Jangan lupa like pacar Jake
Suara pintu mobil yang tertutup serempak seolah memutus seluruh kebisingan dunia luar. Begitu masuk ke dalam kabin sedan hitam milik Jake, atmosfernya mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Gak ada lagi aroma buku tua perpustakaan atau bisik-bisik mahasiswa lain. Yang ada cuma deru napas kalian yang agak memburu dan hawa dingin AC yang mulai berembus.
Jake melempar tas kuliahmu dan tas olahraganya ke jok belakang asal-asalan. Dia belum menyalakan mesin mobil. Tangannya masih bertengger di atas setir, tapi matanya langsung lurus tertuju padamu.
Kamu baru aja mau meraih sabuk pengaman ketika tangan besar Jake bergerak lebih cepat. Dia menarik sabuk itu, menariknya melewati dadamu, lalu menguncinya ke slot di samping jokmu dengan bunyi klik yang tegas. Tapi setelah itu, Jake gak langsung mundur.
Wajahnya berhenti tepat beberapa senti di depan wajahmu. Matanya yang cokelat gelap menatapmu tanpa berkedip, mengabsen tiap jengkal wajahmu yang sekarang gak terhalang kacamata.
βKenapa dilepas?β bisikmu pelan, merujuk pada kacamatamu yang sekarang kamu pegang di tangan setelah jake lepas kembali sesampainya kalian di dalam mobil.
βKarena aku mau lihat mata kamu dengan jelas,β suara Jake rendah banget, getarannya seolah merayap langsung ke tengkukmu. βKamu gak tahu seberapa tersiksanya aku di perpus tadi? Ngeliat kamu gigit bibir kayak gitu... itu curang, Sayang.β
Jake mengulurkan tangan, jemarinya yang hangat dan sedikit kapalan karena sering megang alat olahraga itu menyelip ke belakang lehermu. Dia mengusap kulit sensitif di sana dengan ibu jarinya, memberikan tekanan lembut yang membuatmu reflek sedikit mendongak.
βAku kan cuma dengerin omongan manis kamu, Captain,β balasku, mencoba menantang tatapannya walaupun dalam hati jantungmu udah berdegup di luar batas normal. βSiapa suruh tangannya gak bisa diem di bawah meja?β
Jake terkekeh rendah. Senyuman nakal khas βbuaya kampusβ yang biasanya dia tebar secara ramah ke orang-orang, kali ini terasa jauh lebih intim dan privat. Khusus buat kamu.
βOh, jadi sekarang pinter ngejawab, hm? Efek kebanyakan belajar farmakologi?β
Tanpa aba-aba, Jake memangkas jarak yang tersisa. Bibirnya langsung menangkup bibirmu. Gak ada lagi ciuman kilat kayak di lobby tadi siang. Kali ini ciumannya dalam, menuntut, dan penuh dengan intensitas yang tadi dia tahan di perpustakaan. Kamu bisa merasakan sisa rasa mint dari air yang dia gunakan buat kumur-kumur tadi, bercampur dengan kehangatan yang bikin seluruh tubuhmu mendadak lemas.
Tangan Jake yang ada di lehermu berpindah ke rahangmu, menahan posisimu agar dia bisa memperdalam ciumannya. Kamu mencengkeram erat kerah kaos putihnya, membiarkan dirimu tenggelam dalam dominasi cowok FIK ini. Sesuai judulnya, ini bener-bener overdose. Pria ini selalu tahu cara bikin kamu kehabisan napas bahkan sebelum kalian sampai di kamar.
Begitu Jake melepaskan tautan bibir kalian dengan bunyi kecupan basah yang samar hingga menciptakan menang saliva tipis, dia gak langsung menjauh. Dia menempelkan dahinya ke dahimu, sama-sama mengatur napas yang memburu. Matanya beralih menatap bibirmu yang sekarang sedikit bengkak dan basah.
βKita harus cepet-cepet sampai apartemen sebelum aku mutusin buat nyelesaiin ini di dalam mobil,β bisik Jake serak, ada kilat posesif yang gelap di matanya.
