❛❛Illusion : Park Jongseong❞
;
Suasana kantor yang biasanya terasa membosankan, kini berubah menjadi tempat yang mencekam bagimu. Suara bising mesin fotokopi dan obrolan receh rekan-rekan kerjamu terdengar seperti suara latar yang jauh dan tidak berarti. Di meja kerjamu, kamu hanya bisa menatap kosong ke arah layar monitor yang menampilkan barisan spreadsheet yang sama sekali tidak masuk ke otakmu.
“Woi, (Y/N)! Nggak makan siang? Kantin bawah lagi ada promo ayam penyet tuh,” seru salah satu teman sekantormu sambil menepuk pundakmu pelan.
Kamu tersentak, hampir saja menjatuhkan bolpoin yang sedari tadi kamu mainkan. “Ah... enggak dulu, deh. Perut gue lagi agak nggak enak. Duluan aja,” jawabmu dengan senyum yang dipaksakan.
Setelah mereka pergi, kamu segera meraih HP-mu yang sengaja kamu letakkan terbalik. Dengan tangan sedikit gemetar, kamu menyalakan layarnya. Benar saja, aplikasi “OBSESSION“ itu masih ada di sana, tidak bisa dihapus, tidak bisa disembunyikan. Saat kamu menyentuh ikon mata merah itu, sebuah profil baru muncul dengan sangat detail, seolah-olah sedang memamerkan barang dagangan kelas atas.
TARGET DOSSIER: NIGHT 02
Name: Jay (Park Jong-seong)
Occupation: Owner of ‘Dream’ Nightclub & Venture Capitalist.
Location: Private Suite, District 7.
Difficulty: High (Dominant Personality)
Mission Goal: Subjugation & Mutual Peak.
“Warning: Target memiliki intuisi yang tajam. Tanda-tanda keraguan apa pun akan memperpanjang durasi misi. Bersiaplah untuk menghadapi ... pertemuan yang lebih agresif.”
Kamu menelan ludah dengan susah payah. Kalau Heeseung semalam terasa seperti mimpi yang manis dan intens, profil Jay ini memberikan aura yang jauh berbeda.
Dari fotonya saja—pria dengan rahang tegas, tatapan mata yang tajam seperti elang, dan setelan jas mahal yang pas di tubuhnya—kamu tahu kalau dia bukan tipe pria yang bisa kamu rayu dengan mudah. Dia terlihat seperti pria yang biasa memberikan perintah, bukan menerima perintah.
“Pemilik klub malam? Venture capitalist?” gumammu frustrasi. “Kenapa targetnya orang-orang kelas kakap gini, sih?!”
Pikiranmu kembali melayang ke kejadian semalam. Rasa pegal di pangkal pahamu masih terasa sedikit nyata jika kamu berjalan terlalu cepat. Setiap kali kamu mengingat suara berat Heeseung yang membisikkan namamu, wajahmu otomatis memanas. Tapi sekarang, ketakutan baru mulai merayap. Bagaimana kalau Jay tidak selunak Heeseung? Bagaimana kalau dia sadar bahwa kamu bukan sekadar mimpi?
Kamu melihat jam di sudut kanan monitor komputer. 13:15.
Artinya, kurang dari delapan jam lagi, “algoritma gila” itu akan kembali menyeretmu secara paksa dari kamar apartemenmu yang nyaman menuju ke sarang pria bernama Jay ini. Kamu merasa seperti terpidana mati yang sedang menghitung mundur waktu eksekusi.
“Gue harus gimana...?” bisikmu putus asa. Kamu sempat berpikir untuk membuang HP itu ke sungai, tapi peringatan tentang ‘Social Exposure‘ langsung terlintas di benakmu. Video dan foto privasimu yang ada di cloud bisa tersebar ke seluruh kontak kantor dan keluargamu dalam sekejap jika kamu mencoba kabur.
Sebenarnya foto dan video yang kamu simpan tidak cukup vulgar namun cukup terlihat provokatif karena kamu sendiri obsesi dengan badanmu sendiri. Bahkan personamu di kantor dan di rumah berbeda. Sebab itulah kamu sebegitu takutnya jika datamu tersebar.
