Malam Minggu itu, Jungwon nekat. Dia ingin mengajak (y/n) keluar. Dia ingin kamu melihat keramaian yang selama ini hanya kamu dengar ceritanya. Atas izin Sehun, Jungwon membawamu ke Batu Night Spectacular (BNS).
“Won, beneran nggapapa kamu dorong kursi roda aku muter-muter gini? Rame banget loh,” tanyamu agak ragu saat kalian memasuki area lampion.
Jungwon malah nyengir, dia mengeratkan pegangannya di kursi rodamu. “Nggapapa, (y/n). Anggap aja aku lagi latihan otot tangan. Lagian, kamu lihat deh lampionnya, bagus kan?”
Kamu tertawa, binar di matamu membuat Jungwon merasa keputusannya mengajakmu keluar adalah hal paling benar yang pernah dia lakukan. Sampai akhirnya, kalian sampai di area food court.
“Woy! Jungwon! Gila, ketemu di sini!”
Suara cempreng itu seketika membuat bahu Jungwon menegang. Anton jalan mendekat dengan gaya angkuhnya, diikuti Minji yang sibuk membetulkan makeup-nya.
“Wah, parah lo Won! Diajak nongkrong di kafe bawah bilangnya sibuk tugas asistensi, taunya lagi... eh?” Anton memutus kalimatnya saat melihat (y/n) di kursi roda. “Oalah... jadi ini ‘tugas’ lo sekarang? Jadi relawan?” Anton tertawa sinis.
Minji ikut menimpali dengan nada yang dibuat-buat manis tapi beracun. “Eh, hai! Kamu pacarnya Jungwon? Wah, Jungwon emang baik banget ya, sabar banget orangnya. Untung Jungwon orangnya ‘penolong’ banget, dia emang suka kasihan sama yang lemah-lemah gitu.”
Wajah Jungwon memerah padam. Dia mengepalkan tangan di pegangan kursi rodamu.
“Kata gue mending lo berdua pergi,” desis Jungwon rendah, suaranya berubah dingin saat bicara pada mereka.
Anton malah makin tertawa keras, sengaja memancing perhatian orang sekitar.
“Kenapa, Won? Malu ya ketahuan? Aduh, jangan gitu dong. Harusnya lo bangga, jarang-jarang ada anak teknik yang mau dapet ‘beban’ tambahan kayak gini. Ini tuh kalau di KRS judul matkulnya Pengabdian Masyarakat, ya kan?”
Minji menutup mulutnya, pura-pura kaget. “Iya ya, atau jangan-jangan ini proyek penelitian lo, Won? ‘Cara Merawat Pasien Lumpuh’? Wah, mulia banget!”
Beberapa orang di sekitar mulai berbisik. Jungwon merasa dunianya runtuh. Dia benci dirinya yang hanya bisa diam saat kamu dihina begitu rendah. Dia merasa dadanya sesak oleh rasa malu—bukan malu karena (y/n), tapi malu karena dia merasa terlalu pengecut untuk membela orang yang dia sayang.
Kamu bisa merasakan getaran di tangan Jungwon yang mencengkeram pegangan kursi rodamu. Tanpa diduga, kamu memegang punggung tangannya, lalu menatap Anton dan Minji dengan sorot mata yang dingin tapi tenang.
“Maaf, Mas yang suaranya paling berisik,” ucapmu tenang, suaramu terdengar jelas di tengah kerumunan.
“Aku (y/n). Aku bukan proyek atau beban. Tapi kalau Mas ngerasa terganggu sama kursi roda aku, mungkin Mas yang perlu diperiksa... siapa tahu hati Mas yang sebenernya lumpuh atau... otaknya nggak bisa dipakai?”
Beberapa pengunjung di sekitar yang mendengar itu langsung menoleh, ada yang berbisik sambil menatap Anton dengan pandangan menghina. Anton yang tadinya tertawa, seketika wajahnya merah padam. Dia merasa dipermalukan di depan umum oleh perempuan yang dia anggap “lemah”.
“Heh! Berani lo ya nyeramahin gue?!” bentak Anton, suaranya naik satu oktav karena emosi. Dia maju selangkah, membuat Jungwon refleks berdiri pasang badan di depan kursi rodamu.