Dia mundur, berdehem pelan buat menetralkan suaranya, lalu menyalakan mesin mobil. Sedan hitam itu langsung bergerak keluar dari area parkir kampus dengan kecepatan yang sedikit di atas rata-rata.
Jalanan menuju apartemenmu sore itu agak sedikit padat karena bertepatan sama jam pulang kantor. Setiap kali mobil harus berhenti di lampu merah, Jake selalu punya cara buat bikin kamu salting gak karuan.
Tangan kirinya gak pernah diam. Setelah memindahkan gigi, tangan itu langsung mendarat di atas paha jinsmu, meremasnya pelan lalu bergerak mengusap ke atas dan ke bawah dengan ritme yang lambat tapi konstan.
βJake, fokus nyetir,β tegurmu, mencoba menepis tangannya karena gesekan kulit tangannya di atas celanamu entah kenapa kerasa seksi banget.
βAku fokus kok. Mata aku ke jalan, tangan aku yang kerja,β sahutnya santai, wajahnya kelihatan lempeng banget menatap lampu lalu lintas di depan, tapi jarinya malah menyelinap masuk ke bawah ujung kemeja longgarmu yang sedikit terangkat, menyentuh kulit pinggangmu yang telanjang.
Sentuhan kulit-ke-kulit yang mendadak itu bikin kamu tersentak kecil di jok mobil. Kulit tangan Jake hangat banget, kontras sama kulitmu yang agak dingin karena AC. Dia mengusap pinggangmu perlahan, ibu jarinya membuat gerakan melingkar yang bikin perutmu bagian bawah terasa menggelitik.
βKamu sengaja ya pakai kemeja yang kancing atasnya kebuka gini?β tanya Jake tiba-tiba, suaranya kembali melembut, tipe suara yang biasa dia pakai kalau lagi ngerayu cewek-cewek di kampus, tapi kali ini dengan kadar sensual yang berkali lipat lebih tinggi.
βIni kemeja biasa, Jake. Kamunya aja yang pikirannya kemana-mana, dasar mesum,β belamu, walau wajahmu udah mulai memanas.
Jake melirikmu sekilas pas lampu berubah hijau. Mobil kembali melaju. βPikiran aku emang udah di kamar kamu dari satu jam yang lalu, Sayang. Gak usah pura-pura gak tahu.β
Kamu memalingkan wajah ke luar jendela, mencoba menyembunyikan senyuman dan rona merah di pipimu. Kamu terbiasa melihat Jake dikelilingi cewek-cewek hits, dipuji karena penampilannya, atau digoda sama kakak tingkat. Tapi ngeliat gimana Jake bener-bener gak berkutik dan bertingkah se-agresif ini cuma karena kamu... ada rasa puas tersendiri yang meletup di dadamu. Kesan nerdy dan pendiammu runtuh, digantikan oleh keberanian yang pelan-pelan muncul.
Kamu menggerakkan tanganmu, menangkap tangan Jake yang masih ada di pinggangmu, lalu membawanya naik. Kamu mengecup punggung tangannya yang dipenuhi urat-urat menonjol itu, lalu menggigit kecil di bagian daging dekat ibu jarinya.
Jake reflek menginjak gas sedikit lebih dalam, deru mesin mobil terdengar lebih nyaring. Dia melirikmu dengan tatapan yang seolah pengen melumatmu habis saat itu juga.
βSatu sama,β katamu pelan sambil tersenyum miring, meniru gaya bicaranya yang menantang.
Jake mengetatkan rahangnya, tangannya mencengkeram setir dengan lebih erat sampai urat-urat di lengannya makin tercetak jelas.
βOke. Liat aja nanti pas pintu kamar kamu udah dikunci,β ancam Jake, suaranya berat dan penuh dengan janji yang bikin bulu kudukmu meremang indah. βAku gak akan kasih kamu ampun, Bu Farmasi yang taat aturan.β
Mobil sedan hitam itu akhirnya membelok masuk ke area basement apartemenmu, bersiap buat menyelesaikan tensi tinggi yang udah kalian bangun sepanjang jalan.
