Satu bulan terakhir, rutinitasmu berubah total. Buku sejarah yang membosankan itu kini hanya jadi sandaran ponsel saatlayar menampilkan Jay di ujung sana. Setiap malam, setelah memastikan pintu kamarmu terkunci, duniamu berpindahke kabin sempit di tengah samudra.
Kamu sudah terbiasa dengan permintaan “nakal”-nya. “Buka kancing paling atasmu, Sayang,” atau “Aku mau lihat jarimumain di sana sambil sebut namaku.” Kamu tidak pernah menolak. Ada rasa candu saat melihat pria setangguh Jay mengerang frustrasi di layar karena tidak bisa menyentuhmu langsung.
Kamu menikmati setiap detailnya-bagaimana ia memintamu mengarahkan kamera lebih dekat ke area basahmu, atausaat ia memaksamu melakukan dirty talk hingga kamu sendiri banjir oleh gairahmu sendiri. Bagimu, menjadi satu-satunya pelampiasan pria sehebat dia adalah sebuah validasi yang tak ternilai.
Namun, rencana pertemuan itu sempat gantung. Jay mengabarimu bahwa ada masalah internal di baraknya yang membuat izin pesiarnya tertunda satu minggu.
“Sabar ya, Adik Kecil. Aku juga sudah hampir gila menahan ini,” bisiknya dalam satu sesi video call yang sangat vulgar malam itu. Layar menampilkan Jay yang sedang mengocok miliknya dengan kasar, matanya merah menatap lekuk tubuhmu yang polos di depan kamera. “Pas aku sampai sana nanti, jangan harap aku bakal lepasin kamu dalam satujam.”
Penantian itu akhirnya berakhir di hari Jumat yang terik. Karena kamu dilarang keluar saat malam minggu oleh ayahmu, kamu memberikan opsi: jemput di depan sekolah.
Pukul dua siang, saat gerbang sekolah mulai sepi dan siswa-siswi berhamburan pulang, sebuah mobil SUV hitam dengankaca film yang sangat gelap berhenti tepat di seberang gerbang.
“Itu mobil siapa, (y/n)? Jemputan baru?” tanya Isa, yang sedang merapikan tali sepatunya di sampingmu.
Jantungmu berdegup kencang. Kamu mengenali plat nomornya dari foto yang pernah Jay kirim.
“Eh… iya, Sa. Itu… saudaraku.”
“Saudara? Kok mewah banget?” Isa mengernyit, matanya menyelidik.
Kamu tidak menjawab dan langsung berpamitan pada Isa. Kamu berjalan cepat menuju mobil itu. Saat kamu mendekat, pintu penumpang depan terbuka secara otomatis dari dalam. Aroma parfum maskulin yang kuat-campuran kayucendana dan laut-langsung menyergap indramu.
Dari kejauhan, Isa mematung. Dia melihatmu masuk ke dalam mobil asing itu. Namun, yang membuat napasnyatertahan adalah saat sosok dari kursi pengemudi keluar sebentar untuk memastikan pintu penumpang tertutup rapat.
Jay muncul. Dia mengenakan kemeja taktis warna hitam yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan urat-uratmenonjol dan otot lengan yang selama ini hanya kamu lihat lewat layar. Tubuhnya tinggi tegap, rambutnya dipotong rapikhas militer, dan meski wajahnya terhalang kacamata hitam, aura otoritasnya begitu dominan hingga membuat suasanadi sekitar mobil itu terasa berat.
Jay memutari kap mobil dengan langkah tenang namun tegas. Sebelum masuk kembali ke kursi kemudi, ia sempatmenoleh ke arah sekolah-sebuah tatapan tajam yang membuat Isa refleks mundur satu langkah.
Di dalam mobil, suasana mendadak sunyi dan dingin karena AC yang maksimal. Jay belum menjalankan mobilnya. Iamelepas kacamata hitamnya, lalu menoleh padamu. Tatapannya sama seperti di video call: gelap, lapar, dan posesif.
“Lama banget nunggunya,” ucap Jay datar, namun suaranya yang berat terasa menggetarkan dadamu. “Sini.”
Ia tidak menunggu jawabanmu. Tangan besarnya meraih tengkukmu, menarikmu mendekat hingga wajahmu hanyaberjarak beberapa senti dari wajahnya.
