Ni-Ki nggak menanggapi protesmu. Dia cuma menatapmu dengan pandangan “kamu-milikku” yang nggak bisa dibantah. Tanpa sepatah kata pun, dia menarikmu keluar lewat pintu belakang stadion-jalur khusus yang nggak terjangkau oleh kerumunan fans.
Di sana, sebuah Audi RS e-tron GT hitam mengkilap sudah menunggu, tampak gahar di bawah lampu jalan yang remang.
Dia membukakan pintu untukmu dengan kasar namun protektif, lalu segera memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi. Deru mesin mobil listrik itu terdengar halus tapi bertenaga, seolah menggambarkan emosi Ni-Ki yang sedang tertahan.
Begitu mobil melaju menjauh dari stadion, suasana di dalam kabin terasa sangat intens. Tangan kiri Ni-Ki memegang kemudi, sementara tangan kanannya langsung mencengkeram paha kamu-tepat di titik yang tadi dia sentuh saat di backstage.
“Ni-Ki, kita mau ke mana? Ini bukan jalan ke apartemen gue,” tanyamu panik saat melihat dia mengambil rute yang berbeda.
“Apartemen kamu kejauhan, Kak. Aku udah nggak sabar,” jawabnya singkat. Suaranya datar tapi penuh penekanan.
“Ada motel kecil dekat sini, privasinya aman. Nggak bakal ada fans yang tahu kalau ini mobil aku.”
Dia menginjak pedal gas lebih dalam, membuat tubuhmu terdorong ke sandaran jok kulit yang mewah.
Kamu cuma bisa melihat profil wajahnya dari samping, rahangnya yang mengeras menunjukkan kalau dia bener-bener lagi cemburu sekaligus dikuasai gairah.
Nggak sampai sepuluh menit, mobil itu masuk ke area parkir tertutup sebuah motel bergaya minimalis yang tersembunyi di balik gang. Begitu mesin mati, kesunyian di dalam mobil terasa mencekam.
Ni-Ki melepas sabuk pengamannya, lalu berbalik ke arahmu.
“Tadi di bilik ganti kamu dorong aku, hm? Sekarang coba dorong lagi kalau bisa.”
Dia nggak menunggu jawabanmu. Ni-Ki langsung menarik tengkukmu dan kembali menciummu, kali ini lebih lembut tapi jauh lebih dalam, seolah dia sedang menghapus semua jejak tanganmu yang tadi sempat menyentuh member lain.
Mesin mobil sudah mati, tapi hawa di dalam kabin Audi itu terasa makin panas. Ni-Ki tidak segera turun. Dia masih menatapmu dengan intensitas yang seolah bisa membakar kulitmu.
Tangannya yang besar beralih dari pahamu ke dagumu, memaksa kamu untuk menatap matanya yang gelap.
“Kenapa diam aja? Tadi sama Sunghoon kayaknya asik banget ngobrolnya,” sindirnya, suaranya rendah dan tajam.
Kamu menghela napas, mencoba mencari sisa-sisa keberanian.
“Ni-Ki, itu kan cuma kerjaan. Dia keringetan parah setelah perform, ya aku bantu lap. Gue kan stylist kalian semua terutama kalian berdua.”
“Tapi tangan kamu... terlalu lama ngelap di leher dia, Kak,” potongnya cepat. Dia mendekatkan wajahnya sampai ujung hidung kalian bersentuhan.
“Ya kan namanya lagi ngelap keringet, Ni-Ki. Wajarlah”
Napasnya yang hangat beraroma mint terasa di bibirmu.
“Aku nggak suka. Aku paling nggak suka berbagi, dan kamu tau itu kan, kak.”
Kamu bisa merasakan hatimu berdegup kencang.
“Kita kan nggak ada status, Ni-Ki. Kita bahkan nggak pacaran.”
Mendengar kata-kata itu, rahang Ni-Ki mengeras. Bukannya menjauh, dia justru menarikmu lebih dekat sampai dadamu menempel pada lengannya.
“Nggak ada status bukan berarti aku bisa lihat orang lain megang milikku seenaknya,” bisiknya tepat di depan bibirmu.
“Malam ini, aku mau kamu lupain soal kerjaan, lupain soal Sunghoon, dan cuma fokus ke aku. Paham?”
Kamu nggak mampu menjawab, hanya bisa mengangguk pelan. Puas dengan jawabanmu, Ni-Ki akhirnya melepaskan cengkeramannya.
