jangan lupa like
Ruangan yang temaram itu terasa makin sesak oleh udara hangat yang bergetar. Suara hembusan napas yang memburu dan detak jantung yang saling bersahutan menjadi satu-satunya latar nada yang menguasai keheningan malam. Melihat Jake yang kini pasrah dalam cengkeramanmu dengan tatapan mata cokelat tuanya yang begitu mendamba, keberanianmu mencapai puncaknya. Kamu tidak ingin ada satu pun penghalang lagi yang menyisakan jarak di antara kalian.
Tanpa melepaskan pandangan matamu dari iris cokelatnya yang berkilat membara, kedua tanganmu terangkat ke bawah. Jemarimu mencengkeram kain bagian bawah kaos oversize yang kamu kenakan. Jake membelalakkan matanya pelan, tubuhnya membeku seketika saat menyadari apa yang hendak kamu lakukan.
Dalam satu gerakan mulus dan tanpa ragu, kamu menarik kaos itu melewati kepala dan melampaui lenganmu, lalu melemparkannya begitu saja ke lantai di samping kasur. Pemandangan tubuh bagian atasmu yang kini terekspos utuh di bawah temaram lampu kamar membuat napas Jake tertahan total di tenggorokan. Pria berdaya super itu benar-benar mati kata, matanya bergerak menelusuri setiap jengkal keindahan kulitmu yang merona hangat di atas tubuhnya.
“J-Jake...” bisikmu dengan suara rendah yang serak dan sarat akan godaan.
Sebelum Jake sempat menguasai keterkejutannya, kamu menundukkan tubuhmu kembali. Kamu mengunci bibirnya dalam ciuman yang jauh lebih dalam, lebih panas, dan lebih liar dari sebelumnya. Kamu penjarakan bibir atas dan bawahnya, menuntut balasan yang sama menggebu darinya.
Lidah kalian saling bertaut dalam permainan gairah yang kian tak terkendali. Di sela-sela ciuman yang memabukkan itu, jemarimu bergerak terburu-buru ke bagian bawah kaos hitam tebal yang membungkus dada tegap Jake. Kamu mencengkeram kain kaosnya, menariknya ke atas dengan gerakan yang tergesa-gesa.
“Bantu... bantu gue lepasin baju lo, Jake...” bisikmu di sela tautan bibir kalian yang terlepas tipis.
Jake yang seolah baru terbangun dari hipnotis gairah langsung merespons permintaanmu dengan refleks kilat. Otot-otot di dadanya yang tegap menegang saat dia mengangkat kedua tangannya ke atas. Bersama-sama dengan dorongan jemarimu yang sabar tapi terburu-buru, kaos hitam itu tertarik melewati bahunya yang lebar dan terlepas sepenuhnya dari tubuhnya, dilemparkan asal menyatu dengan kaosmu di lantai.
Kini, tidak ada lagi kain yang membatasi. Dada tegap berselimut otot padat milik Jake—hasil dari mutasi biologis yang dipadukan dengan latihan intensif beberapa pekan terakhir—kini terekspos sempurna di depan matamu. Sentuhan pertama saat kulit dadamu yang halus menempel langsung pada kulit dadanya yang tegap dan hangat mengirimkan gelombang sengatan listrik yang dahsyat ke sekujur tubuh kalian berdua.
“(Y/N)... sshh...“
Jake merintih rendah saat kamu menyapukan jemarimu menelusuri otot-otot dadanya yang keras, membelai garis rahangnya, hingga meremas pelan bahu lebar yang biasanya menahan beban belasan ton itu. Gairah di antara kalian yang tadinya berupa percikan perlahan meledak menjadi kobaran liar yang tak terkendalikan.
Jake tidak lagi bersikap pemalu atau serba salah. Sisi liar dari insting alaminya yang selama ini dia tekan rapat-rapat kini bangkit sepenuhnya. Dengan gerakan yang penuh dominasi namun tetap teramat protektif, dua tangan Jake yang kokoh melingkari pinggangmu yang polos. Dia mengangkat tubuhmu dengan sangat mudah, membalikkan posisi kalian secara cepat hingga kamu berbaring di bawah naungan tubuh atletisnya.
