14 Halo Dek
Laksamana Jay
jangan lupa like sebagai apresiasi buat author
Deru mesin SUV hitam milik Jay yang perlahan menjauh sebelum azan Subuh berkumandang menjadi penanda bahwa panggung sandiwara semalam telah usai. Kamu terbangun dengan tubuh yang masih terasa remuk. Efek samping Postinor semalam menyisakan rasa mual yang menggantung di pangkal tenggorokan dan pening yang membuat pandanganmu agak berputar saat menduduki pinggiran ranjang.
Namun, ada satu rasa baru yang mekar di dadamu: rasa aman yang semu. Kamu menyentuh keningmu, tempat di mana kecupan lama Jay mendarat semalam. Kata-kata manis sang Laksamana tentang โmasa depanโ, tentang โkuliahโ, dan tentang bagaimana ia akan mendatangi Ayahmu, terus berputar seperti kaset rusak yang menidurkan akal sehatmu. Kamu tersenyum tipis, merapikan kaus kebesaranmu, lalu melangkah ke kamar mandi untuk bersiap ke sekolah. Jay benar, kamu hanya perlu menjadi good girl agar rahasia ini aman dan masa depan itu terwujud.
Sekitar Pukul 10.00 WIB di Kantin Sekolah...
โKamu beneran nggak apa-apa, (y/n)? Muka kamu dari jam pertama pucat banget kayak kurang darah,โ suara Isa memecah lamunanmu. Ia sedang mengaduk es teh manisnya, menatapmu dengan dahi berkerut penuh selidik.
Kamu tersentak, cepat-cepat menurunkan ponsel yang sejak tadi kamu genggam dengan obsesif-menunggu barangkali ada satu saja pesan singkat dari โAbang Jayโ di sela dinasnya.
โAh? Nggak apa-apa kok, Sa. Cuma agak pusing aja, efek begadang kemarin pas... camping,โ jawabmu lirih, hampir kelepasan di kata terakhir.
Isa meletakkan sedotannya, condong ke arahmu dengan tatapan yang semakin mengintimidasi. โNah, itu dia. Kemarin sore Ibu kamu telepon aku lagi. Beliau bilang kamu udah pulang diantar sama... Laksamana? Ganteng, gagah, pake seragam perwira lengkap. Ibu kamu sampai muji-muji dia setinggi langit, katanya kamu dapet bingkisan sembako sama piagam organisasi gabungan.โ
Jantungmu seolah melompat ke tenggorokan. Kamu meremas rok abu-abumu di bawah meja.
โSa, itu-โ
โAku emang bilang iya-iya aja ke Ibu kamu biar beliau nggak curiga, (y/n). Tapi kita bersahabat udah lama. Aku tahu bener nggak ada agenda Pramuka gabungan akhir pekan kemarin. Dan seorang Laksamana Pertama TNI AL tiba-tiba antar kamu pulang ke rumah?โ Isa menggelengkan kepala, suaranya merendah menjadi bisikan tajam. โKamu sebenernya nyembunyiin apa dari aku, (y/n)? Siapa laki-laki itu?โ
โCuma kenalan, Sa! Kebetulan dia pengawas dan arah rumahnya searah,โ potongmu cepat, suaramu agak meninggi hingga membuat dua siswi di meja sebelah sempat menoleh. Kamu menarik napas dalam, mencoba menstabilkan emosimu yang mendadak labil akibat hormon obat semalam. โAku nggak bisa cerita banyak. Tapi sumpah, semuanya aman. Kamu nggak usah khawatir.โ
Isa menatapmu lama, ada kilat kecewa di matanya karena merasa tidak lagi dipercaya, namun ia akhirnya memilih diam dan memalingkan muka. Kamu hanya bisa mengembuskan napas berat, merasa bahwa jaring kebohongan yang ditenun Jay mulai menjauhkanmu dari orang-orang terdekatmu.
