Malam itu, kediaman keluarga Park tidak lagi terasa seperti sebuah rumah, ia telah bertransformasi menjadi monumen kekuasaan yang megah sekaligus mencekam. Karpet merah membentang luas di sepanjang lobi, lampu kristal bergaya Victorian berpijar dengan cahaya keemasan yang lebih terang dari biasanya, dan ratusan tamu dari kalangan elit—mulai dari politisi hingga pengusaha papan atas—hadir dengan senyum artifisial mereka.
Namun, bagimu, kemegahan ini terasa seperti upacara penyerahan diri yang disamarkan dengan perayaan ulang tahun ke-20.
Di dalam kamarmu yang sunyi, kamu berdiri mematung di depan cermin besar setinggi langit-langit. Gaun merah tua berbahan sutra itu membalut tubuhmu dengan sempurna, menonjolkan lekukan siluet dewasa yang membuatmu merasa asing pada dirimu sendiri. Merah itu bukan sekadar warna, itu adalah simbol dari kematangan yang selama ini ditunggu oleh para penghuni rumah ini.
Cklek.
Pintu terbuka tanpa ketukan. Melalui pantulan cermin, kamu melihat Sunoo dan Jungwon masuk. Mereka mengenakan setelan tuksedo yang dipotong dengan presisi sempurna, memancarkan aura dominan yang seketika menghimpit oksigen di ruangan itu. Mereka bergerak sinkron, lalu berdiri tepat di kanan dan kirimu.
“Waktu benar-benar berjalan cepat,” gumam Jungwon. Jemarinya yang dingin menyentuh bahu polosmu yang terbuka, memberikan sensasi gigil yang merayap hingga ke tulang belakang.
“Aku masih ingat saat kamu pertama kali datang ke rumah ini. Kecil, rapuh, dan hanya bisa menangis.”
“Dan sekarang...” Sunoo menyambung, jemarinya merapikan helai rambut di belakang telingamu. Matanya yang berbentuk rubah terkunci pada pantulan matamu di cermin, binar obsesifnya tidak lagi disembunyikan. “Kamu sudah sampai di titik ini. Titik di mana tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan kita.”
Kamu mengerutkan kening, mencoba mencari kehangatan persaudaraan yang selama ini menjadi peganganmu.
“Kenapa kalian ngomong begitu? Aku kan nggak ke mana-mana. Aku tetap di sini, sebagai adik kalian.”
Sunoo dan Jungwon saling bertukar pandang. Ada senyum miring yang tersungging di bibir mereka—sebuah rahasia gelap yang mereka simpan rapat sejak mereka masih berusia enam tahun.
“Tentu,” sahut Jungwon pendek, “Ayo turun. Papa sudah menunggu untuk membuka acara intinya.”
Saat kamu menuruni tangga melingkar yang agung, ratusan pasang mata tertuju padamu. Namun, di ujung tangga, Papa Jay berdiri dengan gagah. Ia mengulurkan tangannya, menyambutmu dengan senyum bangga. Tapi itu bukan senyum seorang ayah yang melepaskan anak gadisnya menuju kedewasaan, itu adalah senyum seorang pemilik yang baru saja mendapatkan kembali koleksi paling berharganya setelah sekian lama dipersiapkan.
“Selamat ulang tahun, (y/n),” ucap Jay dengan suara bariton yang berat. Ia mencium keningmu lama, jauh lebih lama dari biasanya, seolah sedang memberikan tanda kepemilikan. “Malam ini, Papa punya pengumuman penting tentang masa depanmu di keluarga ini.”
Musik klasik mulai mengalun merdu. Jay membawamu ke tengah lantai dansa untuk dansa pertama. Di tepi ruangan, Sunoo dan Jungwon berdiri berdampingan, mengawasi setiap gerak-gerikmu dengan tangan terlipat di depan dada. Mereka mengabaikan setiap wanita elit yang mencoba menarik perhatian, bagi mereka, dunia hanya berputar padamu.
Tiba-tiba, saat musik mencapai nadanya yang paling rendah dan melankolis, sebuah memori samar menyeruak dari dasar kesadaranmu.
Aroma debu dan sabun cuci murah. Kamu, (y/n) yang masih berusia tiga tahun, duduk sendirian di pojok taman bermain panti asuhan milik yayasan Park. Itu adalah hari kunjungan rutin Jay bersama dua putra kembarnya yang baru berulang tahun ke-6.