“Lo denger ya, cewek cacat! Nggak usah sok pinter! Lo tuh cuma bisa duduk manis sambil nyusahin orang, tau nggak? Won, mending lo sadar deh! Ngapain lo betah nuntun barang rongsokan kayak gini? Capek-capek kuliah teknik cuma buat jadi supir kursi roda. Malu-maluin fakultas lo, tau nggak?!”
Anton sengaja menendang ban kursi rodamu dengan kasar sebelum akhirnya meludah ke samping. “Ayo Ji, cabut! Bau obat di sini, bikin mual!”
Minji menyeringai puas, mengikuti langkah Anton yang pergi dengan gaya angkuh.
Setelah mereka menjauh, suasana jadi hening yang menyakitkan. Jungwon tidak bicara sepatah kata pun. Kepalanya menunduk sangat dalam, tangannya terkepal kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Dia merasa hancur—bukan karena ucapan Anton padanya, tapi karena dia merasa gagal melindungimu dari kata-kata sekasar itu.
Jungwon mulai mendorongmu menuju pintu keluar dengan langkah yang terburu-buru, seolah ingin segera lari dari tatapan orang-orang di sana.
❣️
Hari-hari setelah kejadian di BNS terasa berat buat Jungwon. Gosip menyebar di kampus. Anton, dengan pengaruhnya sebagai anak orang kaya, mulai menyebarkan narasi kalau Jungwon punya “proyek sosial” untuk mendekati dosen. Teman-teman yang biasanya memanfaatkannya sekarang malah menjadikan Jungwon bahan bercandaan di grup WhatsApp.
Sore itu, Jungwon datang ke mansion. Dia kelihatan kuyu, matanya ada lingkaran hitamnya. Tapi saat melihat kamu di taman, dia berusaha tersenyum.
“(y/n)...” panggilnya lembut. Dia duduk di depanmu, memegang tanganmu. “Maafin aku ya soal kemarin. Harusnya aku nggak bawa kamu ke sana.”
Kamu menggeleng pelan. “Bukan salah kamu, Won. Mereka yang nggak punya hati.”
Jungwon terdiam sebentar, lalu dia mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Brosur Gala yang sudah lecek itu. “Minggu depan ada Gala Kampus. Tadinya aku nggak mau datang. Tapi...” dia menatap matamu dalam. “Tapi aku pengen nunjukin ke mereka kalau aku bangga punya kamu. Kamu... mau ikut aku ke Gala?”
Kamu tertegun. Kamu tahu risikonya. Anton dan Minji pasti akan ada di sana, dan mereka akan lebih parah dari sebelumnya. “Won, kamu yakin? Temen-temen kamu nanti—”
“Biarin aja mereka ngomong apa,” potong Jungwon tegas. Kali ini matanya nggak menunjukkan keraguan.
“Aku nggak butuh pengakuan mereka lagi. Aku cuma butuh kamu di samping aku malam itu. Aku mau berhenti jadi ‘anak baik’ buat mereka, dan mulai jadi laki-laki yang berani buat kamu. So... Kamu mau?”
Air mata sedikit menggenang di sudut matamu, bukan karena sedih, tapi karena kamu melihat binar keberanian yang baru di mata Jungwon. Kamu mengangguk pelan, mempererat genggaman tanganmu pada jemarinya.
“Iya, Won. Aku mau. Aku mau pergi sama kamu.”
Jungwon tersenyum sangat lebar—senyum paling tulus yang pernah kamu lihat. Dia mencium punggung tanganmu lama, seolah sedang mengucap janji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan membiarkan satu orang pun menyakitimu lagi.
Satu jam sebelum acara dimulai, mansion Sehun terasa lebih hidup. Jungwon datang lebih awal dengan setelan tuksedo hitam yang membuatnya tampak jauh lebih dewasa dan tegas. Rambutnya ditata rapi, memperlihatkan dahinya yang biasanya tertutup poni—membuat auranya terasa lebih mengintimidasi namun elegan.
Di kamarmu, kamu dibantu asisten rumah tangga mengenakan gaun berwarna midnight blue dengan aksen perak yang berkilau seperti bintang di langit malam. Saat kamu keluar menuju ruang tamu dengan kursi rodamu, Jungwon yang sedang mengobrol dengan Sehun langsung berdiri kaku.
Dia terpaku. “Kamu... cantik banget, (y/n).”
Kamu tersipu, meremas ujung gaunmu. “Kamu juga ganteng banget, Won. Aku sampai pangling.”
