Setibanya di kamar kosan, kamu langsung mengunci pintu. Kamu melemparkan tasmu ke sembarang tempat dan menjatuhkan dirimu di lantai, bersandar di sisi tempat tidur. Kamarmu hening, hanya ada suara kipas angin yang berputar monoton.
Kamu menatap cermin besar di sudut kamar. Di sana, kamu melihat bayangan dirimu sendiri. Rambut yang tadi pagi kamu curl rapi kini sudah agak berantakan. Mata yang biasanya kamu hiasi dengan eyeshadow berbinar kini merah dan sembab.
Apa aku beneran gila ya? pertanyaan itu berputar-putar di kepalamu seperti kaset rusak.
Kamu mengingat kembali semua hal yang sudah kamu lakukan selama setahun terakhir. Kamu mengingat bagaimana kamu sengaja nongkrong di depan studio musik berjam-jam cuma buat melihat dia lewat. Kamu mengingat bagaimana kamu menghafal jadwal latihan band-nya, makanan favoritnya, merk rokok yang biasa dibeli teman-temannya, sampai jenis senar gitar yang selalu dia pakai.
Kamu rela mengubah caramu berpakaian, caramu berbicara, bahkan caramu tertawa semuanya hanya demi memancing satu lirikan mata dari Riki yang berisi rasa tertarik. Tapi yang kamu dapatkan hanyalah pandangan penuh rasa jijik dan penolakan. “Riki benar...” bisikmu pada ruangan yang kosong. Suaramu terdengar parau. “Aku bodoh banget.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kamu tidak mengirimkan pesan good night ke WhatsApp Riki. Kamu tidak mengirimkan pap makanan atau stiker lucu seperti yang biasa kamu lakukan setiap malam yang berakhir cuma di Read doang. Kamu menutup laptopmu, mematikan ponselmu, dan meringkuk di bawah selimut. Rasa sakit di dadamu malam itu terasa begitu nyata, sampai-sampai kamu kesulitan untuk bernapas.
🎸
Keesokan harinya di kampus, perubahan dalam dirimu mulai kelihatan. Kamu tidak lagi memakai baju-baju pastel yang manis. Kamu cuma memakai sweater hitam oversized yang kebesaran, celana jeans longgar, dan rambutmu kamu ikat asal-asalan menjadi bun di belakang kepala. Tidak ada makeup tebal, tidak ada parfum caramel yang semerbak.
Saat kamu berjalan melewati kantin, kamu melihat tongkrongan Riki di bawah pohon beringin. Riki sedang duduk di sana bersama Junghwan dan James. Biasanya, kamu akan langsung membelokkan langkahmu, memasang senyum paling ceria, dan menghampiri meja mereka tanpa peduli apakah kamu diundang atau tidak. Tapi hari ini, kamu cuma melirik meja itu sekilas, lalu terus berjalan lurus menuju perpustakaan. Di meja tongkrongan, Junghwan yang pertama kali menyadari keberadaanmu.
“Eh, itu si (Y/N) bukan sih?” tuju Junghwan sambil menunjuk dengan dagunya. “Kok dia lewat gitu aja? Gak mampir ke sini?”
James menghentikan sedotan es kopinya, ikut menatap punggungmu yang makin menjauh. “Tumben banget. Biasanya kalau liat Riki nongkrong, dari jarak lima puluh meter udah teriak-teriak.”
Riki diam saja. Dia sedang menyesap rokoknya, menatap lurus ke arah jalan setapak yang baru saja kamu lalui. Ada perasaan aneh dan tidak nyaman yang mendadak muncul di ceruk dadanya—perasaan asing yang tidak pernah dia ingin dia akui secara gamblang.
Biasanya, kehadiranmu selalu membuatnya merasa tercekik dan risih. Tapi hari ini, saat kamu berjalan melewatinya tanpa menoleh sedikit pun, ada kekosongan aneh yang mendadak tertinggal. “Baguslah kalau dia udah sadar,” celetuk Riki pelan, mencoba mengabaikan rasa aneh di dadanya. Dia mematikan puntung rokoknya di asbak. “Capek gue ngeladenin cewek gak jelas kayak gitu terus.”
“Tapi jujur ya, Ki,” Ryul yang baru datang membawa nampan gorengan ikut menyela. “Kemarin pas lo cerita waktu di kafe omongan lo emang kelewatan sih. Gue tau lo risih, tapi ngomong dia gila di depan orang banyak tuh... rada jahat, man.”
