Hari pertama setelah kamu pergi, Heeseung bahkan tidak sadar. Dia pulang jam dua pagi, melempar kunci di meja, dan langsung tertidur. Dia pikir kamu hanya sedang menginap di tempat teman karena bertengkar.
Hari ketiga, keheningan mulai terasa aneh. Tidak ada aroma bawang putih ditumis saat dia pulang. Tidak ada suara TV yang menyala pelan sebagai latar belakang tidurnya. Dia membuka lemari, dan jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat gantungan baju yang kosong melompong.
Hanya ada satu gaun yang tertinggal—gaun yang pernah dia kritik karena menurutnya “terlalu mencolok” untuk acara kantornya.
Heeseung mencoba menertawakannya. “Dia pasti balik,” pikirnya. Tapi saat dia duduk di meja makan sendirian, dia baru sadar bahwa selama 6 tahun, kamu adalah orang yang mengisi gelas airnya, yang menjadwalkan cucian jasnya, yang menjadi napas di rumah itu.
Memasuki minggu kedua kehilanganmu, Heeseung mulai kehilangan fokus. Di tengah rapat besar untuk kenaikan jabatannya, dia tiba-tiba teringat cara kamu memegang cangkir kopi di pagi hari.
Dia salah menyebut angka dalam presentasinya. Rekan-rekannya berbisik. Sosok arsitek yang perfeksionis itu mulai retak. Dia mulai meneleponmu, tapi hanya suara operator yang menjawab.
Dia mulai gila. Dia pulang ke rumah hanya untuk duduk di kegelapan, menatap pintu, berharap kunci berputar dan kamu masuk. Tapi pintu itu tetap diam.
Hujan baru saja reda ketika kamu melangkah keluar dari kamar hotel. Kamu tidak ingin lagi menjadi “pondasi yang diam” untuk Heeseung. Kamu berdiri di depan cermin lobi, mematut gaun merah yang memeluk lekuk tubuhmu dengan berani memperbaiki gaun merah yang baru saja dibeli. Dress you can see, kata kasir itu. Kamu ingin merasa hidup kembali setelah enam tahun dikubur oleh kemeja-kemeja formal dan kesunyian Heeseung.
Kamu melangkah ke bar di lantai bawah. Dentum musik techno seolah mencoba mengusir sisa-sisa memori 6 tahun yang menyesakkan. Kamu memesan whiskey terus-menerus.
“Pantes gue dibuang... gue cuma hiasan di hidup dia,” gumammu pahit pada gelas yang berkeringat.
Lalu, aroma parfum mahal dan tembakau tipis menyergap indramu. Jay duduk di sana. Teman lama sekaligus rekan bisnis Heeseung di Jakarta yang selalu menatapmu dengan cara yang tidak pernah Heeseung lakukan—seolah kamu adalah pusat dunianya, bukan sekadar pelengkap.
“You look like you’re about to burn this city down,” ucap Jay rendah. “Dan aku mau lihat apinya sekarang.”
Kamu menoleh, menatap mata Jay yang gelap dan tajam. Tidak ada keraguan di sana. Berbeda dengan Heeseung yang selalu sibuk dengan penggaris dan angkanya, Jay hanya menatapmu sebagai seorang wanita.
“Take me away, Jay,” bisikmu, jarimu menyentuh lengan kemeja hitamnya yang digulung. “Bikin aku lupa kalau aku pernah mencintai seorang arsitek yang nggak punya hati itu.”
“Bawa aku pergi dari sini,” bisikmu lagi yang sudah terbawa pengaruh alkohol. “Bikin aku lupa semuanya.”
Jay tidak seperti Heeseung. Dia tidak menghitung beban struktur atau risiko. Dia menarikmu, membawamu ke kamarnya, dan mengklaimmu dengan intensitas yang tidak pernah kamu dapatkan selama enam tahun.
Jay membawamu ke penthouse di lantai teratas. Begitu pintu tertutup dengan bunyi klik yang berat, suasana berubah. Tidak ada lagi bising musik club atau gemuruh hujan. Hanya ada suara napas kalian yang saling memburu di dalam remang cahaya kota yang menembus jendela besar.
Jay tidak langsung membawamu ke ranjang. Dia mengurungmu di dinding, namun gerakannya sangat lembut, nyaris seperti sedang menyentuh barang pecah belah yang paling berharga.
“Look at me,” perintahnya rendah, suaranya bergetar oleh keinginan yang tertahan.
Dia menarik dagumu agar matamu yang sayu karena alkohol dan luka bertemu dengan matanya yang gelap namun penuh pemujaan.
