Pagi di Sirkuit Catalunya, Spanyol, rasanya bising dan sibuk banget. Suara deru mesin mobil F1 yang lagi dipanasin di paddock kedengaran saling bersahutan. Kru mekanik tim Jungwon sibuk mondar-mandir bawa ban cadangan dan peralatan sensor. Atmosfernya tegang, sewajarnya hari balapan resmi.
Tapi, ketegangan paling parah justru ada di dalam ruangan istirahat privat milik Yang Jungwon. Cowok itu sudah pakai racing suit lengkap warna merah-hitam khas timnya, tapi ritsleting bagian dadanya sengaja dibuka setengah, memperlihatkan kaus dalaman putih khusus antibakar yang ketat di badannya. Jungwon lagi berdiri sambil bertumpu kedua tangan di meja, napasnya memburu, dan rahangnya mengeras sampai urat-urat di lehernya keluar.
Di depannya, ada Jay. Rival abadi Jungwon dari tim kompetitor. Jay berdiri dengan santai, pakai racing suit warna biru-putih, senyumnya meremehkan banget. โInget kan mainan lo musim lalu di sirkuit ini, Won? Mobil lo melintir ke pembatas gara-gara lo panik pas gua salip dari sisi dalem,โ cibir Jay, nadanya sinis dan sengaja memancing keributan. โMusim ini juga bakal sama. Mobil baru lo itu kencang sih, tapi kalau yang nyetir mentalnya ambyar, lo nggak bakal lolos kualifikasi sampai akhir musim. Mending lo mundur sekarang sebelum malu.โ
โJaga mulut lo, sialan!โ bentak Jungwon. Dia maju selangkah, mencengkeram kerah racing suit Jay dengan emosi yang sudah sampai ke ubun-ubun. Kepalanya benar-benar panas, terbakar sama provokasi Jay yang selalu tahu cara mengacak-acak fokusnya sebelum balapan dimulai. Jay cuma ketawa remeh, melepas cengkeraman tangan Jungwon dengan kasar. โGua tunggu lo di tikungan pertama. Jangan nangis kalau lo cuma bisa ngeliat bagian belakang mobil gua.โ Setelah ngomong begitu, Jay balik badan dan keluar dari ruangan dengan santai.
Begitu Jay pergi, Jungwon langsung menendang kursi lipat di dekatnya sampai terpental ke dinding. BRAK!
โWon, tenang, Won! Jangan kepancing! Setengah jam lagi formation lap (lap pemanasan sebelum start) dimulai. Kalau lo emosi gini, konsentrasi lo berantakan di sirkuit!โ Bang Jake, managernya, berusaha menahan pundak Jungwon, dibantu dua orang kru mekanik. Tapi Jungwon tetap ngos-ngosan, matanya merah karena marah.
Tepat saat suasana ruangan lagi chaos dan tegang-tegangnya, pintu ruangan terbuka pelan.
Kamu masuk dengan langkah canggung. Hari ini kamu pakai baju kasual, kaus putih polos dipadu celana jins, ditambah paddock pass (kartu akses khusus) yang dikalungkan di lehermu. Penampilanmu kontras banget sama orang-orang di ruangan yang mukanya pada tegang. Kamu sempat dengar sekilas omongan kasar Jay tadi sebelum dia keluar, dan otak polomu langsung menangkap kalau situasi ini lagi nggak baik-baik saja.
Jungwon yang lagi emosi langsung menoleh tajam ke arah pintu. Begitu melihat wajah polomu, cowok itu makin bete dan mendengus keras. โNgapain lagi sih lo ke sini?! Gua mau balapan, bukan mau piknik! Pergi sana ke tribun, jangan bikin gua makin pusing!โ semprot Jungwon, suaranya menggelegar di ruangan.
Kru tim Jungwon langsung pada diam, ngeri melihat bos kecil mereka lagi mode ngamuk. Tapi kamu, dengan kelemotan dan kepolosan tingkat dewamu, malah nggak takut sama sekali. Kamu cuma berkedip pelan, menatap kursi yang tadi ditendang Jungwon, lalu menatap mata tajam cowok itu.
