JANGAN LUPA LIKE
Rasa dingin angin malam yang menusuk kulit perlahan pudar begitu Jake membuka pintu besi apartemen tuanya di lantai empat. Suara decitan pintu tua berkarat bergema pelan di koridor yang sepi, disusul bau khas kertas tua, aroma seduhan teh herbal yang sudah dingin, dan sedikit bau logam yang aneh—bau yang belakangan ini kamu sadari selalu mengikuti ke mana pun Jake pergi.
“Sori ya, tempatnya rada acak-acakan,” gumam Jake sambil meraba dinding, mencari sakelar lampu.
Klek.
Lampu pendar kuning yang agak redup menyala, menerangi ruang tamu kecil yang serba terbatas. Di sana cuma ada sofa kain berwarna cokelat kusam yang busanya sudah agak kempes, meja kayu penuh tumpukan jurnal biologi, buku kalkulus tebal, dan beberapa lembar kertas sketsa yang penuh dengan rumus-rumus kimia yang rumit. Di sudut ruangan, ada papan tulis putih kecil yang dipenuhi coretan garis waktu dan struktur DNA.
“Masuk aja, (Y/N). Duduk dulu,” kata Jake. Dia melepaskan penutup wajah kainnya dan melemparkannya ke atas meja, lalu mengusap wajahnya yang kelihatan sangat lelah. Rambut cokelatnya yang agak berantakan kena angin malam jatuh menutupi dahinya.
Kamu melangkah masuk pelan-pelan, menatap sekeliling ruangan dengan rasa ingin tahu yang besar. Tempat ini terasa seperti laboratorium rahasia seorang ilmuwan muda yang frustrasi. “Lo... tinggal di sini sendirian semenjak tante lo meninggal?”
Jake mengangguk pelan. Dia berjalan ke dapur kecilnya, mengambil dua gelas air putih, lalu meletakkannya di meja depan sofa. “Iya. Tante gue meninggal dua tahun lalu. Sejak saat itu, tempat ini jadi satu-satunya hal yang ditinggalin keluarga gue. Gue kerja paruh waktu buat bayar listrik dan air, sisanya ngandelin beasiswa.”
Jake memosisikan dirinya duduk di ujung sofa, sedikit memberi jarak karena dia sepertinya masih agak canggung. Dia menatap jemarinya sendiri yang bertaut erat.
“Jadi...” kamu memulai percakapan sambil duduk di sofa yang sama, menatap Jake lurus-lurus. “Gimana cerita lengkapnya, Jake? Maksud gue... gimana bisa lo dapat kekuatan kayak gitu cuma gara-gara gigitan serangga?”
Jake menghela napas panjang. Dia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, menatap langit-langit kamar yang catnya sudah mengelupas.
“Jujur, kalau gue cerita ke dosen Biologi kita, dia pasti bakal ngira gue gila atau halusinasi,” Jake memulai ceritanya dengan nada suara rendah. “Tiga bulan lalu, pas acara kunjungan kampus ke laboratorium bioteknologi itu... lo ingat kan kita diajak muter-muter ke divisi rekayasa genetika?”
Kamu mengangguk cepat. “Ingat banget. Yang gedungnya penuh tabung-tabung kaca besar itu, kan?”
“Iya, tepat di sana,” lanjut Jake. “Pas rombongan kita lagi fokus dengerin penjelasan pemandu di depan, gue berdiri paling belakang. Ada satu spesimen laba-laba di dalam tabung isolasi yang menarik perhatian gue. Di labelnya cuma tertulis kode seri eksperimen A-09, nggak ada nama ilmiahnya. Tapi tabung kacanya ternyata ada retakan rambut yang halus banget. Gue nggak sadar kalau laba-laba itu keluar.”
Jake menarik kera hoodie hitamnya ke bawah, memperlihatkan leher belakang dekat bahunya. Di sana ada bekas luka kecil berbentuk dua titik berwarna agak kebiruan yang sudah memudar.
“Laba-laba itu jatuh ke leher gue dan gigit gue,” kata Jake. “Rasanya bukan kayak digigit serangga biasa, (Y/N). Rasanya kayak ada cairan logam panas yang disuntikkan langsung ke pembuluh darah gue. Hari itu gue berusaha tahan karena nggak mau bikin heboh rombongan. Tapi begitu sampai rumah... tubuh gue mendadak shok berat.”