Dia turun dari mobil dan memutari kap mesin dengan langkah yang lebar dan dominan. Begitu pintu mobilmu dibuka, dia langsung menarik tanganmu, menuntunmu menuju lift pribadi yang langsung terhubung ke area kamar. (uwuw gentleman walopun merajuk tetep bukain pintu xixixi)
Begitu sampai di depan pintu kamar bernomor 304, Ni-Ki menempelkan kartu akses dengan kasar. Bunyi klik dari pintu yang terbuka seolah menjadi tanda bahwa tidak ada jalan kembali.
Baru saja pintu tertutup di belakang kalian, Ni-Ki sudah mendorongmu ke pintu tersebut. Dia mengunci tubuhmu dengan kedua lengannya, menatapmu sejenak dengan tatapan lapar sebelum akhirnya berbisik, “Tadi kamu sempat dorong aku di bilik ganti, kan? Di sini, jangan harap aku bakal lepasin kamu meskipun kamu minta.”
Detik berikutnya, dia kembali menyerang bibirmu, dan kali ini, suasananya benar-benar meledak.
Lampu kamar yang hanya menyala di sudut ruangan memberikan siluet tajam pada garis rahang Ni-Ki. Dia masih menghimpitmu di balik pintu, namun tiba-tiba dia berhenti menciummu. Dia hanya menjauhkan wajahnya beberapa senti, menatapmu dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Kenapa diam aja, hm?” tanyanya, suaranya serak. “Biasanya kamu paling pinter protes soal profesionalitas. Mana ocehan kamu yang bilang kalau kita harus jaga jarak?”
Kamu mengatur napas yang memburu, mencoba memalingkan wajah agar tidak tenggelam dalam tatapannya.
“Ki, lo jangan gila deh. Kita nggak seharusnya begini terus. Lo makin nekat, dan kalau sampai ada media yang tahu-”
“Media nggak akan tahu selama kamu nggak bocorin ke semua orang dan lari ke orang lain,” potongnya sinis. Dia menyelipkan tangannya ke sela rambutmu, menariknya sedikit ke belakang agar kamu terpaksa menatapnya lagi.
“Atau sebenarnya kamu sengaja mau mancing aku? Kamu tahu aku bakal marah kalau kamu dekat-dekat Sunghoon dan member lain, makanya kamu sengaja ngelakuin itu tadi?”
“Enggak ya, sembarangan kalo ngomong, gue nggak kepikiran sampai sana ya!” bantahmu ketus, meski jantungmu berdegup dua kali lipat lebih kencang.
“Bohong,” bisiknya. Ni-Ki menurunkan wajahnya, menyesap aroma lehermu yang kini sudah berantakan. Tangannya mulai merayap turun, meremas pinggangmu dengan tekanan yang menuntut.
“Kamu suka kan, lihat aku cemburu begini? Kamu suka merasa dicariin sama aku.”
Kamu mencoba mendorong bahunya lagi, tapi tenaga kamu seolah menguap entah ke mana.
“Ki, jangan... gue capek main kucing-kucingan kayak gini terus sama lo,” gumammu lemah, namun tanganmu justru mulai merambat naik ke tengkuknya, jemarimu bermain di rambut belakangnya yang halus.
Ni-Ki terkekeh rendah, sebuah suara kemenangan yang maskulin.
“Kalau capek, ya sudah, nyerah aja. Berhenti pura-pura nggak butuh aku, Kak.”
Dia mengecup sudut bibirmu berkali-kali, sangat pelan dan menggoda. “Coba bilang lagi, kamu butuh aku nggak?”
Kamu memejamkan mata, merasakan deru napasnya yang bikin akal sehatmu hilang. “Oke... lo menang. Puas?” bisikmu akhirnya, menyerah sepenuhnya.
Mendengar pengakuan itu, tatapan Ni-Ki berubah seketika. Tidak ada lagi ejekan, yang ada hanyalah gairah murni.
“Puas banget,” jawabnya pendek sebelum kembali menyambar bibirmu.
Dia mengangkat tubuhmu dengan mudah, membuatmu refleks melingkarkan kaki di pinggangnya, sementara dia membawamu menuju tempat tidur besar di tengah ruangan. Malam ini, semua aturan yang kamu buat sendiri resmi kamu langgar demi cowok di depan kamu ini.
Tubuhmu baru saja mendarat di atas kasur motel yang empuk dengan Ni-Ki yang langsung mengungkungmu di bawahnya. Napas kalian beradu, panas dan memburu.
Tangan Ni-Ki sudah mulai bekerja membuka kancing kemejanya sendiri tanpa melepas pandangan darimu, seolah dia takut kalau dia berkedip sebentar saja, kamu bakal lari.
