bahasanya formal-informal ya guys, baku non-baku...
kalau ga nyaman gausah diterusin baca gapapa
jangan lupa tinggalkan jejak
Cahaya matahari pagi yang pucat merayap perlahan menembus celah tirai abu-abu tebal, memotong kegelapan kamar tidur dengan garis-garis silau yang menusuk mata. Sensasi berdenyut di pelipismu terasa luar biasa tajam. Efek alkohol semalam menyisakan rasa mual yang tertahan di pangkal tenggorokan dan kekeringan yang membakar lidah. Kelopak matamu perlahan terbuka, mengerjap perih saat pandanganmu bertumbuk pada dinding marmer putih di hadapanmu. Kamu masih berada di posisi yang sama seperti saat kamu tertidur—memunggungi sisi lain ranjang.
Namun, ruang di belakangmu sudah dingin.
Tidak ada kehangatan tubuh lain. Begitu kamu membalikkan badan dengan gerak lambat dan menahan nyeri di sekujur persendian, sisi ranjang tempat Jay berbaring semalam sudah rapi tanpa kerutan. Pria itu selalu bangun jauh sebelum matahari terbit, seolah keberadaannya di ranjang yang sama denganmu adalah sebuah pelanggaran tak tertulis yang harus segera ia hapus jejaknya.
Di atas nakas di samping tempat tidurmu, sebuah pemandangan yang sudah menjadi rutinitas selama lima tahun kembali tersaji, segelas air mineral bersuhu ruangan, dua butir obat pereda nyeri kepala, dan secangkir teh madu lemon hangat yang uapnya masih mengepul tipis. Di samping cangkir itu, tergeletak ponselmu yang sudah terhubung ke kabel pengisi daya, lengkap dengan layar bersih tanpa noda sidik jari kotor dari semalam.
Kamu menatap benda-benda itu dengan tatapan dingin dan mencemooh. Sebuah dengusan sinis lolos dari bibirmu.
Selalu begini.
Jay dengan kesabarannya yang menjijikkan. Jay dengan pelayanannya yang tanpa cela. Sikap patuh yang selalu berhasil membuatmu merasa seperti monster arogan yang tak punya hati—dan sialnya, itu justru membuatmu ingin menginjak-injak harga dirinya lebih dalam lagi untuk membuktikan bahwa dia tidak sebaik itu.
Menyingkirkan selimut tebal dengan kasar, kamu bangkit berdiri. Gaun tidur sutra hitam yang ia pakaikan semalam meluncur pas di tubuhmu, bersih tanpa ada setetes pun noda gairah kacau semalam. Jejak kemerahan samar di leher dan bahumu adalah satu-satunya bukti fisik dari apa yang terjadi di sofa ruang tamu beberapa jam lalu.
Kamu melangkah keluar kamar tanpa alas kaki. Aroma kopi hitam yang pekat dan roti panggang langsung menyapa indra penciumanmu saat kakimu menapaki koridor menuju dapur terbuka berkonsep minimalis itu.
Jay berdiri di balik meja dapur marmer hitam, mengenakan kemeja putih berpotongan bersih dengan lengan yang digulung rapi hingga siku. Celana kain hitamnya disetrika sempurna, dan rambutnya sudah ditata rapi—sepenuhnya menjelma menjadi sosok pria terhormat, penerus keluarga konglomerat, dan sarjana berprestasi yang dingin di mata publik. Tidak ada sedikit pun sisa dari pria yang semalam terengah-engah di bawah kendalimu, pria yang pasrah kamu gunakan dan kamu perintahkan sesuka hati.
Mendengar langkah kakimu, Jay menoleh. Matanya yang tajam menatapmu sekilas—hanya satu detik—tanpa emosi, tanpa tuntutan, dan tanpa bayang-bayang peristiwa semalam. Lingkaran hitam tipis di bawah matanya adalah satu-satunya pengkhianat yang menunjukkan betapa pria itu tidak tidur semenit pun.
“Sarapan sudah siap,” ucap Jay datar, suaranya tenang dan teratur seperti seorang pelayan profesional yang terlatih. Ia meletakkan sepiring telur mata sapi setengah matang dan roti panggang di atas meja konter.
Kamu berjalan mendekat, menyandarkan pinggulmu ke meja dapur tepat di sampingnya, melipat kedua tangan di dada. Matamu memicing, meneliti wajahnya yang tanpa ekspresi dengan arogansi yang kembali menguasai seluruh dirimu. “Siapa yang suruh kamu masak?” tanyamu ketus, mengangkat dagumu angkuh. “Aku nggak minta.”