Kamu berjalan mendekati Jungwon dengan langkah santai, mengabaikan tatapan bete dari tunanganmu. Kamu berhenti tepat di depan dadanya yang naik-turun karena emosi.
โJungwon...โ panggilmu pelan, suaranya lembut banget, kontras dengan kebisingan mesin di luar.
โApa?! Mau nyuruh gua sabar? Nggak usah sok tahu, lo nggak tahu apa-apa soal balapan!โ potong Jungwon ketus.
Kamu menggelengkan kepala, lalu tangan kecilmu yang halus perlahan terangkat, merapikan kerah racing suit Jungwon yang agak berantakan gara-gara dia ngamuk tadi.
โAku emang nggak paham soal mobil balap kencang begitu, Won. Tapi tadi aku dengar kak yang seragam biru itu ngomong,โ katamu lempeng, menatap matanya tulus. โDia bilang kamu nggak bakal lolos karena mental kamu ambyar. Tapi kata Papa aku, orang yang beneran hebat itu nggak perlu banyak omong sebelum kerja. Kalau kak seragam biru itu sibuk ngomongin kamu, berarti dia sebenernya takut sama kamu, makanya dia pengen kamu marah biar dia bisa menang mudah.โ
Jungwon langsung terdiam. Kata-kata polomu yang kedengaran sederhana banget bahkan agak terkesan polos tolol justru menohok tepat di logikanya.
โLagian...โ kamu melanjutkan sambil menepuk-nepuk dada bidang Jungwon pelan, โkamu kan kalau nyetir kencang banget, kemarin aja aku sampai pusing pas kamu tes mobil. Jadi, kamu tinggal balap aja yang kencang di depan dia, terus nanti pas menang, kita cari es krim ya? Kepala kamu panas banget, kayaknya butuh yang dingin-dingin.โ
Keheningan melanda ruangan itu selama beberapa detik. Bang Jake dan para kru mekanik melongo, nggak percaya kalau kalimat sederhana dari cewek polos kayak kamu bisa langsung menyiram bensin yang lagi menyala di kepala Jungwon. Jungwon menatapmu lama. Tatapan matanya yang tadinya beringas penuh amarah, perlahan-lahan mengendur. Ada rasa hangat yang aneh merayap di dadanya saat melihat tanda kemerahan (hickey) di lehermu yang sedikit mengintip dari balik rambutmu, tanda yang dia buat sendiri semalam. Mengingat malam itu, fokus Jungwon mendadak bergeser. Dia sadar, dia punya tanggung jawab besar untuk pulang dengan selamat karena ada cewek polos ini yang menunggunya di kamar hotel nanti.
Jungwon menghela napas panjang, membuang sisa emosinya ke udara. Dia memegang pergelangan tanganmu yang masih ada di dadanya, menggenggamnya sebentar. โLo beneran bego ya, bisa-bisanya mikir sampai ke es krim,โ gumam Jungwon, suaranya sudah melunak meski nadanya masih gengsi. Dia melepaskan tanganmu, lalu menarik ritsleting racing suit-nya sampai atas dan memakai balaclava (kain penutup kepala sebelum helm).
Jungwon mengambil helm balapnya, lalu menatapmu tajam tapi ada binar protektif di sana. โDuduk di garage (garasi tim) bareng Bang Jake. Jangan ke mana-mana, jangan ngomong sama cowok lain. Gua bakal selesaiin ini dengan cepat.โ
Kamu tersenyum manis dan mengangguk ceria. โIya, Jungwon! Semangat ya!โ
Dua puluh mobil F1 sudah berjajar rapi di posisi start masing-masing setelah menyelesaikan formation lap. Jungwon start dari posisi ketiga, tepat di belakang Jay yang ada di posisi kedua. Di kokpit mobilnya yang sempit, Jungwon mengatur napasnya lewat radio tim.