Jake menunduk, mengunci bibirmu kembali dalam ciuman yang kian menuntut dan membakar, sementara jemarinya yang panjang bergerak kian berani menelusuri setiap lekuk tubuhmu, menghapuskan sisa-sisa rasionalitas dalam lautan gairah malam yang kian hanyut dan membara. Suara hembusan napas yang berat dan pendek memecah keheningan kamar. Suasana yang tadinya cuma dipenuhi gairah lambat kini benar-benar terbakar habis oleh impuls liar yang tak bisa lagi dibendung.
Sentuhan jemari Jake di kulitmu terasa makin panas dan tegas. Otot-otot di lengan dan dadanya yang tegap menegang mulus, memancarkan kehangatan alami dari metabolisme mutasinya yang bekerja dua kali lebih cepat dari manusia biasa. Ciuman Jake yang makin berani, mengunci bibirmu dengan ritme yang dalam dan menuntut, membuat seluruh persendianmu lemas dan gairah di dalam dadamu meledak penuh.
Tapi kamu sama sekali tidak berniat menyerahkan kendali begitu saja. Kamu mengimbangi keliarannya dengan dorongan yang tak kalah menggebu. Dengan sisa tenaga dan keberanian yang membara, kamu mendorong bahu lebar Jake perlahan, memutus ciuman kalian yang memabukkan. Kamu berguling lincah di atas kasur, mengubah posisi tubuhmu dalam hitungan detik.
Kini kamu duduk tegap di antara kedua selangkangan Jake yang terbentang di atas kasur empuk. Jake terengah-engah, dadanya yang telanjang naik-turun dengan cepat. Iris mata cokelat tuanya yang membara menatapmu dari bawah tanpa berkedip. Rambut cokelatnya yang berantakan jatuh menyapu dahi, memancarkan pendar ketampanan liar yang sangat berbeda dari citra mahasiswa mahasiswanya di kampus.
Tanpa sedikit pun rasa ragu yang tersisa, kamu meloloskan sisa kain terakhir yang menutupi bagian bawah tubuhmu, membuangnya asal ke tepi kasur. Kamu memamerkan inti tubuhmu yang sudah sepenuhnya basah oleh cairan gairah alami, berdenyut pelan, seolah terang-terangan meminta untuk segera diisi dan dituntaskan.
Mata Jake membelalak pelan melihat pemandangan indah yang tersaji utuh di depan matanya. Napasnya tertahan di tenggorokan, erangan rendah lolos dari balik bibirnya yang agak basah.
“(Y-Y/N)... gila... lo beneran bikin gue hilang akal,” bisik Jake dengan suara yang kelewat serak dan dalam.
Saat jemari Jake bergerak terburu-buru melepaskan sisa celana yang membungkus bagian bawah tubuhnya, matamu membelalak kaget.
Di sana, milik Jake sudah sepenuhnya berdiri tegap dan tegang luar biasa. Ukurannya yang besar, panjang, dan padat kelihatan begitu mengintimidasi di bawah temaram lampu kamar, bukti nyata dari dampak mutasi genetik biologisnya yang tidak hanya melipatgandakan kekuatan otot tangannya, tapi juga seluruh kapasitas fisiknya.
Ukuran itu membuat tenggorokanmu mendadak terasa kering seketika. Ada rasa gentar tipis yang terlintas, namun berbaur dengan luapan gairah yang justru makin membuat intimu berdenyut makin basah.
“Jake... itu...” bisikmu terpaku, menatap miliknya yang tegang di antara jemarimu.
Jake menyunggingkan senyuman tipis yang teramat seksi—campuran antara rasa bangga alami dan gairah murni yang siap meledak. Dia memajukan pinggulnya sedikit, mendekatkan ujung miliknya yang hangat dan keras tepat di depan celah intimu yang sudah basah kuyup.
“Kenapa? Takut... atau makin mau, (Y/N)?” goda Jake dengan suara rendah yang menggetarkan dadamu.
Dua tangan kokoh Jake terangkat, mencengkeram pinggulmu dengan mantap, membimbing posisimu agar tepat berada di atas ujung miliknya yang mengintimidasi. Kehangatan yang memancar dari pertemuan kulit kalian mengirimkan sengatan listrik yang dahsyat, siap menyatukan kalian berdua dalam puncak gairah yang takkan pernah terlupakan.