Kamu memajukan badan, mendengarkan setiap kata Jake dengan penuh konsentrasi. “Demam tinggi?”
“Bukan cuma demam,” sahut Jake, matanya menerawang mengingat masa-masa mengerikan itu. “Gue ketindihan demam hampir 40 derajat Celsius selama dua hari penuh. Gue pingsan di kasur ini, sendirian. Nggak ada yang tahu, nggak ada yang nengok. Di dalam mimpi gue saat pingsan itu, rasanya setiap sel di tubuh gue lagi dipaksa runtuh terus disusun ulang dari nol.”
Jake mengangkat tangan kanannya ke udara, mengepalkan jemarinya pelan. “Pas gue bangun di hari ketiga... semuanya berubah total. Gue bingung setengah mati. Penglihatan gue yang biasanya minus parah mendadak jernih banget sampai gue bisa lihat serat-serat kain di gorden kamar gue dari jarak lima meter. Dan pas gue mau ngambil gelas minum di meja...”
Jake terkekeh sumbang, menyunggingkan senyum tipis yang penuh ironi. “...gelasnya nempel di telapak tangan gue. Gue kibas-kibasin tangan gue, gelasnya tetap nggak mau lepas sampai akhirnya gue harus narik pakai tenaga ekstra dan gelasnya pecah karena genggaman gue kelewatan kuat.”
“Demi apa?” matamu membelalak kagum sekaligus prihatin. “Lo... bisa nempel di benda apa aja?”
“Bukan cuma benda,” jawab Jake. Dia lalu berdiri dari sofa. Tanpa memakai alas kaki, dia melangkah ke arah dinding beton di sebelah meja makan.
Sebelum kamu sempat bertanya apa yang mau dia lakukan, Jake menempelkan telapak tangannya ke dinding, lalu dengan gerakan semulus air, dia mengangkat kedua kakinya dari lantai. Tubuh Jake secara melawan hukum gravitasi berjalan menaiki dinding beton itu sampai dia berdiri terbalik di langit-langit kamar, menatapmu dari atas.
Kamu menahan napas, menutupi mulutmu sendiri dengan kedua tangan. Kelihatan sangat gila dan tidak masuk akal, tapi ini terjadi nyata di depan matamu sendiri.
“Lihat?” Jake menatapmu dari langit-langit. “Setiap mikroskopis kulit di telapak tangan dan kaki gue mendadak punya gaya tarik antar-molekul super kuat. Gue bisa menempel di permukaan licin sekalipun, mau itu kaca, beton, atau besi.”
Jake lalu menjatuhkan dirinya pelan dari langit-langit, mendarat di atas lantai tanpa menimbulkan suara sedikit pun persis seperti seekor kucing yang mendarat santai.
“Gila...” gumammu lirih. “Jake, itu... keren banget tapi sekaligus seram buat gue.”
“Seram. Kata itu yang paling pas,” kata Jake sambil kembali duduk di sofa. “Tiga minggu pertama bagaikan neraka buat gue. Gue nggak bisa ngontrol tenaga gue. Gue sering motekin gagang pintu pas mau buka kamar mandi, pensil di tangan gue selalu patah pas lagi nulis materi kuliah, dan setiap kali ada mobil lewat di jalan raya depan apartemen, telinga gue mendadak sakit karena pendengaran gue jadi kelewat peka.”
Jake menyentuh bagian samping kepalanya. “Dan ada satu hal lagi. Indra keenam.”
“Indra keenam?”
“Gue sebutnya Spidey-Sense atau semacam peringatan bahaya alami,” pamer Jake tipis. “Di bagian belakang kepala gue, ada semacam denyutan saraf yang bakal bergetar hebat setiap kali ada bahaya yang mendekat ke arah gue. Kayak pas di gang tadi... bahkan sebelum perampok itu sadar gue ada di atas mereka, kepala gue udah ngasih sinyal duluan kalau lo lagi dalam bahaya.”
Kamu terpaku. Semakin banyak fakta yang dibeberkan Jake, semakin kamu sadar betapa beratnya beban yang ditanggung cowok seumuranmu ini. Di saat mahasiswa lain sibuk mikirin IPK, tugas kelompok, atau tempat nongkrong pas akhir pekan, Jake malah harus berjuang memahami tubuhnya yang bermutasi jadi anomali.