Satu-satunya jalan hanyalah bertahan. Kamu harus melewati tujuh malam ini, apa pun taruhannya.
Begitu sampai di apartemen, kamu tidak punya waktu untuk bersantai. HP-mu bergetar hebat di atas meja rias, memunculkan instruksi baru yang bikin kamu melotot.
[REQUIRED ATTIRE: RED LACE LINGERIE]
Note: Pakaian telah tersedia di lemari Anda. Kenakan pakaian tersebut, atau misi tidak akan dimulai..
Dengan tangan gemetar, kamu membuka lemari dan menemukan sebuah kotak hitam elegan yang sebelumnya tidak ada di sana. Isinya adalah lingerie merah marun berbahan lace tipis yang sangat minim. Nyaris tidak menutupi apa pun. Sambil menggigit bibir karena malu dan takut, kamu memakainya. Kamu merasa sangat terekspos, namun aroma mawar dari kain itu entah kenapa memberikan sensasi keberanian yang palsu.
Zlap!
Sensasi tersedot itu kembali lagi. Detik berikutnya, suhu udara berubah menjadi hangat dan beraroma kayu cendana bercampur alkohol mahal. Kamu mendarat di atas lantai marmer yang dingin di sebuah private suite yang sangat luas.
Di depanmu, di atas ranjang berukuran raksasa, sosok Jay tergeletak dengan kemeja hitam yang kancing atasnya sudah terbuka kasar.
Wajahnya merah padam karena pengaruh alkohol, dan tangan kirinya masih menggenggam gelas winekristal yang isinya tinggal sedikit. Dia terlihat sangat dominan, namun dari gumaman tidak jelasnya, kamu bisa merasakan kesepian yang mendalam.
“Heh... ilusi macam apa lagi ini?” suara Jay terdengar sangat berat, serak, dan berbahaya.
Dia tidak terkejut melihatmu. Dia justru menatapmu dengan mata yang sayu namun tajam, seolah-olah kamu hanyalah proyeksi dari otaknya yang sedang mabuk berat. Baginya, kamu adalah jawaban dari rasa sepinya malam ini.
“Apa karena gue terlalu banyak minum, atau emang malaikat lagi kasihan sama gue?” Jay tertawa sinis, tawa yang terdengar hampa. Dia meletakkan gelasnya di nakas dengan gerakan yang tidak stabil, lalu mencoba duduk tegak meski kepalanya terlihat berat.
Kamu terpaku di tempat, merasa terintimidasi oleh kehadirannya. Namun, instruksi di HP-mu yang tiba-tiba menyala di tanganmu membuatmu tersentak:
[CURRENT MISSION: EMOTIONAL & PHYSICAL SUBMISSION]
Targetnya rentan. Gunakan kehadiranmu untuk menegaskan kekuatannya..
Jay memperhatikan setiap gerak-gerikmu. “Sini,” perintahnya singkat. Hanya satu kata, tapi nada bicaranya tidak menerima penolakan. “Kalau lo emang cuma bayangan bentukan alkohol di kepala gue... setidaknya buat gue ngerasa hidup malam ini.”
Kamu melangkah mendekat dengan kaki gemetar. Gaun tidur tipismu bergesekan dengan kulitmu, membuatmu semakin sadar betapa telanjangnya kamu di depan pria ini. Begitu kamu sampai di tepi ranjang, Jay tiba-tiba menarik tanganmu dengan kuat hingga kamu jatuh tepat di antara kedua kakinya yang terbuka.
“Lo nyata...?” bisiknya sambil mengelus pipimu dengan jemarinya yang kasar namun hangat. Dia menatapmu dalam-dalam, mencari validasi di matamu. “Bilang ke gue... kalau malam ini gue nggak sendirian lagi.”