Tangan Jay mulai bergerak perlahan, menelusuri garis rahangmu, turun ke leher, hingga jemarinya berhenti di tulang selangkamu. Dia menekannya pelan, seolah sedang menandai wilayahnya.
“Kamu harus tahu (y/n), aku sudah membayangkan ini sejak lama,” bisiknya tepat di depan bibirmu. “Melihatmu memakai gaun warna merah itu membuatku menjadi orang yang melepaskannya dari tubuhmu sekarang jufa.”
Dia menciummu. Bukan ciuman yang terburu-buru, melainkan ciuman yang lambat, dalam, dan penuh rasa lapar yang sudah dipendam bertahun-tahun.
Tangan Jay merayap ke belakang gaunmu, mencari ritsleting, dan saat kain itu luruh ke lantai, dia tidak langsung melanjutkannya. Dia menjauhkan wajahnya hanya untuk melihatmu—memuja setiap lekuk tubuhmu dengan tatapannya.
Dia membimbingmu ke ranjang king size yang dingin. Di bawah temaram lampu, Jay mulai melakukan sentuhan yang membuat gaiahmu memuncak dengan ketelitian seorang pemuja yang mencintai miliknya. Jemarinya yang panjang bergerak perlahan, menyentuh titik-titik paling sensitif di balik telingamu, di lekuk pinggangmu, hingga ke bagian dalam paha yang membuat tubuhmu gemetar hebat. Basah. Sangat siap untuknya.
Sentuhannya sangat intensional. Setiap kali dia menyentuhmu, dia seolah sedang menghapus jejak dingin Heeseung selama enam tahun terakhir.
Saat jemarinya bermain di area yang paling intim, kamu tidak bisa menahannya lagi. Kepalamu mendongak ke belakang, punggungmu melengkung, dan lenguhan pertamamu pecah di keheningan kamar.
“Jay... please...” suaramu terdengar sangat butuh, serak dan penuh permohonan.
Mendengar namanya dipanggil seperti itu, Jay berhenti sejenak. Dia melepas kemeja hitamnya dengan gerakan tenang namun penuh tenaga, begitupun pada celananya menampakkan tubuh tegapnya yang berkilat oleh keringat tipis. Dia memposisikan dirinya di antara kedua pahamu yang terbuka, menumpu berat tubuhnya dengan kedua tangannya.
Namun, sebelum dia benar-benar tenggelam dalam dirimu, Jay berhenti. Dia menatapmu sekali lagi, mencari sisa-sisa kesadaran di matamu. Dia ingin kamu tahu siapa yang ada di hadapanmu. Dia ingin ini menjadi keputusanmu yang paling sadar.
“Kamu yakin sama ini, (y/n)?” bisiknya, napasnya yang panas menerpa kulit paha bagian dalammu. “Kalau aku masuk sekarang, aku nggak akan pernah membiarkanmu kembali pada siapa pun. Terutama dia.”
Kamu hanya bisa mengangguk pelan, jemarimu meremas lengan kekarnya dengan erat saat kamu menariknya lebih dekat. Kamu sangat membutuhkan rasa penuh itu.
Jay menghela napas panjang, lalu dengan gerakan perlahan namun pasti, dia mulai menyatu denganmu. Kamu merasakan setiap inci darinya mengisi kekosongan yang selama enam tahun ini tidak pernah dipedulikan oleh Heeseung. Rasanya sempit, intens, dan membuatmu nyaris kehilangan napas.
Di puncak kenikmatan itu, Jay membisikkan sesuatu yang mengunci takdirmu malam itu: “I’ve got you now. And I’m never, ever letting go.”
Enam bulan telah berlalu.
Jabatan yang dulu dikejar Heeseung kini terasa seperti kutukan. Dia memiliki segalanya—uang, kekuasaan, dan pengakuan—tapi rumahnya tetap kosong. Selama enam bulan itu, Heeseung tidak berhenti. Dia menghabiskan ratusan juta untuk detektif swasta, melacak setiap manifes penerbangan, dan memeriksa setiap transaksi mencurigakan.
Dia tidak lagi terlihat seperti arsitek rapi yang kamu kenal. Matanya selalu cekung karena kurang tidur, dan meja kerjanya penuh dengan botol alkohol serta foto-fotomu yang diambil secara diam-diam oleh orang suruhannya.
Hingga akhirnya, sebuah laporan masuk. Kamu terdeteksi di Los Angeles, sering terlihat di kawasan elit Bel-Air bersama seorang pria yang wajahnya selalu tertutup bayangan di setiap foto.
Dia tahu kamu mencoba melarikan diri sejauh mungkin. Heeseung, dengan sisa-sisa harapan yang naif, berpikir bahwa kamu hanya butuh waktu untuk mendinginkan kepala.
