JANGAN LUPA LIKE
Napas kalian berdua masih berembus pendek-pendek dalam keheningan kamar yang kian temaram. Bau harum gairah yang pekat bercampur keringat memenuhi udara. Bekas tembakan benih hangat Jake di dalam intimu terasa makin meleleh, mengalir pelan di paha bagian dalammu, menyisakan pendar rasa penuh dan kebas nikmat yang luar biasa di bagian bawah perutmu. Kamu terkulai pasrah di atas kasur dengan wajah terbenam sebagian di bantal. Napasmu naik turun memburu, seluruh persendianmu terasa lemas seolah tulang-tulangmu telah melarut.
Di punggungmu, Jake bersandar pelan. Dada tegapnya yang hangat dan basah oleh keringat menempel rapat di punggung polosmu, ikut naik turun mengikuti irama napasnya yang belum sepenuhnya stabil. Namun, daya tahan tubuh mutasi biologis milik Jake benar-benar di luar nalar manusia biasa.
Hanya butuh beberapa saat bagi aliran darah dan kadar protein di dalam tubuhnya untuk beregenerasi penuh. Di bawah sana, di sela-sela lipatan pahamu yang masih basah, kamu bisa merasakan milik Jake tidak juga mengendur. Malah sebaliknya—miliknya kembali mengeras, membesar, dan berdenyut tegang, menekan lipatan intimu dari belakang dengan suhu yang kian membakar.
“J-Jake...” bisikmu serak, suaramu nyaris berupa helaan napas yang pasrah. “Lo... lo enggak ada capeknya ya...?”
Jake tidak membiarkan miliknya terlepas lama. Dengan kelembutan yang teramat protektif namun dipenuhi dominasi murni, Jake memiringkan tubuhmu ke samping.
Dia membimbing posisimu masuk ke dalam posisi spooning—kamu berbaring miring membelakanginya, sementara Jake berbaring miring tepat di belakangmu, merapatkan dada tegapnya di sepanjang garis punggungmu bagaikan dua sendok yang menempel pas tanpa celah. Lengan kokoh Jake yang berselimut otot padat melingkar mesra di atas perut dan pinggangmu, menarik pinggulmu satu sentimeter lebih rapat menempel di pangkal pahanya.
“Maaf ya, sweetheart...” bisik Jake pelan di balik ceruk lehermu, suara seraknya yang rendah menggetarkan bulu kudukmu saat bibirnya menyapu lembut kulit leher belakangmu. “...tapi setiap kali gue megang tubuh lo begini, metabolisme gue rasanya langsung bekerja dua kali lebih cepat. Gue mau lagi...”
Sebelum kamu sempat merespons, Jake mengangkat satu paha atasmu sedikit ke depan, membuka akses di antara kedua pahamu yang sudah terlumasi sempurna oleh lelehan dari dua ronde sebelumnya. Dengan sekali dorongan pinggul yang mulus, terukur, dan perlahan dari belakang...
Ssssshh...
“Aahhh... Jake!” jeritmu melengking pelan, kepalamu mendongak ke belakang saat milik Jake yang tebal dan panas kembali melesak menembus intimu secara utuh!
Posisi spooning ini memberikan rasa intim yang luar biasa mendalam. Karena kalian berdua sama-sama berbaring miring, tubuh kalian menempel sempurna dari bahu hingga ke ujung kaki. Setiap incinya yang mengeras meresap masuk, menggesek dinding intimu yang masih berdenyut sensitif dari ronde sebelumnya.
Jake mengencangkan dekapan tangannya di perutmu, mengunci tubuhmu rapat di dadanya. Dia memulakan tempo goyangan pinggulnya dari belakang—sebuah gerakan ayunan yang lambat, pekat, dan sangat dalam.
Srett... ssstt... srett...
“Aah... nghh... Jake... pelan-pelan...” bisikmu terengah-engah, memejamkan mata saat dorongan demi dorongan dari Jake menumbuk tepat di puncaknya.
“Iya, sweetheart... pelan-pelan...” balas Jake di sela helaan napas panasnya.