Namun, tepat saat suasana sudah berada di ujung tanduk, suara getaran keras terdengar dari dalam tasmu yang terbuka di meja nakas tepat di samping kepala kalian.
Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...
Kamu refleks menoleh, mencoba melihat siapa yang menghubungi malam-malam begini. Ni-Ki mendengus kesal, ia mengabaikan getaran itu dan mencoba mencium lehermu lagi, tapi layar ponselmu menyala terang, menampilkan notifikasi pesan yang cukup panjang.
“Ki, bentar... itu kayaknya penting,” gumammu sambil mencoba menggapai tas.
“Biarin aja, paling cuma grup staf,” sahut Ni-Ki tidak peduli.
“Tapi kalau dari manajer gimana? Entar lo dicariin,” bantahmu. Kamu berhasil menyambar ponselmu dan layarnya menunjukkan nama pengirim yang bikin suasana mendadak dingin.
Sunghoon: “Kak, sori ganggu. Tadi kayaknya pouch lipstik BA gue kebawa di tas lo deh pas lo bantuin gue ganti baju tadi. Bisa tolong cek? Besok pagi mau dipake buat shoot pagi soalnya.”
Kamu tertegun membaca pesan itu. Belum sempat kamu membalas, ponsel itu tiba-tiba dirampas kasar dari tanganmu. Ni-Ki membaca pesan itu dengan mata yang menyipit tajam. Rahangnya mengeras sampai otot lehernya terlihat jelas.
“Oh, jadi dia punya nomor pribadi lo juga sekarang?” tanya Ni-Ki, suaranya berubah jadi dingin dan berbahaya. Panggilan ‘Aku-Kamu’ yang tadi manis mendadak hilang, digantikan dengan nada interogasi.
“Ya kan emang buat urusan kerjaan, Ki! Balikin nggak HP gue!” serumu sambil berusaha meraih ponsel itu.
Ni-Ki justru melempar ponselmu ke ujung kasur yang jauh. Dia kembali menindih tubuhmu, tapi kali ini dengan tekanan yang lebih berat. Kedua tangannya mengunci pergelangan tanganmu di atas kepala.
“Pouch lipstik? Alasan klasik,” desis Ni-Ki. Dia menatapmu dengan sorot mata yang dipenuhi kecemburuan buta. “Lo beneran mau bales pesan dia di depan gue, Kak?”
“Ya terus kenapa? Kan emang barangnya ada di gue!” jawabmu nggak mau kalah, meski sebenarnya lo mulai ngeri lihat ekspresi wajahnya sekarang.
Ni-Ki mendekatkan wajahnya, hidungnya bergesekan dengan hidungmu.
“Nggak akan gue kasih izin. Malam ini lo nggak boleh mikirin member lain, apalagi bales chat mereka.”
Dia memberikan gigitan yang lebih keras di bahumu, membuatmu memekik pelan.
“Bilang sama aku, Kak. Siapa yang sekarang lagi sama kamu di sini? Aku atau dia?”
Kemarahan Ni-Ki tidak meledak dalam bentuk teriakan, melainkan dalam tindakan yang jauh lebih menyesakkan. Dia melepaskan cengkeraman di tanganmu, tapi hanya untuk mengungkungmu lebih rapat.
Suasana kamar motel yang tadinya hanya terasa panas, kini berubah menjadi berat oleh dominasi absolut yang ia tunjukkan.
“Lo... lo jangan berlebihan deh, Ki. Dia cuma nanya barang,” ucapmu mencoba membela diri, walau suaramu terdengar gemetar.
“Aku tidak suka kamu membela dia di depan aku, Kak,” bisiknya tajam.
Ni-Ki mulai melakukan “hukuman”-nya. Dia memulai dengan sangat pelan, sebuah siksaan yang disengaja. Bibirnya tidak lagi menyerangmu dengan kasar, melainkan menyusuri garis rahangmu dengan kecupan-kecupan ringan yang menggoda, namun tangannya bergerak dengan tujuan yang pasti.
Dia mulai melucuti pakaianmu satu per satu dengan gerakan yang sangat lambat, seolah ingin membuatmu merasa telanjang di bawah tatapan intimidasi matanya.
Setiap inci kulitmu yang terekspos langsung ia sambut dengan sentuhan telapak tangannya yang panas, memetakan tubuhmu seolah ia sedang mengklaim kembali wilayah kekuasaannya.
“Ki... please,” rintihmu saat jemarinya mulai bermain di area sensitifmu dengan ritme yang sangat lambat-terlalu lambat sampai rasanya menyiksa.