Jay menuangkan kopi hitam ke dalam cangkir keramiknya sendiri tanpa mengubah ritme gerakannya. “Kamu harus minum obat setelah makan. Lambungmu sensitif terhadap alkohol.”
“Jangan sok mengatur hidup aku, Jay,” desismu tajam, memotong kalimatnya dengan nada merendahkan. Kamu melangkah selangkah lebih dekat, memaksa Jay untuk menatapmu. “Apa kamu pikir setelah semalam, kamu punya hak untuk bersikap seperti suamiku?”
Jay terdiam selama dua detik. Ia meletakkan teko kopi ke atas tatakan dengan suara klik yang sangat pelan. Ketika matanya kembali menatap lurus ke dalam pupil matamu, tatapan itu begitu dalam, namun anehnya hampa—sebuah benteng pertahanan yang ia bangun dari ribuan pecahan hatinya sendiri.
“Tidak,” jawab Jay parau namun tegas. “Aku tahu posisiku. Dan aku tidak pernah berniat melewati batas itu.”
Jawaban yang begitu patuh dan datar itu justru terasa seperti tamparan yang membakar egomu. Kamu ingin dia marah. Kamu ingin dia membentakmu, memaki caramu memperlakukannya, atau menuntut cinta yang tidak pernah kamu berikan. Tapi Jay tidak pernah memberimu kepuasan itu. Dia memilih menelan seluruh racun yang kamu muntahkan, menguncinya di balik kepalanya yang tertunduk.
Ponselmu di atas konter tiba-tiba bergetar dan menyala, menampilkan pesan masuk dari sebuah nama pria asing—salah satu teman pesta yang kamu temui semalam di klub malam.
‘Hei, (Y/N). Semalam seru banget. Kamu pulang sama siapa? Malam ini mau lanjut minum di lounge biasa?’
Matamu melirik layar itu, lalu dengan sengaja melirik ekspresi Jay untuk melihat reaksinya. Namun, rahang Jay hanya mengeras sepersekian milimeter sebelum ia kembali mengalihkan pandangannya ke cangkir kopinya, menolak untuk menunjukkan kecemburuan yang sedang meremukkan isi dadanya.
“Aku ada janji keluar nanti malam,” katamu sengaja melempar umpan, suaranya dingin dan menusuk. “Mungkin aku nggak akan pulang cepat. Atau... mungkin aku nggak pulang sama sekali.”
Jay meraih cangkir kopinya, menyesap cairan hitam pahit itu perlahan tanpa membiarkan tangannya bergetar. Rasa getir kopi itu bahkan tidak sebanding dengan rasa pahit di tenggorokannya.
“Terserah kamu,” sahut Jay tenang, meletakkan cangkirnya, lalu menatapmu dengan kepasrahan yang luar biasa dingin. “Hati-hati di jalan. Jangan lupa bawa kunci cadanganmu.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Jay berbalik, mengambil tas kerjanya di atas sofa, dan melangkah menuju pintu keluar apartemen tanpa menoleh ke belakang sekali pun.
Bunyi pintu yang tertutup rapat meninggalkanmu sendirian di dapur yang luas dan senyap, berhadapan dengan sarapan hangat yang perlahan mendingin dan kekosongan di dadamu yang terasa semakin menganga lebar.
☢
Ruang kerja Jay di lantai tiga puluh delapan gedung korporasi keluarga Park selalu diatur dengan presisi yang kaku. Meja mahoni gelap yang bersih tanpa debu, deretan dokumen analisis investasi yang tersusun rapi menurut skala prioritas, dan jendela kaca masif yang memperlihatkan lanskap metropolitan yang sibuk. Namun di balik keteraturan itu, Jay sedang menenggelamkan dirinya sendiri.
Suara ketukan tuts keyboard mekanik berpadu dengan dengung pendingin ruangan. Jay bahkan tidak menanggalkan jas hitamnya sejak tiba empat jam lalu. Kerah kemeja putihnya sengaja ia kancingkan rapat hingga ke pangkal leher—menutupi bekas gigitan samar dan tanda kemerahan yang tertinggal di tulang selangkanya. Matanya yang merah menatap layar monitor dengan intensitas dingin, menolak memberi celah bagi kepalanya untuk memikirkan pesan teks dari pria asing di ponselmu tadi pagi.
Brak.
Pintu ganda ruangannya terdorong terbuka tanpa ketukan formal.
“Selamat siang, Tuan Direktur yang nggak pernah punya kehidupan sosial.”