Bibir Jake tidak berhenti memanjakanmu. Dia mendaratkan kecupan-kecupan basah dan lembut di sepanjang bahu, leher, dan belakang telingamu. Tangan kirinya yang melingkari perutmu perlahan merayap naik, meremas lembut dadamu dengan kehangatan jemarinya yang presisi, membuat sensasi nikmat yang merayap di tubuhmu berlipat ganda seketika.
Tempo dorongan Jake yang tadinya lambat perlahan memanas. Gerakan pinggulnya dari belakang makin bertenaga dan konstan. Hunjakan-hunjakan kokohnya merujuk ke bagian terdalam dirimu, menciptakan bunyi gesekan basah yang kian ritmis dan erotis di dalam kamar yang sunyi itu.
Brak... brak... brak...
“Aah! Aah! Jake! Enak banget... ahh!” kamu menjerit pasrah, memiringkan kepalamu ke belakang demi mencari bibirnya.
Jake menyambut ajakanmu. Dia memiringkan posisinya, menyatukan bibirnya dengan bibirmu dari samping. Tautan lidah kalian kembali bergulut dalam gairah yang memabukkan, sementara pinggulnya di bawah sana terus menghantam rapat membelah intimu dari belakang tanpa kenal lelah.
Kehangatan yang terkumpul di perut bagian bawahmu kian membara, mendorongmu menuju ambang puncak klimaks ketiga yang tak terelakkan. Dinding-dinding intimu mulai menjepit milik Jake secara beruntun dengan cengkeraman yang sangat ketat.
“(Y/N)... sshh... lo jepit gue kencang banget...” erang Jake serak di dalam mulutmu, mempercepat ritme dorongan pinggulnya di detik-detik terakhir secara masif dan dalam.
“Jake! Gue mau... ahh... keluar lagi, Jake!” jeritmu pasrah, jemarimu meremas kencang lengan ototnya yang melingkar di perutmu.
“Keluar bareng gue, (Y/N)!”
Plap!
Satu hentakan terdalam dan terkuat dari posisi miring itu menghentak puncaknya. Seketika itu juga, pelepasan dahsyat kembali meledak di dalam tubuh kalian berdua. Intimu menjepit dan berdenyut liar menyerap semburan lahar hangat Jake yang kembali menyembur bertubi-tubi di bagian terdalam dirimu. Kamu menjerit pasrah dalam tautan ciumannya saat gelombang klimaks melumpuhkan seluruh saraf tubuhmu.
Jake mengerang dalam dari dasar dadanya, memeluk tubuhmu dari belakang sejadi-jadinya saat menyemburkan seluruh benih dan sisa energinya di dalam rahimmu. Tubuh kalian membeku dalam dekapan posisi spooning yang rapat selama beberapa menit yang penuh kepuasan murni.
Setelah gejolak klimaks itu perlahan mereda, Jake tetap membiarkan miliknya terkunci hangat di dalam dirimu. Dia membenamkan wajahnya di leher belakangmu, menghirup aroma tubuhmu dengan napas yang memburu pelan, sementara tangannya yang melingkar di perutmu mengusap lembut kulitmu untuk meredakan ketegangan otot-ototmu.
“I love you... sweetheart...” bisik Jake pelan dan teramat tulus di dekat telingamu, menyelimuti kalian berdua dalam kehangatan cinta dan kedamaian yang abadi sepanjang malam.
Napas kalian berdua yang tadinya memburu hebat perlahan mulai mereda, berubah menjadi helaan yang teratur dan halus di dalam keheningan kamar yang tenang. Sisa-sisa gelombang kenikmatan dari tiga ronde yang intensif itu masih meninggalkan pendar hangat yang nyaman di seluruh persendianmu, membelai setiap inci kulitmu yang bersentuhan langsung dengan kulit hangat Jake.
Mendengar bisikan “I love you, sweetheart” yang teramat tulus meluncur dari mulut Jake di dekat telingamu, dada dan hatimu serasa membuncah oleh kehangatan yang tak terlukiskan. Di tengah remangnya cahaya malam, kamu memiringkan kepalamu sedikit ke belakang, menyentuhkan bibirmu lembut di rahang tegasnya yang basah oleh keringat tipis.