“Apa? Kamu mau aku cepet?” Ni-Ki mendongak, memberikan seringai tipis yang mematikan.
“Nggak boleh. Kamu harus ngerasain gimana rasanya nunggu, sama kayak aku yang nunggu kamu seharian tapi kamu malah sibuk sama Sunghoon.”
“Aakhhh... Ki... jangan bawa-bawa Sunghoon dulu bisa nggak sih? eungghh lo nyiksa gue banget”
“Biarin, sengaja aku begini biar kamu ngerasain secemburu apa aku tadi”
Ia terus mempermainkanmu dengan foreplay yang terhitung dingin namun penuh gairah. Setiap kali kamu mencoba mendekat untuk meminta lebih, ia akan menjauhkan tubuhnya, membiarkanmu meronta dalam keinginan yang ia ciptakan sendiri. Ia sengaja membuatmu memohon, membuatmu benar-benar menyerah pada setiap inci sentuhannya.
“Bilang dulu,” bisiknya tepat di depan titik paling sensitifmu, napasnya yang hangat membuatmu hampir kehilangan kesadaran. “Punya siapa kamu malam ini?”
“Punya lo... gue punya lo, Ni-Ki,” desahmu pasrah, air mata hampir menetes karena sensasi yang sudah berada di puncak.
Mendengar pengakuanmu bahwa kamu adalah miliknya, pertahanan Ni-Ki benar-benar runtuh. Namun, alih-alih memberikan apa yang kamu minta dengan cepat, dia justru ingin memastikan bahwa setiap inci tubuhmu hanya akan mengingat sentuhannya malam ini.
Dengan satu gerakan yang penuh kuasa, Ni-Ki menarik kedua pahamu dan menyampirkannya ke atas bahunya, membuatmu berada dalam posisi yang sangat terbuka dan tak berdaya di bawah kuasanya. Tatapannya yang gelap seolah mengunci pergerakanmu.
“Aku nggak akan pake tangan lagi, Kak. Aku mau ngerasain langsung gimana kamu gemeteran karena aku,” bisiknya rendah sebelum ia menundukkan kepalanya.
Ni-Ki tidak lagi menggunakan jemarinya. Ia menggunakan lidahnya untuk menyerang titik paling sensitifmu dengan ritme yang sangat presisi-kadang lambat dan menyiksa, kadang cepat dan menuntut.
Sensasi basah dan panas itu menyerang seluruh sarafmu, membuatmu hanya bisa mencengkeram sprei motel dengan erat sampai tanganmu memutih lalu beralih meremas rambutnya hingga berantakan.
“Ki... ah, stop... Ni-Ki, gue nggak kuat,” rintihmu dengan napas yang sudah putus-putus. Kepalamu bergerak gelisah ke kanan dan kiri, mencoba mencari pegangan lain di tengah badai gairah yang ia ciptakan.
Bukannya berhenti, Ni-Ki justru semakin gencar. Ia sengaja memberikan tekanan-tekanan kecil di titik yang benar, menghisapnya dengan lapar seolah ia sedang meneguk habis seluruh rasa cemburunya tadi.
Kamu bisa merasakan tubuhmu menegang hebat, sebuah gelombang panas mulai menjalar dari pangkal paha hingga ke seluruh tubuh.
Dunia seolah berhenti berputar saat kamu mencapai puncak pertamamu. Tubuhmu melengkung hebat, dan kamu tidak bisa menahan diri saat cairanmu menyembur di dalam mulut Ni-Ki.
Desahanmu pecah memenuhi kamar motel yang sunyi itu, terdengar sangat kontras dengan deru napas Ni-Ki yang masih tertahan.
Ni-Ki perlahan mendongak, matanya yang sayu namun tajam menatapmu dengan kilat kemenangan. Ia tidak menjauh, justru mengusap sudut bibirnya dengan ibu jari, memperlihatkan pemandangan yang membuatmu benar-benar kehilangan kata-kata.
“Manis banget, Kak,” gumamnya dengan suara yang sangat dalam. “Ini baru awal. Aku belum selesai menghukum kamu.”
Ni-Ki masih menatapmu dengan sorot mata yang menggelap, puas melihatmu yang masih lemas setelah puncak pertama tadi. Namun, dia nggak kasih kamu waktu buat sekadar mengatur napas.
Dengan satu sentakan kuat, dia menarik lenganmu, memaksamu untuk bangkit dan duduk bersimpuh di depannya di atas tempat tidur.
“Jangan manja dulu, Kak. Aku belum dapet giliran aku,” bisiknya tepat di depan wajahmu.
