secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang rapi:
"Minum obatnya dulu sebelum makan. Aku lagi siapin sup pereda mabuk. Jangan dipaksain bangun kalau masih pusing."
Sunghoon terdiam cukup lama menatap kertas itu. Ia meraih gelas tersebut, meminum obatnya, dan merasakan sensasi dingin air melewati tenggorokannya yang kering. Ia teringat samar-samar kejadian semalam. Tentang seorang gadis yang menahannya minum obat penenang, yang membawanya ke sini, dan yang mengatakan kalimat paling indah yang pernah ia dengar: "Aku percaya kamu."
Ia turun dari tempat tidur dengan langkah gontai, hoodienya sudah sedikit kusut. Dari ambang pintu kamar yang sempit, ia melihatmu. Kamu sedang memunggungi dia, sibuk dengan panci kecil di atas kompor listrik. Rambutmu dicepol asal, dan kamu masih mengenakan kaos rumahan biasa.
Sunghoon tidak bersuara. Ia hanya memperhatikan punggungmu. Ada rasa hangat yang aneh menjalar di dadanya—sesuatu yang tidak pernah ia rasakan bahkan saat ia berada di puncak popularitasnya. Di sini, di rumah sewa yang sempit ini, ia tidak merasa seperti "Park Sunghoon sang Idol" yang penuh tuntutan. Ia hanya merasa seperti seorang pria yang sedang dijaga.
"Lo... bangun jam berapa?" suara Sunghoon yang pecah dan berat khas bangun tidur memecah keheningan.
Kamu tersentak kaget sampai hampir menjatuhkan sendok sayurmu. Kamu berbalik dan mendapati Sunghoon sedang bersandar di pintu, menatapmu dengan mata yang masih sayu namun terlihat jauh lebih sadar daripada semalam.
Kamu menaruh mangkuk sup di meja kayu kecil yang hanya cukup untuk dua orang. Uap panas membumbung tinggi, membawa aroma jahe dan kaldu yang kuat. Sunghoon duduk dengan kaku, kakinya yang panjang tampak kesulitan mencari posisi nyaman di bawah meja kecilmu.
"Makanlah selagi hangat. Ini sup pereda mabuk ala kadarnya, tapi cukup buat netralin perut," ucapmu sambil meletakkan sepasang sendok dan sumpit di depannya.
Sunghoon menyesap kuah sup itu perlahan. Matanya sedikit membelalak saat rasa hangat itu menyentuh lidahnya. "Enak," gumamnya singkat. Ia mulai makan dengan tenang, namun matanya sesekali melirik ke arah dinding kamarmu yang kosong—tempat di mana bekas selotip tadi malam masih terlihat samar.
"Lo... nggak nanya kenapa gue bisa separah semalam?" tanya Sunghoon tiba-tiba, memecah kesunyian. Ia berhenti mengunyah, menatapmu dengan sorot mata yang menuntut jawaban jujur.
Kamu terdiam sejenak, mengaduk nasi di mangkukmu sendiri. "Aku nggak perlu nanya. Berita di luar sana sudah cukup berisik. Tapi, seperti yang aku bilang semalam, berita berisik nggak selalu bawa kebenaran."
Sunghoon meletakkan sumpitnya, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi yang keras. "Kenapa lo bisa seyakin itu? Bahkan orang yang kerja sama gue selama lima bulan terakhir aja ragu sama gue. Kenapa orang asing kayak lo bisa bilang percaya?"
Kamu tersenyum tipis, mencoba mengatur detak jantungmu agar tidak terdengar seperti penggemar yang sedang melakukan pengakuan dosa. "Karena aku sudah melihat kamu berjuang jauh sebelum lima bulan itu, Sunghoon."
Sunghoon mengerutkan kening. "Maksud lo?"
"Dulu, ada seorang atlet seluncur indah yang jatuh berkali-kali di atas es, tapi dia selalu bangun lagi dengan tatapan yang sama. Tatapan yang bilang kalau dia nggak akan menyerah sampai dia berhasil," ucapmu pelan, matamu menatap ke arah jendela, membayangkan memori saat kamu menonton kompetisinya secara online bertahun-tahun lalu. "Pria dengan tekad sekuat itu... nggak mungkin menghancurkan mimpinya sendiri dengan melakukan hal rendah yang dituduhkan media. Aku cuma percaya pada karakter yang aku lihat selama bertahun-tahun ini."