โSemua sistem siap, Won. Jaga temperatur ban. Inget kata tunangan lo, fokus aja di depan,โ suara mekanik senior terdengar dari earpiece helm Jungwon, membuat cowok itu sedikit tersenyum di balik helmnya.
Di garasi tim, kamu duduk manis pakai headphone besar khusus kru biar telingamu nggak budek. Kamu ngeliatin layar monitor besar yang menampilkan lima lampu merah di atas sirkuit.
Satu... dua... tiga... empat... lima lampu merah menyala.
Dan begitu semua lampu merah padam secara bersamaan, suara raungan mesin F1 meledak dahsyat. Mobil-mobil itu langsung melesat kencang membelah aspal, menyisakan kepulan asap ban yang terbakar.
Jungwon langsung tancap gas. Mobil merah-hitamnya melesat bak peluru. Begitu memasuki tikungan pertama yang tajam, Jay mencoba menutup jalur Jungwon secara agresif. Kalau Jungwon yang dulu, dia pasti bakal ngerem mendadak karena panik atau malah sengaja menabrakkan diri karena emosi. Tapi hari ini, kepala Jungwon dingin. Dia ingat ucapan polosmu yang bilang โdia sibuk ngomongin kamu karena dia sebenernya takutโ.
Jungwon dengan cerdik memanfaatkan celah kecil di sisi luar tikungan. Dia menunda pengereman selama sepersekian detik lebih lama dari Jay. Jungwon melakukan teknik nekat tapi terukur yang biasa disebut late braking. Mobil Jungwon meluncur mulus di samping mobil Jay, bannya hampir bersentuhan di kecepatan 250 km/jam, sebelum akhirnya Jungwon berhasil menyalip Jay tepat di puncak tikungan!
โYES! Beautiful move, Won! P2 (Position 2) sekarang!โ seru Bang Jake lewat radio tim di garasi, membuat para kru langsung bersorak heboh dan saling tepuk tangan.
Kamu yang nggak paham-paham banget cuma ikut tepuk tangan sambil tersenyum lebar melihat mobil Jungwon ada di depan mobil biru milik Jay di layar monitor. โWah, Jungwon di depan kak seragam biru ya, Bang?โ tanyamu polos ke Jake.
โIya, (y/n)! Jungwon keren banget gara-gara lo tadi!โ jawab Jake sambil tertawa lega.
Selama 50 lap berikutnya, pertandingan berjalan super menegangkan. Jay berkali-kali mencoba menyerang balik, menempel ketat di belakang mobil Jungwon dengan jarak kurang dari satu detik untuk mengaktifkan fitur penambah kecepatan (DRS). Tapi pertahanan Jungwon hari ini benar-benar sekokoh tembok. Dia mengemudi dengan sangat rapi, menjaga bannya agar tidak cepat haus, dan menutup semua celah yang bisa dimanfaatkan Jay.
Sampai akhirnya, bendera kotak-kotak hitam-putih (chequered flag) dikibarkan tanda balapan selesai. Jungwon berhasil menyentuh garis finis di posisi kedua, mengalahkan Jay yang harus puas di posisi ketiga.
Sore harinya, setelah prosesi podium dan wawancara media yang melelahkan, Jungwon langsung menarikmu pergi dari sirkuit. Dia bahkan menolak ikut pesta kru timnya. Sesuai janjinya, dia membawamu ke sebuah kedai gelato kecil di sudut kota Barcelona.
Kalian duduk di bangku taman yang agak sepi. Kamu lagi asyik menikmati gelato rasa stroberi, sesekali belepotan di sekitar bibirmu karena kamu makannya kayak anak kecil. Jungwon duduk di sebelahmu, sudah ganti baju pakai kaus hitam kasual. Dia cuma ngeliatin kamu sambil menyilangkan dada.