“I love you too, Jake Sim...” bisikmu serak dan lembut, jemarimu yang lemas menyusup ke sela-sela jemarinya yang masih melingkar protektif di atas perutmu. “Gue sayang banget sama lo...”
Jake menyunggingkan senyuman terhangatnya. Dia makin merapatkan dada tegapnya di sepanjang garis punggungmu, menyatukan posisi spooning kalian tanpa menyisakan celah sedikit pun. Dia membiarkan miliknya tetap berada di dalam dirimu, mengunci kehangatan yang saling mengikat itu dalam dekapannya yang rapat. Selimut tebal yang tergeletak di ujung kasur ditarik pelan oleh tangan Jake yang bebas, menyelimuti tubuh polos kalian berdua hingga ke batas bahu dari hembusan angin malam.
Pelukan hangat dari pria berdaya super itu—berserta detak jantungnya yang teratur berdenyut di belakang punggungmu—menjadi pengantar tidur paling tenang dan paling aman yang pernah kamu rasakan. Dalam hitungan menit, rasa lelah yang nikmat membuai kesadaran kalian, membawa kamu dan Jake hanyut ke dalam tidur nyenyak yang teramat lelap, tertidur dalam keadaan tubuh yang masih menyatu erat sepanjang malam.
🕸️
Sinar matahari pagi yang jernih merembes masuk secara perlahan melalui celah tirai jendela yang sedikit terbuka. Pendar warna keemasan membelai lembut permukaan sprei yang agak berantakan dan menyapa kelopak matamu yang masih terpejam. Suara cicit burung di luar apartemen dan desis halus pendingin udara menandakan bahwa pagi telah berganti.
Kamu perlahan mengedipkan matamu, menyesuaikan penglihatanmu dengan cahaya pagi yang hangat. Hal pertama yang kamu rasakan adalah rasa hangat yang luar biasa nyaman menyelimuti seluruh tubuhmu. Kamu masih berada dalam dekapan spooning yang sama dari semalam. Lengan kokoh Jake yang tegap masih melingkar erat di pinggangmu, menahan tubuhmu tetap menempel di dadanya.
Dan di bawah sana... kehangatan dari milik Jake yang sudah rileks namun tetap padat masih bertengger nyaman di dalam dirimu, menyatu utuh seolah tak ingin terpisahkan bahkan saat terlelap.
Sensasi tumpat dan hangat di bagian bawah perutmu membuat pendar rona merah kembali menyapu pipimu yang merona pagi. Kamu menggerakkan tubuhmu sedikit, berniat untuk merenggangkan otot-ototmu yang agak pegal.
Ssshh...
Gesekan kecil dari pergerakanmu mendadak memicu refleks peka dari tubuh Jake.
Jake yang berada di belakangmu bergerak halus. Helaan napas hangatnya yang teratur menyapu leher belakangmu saat dia perlahan terbangun dari tidurnya. Iris mata cokelat tuanya yang jernih terbuka pelan, bebas dari kacamata tebalnya, memancarkan kesegaran alami khas pemulihan seluler mutasinya yang sudah bekerja seratus persen sepanjang malam.
“Mmmh...” gumam Jake rendah, suaranya terdengar sangat seksi dan serak khas bangun tidur di dekat telingamu.
Jake memperketat dekapan tangannya di perutmu, menarik pinggulmu satu sentimeter lebih rapat ke arahnya. Pergerakan itu membuat miliknya yang berada di dalam dirimu secara otomatis berdenyut pelan, merespons kehangatan basah yang mengurungnya kembali.
“Pagi, sweetheart...” bisik Jake pelan, mendaratkan kecupan hangat dan lembut di bahu polosmu yang terekspos di luar selimut.
Kamu menyunggingkan senyuman manismu, memiringkan wajahmu ke samping untuk menatap mata cokelat tuanya dari dekat. Rambut cokelat Jake yang agak berantakan pagi ini membuatnya kelihatan teramat tampan dan menggemaskan.
“Pagi, Jake...” balasmu lembut, jemarimu mengusap lengan ototnya yang melingkari perutmu. “Tidur lo nyenyak?”
“Nyenyak banget...” jawab Jake tulus, menyunggingkan senyuman tipisnya yang teramat manis. “Gue enggak pernah tidur senyenyak dan sejatuh ini seumur hidup gue.”