Jungwon berjongkok di depanmu, memasangkan bunga korsase di pergelangan tanganmu.
“Malam ini, fokus ke aku aja ya? Kalau kamu merasa capek atau nggak nyaman, bilang. Kita langsung pulang saat itu juga.”
Kamu mengangguk mantap. Ada rasa percaya diri yang menular dari tatapan Jungwon malam itu.
Ballroom hotel mewah di Malang itu sudah dipenuhi ratusan mahasiswa. Lampu kristal menggantung megah, menciptakan pantulan cahaya yang indah di lantai marmer.
Jungwon mendorong kursi rodamu dengan dagu tegak, melewati kerumunan mahasiswa yang sesekali berbisik-bisik. Jungwon tidak menunduk lagi. Dia terus menggenggam tanganmu sambil sesekali membisikkan lelucon kecil untuk membuatmu tertawa.
Namun, ketenangan itu hancur saat kalian berada di dekat meja buffet.
“Wah, wah... perhatian semuanya! Liat siapa yang dateng!”
Suara cempreng Anton bergema, cukup keras untuk membuat orang-orang di sekitar menoleh. Dia berdiri di sana bersama Minji dan gerombolannya. Anton memegang gelas minuman, wajahnya sudah agak memerah, mungkin pengaruh alkohol yang ia selundupkan.
“Won, gue kira lo cuma bercanda mau bawa ‘proyek amal’ lo ke sini. Lo nggak malu apa? Ini Gala, Bro, bukan baksos keliling!” ucap Anton sambil tertawa remeh.
Minji ikut menimpali sambil melirik sinis ke arah gaunmu, “Aduh, sayang banget ya gaunnya keliatannya mahal, tapi sayang... dipakenya sambil duduk terus. Jadi nggak kelihatan modelnya.”
Beberapa orang di sekitar mulai berbisik, ada yang kasihan, tapi ada juga yang ikut tertawa kecil karena tidak berani pada Anton. Kamu merasakan napasmu memberat, tapi sebelum kamu sempat bicara, kamu merasakan tangan Jungwon di bahumu mengencang.
“Anton, kan?” ucapmu dengan nada tegas dan dingin. “Nama kamu bagus, tapi sayang mulut kamu nggak mencerminkan itu. Aku di sini karena undangan resmi, sama kayak kamu. Bedanya, aku punya kaki yang nggak bisa jalan, tapi kamu punya otak yang nggak bisa dipake buat mikir sopan santun.”
Orang-orang di sekitar bergumam “Ooooh!” mendengar jawabanmu. Anton merah padam, merasa dipermalukan oleh perempuan di kursi roda.
“Heh! Berani lo sama gue?! Lo tuh cuma beban buat Jungwon! Lo nggak liat dia malu bawa lo ke sini? Dia tuh cuma kasihan sama lo!” bentak Anton sambil menunjuk wajahmu.
Jungwon yang sejak tadi diam dengan mata yang menggelap, tiba-tiba melangkah maju. Dia berdiri tepat di depan Anton, hanya berjarak beberapa senti. Aura “si cowok manis” itu hilang seketika, digantikan oleh tatapan yang sangat gelap dan mengintimidasi.
“Shut the fuck up, Anton.”
“Apa?! Mau belain dia? Lo mau jadi pahlawan—”
“Lo tau nggak kenapa gue selalu diem pas lo rendahin?” potong Jungwon dengan suara rendah tapi sangat menusuk.
“Bukan karena gue takut sama lo. Tapi karena gue kasihan. Gue kasihan liat orang yang bokapnya harus suap dekan tiap semester biar anaknya nggak di-DO karena nilai IPK-nya nggak pernah nyentuh angka dua.”
Suasana ballroom mendadak hening total. Anton mematung, wajahnya pucat pasi. Rahasia itu tidak ada yang tahu kecuali staf administrasi dan Jungwon yang pernah tidak sengaja melihat berkasnya saat membantu dosen.
“Gue diem selama ini karena gue hargai ‘pertemanan’ yang lo klaim itu. Tapi hari ini lo hampir nyentuh (y/n) pakai tangan kotor lo itu,” lanjut Jungwon, suaranya naik satu oktav, sangat tegas.
“Lo bilang dia beban? Lo yang beban, Ton. Beban orang tua, beban kampus, dan beban buat siapa pun yang harus denger ocehan sampah lo. Lo nggak punya apa-apa buat dibanggain selain harta bokap lo yang hasil nipu pajak itu, kan?”