Wajahmu terasa membakar, merah padam dari leher hingga ke ujung telinga. Kombinasi antara rasa malu, antusiasme yang membara, dan visual ukuran milik Jake yang begitu mengintimidasi benar-benar membuat napasmu tertahan di tenggorokan.
Jake, yang memegang pinggulmu dengan kedua tangannya yang kokoh dan berurat halus, perlahan mengarahkan posisimu. Ujung kepalanya yang hangat, lembap, dan keras menyentuh tepat di celah intimu yang sudah terlumasi sempurna.
Ssshh...
Sensasi sentuhan pertama itu saja sudah membuat seluruh tubuhmu bergidik hebat. Jake mengencangkan cengkeramannya di pinggulmu, lalu memberikan tekanan perlahan untuk menekan tubuhmu turun.
“Aahh... nghh!”
Lenguhan seksi yang sangat pasrah refleks lolos dari balik bibirmu begitu bagian ujungnya yang tebal mulai menerobos dan meregangkan intimu. Sensasi penuh dan hangat yang mendesak masuk seketika memenuhi bagian bawah tubuhmu. Ukurannya yang benar-benar masif membuatmu merasa sangat sempit dan padat.
Kamu menahan napas, kedua tanganmu refleks bertumpu erat di atas dada tegap Jake yang naik turun memburu. Kamu menggelengkan kepala pelan, matamu terpejam rapat menahan rasa sesak yang dipenuhi kenikmatan sengatan gairah.
“J-Jake... nggth... gede banget...” bisikmu terbata-bata, napasmu terengah-engah. “Gue... gue enggak yakin bisa masuk semuanya...”
Jake mendongakkan kepalanya sedikit, menatap wajahmu yang memerah pasrah dari bawah. Tatapan matanya yang tadi liar mendadak melunak, dipenuhi pendar kelembutan dan perhatian yang teramat dalam. Meskipun gairah di dalam darahnya sudah membakar hingga ke ubun-ubun, insting dasarnya untuk selalu melindungimu dan membuatmu merasa aman tetap menjadi yang utama.
Dua tangan kokoh Jake yang memegang pinggulmu menahan posisimu agar tidak turun terlalu cepat. Jemari panjangnya mengusap lembut kulit pinggul dan paha bagian dalammu untuk meredakan ketegangan otot-ototmu.
“Ssshh... tenang, (Y/N)...” bisik Jake dengan suara yang teramat rendah, serak, dan penuh kehangatan yang membius.
Jake menegakkan sedikit bagian atas tubuhnya, menjangkau wajahmu dan mengusap air mata tipis yang tergenang di sudut matamu memakai ibu jarinya. Dia menunduk, mengunci bibirmu kembali dalam ciuman yang sangat dalam, lembut, dan memabukkan—mengalihkan rasa tumpat di bagian bawah tubuhmu lewat perpaduan lidah kalian yang saling bertaut.
“Pelan-pelan aja, okay?” bisik Jake di sela-sela ciuman kalian, napas Panasnya menyapu pipimu yang membakar. “Atur napas lo... ikuti ritme lo sendiri. Gue enggak bakal maksain. Take your time, sweetheart...”
Kata-kata dan perlakuan manis Jake perlahan meruntuhkan rasa takutmu. Kehangatan tubuhnya dan fleksibilitas metabolisme mutasinya membuat gesekan kulit kalian terasa begitu menyatu.
Kamu menarik napas panjang, mencoba merilekskan otot-otot intimu yang menjepitnya sangat erat. Dengan sangat perlahan, kamu menurunkan pinggulmu milimeter demi milimeter, membiarkan ukurannya yang masif dan tegang melesak makin dalam, mengisi seluruh ruang kosong di dalam dirimu hingga puncaknya menembus bagian terdalam yang belum pernah tersentuh sebelumnya.
“Aahhh... Jake...!” jeritmu pelan saat tubuhmu akhirnya jatuh sepenuhnya di atas pangkuannya, menyatukan pangkal tubuh kalian tanpa celah sedikit pun.