“Seragam ini…” Jay mengamati kemeja putihmu dengan seringai tipis. “Kelihatannya jauh lebih menggoda kalau dilihatlangsung daripada lewat layar ponsel. Kamu siap buat janji kita, kan?”
Kamu hanya bisa mengangguk pelan, sementara mobil itu mulai melaju pelan meninggalkan area sekolah, membawarahasia besarmu menjauh dari jangkauan mata Isa.
Mobil SUV itu membelah jalanan kota yang padat. Di dalam kabin yang kedap suara, detak jantungmu sendiri terdengarseperti dentum drum. Bau mobil baru bercampur parfum mahal Jay benar-benar membuatmu pening-pening yang menyenangkan.
“Gimana di kapal kemarin, Bang? Kok bisa sampai ada masalah di barak?” tanyamu memecah keheningan, mencobamengalihkan fokus dari tangan Jay yang kokoh di atas kemudi.
Jay terkekeh rendah, suara beratnya bergetar di sela deru AC. “Biasa, Sayang. Masalah kedisiplinan anggota baru. Namanya juga memimpin banyak kepala di tengah laut, ada saja yang bikin pusing. Tapi yang paling bikin pusing itusebenarnya bukan mereka.
“Terus apa?”
Jay melirikmu sekilas, kacamata hitamnya sudah tersampir di dasbor. Mata elangnya menatapmu tajam. “Kamu. Mikirinkamu yang makin hari makin berani di video call itu jauh lebih menyiksa daripada tugas jaga 24 jam.”
Pipimu memanas. Kamu membuang muka ke arah jendela, tapi tak lama kemudian, kamu merasakan telapak tanganyang hangat dan besar mendarat di paha atasmu. Jarinya mulai bergerak, mengusap perlahan kain rok span abu-abumuyang ketat.
“Bang… ini masih di jalan,” bisikmu lirih, meski kamu justru merapatkan kedua pahamu, menjepit tangannya di sana.
“Kenapa? Nggak ada yang lihat, kaca ini gelap,” balasnya santai. Tangannya mulai nakal, menarik sedikit demi sedikitujung rokmu ke atas, memperlihatkan kulit pahamu yang putih.
“Tanganmu dingin banget, (y/n). Gugup ya ketemu aku beneran?”
“Dikit. Abang beda banget kalau aslinya. Lebih… gede. Lebih serem,” jujurmu.
Jay tertawa, kali ini lebih lepas. “Serem tapi kamu suka, kan? Buktinya pas di telepon kemarin kamu sampai nangispanggil nama aku.”
Tepat saat lampu merah menyala, tangan Jay menyelinap lebih jauh ke paha dalammu, mendekati area sensitif yang hanya tertutup kain tipis celana dalam. Sentuhannya yang berani dan otoritas yang ia tunjukkan membuatmu hampirmendesah. Kamu menggigit bibir bawahmu kuat-kuat, meremas pinggiran jok mobil.
“Jangan di sini, Bang… ah,” rintihmu saat ibu jarinya memberikan tekanan sedikit di sana.
Jay melirik dari ujung matanya, melihatmu yang mulai gelisah di kursi penumpang. Senyum miring tersungging di bibirnya. “Tahan dulu. Kita ke mall dulu ya? Aku mau pamer punya pacar cantik, biar orang-orang iri.”
><
Sesampainya di mall, Jay memarkir mobilnya. Sebelum turun, ia merapikan kerah seragammu yang sedikit berantakan.
“Dengerin ya,” Jay menangkup wajahmu, suaranya kembali ke nada perintah yang dominan. “Di luar sana, kalau adayang tanya atau lihatin, cuek aja. Kalau ada yang berani nanya, bilang aku kakakmu atau om-mu. Tapi di dalam sini,” iamenunjuk dadanya sendiri, “kita tahu kita apa. Jangan lepas dari tanganku, paham?”
“Paham, Bang.”
Kalian berjalan masuk ke mall. Jay menggandeng tanganmu erat, seolah-olah kamu adalah aset paling berharga yang takboleh hilang. Orang-orang yang lewat sesekali melirik-mungkin heran melihat siswi SMA berseragam lengkap jalanberdampingan dengan pria dewasa yang tampak seperti perwira atau pengusaha muda.
“Bang, mau makan apa?” tanyamu sambil berusaha mengimbangi langkah kakinya yang panjang.