Riki mengernyitkan alisnya. “Gue cuma ngomong fakta. Dia emang udah obsess parah.”
“Ya tapi kan dia kayak gitu karena dia suka sama lo, Ki,” balas Junghwan. “Coba deh lo bayangin, cewek mana lagi di fakultas ini yang mau ngingetin jadwal kuliah lo, beliin lo makanan pas lo lupa makan gara-gara latihan, sampai apal selera kopi lo? Gak ada, bro. Cuma (Y/N). Si Stella bau jeruk itu aja udah nyerah deketin lo yang endingnya cuma lo anggap Just Friend.”
Riki tidak menjawab lagi. Dia meraih gitarnya dan mulai memetik senar secara acak, mencoba membungkam suara-suara di kepalanya yang mendadak jadi riuh. Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola baru yang sangat berbeda.
Di kelas Harmoni Lanjut, kamu tidak lagi duduk di samping Riki. Kamu memilih duduk di barisan paling depan, dekat meja dosen, bertolak belakang dengan posisi Riki yang selalu di pojok belakang. Kamu mendengarkan penjelasan Pak Suga dengan serius, mencatat setiap detail, dan aktif bertanya. Kamu bertingkah seolah-olah Riki hanyalah elemen latar belakang di ruangan itu—sama seperti papan tulis atau pendingin ruangan.
Saat kelas selesai dan pembagian revisi aransemen lagu harus didiskusikan, kamu menghampiri meja Riki dengan sikap yang sangat profesional.
“Ki, ini bagian partitur vokal yang udah aku selesaiin,” katamu sambil meletakkan selembar kertas di mejanya. Suaramu tenang, tidak ada nada manja, tidak ada panggilan khusus. “Aku udah masukin elemen jazz ballad-nya sesuai yang kita bahas kemarin. Tolong dicek, kalau ada yang perlu dirubah, chat aku aja. Nanti aku revisi.”
Riki menatap kertas itu, lalu menatap wajahmu. Kamu tidak menatap matanya secara langsung, pandanganmu tertuju pada bahunya.
“Oke... nanti gue cek,” jawab Riki, suaranya agak ragu.
“Yaudah, aku duluan ya. Ada kelas Vokal Utama habis ini,” pamitmu singkat, lalu langsung berbalik dan berjalan keluar dari studio tanpa menunggu responnya lagi.
Riki terpaku di tempatnya. Dia memperhatikan caramu berjalan menjauh. Tidak ada lagi lelucon, tidak ada lagi godaan, tidak ada lagi paksaan untuk ditemani makan siang. Kehadiranmu yang biasanya memenuhi seluruh ruang geraknya, kini menghilang begitu saja, meninggalkan kehampaan yang dingin.
Satu minggu berlalu, lalu dua minggu.
Tugas duett kalian makin mendekati hari H presentasi. Kalian beberapa kali harus latihan bareng di studio latihan kampus, tapi interaksi kalian benar-benar dibatasi pada urusan musik. Setiap kali Riki mencoba membuka percakapan kasual sebuah hal yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan kamu selalu menjawab seperlunya dengan senyum tipis yang penuh jarak, lalu kembali fokus pada instrumenmu.
Suatu sore, hujan deras mengguyur gedung Fakultas Seni Musik. Petir sesekali menyambar di langit Jakarta yang gelap. Kamu dan Riki baru saja selesai melakukan run-through terakhir untuk lagu duet kalian.
Kamu sedang merapikan lembaran partiturmu ke dalam tas ketika Riki mendadak bersuara.
“(Y/N).”
Kamu menghentikan gerakan tanganmu. “Kenapa, Ki? Ada bagian yang nada vokalnya masih sumbang ya?”
“Bukan,” Riki mengusap belakang lehernya—sebuah gestur yang menunjukkan kalau dia sedang canggung. “Soal... soal omongan gue waktu di kafe kemarin. Gue rasa gue agak terlalu kasar.”
Kamu diam sejenak. Kamu menatap Riki yang kini berdiri di hadapanmu, terlihat agak cemas. Ironis sekali. Dulu, kamu akan melakukan apa saja untuk melihat Riki peduli pada perasaanmu. Tapi sekarang, saat permintaan maaf itu akhirnya keluar dari mulutnya, hatimu rasanya biasa saja. Atau lebih tepatnya, sudah terlalu kebas untuk merasa senang.
“Gak apa-apa kok, Ki,” jawabmu pelan, sambil mengulum senyum tipis. “Kamu gak salah sama sekali. Omongan kamu kemarin justru bikin aku sadar.”