Kamu bisa merasakan panas tubuh Jay yang menjalar lewat telapak tangannya di pipimu. Meski tatapannya tajam, ada gurat kelelahan dan kesedihan yang sangat dalam di matanya. Alih-alih langsung melakukan apa yang diperintahkan aplikasi untuk memuaskannya secara fisik, kamu memilih untuk mengikuti instingmu.
“Kenapa...?” bisikmu lembut, tanganmu memberanikan diri menyentuh punggung tangannya yang masih menempel di wajahmu. “Kenapa lo harus sampai mabuk kayak gini?”
Jay terkekeh sinis, kepalanya terkulai sedikit ke bahumu. Aroma wine mahal yang pekat keluar dari napasnya. “Karena cuma saat gue mabuk, dunia ini berhenti nuntut gue buat jadi sempurna. Semuanya pengen duit gue, semuanya pengen perintah gue... tapi nggak ada satu pun yang bener-bener pengen gue.”
Dia menarikmu lebih dekat, lalu secara tiba-tiba menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu. Tangannya melingkar kuat di pinggangmu, memelukmu seolah-olah kamu adalah satu-satunya pegangan yang dia punya di dunia yang sedang berputar ini.
“Lucu, ya? Gue punya segalanya, tapi gue harus ‘nyiptain’ ilusi kayak lo cuma buat ngerasa nggak sendirian di kamar segede ini,” gumamnya, suaranya teredam di kulitmu. “Kasih tahu gue, Bayangan... kenapa lo rasanya sehangat ini? Kenapa lo seolah-olah beneran peduli?”
Kamu terdiam, merasakan getaran di dadanya saat dia bicara. Kamu mengusap rambut hitamnya yang sedikit berantakan dengan gerakan pelan, mencoba memberikan kenyamanan yang dia cari. Jay seolah haus akan validasi itu, dia semakin mengeratkan pelukannya, menghirup aroma sabun mandimu yang menenangkan.
“Cerita aja, Jay. Malam ini... gue di sini cuma buat lo. Nggak ada tuntutan, nggak ada bisnis,” ucapmu pelan, hampir seperti bisikan mantra.
Dan dalam keadaan mabuk berat itu, Jay akhirnya tumpah. Dia bercerita tentang pengkhianatan rekan bisnisnya, tentang betapa hampa hidupnya di balik gemerlap klub malam miliknya, dan bagaimana dia selalu merasa harus jadi yang paling kuat agar tidak dihancurkan. Dominasi yang dia tunjukkan selama ini ternyata hanyalah tameng untuk melindungi dirinya yang rapuh.
Lama-kelamaan, napas Jay mulai memberat. Dia menarik diri sedikit, menatapmu lagi, tapi kali ini tatapannya tidak sedingin tadi. Ada binar gairah yang mulai bercampur dengan rasa terima kasih.
“Lo bener-bener ilusi yang bahaya,(Y/N)” bisiknya, menyebut namamu yang entah bagaimana dia tahu—mungkin karena aplikasi itu sudah menanamkan namamu di alam bawah sadarnya.
Dia menarikmu hingga kamu duduk tepat di atas pangkuannya, wajah kalian hanya berjarak beberapa senti. “Gue pengen lo... bukan cuma sebagai pendengar. Gue pengen ngerasain kalau lo bener-bener ada di sini buat gue malam ini. Validate me, (Y/N). Make me feel like a King again.”
Sentuhan emosional yang kamu berikan tadi rupanya menjadi pemicu ledakan yang jauh lebih besar. Jay, dengan segala kerapuhan yang baru saja dia tumpahkan, kini berubah kembali menjadi sosok predator yang haus akan kendali. Tatapannya yang sayu karena alkohol mendadak menajam, mengunci pergerakanmu dengan intensitas yang nyaris membuatmu sesak napas.
“Lo terlalu baik buat jadi sekadar bayangan,” bisik Jay, suaranya kini lebih rendah dan penuh ancaman yang menggoda.
Tanpa aba-aba, tangan Jay yang besar mencengkeram tengkukmu, menarik wajahmu mendekat hingga bibir kalian bertabrakan dalam ciuman yang kasar dan menuntut. Aroma whiskey dan wine menyerbu indra penciumanmu.
