★Jangan lupa Like★
Malam itu, Grand Ballroom hotel bintang lima penuh sesak dengan aroma parfum mahal dan kilatan lampu blitz yang memekakkan mata. Kamu melangkah di atas karpet merah dengan gaun satin backless berwarna hitam yang memeluk tubuhmu dengan sempurna-menampilkan lekuk yang beberapa hari lalu habis-habisan dijajah oleh Jay. Di sampingmu, Yang Jungwon berdiri tegak dengan setelan tuxedo custom-made yang tidak bercelah.
Kalian adalah pasangan emas di mata publik. Jungwon merangkul pinggangmu dengan posisi tangan yang sangat sopan, nyaris tidak menyentuh kulitmu secara langsung. Senyumnya begitu menawan dan terukur, tipe senyum yang sudah dilatih di depan cermin agar terlihat seperti suami idaman yang sangat menghargai istrinya.
“Tersenyum, (y/n). Mamaku melihat dari kejauhan,” bisik Jungwon sangat rendah, nyaris tanpa menggerakkan bibir.
Kamu hanya membalas dengan senyum porselen yang tak kalah sempurna. “Aku tahu, Jungwon. Fokus saja ke kamera.”
Puncaknya adalah saat para fotografer berteriak meminta pose ikonik. “Mr. and Mrs. Yang, please, give us a kiss!”
Jungwon terdiam sesaat, ada keraguan mikro di matanya yang hanya kamu yang bisa menangkapnya. Namun, demi reputasi keluarga besar Yang, dia mendekat. Bibirnya menyentuh bibirmu-hanya sebuah tekanan kaku, kering, dan tanpa rasa. Tidak ada gairah, tidak ada lidah, bahkan tidak ada hembusan napas yang berburu. Itu hanya kontak fisik dua benda mati yang dipaksakan bertemu. Kamu menutup mata, pura-pura terbuai, sementara dalam pikiranmu, kamu membayangkan bagaimana kasarnya Jay melumat bibirmu sampai bengkak.
Begitu kalian melewati pintu geser besar menuju area privat yang tertutup dari jangkauan wartawan, sandiwara itu runtuh dalam sekejap.
Jungwon melepaskan rangkulannya di pinggangmu seolah-olah tanganmu baru saja menyentuh bara api. Tanpa sepatah kata pun, dia merogoh saku tuxedo-nya, mengeluarkan sapu tangan sutra putih yang terlipat rapi, lalu mengusap bibirnya dengan gerakan yang sangat teliti dan... jijik?
Kamu berhenti melangkah, matamu membelalak tidak percaya. “Jungwon? What the fuck?“
Dia menoleh padamu dengan wajah datar yang sangat formal, seolah-olah dia baru saja selesai membersihkan noda tumpahan kopi di meja kerja, bukan bekas ciuman istrinya sendiri. “Kenapa?”
“Lipstikku itu waterproof, Jungwon. High-end brand. Dia nggak akan transfer ke bibirmu bahkan kalau kita ciuman satu jam sekalipun,” desismu dengan suara tertahan, menahan emosi yang meluap di dada. “Ngapain kamu hapus kayak gitu di depan mukaku?”
Jungwon melipat kembali sapu tangannya ke bentuk semula, tatapannya dingin dan steril. “Aku cuma nggak suka ada sisa bahan kimia di kulitku. Lagipula, kontrak kita jelas, kan? Kita hanya melakukannya untuk kepentingan publik. Secara personal, aku belum siap untuk kontak fisik yang terlalu intim.”
Kamu mendengus keras, tawa sarkas lolos dari mulutmu. “Kontak fisik intim? Itu cuma kecupan seujung kuku, Jungwon! Kamu bersikap seolah-olah aku punya penyakit menular.”
“Jangan berlebihan, (y/n). Aku hanya menjaga kebersihan,” jawabnya enteng, lalu memperbaiki posisi dasinya. “Ayo masuk, kolega Papa sudah menunggu di dalam. Pasang wajahmu kembali.”
Kamu mengepalkan tangan di samping gaunmu, kuku-kukumu menusuk telapak tangan. Rasa kesal ini nyaris membuatmu ingin berteriak di depan wajahnya yang terlalu rapi itu. Bagaimana bisa pria ini begitu kaku dan suci, sementara di bawah gaun mahal ini, tubuhmu masih menyimpan sisa-sisa lebam kebiruan dari cengkeraman Jay yang kasar?
Kamu menarik napas dalam-dalam, mengatur ekspresi wajahmu menjadi cool dan tak tersentuh. Kamu tidak boleh terlihat kalah. Kamu berjalan mendahuluinya dengan langkah anggun, membiarkan aroma parfummu tertinggal di udara sebagai sisa keberadaanmu.
