Setelah ciuman menuntut itu. Di bawah tatapan lapar Riki, ketakutanmu berubah menjadi nekat. Kamu tidak bisa membiarkan ini terjadi di ranjang yang baru beberapa jam lalu menjadi saksi kelembutan Heeseung.
"Enggak, Riki! Keluar!" teriakmu, suaranya bergetar hebat. Kamu mencoba mendorong dada bidangnya dengan seluruh tenagamu, kukumu bahkan sedikit mencakar kulitnya.
Riki tersentak kecil, namun bukannya mundur, matanya justru menggelap total. Sebuah seringai tipis, hampir tak terlihat namun sangat mengerikan, muncul di wajah tampannya.
"Berani ngelawan aku sekarang, hm?" gumam Riki, suaranya rendah dan berbahaya. "Dulu kamu nggak pernah sekalipun nolak aku di kosan, Y/N. Kenapa sekarang? Karena udah ngerasain sentuhan Daddy?"
Cengkeraman Riki di pergelangan tanganmu mengencang, mengunci kedua tanganmu di atas kepala dengan satu tangan besarnya. Tenaganya jauh lebih besar dari Heeseung; ini adalah tenaga kemarahan masa muda yang meledak-ledak.
Dengan tangan satunya, Riki menyambar kerah daster sutramu. Tanpa peringatan, terdengar suara krek yang tajam. Kain sutra tipis itu robek dari leher hingga ke pinggang dalam satu sentakan kasar.
Kamu tersentak, separuh tubuhmu terekspos di bawah lampu kamar yang temaram. Riki menatapmu, napasnya memburu. Kamu hanya mengenakan setelan celana dalam dan bra renda putih yang manisโpilihan Heeseung yang katanya membuatmu terlihat sangat suci.
Namun, pandangan Riki tidak tertuju pada rendanya. Matanya tertancap pada bercak-bercak kemerahan yang menghiasi tulang selangkamu, dadamu, hingga perutmu. Jejak-jejak kepemilikan Heeseung dari subuh tadi.
"Sialan," desis Riki, giginya bergelatuk menahan amarah yang memuncak. "Dia benar-benar tandain kamu sebadan-badan."
Riki menundukkan kepalanya, napas panasnya menerpa kulitmu yang merinding. "Ini... bikin aku muak."
Dia mulai menciumi tanda kemerahan di tulang selangkamu. Bukan ciuman lembut, melainkan hisapan kuat dan gigitan kecil yang disengaja untuk menimbulkan rasa sakit. Riki ingin menghapus jejak Heeseung, menimpanya dengan tandanya sendiri.
"Ahh! Riki, sakit!" kamu mengerang, mencoba meronta, namun tubuh Riki menguncimu rapat.
"Biarin sakit. Biar kamu ingat kalau tanda di badan kamu itu punyaku, bukan punya pria tua itu," Riki mendongak, menatap matamu yang berkaca-kaca. "Malam ini, aku nggak bakal kasih kamu istirahat. Aku bakal ganti semua tanda ini, inci demi inci, sampai nggak ada lagi jejak Daddy di badan kamu."
Riki melepaskan cengkeraman tangannya, namun hanya untuk merobek paksa celana dalam rendamu. Dia memposisikan dirinya di antaramu, tatapannya penuh kemenangan sekaligus kepemilikan yang gelap.
"Tadi subuh kamu main lembut sama Daddy," Riki menyeringai, mendekatkan wajahnya ke telingamu. "Sekarang, rasain gimana pacar kamu yang sebenarnya menagih haknya. Welcome back to reality, Sayang."
Tanpa persiapan, Riki menghujam masuk dengan kasar, merebut kembali apa yang dia anggap sebagai miliknya dengan penuh gairah yang menghancurkan, membiarkanmu tenggelam dalam dosa yang kamu tahu tidak akan pernah bisa kamu hapus.
Kamar itu kini hanya dipenuhi suara napas yang memburu dan gesekan kulit yang intens. Kamu mencengkeram lengan Riki dengan sangat kuat, kuku-kukumu menancap hingga meninggalkan bekas kemerahan yang kontras di kulitnya yang putih. Kebrutalannya benar-benar dejavu, persis seperti malam terakhir di kosan sebelum hidupmu berubah total.
Ironisnya, meski akal sehatmu menjeritkan nama Heeseung dan rasa bersalah, tubuhmu justru mengkhianatimu. Ada bagian dari dirimu yang merindukan dominasi liar Riki yang meledak-ledak ini. Dorongan tanganmu pada bahunya perlahan melemah, berubah menjadi remasan yang seolah meminta lebih.