“Terus... soal jaring yang lo pakai buat narik gue terbang tadi?” tanyamu makin penasaran. “Itu buatan mesin atau...”
Jake menunjukkan pergelangan tangan bagian dalammya. Di sana terlihat ada pori-pori kelenjar kecil yang sangat halus dekat urat nadinya.
“Gue sempat mikir buat bikin alat mekanis, tapi ternyata tubuh gue memproduksi cairan serat organik ini secara alami dari kelenjar di pergelangan tangan,” jelas Jake, berusaha menjelaskan dengan istilah paling sederhana tanpa bahasa medis yang ribet. “Cairan ini bakal mengeras begitu kena udara luar, membentuk serat jaring yang elastis tapi kekuatannya melebihi baja. Tapi masalahnya ada di sini...”
Wajah Jake mendadak berubah agak serius dan tegang. Dia menatapmu lurus-lurus.
“Setiap kali gue memproduksi jaring dalam jumlah banyak... kayak malam ini pas gue narik tiga perampok itu terus bawa lo terbang melintasi beberapa gedung, sistem metabolisme gue bisa mendadak drop parah. Jantung gue berdetak kelewat cepat, dan protein dalam darah gue rasanya terkuras habis. Gue sering hampir pingsan gara-gara kelelahan yang ekstrem. Untungnya waktu nyekametin lo tadi badan gue gapapa.”
Kamu menatap wajah Jake yang memang kelihatan sedikit pucat di bawah sorotan lampu redup. “Makanya lo butuh balik ke laboratorium bioteknologi itu?”
“Yup,” jawab Jake mantap. “Gue butuh data asli spesies laba-laba A-09 itu. Gue harus tahu struktur racunnya, berapa lama mutasi ini bakal berlangsung di tubuh gue, dan apa ada efek samping jangka panjang yang bisa membunuh gue secara perlahan. Gue butuh penawarnya atau setidaknya cara buat menyeimbangkan metabolisme gue.”
Jake menunduk, meremas rambutnya sendiri. “Tapi gue takut setengah mati, (Y/N). Gue cuma orang biasa. Kalau gue nekat masuk terus tertangkap sama sistem keamanan atau peneliti di sana... mereka nggak bakal ragu buat jadiin gue kelinci percobaan di dalam tabung kaca.”
Atmosfer ruangan hening sejenak. Suara gemericik hujan di luar gedung semakin terdengar jelas, menciptakan suasana yang intim dan dalam di antara kalian berdua.
Kamu menatap Jake, cowok yang selama ini dianggap paling tidak berdaya di kampus, tapi malam ini ternyata menyimpan rahasia paling raksasa dan berani mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan orang lain. Ada rasa simpati dan kagum yang membuncah di dalam dadamu.
Kamu lalu menjangkau tangan Jake, menggenggam jemarinya yang hangat dan sedikit gemetar. Jake kaget, matanya mendongak menatapmu.
“Jake, dengerin gue,” katamu dengan suara tenang namun penuh penekanan. “Lo nggak bakal tertangkap. Karena lo enggak bakal masuk ke sana sendirian.”
Jake menatapmu ragu. “Tapi (Y/N)... ini berbahaya banget buat lo. Kalau sampai ketahuan—”
“Ssst,” potongmu cepat sambil mengibaskan tangan. “Lo lupa kakak sepupu gue kerja di sana? Namanya Mas Heeseung. Dia itu staf senior bagian manajemen arsip data dan sistem informasi laboratorium itu. Setiap Jumat malam sampai akhir pekan, dia selalu pegang akses remote buat kontrol server pusat dari rumahnya.”
Mata Jake mulai membelalak. “Akses remote?”
“Iya!” jawabmu bersemangat. “Gue sering main ke rumahnya dan gue tahu betul gimana Mas Heeseung kerja. Dia punya flashdisk enkripsi khusus yang bisa menembus proteksi folder data eksperimen biologi tanpa memicu alarm fisik di gedung lab. Yang perlu kita lakuin bukan bobol gedung laboratoriumnya secara fisik malam-malam!”