“Papa, aku tidak mau mainan. Aku mau itu,” suara Sunoo kecil memecah keheningan, menunjuk ke arahmu dengan mata tajamnya.
“Dia cantik, Pa. Mirip boneka di kamar Mama dulu. Boleh kita bawa pulang?” Jungwon kecil ikut menimpali.
Jay berdiri di belakang mereka, bayangannya menutupi tubuh mungilmu. Ia menatapmu dengan pandangan menilai yang dingin sebelum tersenyum aneh.
“Kalian yakin? Ini hadiah ulang tahun yang besar. Sekali kalian mengambilnya, kalian harus menjaganya selamanya. Tidak boleh ada orang lain yang menyentuhnya.”
“Janji, Pa!” sahut si kembar serempak.
“Ada apa, Sayang? Kamu terlihat pucat,” bisik Jay tepat di telingamu, membuyarkan bayangan itu. Cengkeramannya di pinggangmu menguat saat kamu hampir kehilangan keseimbangan.
“Aku... aku hanya sedikit pusing, Pa. Mungkin karena terlalu ramai,” jawabmu bohong.
Jay hanya tersenyum samar, matanya melirik ke arah si kembar yang kini mulai melangkah mendekat untuk mengambil alih dansa berikutnya.
“Tenang saja. Setelah malam ini, kamu tidak perlu menghadapi keramaian lagi. Kamu hanya akan butuh kami.”
ִֶָ. ..𓂃 ࣪ ִֶָ🪽་༘࿐
Musik berganti menjadi irama waltz yang sedikit lebih cepat. Jay melepaskan pegangannya dan menyerahkan tanganmu kepada Sunoo. Ini terasa seperti penyerahan estafet kekuasaan. Kamu berpindah dari pelukan Sunoo ke Jungwon dengan ritme yang memusingkan.
“Kepalaku... pusing banget, Kak,” keluhmu saat berada di pelukan Jungwon.
Jungwon tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan hanya menatapmu dalam. Setelah musik berhenti, Jay melangkah kembali ke tengah aula, berdiri di depan mikrofon perak.
“Terima kasih telah hadir,” suara Jay bergema tenang namun penuh otoritas.
“Dua puluh tahun yang lalu, sebuah anugerah datang ke rumah kami. Dan hari ini, anak gadis saya telah mencapai usia dewasanya. Sebelum pesta ini berakhir, silakan nikmati hidangan. Setelah ini, keluarga kami akan mengadakan sesi internal.”
Sesi internal. Kata itu terdengar seperti vonis penjara seumur hidup.
Sunoo dan Jungwon tidak membawamu ke meja makanan besar. Mereka justru membimbingmu ke sebuah bar kecil yang privat di sudut aula, jauh dari mata tamu. Jungwon mengambil botol kaca gelap dengan label emas.
“Ini hadiah kedewasaanmu, (y/n),” jawab Jungwon sambil menuangkan cairan merah pekat ke dalam gelas kristal. “udah waktunya kamu mencicipi apa yang selama ini Papa dan kami nikmati.”
“Tapi aku belum pernah minum...”
Sunoo terkekeh, berdiri di belakangmu dan membantu mengarahkan gelas itu ke bibirmu.
“Cuma sedikit, Sayang. Ini bakal bantu kepalamu tenang. Percaya deh sama kakak.”
Kamu menyesapnya. Rasa hangat membakar tenggorokanmu, disusul rasa manis yang memabukkan dan aroma kayu yang kuat.
Seketika, ketakutanmu yang tajam berubah tumpul. Pandanganmu mulai kabur, dan tubuhmu terasa seringan kapas di bawah pengaruh alkohol pertamamu.
“Good girl,” gumam Jungwon, matanya tak lepas dari bibirmu yang kini memerah karena minuman itu.
Sunoo segera menangkap pinggangmu saat kamu mulai limbung. “Jangan dilawan. Nikmati aja sensasinya. Mulai malam ini, kamu harus terbiasa dengan banyak hal baru yang bakalan kami ajarin ke kamu.”
Di ujung ruangan, Papa Jay mengangkat gelasnya ke arah kalian—sebuah gestur penghormatan yang dingin bagi sang pemenang. Ia melihat bagaimana kedua putranya kini mulai “memanen” apa yang telah mereka tanam selama belasan tahun.