“Apa aja, asal kamu yang milih. Aku udah bosen makan makanan kaleng di kapal,” sahutnya sambil mengacak rambutmugemas. “Habis ini aku mau beliin kamu sesuatu. Anggap aja hadiah karena udah jadi ‘anak pintar’ selama aku nggakada.”
Kamu tersenyum manja, menyandarkan kepalamu sejenak di lengan kekarnya yang keras. Di mata dunia, kalian mungkinterlihat tabu, tapi di antara ramainya orang, kamu merasa paling aman berada di bawah bayang-bayang pria ini.
Kamu menarik lengan Jay menuju sebuah restoran Jepang kelas atas yang interiornya didominasi kayu gelap danpencahayaan temaram. Begitu duduk, seorang pelayan dengan sigap memberikan buku menu. Mata kamu membelalakmelihat deretan angka di sana.
“Bang, ini kemahalan deh kayaknya. Kita cari yang lain aja yuk?” bisikmu, merasa tidak enak hati.
Jay malah menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di depan dada hingga otot bisepnya terlihat jelas di balikkemeja hitamnya. “Pilih yang paling mahal sekalian, (y/n). Aku kerja di laut berbulan-bulan itu buat dinikmati barengkamu. Jangan bawel, pesan apa yang kamu pengen.”
Akhirnya kamu menyerah. Kamu memilih beberapa set sushi premium dan wagyu donburi, lalu menawarkannya padaJay. “Ini katanya favorit di sini, Abang mau coba?”
Jay hanya mengangguk pelan tanpa melepas pandangannya darimu. “Boleh. Apa pun yang kamu pilihkan pasti enak.”
Setelah pelayan pergi membawa pesanan, Jay kembali menumpu dagunya dengan tangan, menatapmu intens. “Kamukalau dilihat langsung begini, ternyata jauh lebih cantik. Polos banget mukanya, beda sama pas lagi di layar HP yang nakal banget.”
“Bang Jay! Jangan dibahas di sini!” wajahmu merah padam, refleks menendang pelan kakinya di bawah meja. Jay hanyaterkekeh, suara tawanya rendah dan maskulin, sangat dominan.
Saat makanan datang, kamu mengeluarkan ponsel. “Bang, duduk tegap bentar. Mau aku foto, tapi cuma kelihatantangannya sama bahunya aja ya?”
“Buat apa? Mau dipamerin ke temen sekolahmu?” tanyanya dengan nada menyelidik namun tetap tenang.
“Enggak, buat simpenan di galeri aku aja. Belum berani post,” jawabmu jujur. Jay hanya menurut, ia membiarkanmumengambil beberapa foto soft launch ala remaja masa kini. Baginya, asalkan kamu senang, ia tidak keberatan menjadimodel dadakan.
Setelah makan, Jay benar-benar memanjakanmu. Ia membawamu ke beberapa gerai kosmetik dan toko baju bermerk. Kamu sempat menolak, tapi Jay hanya perlu memberikan satu tatapan otoritasnya agar kamu diam dan menerimasemua belanjaan itu.
Namun, langkah Jay terhenti di depan sebuah toko yang letaknya agak tersembunyi di sudut lantai atas. Kamu melihatlogonya-toko pakaian dalam dan perlengkapan wanita yang sangat terkenal.
“Tunggu di sini sebentar,” perintah Jay singkat. “Makan es krimmu dulu.”
“Eh? Abang mau masuk ke situ sendirian?” kamu melongo.
“Iya. Aku mau beliin sesuatu yang… khusus buat kamu pakai nanti malam,” bisiknya tepat di telingamu, menyisakansensasi merinding di tengkukmu.
Kamu hanya bisa berdiri mematung di luar toko sambil memegang cup es krim stroberi sundae. Es krim itu mulaimencair, tapi kamu terlalu was-was untuk peduli. Kamu bisa melihat dari balik kaca transparan, Jay berdiri dengan gagahdi antara deretan pakaian dalam berbahan renda dan sutra, tampak tidak canggung sama sekali saat berbicara denganpelayan toko.Ia terlihat seperti pria yang sangat tahu apa yang ia inginkan.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Jay keluar dengan sebuah paper bag hitam yang elegan. Kamu ingin bertanya, “Bang, isinya apa?”, tapi melihat tatapan Jay yang kembali menggelap dan penuh rencana, nyalimu menciut.
Jay langsung menggandeng tanganmu erat, menarikmu menuju arah parkiran. “Ayo balik ke mobil. Es krimmu udah mauhabis, kan?”