Sunghoon terpaku. Ia tidak menyangka bahwa kamu mengenalnya sejak ia masih menjadi atlet. Di matanya, ada kilatan rasa haru yang berusaha ia sembunyikan. Baginya, mengetahui ada seseorang yang melihat "prosesnya" dan bukan hanya "hasilnya" adalah sebuah validasi yang sangat ia butuhkan saat ini.
"Jadi... lo pengikut gue sejak lama?" tanyanya dengan nada yang lebih lembut, ada sedikit senyum tipis yang hampir tidak terlihat di sudut bibirnya.
"Bisa dibilang begitu," jawabmu cepat, berusaha tetap terlihat kasual. "Aku cuma salah satu dari sekian banyak orang yang ingin melihat kamu bersinar lagi. Jadi, jangan biarkan orang-orang jahat itu menang dengan melihat kamu hancur kayak semalam."
Sunghoon menunduk, melanjutkan makannya dengan gerakan yang lebih pelan. "Makasih," bisiknya tulus. "Gue pikir... gue beneran sendirian. Ternyata di tempat sekecil ini, gue malah nemuin orang yang paling ngerti gue."
★
Setelah sarapan yang emosional itu, kamu menyodorkan sebuah handuk bersih dan mempersilakan Sunghoon menggunakan kamar mandimu yang sempit namun rapi. "Kamu mandi aja dulu supaya lebih seger. Aku ada baju yang mungkin muat buat kamu."
Sunghoon mengangguk pelan, menerima handuk itu dengan jemari yang masih terasa dingin. Saat suara gemericik air terdengar dari balik pintu kamar mandi, kamu segera membongkar lemari pakaianmu. Kamu mencari kaus paling besar yang kamu punya—sebuah kaus oversize berwarna abu-abu polos yang biasanya kamu pakai untuk tidur.
Beberapa saat kemudian, Sunghoon keluar dengan uap air yang masih mengikuti langkahnya. Rambut hitamnya basah dan jatuh menutupi dahi, membuatnya terlihat beberapa tahun lebih muda dan jauh lebih rapuh. Kaus yang kamu pinjamkan, yang di tubuhmu terlihat seperti daster, di tubuh Sunghoon justru terlihat sangat pas—menonjolkan bahu lebarnya yang kokoh.
"Maaf, ya... itu baju paling gede yang aku punya," ucapmu sambil memberikan pengering rambut padanya.
Sunghoon memperhatikan dirinya di cermin kecilmu. Ia menghirup aroma yang menempel di kaus itu—aroma deterjen melati yang sama dengan sprei tempat tidurnya semalam. "Nggak apa-apa. Ini jauh lebih baik daripada hoodie tadi," gumamnya.
Kalian berdua duduk bersantai di lantai yang dialasi karpet bulu tipis. Sunghoon menyandarkan punggungnya di sisi tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan langit Seoul yang mulai cerah. Keheningan ini sangat berharga, namun ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatimu.
"Sunghoon..." panggilmu pelan. "Apa kamu nggak sebaiknya balik ke apartemen? Maksudku... manajer kamu pasti panik nyariin kamu. Aku takut situasinya makin runyam kalau kamu menghilang kayak gini."
Rahang Sunghoon mengeras seketika. Sorot matanya yang tadi sempat melunak, kini kembali meredup. "Gue nggak mau balik. Belum sekarang."
Ia menatap tangannya sendiri yang bertumpu di lutut. "Apartemen itu... rasanya bukan tempat tinggal, tapi penjara. Di sana cuma ada dinding yang bisu dan telepon yang terus-terusan bunyi buat nyuruh gue minta maaf atas hal yang nggak gue lakuin. Agensi cuma peduli gimana caranya biar saham mereka nggak anjlok, mereka nggak peduli kalau gue hancur."