Jake menatap wajahmu dari dekat dengan pendar kasih dan kebanggaan yang teramat mendalam. Tidak ada lagi rasa canggung, tidak ada lagi ketakutan akan masa depan. Di dalam kamar yang tenang dan dipenuhi sinar matahari pagi ini, di antara tautan tubuh mereka yang masih menyatu rapat, kalian berdua menyadari bahwa masa depan yang akan kalian hadapi bersama bakal selalu dipenuhi oleh keberanian, perlindungan, dan cinta yang takkan pernah padam.
Sinar matahari pagi yang hangat kian merembes menembus celah tirai, membakar atmosfer kamar tamu apartemen Heeseung yang sudah pekat oleh jejak gairah semalam.
Bisikan “Pagi, sweetheart“ dan kecupan lembut Jake di bahumu yang semula terasa manis mendadak berubah arah. Pergerakan kecilmu di atas kasur justru memicu reaksi berantai pada sistem tubuh Jake. Gesekan intimu yang hangat dan basah menstimulasi miliknya yang masih terkunci rapat di dalam dirimu.
Di bawah sana, milik Jake yang semula rileks mendadak berdenyut hebat. Dalam hitungan detik, ukurannya yang padat dan keras kembali membesar maksimal, meregangkan dinding intimu tanpa permisi.
“J-Jake... nghh!” kamu tersentak, kepalamu mendongak saat merasakan miliknya membengkak kencang di dalam dirimu.
Jake terkekeh rendah—suara tawa serak bangun tidur yang teramat seksi, menggetarkan leher belakangmu yang langsung disapu napas bahagianya. Metabolisme mutasinya yang telah pulih seratus persen sepanjang malam kini mengalirkan energi gila yang siap meledak kembali.
“Mau bangun sekarang, hm?” bisik Jake di dekat telingamu, nadanya berubah menjadi sangat dalam, tebal, dan penuh intrik godaan. “Tapi bawah lo kayaknya masih belum mau lepasin milik gue, (Y/N)... Kencang banget jepitnya.”
Wajahmu memerah padam. “J-Jake, ini udah pagi... Mas Heeseung bisa aja pulang sebentar lagi—”
“Mas Heeseung baru pulang nanti malam,” potong Jake cepat. Tangannya yang melingkar di perutmu mendadak mencengkeram pinggulmu kuat-kuat, lalu menyentak pinggulnya dari belakang!
PLAP!
“Aaaahhh! JAKE!” jeritmu melengking pasrah saat puncaknya menghantam titik terpeka di dalam rahimmu tanpa ampun.
“Ssshh... panggil nama gue yang keras,” bisik Jake liar di lehermu. Dia tidak memberi jeda sedikit pun. Dari posisi spooning, Jake mulai menghentakkan pinggulnya dengan tempo yang mendadak cepat, keras, dan presisi.
Sreett... ssstt... BAM! BAM!
Gesekan basah dari penyatuan kalian bergema memenuhi ruangan. Kamu meremas sprei tebal dengan heboh, air mata kenikmatan mulai menggenang di sudut matamu gara-gara stimulasi mendadak yang begitu intensif dari belakang.
“Aah! Aah! Jake! Gila... sshh... dalam banget!” erangmu pasrah, tubuhmu terdorong maju-mundur mengikuti irama brutal yang dimainkan Jake.
“Suka kan, sweetheart?” goda Jake, napasnya memburu di bahumu. Jemari panjangnya merayap turun ke bawah, memainkan klitorismu yang sudah membengkak dan sensitif di sela-sela goncangan pinggulnya. “Bilang sama gue... seberapa enak milik pahlawan lo ini di dalam lo?”
“Enak... ahh! Enak banget, Jake! Please... jangan berhenti!” jeritmu tanpa peduli lagi pada rasa malu.
Kata-kata pasrahmu membakar sisa rasionalitas Jake. Pria berdaya super itu menarik miliknya keluar hingga menyisa ujungnya, lalu membalikkan tubuhmu secara paksa hingga kamu terlentang. Sebelum kamu sempat menguasai napas, Jake memegang kedua pergelangan kakimu, menaikkan kedua paha mulusmu hingga menekuk tinggi mengapit dadanya yang tegap dan telanjang.