Ciuman Jay tidak lembut seperti Heeseung, ini adalah ciuman seorang pria yang sedang berusaha menegaskan kekuasaannya, seolah dia ingin menelanmu bulat-bulat agar kamu tidak bisa pergi dari sisinya.
Tangan Jay yang lain tidak tinggal diam. Dia merayap turun, meremas pinggangmu dengan kuat sebelum jari-jarinya yang kasar mulai menarik tali lingerie merahmu. Kamu bisa merasakan dominasinya yang gelap mulai menyelimuti ruangan. Dia mencium lehermu, meninggalkan tanda kemerahan yang panas, sementara napasnya yang berat menderu di telingamu.
“Malam ini, lo milik gue. Jangan berani-berani ngilang sebelum gue puas,” geramnya.
Namun, di tengah agresivitasnya, kamu menyadari sesuatu. Jay sesekali memejamkan mata dengan dahi berkerut, tubuhnya sedikit goyah karena pengaruh alkohol yang mulai mencapai puncaknya. Inilah celah yang kamu butuhkan.
Sesuai instruksi aplikasi untuk memberikan “validasi kekuasaan,” kamu menyadari bahwa terkadang, membiarkan pria seperti Jay merasa dipuja adalah cara terbaik untuk menaklukkannya.
Perlahan, kamu melepaskan diri dari ciuman kasarnya. Kamu menempelkan jari telunjukmu di bibirnya, membungkam gumaman protesnya.
“Sshhh... Jay. Biar gue yang urus semuanya,” bisikmu dengan nada yang sangat persuasif, beralih untuk mengambil kendali.
Kamu sedikit menjauh, membuat Jay mengerang karena kehilangan kehangatanmu. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, kamu mendorong bahunya hingga dia terbaring telentang di atas sprei mahal itu. Jay, yang biasanya selalu menjadi pihak yang memerintah, kini tampak terpaku, menatapmu dari bawah dengan pandangan antara bingung dan terangsang.
Kamu merangkak naik ke atas tubuhnya, duduk di atas perutnya yang keras. Lingerie merahmu yang sudah setengah terbuka membuat mata Jay tidak bisa berpaling. Kamu meraih kedua tangannya, meletakkannya di atas kepalanya, dan mengunci jemarinya dengan jemarimu.
“Gue di sini buat lo, Jay. Gue bakal bikin lo ngerasa kalau lo adalah satu-satunya pria yang berkuasa di dunia ini,” ucapmu sambil menunduk, memberikan kecupan-kecupan ringan namun mematikan di sepanjang rahang dan dadanya.
Melihat Jay yang biasanya begitu arogan kini bernapas tersengal-sengal di bawah kuasamu, memberikan sensasi power yang aneh pada dirimu. Kamu mulai sentuhan dan lidahmu, memberikan perhatian pada setiap inci tubuhnya seolah dia adalah seorang raja yang sedang dilayani oleh selir kesayangannya.
Jay membusungkan dadanya, otot-otot perutnya menegang saat kamu memberikan stimulasi yang tepat di tempat yang dia inginkan. Dia benar-benar pasrah, matanya terpejam erat sambil menikmati bagaimana kamu “menaklukkannya” dengan cara yang paling manis.
“Gila... (Y/N)... lo bener-bener... ah!” Jay mengerang keras saat kamu mulai bergerak lebih berani di atasnya.
Dominasinya memang masih terasa, tapi kali ini, dia membiarkanmu menjadi nakhoda. Dia membutuhkan ini—dia butuh merasa diinginkan tanpa harus selalu menjadi orang yang menyerang.
Di dalam kamar yang temaram itu, Jay bukan lagi seorang CEO atau pemilik klub yang ditakuti, melainkan seorang pria yang sedang bertekuk lutut pada kenikmatan yang kamu berikan.