Minji mencoba memotong, “Won, lo apa-apaan sih—”
“Dan lo, Minji,” Jungwon menoleh kilat pada Minji, membuat cewek itu mundur selangkah.
“Gue tau lo sebenernya mau dateng ke sini sama kating anak FK itu kan kalau seandainya dia nggak nolak lo mentah-mentah minggu lalu? Jangan sok suci ngerendahin (y/n) kalau lo sendiri cuma jadiin Anton pelampiasan karena lo butuh pansos.”
Anton dan Minji menganga. Mereka tidak menyangka Jungwon yang “penurut” bisa menyimpan semua fakta menyakitkan itu dan memuntahkannya di depan umum. Seluruh ruangan menatap mereka dengan pandangan jijik dan mengejek.
Jungwon tidak menunggu jawaban. Dia berbalik, matanya masih menyala karena emosi. Dia langsung memegang pegangan kursi rodamu.
“Kita pergi dari sini,” ucapnya singkat.
Jungwon mendorong kursi rodamu keluar dari ballroom dengan langkah lebar dan cepat. Hawa dingin malam yang menusuk seketika menyambut saat kalian sampai di area parkir yang agak sepi.
Dia membantumu masuk ke dalam mobil dengan gerakan yang masih terlihat emosional, meskipun dia berusaha tetap lembut.
Setelah kursi rodamu masuk ke bagasi, dia membanting pintu kemudi dan duduk di belakang setir. Dia tidak langsung menyalakan mesin. Jungwon justru menyandarkan kepalanya di setir, napasnya memburu, dan tangannya gemetar hebat.
“Argh!!” Dia berteriak frustrasi, memukul setir mobil sekali dengan cukup keras.
Kamu terdiam, menatap profil samping wajah Jungwon yang masih terlihat sangat murka. Rahangnya mengeras, dan urat-urat di lehernya tampak menonjol. Ini adalah sisi Jungwon yang belum pernah kamu lihat sebelumnya—sisi yang selama ini dia tekan dalam-dalam demi menjadi “si anak baik”.
“Won...” panggilmu lirih.
Jungwon menoleh padamu. Matanya memerah, bukan karena sedih, tapi karena sisa amarah dan rasa bersalah yang teramat besar.
“Maafin aku, (y/n). Aku bener-bener minta maaf,” suaranya parau, hampir pecah. “Aku harusnya nggak bawa kamu ke sana. Aku emosional banget... aku nggak tahan liat mereka ngerendahin kamu seakan kamu itu nggak berharga.”
Kamu meraih tangannya, menggenggam jemarinya yang masih bergetar di atas setir. “Won, lihat aku.”
Jungwon perlahan menatapmu. Di mata matanya yang gelap, kamu bisa melihat pantulan dirimu yang sedang tersenyum tipis.
“Tadi itu... keren banget. Kamu nggak cuma belain aku, tapi kamu belain harga diri kamu juga. Makasih ya udah berani,” ucapmu tulus.
Jungwon menatapmu lama, perlahan napasnya mulai teratur. Keheningan di dalam mobil yang terparkir jauh dari hiruk-pikuk hotel itu berubah. Sisa amarahnya perlahan menguap, digantikan oleh ketegangan jenis baru yang jauh lebih mendebarkan.
Jungwon tidak melepaskan tanganmu; dia justru menariknya dan mencium punggung tanganmu dengan lama, sebelum pandangannya perlahan naik, mengunci tatapanmu. Ada rasa lapar dan pemujaan yang dalam di matanya.
“Aku nggak akan biarin siapa pun nyakitin kamu lagi, (y/n). Nggak akan,” bisiknya serak.
Jarak di antara kalian terkikis habis. Saat bibir Jungwon menyentuh bibirmu, rasanya seperti semua tekanan yang dia tahan selama bertahun-tahun meledak seketika.
Awalnya hanya pagutan manis yang ragu, namun saat kamu membalas ciumannya dengan sama intensnya, Jungwon mengerang rendah di sela tautan bibir kalian.
Tangan Jungwon yang tadinya gemetar karena amarah, kini berpindah ke tengkukmu, menarikmu lebih dalam ke dalam ciuman yang menuntut.