Kamu hanya mengangguk, jantungmu kembali berpacu. Kamu tahu, kencan di mall ini hanyalah “pemanasan” sebelum Jay menagih janji yang sebenarnya di tempat yang lebih privat.
Begitu pintu mobil tertutup, suasana mendadak sunyi, hanya menyisakan deru halus mesin yang sudah Jay nyalakansejak tadi. Kamu menoleh ke kursi belakang, matanya membelalak melihat deretan kantong belanjaan bermerek yang menumpuk rapi di sana.
“Bang… ini banyak banget,” gumammu, ada rasa senang tapi juga cemas yang menghantui. “Aku pulang bawa inigimana? Ayah sama Ibu pasti curiga kalau aku bawa belanjaan sebanyak ini sekali jalan.”
Jay terkekeh, tangannya masih santai di atas kemudi, matanya menatapmu lewat spion tengah. “Tenang aja, Sayang. Kamu bawa yang penting-penting dulu hari ini. Sisanya biar aku simpan di mobil, besok atau lusa kita ketemu lagi, kamuambil sedikit-sedikit. Masuk akal, kan?”
“Tapi aku jadi nggak enak… Abang keluar uang banyak banget hari ini,” ucapmu sambil menatapnya tulus.
“Udah aku bilang, kan? Jangan bawel kalau soal itu,” Jay memutar tubuhnya menghadapmu, menyandarkan satulengannya di sandaran kepalamu. “Sini.”
Kamu menurut, mendekat ke arahnya. Karena rasa terima kasih yang meluap, kamu memberanikan diri melingkarkanlenganmu ke leher kekarnya, memeluknya erat. “Makasih banyak ya, Bang Jay. Aku seneng banget hari ini.”
Jay tidak melepaskan momen itu. Alih-alih membalas pelukan biasa, ia justru melingkarkan tangannya di pinggangmu, menarik tubuhmu dengan satu gerakan kuat hingga kamu berpindah ke atas pangkuannya. Kamu tersentak, tanganmu refleks bertumpu pada bahunya yang keras. Jay sudah memundurkan kursi kemudinya, memberimu ruang yang cukupluas meski kepalamu hampir menyentuh atap mobil.
“Bang… sempit,” bisikmu, jantungmu berdegup kencang karena posisi yang sangat intim ini.
“Sempit tapi kamu suka, kan?” Jay menatapmu dalam, tangannya mengunci pinggangmu agar kamu tidak beranjak. “Kamu tahu nggak, seharian ini aku harus mati-matian nahan diri buat nggak narik kamu kayak gini di depan umum?”
Napas Jay terasa hangat di wajahmu. Kamu mencoba menunduk, sedikit mundur karena merasa terintimidasi olehtatapan laparnya, tapi tangan besar Jay sudah lebih dulu berpindah ke tengkukmu. Jari-jarinya menyusup di antararambutmu, menahanmu agar tetap di posisinya.
“Jangan ngehindar, (y/n). Lihat aku,” perintahnya rendah, nada otoritas yang selalu membuatmu luluh itu kembalimuncul.
Perlahan, Jay memajukan wajahnya. Kamu memejamkan mata, antara takut tapi juga sangat menginginkannya. Dan saatitu terjadi-bibir Jay menyentuh bibirmu. Lembut pada awalnya, namun segera berubah menjadi tuntutan yang dalam.
Kamu membelalak. Ini adalah ciuman pertamamu. Kamu sempat ingin menghindar karena kaget dengan sensasi asingyang menyerbu indramu, tapi Jay tidak membiarkanmu menjauh. Ciumannya semakin dalam, menuntutmu untukmembalas. Tangan satunya yang tadi di pinggang perlahan turun, meremas paha dalammu yang masih terbalut rok span, memberikan sensasi panas yang menjalar ke seluruh tubuh.
“Mmph… Bang…” kamu melenguh di sela ciuman itu, mulai kehabisan napas karena Jay benar-benar tidak memberikancelah.
Jay sedikit melepaskan pagutan bibirnya hanya untuk berbisik di depan mulutmu, “Napas, Sayang… pinter banget. Terus, balas ciuman aku.”
Kamu yang sudah kehilangan kendali akhirnya mengikuti iramanya. Kamu menyadari bahwa pria di depanmu ini bukan lagi sekadar suara di telepon, melainkan sosok nyata yang kini mengklaim bibirmu dengan cara yang begitu dominan, membuatmu benar-benar merasa menjadi miliknya seutuhnya di dalam mobil yang gelap itu.