โ
Siang itu, di Markas Besar Pangkalan Utama TNI AL. Suasana di koridor gedung utama markas terasa begitu formal dan kaku. Langkah sepatu lars yang beradu dengan lantai marmer mengiringi langkah Letnan Ryujin yang berjalan tegap membawa map tebal berisi laporan evaluasi pasca-tenggelamnya KRI Elang.
Ryujin berhenti di depan pintu jati besar berpapan nama: LAKSAMANA PERTAMA JAY. Setelah mengetuk pintu tiga kali dan mendengar perintah masuk, ia melangkah ke dalam, memberikan hormat militer yang sempurna.
โLapor, Komandan. Ini berkas evaluasi medis dan logistik terkait prajurit remaja yang dievakuasi semalam. Semua korban selamat sudah dipindahkan ke paviliun perawatan,โ ucap Ryujin tegas.
Jay, yang duduk di balik meja kerja besarnya dengan kemeja dinas yang rapi dan plester kecil yang masih bertengger di pelipisnya, hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangan dari laptop. โLetakkan di meja, Letnan.โ
Ryujin melangkah maju untuk meletakkan map tersebut. Namun, saat tangannya bergerak di atas meja jati itu, mata tajam seorang intelijen militer yang ia miliki menangkap sesuatu yang ganjil di sudut meja, tepat di samping tumpukan buku peraturan dinas.
Sebuah hasduk Pramuka kain merah-putih, yang polanya sedikit kotor oleh bekas tanah kering, terlipat rapi di sana. Di atasnya, bertengger sebuah cincin perak kecil yang tampak akrab di mata Ryujin.
Cincin itu...
Ryujin mematung selama satu detik. Ingatannya berputar cepat pada kejadian semalam di depan apotek. Gadis SMA dengan hoodie kebesaran yang gemetar ketakutan, gadis yang menangis di pelukannya di bawah pohon besar rumah sakit. Ryujin ingat betul bagaimana jari-jari kurus gadis bernama (y/n) itu meremas tali tasnya-dan di jari manisnya, melingkar cincin perak dengan potongan yang persis sama dengan yang ada di meja sang Laksamana sekarang.
โAda yang salah, Letnan Ryujin?โ suara bariton Jay yang dingin tiba-tiba memotong keheningan ruangan.
Jay mendongak, matanya yang gelap menatap Ryujin dengan pandangan menyelidik yang tajam, menyadari arah mata bawahannya yang tertuju pada โtrofiโ kemenangan miliknya.
Ryujin dengan cepat menguasai ekspresi wajahnya, kembali berdiri tegak dengan sikap sempurna. โSiap, tidak ada, Komandan. Saya hanya memastikan semua dokumen sudah lengkap.โ
โBagus. Kalau tidak ada hal lain lagi, kamu boleh kembali ke divisi kamu,โ perintah Jay dingin, nadanya kembali datar namun menyimpan otoritas yang tak terbantahkan.
โSiap. Izin undur diri, Komandan.โ Ryujin memberikan hormat, lalu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan.
Begitu pintu jati itu tertutup rapat, Ryujin berdiri di koridor yang sepi dengan dada yang bergemuruh. Otak taktisnya mulai menghubungkan titik-titik samar yang mengerikan.
Laksamana Jay yang tiba-tiba tidak bisa dihubungi sepanjang Sabtu malam dengan alasan โurusan pribadiโ... Seorang gadis berumur 16 tahun yang nekat membeli kontrasepsi darurat sendirian di area dekat pangkalan militer sambil menangis... Dan hasduk sekolah serta cincin perak yang tergeletak di meja kerja pria nomor satu di markas ini.
Ryujin mengepalkan tangannya di samping paha, dadanya sesak oleh kecurigaan yang merayap. Enggak, ini nggak mungkin. Laksamana Jay nggak mungkin sebejad itu, kan?
Sambil berjalan menuju Jeep militernya, Ryujin merogoh saku celananya, mengambil ponsel pribadinya, lalu membuka ruang obrolan dengan kontak baru yang ia simpan semalam. Jarinya bergerak mengetik sebuah pesan, didorong oleh rasa khawatir dan insting pelindung yang membubung tinggi.