Heeseung terbang ke Amerika dengan sisa-sisa kewarasan yang tipis. Dia yakin, jika dia bisa berlutut di depanmu dan menunjukkan kesuksesannya sekarang, kamu akan kembali.
Begitu mendarat, orang pertama yang dia hubungi adalah Jay. Heeseung tahu Jay sedang berada di sana untuk urusan proyek hotel barunya. Dia butuh koneksi, dia butuh bantuan untuk melacakmu di kota sebesar ini. Heeseung bahkan memesan kamar di hotel baru milik Jay, berpikir bahwa setidaknya dia punya teman di kota asing ini untuk membantunya melacakmu dan hotel ini adalah tempat teraman untuk menyusun rencana membawamu pulang.
“Jay, gue udah di hotel lo. Tolong, gue butuh bantuan lo buat cari dia. Gue nggak bisa kehilangan dia lagi kali ini, “ pesan singkat yang dikirim Heeseung saat dia melangkah masuk ke lobi mewah itu.
Dia tidak tahu, pesan itu dibaca oleh Jay saat pria itu sedang memperhatikanmu yang sedang bersiap di depan cermin kamar penthouse-nya.
Malam itu, hotel milik Jay berkilau seperti berlian di tengah Los Angeles. Heeseung hadir dengan jas hitam terbaiknya, memegang kotak perhiasan di sakunya—sebuah cincin berlian yang jauh lebih besar dari yang dulu ia berikan padamu.
Dia mengirim pesan lagi pada Jay: “Jay, gue di acara lo sekarang. Please, bantu gue sekali ini aja. Dia ada di kota ini.”
Lampu lobi meredup, menyisakan lampu sorot yang mengarah ke puncak tangga agung.
Pembawa acara naik ke panggung dengan suara menggema:
“And now, let us welcome the owner of this magnificent place, Mr. Jay, and his beautiful wife.”
Heeseung mematung. Wife? Jay sudah menikah? Kapan?
Saat itulah kamu muncul. Kamu melangkah turun dengan gaun sutra berwarna emerald yang jatuh sempurna di tubuhmu. Kamu terlihat sangat bercahaya, jauh lebih berisi dan sehat daripada saat kamu masih bersamanya. Dan di sampingmu, Jay menggenggam tanganmu dengan cara yang sangat protektif, seolah dunianya ada di jemarimu.
Heeseung merasa seluruh oksigen di paru-parunya lenyap. Dia menerobos kerumunan tamu undangan, tidak peduli lagi pada etika.
“Heeseung?” Suaramu bergetar saat melihat sosoknya yang berantakan di ujung tangga.
Jay berhenti melangkah. Dia menatap Heeseung dengan tatapan dingin, namun ada seringai tipis yang sangat kejam di sudut bibirnya.
Dia melepaskan tanganmu hanya untuk merangkul pinggangmu dengan sangat posesif, menarikmu hingga tubuh kalian menempel tanpa celah.
“Jay... apa-apaan ini?” Heeseung bersuara, suaranya pecah. “Kenapa... kenapa dia sama lo?”
Jay tertawa rendah, sebuah tawa yang menghina semua perjuangan Heeseung selama enam bulan ini.
“Lo kemana aja, Hee? lo telat enam bulan, Heeseung. Enam bulan itu waktu yang lama buat ngebiarin permata berharga tergeletak di jalanan.”
“Dia tunangan gue, sialan!” teriak Heeseung, menarik perhatian tamu-tamu elit di sana. Reflek kamu mengernyitkan dahi. Tunangan? sejak kapan aku jadi tangannya?, batinmu.
Jay menaikkan alisnya, lalu dengan sengaja mengangkat tangan kirimu yang kini dilingkari oleh cincin pernikahan dengan berlian hitam yang langka.
“Bukan lagi,” sahut Jay tenang. “Sekarang dia udah istri gue. Secara hukum, secara fisik, dan secara batin. Gue nggak kayak lo yang butuh enam tahun buat menyadari apa yang berharga buat diri gue sendiri. Gue cuma butuh satu malam di hotel ini buat tahu kalau gue pengen miliki dia selamanya.”
Jay menunduk di depan Heeseung, membisikkan sesuatu di telingamu yang sengaja dikeraskan agar Heeseung bisa mendengarnya.
“Sayang, Bukannya kita harus say thank you ke Heeseung? Kalau dia nggak sibuk sama jabatannya malam itu, mungkin kita tidak akan pernah menikah secepat ini.”
Heeseung melihatmu hanya terdiam, menyembunyikan wajahmu di dada Jay. Kamu tidak membantah. Kamu bahkan tidak menoleh ke arah Heeseung. Kehancuran itu terasa nyata saat Heeseung menyadari bahwa di jari manis Jay, terlingkar cincin yang sama dengan punyamu.