Suara ceria yang sedikit melengking itu seketika merusak keheningan ruangan. Yang Jungwon melangkah masuk dengan santai, melemparkan map laporan ke atas sofa kulit sebelum menjatuhkan tubuhnya di sana dengan kedua kaki tersilang di atas meja kopi. Jas formalnya dibiarkan terbuka, dan seringai usil khas adik bungsu tersungging jelas di wajahnya.
Jay bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar. “Ada tombol bel di luar pintumu, Jungwon. Gunakan itu lain kali.”
“Buat apa? Supaya lo punya waktu lima detik buat menyembunyikan wajah lo yang kayak mayat hidup itu?” Jungwon memutar bola matanya, bangkit berdiri lalu berjalan menghampiri meja kerja sang abang.
Tanpa izin, Jungwon menarik kursi di hadapan Jay dan duduk di sana. Matanya yang tajam dan seperti rubah langsung memindai penampilan Jay—mulai dari cangkir espresso ketiga yang sudah kosong, lingkaran hitam di bawah mata, hingga postur tubuh Jay yang tegang seolah siap patah kapan saja.
“Lo nggak tidur lagi,” simpul Jungwon datar, nada bicaranya seketika kehilangan separuh dari keceriaan palsunya.
“Aku banyak pekerjaan. Akuisisi anak perusahaan di sektor logistik butuh—”
“Berhenti omong kosong soal logistik, Bang Jay,” potong Jungwon tajam. Tangannya menopang dagu, menatap Jay lurus-lurus. “(Y/N) pulang jam berapa semalam?”
Tangan Jay yang sedang mengetik terhenti sepersekian detik. Gerakannya sangat halus, hampir tak kentara bagi orang biasa, tetapi Jungwon bukan orang biasa. Di antara seluruh anggota keluarga besar yang hanya peduli pada status aliansi bisnis dan citra pernikahan sempurna mereka di media massa, hanya Jungwon yang tahu persis neraka macam apa yang dijalani Jay di balik pintu penthouse itu.
“Dia pulang dengan selamat. Itu cukup,” jawab Jay dingin, kembali menggerakkan jemarinya di atas keyboard.
Jungwon mendengus pelan, sebuah tawa getir lolos dari bibirnya. “Dengan selamat? Maksud lo, dia pulang dalam keadaan mabuk berat, bikin kekacauan, melampiaskan semuanya ke lo, dan pagi harinya bertingkah seolah lo cuma bayangan nggak berharga di rumah itu? Ah... atau mungkin juga cuma sebagai boneka semuas nafsu?”
“Jungwon.” Suara Jay merendah, memberi peringatan tegas. Rahangnya mengetat keras.
“Gue benar, kan?” Jungwon memajukan tubuhnya, menatap abangnya dengan campuran rasa frustrasi dan kepedihan yang nyata. “Semua orang di keluarga besar mikir kalian berdua pasangan muda paling serasi yang baru lulus kuliah dengan predikat Cumlaude. Mereka bangga lihat lo berdua di pesta gala. Tapi gue tahu, Bang. Gue yang lihat sendiri waktu kalian baru nikah pas masih SMA dulu, sampai sekarang lima tahun berjalan... lo nggak lebih dari sekadar pelayan buat dia.”
“Jaga bicaramu soal istriku,” desis Jay, akhirnya mengangkat wajahnya. Matanya yang gelap memancarkan kilatan emosi yang selama ini terkunci rapat di balik topeng kepatuhannya.
“Istri yang mana, Jay?” cecar Jungwon tanpa gentar. “Istri yang tadi malam gue lihat di kelab malam daerah selatan lagi ketawa-tawa di meja VIP sama anak pemilik konsorsium media itu? Istri yang sama yang bahkan nggak pernah peduli kalau lo mencintai dia setengah mati dari zaman kita masih ingusan?”
Kata-kata itu menghantam tepat di ulu hati Jay. Napasnya tercekat sejenak di tenggorokan. Rasa sakit yang ia kubur di balik dinding kerja kerasnya seketika mencuat kembali, tajam dan membakar.
Jungwon tahu segalanya. Jungwon tahu bagaimana Jay selalu memperhatikanmu dari jauh saat masa SMA, bagaimana Jay memilih menelan egonya dan menerima pernikahan darurat itu hanya agar kamu tidak hancur oleh skandal yang dibuat oleh kakakmu, dan bagaimana Jay rela membiarkan dirinya diinjak-injak selama lima tahun hanya demi memastikan kamu tetap memiliki tempat berpijak yang aman.