Aula utama yang tadinya gegap gempita kini telah mati. Satu per satu lampu kristal dipadamkan oleh para pelayan yang bekerja dalam diam, menyisakan keheningan yang mencekam. Hanya cahaya bulan yang pucat menembus jendela-jendela tinggi, menciptakan bayangan panjang yang mengikuti langkah kaki Jungwon di atas lantai marmer.
Kamu sudah benar-benar kehilangan kendali atas tubuhmu. Pengaruh cairan merah yang diberikan si kembar bekerja seperti sihir hitam, pikiranmu melayang di antara sadar dan tidak, sementara anggota tubuhmu terasa berat dan panas.
“Ayo,” ajak Jungwon, mengambil gelas kosong itu dari tanganmu. “Papa udah menunggu.”
“Pestanya udah selesai, Sayang. Now, it’s time for you to truly be ours,” bisik Sunoo serak tepat di telingamu.
Jungwon menggendongmu dengan cara yang sangat hati-hati, sebuah gendongan bridal style yang kokoh. Tanganmu reflek mengalung di lehernya begitu kepalamu tersandar di bahunya, dan melalui celah matamu yang sayu, kamu melihat koridor-koridor rumah yang terasa semakin asing. Kalian tidak menuju kamarmu. Kalian menuju sayap kanan, area terlarang yang selama belasan tahun menjadi misteri bagimu. Kamar utama milik Jay.
Sunoo berjalan di belakang, langkahnya teratur dan tenang. Begitu sampai di depan pintu kayu jati ganda yang agung, Sunoo membukanya.
Cklek.
Pintu itu tertutup dan terkunci ganda dengan bunyi klik yang mendebarkan, mengisolasi kalian berempat dari dunia luar.
ִֶָ. ..𓂃 ࣪ ִֶָ🪽་༘࿐
Di dalam kesunyian kamar yang hanya diterangi cahaya bulan dan lampu meja yang redup, waktu seolah berhenti berputar. Kamu tersandar lemah di dada Sunoo, merasakan ritme napasnya yang tenang namun berat di punggungmu. Pengaruh alkohol itu membuat segalanya terasa seperti mimpi buruk yang sangat indah, mematikan logika dan hanya menyisakan saraf-saraf yang menjadi sangat sensitif.
Jungwon, yang masih berlutut di depanmu, telah berhasil melepaskan kedua heels merahmu. Setelah mengecup lembut bagian yang lecet, jemarinya tidak lantas menjauh. Alih-alih berhenti, tangan Jungwon mulai merangkak naik ke atas, menelusuri betis hingga mencapai lututmu.
Dengan gerakan yang sangat pelan dan penuh perhitungan, Jungwon mulai menyingkap gaun sutra merahmu ke atas. Kain halus itu terangkat perlahan, menyingkap kulit pahamu yang putih hingga akhirnya berhenti di pangkal paha.
Di sana, di bawah remang cahaya, tampak pakaian dalam tipismu yang sudah meninggalkan jejak basah yang samar—sebuah pengkhianatan dari tubuhmu sendiri akibat sentuhan intens Sunoo dari belakang dan kecupan memuja Jungwon dari depan.
Jungwon terhenti sejenak, menatap pemandangan itu dengan binar mata yang gelap dan lapar. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnya.
”Kak Sunoo, lihat ini,” bisik Jungwon, suaranya rendah dan penuh kemenangan.
“Dia bahkan udah siap sebelum kita benar-benar memulainya.”
Sunoo yang berada di belakangmu tidak melepaskan pelukannya. Ia justru semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk lehermu, menghirup aroma tubuhmu yang bercampur dengan rasa manis alkohol. Tangannya yang semula di perut kini turun ke bawah, ikut meraba tepian kain tipis yang sudah lembap itu, membuat tubuhmu tersentak kecil di pangkuannya.
”Pastinya,” sahut Sunoo serak tepat di telingamu. “She knew who was holding it now.”