“Buka yang lebar buat gue,” bisik Jake dengan tatapan mata cokelat tuanya yang penuh pendar dominasi murni.
Tanpa ampun, Jake menghunjamkan kembali miliknya dalam satu dorongan keras yang menancap paling dalam!
PLAK!
“AAAAHHH!” kamu menjerit histeris saat ombak orgasme pertama di pagi hari mendadak meledak melumpuhkan seluruh sarafmu. Dinding intimu memijat dan menjepit milik Jake secara histeris, menyedot miliknya dengan cengkeraman luar biasa kencang.
Tapi Jake belum selesai. Dia bahkan belum mendekati klimaksnya.
Melihatmu kejang kenikmatan di bawah naungannya justru memicu sisi liar Jake yang tak pernah terbayangkan. Pria yang biasanya sopan dan pendiam itu kini menggenjotmu dengan kecepatan gila dan tenaga mutasi yang tak tertandingi. Hunjakan-hunjakan dari pinggulnya menghantam rapat tanpa henti, membuat kasur empuk di bawahmu berdecit keras.
Brak! Brak! Brak!
“Jake! Ahhh! Pelan! Nghh... gue bisa gila, Jake!” tangismu pecah, air mata haru dan kenikmatan mengalir di pipimu yang memerah.
Kedua tanganmu melayang panik ke depan, menahan perut Jake yang keras kencang dan berotot padat untuk menahan laju gejolaknya, tapi tenaga fisik Jake terlalu tangguh. Perutnya yang mengeras bagai batu tak bergeming sedikit pun di bawah dorongan tanganmu yang lemas, Jake justru makin leluasa menggenjotmu habis-habisan!
“Nahan perut gue?” goda Jake serak sambil terkekeh liar, matanya menatap wajahmu yang menangis keenakan. “Tenaga lo enggak bakal sanggup nahan gue, (Y/N)... Desah buat gue. Minta lagi!”
“Move, Jake... ahh! Please keep moving! Jangan berhenti... habisi gue, Jake!” jeritmu histeris, pasrah sepenuhnya pada permainan liarnya.
“-Good girl-“ bisik Jake puas.
Jake mengubah gayanya lagi dengan kelincahan supernya. Dia menegakkan tubuhmu, memposisikanmu duduk di pangkuannya secara berhadapan (doggy style bertumpu pada lutut atau gaya cowgirl yang dipaksakan dari bawah), membiarkan intimu menelan habis miliknya secara vertikal. Setiap kali Jake menyentakkan pinggulnya naik dari bawah, puncaknya menumbuk lurus ke rahimmu, memicu orgasme kedua dan ketiga secara beruntun hanya dalam hitungan menit!
“Aaaaah! JAKE! KELUAR LAGI! GUE CUM LAGI!” jeritmu serak, meremas bahu tegapnya yang basah oleh keringat pagi.
“Terus, (Y/N)... jepit milik gue makin kencang!” erang Jake dengan suara yang amat sangat serak. “Gue mau tumpahin semuanya di dalam lo lagi!”
Gairah di antara kalian benar-benar membakar tanpa batas. Tidak peduli lagi bahwa kalian berada di kamar apartemen Heeseung, tidak peduli lagi pada waktu yang terus berjalan. Di dalam ruangan itu, hanya ada luapan kasih sayang, ketagihan fisik, dan penyatuan jiwa yang dicurahkan hingga tuntas tanpa sisa.
Di detik-detik puncak pertempuran pagi yang brutal itu, Jake mencengkeram pinggulmu rapat-rapat, menggenjotmu dalam sepuluh tumbukan terdalam dan tercepat yang pernah ada.
PLOP! PLOP! PLOP! PLOP!
“JAAAKE!”
“(Y/N)... sshh... I’M COMING!”
Satu hentakan raksasa terakhir menancap penuh di puncaknya.
Seketika itu juga, pelepasan dahsyat meledak bersamaan di dalam tubuh kalian berdua. Intimu berdenyut histeris menjepit miliknya, sementara Jake membenamkan wajahnya di lehermu, mengerang keras dari dasar dadanya saat menyemburkan lahar hangatnya yang melimpah ruah, menggenangi rahimmu untuk kesekian kalinya.