Napas Jay semakin berat, beradu dengan suara detak jam dinding yang seolah melambat. Kamu tidak membiarkannya mengambil alih kembali. Dengan gerakan yang sengaja dibuat sensual, jemarimu yang lentik mulai membuka satu per satu kancing kemeja hitamnya yang tersisa. Kamu bisa merasakan panas yang memancar dari dadanya yang bidang, kulitnya seperti madu tampak berkilat di bawah lampu temaram suite mewah itu.
Setelah kemejanya terbuka lebar, menampakkan otot-otot tubuhnya yang proporsional, kamu beralih ke bawah. Tatapan Jay terus mengikutimu, matanya yang sayu karena alkohol kini dipenuhi dengan rasa lapar yang tak tertahankan.
“Lo bener-bener mau nyiksa gue, hah?” geram Jay dengan suara parau saat kamu perlahan membuka sabuk kulitnya.
Kamu tidak menjawab. Kamu hanya memberikan senyum tipis yang misterius, membuat Jay semakin gemas. Dengan hati-hati, kamu melucuti celana kain mahalnya, menyisakan pria itu dalam keadaan yang paling rentan namun juga paling perkasa di matamu.
Begitu miliknya yang sudah menegang keras terbebas, kamu bisa melihat denyut gairah yang begitu nyata di sana. Ukurannya yang besar dan kokoh sempat membuatmu menelan ludah, namun instruksi aplikasi di kepalamu terus memacu adrenalinmu. Sepertinya jika kamu genggampun jari tengahmu tidak bisa bersentuhan dengan jempolmu.
Kamu mengulurkan tangan, melingkarkan jemarimu di pangkal miliknya, merasakan tekstur kulitnya yang panas dan urat-urat yang menegang. Jay refleks membusungkan dadanya, kepalanya terdongak ke belakang hingga urat lehernya terlihat jelas. Sebuah erangan rendah dan kasar lolos dari tenggorokannya.
“Ah... (Y/N)... God, itu rasanya...”
Kamu mulai memanjakannya, memberikan sentuhan yang ritmis dan penuh perhatian. Kamu memperlakukannya seolah-olah dia adalah benda paling berharga yang harus kamu jaga, namun juga kamu kuasai. Kamu sesekali memberikan tekanan di titik-titik yang membuatnya nyaris kehilangan akal sehat.
Jay yang biasanya memerintah ribuan orang di klubnya, kini hanya bisa terbaring pasrah, tubuhnya gemetar setiap kali kamu memberikan stimulasi yang lebih berani. Dia merasa sangat dipuja, sangat diinginkan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia tidak merasa kesepian.
“Lagi... jangan berhenti,” tuntut Jay dengan napas tersengal. Tangannya yang besar kini meremas sprei dengan kuat, mencoba menahan diri agar tidak meledak terlalu cepat di bawah perlakuanmu yang mematikan.
Kamu menunduk, mendekatkan wajahmu hingga napasmu yang hangat terasa olehnya, memberikan janji akan kenikmatan yang lebih besar lagi sebelum malam ini berakhir.
Jay terengah-engah, dadanya bidangnya naik turun dengan cepat, namun matanya tidak menunjukkan tanda-tanda ingin tidur. Alih-alih melepaskanmu setelah pelepasan pertamanya yang berantakan, dia justru menarik pergelangan tanganmu dengan satu sentakan kuat.
“Gue bilang tadi jangan ngilang dulu, kan?” suaranya pecah, jauh lebih berat dan penuh otoritas dibanding sebelumnya.
Dia tidak memberimu waktu untuk menghirup oksigen dengan benar. Jay membalikkan posisi tubuhmu dengan gerakan yang sangat dominan hingga kamu kini terhimpit di bawah kungkungan tubuh besarnya. Aura “predator” yang sempat meredup karena alkohol kini menyala kembali, jauh lebih panas dan mengintimidasi.
“Kalau lo emang ilusi yang gue ciptain buat ngilangin haus gue... berarti gue bebas ngabisin lo semau gue,” bisiknya tepat di depan bibirmu.