Jake mengerang rendah dari dasar tenggorokannya—erangan nikmat yang begitu dalam saat intimu yang hangat dan sangat jepit mengurung miliknya secara utuh. Otot-otot di dada dan lengannya menegang sempurna, mencengkeram pinggulmu makin erat untuk menikmati sensasi penyatuan sempurna yang akhirnya tuntas di antara kalian.
“Aahh... Jake...”
Suara jeritan pelanmu yang sarat akan pasrah dan kenikmatan membumbung halus di dalam kamar yang temaram. Intimu yang sangat ketat dan basah kini sepenuhnya membungkus milik Jake tanpa celah. Sensasi tumpat, hangat, dan berdenyut yang mendesak di bagian terdalam tubuhmu membuat kedua matamu terpejam rapat, jemarimu meremas kuat bahu tegap Jake yang berotot padat.
“(Y/N)... sshh... gila... ketat banget...”
Jake mengerang rendah dari dasar tenggorokannya. Otot-otot di dada dan lengannya menegang mulus, memancarkan kehangatan metabolisme mutasinya yang kian membara. Dua tangan kokohnya yang bertengger di pinggulmu mengencangkan cengkeraman, menahan napasnya sebentar untuk membiarkan tubuhmu terbiasa dengan ukuran masifnya yang kini mengunci utuh di dalam dirimu.
“G-gimana...?” bisik Jake dengan suara yang kelewat serak dan dalam, matanya yang membara menatap wajahmu yang memerah pasrah. “Masih... sakit enggak?”
Kamu menggelengkan kepala pelan, membuka matamu sedikit untuk membalas tatapannya. Rasa sesak di awal perlahan luntur, berganti menjadi sengatan nikmat yang luar biasa dahsyat. Kehangatan dari tubuh Jake meresap ke dalam aliran darahmu, memicu gejolak gairah yang kian menuntut untuk segera dituntaskan.
“Enggak... udah enggak...” bisikmu terengah-engah, menyunggingkan senyuman tipis yang sarat godaan di depan wajahnya. “Enak banget, Jake... please...”
Mendengar kata ‘enak’ dan bisikan permohonan yang lolos dari bibirmu, sisa-sisa kendali diri Jake runtuh sepenuhnya. Sisi pahlawan santunnya di kampus menguap tanpa sisa, digantikan oleh insting murni pria dewasa yang sepenuhnya mendambakanmu.
“Oke... kita mulai ya, sweetheart,” bisik Jake di dekat telingamu.
Jake membimbing gerakan pertamanya. Dengan cengkeraman mantap di pinggulmu, Jake membantu mengayunkan tubuhmu naik-turun secara perlahan.
Sreett... ssstt...
Gesekan pertama saat miliknya yang tebal dan panas keluar-masuk membelah cairan intimu mengirimkan gelombang kejutan yang membuat seluruh tubuhmu bergidik hebat. Lenguhan seksi dan desahan napas kalian berdua menyatu, memecah keheningan malam yang kian hanyut.
“Aah! Jake... ahh!” kamu mendongakkan kepalamu, membiarkan rambutmu terurai melambai saat ritme gerakanmu di atas pangkuannya mulai makin cepat dan tidak beraturan.
Jake menyambut setiap hunjukan tubuhmu dari bawah. Pria berdaya super itu mendorong pinggulnya naik secara presisi, menumbuk titik peka di dalam intimu dengan ketepatan yang membuatmu hampir kehilangan akal sehat. Setiap kali puncaknya menembus bagian terdalammu, sengatan nikmat yang membakar membuat jemarimu meremas makin kencang di bahu dan dadanya.
Brak... brak... brak...
Decitan halus per kasur dan ketukan ritmis gesekan kulit kalian yang basah oleh keringat tipis memenuhi ruangan. Jake yang tidak tahan lagi cuma menjadi pihak yang ditumpangi mendadak menegakkan tubuh bagian atasnya. Dengan kekuatan fisiknya yang luar biasa, Jake merengkuh punggung dan pinggangmu, membalikkan posisi kalian dalam satu putaran mulus tanpa memutus tautan di antara pangkal tubuh kalian!
