Pagi itu berjalan seperti biasa. Terlalu biasa sampai rasanya malah jadi mengerikan.
Jungwon jemput kamu tepat waktu, kayak hari-hari sebelumnya. Mobilnya bersih, wangi musk dari parfumnya masih sama, dan musik lo-fi diputar pelan dari head unit. Dia fokus ke jalan, nggak ada sisa-sisa kejadian di taman kota semalam di wajahnya. Nggak ada ragu, nggak ada canggung. Cowok itu kelihatan fine-fine aja.
Seolah semalam cuma hari Minggu yang lewat gitu aja. Seolah bibir kalian nggak pernah ketemu di bawah remang lampu jalanan.
“Kelas jam delapan, kan?” tanya Jungwon tanpa nengok, tangannya stabil di setir.
“Iya,” jawabmu singkat. Kamu bahkan nggak sanggup buat nambahin kalimat lain.
Hening langsung ngambil alih sisa perjalanan. Bukan hening yang bikin tenang, tapi hening yang pekak. Rasanya kayak kalian berdua lagi megang gelas yang retak parah, dan kalau salah gerak dikit aja, air di dalamnya bakal tumpah berantakan.
Kamu sempat melirik dia dari sudut mata. Ekspresinya tenang banget—terlalu tenang—sampai bikin dadamu terasa makin sesak. Kamu jadi benci fakta kalau dia jago banget akting.
Sampai di depan fakultas, Jungwon turun. Dia nganter kamu sampai lobi, batas yang selama ini jadi “garis aman” kalian.
“Belajar yang bener, Cil,” katanya ringan, terus tangannya mendarat di kepalamu, ngacak rambutmu pelan.
Gestur itu otomatis. Familiar. Aman. Tapi pagi ini, sentuhan itu rasanya kayak luka yang disiram alkohol. Perih.
“Jangan banyak bengong. Otak lo udah dikit, jangan makin kosong,” tambahnya sambil nyengir tipis.
Kamu maksa senyum, meski rasanya kaku banget. “Iya, bawel.”
Jungwon balas senyum—senyum yang sama kayak sebelum semuanya jadi rumit. Terus dia balik badan, jalan ngejauh tanpa nengok lagi. Sementara kamu masih berdiri di sana, sendirian, merasa jadi satu-satunya orang yang masih terjebak di sisa malam tadi.
“Eh, (y/n)!”
Suara Minju membuyarkan lamunanmu. Cewek itu mendekat dengan langkah ceria. Matanya sempat ngikutin punggung Jungwon yang makin menjauh. Ada kilat singkat di matanya—kayak perih yang tertahan—tapi langsung dia tutup pakai tawa kecil.
“Rajin bener deh Jungwon. Antar-jemput terus,” canda Minju, nadanya sok asik. “Bisa-bisa anak fakultas lain iri semua sama lo.”
Kamu ketawa, tapi kedengaran buru-buru. “Halah, udah biasa kali, Nju.”
“Iya sih,” Minju mengangguk pelan, berusaha kelihatan santai. “Kalian kan emang udah kayak paket lengkap. Gak terpisahkan.”
Kata ‘paket’ itu ngehantam kamu lebih keras dari apa pun.
Kamu merasa bersalah. Parah. Bukan karena ada yang nuntut, tapi karena kamu tahu Minju diam-diam naruh rasa sama Jungwon. Dan Jungwon semalam baru aja nyium kamu. Di depan Minju yang nggak tahu apa-apa ini, kamu merasa kayak pengkhianat.
“Yuk masuk, entar telat lagi kita,” Minju narik lenganmu. Kamu cuma bisa ngikutin, bawa beban di dada yang makin hari makin berat.
Di sisi lain kampus, begitu pintu mobil tertutup rapat, Jungwon langsung buang napas kasar. Bahunya luruh. Topeng “tenang” yang dia pakai sejak pagi akhirnya retak juga.
“Anjing,” gumamnya pelan. Dia nyenderin kepala ke setir.
Pagi ini berat banget. Ternyata pura-pura gak terjadi apa-apa itu jauh lebih capek daripada lari maraton.
Dia tahu kamu tadi diem bukan karena ngantuk. Jungwon hafal semua jenis diem kamu—diemnya kamu kalau lagi laper, kalau lagi bete, atau kalau lagi males belajar. Tapi yang tadi itu beda. Diem yang tadi itu... penuh. Dan itu bikin rasa bersalahnya makin numpuk.