Riki menyadarinya. Dia menyeringai di sela-sela pergulatan kalian, wajahnya mendekat ke telingamu. "Tanganmu bilang enggak, tapi badanmu jujur banget, Sayang. Kamu masih haus sama aku, kan?"
Tepat saat suasana semakin memuncak, cahaya terang dari layar ponsel di atas nakas memecah kegelapan.
"Husband โค๏ธ calling..."
Jantungmu seolah merosot ke perut. Kamu membeku, namun Riki justru tertawa rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat iblis. Dia menyambar ponsel itu, melihat layarnya, lalu menyodorkannya tepat di depan wajahmu tanpa berhenti bergerak di dalam tubuhmu.
"Angkat," perintah Riki, suaranya dingin dan penuh tantangan. "Kasihan Daddy mau denger suara istrinya."
"R-riki... jangan... ahh!" kamu memohon, tapi Riki malah semakin memperdalam gerakannya, memaksamu untuk menekan tombol hijau.
Kamu terpaksa menempelkan ponsel itu ke telinga. Kamu berusaha mati-matian menstabilkan napas, menggigit bibir bawahmu sampai hampir berdarah agar tidak ada desahan yang lolos.
"Halo... Mas?" suaramu gemetar, sangat tipis.
"Sayang? Kok suaranya begitu? Aku ganggu tidur kamu ya?" Suara Heeseung di seberang sana terdengar sangat lembut dan penuh kekhawatiran, sangat kontras dengan situasi yang sedang kamu alami.
Riki menatap matamu dalam-dalam, dia sengaja mempercepat ritmenya tepat saat Heeseung bicara. Kamu memejamkan mata rapat-rapat, air mata mulai menetes karena tekanan fisik dan mental yang luar biasa.
"Enggak... Mas. Aku cuma... kecapekan banget. Badanku agak lemes," jawabmu sambil meremas sprei dengan tangan yang bebas.
"Ya ampun, maaf ya, Sayang... Pasti karena aku tadi pagi terlalu semangat ya? Aku jadi merasa bersalah bikin kamu nggak enak badan begini," Heeseung menghela napas menyesal. "Ya sudah, kamu istirahat yang cukup ya. Minum air yang banyak. Maaf ya sudah bangunin kamu malam-malam begini. I love you, Sayang."
"I-iya, Mas... I love you too," bisikmu sebelum buru-buru mematikan sambungan telepon.
Begitu layar ponsel kembali gelap, Riki merampas benda itu dan melemparnya sembarang ke lantai. Wajahnya kini tidak lagi mengandung candaan, hanya ada kegelapan yang murni.
"Minta maaf karena tadi pagi terlalu semangat?" Riki mendesis, suaranya penuh kebencian. "Biar aku tunjukin apa arti 'semangat' yang sebenarnya sampai kamu lupa gimana cara nyebut nama dia."
Tanpa ampun, Riki menghujammu dengan kebrutalan yang berkali-kali lipat lebih hebat dari sebelumnya. Dia tidak lagi peduli dengan rintihanmudia hanya ingin menghancurkan sisa-sisa ingatanmu tentang Heeseung malam ini, memastikan bahwa dalam tidurmu nanti, hanya rasa sakit dan nikmat darinya yang tertinggal di ingatanmu.
Malam itu berubah menjadi horor yang memabukkan. Riki benar-benar tidak memberikanmu ruang untuk bernapas, apalagi untuk mengingat statusmu sebagai istri ayahnya. Setiap kali kamu mencoba menahan suara, Riki akan mencengkeram rahangmu atau, menggigit bahumu, memaksamu untuk mengakui eksistensinya.
"Sebut nama aku, Y/N! Bukan nama pria tua itu!" geram Riki di sela napasnya yang memburu.
"R-riki... ahh, stop... Riki!" rintihmu pecah. Air mata mengalir membasahi bantal seiring dengan setiap hantaman yang terasa hingga ke rahim. Tubuhmu gemetar hebat, berada di ambang batas antara trauma fisik dan lonjakan endorfin yang mengerikan karena kamu merindukan ritme iniโritme yang hanya dimiliki Riki.
Riki membolak-balik tubuhmu tanpa ampun. Dia memperlakukanmu seolah kamu adalah miliknya yang baru saja ditemukan kembali setelah dicuri. Hingga pada puncaknya, dia memaksamu untuk menungging rendah di atas ranjang yang sudah berantakan.
