13 Halo Dek
Laksmana Jay
Suara itu tegas, dingin, dan memiliki nada otoritas yang sangat kental. Kamu menoleh dan menemukan seorang wanita cantik dengan potongan rambut pendek yang sangat rapi. Ia mengenakan Seragam Dinas Lapangan (SDL) TNI AL dengantanda pangkat Letnan di pundaknya. Namanya terbordir jelas di dadanya: RYUJIN.
Apoteker itu seketika berubah sikap, wajahnya menegang penuh hormat melihat seragam perwira di depannya. βAh, siap, Ibu Letnan. Mohon maaf, saya tidak tahu. Silakan, ini obatnya.β
Ryujin membayar dengan gerakan cepat, mengambil bungkus obat itu, lalu mencengkeram lenganmu dan menarikmu keluar dari apotek tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia membawamu menjauh dari keramaian, menuju sudut tamanrumah sakit yang sepi di bawah bayangan pohon besar.
Begitu sampai di tempat yang tidak terlihat orang, Ryujin melepaskan cengkeramannya. Ia menatapmu dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan seorang interogator ulung. Ia tidak tahu bahwa kamu adalah gadis yang membuat Laksamananya menggila, dan kamu pun tidak menyadari bahwa wanita di depanmu ini adalah orang kepercayaan Jay yang paling setia.
βSekarang jelaskan,β suara Ryujin terdengar tajam. Ia mengangkat bungkus pil itu di depan wajahmu. βKenapa anak sekolah seusia kamu, dengan seragam yang belum dilepas, nekat membeli kontrasepsi darurat di area pangkalan militer? Siapa yang melakukan ini sama kamu? Apa kamu korban pelecehan?β
Kamu tersentak, lidahmu terasa kelu. Kamu tidak mungkin menyebut nama Jay. Kamu tidak mungkin mengatakan bahwa pahlawan nasional yang baru saja menyelamatkan kapal karam itu adalah orang yang menanamkan risiko ini di rahimmu.
βS-saya... saya nggak bisa bilang, Kak... hiks... tolong, jangan tanya...β kamu mulai terisak. Beban rahasia, rasa takut pada Jay, dan tekanan dari Ryujin membuat pertahananmu hancur seketika.
Melihat bahumu yang terguncang hebat dan wajahmu yang terlihat sangat rapuh, ketegasan di wajah Ryujin perlahan luntur. Sebagai seorang wanita, insting pelindungnya muncul. Ia mendesah pelan, menyimpan kembali obat itu di sakunya, lalu tiba-tiba menarikmu ke dalam pelukannya yang hangat.
βSshhh... sudah, jangan menangis di sini. Kamu bikin saya kelihatan seperti sedang menyiksa orang sipil,β bisik Ryujin, suaranya melembut secara drastis. Ia mengusap punggungmu dengan telapak tangannya yang kuat namun menenangkan.
Kamu semakin segugukan di dalam pelukannya.
Kamu merasa sangat berdosa sekaligus merasa terlindungi oleh wanita yang merupakan bawahan dari pria yang menghancurkanmu.
Kamu menangis sejadi-jadinya, menumpahkan semua rasa lelah dan takutmu di pundak seragam Ryujin, sementara di dalam saku celana perwira itu, obat yang kamu butuhkan tersimpan rapat-sama rapatnya dengan rahasia gelap yang belumRyujin sadari tentang siapa sebenarnya pria yang baru saja ia bela namanya di hadapan publik.
βAyo, saya antar kamu pulang. Kamu nggak aman di luar jam segini sendirian dengan kondisi seperti ini,β ucap Ryujin sambil tetap memelukmu, tidak menyadari bahwa tindakannya ini akan menjadi awal dari benang kusut yang menghubungkanmu, dia, dan sang Laksamana.
Mobil Jeep militer milik Ryujin membelah kemacetan malam Ibu Kota dengan deru mesin yang stabil namun terasa sangat mengintimidasi di dalam kabin yang sempit. Ryujin menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk kemudi, matanya yang tajam tetap fokus ke depan. Suasana di dalam mobil terasa berat oleh aroma parfum maskulin yang samar dan bau kain seragam yang kaku.