“Terus?” tanya Jake, napasnya mulai tertahan.
“Kita cukup menyusup ke ruang kerja Mas Heeseung atau ‘meminjam’ flashdisk aksesnya sebentar saat dia lagi lengah,” kamu menjelaskan rencanamu dengan cepat namun logis. “Dengan flashdisk itu, kita bisa masuk ke server cadangan laboratorium dari laptop lo di sini, mengunduh seluruh berkas penelitian spesies A-09, dan lo bisa pelajari datanya di sini dengan aman tanpa perlu takut dijadikan kelinci percobaan!”
Jake terpaku mendengarkan penjelasanmu. Pikiran analisisnya yang encer langsung memproses rencana itu. Rencana ini jauh lebih cerdas, jauh lebih minim risiko, dan tidak membutuhkan aksi penerobosan fisik yang bisa mengancam nyawanya.
“Lo... lo seriusan mau pinjam flashdisk sepupu lo demi membantu gue?” tanya Jake, suaranya terdengar agak serak karena tidak menyangka ada orang yang mau melakukan sejauh ini untuknya.
Kamu tersenyum manis, membalas genggaman tangannya. “Gue serius, Jake. Lo udah mempertaruhkan keselamatan lo buat nyelamatkan gue dari perampok tadi. Masa gue diam aja saat tahu kawan sekelas gue lagi butuh bantuan?”
Kamu lalu melepaskan genggaman tanganmu dan mengambil gelas air putih di meja, meminumnya sedikit sebelum kembali menatap Jake. “Lagian, jujur ya... gue kepo banget sama kemampuan lo ini. Gue mau melihat gimana cowok paling pendiam di kelas kita berubah jadi pahlawan super rahasia kota ini.”
Jake terkekeh pelan. Rasa canggung dan tegang yang menyelimutinya sejak awal malam perlahan-lahan menguap, digantikan oleh rasa lega yang luar biasa hangat. “Gue bukan pahlawan, (Y/N),” kata Jake pelan, menyunggingkan senyuman tulusnya yang sangat jarang diperlihatkan di kampus. “Gue cuma cowok aneh yang kebetulan digigit serangga dan mencoba buat nggak merusak hidup orang lain.”
“Bagi gue, lo tetap pahlawan,” balasmu mantap. “Jadi, gimana? Kapan kita mulai rencana penerobosan data digital kita?”
Jake menatapmu lurus-lurus, matanya yang biasa tertutup kacamata kini terpancar kilatan tekad yang baru. “Besok pagi,” kata Jake. “Kita susun rencananya malam ini sampai tuntas. Dan makasih banyak ya, (Y/N)... buat semuanya.”
Kamu mengangguk mantap, menyandarkan punggungmu ke sofa siap mendiskusikan detail rencana kalian, menyadari bahwa malam Jumat ini adalah awal dari petualangan rahasia terbesar dalam hidupmu bersama seorang Jake Sim.
Diskusi rencana penyusupan data digital itu berjalan kelewat seru sampai kalian berdua sama sekali tidak sadar waktu terus merayap naik. Papan tulis putih kecil milik Jake kini sudah dipenuhi coretan denah jaringan server, jadwal shift malam laboratorium, dan alur enkripsi flashdisk milik sepupumu.
Jake baru saja hendak menambahkan garis arah akses server saat matanya tidak sengaja melirik jam dinding tua berbentuk lingkaran yang terpajang di dekat dapur.
Jarum pendeknya sudah menunjuk tepat ke angka dua. Jam dua pagi.
“Astaga, (Y/N)...” Jake mendadak menghentikan goresan spidolnya di papan tulis. Dia menoleh ke arahmu dengan mata membelalak panik. “Gue keasyikan ngobrol sampai lupa lihat jam. Sekarang udah jam dua pagi!”
Kamu yang tadinya lagi menyandarkan dagu di atas meja sambil memperhatikan coretan Jake, langsung tersentak kaget. Kamu terperanjat duduk tegak dan buru-buru menyambar ponselmu yang tergeletak di atas sofa.
“Demi apa?!” pekikmu pelan sambil menyalakan layar ponsel. Layar berpenyulut cahaya terang itu menampilkan puluhan notifikasi, dan angka digital raksasa: 02.14 AM.