Tubuh kalian berdua ambruk saling memeluk erat di atas kasur yang basah oleh keringat dan sisa gairah. Suara napas memburu dan detak jantung yang berpacu kencang bersahutan dalam keheningan pagi yang indah.
Jake mencium bibirmu yang terengah-engah dengan kelembutan yang teramat tulus dan protektif, menyapu air mata kenikmatan di pipimu dengan ibu jarinya—menegaskan bahwa seluruh raga, jiwa, dan kekuatannya kini telah sepenuhnya menjadi milikmu untuk selamanya.
Kamu bersandar lemas di dada tegap Jake yang masih naik-turun memburu. Sinar matahari pagi kini sudah sepenuhnya menerobos celah tirai, membiaskan pendar keemasan di atas sprei yang berantakan dan tubuh kalian yang basah oleh keringat. Rasa pegal, hangat, dan kebas nikmat yang meluap di area pinggulmu benar-benar membuatmu tak berdaya untuk sekadar menggeser duduk.
Di balik rasa lelah yang membuai itu, naluri jahilmu yang sempat terendam gairah liar tadi mendadak muncul kembali. Kamu mendongakkan kepala pelan, menatap garis rahang Jake yang tegas dari bawah. Cowok yang beberapa menit lalu menggenjotmu tanpa ampun dengan tenaga mutasinya itu kini kembali kelihatan seperti ‘Jake Sim’ yang dikenal orang-orang: pemalu, agak canggung, dengan poni cokelatnya yang berantakan menyapu dahi dan pipinya yang mendadak merona merah begitu menyadari tatapanmu.
Kamu menyunggingkan senyuman tipis yang sarat akan godaan, mengangkat satu tanganmu yang lemas untuk membelai pipinya yang hangat.
“Gila banget lo ya, Jake Sim...” bisikmu dengan suara yang masih agak serak khas sehabis orgasme berkali-kali. “Ternyata pahlawan rahasia kota ini bener-bener enggak ada capenya. Tenaga mutasi lo dipake buat ginian sampai habis berapa ronde, hm?”
Jake tersentak halus, rona merah di pipinya seketika menyebar mulus hingga ke leher dan ujung telinganya. Dia mendeham canggung, berusaha menghindari tatapan matamu yang penuh kejahilan sambil merapikan selimut tebal untuk menutupi bahu polosmu.
“U-umm... kan... kan lo sendiri yang minta gerak terus tadi...” gumam Jake pelan dengan nada membela diri yang teramat polos, membuat imej ‘ganas’-nya beberapa menit lalu runtuh tanpa sisa.
Kamu terkekeh renyah, mencubit gemas pinggang berototnya yang tidak dilapisi selembar kain pun.
“Iya, tapi lo yang kelewatan! Nahan perut lo aja gue kagak sanggup, keras banget kayak tembok beton,” godamu makin menjadi-jadi, menikmati raut wajah salah tingkahnya yang luar biasa menggemaskan. Kamu lalu menyandarkan dagumu di dadanya, menatap matanya dari dekat. “Coba bayangin... kalau sampai Mas Heeseung tahu kelakuan kita berdua dari semalam sampai pagi ini di dalam kamar tamu apartemennya... bisa-bisa kita digodain habis-habisan sampai lulus kuliah!”
Mendengar nama Heeseung tersebut, bola mata Jake membelalak pelan. Otaknya langsung memutar bayangan bagaimana wajah sepupumu itu kalau sampai memergoki atau curiga soal apa yang terjadi di kamar ini.
Heeseung—pria yang paling teliti, rasional, dan hobi membedah data itu—pasti bakal mengeluarkan komentar-komentar pedas nan menjengkelkan. Dia bisa saja dengan santai bertanya berapa kalori yang terbuang dari metabolisme mutasi Jake khusus untuk ‘kegiatan intim’ ini, atau bahkan membuat grafik perbandingan daya tahan fisik Jake saat menahan truk dengan saat menggenjotmu di atas kasur!