Sunghoon menoleh padamu, tatapannya kini penuh dengan permohonan yang tersirat. "Biarin gue di sini sedikit lebih lama. Cuma di sini... gue merasa nggak perlu jadi Park Sunghoon yang sempurna. Cuma di sini gue merasa... aman."
Hati siapa yang tidak luluh mendengar itu? Kamu menyadari bahwa pria di depanmu ini bukan sedang melarikan diri dari tanggung jawab, tapi sedang menyelamatkan sisa-sisa kewarasannya yang hampir habis.
"Oke," jawabmu akhirnya dengan senyum paling tulus. "Stay as long as you need. Anggap aja tempat sempit ini zona bebas skandal buat kamu."
★
Ketenangan di dalam kamar sempit itu mendadak terusik oleh bunyi alarm dari ponselmu. Kamu tersentak, menyadari bahwa realita tidak berhenti berputar hanya karena seorang bintang besar sedang duduk di lantai kamarmu.
"Sunghoon, aku... aku harus pergi," ucapmu ragu sambil merapikan tas kuliahmu. "Aku ada kelas siang ini, dan nanti sore aku harus langsung ke minimarket buat shift sore."
Sunghoon yang tadinya sedang asyik memperhatikan jemarinya sendiri, mendongak dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kilatan kecemasan yang melintas di matanya yang jernih. Ia tampak ingin menahanmu, ingin memintamu tetap di sana untuk menemaninya menghadapi kesunyian yang mencekam, namun ia sadar bahwa ia sudah cukup banyak merepotkanmu.
"Lo... bakal balik jam berapa?" tanyanya, suaranya terdengar sedikit lebih kecil dari biasanya. Kecanggungan menyelimuti atmosfer kamar saat ia menyadari bahwa ia akan ditinggal sendirian di tempat yang benar-benar asing baginya.
Kamu melihat kegelisahan itu. Kamu tahu, bagi seseorang yang sedang diburu dan dihancurkan mentalnya, ditinggal sendirian adalah sebuah siksaan. Kamu merogoh laci mejamu, mengambil sebuah gantungan kunci kecil dengan satu kunci perak yang berkilau.
"Ini kunci cadangan rumahku," katamu sambil menyodorkannya. Tanganmu sedikit gemetar. Di dalam hati, ada pergulatan hebat, kamu takut memberikan akses masuk ke rumahmu pada orang yang baru kamu kenal semalam, namun logika lain mengingatkanmu bahwa Sunghoon tidak punya tempat lain. "Simpan ini. Jadi kalau kamu merasa nggak aman atau butuh keluar sebentar buat cari udara segar, kamu nggak perlu nunggu aku di luar."
Sunghoon menerima kunci itu, merasakan logam dingin tersebut di telapak tangannya. Sentuhan kecil itu seolah menjadi simbol kepercayaan paling besar yang pernah ia terima seumur hidupnya.
"Satu lagi," cegah Sunghoon saat kamu sudah mencapai ambang pintu. Ia merogoh saku hoodienya yang tergeletak di kasur dan mengeluarkan ponselnya yang tadi sempat ia matikan. Ia menyalakannya hanya untuk sesaat, mengabaikan ratusan notifikasi yang masuk bagaikan air bah.
"Kasih gue nomor lo," pintanya datar, namun tatapannya mengunci matamu. "Gue perlu tahu kalau lo aman, dan... gue perlu tahu kapan lo bakal sampai rumah."
Kamu mematung sejenak. Memberikan nomor telepon pada idol papan atas yang sedang terjerat skandal besar? Ini gila. Di satu sisi, jantungmu berdegup kencang karena kegirangan sebagai seorang penggemar, namun di sisi lain, kamu merasa ngeri membayangkan apa yang akan terjadi jika nomor ini terlacak oleh pihak agensi. Tapi, melihat Sunghoon yang begitu bergantung padamu sekarang, kamu akhirnya mengetikkan digit nomor ponselmu di layarnya dan menyimpan nomormu dengan nama "Pemilik Rumah".
"Jangan hubungi aku kalau nggak darurat banget, oke? Takutnya sinyal kamu terlacak," pesanmu serius.