“Duh, mampus gue...” gumammu panik. Jemarimu bergerak cepat membuka aplikasi pesan singkat, menelusuri obrolan dengan ibumu. Kamu mengirim beberapa pesan cepat:
‘Mah, maaf banget (Y/N) kemalaman.’ ‘Mah? Belum tidur kan?’
Hening. Nggak ada tanda-tanda centang dua berubah biru. Bahkan status last seen ibumu menunjukkan beliau terakhir aktif jam sepuluh malam tadi.
“Gimana? Dibalas nggak?” tanya Jake. Suaranya terdengar makin panik dan bersalah. Dia mengusap leher belakangnya dengan canggung. “Aduh, sori banget ya, ini murni salah gue. Gue yang bikin lo tertahan di sini sampai selarut ini.”
“Bukan salah lo, Jake. Gue yang keasyikan ngebahas rencana ini,” jawabmu sambil helat napas panjang. Kamu mencoba menelepon ibumu sekali, tapi cuma nada dering panjang yang menyambut sampai panggilan terputus otomatis. “Enggak diangkat. Nyokap gue kalau tidur emang pelor banget. Rumah pasti udah dikunci rapat dari dalam, pagar juga dipasok gembok double. Biasanya kalau gue ada acara kampus sampai malam banget, gue izin menginap di rumah teman.”
Jake menggigit bibir bawahnya, otaknya berputar cepat mencari solusi.
“Bentar, gue pesenin taksi online aja ya?” Jake cepat-cepat mengambil ponselnya dari dalam saku hoodie. “Gue antar lo sampai depan pagar rumah lo, atau ke rumah teman lo yang lain. Yang penting lo sampai dengan selamat. Gue rasa—”
Tapi sebelum Jake sempat menekan tombol pemesanan di aplikasinya, jemarinya mendadak berhenti. Dia menatap layar ponselnya, lalu menatapmu yang duduk di sofa.
Jake teringat kejadian beberapa jam yang lalu di gang sempit itu. Kejadian saat tiga pria bersenjata tajam hampir saja melukaimu. Rasa takut yang sempat menghantam dadanya saat melihatmu tersudut tadi malam mendadak terbayang lagi di kepalanya.
Jam dua pagi. Gang-gang jalanan kota lagi sepi-sepinya. Gimana kalau di jalan malah ketemu perampok lain? Atau gimana kalau driver taksinya punya niat jahat? batin Jake cemas. Nuraninya yang protektif langsung menolak keras membiarkanmu keluar dari ruangan ini di jam segini.
Jake menurunkan ponselnya perlahan. Dia mematikan layar ponselnya dan memasukkannya kembali ke dalam saku.
“Kenapa, Jake? Enggak ada driver yang nyaut?” tanyamu polos.
“Bukan...” Jake menatap lantai sebentar, kelihatan sangat ragu dan canggung. Wajahnya kelihatan serba salah, meremas jemarinya sendiri sebelum akhirnya mendongak menatap matamu lurus-lurus.
“Gue... gue rasa bahaya banget kalau lo keluar jam segini, (Y/N),” kata Jake pelan, nada suaranya terdengar sangat hati-hati dan serius. “Jalanan di luar lagi sepi banget. Lo juga baru aja mengalami kejadian buruk tadi malam. Gue... gue nggak bakal tenang kalau biarin lo pulang atau jalan sendirian di jam dua pagi gini, mau itu pakai taksi sekalipun.”
Kamu terdiam, menatap wajah Jake yang jujur dan menyiratkan rasa khawatir yang sangat tulus.
“Terus... gue gimana?” tanyamu pelan.
Jake mengusap wajahnya yang mendadak terasa hangat, ada rona merah tipis yang muncul di pipinya karena merasa canggung luar biasa. Dia tidak pernah mengundang cewek mana pun ke tempat tinggalnya, apalagi meminta seorang cewek menginap.
“Kalau... kalau lo enggak keberatan...” Jake menghentikan kalimatnya sejenak, mengumpulkan keberanian. “...mending lo menginap di sini aja malam ini. Demi keamanan lo juga.”
Kamu agak terkejut mendengar tawaran itu, tapi hati kecilmu mengakui kalau Jake ada benarnya. Jalanan luar di jam dua pagi memang sangat rawan, dan bayangan pisau lipat perampok tadi malam masih sukses bikin bulu kudukmu berdiri.