βJadi, pacar kamu yang maksa kamu beli sendiri?β suara Ryujin memecah keheningan, nadanya rendah namun menusuk. βLaki-laki macam apa yang membiarkan perempuannya gemetar ketakutan di apotek sendirian setelah apa yang dialakukan?β
Kamu menunduk, meremas jemarimu yang masih terasa dingin. βDia... dia sibuk, Kak. Dia punya posisi yang... yang sulit. Dia cuma nggak mau ada masalah.β
Ryujin mendengus sinis, sebuah tawa kering yang sarat akan kekecewaan. βPosisi sulit? Semua laki-laki punya alasan itu kalau mau lari dari tanggung jawab. Dengar ya, Dek, saya ini tentara. Saya tahu mana laki-laki yang punya kehormatan danmana yang cuma mau βmenangβ sendiri. Kalau dia memang sayang sama kamu, dia yang harusnya berdiri di depan etalase itu, bukan kamu yang jadi tameng buat egonya.β
Nasihat Ryujin terasa seperti siraman air es di tengah api manipulasi yang selama ini membakarmu. Kata-katanya menyentuh sisi logikamu yang selama ini tertutup oleh bayang-bayang Jay. Kamu mulai menyadari bahwa perlindungan yang Jay berikan selalu disertai dengan ancaman, sementara Ryujin, orang asing yang baru kamu temui, memberimu perlindungan tanpa menuntut apa pun.
βJangan mau dianggap barang, (y/n). Perempuan itu punya harga diri. Sekali kamu kasih dia celah buat kontrol kamu lewat rasa takut, dia nggak akan pernah berhenti. Apalagi kalau dia memang orang berpengaruh, dia harusnya tahu gimanacaranya menjaga, bukan cuma merusak,β lanjut Ryujin lagi, kali ini lebih lembut, seolah ia sedang berbicara pada adik perempuannya sendiri.
Tepat saat itu, ponsel di pangkuanmu bergetar hebat. Layarnya menyala terang di tengah kegelapan kabin, menampilkan nama yang membuat jantungmu nyaris melompat keluar dari dada: Abang Jayπ.
Panik menyergapmu. Kamu segera membalikkan layar ponsel ke arah bawah sebelum Ryujin sempat melirik. Kamu bisa merasakan detak jantungmu sendiri yang berpacu gila. Jay pasti menuntut foto pil itu. Jay pasti sedang mencarimu karenakamu belum memberikan laporan. Kamu merasa seperti sedang mengkhianati dua orang sekaligus di ruang yang sempit ini.
βPacar kamu?β tanya Ryujin tanpa menoleh, insting militernya menangkap kegelisahanmu.
βI-iya, Kak. Cuma tanya sudah sampai mana,β jawabmu bohong, suaramu sedikit tercekat.
Jeep itu akhirnya berhenti tepat di depan pagar rumahmu. Ryujin mematikan mesin, menoleh padamu sepenuhnya. Ia merogoh saku seragamnya dan menyerahkan bungkusan pil Postinor itu ke tanganmu. βMinum ini segera. Dan pikirkan lagi, apa laki-laki itu benar-benar pantas mendapatkan semua pengorbanan kamu.β
Kamu menatap Ryujin, ada rasa kagum yang tumbuh di antara rasa takutmu. Kamu merasa butuh seseorang seperti dia-seseorang yang kuat dan waras di tengah kegilaan yang diciptakan Jay.
βKak Ryujin... boleh aku minta nomor WhatsApp Kakak?β tanyamu dengan suara yang lebih mantap. βAku... aku cuma pengen berteman. Kakak sudah banyak bantu aku hari ini.β
Ryujin tampak sedikit terkejut, namun kemudian senyum tipis-senyum yang tulus tanpa maksud terselubung-muncul di wajahnya yang tegas. βTentu. Jarang-jarang ada anak SMA yang berani minta nomor Letnan.β
Ia mengambil ponselmu, jemarinya yang lincah mengetikkan deretan angka, lalu menyerahkannya kembali padamu. βJangan ragu buat hubungi saya kalau kamu merasa dalam bahaya. Saya serius, (y/n).β
βTerima kasih, Kak. Hati-hati di jalan.β
Kamu turun dari mobil, berdiri di depan pagar sambil memperhatikan lampu belakang Jeep Ryujin yang perlahan menghilang di tikungan jalan, kembali menuju markas-kembali ke dunia di mana Jay adalah tuhan. Kamu memegang pil itu erat-erat di satu tangan, dan ponsel yang terus bergetar karena panggilan Jay di tangan lainnya.