โWon, kamu nggak mau es krimnya? Enak lho,โ tawarmu sambil menyodorkan sendok kecil ke depan mulutnya. Jungwon mendengus, tapi tetap memajukan wajahnya dan memakan gelato dari sendokmu. โBiasa aja. Manisan juga lo,โ gumamnya pelan banget, sampai kamu nggak dengar jelas.
โHah? Kamu ngomong apa, Won?โ tanya kamu sambil memiringkan kepala.
Jungwon nggak menjawab. Pandangannya malah fokus ke noda gelato pink yang menempel di sudut bibir bawahmu. Detik itu juga, ingatan Jungwon kembali ke suasana kamar hotel semalam, tentang bagaimana daster pink tanpa lenganmu bergoyang, dan bagaimana sempitnya kamu saat dia kunci di konter dapur. Sensasi tegang yang sempat tertahan karena balapan tadi mendadak kembali lagi dengan skala dua kali lipat lebih beringas. Jungwon memajukan tubuhnya, mencondongkan wajahnya ke arahmu sampai kamu bisa merasakan wangi parfumnya lagi. Jari jempolnya yang kasar perlahan mengusap sudut bibirmu, membersihkan noda es krim di sana.
โGua udah tepatin janji gua buat menang dari Jay dan nemenin lo beli es krim,โ bisik Jungwon, suaranya mendadak berubah serak dan berat, persis kayak mode teasing-nya semalam. Matanya menatap bibirmu dengan lapar. โSekarang, waktunya lo yang tepatin tugas lo buat nurut sama gua di kamar hotel. Dan malam ini... gua nggak bakal pasang guling pembatas lagi di kasur. Paham, (Y/N)?โ
Kamu cuma bisa mengerjapkan mata polosmu, menelan ludah pelan saat merasakan aura dominan Jungwon yang super spicy mulai menguar lagi, siap melanjutkan apa yang tertunda semalam. Aroma es krim stroberi dan ketegangan di Sirkuit Catalunya perlahan menguap, digantikan oleh keheningan malam yang pekat di dalam kamar Executive Suite hotel mewah mereka. Pintu kamar mandi baru saja bergeser terbuka, mengembuskan uap hangat yang membawa aroma sabun maskulin bercampur wangi mint yang kuat.
Jungwon melangkah keluar. Rambut hitamnya yang basah tampak berantakan, sebagian menutupi dahinya. Dia hanya mengenakan celana training katun warna abu-abu yang longgar di pinggang, membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos total. Dada bidangnya yang tegap, bahu lebar yang terlatih menahan beban g-force mobil F1, serta deretan otot perutnya yang berlekuk sempurna tampak berkilau tipis oleh sisa butiran air. Handuk kecil putih tersampir di lehernya, digunakan untuk mengeringkan rambut dengan gerakan malas. Namun, langkah kaki Jungwon mendadak terhenti di dekat ujung ranjang. Matanya langsung menggelap, terpaku pada pemandangan di depannya.
Kamu sedang duduk bersila di tengah-tengah kasur King Size. Kamu baru saja selesai mandi beberapa menit sebelum Jungwon, dan malam ini kamu memilih pakaian yang mirip dengan semalam. Sebuah daster katun tipis tanpa lengan, tapi kali ini berwarna biru muda pastel. Sialnya bagi kewarasan Jungwon, daster biru ini memiliki potongan leher v-neck yang jauh lebih rendah. Setiap kali kamu bergerak atau menunduk, belahan dadamu yang penuh, montok, dan seputih susu terekspos dengan sangat jelas, kontras dengan helai rambut panjangmu yang wangi bedak bayi.
Kamu sama sekali tidak menyadari pandangan lapar Jungwon yang seperti serigala siap menerkam. Fokusmu sepenuhnya tersita oleh sebuah kaus polo hitam resmi dari tim balap Jungwon yang baru saja diberikan oleh Bang Jake sore tadi. Kamu sedang meraba-raba sablonan logo sponsor di bagian dada kaus itu dengan pasrah dan polos.