Tangannya yang besar menekan bahumu, memaksamu untuk sedikit merendah sementara dia menarik turun celana kulit yang tadi ia kenakan.
Saat kejantanannya yang sudah menegang sempurna terekspos tepat di depan wajahmu, kamu bisa merasakan hawa panas yang menjalar kembali ke seluruh tubuhmu.
“Ki... ini beneran lo mau sekarang?” tanyamu dengan suara serak, mencoba menetralkan degup jantungmu yang masih berantakan.
“Iya, sekarang. Pakai mulut kamu, Kak. Aku mau ngerasain gimana kamu ngidep punyaku di sini,” perintahnya, suaranya terdengar sangat rendah dan posesif.
Kamu sempat ragu sebentar, tapi tatapan Ni-Ki yang menuntut nggak kasih kamu pilihan lain. Kamu perlahan mendekat, menyentuhnya dengan jemarimu sebelum akhirnya mulai melayani kejantanannya dengan mulutmu.
Ni-Ki seketika mengeram keras, kepalanya mendongak ke belakang sementara tangannya meremas rambutmu dengan kuat-bukan untuk menyakiti, tapi untuk memastikan kamu tetap di sana.
“Ssshh... pinter banget nyepongnya, Kak,” gumamnya di antara deru napasnya yang mulai tak beraturan.
Dia mulai menggerakkan pinggulnya perlahan, menyesuaikan ritme dengan gerakan mulutmu yang makin cekatan.
Setiap kali kamu mencoba berhenti untuk mengambil napas, Ni-Ki akan menarik rambutmu sedikit lebih kencang, memaksamu untuk terus lanjut.
Dia benar-benar sedang menikmati bagaimana kamu berlutut di depannya, melupakan statusmu sebagai stylist-nya, dan hanya fokus menjadi miliknya seutuhnya.
“Lebih dalam, Kak... I want you to feel how much I want you tonight,” bisiknya penuh tuntutan, suaranya makin serak tanda dia sudah berada di ambang batas kesabarannya.
Tensi di dalam kamar itu sudah mencapai titik didih. Kamu bisa merasakan tubuh Ni-Ki yang menegang hebat saat lidahmu mulai bergerak memutar di bagian kepala kejantanannya, memberikan sensasi yang benar-benar menghancurkan sisa-sisa kesabarannya.
Kamu menyedotnya semakin kuat, seolah ingin merasai setiap inci dari dirinya yang sedang mendominasimu.
“Ngh... Kak, stop-ah, jangan gitu...” Ni-Ki mengerang keras, suaranya pecah dan tidak beraturan.
Tangannya yang tadi hanya mengelus rambutmu kini mencengkeram kuat, urat-urat di lengannya menonjol saat dia sudah tidak sanggup lagi menahan gejolaknya.
Saat kamu memberikan satu sedotan terakhir yang paling dalam, pertahanan Ni-Ki benar-benar hancur.
Dengan satu dorongan impulsif yang penuh gairah, ia menekan kepalamu semakin masuk, memaksa kejantanannya mencapai pangkal tenggorokanmu tepat saat dia mencapai puncaknya.
“Ah! Kak... take it all...”
Cairan hangat itu menyembur deras di dalam mulutmu, mengisi setiap sudut hingga kamu merasa tersedak. Kamu refleks mencoba menarik diri karena rasa penuh yang menyesakkan, membuat air mata tanpa sadar menetes di sudut matamu akibat sensasi di tenggorokan yang begitu intens.
Namun, Ni-Ki tidak membiarkanmu menjauh. Dia tetap menekan tengkukmu, memastikan kamu tetap di sana sementara dia masih terengah-engah menikmati sisa-sisa pelepasannya.
“Jangan dikeluarin,” bisiknya serak, matanya yang sayu menatapmu dengan penuh kepuasan sekaligus tuntutan. “Telen semuanya, Kak. Sampai habis.”
Kamu menatapnya dengan mata yang masih basah, namun di bawah tatapannya yang begitu menguasai, kamu akhirnya menyerah. Kamu menelan seluruh cairan itu di hadapannya, menimbulkan bunyi tegukan yang membuat seringai puas muncul di wajah tampannya.
Setelah ia benar-benar yakin kamu sudah menghabiskannya, Ni-Ki baru melepaskan tekanannya. Dia menarikmu ke dalam pelukannya, membiarkan kepalamu bersandar di dadanya yang masih naik-turun karena napas yang memburu.
“Good girl,” gumamnya sambil mengecup keningmu lama. “You really are all mine tonight.”
🎫
To Be Continued





Mommy ayoo lanjuttt
Ni-ki mode gacor😆