Dalam hati, kamu bersumpah akan langsung menelepon Jay setelah acara ini selesai. Kamu butuh seseorang yang tidak akan menghapus bekasmu dengan sapu tangan, melainkan seseorang yang akan memakan habis setiap inci dari dirimu tanpa sisa. Kalau Jungwon ingin menjaga kebersihan dan kesuciannya, silakan saja. Kamu akan dengan senang hati membiarkan Jay mengotori dirimu lagi malam ini.
Langkahmu nyaris terhenti saat pintu besar itu terbuka sepenuhnya. Kamu baru saja mau menata emosimu yang berantakan gara-gara sapu tangan sialan itu, tapi pemandangan di depanmu benar-benar bikin kamu ingin muntah di tempat.
Moka. Sepupu jauhmu yang sejak dulu memang punya aura “centil” kalau sudah di dekat Jungwon, sekarang berdiri di sana. Tapi kali ini beda. Dia nggak cuma menyapa, dia langsung menghambur, merangkul leher Jungwon, dan mendaratkan ciuman bertubi-tubi di kedua pipi suamimu.
Dan yang paling bikin darahmu mendidih? Jungwon-pria yang tadi mengusap bibirnya seolah kamu adalah sampah-malah tersenyum tipis. Sangat tipis, tapi itu adalah ekspresi paling “manusiawi” yang pernah kamu lihat darinya. Dia membiarkan Moka menempel padanya seperti benalu, seolah hal itu adalah rutinitas yang sangat normal.
“Jungwonie! Kamu telat banget sih, aku udah nungguin dari tadi tahu!” rengek Moka dengan suara yang dibuat-buat manis. Dia melirikmu sekilas, ada kilat kemenangan di matanya yang seolah berkata, ‘Lihat kan? Aku bisa nyentuh dia sesuka hati, sementara kamu nggak.’
Kamu berdiri mematung, menatap Jungwon dengan pandangan yang sulit diartikan. Double kill.
‘Apa kabar dengan sapu tangan tadi, Jungwon?’ jeritmu dalam hati. ‘Sama istri sendiri jijik sampai harus dihapus, tapi sama perempuan lain yang statusnya cuma sepupu jauh, kamu malah nyambut sesuka hati?’
“Moka, jangan kekanak-kanakan. Banyak orang di sini,” ucap Jungwon. Bahasanya memang masih formal, tapi nadanya... nadanya jauh lebih lembut. Tidak ada nada dingin atau steril seperti saat dia bicara padamu di lorong tadi.
“Ih, biarin aja! Kan kita udah lama nggak ketemu,” Moka semakin manja, tangannya sekarang berani merapikan kerah tuxedo Jungwon yang sebenarnya sudah sangat rapi. “Kamu makin ganteng aja, makin mirip tipe ideal aku.”
Kamu mendengus pelan, nyaris mengeluarkan tawa hambar. Rasanya benar-benar konyol. Kamu, istri sahnya, harus mengikuti kontrak gila dan dilarang menyentuhnya, sementara sepupu nggak tahu diri ini bisa dengan bebas menciumi pipinya di depan umum.
Kamu melangkah mendekat dengan wajah cool yang sangat terjaga, meskipun di dalam hati kamu sudah ingin membakar gedung ini. Kamu sengaja berdiri di samping Jungwon, tapi tidak menyentuhnya sama sekali-karena kamu tahu, menyentuhnya hanya akan membuatmu merasa semakin murah setelah melihat sapu tangan tadi.
“Oh, ada Moka juga ternyata. Sejak kapan kamu jadi begitu... akrab dengan suamiku?” tanyamu dengan nada tenang yang sangat menusuk.
Moka hanya tersenyum lebar, sengaja tidak melepas rangkulannya di lengan Jungwon. “Oh, (y/n). Kita kan emang dari dulu deket banget. Jungwonie itu satu-satunya orang yang ngerti aku. Ya kan, Won?”
Jungwon hanya diam, tidak membantah, tapi juga tidak mencoba melepaskan diri dari Moka. Sikap pasifnya itu justru jauh lebih menyakitkan daripada kata-kata kasar sekalipun.
Kamu menarik napas panjang, menatap Jungwon tepat di matanya-mata yang tadi menatapmu penuh jarak. Kamu ingin dia melihat bahwa kamu tidak cemburu, tapi kamu muak. Muak dengan kemunafikannya.
“Baguslah kalau begitu,” ucapmu pendek sambil tersenyum miring. “Aku ke meja minuman dulu. Sepertinya kalian butuh waktu buat... bernostalgia.”
Kamu berbalik, berjalan menjauh dengan kepala tegak. Di kepalamu, hanya ada satu nama yang berputar: Jay. Kamu butuh Jay sekarang juga. Kamu butuh tangan Jay yang kotor untuk menghapus rasa jijik akibat melihat kesucian palsu Jungwon malam ini. Kalau Jungwon lebih milih “kehangatan” dari sepupunya, maka dia nggak akan keberatan kalau istrinya sedang membayangkan pria lain di dalam kepalanya, kan?