Bruk!
Kini kamu berbaring telentang di atas kasur empuk, sementara Jake menaungimu dari atas dengan kedua tangannya yang mengunci erat di kiri-kanan kepalamu.
“Jake... nghh!”
“Tahan ya, (Y/N)... gue mau agak cepat,” bisik Jake di sela napasnya yang memburu hebat.
Jake mulai menghujamkan miliknya dengan ritme yang jauh lebih cepat, dalam, dan brutal. Hunjakan-hunjakan kokoh dari pinggulnya menghantam intimu tanpa ampun, membuat tubuhmu terdorong naik-turun di atas kasur mengikuti tempo gerakannya yang makin liar.
“Aah! Aah! Jake! Pelan... sshh... gila, Jake!” jeritmu pasrah, kedua kakimu refleks melingkar erat di pinggang tegapnya, menyatukan tubuh kalian kian rapat dalam lautan kenikmatan yang memabukkan.
Jake menunduk, mengunci bibirmu kembali dalam ciuman yang amat panas dan menuntut, meredam jeritan-jeritan nikmatmu di dalam mulutnya. Tangan kanannya menyusup ke bawah punggungmu, menopang tubuhmu agar setiap dorongan pinggulnya bisa merujuk semakin dalam menembus puncaknya.
“(Y/N)... lo punya gue... sshh... cuma punya gue...” pangkas Jake di antara tautan bibir kalian yang terlepas tipis, matanya menatapmu dengan pendar kepemilikan yang teramat dalam dan protektif.
“Iya... ahh! Punya lo, Jake... cuma punya lo!” balasanmu jujur, mencengkeram lengan ototnya yang menegang keras.
Sensasi panas yang memuncak di bagian bawah perutmu kian meluap. Dinding-dinding intimu menjepit milik Jake semakin ketat dan berdenyut liar, menandakan bahwa puncak kenikmatanmu sudah berada di ambang batas. Jake yang merasakan jepitan erat dari intimu ikut merasakan aliran darahnya memuncak panas. Reaksi metabolisme biologisnya bekerja di titik tertinggi, memicu dorongan klimaks yang tak lagi bisa ditahan.
“(Y/N)... gue mau keluar... sshh... bareng ya!” erang Jake serak, mempercepat tempo hunjakannya di detik-detik terakhir secara masif dan dalam.
“Iya, Jake! Ahh... keluarin di dalam... JAKE!”
PLAK! Crrt!
Satu dorongan terdalam dan terkuat dari pinggul Jake menghantam puncaknya. Seketika itu juga, pelepasan dahsyat meledak di dalam tubuh kalian berdua. Intimu menjepit dan berdenyut hebat menyerap lelehan lahar hangat yang disemburkan Jake secara bertubi-tubi di bagian terdalam dirimu. Kamu menjerit pasrah, memeluk leher Jake erat-erat saat gelombang kenikmatan klimaks melumpuhkan seluruh saraf tubuhmu.
Jake mengerang panjang dari dasar tenggorokannya, menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu saat menyemburkan seluruh benih kehidupan dan energinya di dalam rahimmu. Otot-otot di dadanya bertambah kaku seketika, menempel rapat di atas dadamu yang naik-turun memburu. Dunia di sekitar kalian seolah berhenti berputar selama beberapa menit yang teramat panjang dan nikmat.
Setelah pelepasan dahsyat itu perlahan surut, Jake tidak langsung mencabut miliknya. Dia membiarkan tubuhnya tetap menindihmu secara lembut, merebahkan kepalanya di samping lehermu dengan napas yang masih terengah-engah dan basah oleh keringat. Jake mendaratkan kecupan-kecupan halus yang teramat lembut di sepanjang garis leher, pipi, dan keningmu—sebagai bentuk rasa terima kasih, kepedulian, dan kehangatan murni yang tak terbatas sehabis penyatuan liar mereka.
“Makasih... sweetheart...” bisik Jake pelan, suaranya kembali terdengar teramat lembut dan hangat di dekat telingamu.