Sunghoon hanya mengangguk kecil, jemarinya bergerak menyimpan namamu. "Hati-hati di jalan. Jangan... jangan kasih tahu siapa-siapa kalau gue di sini."
Kamu mengangguk pasti. Saat pintu kamarmu tertutup dan terkunci dari luar, kamu berdiri di koridor apartemen tua itu dengan napas tersengal. Kamu punya nomor Park Sunghoon, dan Park Sunghoon punya kunci rumahmu.
Langkahmu menuju kampus terasa sangat berat. Pikiranmu bercabang antara materi kuliah, pekerjaan di minimarket nanti, dan sosok pria yang kini sedang bersembunyi di balik dinding kamarmu—pria yang dunianya sedang runtuh, dan ironisnya, kamulah yang kini menjadi satu-satunya pilar yang menopangnya agar tidak benar-benar hancur.
Sepanjang jalan, kamu terus mengecek ponselmu, menunggu pesan yang tidak seharusnya kamu harapkan, sembari berdoa dalam hati agar hari ini berlalu tanpa ada seorang pun yang menyadari bahwa ada seorang malaikat yang sedang patah sayapnya di lantai atas rumah sewamu.
Di dalam ruang kuliah yang pengap oleh suara dengung proyektor dan gumaman dosen yang sedang mengupas teori manajemen krisis, fokusmu justru hancur berantakan. Mata kuliah ini biasanya menarik bagimu, tapi hari ini, setiap kata yang keluar dari mulut dosen seolah memantul menjauh dari kepalamu.
Kamu duduk di barisan tengah, jari-jarimu menggenggam pulpen dengan erat hingga buku jarimu memutih. Alih-alih mencatat poin-poin penting di tablet atau buku catatanmu, tanganmu bergerak secara mekanis—mencoret-coret garis abstrak yang tak berujung di sudut kertas. Matamu terpaku pada satu titik di luar jendela kelas, pada dahan pohon yang bergoyang pelan tertiup angin musim gugur.
Di balik lamunan itu, otakmu sedang memutar ulang setiap detail pagi tadi. Bau sup yang masih tersisa di bajumu, wajah bangun tidur Sunghoon yang terlihat begitu manusiawi, dan yang paling membuat jantungmu berdebar adalah kenyataan bahwa ada sebuah ponsel di sakumu yang kini menyimpan nomor pribadi seorang Park Sunghoon.
Apa dia sudah minum air lagi? Apa dia merasa kesepian di kamar sesempit itu? Bagaimana kalau dia nekat menyalakan TV dan melihat berita tentang dirinya sendiri?
"Woi, (y/n). Fokus, dong. Itu dosen lagi bahas soal manajemen krisis, malah asyik bikin labirin di kertas."
Sebuah bisikan tajam di telinga kirimu membuatmu tersentak hingga pulpenmu terlepas dan jatuh ke lantai. Kamu menoleh dan mendapati Yujin sedang menatapmu dengan alis terangkat sebelah. Di sisi kanannya, Rei juga ikut mencondongkan tubuh, menatapmu dengan pandangan menyelidik yang tajam.
"Lo aneh banget hari ini," Rei berbisik pelan, matanya melirik ke arah kertas catatanmu yang penuh coretan berantakan. "Tadi pagi lo datang telat dengan muka pucat, sekarang malah bengong kayak orang lagi nunggu pengumuman lotre. Ada apa, sih?"
"Nggak... nggak ada apa-apa," jawabmu gugup, buru-buru membungkuk untuk mengambil pulpenmu yang terjatuh di bawah kursi.
Yujin menyipitkan mata, ia melipat tangannya di atas meja. "Jangan bohong. Lo dari tadi liatin jendela kayak lagi nungguin pangeran jemput. Oh, atau ini soal skandal Sunghoon lagi? Lo masih kepikiran soal berita dia yang 'hilang' dari apartemen itu?"
Mendengar nama 'Sunghoon' disebut, tubuhmu kaku seketika. Rasanya seperti ada aliran listrik yang menyengat sarafmu.