Sementara itu, di sudut ruangan, Jay masih bergeming. Ia tetap duduk di kursi kulitnya, memperhatikan setiap inci pergerakan kedua putra kembarnya dari kegelapan. Ia menyesap cerutunya perlahan, membiarkan asapnya membumbung tinggi, menutupi sebagian wajahnya yang dingin namun penuh gairah yang tertahan. Jay menikmati pemandangan di depannya—pemandangan di mana “hadiah” yang ia jaga selama tujuh belas tahun kini sedang digarap dengan begitu telaten oleh anak-anaknya.
Jay belum bersuara. Ia membiarkan Sunoo dan Jungwon mengeksplorasi setiap reaksi tubuhmu, menikmati bagaimana kamu gemetar di bawah sentuhan mereka yang sinkron.
Baginya, melihatmu hancur dan tunduk di tangan si kembar adalah bagian dari hidangan pembuka sebelum ia sendiri turun untuk mengambil hak utamanya.
”Teruskan, Jungwon,” suara Jay akhirnya terdengar—dingin, berwibawa, dan memberikan izin mutlak. “Papa ingin tahu sejauh mana (y/n) bisa merespons kalian.”
Mendengar izin itu, Jungwon tidak lagi menahan diri. Ia menyelipkan jari-jarinya di bawah karet pakaian dalammu, sementara Sunoo mulai menurunkan ritsleting gaunmu dari belakang hingga terbuka sepenuhnya. Kamu hanya bisa mendongak dengan napas terputus-putus, terjebak di antara dominasi mereka yang menyesakkan.
Sentuhan dingin dan sistematis dari kedua pria ini mulai merobek kabut alkohol di kepalamu. Saat Jungwon menarik pelan kain tipis yang sudah basah itu melewati pinggulmu, ada kilatan realita yang menyakitkan—insting bertahan hidupmu tiba-tiba berteriak bahwa ini bukan sekadar permainan atau kasih sayang saudara.
Ini adalah bahaya yang nyata.
Tubuhmu tersentak, mencoba mengerutkan kaki untuk menutupi intimu yang kini terekspos sepenuhnya di bawah lampu remang kamar Jay. “K-kak... ini salah... Kak Jungwon, stop,” rintihmu dengan suara yang pecah, air mata mulai menggenang di sudut mata sayumu.
Sunoo, yang merasakan ketegangan di punggungmu, segera mempererat pelukannya dari belakang. Ia tidak membiarkanmu menjauh. Satu tangannya naik untuk mendekap payudaramu, sementara tangan lainnya mengusap rambutmu dengan gerakan yang sangat menenangkan—namun posesif.
“Sshhh... tenang, Sayang. Jangan dilawan,” bisik Sunoo sangat lembut, bibirnya menempel di daun telingamu. “Nggak ada yang salah di sini. Kamu aman sama kami. Jangan takut.”
Di depanmu, Jungwon berdiri. Ia membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan wajahmu yang sudah basah oleh keringat dingin dan air mata. Ia tidak terlihat marah karena penolakanmu justru menatapmu dengan binar mata yang penuh damba.
“Kamu cuma kaget, (y/n),” ucap Jungwon pelan. Ia mengulurkan tangan, menghapus air matamu dengan ibu jarinya sebelum memberikan ciuman singkat—sebuah kecupan lembut di bibirmu yang terasa sangat protektif sekaligus mengklaim.
“Kami cuma mau kasih kamu apa yang selama ini kami tertunda.”
Setelah memberikan ciuman yang menenangkan itu, Jungwon kembali turun. Ia berlutut di antara kedua pahamu yang terbuka, sementara Sunoo menahan lututmu agar tetap terpentang lebar.
Kamu menghirup napas tajam saat merasakan hembusan napas hangat Jungwon di area sensitifmu. Sesaat kemudian, seluruh tubuhmu melengkung kaku saat lidahnya yang panas mulai bermain di dalam intimu yang hangat dan basah. Sensasi itu begitu mengejutkan dan intens hingga suara rintihanmu berubah menjadi desahan tertahan yang memilukan.
Dari kejauhan, Jay masih menonton. Ia melihat bagaimana tubuhmu gemetar hebat di bawah lidah Jungwon dan dekapan Sunoo.
Lalu, terdengar suara gesekan kursi kulit di sudut ruangan.
Jay bangkit. Gerakannya tenang, namun setiap langkah sepatunya di atas karpet tebal terasa seperti dentuman godam di telingamu. Ia berjalan keluar dari kegelapan, mendekati lingkaran cahaya lampu meja yang remang. Jay menyesap cerutunya untuk terakhir kali sebelum mematikannya di asbak kristal. Suara langkah sepatunya yang berat mendekati ranjang membuatmu semakin tersudut dalam kepasrahan.