Pas lagi jalan ke kelas, suara berat Riki manggil dia.
“Won! Woi!” Riki nyusul sambil ngerangkul bahu Jungwon. “Muka lo kenapa ditekuk gitu? Kayak abis nelen paku, asli.”
“Apaan sih, Ki. Biasa aja,” Jungwon nepis tangan Riki, tapi langkahnya tetep gontai.
Riki berhenti, natap Jungwon curiga. “Lo tuh jarang bohong yang pinter, Won. Kalau lo bilang ‘biasa aja’, itu artinya dunia lo lagi nggak baik-baik aja.”
Jungwon diem. Dia nggak bisa ngelak kalau udah dikonfrontasi Riki. Mereka jalan ke kelas bareng, dan buat pertama kalinya, Jungwon nggak dengerin ocehan Riki soal game atau cewek.
Pikirannya cuma satu:
Kalau gue terus-terusan akting kayak gini, apa perasaan ini bakal hilang sendiri, atau justru bakal meledak di waktu yang paling salah?
Hari-hari setelah itu berubah jadi pola yang rapi banget. Saking rapinya, malah kerasa palsu.
Di kelas, kamu duduk natap papan tulis, tapi pikiranmu terbang ke mana-mana. Kamu bisa nyatet materi lengkap, tapi kalau ditanya dosen, kamu cuma bisa bengong. Minju tetep duduk di sebelahmu, sesekali bisik-bisik soal Jungwon.
“Eh, (y/n), liat deh. Jungwon pake jaket denim itu lagi. Ganteng banget nggak sih?” bisik Minju suatu sore.
Kamu menoleh, natap dia lamat-lamat. “Lo... beneran perhatiin dia sedetail itu ya?”
“Ya iyalah,” jawab Minju santai, matanya berbinar. “Gimana nggak perhatiin kalau orangnya sesempurna itu?”
Setiap kali Minju muji Jungwon, rasanya ada kerikil yang nyangkut di tenggorokanmu. Kamu cuma bisa diem. Merasa berdosa.
Sementara itu, Jungwon juga makin tertutup. Riki yang biasanya berisik pun mulai capek nanya.
“Kadang ya, Won... yang bikin ribet itu bukan situasinya,” kata Riki pas mereka lagi di kantin. “Tapi otak lo sendiri yang kebanyakan simulasi. Maju ya maju, mundur ya mundur. Jangan stuck di tengah kayak orang bego.”
Kalimat Riki itu terngiang-ngiang terus di kepala Jungwon.
Suatu malam, berbulan-bulan setelah kejadian itu.
Jungwon duduk sendirian di kamar yang gelap. Cuma ada cahaya dari layar HP-nya. Dia buka ruang obrolan kalian. Jempolnya ngetik sesuatu.
“ Lo pernah kepikiran nggak soal malam itu?”
Dihapus.
Dia ngetik lagi.
“Sebenernya gue bohong kalau bilang itu nggak sengaja...”
Dihapus lagi.
Dia frustrasi, lempar HP-nya ke kasur, terus diambil lagi. Dia pengen jujur, tapi dia takut. Takut kalau dia jujur, dia bakal kehilangan “zona aman” yang selama ini kalian bangun.
Akhirnya, layar HP itu balik kosong.
Malam itu, kayak malam-malam sebelumnya, Jungwon milih buat nggak ngirim apa-apa. Dia milih buat melihara kebohongan, daripada harus menghadapi kejujuran yang mungkin bakal ngerusak segalanya.
Di dua tempat berbeda, kamu dan Jungwon sama-sama natap langit-langit kamar. Menjalani hidup yang kelihatannya maju, padahal hati kalian masih ketinggalan di satu malam yang nggak pernah bener-bener kalian bahas.
💋
Malam Minggu itu harusnya jadi waktu buatmu bersembunyi. Kamu mengunci diri, mengabaikan setiap notifikasi yang masuk, terutama dari Jungwon. Kamu butuh waktu buat menata hati yang berantakan karena permintaan Minju dan pengakuan tiba-tiba dari Jungwon di mall kemarin.
Tapi ternyata, semesta nggak membiarkanmu lari.
Suara pintu apartemenmu terbuka kasar—kamu lupa mengunci pintu utama karena terlalu kalut. Langkah kaki yang berat dan terseret itu terdengar mendekat ke arah kamar. Sebelum kamu sempat berdiri dari kursi depan jendela, sosok itu sudah ada di sana.
Jungwon.