"Eh, kalian dengar nggak?" Rei menimpali, suaranya naik satu oktav karena antusias. "Tadi gue liat di forum penggemar, katanya manajernya sampai lapor polisi karena Sunghoon nggak bisa dihubungi sama sekali sejak semalam. Banyak yang bilang dia depresi, bahkan ada yang ngeri dia bakal lakuin sesuatu yang... lo tahu lah."
Jantungmu berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari rusukmu. Kamu meremas ujung almamatermu di bawah meja. Dia nggak depresi, Rei. Dia cuma lagi makan sup di rumah gue tadi pagi!, jeritmu dalam hati, namun bibirmu tetap terkatup rapat.
"Kasihan banget, sih. Padahal gue yakin dia difitnah, mana fotonya burem lagi yang dipakai buat ngefitnah," gumam Yujin sambil menghela napas. "Tapi ya gimana, dunia idol kejam banget. Sekali kena scandal, satu negara langsung balik badan."
Yujin kemudian menyikut lenganmu pelan. "Tapi beneran, (y/n), lo nggak lagi sakit kan? Muka lo makin merah, lho. Kalau lo nggak enak badan, mending balik aja. Nanti absen biar gue yang urusin."
"Nggak, gue... gue cuma kurang tidur aja semalam," jawabmu dengan senyum yang dipaksakan. Kamu segera memperbaiki posisi dudukmu, berusaha keras menatap papan tulis meski matamu terasa panas.
Kamu melirik ponselmu yang tergeletak diam di atas meja. Tidak ada notifikasi, tapi setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan. Kamu ingin segera kelas ini berakhir, ingin segera melewati shift minimarket yang panjang, hanya untuk memastikan bahwa pria yang sedang bersembunyi di balik kunci perakmu itu masih baik-baik saja dan tidak menyerah pada dunia yang sedang berusaha menelannya hidup-hidup.
"Awas ya lo kalau rahasia-rahasiaan sama kita," Rei memberi peringatan terakhir sebelum kembali fokus ke depan. "Muka lo itu tipe-tipe orang yang lagi nyimpen rahasia besar, tahu nggak?"
Kamu hanya bisa meneguk ludah pahit, menyadari bahwa rahasia yang kamu simpan saat ini jauh lebih besar dari apa pun yang bisa dibayangkan oleh kedua sahabatmu itu. Rahasia yang bisa mengubah hidupmu menjadi mimpi indah atau mimpi buruk dalam sekejap mata.
"Makasih ya, Yujin, Rei," ucapmu tulus, suaramu sedikit bergetar. "Makasih karena kalian nggak langsung kemakan berita sampah itu. Gue... gue cuma ngerasa dunia jahil banget sama dia. Orang yang kerja keras dari nol kayak gitu nggak pantes dihancurin cuma pake satu foto buram."
Yujin menepuk bahumu pelan, memberikan kekuatan yang tidak ia sadari sangat kamu butuhkan. Kamu mengangguk, lalu kembali menatap ke depan, mencoba menulikan telinga dari bisik-bisik mahasiswa lain yang mulai menggunjingkan topik yang sama.
Sementara itu, di ruangan sempit yang kini terasa jauh lebih sepi tanpa kehadiranmu, Sunghoon duduk di tepi tempat tidur. Kegelisahan mulai merayap di dadanya. Bukan karena ia takut tertangkap, tapi karena sebuah realita konyol menghantamnya: Ia bahkan belum tahu namamu.
Semalam ia terlalu hancur untuk bertanya, dan pagi tadi ia terlalu malu untuk memulai.
Dengan rasa penasaran yang tidak berniat jahat, Sunghoon mulai berdiri dan memperhatikan meja belajarmu. Ia melihat tumpukan buku kuliah yang tertata rapi. Matanya terpaku pada sebuah kartu tanda mahasiswa yang tergeletak di dekat tumpukan buku. Sepertinya kamu lupa membawanya ke kampus.
Shin (y/n).
"Shin (y/n)..." gumamnya pelan. Nama itu terasa pas saat diucapkan di bibirnya. Ia tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang sudah berhari-hari hilang dari wajahnya.