Kamu tersenyum pasrah, mengusap rambut cokelatnya yang basah oleh keringat, lalu memeluk tubuh tegapnya dengan penuh rasa kasih—menyadari bahwa malam ini, di dalam pelukan sang pahlawan rahasia, kalian telah sepenuhnya menyatu dalam ikatan cinta yang takkan pernah terpisahkan.
Napas kalian berdua masih terengah-engah di dalam keheningan kamar yang temaram. Sisa lahar hangat yang baru saja disemburkan Jake di dalam dirimu terasa mengalir tipis, menciptakan pendar sengatan yang masih berdenyut halus di dinding intimu.
Jake merebahkan kepalanya di ceruk lehermu, menghirup aroma wangi tubuhmu yang berbaur dengan aroma gairah yang pekat. Detak jantungnya yang berdaya super perlahan mulai melambat, bergerak kembali ke ritme teratur.
Namun, metabolisme mutasi biologis di dalam darah Jake bukanlah metabolisme manusia biasa.
Hanya dalam kurun waktu beberapa menit saja, seiring dengan detak jantungnya yang menstabilkan pasokan protein dan aliran darah, regenerasi seluler di tubuh Jake bekerja dua kali lebih cepat. Rasa lelah yang sempat hinggap di fisiknya melarut seketika. Dan di bawah sana, milik Jake yang masih terkunci rapat di dalam dirimu tidak menunjukkan tanda-tanga bakal menyusut.
Malah sebaliknya. Miliknya perlahan merespons kembali kehangatan basah dari dinding intimu, menegak dan mengeras kembali dengan ukuran yang kian padat!
“J-Jake...?” bisikmu kaget, merasakan milik Jake yang mendadak kembali membesar dan berdenyut menekan bagian dalam dirimu.
Jake perlahan mendongakkan kepalanya dari ceruk lehermu. Tatapan mata cokelat tuanya yang tadi sempat melunak kini kembali membara dipenuhi pendar gairah liar yang belum sepenuhnya teruapkan. Seringai tipis yang sangat seksi dan sarat godaan terukir di bibirnya.
“Gue kan udah bilang, (Y/N)...” bisik Jake dengan suara rendah yang menggetarkan dadamu. “...metabolisme tubuh gue itu beda. Pemulihan gue cepat banget. Dan di depan lo... gue enggak bakal pernah merasa cukup.”
Sebelum kamu sempat merespons atau memprotes kalimatnya, Jake mencabut miliknya secara perlahan dari dalam dirimu.
Plok...
Suara lelepasan basah itu mengudara, diikuti lelehan benih hangatnya yang mengalir di paha bagian dalammu. Sensasi kosong yang mendadak menyerang membuatmu melenguh pelan. Tapi Jake tidak membiarkan rasa kosong itu bertahan lama. Dengan gerakan yang teramat lembut namun dipenuhi dominasi murni, Jake mencengkeram pinggulmu yang polos. Dia membimbing tubuhmu untuk berbalik membelakanginya, merubah posisimu di atas kasur.
“Nungging, sweetheart...” perintah Jake pelan, suaranya teramat serak dan dalam di dekat telingamu. “Angkat pinggul lo sedikit... biar gue bisa masuk lebih dalam dari belakang.”
Wajahmu terasa membakar hebat mendengar perintah frontal itu. Namun, pendar gairah yang kembali tersulut di dalam darahmu membuat seluruh tubuhmu bergerak mematuhi kata-katanya tanpa ragu.
Kamu menekuk kedua lututmu di atas kasur, menundukkan bagian atas tubuhmu dengan dada menempel di bantal, lalu mengangkat pinggulmu tinggi-tinggi membelakangi Jake. Posisimu yang terbuka utuh dari belakang memamerkan lekuk pinggulmu yang indah serta inti tubuhmu yang sudah basah kuyup berbaur dengan sisa benih ronde pertama.
Penglihatan tajam Jake menatap pemandangan sensual itu tanpa berkedip. Erangan rendah yang sangat dalam lolos dari tenggorokannya. Otot-otot di lengan dan dadanya kembali menegang sempurna.