Ciuman Jay semakin menuntut, memburu setiap napas yang tersisa di paru-parumu. Di tengah kemelut rasa manis danasing itu, kamu merasakan telapak tangan Jay yang besar mulai merambat naik dari pinggang, berhenti tepat di atasdadamu yang masih terbalut seragam putih ketat.
“Bang… jangan di sini…” gumammu di sela-sela pagutan bibir kalian, suaramu terdengar sangat lemah dan tidakberdaya.
Jay tidak berhenti. Ia justru mempererat remasannya di atas payudaramu, menguleni daging kenyal itu dengan ritmeyang lihai hingga kamu tidak bisa menahan lenguhan panjang. “Mmph… ahh!”
Saat tanganmu bergerak naik untuk menahan pergelangan tangannya, Jay melepaskan ciumannya sejenak. Iamendekatkan bibirnya ke telingamu, membisikkan kata-kata dengan suara serak yang terasa menggetarkan seluruhsarafmu.
“Kenapa ditahan, Sayang? Bukannya kamu suka kalau aku puji kamu ‘anak pintar’?” bisiknya, tangannya kini semakin liar meraba tonjolan di balik bra-mu. “Kamu cantik banget kalau lagi pasrah begini. Lagian, aku sudah jauh-jauh datang darilaut cuma buat kamu. Kamu nggak mau bikin aku bahagia sebentar, ya?”
Kata-kata itu terasa seperti madu yang menjerat. Ada nada manipulatif yang dibalut kelembutan, membuatmu merasabersalah sekaligus terangsang secara bersamaan. Rasa takut untuk membantah perintah perwira di depanmu iniakhirnya meruntuhkan pertahananmu. Kamu membiarkan tanganmu jatuh terkulai di bahunya, matamu terpejam rapatsaat merasakan kancing seragammu dibuka satu per satu dengan gerakan cepat.
“Pinter…” puji Jay lagi.
Ia menyusupkan tangannya ke dalam, menaikkan cup bra-mu hingga tersangkut di tulang selangka, membiarkan dadamu terekspos sepenuhnya di bawah cahaya remang kabin mobil. Jay langsung membenamkan wajahnya di ceruk lehermu, menghirup aroma tubuhmu yang bercampur keringat dan parfum sekolah sambil terus meremas dadamu dengan vulgar.
“Ahhh! Bang Jay… pelan-pelan…” kamu melengkungkan punggung, sensasi kasar dari tangan pria dewasa itu benar-benar berbeda dari apa yang pernah kamu bayangkan.
Jay sudah benar-benar kehilangan kendali. Sambil terus menciumi leher dan dadamu, tangannya yang satu lagi meluncurturun ke bawah rok span abu-abumu. Tanpa ragu, ia menyusupkan jarinya ke balik celana dalammu yang sudah terasa lembap dan banjir. Begitu menyentuh intimu yang sangat sensitif, tubuhmu tersentak hebat di pangkuannya.
“Basah banget, (y/n). Kamu sesuka itu ya disentuh aku?” bisik Jay dengan seringai nakal saat merasakan cairanmu melumasi jarinya.
Klik. Jay memutar kunci dan mematikan mesin mobil. Suasana mendadak hening, hanya menyisakan suara napas kalian yang saling berburu dan gesekan kulit yang memanas. Kamu melihat ke arah jendela dengan panik, dari dalam kamu bisa melihat lampu-lampu parkiran mall yang masih terang, namun kamu tahu kaca film ini sangat gelap. Di luar sana, orang hanya melihat sebuah mobil hitam yang mati, tanpa tahu ada badai gairah yang sedang meledak di dalamnya.
“Jangan lihat ke luar,” Jay menarik dagumu agar kembali menatapnya. Matanya tampak gelap dan lapar. “Fokus ke aku aja. Aku mau kamu ngerasain apa yang selama ini cuma bisa kita obrolin lewat layar.”
To Be Continued






DUHH PENGEN PUNYA LAKI KYK JAYY!!🥺😭💗💍💐
udh ganteng, baik (walau rada manipulatif), kaya, loyal, mapan dan gacor+mantep+enak awww sukaaaaaa!! 🤭😏🤤🥵😻💗💋🫦💃🏻💅🏻
OMEGOT PERS KAH INI