Riki mengernyit. “Sadar apa?”
“Sadar kalau apa yang aku lakukan selama ini emang kekanak-kanakan dan bikin risih,” kamu menyangklong tasmu ke bahu. Kamu menatap mata Riki lurus-lurus untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu. “Aku minta maaf ya, udah bikin kamu gak nyaman selama beberapa semester ini. Kamu tenang aja, aku gak bakal ganggu kamu lagi kok. Aku udah kapok jadi cewek gila buat kamu.”
Kata-kata itu diucapkan dengan nada yang sangat ramah dan tulus, tapi efeknya ke Riki justru seperti tamparan keras di wajahnya. Dia ingin mengatakan sesuatu. Dia ingin bilang kalau dia tidak bermaksud mengusirmu sepenuhnya dari hidupnya. Dia ingin bilang kalau dia... mendadak merindukan kehadiranmu yang bising dan penuh warna. Tapi tenggorokannya mendadak tersumbat. Gengsinya yang setinggi langit menahannya untuk mengucapkan kalimat-kalimat itu.
“Yaudah, aku pulang duluan ya, Ki. Luar lagi hujan deras, tapi aku bawa payung kok,” pamitmu, lalu berjalan melangkah keluar dari studio latihan.
Riki berdiri sendirian di tengah studio yang sepi. Dia menatap pintu studio yang tertutup rapat. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Riki merasakan penyesalan yang begitu dalam dan menyesakkan. Dia baru saja mendapatkan apa yang selama ini paling dia inginkan adalah kamu berhenti mengejarnya. Tapi kenapa hatinya rasanya sedat dan sekosong ini?
🎸
Hari Ujian Tengah Semester untuk mata kuliah Harmoni Lanjut akhirnya tiba. Studio Pertunjukan Fakultas Seni Musik dipenuhi oleh mahasiswa dan dosen penguji. Suasana terasa tegang dan kompetitif.
Kamu dan Riki dapat urutan tampil nomor empat. Saat nama kalian dipanggil oleh Pak Suga, kamu berjalan naik ke atas panggung kecil dengan gaun hitam sederhana yang elegan. Riki berjalan di belakangmu, membawa gitar akustiknya.
Kalian mengambil posisi di bawah spotlight. Riki duduk di atas kursi tinggi dengan gitarnya, sementara kamu berdiri di depan mikrofon.
Sebelum mulai, Riki melirik ke arahmu. Matanya seolah memohon agar kamu memberikan reaksi atau senyuman seperti dulu. Tapi kamu hanya memberikan anggukan profesional sebagai sinyal bahwa kamu sudah siap.
Petikan gitar Riki mulai mengalun di udara. Nadanya begitu lembut, presisi, dan penuh penghayatan. Lagu jazz-ballad yang kalian aransemen mulai memenuhi ruangan. Lalu, kamu mulai bernyanyi.
Suaramu luar biasa.
Riki tahu kamu anak Vokal Utama yang berbakat, tapi mendengarkanmu bernyanyi dari jarak sedekat ini dengan penghayatan yang begitu dalam dan emosional membuat bulu kuduk Riki berdiri. Setiap bait lagu yang kamu nyanyikan seolah menceritakan kisah tentang rasa sakit, tentang melepaskan, dan tentang penerimaan. kamu tidak sedang bernyanyi untuk mendapatkan pujian dosen melainkan kamu sedang bernyanyi untuk perasaanmu sendiri yang sudah mati. Saat vokal dua Riki masuk di bagian chorus, suara kalian menyatu dengan sangat sempurna. Harmoni yang tercipta begitu indah sampai-sampai seluruh penonton di ruangan itu terdiam, terhipnotis oleh penampilan kalian.
Di puncak lagu, Riki menatapmu dari atas kursinya. Di bawah pendar lampu panggung, kamu terlihat sangat cantik dan tidak terjangkau. Riki menyadari satu hal yang terlambat bahwa kamu bukan sekadar “cegil” yang mengganggunya. Kamu adalah seseorang yang punya hati begitu besar dan tulus, seseorang yang rela memberikan seluruh perhatiannya untuk orang yang dia cintai. Dan Riki dengan bodohnya telah membuang hal itu demi gengsinya sendiri.