“Lihat, Jungwon,” suara Jay terdengar sangat dekat sekarang, berdiri tepat di sisi ranjang memandangi bagaimana putra kembarnya sedang melumat habis “hadiah” yang ia jaga selama belasan tahun.
“Dia mulai menyukainya.”
ִֶָ. ..𓂃 ࣪ ִֶָ🪽་༘࿐
Sensasi lidah Jungwon yang ahli dan panas di dalam intimu membuat pikiranmu benar-benar hancur. Kamu mencengkeram lengan Sunoo yang melingkar di dadamu, kuku-kukumu menancap di kulit tuksedonya sementara desahanmu pecah menjadi tangisan kecil yang tak lagi bisa kamu tahan.
Di tengah badai kenikmatan yang menakutkan itu, Jay kini telah berdiri tepat di samping ranjang. Bayangannya menjulang besar, menutupi tubuhmu yang tengah dieksplorasi oleh putra kembarnya.
Jay mengulurkan tangan, jemarinya yang kasar mengusap puncak kepalamu sebelum turun untuk mencengkeram rambutmu dengan lembut namun tegas, memaksamu untuk mendongak menatapnya.
“Kamu pikir hidupmu selama ini adalah sebuah kebetulan, (y/n)?” suara Jay terdengar sangat rendah, bergetar di tengah keheningan kamar yang hanya diisi oleh suara basah dari bawah sana.
Kamu menggeleng lemah, matamu berbayang oleh air mata.
“Tujuh belas tahun yang lalu, saat Papa membawamu pulang... itu bukan karena Papa kasihan padamu,” Jay berbisik tepat di depan wajahmu, sementara Sunoo mulai mengecupi bahumu yang gemetar.
“Ayah kandungmu... dia tidak membuangmu. Dia menjadikanku jaminan atas hutang nyawanya. Dan aku memilihmu karena aku tahu, hanya kamu yang bisa menenangkan dua monster kecil di rumah ini.”
Kamu terbelalak. Kenyataan itu menghantammu lebih keras daripada alkohol mana pun.
“Ayahmu menjualmu padaku,” lanjut Jay dengan senyum dingin yang mematikan.
“Dia memberikanmu sebagai persembahan agar perusahaannya tetap berdiri. Jadi, sejak umur tiga tahun, setiap helai rambutmu, setiap inci kulitmu, adalah milik legal keluarga Park. Aku membayar mahal untuk memilikimu, (y/n). Sangat mahal.”
Sunoo mempererat dekapannya, bibirnya berbisik di telingamu seolah ingin menanamkan racun yang sama.
“Itu alasan kenapa kami tidak pernah membiarkanmu punya teman. Kenapa kami menghancurkan keluarga Isa. Karena tidak boleh ada satu pun tangan kotor yang menyentuh ‘investasi’ kami sebelum kami sendiri yang memanennya.”
Jungwon berhenti sejenak dari kegiatannya di bawah sana. Ia mendongak, wajahnya tampak mengkilap oleh sisa-sisa kelembapan darimu. Matanya menatapmu dengan kepemilikan mutlak.
“Kami mencintaimu, (y/n). Tapi bukan sebagai kakak. Kami mencintaimu sebagai satu-satunya objek yang diciptakan hanya untuk memuaskan kami.”
Jay mulai membuka kancing kemejanya, memperlihatkan dadanya yang bidang di bawah lampu remang. “Malam ini bukan perayaan ulang tahunmu. Ini adalah malam di mana barang jaminannya akhirnya jatuh tempo. Dan Papa tidak akan membiarkan satu sen pun dari investasiku terbuang sia-sia.”
Jay melepaskan ikat pinggangnya dengan bunyi denting logam yang nyaring di ruangan sunyi itu. Ia memandang Sunoo dan Jungwon yang kini menatapnya seolah meminta bagian mereka masing-masing.
“Sunoo, tahan tangannya. Jungwon, tetaplah di sana,” perintah Jay dengan otoritas yang tak tergoyahkan. “Papa akan mengambil hak pertama, lalu kalian bisa melakukan apa pun yang kalian inginkan padanya sepanjang malam.”