Kamu bisa merasakan jantung Jungwon berdegup kencang di balik setelan tuxedo-nya. Refleks, kamu mengalungkan tangan di lehernya, jemarimu masuk ke sela-sela rambutnya yang rapi, mengacaknya tanpa sadar.
Dalam satu gerakan yang kuat namun penuh proteksi, Jungwon menarikmu hingga kamu berpindah duduk di pangkuannya, menghadapnya.
Napas kalian terengah, beradu di depan wajah. Area kemudi yang sempit mendadak terasa terlalu panas. Jungwon menatapmu seolah meminta izin, dan saat kamu menarik kerah kemejanya untuk menciumnya kembali, dia tahu pertahanannya sudah runtuh sepenuhnya.
Jungwon membawamu ke kursi belakang yang lebih luas dengan sisa-sisa tenaga emosionalnya. Di sana, atmosfer berubah drastis. Udara dingin Malang yang mengintip dari balik jendela mobil yang mulai berembun tidak mampu mendinginkan suhu di dalam yang kian meningkat.
.
Setiap sentuhan Jungwon adalah bentuk pemujaan. Jemarinya yang kasar karena sering berkutat dengan mesin, kini menjelajahi lekuk tubuhmu dengan kelembutan yang memabukkan.
Dia melepas jas-nya, menyisakan kemeja putih yang beberapa kancing atasnya sudah terlepas, memperlihatkan dadanya yang naik-turun karena napas yang memburu.
“Kamu indah banget, (y/n)... aku bisa gila kalau terus kayak gini,” bisiknya tepat di ceruk lehermu, mengirimkan sensasi panas yang membuat seluruh tubuhmu bergetar.
Intensitas itu tumbuh menjadi simfoni yang panas namun tetap anggun. Jungwon memastikan setiap gerakannya adalah tentang kamu.
Dia memperlakukanmu seperti mahakarya yang paling berharga di dunia ini. Suara napas yang memburu dan bisikan-bisikan manis menjadi musik latar di tengah kegelapan. Jungwon tak pernah melepaskan kontak mata darimu, dia ingin memastikan bahwa di momen ini, hanya ada kamu dan dia.
Di bawah naungan langit malam Malang yang menjadi saksi bisu, kalian larut dalam permainan rasa yang dalam. Bukan hanya raga yang menyatu, tapi juga dua jiwa yang selama ini merasa terasing dari dunia.
Jungwon memberikan segalanya—kekuatannya, kerentanannya, dan seluruh cintanya—dalam sebuah tarian yang panas namun penuh rasa hormat. Puncak dari malam itu adalah sebuah pelepasan yang manis, menyisakan janji tak tertulis bahwa mulai detik ini, tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kalian.
Hingga akhirnya, kelelahan yang nikmat menyelimuti, kalian berpelukan erat di tengah keheningan yang kini terasa jauh lebih bermakna daripada ribuan kata.
Malam yang penuh intensitas itu berakhir dalam dekap hangat yang melenakan. Kelelahan emosional setelah konfrontasi di Gala, ditambah penyatuan jiwa yang membara di kursi belakang mobil, membuat kalian terlelap begitu saja di bawah selimut jas tuxedo Jungwon.
Cahaya fajar menyelinap malu-malu melalui kaca jendela mobil yang sudah tertutup embun tebal, menyentuh kelopak mata Jungwon. Dia tersentak bangun, matanya mengerjap berusaha mengumpulkan kesadaran. Begitu melihat jam di dasbor menunjukkan pukul enam pagi, jantungnya seolah melompat ke tenggorokan.
“Aduh... mati gue,” gumamnya panik.
Jungwon menoleh ke arahmu yang masih tertidur pulas dengan wajah damai. Dengan gerakan cepat namun diusahakan selembut mungkin, dia merapikan kemejanya yang sudah kusut masai dan pindah kembali ke kursi kemudi.
Jungwon memacu mobilnya membelah jalanan Batu yang masih berkabut menuju arah mansion. Pikirannya kacau balau, apa yang akan dikatakan Sehun? Dia sudah diberi kepercayaan, tapi malah membawa anaknya pulang pagi dalam kondisi berantakan.
Sesampainya di depan gerbang mansion, Jungwon segera turun. Dengan sigap dan napas memburu, dia mengeluarkan kursi roda dari bagasi.