Malam ini, kamu tidak hanya membawa pulang rasa sakit, tapi juga sebuah kontak baru yang mungkin menjadi satu-satunya jalan keluar-atau justru awal dari kehancuran yang lebih besar jika Jay tahu kamu berteman dengan tangan kanannya.
Begitu pintu pagar terkunci, kamu berlari kecil masuk ke dalam rumah. Beruntung, rumah dalam keadaan sepi, ibumu sedang pergi ke acara hajatan saudara, memberimu ruang untuk bernapas meski sesak masih menghimpit dada. Kamu langsung menuju dapur, tanganmu gemetar saat merobek kemasan pil Postinor yang tadi diberikan Ryujin.
Dengan sekali teguk air putih, pil itu meluncur di tenggorokanmu-membawa serta rasa pahit yang seolah menegaskan betapa berantakannya hidupmu sekarang. Kamu meletakkan bungkus obat yang sudah kosong di atas meja, mengambilponsel, dan memotretnya sebagai bukti βkepatuhanβ.
(y/n):
(y/n): βSudah aku minum, Bang. Maaf tadi lama, aku harus cari apotek yang jauh banget.β
Hanya butuh beberapa detik sampai statusnya berubah menjadi centang biru. Jay sedang memantau.
Jay: βGood girl. Pinter. Begitu dong kalau dibilangin, jangan bikin Abang emosi. Sekarang buang bungkusnya, bakar kalau perlu. Jangan sampai ada jejak di rumah.β
Jay: βKenapa tadi telepon Abang di-reject? Kamu sama siapa?β
Jantungmu mencelos. Jay selalu punya radar yang tajam. Kamu duduk merosot di lantai dapur yang dingin, jemarimu ragu untuk mengetik. Kamu tidak mungkin bilang kalau kamu baru saja diantar pulang oleh Kolonel Ryujin, bawahankepercayaannya.
(y/n): βTadi HP-ku mati, Bang. Aku panik lari-lari cari apotek takut telat minumnya. Ini baru sempat ngecas.β
Jay tidak langsung membalas. Keheningan di WhatsApp itu terasa lebih mengintimidasi daripada bentakannya. Kamu mencoba menenangkan diri, namun ucapan Ryujin di mobil tadi terus terngiang-ngiang: βSekali kamu kasih dia celah buat kontrol kamu lewat rasa takut, dia nggak akan pernah berhenti.β
Sambil menunggu balasan Jay, kamu membuka kontak baru yang tadi disimpan. Nama βKak Ryujinβ terpampang di sana tanpa foto profil, terlihat sangat formal dan kaku. Kamu merasa memiliki sebuah rahasia di dalam rahasia. Di satu sisi adaJay yang memegang video βhancurmuβ, di sisi lain ada Ryujin yang memegang rasa kemanusiaanmu.
Tiba-tiba, sebuah notifikasi masuk, tapi bukan dari Jay.
Kak Ryujin: Sudah diminum obatnya? Efek sampingnya mungkin bikin mual atau pusing. Istirahat yang cukup. Kalau ada apa-apa, hubungi saya.β
Kamu menggigit bibir, air mata setetes jatuh ke layar ponsel. Di saat Jay hanya peduli pada βkeamananβ reputasinya, Ryujin peduli pada kondisi fisikmu.
Tepat saat itu, Jay membalas lagi, seolah dia bisa mencium ada sesuatu yang tidak beres.
Jay: βYa sudah. Istirahat. Jangan keluyuran lagi. Ingat, (y/n)... Abang punya segalanya tentang kamu. Jangan coba-coba main belakang atau bohong soal hal sekecil apa pun. Abang bakal tahu.β
Kamu merinding. Kamu merasa seperti sedang berdiri di antara dua raksasa militer. Yang satu ingin menghancurkanmu demi kesenangannya, yang satu lagi ingin melindungimu tanpa tahu siapa musuh sebenarnya.