Dia berdiri di ambang pintu dengan keadaan yang belum pernah kamu lihat sebelumnya. Rambutnya berantakan, kemejanya kusut, dan matanya merah, redup, serta sayu. Dia kelihatan hancur. Begitu dia melangkah mendekat, bau alkohol yang tajam langsung menusuk indra penciumanmu.
“Jungwon? Kamu mabuk?” suaramu bergetar.
Dia nggak menjawab. Tanpa aba-aba, Jungwon menerjangmu, melingkarkan lengannya di pinggangmu dan menenggelamkan wajahnya di ceruk lehermu. Pelukannya begitu kuat, begitu menuntut, sampai keseimbanganmu goyah.
Kalian berdua jatuh ke atas ranjang dengan posisi yang sangat intim, tubuh berat Jungwon menekanmu sepenuhnya ke kasur, mengunci pergerakanmu.
“Gue kangen sama lo... kangen banget sampai mau mati rasanya,” bisik Jungwon parau. Suaranya pecah, penuh dengan keputusasaan yang selama ini dia pendam di balik wajah datarnya.
“Won, jangan gini... lo nggak sadar. Besok Minju mau—”
“Gak peduli. Gue gak peduli soal Minju, soal siapa pun,” potongnya kasar. Dia makin mengeratkan pelukannya, seolah takut kalau dia melonggarkan jari-jarinya barang satu senti saja, kamu bakal hilang.
“Jangan suruh gue pergi lagi. Gue capek akting, (y/n). Gue capek pura-pura gak punya rasa tiap liat lo di depan mata gue.”
Dadamu terasa sesak. Kamu menatap matanya yang sayu, mencari setitik kewarasan di sana. Sebelum semuanya terlambat, sebelum besok menjadi hari yang menghancurkan Minju, kamu harus memastikan satu hal.
“Won, dengerin gue,” bisikmu, tanganmu gemetar memegang rahangnya. “Kalau malam ini kita lanjutin... nggak akan ada jalan pulang. Besok nggak akan pernah sama lagi. Persahabatan kita, Minju, semuanya bakal hancur. Lo yakin?”
Jungwon menatapmu dalam, tatapannya kini berubah dari putus asa menjadi pemujaan yang gelap. “Biarin hancur. Asal gue sama lo.”
Tanpa menunggu jawaban lagi, Jungwon membungkam bibirmu. Ciuman itu tidak lembut; itu adalah ciuman penuh rasa lapar, sebuah pelepasan dari rasa haus yang dia tahan berbulan-bulan. Lidahnya memaksa masuk, membelit lidahmu dengan dominasi yang membuatmu kehilangan napas.
Tangannya yang besar mulai menjelajah, menarik kaos yang kamu kenakan hingga terlepas, membiarkan kulitmu bersentuhan langsung dengan kulitnya yang panas. Jungwon merunduk, memberikan kecupan-kecupan basah dan gigitan kecil di sepanjang leher dan tulang selangkamu, meninggalkan tanda kepemilikan yang besok tak akan bisa kamu sembunyikan.
“Lo punya gue, (y/n). Cuma punya gue,” geramnya di depan dadamu.
Sentuhannya beralih ke bawah, membuka rintangan terakhir di antara kalian dengan gerakan yang terburu-buru namun pasti. Saat dia akhirnya menyatu denganmu, kamu tidak bisa menahan pekikan pelan yang segera diredam oleh ciumannya lagi. Rasanya penuh, panas, dan luar biasa intens.
Jungwon bergerak dengan ritme yang dalam dan konstan, setiap hentakannya seolah membawa pesan betapa dia sangat mendambakanmu (yearning).
Desahanmu pecah di udara kamar yang dingin, bersahutan dengan napasnya yang memburu. Tangannya menangkup wajahmu, memaksamu untuk terus menatap matanya saat dia membawamu menuju puncak.
“Liat gue... jangan merem,” bisiknya rendah, suaranya sangat deep.
Ruangan itu dipenuhi suara gesekan kulit dan desahan pemujaan. Jungwon mempercepat temponya, otot-otot punggungnya menegang hebat saat dia mencapai batasnya. Kamu pun merasakan gelombang kenikmatan yang sama menghantammu, membuat tubuhmu melengkung dan mencengkeram bahunya kuat-kuat.