Begitu sedan hitam Jake berhenti sempurna di slot parkir basement yang agak remang, mesin mobil bahkan belum mati sepenuhnya saat Jake langsung melepas sabuk pengamannya. Dia berbalik, merentangkan tubuh besarnya melompati konsol tengah, dan langsung menangkup wajahmu untuk satu ciuman yang jauh lebih kasar, terburu-buru, dan penuh tuntutan dibanding yang tadi di kampus.
Kamu melenguh di dalam dekapannya, tanganmu reflek mencengkeram bahu kokohnya yang tegap. Sisa-sisa kesabaran yang kamu punya seolah menguap bersama hawa panas yang mendadak membakar kabin mobil. Jake melepaskan tautan bibir kalian hanya untuk menghirup udara, lalu membisikkan kata-kata yang bikin telingamu panas.
βTurun sekarang, atau kita selesaiin di jok belakang,β napasnya memburu, matanya menggelap total, menatapmu dengan kilat lapar yang sama sekali gak disembunyikan.
Kamu gak menjawab, hanya membalas tatapannya dengan napas yang sama tuanya, lalu membuka pintu mobil. Kalian melangkah cepat membelah koridor basement menuju area lift. Jake bahkan gak peduli lagi buat membawakan tas kuliahmu yang diseret asal bersama tasnya yang kini bertengger di pundak, tangannya sibuk menggenggam jemarimu dengan begitu erat, seolah tak mau kehilangan sedetik pun kontak fisik.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai basement. Kosong. Begitu kalian berdua masuk, kamu menekan tombol lantai kamarmu-lantai 12. Pintu lift menutup perlahan, memisahkan kalian dari dunia luar sepenuhnya.
Kamu melirik ke sudut atas langit-langit lift. Kosong. βGak ada CCTV,β bisikmu, sebuah pancingan kecil yang langsung memicu insting predator di dalam diri Jake. Ia juga baru sadar kalau ternyata apartmentmu memiliki keamanan dan juga privasi yang ketat.
Mendengar itu, seringai seksi terukir di wajah tampan si kapten olahraga. Tanpa membuang waktu, Jake langsung melangkah maju, mendorong tubuhmu ke belakang sampai punggungmu membentur dinding lift yang dingin dengan bunyi dentum pelan. Kedua lengan kekarnya langsung mengurungmu di kanan dan kiri, memutus semua jalur pelarian.
βBerani banget ya sekarang menggoda, hm?β bisik Jake serak. Wajahnya merunduk, menatapmu yang tanpa kacamata kelihatan begitu menantang di bawah lampu lift yang terang.
βEmangnya kamu aja yang bisa bikin salting?β tantangmu, mendongak dan sengaja menggesekkan hidungmu ke hidungnya.
Jake mengerang rendah. Tantanganmu beralih jadi bumerang saat bibir penuhnya langsung melumat bibirmu dengan intensitas yang gila-gilaan. Ciumannya kali ini dalam, basah, dan penuh dengan dominasi yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya. Lidahnya menyelinap masuk, mengabsen rongga mulutmu, menuntut balasan yang sama liarnya. Kamu mengalungkan kedua lenganmu di leher Jake, menjinjitkan kaki untuk mengimbangi tubuh tingginya yang terus mendesak tubuhmu rapat ke dinding lift.
Di tengah ciuman yang memabukkan itu, tangan kanan Jake bergerak turun dari dinding. Jarinya yang besar meraba kasar ke bawah, membuka paksa dua kancing teratas kemejamu yang tersisa, lalu menyelinap masuk ke dalam pakaianmu.
Sentuhan telapak tangannya yang hangat dan sedikit kapalan itu langsung mendarat di atas kulit dadamu yang halus. Kamu tersentak, melenguh keras langsung di dalam mulut Jake saat jemari kekarnya meremas dadamu dengan tekanan yang pas, menuntut, dan penuh kepemilikan. Rasanya bener-bener overdose-panas, intens, dan bikin lututmu lemas seketika. Tangan Jake bergerak lincah, memilin ujung sensitifmu dari balik kain tipis dalamanmu, membuat gairah yang sudah tertahan sejak di kampus meledak di dalam ruang sempit itu.