Riki menarik kedua tanganmu ke belakang, menguncinya dengan satu genggaman tangannya yang kuat, memaksa punggungmu melengkung sempurna. Posisi ini membuat dadamu menggantung dan bergoyang ritmis mengikuti setiap sodokan pinggulnya yang semakin brutal.
"Lihat badan kamu... penuh sama tanda aku sekarang," bisik Riki, suaranya parau penuh kemenangan. Tangan satunya meremas payudaramu dengan kasar, meninggalkan bekas kemerahan baru di atas kulitmu yang sudah sensitif.
Kamu sudah mencapai puncak berkali-kali sampai tubuhmu terasa mati rasa, namun Riki tidak membiarkanmu jatuh. Dia terus memacu ritmenya, menyodok jauh ke dalam seolah ingin menanamkan eksistensinya sedalam mungkin agar kamu tidak bisa melupakannya. Punggungmu terasa pegal luar biasa karena dipaksa melengkung, namun sensasi panas di titik penyatuan kalian membuatmu hanya bisa mendongak dengan mata terpejam, mengerang pasrah pada dosa yang kalian buat.
Kamu terbangun saat cahaya matahari mulai mengintip dari celah gorden. Tubuhmu terasa seperti habis dihantam truk, setiap sendi terasa kaku, dan area intimmu terasa panas dan berdenyut. Saat kamu mencoba duduk, rasa perih di punggung dan pergelangan tanganmuโbekas kuncian Rikiโmembuatmu meringis.
Kamu menyingkap selimut dan hampir menangis melihat pantulan dirimu di cermin besar kamar mandi. Tanda kemerahan yang dibuat Heeseung kemarin subuh kini tertutup sepenuhnya oleh memar keunguan dan bekas gigitan yang jauh lebih gelap dan kasar milik Riki.
Tiba-tiba, pintu kamar mandi terbuka. Riki berdiri di sana, hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya, rambutnya basah, tampak sangat segar dan tanpa rasa bersalah.
"Pagi, Mama," sapanya dengan nada sarkas yang kental. Dia berjalan mendekat, berdiri di belakangmu dan menatap pantulan tubuhmu di cermin. "Bagus kan hasilnya? Jejak Daddy sudah hilang semua."
"Kamu gila, Riki... Kalau Heeseung pulang dan lihat ini, dia bakal bunuh kita berdua," bisikmu gemetar.
Riki tertawa, lalu memelukmu dari belakang, tangannya dengan berani merayap ke perutmu. "Dia nggak bakal lihat kalau kamu pintar nutupinnya. Lagian, dia masih seminggu lagi kan?"
Riki mengecup bahumu yang penuh bekas gigitannya. "Tapi ingat satu hal, Sayang. Mulai hari ini sampai dia pulang, jangan pernah pakai baju yang terlalu terbuka di depan aku. Karena setiap kali aku lihat kulit kamu yang kosong, aku bakal isi lagi pakai tandaku. Paham?"
Kamu hanya bisa terdiam membeku. Kamu terjebak di rumah ini bersama seorang predator yang memegang rahasiamu, sementara suamimu yang tulus berada jauh di sana, sama sekali tidak tahu bahwa singa yang dia percayai untuk menjagamu adalah orang yang baru saja menghancurkan kesetiaanmu.
Beberapa Jam kemudian.
Kamu berusaha melangkah secepat mungkin menuju pintu keluar, berharap bisa menghirup udara segar dan melarikan diri sejenak dari atmosfer menyesakkan di dalam rumah ini. Kamu mengenakan turtleneck hitam dan long outer yang menutupi hingga ke dagu, sangat kontras dengan gaya berpakaianmu biasanya yang lebih santai dan modis. Kamu harus menyembunyikan "karya" Riki yang mengerikan itu dari dunia luar.
Namun, baru saja tanganmu menyentuh gagang pintu, suara kunci diputar terdengar. Riki sudah berdiri di sana, bersandar pada pintu masuk dengan kunci mobil Heeseung di jemarinya.
"Mau ke mana buru-buru gitu?" Riki memperhatikan penampilanmu dari atas sampai bawah, sebuah senyum miring tersungging di wajahnya. "Rapet banget ya bajunya hari ini. Padahal cuaca lagi panas."