Dia kemudian menggendongmu dengan mantap—berusaha menahan rasa gugupnya—untuk memindahkanmu ke kursi roda. Jas hitamnya masih tersampir di bahumu, menutupi gaun midnight blue yang sudah tidak sesempurna semalam.
Tepat saat itu, pintu besar mansion terbuka. Sehun keluar dengan wajah pucat dan kantung mata yang menandakan beliau tidak tidur semalaman.
“Om... maaf. Saya bener-bener minta maaf,” ucap Jungwon dengan kepala tertunduk dalam, suaranya bergetar karena rasa bersalah.
“Kami... kami ketiduran di jalan karena terlalu capek. Saya siap terima konsekuensi atau hukuman apa pun dari Om.”
Sehun menatap Jungwon lama dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu beralih menatapmu yang baru saja terbangun sepenuhnya karena suara Jungwon.
Wajah khawatir Sehun perlahan luntur. Secara tak terduga, sebuah senyum tipis yang penuh arti muncul di bibirnya.
“Ya sudah, yang penting kalian pulang dengan selamat. (y/n), masuklah, ganti bajumu,” ujar Sehun dengan nada yang sangat tenang—terlalu tenang untuk seorang ayah yang anaknya baru saja pulang pagi.
Jungwon hendak membantu mendorong kursi rodamu menuju tanjakan teras, namun kamu menahan tangannya. Kamu menatapnya dengan senyum paling manis yang pernah dia lihat—sebuah senyum yang menyimpan rahasia besar.
Perlahan, kamu memegang pegangan kursi roda, lalu... kamu berdiri.
Jungwon mematung. Matanya berkedip berkali-kali, mulutnya sedikit terbuka karena syok. Dia melihatmu melangkah perlahan namun pasti. Kamu menanggalkan jas Jungwon yang menutupi bahumu, lalu dengan langkah anggun di atas sepatu heels tinggi itu, kamu menaiki anak tangga teras satu per satu.
“Loh... (y/n)? Kamu... kamu bisa jalan?” tanya Jungwon gagap, suaranya nyaris hilang di tenggorokan.
Kamu sampai di atas teras, berbalik menatapnya yang masih membeku seperti patung di bawah, lalu kembali turun menghampirinya. Kamu berjinjit sedikit, mendaratkan sebuah kecupan hangat di pipinya yang masih terasa dingin oleh udara pagi Batu.
“Makasih ya, Won. Kamu lulus ujiannya,” bisikmu tepat di telinganya.
Sehun tertawa kecil melihat ekspresi Jungwon yang seperti orang linglung.
“Maafin Om ya, Jungwon. (y/n) memang sebenarnya nggak lumpuh. Dia cuma capek sama cowok-cowok di luar sana yang mendekatinya cuma karena kekayaan keluarga kami. Jadi, kami sepakat buat skenario ini untuk menyaring siapa yang benar-benar tulus melihat hatinya, bukan sekadar fisik atau hartanya. Dan karena Om tertarik sama kamu, Om ngajak kamu main ke rumah waktu itu”
Jungwon masih terdiam, mencerna kenyataan bahwa gadis yang dia bela mati-matian, gadis yang dia cintai apa adanya di kursi roda, ternyata adalah “sang dewi” yang sempurna secara fisik.
Namun, alih-alih merasa ditipu, rasa hangat justru menjalar di hatinya. Dia sadar, perasaannya tidak berubah sedikit pun—baik saat kamu di kursi roda maupun saat kamu berdiri anggun seperti sekarang.
“Jadi... semalam itu... bukan karena kasihan kan, Won?” tanyamu menggoda dengan binar mata jenaka.
Jungwon akhirnya tersenyum lebar, ditariknya pinggangmu mendekat, tidak peduli lagi kalau Sehun masih menonton di sana.
“Justru sekarang aku makin nggak mau lepasin kamu. Ternyata pacar aku ini jago akting banget, ya?”
Kalian tertawa bersama di bawah sinar matahari pagi yang mulai menghangatkan kota Malang. Jungwon si “anak baik” akhirnya menemukan dunianya yang baru, dan kamu menemukan pelindung sejati yang mencintaimu tanpa syarat.
Baru saja Jungwon hendak menikmati momen tenang sambil memeluk pinggang (y/n) di bawah sinar matahari pagi, suara deheman keras dari arah teras menghancurkan suasana.