Malam itu, di bawah remang lampu kamar, semua rahasia pecah. Jungwon melepaskan segalanya di dalam dirimu—rasa bersalahnya, cintanya, dan obsesinya yang selama ini dia kunci rapat. Besok mungkin akan menjadi badai, tapi malam ini, bagi Jungwon, dunia cuma berisi kamu dan napasmu yang tersenggal di bawah dekapannya.
💋
Pagi itu datang tanpa permisi. Cahaya matahari yang masuk dari celah gorden terasa terlalu terang, seolah memaksa kamu untuk bangun dan menghadapi kenyataan yang sudah bergeser porosnya.
Kamu terbangun dengan rasa berat di bagian pinggang. Begitu membuka mata, pemandangan pertama yang menyambutmu adalah bahu lebar Jungwon yang polos di pantulan cermin lemarimu, tanpa sehelai benang pun. Dia masih tertidur pulas, wajahnya tertutup rambutmu sedikit, tapi tangannya masih posesif melingkar di perutmu, seolah bahkan dalam tidurnya pun dia takut kamu bakal lari.
Bau alkohol semalam sudah memudar, berganti dengan aroma tubuh Jungwon yang khas—maskulin dan hangat—bercampur dengan sisa-sisa pergulatan panas kalian semalam.
Kamu menoleh kebelakang. Ingatan tentang desahannya, cara dia memuja setiap inci kulitmu, dan tatapan matanya yang gelap penuh obsesi mendadak berputar di kepalamu. Kamu menyentuh bibirmu yang terasa sedikit bengkak. Ini nyata. Semuanya benar-benar terjadi.
Jungwon bergerak sedikit, lalu perlahan membuka matanya. Begitu tatapan kalian bertemu, nggak ada lagi Jungwon yang dingin atau datar. Matanya jernih, meski sisa kelelahan masih ada di sana.
“Pagi,” suaranya serak khas orang bangun tidur, sangat deep dan sukses bikin bulu kudukmu merinding.
Kamu diam, nggak tahu harus jawab apa. Rasa lega karena akhirnya memiliki dia bertabrakan dengan rasa pahit karena tahu cara kalian memulai ini sangatlah salah.
Kamu bergerak sedikit, mencoba melepaskan diri, tapi Jungwon justru mengerang rendah. Dia malah makin mempererat dekapannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu sambil menghirup menghirup aromamu lama, seolah itu adalah oksigen yang dia butuhkan buat bertahan hidup.
“Jangan gerak,” bisiknya, suaranya parau banget khas bangun tidur. “Bentar lagi aja.”
Kamu memejamkan mata, menikmati sensasi bibirnya yang sesekali menyentuh kulit bahumu. “Won... kita harus bangun. Ini udah siang.”
“Gue nggak peduli,” gumamnya. Dia mulai memberikan kecupan-kecupan kecil di sepanjang garis rahangmu, membuat fokusmu buyar seketika.
Tapi, pikiran tentang Minju mendadak muncul kayak duri. Kamu teringat kalau hari ini cewek itu mau confess. Kamu teringat betapa antusiasnya Minju kemarin di mall. Rasa bersalah itu mendadak bikin suhu tubuhmu mendingin.
“Won, berhenti,” katamu, kali ini lebih tegas. Kamu berbalik posisi jadi menghadap dia, membuat jarak beberapa senti di antara wajah kalian. “Kita nggak bisa kayak gini terus. Semalam itu... lo cuma mabuk, kan?”
Mata Jungwon yang tadinya sayu langsung terbuka lebar. Tatapannya berubah tajam, seolah baru aja disiram air es. “Lo pikir gue se-enggak tahu diri itu buat ngelakuin semua ini cuma karena alkohol?”
“Terus apa?” suaramu mulai bergetar. “Lo tahu Minju nungguin lo hari ini. Lo tahu dia mau ngomong apa ke lo. Kalau lo kayak gini, terus gimana sama dia? Gimana kalau dia tahu kita—”
“Gue nggak mabuk-mabuk banget semalam,” bisiknya tiba-tiba.
Kamu tersentak pelan. “Maksudnya?”
Jungwon menjauhkan wajahnya sedikit, menatapmu lurus. “Gue tahu apa yang gue lakuin. Gue tahu apa yang gue omongin. Alkohol cuma alat biar gue punya nyali buat ngerusak ‘tembok’ yang kita bangun sendiri.”
Tangannya naik, mengelus pipimu dengan ibu jarinya. “Gue ingat tiap inci lo semalam, (y/n). Dan gue nggak nyesel. Sama sekali nggak.”
Matamu memanas. “Won, tapi besok... orang-orang bakal tahu. Minju bakal—”
“Sshhh.”