"Aku ada kelas pagi, Riki. Minggir," ucapmu dingin, berusaha tetap tenang meski kakimu masih terasa lemas.
"Naik apa? Taksi? Nggak boleh," Riki melangkah maju, menghalangi jalanmu sepenuhnya. "Aku yang anter."
"Enggak usah, aku bisa sendiri!"
Tepat saat kamu ingin mendorong bahu Riki, ponsel di tasmu bergetar. Layarnya menyala: "Husband โค๏ธ". Kamu mendesah frustrasi, tapi tetap mengangkatnya.
"Halo, Mas?"
"Sayang, kamu sudah mau berangkat kampus?" Suara Heeseung terdengar sangat ceria di seberang sana. "Tadi Riki chat aku, katanya dia lagi santai dan mau anter kamu. Aku langsung bilang iya. Jadi kamu jangan repot-repot pesan taksi ya? Riki sudah janji sama aku bakal jagain kamu dan mastiin kamu sampai kampus dengan aman."
Kamu melirik Riki. Cowok itu menaikkan satu alisnya dengan ekspresi penuh kemenangan yang sangat menyebalkan.
"Tapi Mas, akuโ"
"Sudahlah, Sayang. Manfaatin anak tiri kamu itu buat jadi supir pribadi sementara," Heeseung terkekeh. "Aku merasa lebih tenang kalau tahu kamu sama Riki. Ya sudah, hati-hati di jalan ya. Love you."
Sambungan terputus. Riki mendekat, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari telingamu. Aroma parfumnya yang maskulin langsung memicu memori traumatis sekaligus nikmat dari semalam.
"Denger kan? Daddy yang suruh," bisik Riki, suaranya rendah dan mengancam. "Ayo berangkat, Mama. Nanti telat loh."
Di dalam mobil, suasana sangat mencekam. Riki menyetir dengan satu tangan, sementara tangan satunya lagi diletakkan di atas tuas transmisiโtepat di samping paha kamu.
"Kenapa diem aja? Takut aku apa-apain di mobil?" Riki memecah keheningan. "Tenang aja, aku nggak bakal bikin kamu telat kelas... kecuali kalau kamu yang minta."
"Riki, cukup. Kamu udah dapetin apa yang kamu mau semalam. Tolong biarin aku tenang hari ini," kamu menatap ke luar jendela, berusaha keras menahan air mata yang akan jatuh.
Tiba-tiba, tangan Riki yang tadinya di tuas transmisi berpindah. Dia merayap masuk ke celah outer-mu, menyentuh kulit lehermu yang tertutup turtleneck. Kamu tersentak dan mencoba menepisnya, tapi Riki malah semakin menekan jemarinya di sana.
"Tadi pagi pas Daddy telpon, kamu bilang sayang banget sama dia. Padahal di bawahku kamu desah nama aku sampai nangis," Riki menoleh sekilas, matanya berkilat cemburu dan obsesif. "Jangan pernah acting jadi istri penurut di depan aku, Y/N. Itu bikin aku makin pengen ngerusak kamu."
Riki kemudian meremas paha dalammu dengan kuat, membuatmu memekik pelan. "Aku bakal jemput jam 2 di tempat biasanya aku jemput kamu. Kalau kamu telat satu menit atau aku lihat kamu jalan sama cowok lainโsiapa itu, temen jurusan kamu si Eric?โaku nggak bakal segan-segan kirim foto memar di leher kamu ini ke WhatsApp Daddy sekarang juga."
Kamu membeku. Kamu tahu Riki tidak main-main. Dia benar-benar sedang membangun penjara tanpa jeruji untukmu, dan kunci penjara itu ada di tangan ayahnya sendiri yang sangat mencintaimu.
Mobil mewah itu melaju tenang, namun suasana di dalamnya sangat panas. Riki sengaja tidak melepaskan tangannya dari paha dalammu, bahkan jemarinya mulai merayap naik, bermain di balik rok pendek yang kamu tutupi dengan long outer.
"Riki, berhenti... ini di jalan," bisikmu sambil berusaha menepis tangannya.
"Kenapa? Takut kecelakaan? Tenang, aku udah biasa main sambil nyetir," jawab Riki santai.
Tiba-tiba, layar dashboard mobil menyala terang. Suara nada dering khas FaceTime menggema di seluruh kabin. Nama "Daddy" terpampang besar di sana. Riki mendengus sinis, tapi dengan tenang dia memencet tombol answer pada kemudi.