Jake merangkak mendekat dari belakang, menyusup di antara kedua pahamu yang terbentang. Tangannya yang besar dan kokoh bertengger di kedua sisi pinggulmu, memegangnya dengan cengkeraman mantap yang mengunci posisi berdiri. Dia menempelkan ujung miliknya yang sudah kembali tegang keras tepat di bibir intimu yang basah.
Ssshh...
“Aahh... Jake...” kamu melenguh pasrah, jemarimu meremas erat kain seprai di bawah dadamu.
“Pegangan yang kencang, (Y/N)...” bisik Jake tepat di atas punggungmu, napas panasnya menyapu garis tulang belakangmu. “Ronde ini... gue mau lebih cepat.”
SLAP!
Tanpa memberi banyak celah untuk adaptasi, Jake mendorong pinggulnya ke depan dalam satu tekanan yang dalam dan tegas!
“Aahhhhh! JAKE!” jeritmu melengking pelan, kepalamu mendongak pasrah saat miliknya yang tebal dan panas melesak masuk seketika hingga menancap penuh di puncaknya!
Posisi nungging dari belakang membuat hunjukan miliknya menembus jauh lebih dalam dibanding posisi sebelumnya. Setiap incinya yang mengeras menggesek dan meregangkan dinding intimu secara maksimal, memberikan sensasi tumpat dan nikmat yang luar biasa dahsyat hingga membuat matamu berkaca-kaca.
Jake tidak menunggu lama. Pria berdaya super itu langsung memulakan tempo ayunan pinggulnya dari belakang.
Brak... brak... brak...
Hunjakan-hunjakan kokoh dan bertenaga dari Jake menghantam pinggulmu dari belakang dengan ritme yang cepat, ritmis, dan brutal. Bunyi gesekan kulit yang basah dan dentuman halus per kasur bergema memenuhi ruangan. Punggung dan pinggulmu terdorong maju-mundur mengikuti tempo tumbukan Jake yang kian membara.
“Aah! Aah! Jake! Dalam... nghh... dalam banget, Jake!” jeritmu pasrah di atas bantal, kedua tanganmu meremas sprei makin kencang.
“(Y/N)... sshh... lo ketat banget dari belakang...” erang Jake serak.
Satu tangan Jake berpindah dari pinggulmu ke bawah perutmu, menopang tubuhmu agar posisimu tetap terangkat sempurna, sementara tangan satunya lagi meremas lembut bahumu. Setiap kali pinggulnya menghantam rapat ke pantatmu, puncak miliknya menumbuk titik peka di dalam dirimu tanpa luput sedikit pun.
“Fuck... enak banget punya lo... Ahh! Ahh! Jake!” saking enaknya matamu sampai memutih.
Gairah ronde kedua ini membakar jauh lebih liar. Sensasi gila dari dorongan tenaga mutasi Jake membuat seluruh dinding intimu menjepitnya kencang, memicu gelombang pelepasan baru yang merayap cepat ke perut bagian bawahmu.
“Jake! Gue... gue mau keluar lagi... ahh! JAKE!” jeritmu tak sanggup lagi menahan puncak kenikmatan yang meledak.
“Sama-sama, sweetheart!” pangkas Jake penuh kehebohan.
Jake mempercepat tempo gejolak pinggulnya di detik-detik terakhir secara masif dan tanpa ampun. Tumbukan demi tumbukan terdalam dihentakkan hingga puncaknya menembus batas.
Crott Croott!
Satu hentakan terdalam menghantam rahimmu. Intimu mencengkeram erat dan berdenyut hebat saat gelombang klimaks kedua melumpuhkan seluruh tubuhmu. Di saat yang sama, Jake mengerang panjang dari dasar dadanya, membiarkan benih hangatnya yang baru kembali menyembur bertubi-tubi mengisi penuh bagian terdalam dirimu dari belakang.
Tubuhmu ambruk pasrah di atas kasur dengan napas yang memburu hebat, sementara Jake menjatuhkan tubuh tegapnya di atas punggungmu, merangkulmu dari belakang dengan dekapannya yang teramat protektif dan hangat—menenggelamkan kalian berdua dalam kepuasan murni yang takkan pernah terlupakan sepanjang malam.
to be continued
enak njir slurppp 💦





anjirr mantep lohya 🤤
Mantep didalem🤤💋🥵