Jay mulai menerjangmu lagi. Kali ini bukan hanya sekadar nafsu kasar, tapi sebuah “pelayanan” yang mematikan. Dia menciumi seluruh wajahmu, lalu turun ke leher dengan hisapan-hisapan kuat yang dipastikan akan meninggalkan jejak keunguan di kulit porselenmu.
Tangannya yang besar menjelajahi setiap inci tubuhmu, meremas payudara, pinggang dan panggulmu seolah sedang memastikan bahwa kamu benar-benar nyata, bukan sekadar udara kosong.
Dahaga Jay seakan tidak ada habisnya. Dia menunduk, membenamkan wajahnya di antara kedua paha dalammu yang masih gemetar. Kamu tersentak, tanganmu refleks mencengkeram sprei saat merasakan lidah Jay yang panas dan mahir mulai bekerja di sana. Dia memberikan stimulasi yang begitu intens, membalas apa yang kamu berikan tadi dengan cara yang jauh lebih provokatif.
“Jay... ah! Cukup... itu terlalu—”
“Diem dan nikmatin, (Y/N),” potongnya tanpa menghentikan aksinya.
Dia benar-benar ingin memuaskan dahaganya yang menggebu-gebu. Setiap desahan yang keluar dari mulutmu seolah menjadi bensin bagi apinya. Jay tidak berhenti sampai kamu benar-benar melengkung pasrah di bawahnya, dengan napas yang terputus-putus dan kesadaran yang nyaris hilang.
Setelah memastikan kamu benar-benar “siap”, Jay kembali memposisikan dirinya. Dia menatapmu dalam-dalam, mengunci pandanganmu dengan matanya yang gelap dan penuh gairah. Tanpa peringatan, dia menghujamkan dirinya kembali ke dalammu dengan satu dorongan yang sangat dalam dan bertenaga.
“Sempurna...” geram Jay, urat-urat di lengannya menegang saat dia mulai memacu ritme yang brutal namun penuh perasaan.
Dia menjajahmu dengan tempo yang konsisten, seolah ingin menanamkan eksistensinya jauh ke dalam rahimmu agar kamu tidak pernah bisa melupakan malam ini.
Di dalam kamar yang luas itu, hanya terdengar suara kulit yang beradu dan erangan rendah Jay yang terus memanggil namamu, menuntut validasi bahwa malam ini, dialah penguasa mutlak atas tubuh dan jiwamu.
Setiap hantaman yang Jay berikan terasa begitu dalam dan bertenaga, seolah dia ingin memastikan tidak ada jarak sedikit pun di antara kalian. Akibat guncangan yang begitu hebat, payudaramu memantul dengan indahnya, menciptakan pemandangan erotis yang membuat mata Jay menggelap sepenuhnya. Dia sesekali merunduk, meremas dan menyesap puncaknya dengan kasar, menambah gelombang nikmat yang sudah nyaris membuatmu gila.
“Ah! Jay... lebih dalem... fuck, itu enak banget!” racauu dalam kondisi kesadaran yang sudah menguap.
Kalimat kotor yang keluar dari bibirmu seolah menjadi bensin yang disiramkan tepat ke dalam api gairah Jay. Mendengar wanita yang dianggapnya “malaikat ilusi” ini mulai meracau liar, Jay semakin kehilangan kendali. Dia menggeram rendah, urat-urat di lengannya menegang kaku saat dia menarik panggulmu agar bisa menghujam lebih telak lagi.
“Lagi, (Y/N)... bilang gue sehancur apa lo karena gue,” bisik Jay dengan suara yang parau dan penuh otoritas.
Desahanmu memenuhi setiap sudut private suite yang luas itu, bersahutan dengan suara kulit yang beradu dengan ritme yang semakin cepat. Kamu sudah tidak peduli lagi pada harga diri atau misi, yang kamu rasakan hanyalah gesekan panas yang menyulut ledakan saraf di sekujur tubuhmu. Kamu merangkul leher Jay, menariknya agar dia bisa menciummu dengan ganas sambil terus memacu kecepatannya.