Kamu mencengkeram rambut berantakan Jake, menariknya lebih dekat saat ciumannya turun menjilati rahangmu, lalu berpindah ke lehermu, meninggalkan jejak hisapan kemerahan yang kontras di kulit putihmu.
Ting.
Suara denting lift penanda lantai 12 terasa seperti interupsi yang kejam sekaligus melegakan. Pintu lift terbuka otomatis.
Jake menarik wajahnya dengan napas yang terengah-engah, sudut bibirnya basah oleh sisa ciuman kalian. Matanya menatap koridor luar yang sepi, lalu kembali menatapmu yang berantakan dengan kemeja setengah terbuka dan dada yang naik turun memburu oksigen.
βAyo,β suara Jake berubah serak parah, hampir seperti bisikan yang habis.
Dia merapikan kemejamu asal dengan satu sentuhan kasar, lalu menarik pergelangan tanganmu keluar dari lift. Langkah kaki kalian terburu-buru menyusuri koridor, hampir seperti berlari, dengan detak jantung yang berpacu gila-gilaan menuntut penuntasan.
Begitu sampai di depan pintu unit apartemenmu, tanganmu bergetar hebat saat mencoba menekan kode akses digital pada gagang pintu. Dua kali salah pencet karena fokusmu buyar oleh napas Jake yang terus menerpa tengkukmu dari belakang, sementara tubuh besarnya menempel rapat memeluk pinggangmu.
βBiar aku bantu buka,β bisik Jake frustrasi. Dia merebut jarimu, memandu tanganmu untuk menekan kombinasi angka yang benar.
Bip. Klik.
Pintu terbuka. Belum sempat pintu itu tertutup sempurna oleh engsel otomatisnya, Jake sudah menendang pintu itu ke belakang hingga menutup dengan bunyi brak yang keras, disusul suara kunci otomatis yang mengunci kalian di dalam kamar.
Dunia luar resmi lenyap. Yang tersisa cuma kalian berdua dalam kegelapan kamar apartemen yang hanya diterangi cahaya sore dari celah gorden kaca besar unitmu.
Jake langsung membalik tubuhmu, memojokkanmu ke daun pintu. Kedua tangannya mencengkeram pinggangmu, mengangkat tubuhmu sedikit hingga kamu harus melingkarkan kedua kakimu di pinggang kokohnya agar tidak terjatuh. Posisi ini membuat area sensitif kalian bergesekan langsung, mengirimkan sengatan listrik yang bikin kamu merinding hebat.
βGak ada jeda lagi buat hari ini,β geram Jake rendah, matanya berkilat penuh gairah yang sudah di ujung tanduk. βKamu yang mulai duluan tadi di jalan, Sayang. Sekarang giliran aku yang selesaiin.β
Jake kembali melumat bibirmu, kali ini dengan tempo yang jauh lebih cepat dan mendesak. Sambil terus menciummu, tangan terampil si atlet ini dengan cepat menanggalkan jaket varsity-nya ke lantai, disusul dengan kemeja longgarmu yang dilempar asal entah ke mana. Kulit telanjang kalian bertemu, menciptakan sensasi panas yang membakar seluruh isi kamar.
Tangan Jake turun ke ritsleting celana jinsmu, membukanya dengan satu tarikan tegas, sementara kamu sibuk menarik kaos putihnya ke atas, memperlihatkan otot-otot perutnya yang kotak-kotak dan keras hasil latihan fisik. Tiap sentuhan, tiap remasan, dan tiap napas berat yang menggema di dalam kamar apartemen yang sunyi itu menjadi saksi kalau takaran cinta dan gairah di antara anak FIK dan anak Farmasi ini sudah benar-benar melewati batas dosis aman.
To Be Continued
sabar jangan panas dulu





ahh, overdose mantap bgtt, jgn kasih kendor
Suka bgt POV Jake bikinan mom tapi favorit aku ttp nasty kitten