Kak Ryujin: (y/n), ini saya, Ryujin. Bagaimana kondisi kamu siang ini? Mualnya sudah mendingan? Tolong balas kalau kamu sudah luang. Saya cuma mau memastikan kamu aman.
Di tempat lain, di dalam kelas yang pengap saat jam pelajaran terakhir dimulai, ponsel di dalam saku seragammu bergetar pelan. Kamu merogohnya di bawah meja, berharap itu adalah pesan rindu dari Jay. Namun, saat layar menyala, nama โKak Ryujinโ yang muncul di baris notifikasi membuat jantungmu seketika berdesir hebat-sebuah riak kecil yang siap mengubah sandiwara manis ini menjadi badai yang sesungguhnya.
Kamu menatap layar ponsel di bawah kolong meja dengan ibu jari yang menggantung ragu. Pesan dari Letnan Ryujin terasa seperti sebuah perhatian asing yang hangat, namun di saat yang sama, peringatan Jay semalam kembali terngiang di kepalamu: โAbang punya segalanya tentang kamu. Jangan coba-coba main belakang.โ
Kamu menelan ludah, mencoba mengatur napas agar Isa di sebelahmu tidak menyadari kegelisahanmu. Dengan gerakan cepat, jemarimu mulai mengetik balasan untuk Ryujin. Kamu memilih kata-kata yang seformal dan seaman mungkin, menahan diri agar tidak terlalu terbuka pada perwira wanita itu.
(y/n): Siang, Kak Ryujin. Aku sudah mendingan kok, cuma agak lemas sedikit tadi pagi. Makasih banyak ya Kak udah mau mastiin kondisiku.
Hanya butuh waktu kurang dari satu menit sampai ponselmu kembali bergetar pelan.
Kak Ryujin: Bagus kalau begitu. Sudah dapat kabar dari pacar kamu? Dia tahu kondisi kamu hari ini?
Kamu menatap pesan itu dengan dada yang sedikit berdenyut. Ryujin tidak mendesakmu untuk menyebutkan nama, tidak juga menginterogasimu seperti semalam. Dia hanya bertanya dari sudut pandang seorang wanita yang peduli. Namun, bayangan Jay yang mengunci tatapanmu semalam di sofa membuatmu buru-buru menyusun kebohongan baru untuk menyudahi rasa penasaran Ryujin.
(y/n): Sudah kok, Kak. Semuanya baik-baik aja sekarang. Dia akhirnya mau tanggung jawab dan janji bakal serius sama aku nanti. Kakak nggak usah khawatir lagi ya.
Kamu menekan tombol kirim dengan perasaan campur aduk. Kalimat โmau tanggung jawabโ itu terasa hambar di lidahmu. Jay memang berjanji akan mendatangi Ayahmu setelah kamu kuliah, tapi janji itu dibungkus dengan ancaman video yang siap menghancurkanmu kapan saja. Kamu tidak sepenuhnya jujur, tapi kamu harus menutup rapat celah ini sebelum Ryujin melangkah terlalu jauh ke dalam duniamu dan Jay.
Di seberang sana, di dalam Jeep militernya, Ryujin menatap layar ponsel dengan tatapan yang semakin meredup. Alih-alih merasa lega, kalimat (y/n) tentang โpacar yang mau tanggung jawabโ justru membuat instingnya semakin bergejolak. Pikirannya kembali melayang pada hasduk Pramuka dan cincin perak di meja Jay. Tanggung jawab macam apa yang bisa diberikan oleh seorang pria dewasa berpengaruh kepada anak SMA berusia 16 tahun? Ryujin mengembuskan napas berat, menyimpan ponselnya, dan langsung menginjak pedal gas dalam-dalam.
โ
Akhir pekanmu tiba. Suasana rumah di jam 1 siang itu terasa cukup sibuk. Ayahmu yang baru pulang dinas dari luar kota sedang bersantai di ruang tengah, sementara ibumu sibuk merapikan ruang tamu. Kamu berdiri di depan cermin kamarmu, menatap pantulan dirimu yang sudah rapi mengenakan dress kasual berwarna pastel yang manis. Di bawah kasur, tas selempang kecilmu sudah siap dengan beberapa alat rias minimalis.