“Jangan... please jangan sampai Mas Heeseung tahu,” cicit Jake panik, memegangi kedua bahumu dengan raut wajah memohon yang begitu polos. “Mas Heeseung tuh mulutnya enggak bisa disaring kalau lagi godain orang. Bisa-bisa tiap kali gue main ke sini, gue disuruh minum susu high protein dua gelas cuma buat ‘persiapan ronde’!”
Tawa renyahmu pecah seketika di dalam ruangan, merespons kepanikan konyol pahlawan supermu itu. Kamu melingkarkan lenganmu di lehernya, menarik wajahnya turun dan mendaratkan ciuman gemas di ujung hidungnya.
“Makanya... buruan bantu gue bangun dan bereskan kamar ini sebelum Mas Heeseung pulang,” bisikmu penuh kehangatan. “Rahasia ini cuma milik kita berdua... dan costume bodysuit lo yang jadi saksi bisu.”
Jake menyunggingkan senyuman terhangat dan paling lega yang pernah dia miliki. Dia membalas pelukanmu dengan penuh kasih sayang, mengecup keningmu lama di bawah naungan sinar matahari pagi—menyadari bahwa di balik semua aksi berbahaya dan tanggung jawab raksasa yang dia pikul, kehangatan dan gelak tawa bersamamu adalah tempat terbaik yang selalu membuatnya merasa menjadi manusia paling utuh di dunia.
Dengan sisa-sisa tawa yang masih merayap di dada, kamu dan Jake akhirnya memaksa diri untuk beranjak dari kasur. Setiap gerakan kecil dari tubuhmu mengirimkan desiran pegal yang manis di area pinggul, mengingatkanmu betapa liarnya pertukaran kasih sayang kalian dari semalam hingga pagi ini.
Jake yang menyadari langkah kakimu agak gemetar dengan refleks cepat merengkuh pinggangmu, memapahmu masuk ke kamar mandi dengan kelembutan yang teramat telaten. Tidak ada lagi kebuasan liar seperti beberapa saat lalu—yang tersisa hanyalah Jake Sim yang perhatian, teliti, dan mengurusmu bagai barang paling berharga di dunia.
Kalian mandi bersama di bawah kucuran air hangat, saling membilas dan memanjakan tanpa ada canggung yang tersisa. Sensasi air hangat yang membasahi kulit meredakan ketegangan otot-otot kalian. Jake dengan telaten menyabuni punggungmu, sesekali mendaratkan kecupan-kecupan kecil di bahumu yang meninggalkan rona merah pudar. Begitu selesai mandi dan berganti pakaian santai, misi utama kalian dimulai: membersihkan tempat kejadian perkara sebelum Heeseung pulang.
“Gue yang lepas sprei sama sarung bantal,” cetus Jake terburu-buru, membawa tas laundry tebal. Dengan kecepatan dan kelincahan refleks supernya, Jake mengganti sprei kamar tamu hanya dalam hitungan detik, memasang sprei bersih yang baru dan merapikan selimut hingga mulus tanpa lipatan.
Kamu yang bertugas membuka jendela lebar-lebar untuk membiarkan angin pagi menyapu bersih aroma gairah dan pekat yang sempat mengendap di ruangan itu. Kamu juga menyemprotkan pengharum ruangan beraroma citrus-lavender ke setiap sudut kamar dan ruang tengah.
“Aman enggak?” tanya Jake cemas sambil berdiri di ambang pintu kamar tamu, memandangi ruangan yang kini sudah rapi mengkilap bak kamar hotel.
Kamu mengendus udara di sekitar, lalu mengacungkan dua jempolmu. “Aman seratus persen! Enggak bakal ada jejak sedikit pun yang bisa dibedah sama insting detektifnya Mas Heeseung.”
Jake menghela napas lega yang teramat panjang, menyapu keringat tipis di dahinya, lalu tertawa pelan bersamaan denganmu.
Seharian itu, kalian menghabiskan waktu di ruang tengah dengan ketenangan yang belum pernah terasa begitu manis. Kamu duduk di sofa sambil memangku laptop untuk mengerjakan draf tulisan, sementara Jake duduk lesehan di bawah, menyandarkan kepalanya di antara kedua paha mulusmu. Jemari tanganmu secara alami bermain-main di sela-sela rambut cokelatnya yang halus, sementara Jake sibuk membaca jurnal ilmiah sambil sesekali memegang tanganmu dan memijat jemarimu lembut.