“Dia punya hak untuk menjalani hidupnya,” bisik Jay parau. Suaranya terdengar begitu lelah, kehilangan seluruh wibawa seorang direktur muda. “Pernikahan ini... sejak awal tidak pernah adil untuk dia.”
“Dan sangat adil buat lo?” Jungwon memukul meja dengan telapak tangannya, suaranya naik satu oktaf karena tak tahan melihat abangnya yang selalu memilih menjadi martir. “Lo membiarkan dia menginjak harga diri lo setiap hari! Lo biarkan dia main sama siapa pun sesuka hati dia, sementara lo cuma nunggu di rumah kayak orang bodoh! Mau sampai kapan lo bertahan dengan peran menyedihkan ini, Bang? Sampai lo benar-benar mati rasa?”
Ruang kerja itu kembali hening. Hanya tarikan napas berat Jay yang terdengar bergetar di udara dingin. Jay menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, menatap Jungwon dengan tatapan yang hampa—sebuah keputusasaan mutlak dari pria yang sudah terlalu jauh tenggelam hingga tak lagi berniat mencari jalan ke permukaan.
“Kalau aku melepaskannya...” Jay berhenti, menelan ludah yang terasa pahit di lidahnya. Tangannya mengepal di atas meja, kuku-kukunya memutih karena tekanan. “...dia akan hancur, Won. Dan aku lebih memilih hancur sendirian daripada melihat dia jatuh.”
Jungwon menatap abangnya lama. Kemarahan di wajah anak muda itu perlahan luntur, berganti menjadi rasa iba yang mendalam. Ia menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan frustrasi.
“Lo gila, Bang,” bisik Jungwon getir seraya menggelengkan kepala. “Lo terlalu mencintai orang yang bahkan nggak pernah belajar cara melihat lo.”
Jay tidak menjawab. Ia hanya menurunkan pandangannya kembali ke lembaran dokumen di hadapannya, membiarkan kesunyian ruangan itu menelan seluruh luka yang tak akan pernah ia izinkan untuk sembuh.
Pintu ganda ruang kerja tertutup dengan bantingan pelan yang bergaung panjang di udara. Jungwon telah pergi, membawa serta badai frustrasi yang sempat mengguncang ruangan itu. Dan Jay kembali ditinggalkan dalam kehampaan yang begitu pekat.
Pria itu tidak langsung kembali bekerja. Jarinya yang tadi menggenggam pena mewah perlahan mengendur, membiarkan benda berharga jutaan won itu berguling lambat di atas permukaan meja mahoni. Jay menyandarkan kepala pada sandaran kursi kulitnya yang tinggi, memejamkan mata rapat-rapat saat dengungan rasa sakit yang terbiasa mulai menusuk di balik pelipisnya.
Boneka pemuas nafsu.
Kata-kata Jungwon berputar seperti gema beracun di benaknya. Tapi apakah kata-kata itu salah? Tidak. Jay tahu persis bagaimana posisinya di matamu. Ia tahu setiap sentuhanmu padanya di ranjang atau sofa bukan lahir dari kerinduan yang tulus, melainkan dorongan arogan untuk melampiaskan kekacauan batinmu sendiri. Ia tahu kamu hanya menginginkan tubuhnya ketika kamu hancur oleh alkohol, menggunakannya sebagai penopang gairah di mana kamu memegang kendali mutlak, memperlakukannya sebagai objek yang pasrah dan tak berhak menuntut rasa cinta.
Namun, di balik semua keangkuhan dan kekejamanmu, cinta Jay kepadamu adalah sesuatu yang tak masuk akal—terlalu dalam, terlalu liar, dan terlalu kokoh untuk dihancurkan oleh rasa sakit fisik maupun penghinaan mental. Sejak masa SMA, jauh sebelum insiden malam kelulusan yang memaksa mereka mengikat janji suci yang cacat itu, Jay sudah menyerahkan seluruh hatinya kepadamu. Rasa cintanya bukan jenis cinta yang meminta imbalan melainkan adalah pengabdian buta. Baginya, menjadi boneka yang kamu gunakan sampai hancur di rumah itu jauh lebih baik daripada melihatmu berpaling dan lenyap sepenuhnya dari jangkauan pandangannya.
Jay menarik napas berat, membuka matanya yang kini kembali dingin, lalu menatap layar laptop untuk membenamkan seluruh jiwanya ke dalam tumpukan pekerjaan hingga malam menjemput.
Di sisi lain kota, denting gelas sampanye dan alunan musik jazz akustik mengisi aula berlantai marmer di kawasan perbelanjaan elite. Acara peresmian butik baru milik salah satu kolega sosialitamu berlangsung megah, dipenuhi kilatan lampu kamera dan jajaran tokoh penting.