“Jay... gue mau... gue mau keluar... heungghh!” teriakmu parau sambil melilitkan kakimu di pinggangnya, mencoba mencari pegangan di tengah badai kenikmatan ini.
Jay tidak menjawab dengan kata-kata. Dia justru semakin mempercepat gerakannya, menekanmu ke kasur hingga kamu merasa seolah-olah akan meleleh ke dalam sprei sutra itu. Jay mengerang keras, sebuah erangan panjang yang menandakan dia juga sudah berada di batas akhirnya.
Tepat saat kamu merasakan dinding rahimmu berdenyut hebat karena orgasme yang luar biasa, Jay memberikan satu dorongan terakhir yang paling dalam dan melepaskan seluruh cairannya yang panas di dalammu. Tubuh kalian berdua menegang kaku selama beberapa detik, saling mendekap erat dalam keheningan yang hanya diisi oleh suara napas yang tersengal-sengal.
Jay ambruk di atas tubuhmu, menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu sambil terus memelukmu posesif. “Mimpi ini... gue nggak mau bangun... (Y/N), jangan pergi...”
Tubuhmu masih bergetar hebat, efek dari orgasme yang baru saja menghantammu bersamaan dengan Jay. Kamu bisa merasakan cairan hangat Jay memenuhi rahimmu, memberikan sensasi penuh yang membuatmu secara naluriah memeras miliknya yang masih tertanam di dalam dirimu. Jepitanmu yang kuat dan tak sengaja itu membuat Jay mengerang rendah, menyembunyikan wajahnya di perpotongan lehermu sambil mengatur napas yang tersengal.
“Sial... (Y/N)...” gumam Jay parau. Alih-alih menjauh, dia justru mencium pundakmu berkali-kali. Gairahnya seolah belum padam meski sudah mencapai puncak. “Gue nggak mau berhenti. Satu ronde lagi... gue pengen ngerasain lo lebih lama.”
Jay mulai menggerakkan pinggulnya lagi secara perlahan, mencoba memancing gairahmu kembali. Namun, kamu bisa merasakan detak jantungnya yang masih sangat cepat dan kelelahan yang tersembunyi di balik suaranya yang dominan. Kamu mengusap rambutnya yang basah oleh keringat, lalu menangkup wajahnya agar dia menatapmu.
“Jay, hey... liat gue,” bisikmu lembut, memberikan tatapan yang penuh validasi—tatapan yang selama ini dia cari. “Malam ini lo udah jadi yang paling hebat. Lo nggak perlu buktiin apa-apa lagi. Sekarang, waktunya lo istirahat. Gue bakal di sini... nemenin lo tidur.”
Mendengar kalimat penenang itu, pertahanan Jay runtuh. Dominasinya melunak, digantikan oleh sorot mata yang penuh kerapuhan. Dia mendesah pasrah, lalu memposisikan dirinya di sampingmu tanpa melepaskan penyatuan kalian. Dia mendekapmu sangat erat, menyatukan kening kalian seolah takut jika dia berkedip, kamu akan hilang.
“Jangan pergi pas gue bangun nanti,” bisiknya pelan, hampir seperti perintah yang penuh permohonan.
Dalam posisi yang masih menyatu dan saling mendekap hangat, kelelahan akibat alkohol dan aktivitas panas tadi akhirnya membawa Jay terlelap. Kamu pun ikut memejamkan mata, terbuai oleh detak jantung pria yang baru saja “menjajah” tubuhmu namun kini terlihat begitu damai.
Beberapa jam kemudian, matamu terbuka perlahan.
Bukan aroma whiskey atau sprei sutra yang kamu rasakan, melainkan aroma kamarmu sendiri. Kamu tersentak bangun di atas kasur apartment-mu dengan napas tersengal. Tubuhmu masih terasa lengket, rambutmu berantakan, dan sensasi penuh di bawah sana masih terasa sangat nyata—sebuah bukti bisu bahwa kejadian tadi bukanlah sekadar mimpi.