CUP.
Jungwon nggak membiarkanmu menyelesaikan kalimat itu. Dia membungkam bibirmu dengan ciuman yang dalam dan sedikit kasar, seolah dia sedang menghukummu karena menyebut nama orang lain di momen mereka. Ciuman itu terasa seperti klaim—panas, posesif, dan penuh dominasi.
Dia baru melepasnya setelah kamu kehabisan napas, tapi dia nggak menjauhkan wajahnya. Hidung kalian bersentuhan.
“Bisa nggak, jangan bahas dia?” geram Jungwon rendah. Tangannya naik, mencengkeram rahangmu pelan, memaksamu menatap matanya yang gelap karena emosi.
“Gue capek, (y/n). Gue capek liat lo pura-pura jadi makcomblang buat gue sama orang lain, padahal lo sendiri nangis pas gue peluk.”
“Jadi apa, Won? What are we?” tantangmu, air mata akhirnya jatuh juga. “Jangan biarin gue ngerasa kayak simpanan atau pelarian lo dari rasa bosan.”
Jungwon tertegun liat air matamu. Tatapan tajamnya melunak, berubah jadi pemujaan yang penuh luka. Dia mengusap air matamu pakai ibu jarinya, gerakannya lembut banget, kontras sama gertakannya tadi.
“Simpanan?” dia ketawa kecil, tapi suaranya pecah. “Mana ada simpanan yang gue puja kayak gini setiap malam dalam pikiran gue?”
Jungwon narik napas panjang, menempelkan keningnya ke keningmu.
“Dengerin gue. Semalam itu bukan kesalahan. Itu keputusan paling sadar yang pernah gue buat seumur hidup gue. Gue sayang sama lo—bukan sebagai temen, bukan sebagai ‘paket’ yang orang-orang bilang. Gue sayang lo sebagai cewek yang pengen gue milikin seutuhnya.”
Dia mencium keningmu lama banget. “Nggak ada Minju, nggak ada siapa pun. Cuma ada lo. Hari ini gue bakal temuin dia, gue bakal selesaiin semuanya. Gue nggak mau kasih dia harapan lagi karena hati gue udah nggak punya sisa buat siapa-siapa selain lo.”
Dia natap kamu lagi, kali ini lebih intens. “Lo cewek gue sekarang. Nggak ada tapi-tapian. Paham?”
Kamu cuma bisa ngangguk pelan, nenggelamin wajahmu di dadanya. Lega? Iya. Tapi rasa pahit itu tetap ada. Kamu tahu mulai hari ini, duniamu nggak akan pernah sama lagi. Kamu baru saja mendapatkan cinta yang kamu mau, dengan harga sebuah pengkhianatan yang paling nyata.
“Jangan sebut nama orang lain sekarang, okay?,” gumamnya di depan bibirmu. “Biarin kayak gini sebentar lagi. Gue pengen ngerasain lo sebagai milik gue tanpa ada bayang-bayang siapa pun.”
Jungwon meluk lo makin erat, seolah dia nggak bakal biarin satu pun beban dunia nyentuh lo lagi. “Udah, jangan nangis. Mending sekarang... lo fokus sama gue aja.”
Dan dia kembali menciummu, kali ini lebih lembut, seolah ingin menghapus semua keraguan yang tersisa di kepalamu.
💋
Pagi itu nggak berakhir dengan cepat. Jungwon benar-benar membuktikan ucapannya kalau dia nggak bakal membiarkan kamu lepas begitu saja. Dia seolah ingin menghapus jejak air matamu tadi dengan ciuman-ciuman baru yang jauh lebih dalam, lebih lambat, dan terasa seperti sebuah pengabdian.
Kamu sempat terbuai, melupakan sejenak kalau di luar sana ada Minju yang mungkin sedang bercermin, memoles lip tint, dan tersenyum membayangkan pertemuan dengan Jungwon.
Tapi akhirnya, waktu memaksa kalian bergerak.
Kamu duduk di pinggir ranjang, memperhatikan Jungwon yang sedang membetulkan kemejanya di depan cermin. Dia kelihatan jauh lebih segar, aura “berantakan” semalam sudah hilang, digantikan dengan ketegasan yang bikin dia kelihatan berkali-kali lipat lebih ganteng, tapi juga lebih mengintimidasi.
Begitu selesai, dia nggak langsung pergi. Dia balik badan, nyamperin kamu, terus berlutut di depanmu biar tinggi kalian sejajar. Dia genggam kedua tanganmu.