Hingga akhirnya, jam di dinding menunjukkan pukul delapan malam.
Bip-bip-bip-bip! Klek.
Suara tombol panel pintu apartemen berbunyi. Pintu utama terdorong terbuka, menampilkan sosok Heeseung yang melangkah masuk sambil menyeret koper kecilnya. Wajah sepupumu itu kelihatan lelah luar biasa sehabis perjalanan luar kota dan rapat maraton dua hari.
“Duh... akhirnya sampai juga di rumah...” keluh Heeseung sambil melepaskan sepatu dan melemparkan tasnya ke sofa.
Kamu dan Jake langsung menegakkan posisi duduk, berusaha memasang raut wajah se-normal dan se-polos mungkin.
Heeseung berjalan ke arah dapur, mengambil gelas, dan menyiramkan air dingin ke tenggorokannya. Matanya yang tajam di balik kacamata mulai mengedar, memperhatikan suasana apartemennya yang tampak luar biasa bersih, rapi, dan harum. Heeseung memicingkan matanya, melangkah mendekati meja ruang tengah tempat kalian berdua duduk bersisian.
“Kok apartemen Mas bersih banget?” tanya Heeseung curiga, menaikkan sebelah alisnya. “Kalian berdua habis bongkar muatan apa gimana? Bau pengharum ruangannya semerbak banget sampai koridor luar.”
“E-enggak kok, Mas!” sahutmu cepat, mengulas senyuman paling manis dan paling jujur yang kamu punya. “Iya kan kita kasihan sama Mas Heeseung yang pulang-pulang capek dari luar kota, makanya (Y/N) sama Jake beres-beres apartemen biar Mas nyaman pas sampai!”
“Iya, Mas Heeseung,” tambah Jake mantap, mengangguk-angguk sopan dengan wajah tanpa dosa. “Saya juga tadi sempat cuci sprei sama sarung bantal kamar tamu biar segar pas dipakai lagi.”
Heeseung menatap kamu, lalu menatap Jake dari atas ke bawah. Sebagai orang yang biasa membaca pola, ada rasa aneh yang mengganjal di kepalanya. Tapi melihat Jake yang tampak begitu segar bugar—tanpa ada sisa pingsan atau lelah metabolisme—Heeseung mengurungkan niat untuk menganalisis lebih jauh.
Heeseung menghela napas panjang, mengusap leher belakangnya yang kaku, lalu tersenyum tipis.
“Yaudah deh... makasih ya kalian berdua. Mas emang butuh istirahat banget malam ini,” kata Heeseung sambil menepuk bahu Jake pelan. “Oh iya, Jake... besok lusa jadwal kontrol rutin darah lo ya. Kita cek lagi laju suplemennya di lab.”
“Siap, Mas Heeseung!” jawab Jake dengan nada penuh hormat.
Saat Heeseung berbalik melangkah menuju kamarnya untuk membersihkan diri, Jake diam-diam melirik ke arahmu. Di balik punggung Heeseung, Jake menyunggingkan senyuman tipisnya yang teramat tampan, kedipan mata jahil meluncur dari iris cokelat tuanya yang jernih.
Kamu menahan tawa gembiramu di balik telapak tangan, membalas tatapannya dengan pendar kasih yang meluap di dalam dada.
Di dalam ruang tengah yang hangat itu, di antara rahasia besar tentang pahlawan bertopeng dan jejak-jejak kasih sayang yang tersimpan rapi di antara kalian berdua, kamu tahu bahwa perjalanan ini tidak akan pernah lagi terasa menakutkan. Di sisimu ada Jake Sim—pria yang akan selalu mempertaruhkan segalanya untuk melindungimu di luar sana, dan pria yang akan selalu memberikan seluruh jiwa dan kehangatannya hanya untukmu seorang.
to be continued
sksskskskssk enak coi
setuju ga?






GILAAAA, NIKMATI😳🥵🤤
Mas hee ma gue aja🤗🤗