Kamu meraba nakas dan meraih HP-mu yang layarnya berpendar terang di tengah kegelapan kamar.
[MISSION COMPLETE: NIGHT 02]
Target: Jay (Park Jong-seong) — SATISFIED.
Reward: “Golden Nightclub Access” & 1000 Diamonds.
Warning: Malam ke-3 semakin dekat. Siapkan staminamu, (Y/N). Tuan rumahmu selanjutnya sedang menunggu.
Kamu menjatuhkan HP-mu kembali ke kasur, menutupi wajahmu dengan kedua tangan. “Dua malam... gue hampir gila cuma dalam dua malam,” gumammu frustrasi, meski di dalam hati, kamu tidak bisa memungkiri bahwa perasaan Jay yang rapuh tadi masih membekas di benakmu.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Jay terbangun dengan kepala yang masih berdenyut akibat alkohol, namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan kekosongan yang tiba-tiba menghantam dadanya saat dia meraba sisi ranjang yang dingin. Dia membuka matanya dengan paksa, menatap langit-langit suite-nya yang megah, namun yang terbayang di benaknya adalah wajahmu yang menatapnya penuh empati semalam.
Dia terduduk kasar, membiarkan selimutnya melorot dan menampakkan tubuhnya yang masih berantakan. Matanya langsung tertuju pada sprei sutra yang kusut masai, sisa-sisa “pertarungan” mereka yang sangat jelas terlihat di sana.
“Sial...” gumam Jay, suaranya parau.
Dia mencoba mengingat setiap detailnya. Biasanya, mimpi basah akibat alkohol akan terasa kabur, tapi ini berbeda. Dia ingat rasa hangat kulitmu, cara kamu memandangnya seolah dia bukan sekadar mesin pencetak uang, dan terutama—bagaimana kamu memvalidasi kesepiannya. Rasa nyaman itu masih membekas di dadanya, terasa lebih nyata daripada perabot mewah di sekelilingnya.
Jay bangkit, berjalan menuju kamar mandi sambil memijat keningnya. Dia menatap bayangannya di cermin dan menemukan beberapa jejak kemerahan di leher dan bahunya. Jantungnya berdegup kencang. Mana mungkin bisa?
“Nggak mungkin ada yang masuk ke sini,” desisnya pada diri sendiri.
Private suite ini memiliki sistem keamanan tingkat tinggi, sidik jari, pemindaian retina, dan penjagaan ketat. Tidak ada wanita yang bisa masuk tanpa seizinnya, apalagi menghilang tanpa jejak sebelum fajar. Dia mencoba menyangkal, meyakinkan diri bahwa ini hanyalah ilusi tingkat tinggi yang diciptakan oleh otaknya yang sudah terlalu lama “haus” akan kasih sayang.
Namun, semakin dia mencoba mengabaikanmu, semakin kuat bayanganmu menghantuinya. Kalimat penenangmu, “Malam ini lo udah jadi yang paling hebat,” terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak. Itu adalah validasi yang selama ini tidak pernah dia dapatkan dari dunia nyata yang penuh kepalsuan.
Jay mendengus, kembali ke ranjang dan mengambil gelas wine kosong semalam. Dia menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Jadi, lo cuma dateng pas gue mabuk berat, ya?” Jay tersenyum miring, sebuah senyum obsesif yang mulai muncul di sudut bibirnya.
Dia yang biasanya sangat benci kehilangan kontrol karena alkohol, kini justru memikirkan hal gila. Jika mabuk adalah satu-satunya cara untuk membawamu kembali—untuk merasakan lagi kehangatan dan pengakuan yang kamu berikan—maka Jay tidak akan keberatan untuk menenggelamkan dirinya dalam alkohol setiap malam.
“Gue bakal tunggu lo malam ini, (Y/N). Dan kalau lo emang cuma ilusi... gue bakal pastiin ilusi ini jadi milik gue selamanya.”
❛❛Illision : Park Jongseong❞
To Be Continued
duh papi... pangku dong
Love U All, My Michies 💖





oh paham