“Ehem! Jungwon, pelukannya bisa dipending dulu? Om sudah lapar, mau sarapan. Kamu juga harus ikut makan,” ujar Sehun sambil melipat tangan di dada. Meskipun nadanya tegas, ada binar jenaka di matanya yang tidak bisa disembunyikan.
Jungwon buru-buru melepas pelukannya dengan wajah merah padam. “Eh, iya Om. Maaf. Kelepasan”
Kalian bertiga berjalan menuju ruang makan. Namun, baru saja Jungwon duduk, dia melihat Sehun meletakkan sebuah ponsel di atas meja.
Di layarnya, terlihat sebuah video amatir yang sedikit goyang—video kejadian di ballroom semalam saat Jungwon membentak Anton dan membongkar semua rahasianya.
“Om dapat kiriman ini dari asisten Om yang kebetulan anaknya satu kampus sama kalian,” Sehun menyesap kopinya perlahan, menatap Jungwon dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Ternyata calon menantu Om kalau marah ngeri juga ya? Sampai rahasia pajak orang dibahas.”
Jungwon menelan ludah, mendadak merasa nggak enak hati. “Maaf, Om... saya cuma emosi karena dia ngerendahin (y/n).”
“Justru itu,” potong Sehun cepat. Dia meletakkan beberapa brosur hotel dan daftar vendor katering di samping ponselnya.
“Om sudah lihat gimana kamu pasang badan buat (y/n). Om nggak butuh orang yang cuma bisa bilang ‘iya’ ke semua orang. Om butuh orang yang tahu kapan harus diam dan kapan harus meledak buat ngelindungin keluarganya.”
Suasana yang tadinya tegang mendadak berubah hangat. Sehun mencondongkan tubuhnya.
“Jadi begini, Won. Om tipe orang yang gerak cepat. Om sudah cek kalender, bulan depan ada tanggal bagus.”
Jungwon melongo, melirik (y/n) dengan tatapan kaget. “Maksudnya... gimana ya, Om?”
“Loh? Om butuh menantu yang jujur dan jago benerin mesin kayak kamu supaya koleksi mobil Om terjamin,” Sehun terkekeh, lalu ekspresinya berubah serius.
“Tapi lebih dari itu, Om butuh orang yang nggak akan lepasin tangan (y/n) pas dunia lagi jahat sama dia. Dan semalam, kamu sudah buktiin itu.”
Jungwon terdiam sebentar, lalu dia menatap Sehun dengan tatapan yang tidak lagi ragu. Dia menggenggam tangan (y/n) di atas meja dengan erat.
“Om,” ucap Jungwon mantap. “Saya sayang banget sama (y/n). Saya serius ingin menjaga dia seumur hidup saya. Tapi saya mau selesaikan skripsi saya dulu, kerja yang benar, dan melamar (y/n) dengan hasil keringat saya sendiri. Saya ingin pantas berdiri di sampingnya tanpa embel-embel kasihan atau bantuan harta dari Om.”
Kamu tertegun. Ada rasa bangga yang membuncah di dadamu mendengar jawaban Jungwon. Dia bukan lagi “anak baik” yang cuma bisa manut, tapi laki-laki yang punya prinsip.
Sehun terdiam sebentar, menatap Jungwon dalam-dalam, lalu tiba-tiba tertawa terbahak-bahak sambil menepuk bahu Jungwon keras-keras.
“Nah! Ini baru laki-laki sejati! Oke, Om pegang janji kamu. Om kasih waktu sampai wisuda. Tapi kalau lewat dari itu kamu belum lamar juga...” Sehun menarik kembali daftar kateringnya dengan gaya dramatis, “...Om yang akan seret kamu ke KUA!”
“Papa! Jangan mulai deh!” protesmu sambil menahan malu, sementara Jungwon hanya bisa tertawa lebar.
Di bawah meja, Jungwon mengeratkan genggaman tangannya pada jemarimu. Dia berbisik sangat pelan, hanya untukmu. “Tiga bulan ya? Tunggu aku.”
Kamu tersenyum, menyandarkan kepalamu di bahu kokohnya. Akhirnya, Jungwon si “anak baik” menemukan keberaniannya, dan kamu menemukan rumah yang sesungguhnya.
❣️
THE END
❣️





Cepet lulus aku mau kondangan!
itu tulisan paling bawah dibacanya "LANJUT" kan? oh iya, lanjut, berarti lanjut mom