Heeseung terjatuh di atas lututnya di tengah lobi hotel yang megah itu. Kotak perhiasan di sakunya terasa seperti batu bara yang membakar kulitnya.
Dia datang ke sana untuk meminta bantuan mencari cintanya, hanya untuk menyadari bahwa pria yang dia anggap sahabat telah mencuri hatimu, memilikimu, dan bahkan telah memberikan nama belakangnya padamu.
Di atas sana, Jay menatap Heeseung dari posisi yang lebih tinggi—baik di tangga itu maupun di hidupmu—sebelum membimbingmu pergi dari hadapan sang arsitek yang kini benar-benar kehilangan fondasi hidupnya.
❤️🩹
Heeseung duduk di tepi ranjang dengan lampu kamar yang sengaja dimatikan. Di tangannya bukan lagi cetak biru atau tablet kerja, melainkan botol whiskey yang sudah setengah kosong. Jas mahalnya tergeletak di lantai, sama hancurnya dengan harga dirinya.
Suara tawa tamu undangan dari lantai bawah masih terdengar samar, setiap detiknya terasa seperti belati yang menusuk telinganya. Dia terus menatap layar ponselnya—foto profil media sosial Jay yang baru saja diperbarui. Foto tangan kalian yang saling bertaut dengan latar belakang lampu kota Los Angeles.
“Wife,” tulis caption itu singkat.
Heeseung menangis tanpa suara. Dia teringat enam tahun kebersamaan mereka, di mana dia selalu merasa punya “waktu” untuk membahagiakanmu nanti setelah sukses. Sekarang dia sukses, tapi suksesnya terasa hambar. Dia berada di hotel milik pria yang merebut istrinya, tidur di ranjang yang disediakan oleh pria itu, dan menyadari bahwa setiap detik yang ia buang dulu, kini telah menjadi milik Jay seutuhnya.
Berbeda dengan kesunyian di lantai bawah, suasana di penthouse terasa panas dan penuh dominasi. Jay baru saja menutup pintu ganda kamar kalian, menguncinya dengan bunyi klik yang seolah memutus dunia luar—termasuk keberadaan Heeseung.
Jay melepaskan jam tangan mahalnya, matanya tidak lepas darimu yang sedang berdiri di dekat balkon, masih gemetar setelah pertemuan di lobi tadi.
“Kamu masih mikirin dia?” tanya Jay. Suaranya rendah, tidak lagi tenang seperti di depan tamu tadi, melainkan menuntut.
Kamu menoleh, matamu bertemu dengan miliknya yang penuh obsesi. “Aku cuma... nggak nyangka dia bakal datang sampai ke sini, Jay.”
Jay melangkah mendekat, langkahnya pelan dan pasti seperti predator yang sedang memojokkan mangsanya. Dia merengkuh pinggangmu, menarikmu hingga tidak ada jarak di antara kalian. Tangannya yang hangat masuk ke balik rambutmu, memaksa kepalamu untuk mendongak menatapnya.
“Dia datang cuma minta bantuan ke aku, Sayang. Dia pengen aku mencarikan ‘tunangannya’,” Jay tertawa sinis, lalu menciumi garis lehermu dengan kasar, menandai kembali kulit yang sudah ia klaim berkali-kali. “Dia nggak tahu kalau tunangannya sudah tidur di ranjangku selama berbulan-bulan.”
Jay mengangkatmu dengan satu gerakan mudah, membawamu ke ranjang besar yang menghadap ke arah cakrawala kota. Dia menindihmu, menatapmu dengan pemujaan yang hampir terlihat gila.
“Jangan pernah kasihan padanya,” bisik Jay tepat di depan bibirmu. “Dia punya enam tahun bersamamu dan dia gagal buat jaga itu. Aku punya satu malam dan aku menjadikanmu istriku. Kamu itu milikku sekarang, luar dan dalam. Ingat itu setiap kali kamu menyebut namaku malam ini.”
Malam itu, di bawah kemewahan yang tidak pernah Heeseung berikan, Jay membuktikan sekali lagi kenapa dia yang menang. Di setiap sentuhan yang intens, di setiap lenguhan yang Jay paksa keluar dari bibirmu, dia sedang menghapus sisa-sisa enam tahun masa lalumu.
Di bawah sana, Heeseung meratapi apa yang hilang. Di atas sini, Jay merayakan apa yang telah ia menangkan. Dan kamu? Kamu akhirnya belajar bahwa dicintai dengan cara yang sedikit “berbahaya” jauh lebih baik daripada tidak dipedulikan sama sekali.
❤️🩹
-The End-