โWah... logonya bagus banget ya, Won? Ada gambar kudanya,โ katamu lempeng tanpa menoleh, menyuarakan isi pikiranmu yang polos cenderung lambat itu. โKata Bang Jake, kalau kamu menang lagi, nanti nama aku mau dibikinin di baju kayak gini juga. Beneran bisa, Won?โ
Jungwon tidak menjawab. Dia melempar handuk kecilnya ke atas meja rias dengan kasar. Rasa lelah setelah balapan puluhan lap mendadak hilang total, digantikan oleh letupan gairah yang jauh lebih beringas daripada deru mesin mobil F1-nya. Pikirannya benar-benar kacau. Di sudut terjauh otaknya, bayangan tentang kekasih rahasianya di Jakarta, cewek yang awalnya dia perjuangkan sampai harus mengamuk menolak pertunangan ini mendadak terlihat kabur, blur, dan tidak berarti lagi. Jungwon tidak peduli lagi apakah cewek itu sedang menunggu kabarnya atau menangis. Yang ada di depan matanya sekarang hanyalah kamu, tunangan polosnya yang kelewat pasrah, yang malam ini terlihat seribu kali lebih menggoda.
Jungwon berjalan mendekati ranjang dengan langkah lambat yang sarat akan dominasi. Setiap ketukan langkahnya terasa intim di dalam kamar yang sunyi. Dia naik ke atas kasur, membuat permukaan kasur di dekatmu sedikit ambles. Kamu baru mendongak saat bayangan tubuh besar Jungwon mengurung cahaya lampu kamar. โWon? Kamu mau pakai kaus ini sekarang? Biar aku ambilโโ
Grep.
Kalimatmu terputus saat tangan besar Jungwon yang hangat dan kapalan mencengkeram kedua pergelangan tanganmu, lalu menekannya pelan ke atas kasur di sisi kanan dan kiri tubuhmu. Jungwon merangkak di atasmu, memosisikan tubuh atletisnya tepat di sela-sela pahamu yang tertutup daster biru. Wajah gantengnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahmu, memancarkan aura beringas yang belum pernah kamu lihat sebelumnya.
โWon...?โ kamu berkedip pelan, menatapnya dengan mata bulat yang sangat polos. Kamu sama sekali tidak merasa terancam atau berniat kabur. Di otak polosmu, kamu cuma mengira Jungwon sedang ingin bercanda setelah menang balapan. โKamu kok nggak pakai baju? Nanti dingin lho. Terus... guling pembatasnya mana? Kok nggak dipasang?โ
Jungwon mendengus parau, sebuah seringai tipis yang sarat akan intensitas muncul di sudut bibir tipisnya. โGua udah bilang tadi sore di tukang es krim, (y/n). Malam ini, nggak ada guling pembatas. Dan gua nggak butuh baju kalau ada lo yang bisa bikin gua panas.โ
โEh? Aku kan bukan selimut, Won. Gimana cara bikin panasnya?โ tanyamu dengan nada kelewat polos yang terdengar tolol sekaligus menggemaskan di telinga Jungwon. Kamu bahkan mencoba menggerakkan tanganmu yang digenggamnya, berniat mengusap pipi Jungwon karena mengira dia sedang mengantuk.
โBego,โ bisik Jungwon parau, namun matanya menatapmu dengan kilatan gairah yang pekat. โLo beneran nggak tahu atau sengaja mau bikin gua gila, hm?โ
Jungwon melepaskan cengkeraman tangannya di pergelanganmu, bergerak cepat menyelipkan jemarinya ke tengkukmu, lalu menarik wajahmu mendekat. Tanpa aba-aba, dia menubrukkan bibirnya ke atas bibir tipismu.
Cup.