“Tapi, Jake... tempat lo kan cuma ada satu kamar?” katamu ragu.
“Gue tidur di sofa luar!” jawab Jake cepat, seolah takut lo berpikiran yang enggak-enggak. Dia menunjuk sofa cokelat yang kalian duduki dari tadi. “Lo pakai kamar gue aja di dalam. Kasurnya bersih kok, sprei baru diganti minggu lalu. Pintu kamarnya juga ada kuncinya dari dalam, jadi lo bisa kunci rapat dari dalam supaya merasa aman.”
Jake melangkah ke arah lemari kecil di sudut ruangan, mengambil sebuah selimut tebal dan bantal cadangan.
“Gue serius, (Y/N). Gue nggak ada niat aneh-aneh,” lanjut Jake dengan nada suara teramat tulus dan sedikit gugup. “Gue cuma mau memastikan lo aman sampai pagi datang. Nanti jam enam pagi begitu hari mulai terang dan bus kota udah jalan, baru gue antar lo pulang. Gimana?”
Kamu memperhatikan tingkah Jake yang kelihatan sangat panik takut dianggap sopan santunnya kurang. Sikap protektif dan kesopanannya yang luar biasa malah bikin rasa aman tersendiri di dalam hatimu. Cowok ini punya kekuatan super yang bisa merobohkan gedung, tapi dia begitu takut bikin kamu merasa tidak nyaman.
Sebuah senyuman tipis dan hangat mengembang di wajahmu.
“Oke,” jawabmu lembut. “Gue nginep di sini malam ini. Makasih ya, Jake.”
Mendengar jawabanmu, Jake kelihatan menghela napas lega yang luar biasa panjang, seolah beban berat baru saja terangkat dari pundaknya.
“Leganya...” gumam Jake polos, bikin kamu terkekeh pelan.
Jake lalu berjalan ke arah pintu kamarnya dan membukanya lebar-lebar. “Masuk aja. Di dalam ada kamar mandi kecil kalau lo mau cuci muka atau cuci tangan. Kalau butuh baju kaos longgar buat tidur, ada di lemari, ambil aja yang warna hitam.”
“Sip. Lo sendiri gimana? Sofa ini cukup buat badan lo yang tinggi itu?” tanyamu sambil berdiri, menunjuk sofa yang ukurannya agak terbatas buat postur atletis Jake.
Jake tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya santai. “Tenang aja. Tiga bulan terakhir gue udah biasa tidur di tempat-tempat aneh gara-gara metabolisme laba-laba ini. Tidur di sofa mah udah kayak di hotel bintang lima buat gue.”
Kamu tertawa pelan mendengarnya. “Bisa aja lo. Ya udah, gue masuk dulu ya, Jake. Nanti kalau ada apa-apa atau lo butuh sesuatu, panggil aja.”
“Sip. Good night, (Y/N). Tidur yang nyenyak, lo udah aman di sini,” kata Jake lembut.
“ Good night, Jake,” balasmu.
Kamu melangkah masuk ke dalam kamar tidur Jake yang sederhana namun rapi, lalu menutup pintunya pelan. Suara selot kunci besi yang berputar mengudara, memberikan privasi penuh buatmu.
Di luar ruangan, Jake menghela napas panjang sambil merebahkan tubuh tingginya di atas sofa cokelat. Dia menumpangkan satu tangannya di atas dahi, menatap langit-langit apartemennya yang remang-remang.
Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir yang penuh ketakutan dan kesendirian, malam ini Jake Sim tidak merasa terisolasi dari dunia lagi. Di balik pintu kamarnya, ada seseorang yang mempercayainya, memahaminya, dan siap berjuang bersamanya.
Dengan senyuman tipis yang terukir di bibirnya, Jake perlahan memejamkan mata, membiarkan rasa lelah membawanya masuk ke dalam tidur yang lelap diiringi suara ketukan gerimis pagi yang menenangkan.
tbc
tipis tipis, pahlawane tampil





OMAKKK SIPERJAKE 😆💕
Ngeliat foto terakhir jd teringat perut jake yg ga sengaja kesingkap bajunya☺️