Wajah Heeseung muncul di layar lebar itu. Dia tampak sedang berada di lobi hotel, tersenyum lebar melihat kalian berdua.
"Halo, Jagoan! Halo, Sayang! Wah, Udah mulai deket aja kalian di mobil," seru Heeseung.
Kamu membeku. Kamu mencoba tersenyum sealami mungkin meski saat itu tangan Riki tepat berada di pangkal pahamu, memberikan remasan kecil yang membuatmu harus menggigit bibir agar tidak bersuara.
"Eh, Mas... iya, ini lagi jalan ke kampus," jawabmu dengan nada yang sedikit bergetar.
Mata tajam Heeseung menyipit sedikit. Dia melihat posisi tangan Riki yang tidak berada di setir, melainkan menghilang di balik outer yang menutupi pangkuanmu. "Ki? Itu tangan kamu lagi ngapain di sana?"
Jantungmu rasanya mau copot. Kamu sudah bersiap untuk skenario terburuk, namun Riki menjawab dengan sangat tenang, bahkan tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
"Oh, ini Dad... sabuk pengaman Mama kayaknya agak macet tadi, terus nyangkut di saku outer-nya. Aku lagi bantuin benerin biar dia nggak sesak," jawab Riki lancar, suaranya sangat datar dan meyakinkan. "Mama dari tadi pucat terus, kayaknya emang lagi nggak enak badan banget. Makanya aku jagain."
Heeseung langsung luluh, rasa curiganya menguap begitu saja digantikan rasa haru. "Oh, astaga... makasih ya, Ki. Kamu beneran anak Daddy yang bisa diandalkan. Sayang, kamu kalau pusing banget mending nggak usah masuk kelas aja, pulang aja istirahat."
"I-iya Mas, nanti aku lihat situasinya gimana," jawabmu pelan.
"Ya sudah, hati-hati ya kalian. Ki, jagain Mama ya!"
"Pasti, Dad. Don't worry," jawab Riki dengan senyum miring yang hanya bisa kamu lihat. Begitu panggilan terputus, Riki langsung menarik tangannyaโbukan untuk berhenti, tapi untuk mencengkeram rahangmu pelan.
"Liat kan? Gampang banget bohongin Daddy. Dia terlalu percaya sama aku... dan terlalu percaya kalau istrinya ini masih suci padahal udah aku pakai berkali-kali bahkan sebelum jadi istrinya."
๊จ๏ธ
Waktu berlalu cepat. Kamu menghabiskan waktu di kampus dengan perasaan tidak tenang. Begitu jam dua siang, mobil Riki sudah terparkir di depan gerbang. Kamu masuk dengan cepat, berharap segera sampai rumah untuk bersembunyi di kamar. Namun, Riki justru mengambil jalur yang berbeda.
"Loh, ini bukan jalan pulang, Ki! Kamu mau ke mana?"
"Ke tempat di mana kita nggak perlu akting jadi anak dan ibu tiri," jawab Riki singkat.
Dia membawamu ke apartemennya di pinggiran kotaโunit yang dulu sering kalian gunakan saat masih pacaran sebelum semuanya kacau. Begitu pintu tertutup, Riki langsung mendorongmu ke tembok, menciummu dengan sangat kasar seolah sedang meluapkan rasa cemburunya setelah melihatmu bicara manis pada Heeseung di telepon tadi.
"Tadi pagi kamu panggil dia 'Mas' manis banget ya?" desis Riki di sela ciumannya. "Aku benci denger itu."
"Riki, kita harus pulang... Heeseung bisa telpon rumah kapan aja!"
"Dia nggak bakal curiga. Aku udah bilang sama dia kalau aku bakal ajak kamu makan siang dulu buat 'perbaikan gizi' karena kamu sakit," Riki mulai melepas sabuk celananya, matanya menatapmu dengan lapar.
Riki menarikmu ke ranjang apartemen yang jarang dia gunakan itu. "Seminggu ini, tempat ini bakal jadi saksi kalau kamu cuma punya aku. Terserah kamu mau panggil dia 'Mas' atau 'Husband' di depan layar, tapi di atas kasur, cuma namaku yang boleh keluar dari mulut kamu."
Sore itu, di apartemen penuh kenangan lama, Riki kembali menagih seluruh jiwam
u, membuatmu semakin jauh tenggelam dalam pengkhianatan yang terasa sangat nikmat namun menghancurkan.
To Be Continued




kak kapan mau lanjut๐ญ
Lanjut ini ka