Lagu berakhir dengan nada petikan gitar Riki yang perlahan memudar. Hening sejenak di dalam studio, sebelum akhirnya tepuk tangan riuh bergema dari seluruh penonton, termasuk Pak Suga yang bertepuk tangan sambil tersenyum puas. Kamu membungkukkan badan memberi penghormatan, tersenyum lega karena tugas berat ini akhirnya selesai. Kamu menoleh ke Riki dan memberikan tos singkat padanya. “Kerja bagus, Ki,” bisikmu penuh kepuasan.
“Lo... suara lo keren banget hari ini, (Y/N),” balas Riki, suaranya terdengar emosional dan agak parau.
“Makasih. Gitar kamu juga keren banget.”
Setelah turun dari panggung, kalian berjalan menuju area belakang panggung untuk merapikan barang-barang. Teman-teman Riki—Junghwan, James, Ohyul, dan Ryul—sudah menunggu di sana.
“Gokil! Parah sih, aransemen kalian juara banget!” seru Junghwan sambil merangkul bahu Riki. “Vokal lo dapet banget, (Y/N)! Sumpah, gue sampai merinding pas bagian chorus!”
“Thanks, Hwan,” jawabmu sambil tersenyum tulus.
James menatapmu dengan pandangan yang kini penuh rasa hormat. “Gue harus narik omongan gue kemarin. Lo emang vokalis terbaik di angkatan kita, (Y/N).”
“Makasih, James. Yaudah gengs, aku duluan ya. Mau merayakan berakhirnya UTS bareng temen-temen kelas vokal,” pamitmu pada mereka semua. Saat kamu hendak berbalik dan berjalan pergi, Riki mendadak menahan lengan bajumu. Sentuhannya sangat pelan, seolah dia takut kamu akan hancur kalau dia memegangmu terlalu keras.
“(Y/N)... ntar malam lo ada acara gak?” tanya Riki cepat, memotong pembicaraan. Matanya menatapmu dengan binar harapan yang baru pertama kali kamu lihat dari seorang Riki. “Gue... gue mau ngajak lo makan malam. Cuma kita berdua. Bukan soal tugas.” Empat temannya di belakang langsung saling pandang dengan mata melotot. Junghwan sampai memegangi dadanya sok kaget.
Kamu menatap tangan Riki yang memegang lengan bajumu, lalu beralih menatap wajah Riki. Kamu bisa melihat kecemasan, rasa bersalah, dan kejujuran di matanya. Riki yang dulu selalu menolakmu, kini sedang meminta kesempatan darimu. Tapi kamu hanya tersenyum tipis, senyuman manis yang kini terasa sangat jauh. “Sori banget ya, Ki. Nanti malam aku udah ada janji sama temen-temen vokalku,” jawabmu ramah, lalu dengan perlahan menarik lengan bajumu dari genggamannya. “Lagian, kan kamu sendiri yang bilang... kita gak usah ketemu lagi kalau gak penting-penting banget.”
Kalimat itu memukul Riki tepat di dadanya, mengembalikan kata-katanya sendiri yang dulu pernah dia lemparkan padamu tanpa perasaan.
“Tapi (Y/N)—”
“Aku duluan ya, gengs! Bye!” kamu melambaikan tangan pada Junghwan dan yang lainnya, lalu berbalik dan berjalan melangkah keluar dari gedung pertunjukan dengan langkah yang ringan dan bebas. Riki berdiri terpaku di sana, menatap punggungmu yang makin lama makin jauh dan akhirnya menghilang di balik pintu keluar.
“Buset...” gumam Ryul pelan dari belakang. “Senjata makan tuan gak tuh namanya?”
Junghwan menepuk-nepuk bahu Riki yang terlihat lemas. “Sabar ya, Ki. Dulu pas dia kejar-kejar lo, lo buang. Sekarang pas dia udah jalan terus, lo baru kelimpungan. Selamat berjuang deh, giliran lo sekarang yang jadi cegil buat dapatin hati dia.” Riki tidak menjawab. Dia hanya menatap pintu keluar yang kosong itu, menarik napas panjang, dan meremas stik gitar di tangannya.
Dulu, kamu yang bertaruh segalanya untuk mengejar Riki. Tapi sekarang, malah sebaliknya. Dan Riki tahu, jalan untuk mendapatkan hatimu kembali akan menjadi perjalanan yang sangat panjang, penuh tantangan, dan perjalanan di mana dialah yang harus belajar bagaimana caranya berjuang demi cinta. Entahlah. Apakah dia bakal bisa memahami isi hatinya sendiri atau tidak.
to be ccontinued
enaknya diapain ini si riki?









lucu banget pada melotot 😭💕
Ngakak liat muka tu berempat pd cengo😆