Saat ia hendak berbalik, matanya menangkap sesuatu yang terselip di dalam sebuah buku catatan tebal. Sebuah pembatas buku berbahan plastik transparan. Di sana, terdapat foto dirinya—potret saat ia melakukan ending fairy di salah satu acara musik. Kamu mungkin sudah membersihkan semua poster, tapi satu kepingan kecil ini luput dari penglihatanmu.
Sunghoon mengambil pembatas buku itu, ibu jarinya mengusap wajahnya sendiri yang ada di sana. Ada rasa hangat yang membuncah. Ternyata benar, kamu bukan sekadar orang asing yang baik hati. Kamu adalah "rumahnya" yang selama ini mendukungnya dari balik layar.
Pukul 19:00 terasa seperti waktu yang mencekam untukmu.
Di minimarket, jantungmu seolah berhenti berdetak saat sebuah van hitam dengan kaca gelap berhenti tepat di depan toko. Kamu mengenali plat nomor itu. Itu mobil operasional agensi.
Manajer Kang keluar dengan wajah frustrasi, ponsel menempel di telinga, mondar-mandir seperti orang kesurupan. Tak lama kemudian, lonceng pintu minimarket berbunyi. Tring!
Langkah sepatunya yang berat mendekat ke arah meja kasir. Kamu menunduk, pura-pura sibuk menata cokelat di dekat kasir, berusaha mengatur napas agar tidak terlihat mencurigakan.
"Permisi," suara Manajer Kang terdengar serak dan lelah. Ia menyodorkan ponselnya, memperlihatkan foto Sunghoon yang memakai hoodie hitam. "Saya sedang mencari pria ini. Terakhir terlihat di daerah sini semalam. Tinggi sekitar 180cm, pakai hoodie hitam, masker, dan kacamata. Apa Anda melihatnya?"
Kamu menarik napas panjang, lalu mendongak dengan wajah sedatar mungkin—akting terbaik dalam hidupmu.
"Hoodie hitam?" kamu mengerutkan kening seolah sedang mengingat-ingat. "Aduh, Pak... jujur aja semalam shift malam cukup ramai. Banyak anak kuliahan yang pakai hoodie hitam ke sini buat beli ramen atau bir. Saya nggak terlalu merhatiin wajah mereka satu-satu kalau mereka pakai masker."
Manajer Kang menghela napas panjang, wajahnya semakin kusut. "Dia punya tatapan mata yang tajam, kulitnya sangat pucat. Tolong ingat-ingat lagi, ini masalah darurat."
"Maaf banget, Pak. Beberapa pekan terakhir banyak customer yang ciri-cirinya mirip, tapi saya nggak notice ada yang kelihatan kayak orang hilang atau mencurigakan. Semuanya kelihatan normal-normal aja," jawabmu dengan nada sopan yang profesional.
Manajer Kang menatapmu selama beberapa detik, seolah mencari celah kebohongan di matamu. Jantungmu berpacu liar, tapi kamu tetap membalas tatapannya dengan polos. Akhirnya, ia mendecak kesal dan menyimpan kembali ponselnya.
"Kalau Anda melihat pria ini lagi, tolong hubungi nomor di kartu ini," ia meletakkan sebuah kartu nama di atas meja kasir sebelum berbalik pergi dengan langkah terburu-buru.
Begitu pintu otomatis tertutup dan van itu menjauh, lututmu terasa lemas. Kamu berpegangan pada pinggiran meja kasir, napasmu memburu. Manajer Kang ada di sini. Mereka sudah sangat dekat. Kamu harus segera pulang dan memperingatkan Sunghoon bahwa daerah ini sudah tidak lagi sepenuhnya aman.
to be continued…





tenang aja sayangku cintaku semestaku hatiku hidupku gantengku pangeranku suamiku kesayanganku kecintaanku segalaku, aku bakal jadi tameng terkuat buat kamu sekaligus rumah ternyaman buat kamu sayang
duhh deg-degan euyyy, tapi tenang aja hoonie aku ga bakal cepuin kok, km aman sama aku sygg muachh 💋💗