★
Dua jam. Kamu sudah berdiri di sudut ballroom selama dua jam seperti pajangan mati. Kamu hanya ditemani gelas champagne yang sudah kosong dan beberapa pelayan yang bolak-balik menawarkan dessert yang sama sekali nggak menggiurkan.
Di seberang ruangan, pemandangannya makin menjijikkan. Moka sudah mabuk parah, wajahnya memerah, dan dia makin bergelayutan di lengan Jungwon sampai payudaranya menempel jelas di lengan tuxedo suamimu. Dan Jungwon? Pria yang katanya “nggak siap kontak fisik intim” itu malah merangkul pinggang Moka supaya sepupumu itu nggak jatuh. Keluarga besar yang melihat hanya tersenyum maklum, menganggap itu bentuk “kasih sayang kakak-adik”, padahal matamu melihat itu sebagai pengkhianatan terang-terangan.
Baru saja kamu mau melangkah pergi tanpa pamit, Jungwon tiba-tiba sudah berdiri di depanmu. Wajahnya masih setenang air, datar, dan tanpa dosa.
“Acara sebentar lagi selesai,” ucapnya dingin. “Pulanglah lebih dulu dengan sopir. Mobil sudah menunggu di lobi bawah.”
Kamu menaikkan sebelah alismu, menatapnya dengan tatapan meremehkan. “Oh? Terus suamiku yang terhormat ini mau ke mana? Masih mau jadi sandaran buat sepupu kesayangannya?”
Jungwon melirik Moka yang sekarang sudah hampir pingsan di pundaknya. “Moka mabuk berat. Aku harus memastikan dia sampai di apartemennya dengan aman. Mamanya menitipkannya padaku.”
Kamu tertawa hambar, suara tawamu terdengar sangat sarkas di telinganya. “Hebat ya. Sama istri sendiri harus pakai sapu tangan setelah ciuman, tapi sama perempuan lain, kamu rela jadi supir pribadi sekaligus pengawal. What a gentleman.”
Kamu mendekat selangkah, menatap matanya dalam-dalam. “Nggak usah repot-repot nyuruh sopir. Aku bisa cari jalan pulang sendiri. Lagipula, aku udah biasa ‘sendiri’ selama satu tahun ini, kan? Kamu fokus aja sama tugas muliamu itu.”
Jungwon tidak terlihat merasa bersalah. Dia justru mengangguk singkat, seolah kata-katamu sama sekali tidak melukainya. “Bagus kalau kamu paham. Silakan pergi kalau begitu.”
Setelah mengucapkan itu, tanpa ragu sedikit pun di depan matamu, Jungwon membungkuk dan mengangkat tubuh Moka dalam posisi bridal style. Dia menggendong perempuan itu dengan sangat erat, seolah-olah Moka adalah barang pecah belah yang paling berharga.
Kamu berdiri mematung, menyaksikan suamimu berjalan menjauh sambil menggendong wanita lain di depan banyak orang. Kamu mengepalkan tangan sampai buku-bukumu memutih. Rasa kesal ini sudah mencapai ubun-ubun.
“Oke, Jungwon. Kamu pilih dia, aku pilih Jay,” desismu pelan.
Kamu berbalik dengan langkah mantap, mengabaikan semua mata yang menatap kasihan padamu. Kamu merogoh ponsel dari tas kecilmu, jemarimu bergerak cepat mencari kontak Park Jay.
“Jay, jemput aku di depan hotel. Sekarang. Dan bawa aku ke tempatmu, aku pengen kamu bikin aku lupa kalau aku punya suami.”
Satu pesan terkirim. Kamu berjalan menuju lobi bukan untuk mencari sopir Jungwon, tapi untuk menjemput dosa yang jauh lebih nikmat daripada pernikahan sampah ini.
★
To Be Continued
duh Jungwon ada ada aja tingkahmu...
selam ada Jay setidaknya mentalku aman
AWOKAWOKAWOK
#Sepakat?
SEPAKATTT🤝🏻





jungwon ihh bisa-bisa kamu menyakiti, menyenggol ego & harga diri ku wonn!! trs jg apa-apain di moka² ituu pick me alay lu mau nyaingin gw? cih MIMPII!! 😡👊🏻🖕🏻🔪
emg lu aja yg bisa gitu won? sorry ya gw jg bisa sama my baby honey jeyyi, emg ya pesona pria matang ituu uhhh mantapp!! 😏🤭😻🤤💗❤️🔥🫦💋💃🏻
JUNGWON !!!,KAMU KOK TEGA,JIJIK BANGET YAH..NGGAK PAPA JAY HYUNG MILIK GUEEE ,WLEEE 😛😛😛