Itu bukan kecupan lembut. Jungwon melumat bibir bawahmu dengan sedikit tekanan beringas, menghisapnya dalam-dalam seolah sedang meminum nektar yang paling manis. Kamu tersentak, matamu membelalak kaget karena ini adalah ciuman bibir pertama kalian. Sensasi basah, hangat, dan dominan dari bibir Jungwon membuat dadamu mendadak berdesir aneh. Rasa geli yang manis menjalar dari lidahmu langsung turun ke perut bagian bawah.
Karena kamu kelewat polos dan tidak tahu cara membalas ciuman, kamu hanya diam, membiarkan bibirmu sedikit terbuka karena terkejut. Celah itu langsung dimanfaatkan Jungwon. Lidahnya yang hangat menyelinap masuk, mengabsen deretan gigimu dan membelai lidahmu dengan ritme yang menuntut.
โNngghh... Won...โ desahmu pelan di sela-sela ciuman saat napasmu mulai habis. Tangan kecilmu refleks meremas pundak telanjang Jungwon, mencari pegangan karena kepalamu mendadak terasa pusing oleh kenikmatan yang asing.
Jungwon melepaskan tautan bibir mereka, menyisakan benang saliva tipis yang langsung diusapnya dengan ibu jari. Napas cowok itu memburu, menerpa permukaan wajahmu yang sudah merona merah.
โMalam ini, turuti semua yang gua mau. Jangan protes, jangan nanya hal bego,โ perintah Jungwon dengan suara bariton yang serak.
Tangan besar Jungwon mulai beraksi. Dia tidak menahan diri lagi seperti semalam. Telapak tangannya yang hangat perlahan turun dari leher, menyusuri tulang selangkamu, lalu menyelinap masuk ke balik potongan v-neck daster birumu yang rendah. Kulit telanjang payudaramu yang halus langsung bersentuhan dengan telapak tangannya yang kasar.
Grep.
Jungwon meremas gundukan montokmu dengan cengkeraman yang mantap namun penuh perhitungan agar tidak menyakitimu. โAh!โ kamu memekik pelan, tubuhmu sedikit melengkung ke atas karena kaget. Sensasi cengkeraman itu terasa begitu intens dan menyengat saraf sensitifmu.
โWon... k-kok di situ diperas? Agak geli...โ lirikmu dengan mata berkaca-kaca, menatap Jungwon meminta penjelasan dengan wajah polosmu yang tanpa dosa. Kamu benar-benar tidak paham kalau ini adalah bagian dari foreplay yang sengaja dia lakukan untuk menaklukkanmu. Jungwon hampir saja mengumpat karena gemes melihat reaksimu. Dia malah memperdalam remasannya, menggunakan ibu jarinya untuk menggesek puncak dadamu yang mulai mengeras di balik kain tipis itu. โGua nggak meras, (y/n). Gua lagi nandain apa yang bakal jadi milik gua seutuhnya. Ini namanya penyatuan, dan lo harus terbiasa karena gua bakal sering ngelakuin ini ke lo nantinya.โ
Jungwon merundukkan kepalanya lagi, mengabaikan pertanyaan polosmu. Mulutnya beralih ke leher jenjangmu, memberikan sesapan-sesapan brutal yang meninggalkan tanda merah keunguan yang baru, menumpuk di atas tanda semalam. Dia menjilati kulit lehermu, bergerak turun ke arah dada bagian atas, menghirup aroma tubuhmu yang memabukkan.
Tangan satunya tidak tinggal diam, dia menyingkap daster birumu ke atas, meraba paha mulusmu, lalu perlahan bergerak naik menuju area intimmu yang mulai terasa lembap karena gairah alami tubuhmu yang terpicu oleh sentuhan beringas sang pembalap. Jungwon benar-benar bertekad untuk membuatmu tidak bisa melupakan namanya malam ini, meruntuhkan seluruh kepolosanmu di bawah kuasa mutlaknya di atas kasur tanpa guling pembatas itu.
to be continued






Please jgn ampe ntr ada drama si hee balik atau cewek rahasia uwon muncul yeh, dah cocok nih๐
Katanya engga mau aelah dasar cowo