Hari ini adalah hari yang kamu tunggu-tunggu sejak awal pekan. Jay memintamu menemuinya. Sang Laksamana ingin membawamu keluar, sebuah agenda ngedate yang ia janjikan sebagai hadiah karena kamu sudah menjadi good girl.
Kamu turun ke lantai bawah dengan langkah yang diatur se-natural mungkin, mencoba menyembunyikan debar jantungmu yang berpacu gila karena takut ketahuan.
โBu, Yah... (y/n) izin keluar bentar ya, mau kerja kelompok di rumah Isa,โ ucapmu sambil menghampiri ibumu untuk menyalimi tangannya.
Ibumu menoleh, dahinya berkerut menatap penampilanmu. โKerja kelompok kok rapi banget? Pake baju bagus begitu, Nak?โ
Kamu sempat tercekat, namun segera memasang senyum polos andalanmu. โIya, Bu. Soalnya habis kerja kelompok, rencana mau sekalian mampir ke mall bentar sama Isa, mau cari buku referensi buat tugas tugas akhir. Makanya dandan dikit.โ
Ayahmu mendongak dari korannya, menatapmu dengan pandangan hangat khas seorang perwira tua yang tegas namun menyayangi putrinya. โPulangnya jangan kemalaman, (y/n). Sekarang cuaca lagi sering hujan badai sore-sore. Naik apa ke sananya?โ
โNaik ojek online kok, Yah. Aman. (y/n) pamit ya,โ jawabmu cepat, buru-buru menyalimi tangan Ayahmu sebelum interogasi mereka masuk ke detail yang lebih dalam.
โYa sudah, hati-hati. Salam buat Isa,โ seru ibumu dari dapur.
Begitu pintu pagar rumah tertutup di belakangmu, kamu mengembuskan napas lega yang luar biasa. Rasa bersalah karena membohongi kedua orang tuamu sempat mencubit hatimu, namun rasa itu menguap begitu saja saat sebuah mobil SUV hitam dengan kaca super gelap melambat dan berhenti tepat di ujung gang rumahmu.
Itu mobil Jay.
Jantungmu berdegup kencang. Kamu berjalan setengah berlari, membuka pintu penumpang depan, dan langsung disambut oleh aroma parfum maskulin mewah yang tajam milik sang Laksamana. Di balik kemudi, Jay sedang duduk santai mengenakan pakaian sipil-kaus polo hitam ketat yang mencetak jelas lekuk dada dan otot lengannya, serta kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.
โSiang, Abang,โ bisikmu tersipu, menutup pintu mobil rapat-rapat.
Jay tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia melepas kacamata hitamnya, menoleh sepenuhnya ke arahmu, lalu mengulas seringai tipis yang membuat bulu kudukmu meremajang sekaligus terbuai. Tangannya yang besar dan kasar terulur, mencengkeram tengkukmu dengan lembut namun posesif, menarik wajahmu mendekat hingga napasnya yang hangat menerpa bibirmu.
โPintar banget bohongnya, Sayang. Abang pantau dari sini tadi,โ bisik Jay rendah, suaranya yang serak terdengar begitu mendominasi di dalam kabin mobil yang kedap. Ia mengecup bibirmu sekilas, sebuah kecupan yang sarat akan kepemilikan mutlak. โSekarang, lupakan soal rumah, lupakan soal sekolah kamu. Hari ini, kamu cuma punya Abang seutuhnya.โ
Kamu hanya bisa mengangguk lemas dengan wajah yang merona merah, menyerahkan seluruh kendali dirimu pada pria yang siap membawamu masuk lebih dalam ke dalam jaring manipulasinya.
โ
To Be Continued
siapa kepo profesi bapak y/n?




Ayahnya perwira loh.... ๐คจ
SANGAT AMAT POLOS YAH KAMU YEEN โบ๏ธ