Kamu menyadari sekarang, bahwa seluruh kasih sayang yang kamu terima selama ini adalah persiapan untuk momen penghancuran ini. Kamu bukan putri keluarga Park. Kamu adalah tawanan emas yang akhirnya harus membayar hutang darah ayah kandungmu dengan tubuhmu sendiri.
Kepalamu berdenyut hebat. Alkohol, rangsangan lidah Jungwon di bawah sana, dan dekapan Sunoo menciptakan badai sensorik yang membuatmu berada di ambang kewarasan. Namun, justru dalam kondisi rapuh ini, dinding pertahanan memorimu runtuh.
Kilasan ingatan panti asuhan itu kembali—lebih tajam, lebih menyakitkan.
Kamu melihat Jay muda, dengan aura yang jauh lebih dingin dari sekarang, berdiri di depan kepala panti. Di belakang Jay, ada seorang pria asing yang bersimpuh, menangis, dan terus-menerus memohon maaf padamu yang masih berusia tiga tahun.
“Papa, aku mau itu,” suara Sunoo kecil bergema di ingatanmu.
“Boleh kita bawa pulang?” tanya Jungwon kecil.
Jay menatap pria yang bersimpuh itu dengan hina sebelum beralih padamu. “Anggap saja ini sebagai pelunasan. Anak ini akan hidup mewah, tapi dia bukan lagi milikmu.”
Kembali ke realita, napasmu tersengal. Kamu mencoba menarik tanganmu dari cengkeraman Sunoo, kepalamu menggeleng kuat meski tenagamu nyaris habis. Kepalamu berdenyut, bukan hanya karena alkohol, tapi karena kenyataan yang baru saja dilemparkan Jay terasa seperti hantaman benda tumpul. Kamu mencoba menarik napas, namun paru-parumu terasa sempit di bawah dekapan Sunoo.
”N-nggak... itu nggak mungkin,” suaramu serak, air mata kini benar-benar jatuh membasahi pipimu yang memerah.
“Papa yang selalu gendong aku kalau aku takut petir... Kak Sunoo yang selalu ngebelain aku waktu di sekolah... kalian sayang aku karena aku adik kalian, kan?”
Kamu menatap Jungwon yang masih berada di antara kedua pahamu, memohon sebuah kejujuran yang tidak menyakitkan.
“Kak Jungwon... kamu bilang kamu mengawasiku demi keamananku... karena kita keluarga Jay Park... karena media bahaya buat kita...”
Jungwon menatapmu datar. Tidak ada rasa bersalah di matanya, hanya ada pengabdian yang gelap.
“Media emang bahaya, (y/n). Tapi kami menjagamu bukan agar namamu nggak tercemar, tapi agar ‘nilai’ dirimu nggak turun karena sentuhan laki-laki lain. Keamanan yang kami beri itu sebenarnya isolasi. Kamu aja yang terlalu polos buat sadar akan hal itu.”
”Sanggahanmu sia-sia, Sayang,” bisik Sunoo di telingamu, jemarinya kini mulai menelusuri tulang rusukmu yang naik-turun karena napas yang memburu.
“Ingat saat Papa bilang kamu mirip mendiang Mama? Itu cuma cara mudah biar kamu nggak tanya kenapa nggak ada foto masa bayi di rumah ini. Itu cara biar kamu ngerasa punya tempat di sini, sampai kamu nggak bakal pernah kepikiran buat lari.”
Hati kamu mencelos. Kamu teringat betapa bangganya kamu saat Jay menyebutmu mirip ibunya. Ternyata itu hanyalah sebuah skrip yang ditulis dengan sangat rapi.
”Ayahmu...” Jay menyela, suaranya terdengar sangat dingin saat ia melangkah lebih dekat ke sisi ranjang,
“Pria itu sangat senang saat aku setuju mengambilmu. Baginya, menyerahkan seorang putri kecil untuk melunasi hutang jutaan dolar adalah kesepakatan terbaik dalam hidupnya. Jadi berhenti memuja bayangan keluarga yang tidak pernah ada.”
Jay mengulurkan tangannya yang besar, mencengkeram kedua pergelangan tanganmu dan mengangkatnya ke atas kepala dengan satu tangan—sebuah demonstrasi kekuatan yang membuatmu benar-benar tidak berdaya.