“Gue berangkat sekarang,” katanya pelan.
Kamu menggigit bibir bawahmu. “Won... kalau dia nangis, gimana?”
Jungwon menghela napas, dia mengecup punggung tanganmu lama.
“Itu risiko yang harus gue ambil karena udah membiarkan ini terlalu lama. Lebih baik dia nangis sekarang daripada gue terus-terusan bohong dan bikin dia makin hancur nantinya.”
Dia berdiri, lalu mengecup keningmu sekali lagi—lama dan penuh perasaan. “Tunggu di sini. Jangan ke kampus dulu kalau lo belum siap. Gue bakal selesaiin ini secepatnya, terus gue balik lagi ke sini.
Kamu cuma bisa mengangguk lemah, melepas punggungnya yang menghilang di balik pintu apartemen.
POV JUNGWON (Di Kampus)
Begitu sampai di kampus, atmosfernya langsung terasa beda buat Jungwon. Tiap kali dia melihat lobi fakultasmu, yang dia lihat bukan lagi tempat nongkrong biasa, tapi tempat di mana dia selama ini selalu pura-pura jadi “sahabat yang baik”.
Dia melihat Minju di taman tengah. Cewek itu beneran cantik hari ini. Dia pakai dress bunga-bunga kecil yang manis, tangannya memegang kotak kado kecil dengan pita merah. Begitu melihat Jungwon, mata Minju langsung berbinar.
“Won! Sini!” panggilnya ceria.
Jungwon melangkah mendekat. Setiap langkahnya terasa berat, tapi hatinya mantap. Dia sudah memilih pelabuhannya semalam, dan itu bukan Minju.
“Ada yang mau gue omongin, Won,” kata Minju cepat, wajahnya memerah.
“Gue... gue sebenernya—”
“Nju,” potong Jungwon. Suaranya datar, tanpa emosi, tapi nggak dingin. Dia cuma ingin menghentikan ini sebelum Minju melangkah terlalu jauh.
“Gue tahu apa yang mau lo omongin.”
Minju tertegun, kalimatnya tertahan di ujung lidah. “Eh? Lo... lo tahu?”
“Gue nggak bisa, Nju. Maaf.”
Dunia seolah berhenti buat Minju. Kotak di tangannya gemetar. “Kenapa? Gue... gue kurang apa? Kita selama ini bareng-bareng terus, lo juga baik banget ke gue.”
Jungwon menatap lurus ke mata Minju. “Gue baik ke lo karena lo temennya (y/n). Gue jalan sama lo karena itu satu-satunya cara gue bisa tetep deket sama dia tanpa harus dicurigai siapa pun.”
Kalimat itu jauh lebih kejam dari sekadar penolakan. Jungwon secara nggak langsung bilang kalau Minju hanyalah “jembatan”.
Minju diam seribu bahasa. Dia menatap Jungwon lama, mencari celah kalau-kalau cowok ini cuma bercanda. Tapi yang dia temukan adalah sorot mata Jungwon yang sangat puas dan lega—sorot mata orang yang akhirnya sudah menemukan rumahnya.
Minju tertawa sumbang, air matanya jatuh tanpa permisi. “Jadi... selama ini (y/n)? Sahabat lo sendiri?”
Jungwon nggak menjawab. Tapi diamnya Jungwon adalah konfirmasi yang paling nyata.
“Pantesan,” bisik Minju pahit. Dia melihat tanda merah kecil yang sedikit mengintip di balik kerah kemeja Jungwon, tanda yang kamu buat semalam dalam puncak gairah. Minju bukan orang bodoh. Dia tahu apa yang terjadi antara kalian.
“Pantesan pagi ini lo kelihatan beda banget.”
Minju mundur dua langkah. Dia nggak marah-marah, dia nggak maki-maki. Dia cuma kelihatan hancur sehancur-hancurnya.
“Gue ngerasa kayak orang paling bego di dunia, Won. Makasih ya, udah jujur.”
Cewek itu balik badan dan lari, meninggalkan hadiahnya tergeletak di rumput.
Jungwon menarik napas panjang, menatap langit kampus yang cerah. Dia merasa brengsek? Sedikit. Tapi rasa leganya jauh lebih besar. Dia langsung merogoh ponselnya, mengetik pesan buat kamu.
Jungwon: Udah beres. Gue balik ke lo sekarang. Jangan ke mana-mana, My Love🤍
-THE END-