Namun, pikiranmu sama sekali tidak berada di sana.
Kamu berdiri di dekat instalasi bunga mawar putih dengan segelas sampanye di tangan kanan, mengenakan gaun sutra tanpa lengan yang mempertegas lekuk tubuhmu. Senyum formal terukir di bibirmu setiap kali ada kolega yang menyapa, tetapi matamu berkeliaran kosong. Pikiranmu terus-menerus ditarik kembali pada meja dapur apartemen tadi pagi—pada wajah Jay yang datar tanpa cela, pada caranya mengatakan “Terserah kamu” tanpa sedikit pun getaran cemburu atau amarah di nada bicaranya.
Sikap acuh tak acuh Jay terasa seperti duri halus yang menancap di tenggorokanmu, tak terlihat namun perih luar biasa setiap kali kamu bernapas.
Kenapa dia selalu bersikap seperti itu? batinmu gusar, meneguk sampanye di tanganmu hingga tandas. Kamu membenci bagaimana Jay tidak pernah terpancing. Kamu membenci kepatuhannya yang dingin, seolah tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa membuat dinding kesabarannya retak.
Menjelang tengah malam, acara peresmian butik beralih menjadi pesta privat di sebuah exclusive club underground di kawasan Gangnam. Dentuman bass berat mulai mengguncang lantai, lampu strobo neon ungu dan merah menyayat kegelapan ruangan VIP yang dipenuhi aroma cerutu mahal dan parfum mahal.
Kamu duduk di sofa beludru merah marun yang luas, mengabaikan botol tequila berharga fantastis yang terus dituangkan ke dalam sloki kecilmu. Di sekelilingmu, tiga pria muda berparas rupawan—anak-anak pengusaha yang selalu mencari perhatianmu—mulai mengerumunimu. Salah satu dari mereka merapatkan tubuhnya, membisikkan pujian-pujian manis di telingamu seraya mengulurkan minuman baru, sementara yang lain menari dengan gerakan sensual di hadapanmu, berusaha keras memikat perhatianmu dengan tawa riang dan tatapan menggoda.
Mereka memanjakanmu, memperlakukanmu layaknya ratu yang harus disembah, memperebutkan satu tatapan atau sentuhan kecil dari jemarimu.
Namun, alih-alih merasa puas atau terhibur, rasa hampa di dadamu justru semakin membesar hingga terasa membakar. Pandanganmu yang mulai mengabur akibat alkohol menatap pria di hadapanmu yang tengah menari dan mencoba meraih jemarimu. Tapi bayangan yang muncul di kepalamu justru wajah Jay.
Tiba-tiba saja, memorimu dibanjiri oleh ingatan tentang Jay di malam-malam liar kalian. Bagaimana rahang tegas pria itu mengeras menahan kenikmatan, bagaimana otot perutnya menegang saat kamu bergerak di atasnya, dan bagaimana Jay—dengan seluruh kebanggaan dan nama besarnya di luar sana—selalu berubah menjadi sosok yang sepenuhnya pasrah dan tunduk di bawah kendalimu.
Jay tidak pernah berusaha memimpin. Dia membiarkanmu meremukkan harga dirinya, menatapmu dengan mata sayu penuh kepatuhan mutlak saat kamu menenggelamkan miliknya ke dalam intimu, menuruti setiap batas yang kamu tetapkan tanpa pernah berani membantah.
Sentuhan pria asing di sampingmu yang mencoba merangkul pinggangmu seketika terasa hambar, bahkan menggelikan. Tidak ada satu pun dari pria-pria ini yang mampu menandingi intensitas gelap dan kepasrahan brutal yang Jay berikan di atas ranjang.
“Lepas,” desismu dingin, menepis tangan pria di sampingmu dengan gerakan kasar yang membuat mereka semua tersentak kaget.
Kamu meletakkan gelasmu ke atas meja kaca hingga menimbulkan bunyi denting keras, lalu meraih mantel hitammu tanpa memedulikan tatapan bingung dan kecewa dari orang-orang di sekitarmu. Langkah kakimu terhuyung saat keluar dari area VIP menuju parkiran valet, pikiranmu kini hanya dipenuhi oleh satu obsesi gelap... pulang ke penthouse, mendobrak pintu itu, dan kembali menundukkan Jay di bawah kekuasaanmu malam ini juga
to be continued





SUMPAHH PENGEN GYE ANJING ANJINGIN SI YN🤬🤬
gilaa ya yeen