Kenyataan tentang ayah kandungmu yang menjualmu demi hutang terasa lebih dingin daripada suhu ruangan ini. Kamu mencoba meronta, tapi tubuhmu yang limbung karena alkohol dan stimulasi konstan tidak memberikan perlawanan berarti.
Punggungmu masih bersandar di dada bidang Sunoo, yang kini mulai menurunkan gaunmu hingga kain merah itu merosot jatuh dan menumpuk di pinggang, meninggalkan tubuh bagian atasmu terekspos sepenuhnya di bawah cahaya remang.
“Papa... Kak Sunoo... tolong, jangan begini,” rintihmu dengan suara yang hampir habis.
Di depanmu, Jungwon tidak berhenti. Ia masih berlutut di antara kedua pahamu yang terpentang lebar. Matanya yang tajam menatapmu dengan intensitas yang mengerikan saat ia membenamkan dua jarinya ke dalam intimu yang sudah sangat basah.
Ia menggerakkannya dengan ritme yang lambat dan sistematis, seolah sedang meregangkan otot-ototmu, memastikan bahwa kamu benar-benar siap dan tidak akan terluka saat “hak pertama” itu masuk.
“Sshhh... diamlah, (y/n). Aku hanya sedang membantumu agar tidak terlalu sakit nanti,” bisik Jungwon rendah, suaranya teredam oleh desahan tertahan yang keluar dari bibirmu.
Jay kemudian melangkah semakin dekat. Ia berdiri tepat di samping Jungwon, menjulang tinggi seperti predator yang baru saja memberikan izin pada anak-anaknya untuk bermain sebelum ia sendiri mengambil bagian utama.
Jay mengulurkan tangannya yang besar, mencengkeram rahangmu dengan kuat namun penuh perhitungan, memaksamu untuk mendongak menatap matanya yang gelap dan tanpa ampun.
“Jangan berpaling, (y/n). Lihat Papa,” perintah Jay, suaranya berat dan penuh otoritas.
Tanpa menunggu jawaban, Jay menundukkan wajahnya dan melumat bibirmu dengan kasar. Itu bukan ciuman kasih sayang yang selama ini kamu terima di kening, itu adalah ciuman yang menghisap seluruh nafasmu, sebuah klaim brutal yang menandakan transisi dari putri menjadi milik.
Kamu hanya bisa mengeluarkan suara erangan yang teredam di dalam mulutnya, sementara jemari Jungwon di bawah sana semakin dalam dan cepat melakukan tugasnya.
Sunoo mempererat pelukannya di pinggangmu dari belakang, jemarinya meremas kulit perut dan dada kananmu yang membusung kedepan karena area itu sensitif, memberikan sensasi terkepung dari segala arah. “Dia hangat banget, Pa,” gumam Sunoo di sela-sela ciumanmu dengan Jay, tangannya mulai naik untuk meraba dada kirimu yang naik turun karena nafas yang memburu.
Jay melepaskan ciumannya sejenak, meninggalkan bibirmu yang bengkak dan memerah, namun tangannya masih mencengkeram rahangmu. Ia menatap ke bawah, ke arah Jungwon yang sedang menyiapkan tubuhmu untuknya.
“Sudah cukup, Jungwon. Dia sudah sangat siap,” ujar Jay pelan.
Jungwon menarik jemarinya keluar dengan suara basah yang memicu rasa malu yang luar biasa di dalam dirimu. Ia berdiri, berpindah ke sisi ranjang untuk membantu Sunoo menahan bahu dan lututmu agar tetap berada di posisi yang diinginkan Jay.
Jay mulai membuka ritsleting celananya sepenuhnya, menatapmu dengan tatapan yang mengatakan bahwa hutang darah tujuh belas tahun yang lalu akan lunas malam ini juga.
“Dulu, ayahmu memberikanmu padaku untuk menyelamatkan nyawanya,” bisik Jay, kini ia merangkak naik ke atas ranjang, memposisikan dirinya di antara kedua pahamu yang baru saja ditinggalkan Jungwon. “Sekarang, aku akan menunjukkan padamu kenapa dia membuat pilihan itu.”
ִֶָ. ..𓂃 ࣪ ִֶָ🪽་༘࿐
TO BE CONTINUED




Damn plot twistnya sangat amat tak terduga😮
FIRSTTTTTTT