Keheningan rumah yang luas itu terasa mencekam saat satu per satu pesan di grup keluarga muncul. Ayahmu yang berdinas di luar kota dan ibumu yang akhirnya memutuskan menginap di rumah saudara karena acara hajatan berlangsungsampai larut, membuatmu benar-benar sendirian.
Ada rasa lega karena kamu tidak perlu menyembunyikan wajah sembabmu, tapi rasa takut juga merayap. Kamu mengirim pesan pada Jay, berharap mendapat sedikit perhatian setelah drama di apotek tadi.
(y/n): βBang Jay... Ayah sama Ibu nggak pulang malam ini. Aku sendirian di rumah. Aku takut...β
Read. Tapi tidak ada balasan.
Hati kamu mencelos. Kamu merasa hanya dibutuhkan saat Jay ingin βbermainβ. Akhirnya, dengan perasaan campur aduk, kamu melangkah ke kamar mandi. Benar kata Ryujin, efek samping pil itu mulai bekerja. Perutmu terasa kram hebat, mualmelilit, dan kepalamu berdenyut seolah dipukul benda tumpul.
Sambil mengeringkan rambut dengan handuk, tubuhmu lemas bersandar di meja rias. Tiba-tiba, ponselmu yang tergeletak di atas kasur bergetar hebat. Panggilan video dari Abang Jayπ.
Belum sempat kamu mengangkatnya, sebuah pesan WhatsApp muncul di baris notifikasi:
Jay: βBuka pintunya. Abang di depan.β
Jantungmu seolah berhenti berdetak. Kamu berlari kecil ke jendela lantai dua, menyibakkan gorden sedikit. Di bawah sana, SUV hitam yang sangat familiar itu terparkir dengan lampu hazard yang berkedip pelan di tengah kegelapan kompleks yang sepi.
Kamu buru-buru turun dengan langkah gontai karena pusing, hanya mengenakan kaus kebesaran dan celana pendek. Begitu pintu depan terbuka, sosok tinggi tegap itu berdiri di sana. Jay masih mengenakan seragam dinasnya, namun tanpa jas, hanya kemeja yang lengannya digulung. Pelipisnya masih tertutup plester kecil akibat luka semalam, wajahnya terlihat lelah namun matanya berkilat tajam-predator yang baru saja pulang dari medan perang.
Tanpa sepatah kata pun, Jay melangkah masuk, menutup pintu dengan kaki, dan langsung menyudutkanmu ke dinding di balik pintu. Bau parfum maskulin yang bercampur aroma laut dari tubuhnya langsung menyerang indramu.
βAbang... kok tiba-tiba ke sini?β bisikmu gemetar, menatap wajahnya yang sangat dekat.
Jay tidak menjawab. Ia justru meletakkan telapak tangannya di lehermu, meraba bekas choker yang mungkin bekasnya masih memerah di sana. βTadi katanya takut sendirian? Sekarang Abang di sini. Kenapa muka kamu pucat banget?β
βE-efek obatnya, Bang... mual banget,β rintihmu sambil memegang perut.
Jay terdiam sejenak, tatapannya sedikit melembut tapi tetap terasa mendominasi. Ia mengangkat tubuhmu begitu saja, membuat kakimu melingkar di pinggangnya, dan membawamu menuju sofa ruang tamu.
βItu harganya buat kepatuhan kamu, (y/n). Abang nggak suka nunggu lama buat laporan,β ucapnya berat sambil mendudukkanmu di pangkuannya. Ia mengelus pipimu dengan ibu jarinya, lalu beralih meremas pinggulmu dengan posesif. βTadi Abang kepikiran terus di markas... kepikiran gimana kamu berani abaikan telepon Abang berkali-kali. Sekarang jujur sama Abang, siapa yang bantu kamu di apotek tadi? Nggak mungkin anak sekolah bisa dapet obat itu tanpa resep.β
Tatapan Jay mengunci matamu. Di saat kamu merasa sakit secara fisik, kamu kembali dihadapkan pada interogasi yang mematikan. Kamu tahu, jika kamu menyebut nama Ryujin, badai besar akan menghancurkan karir mereka berdua-danmungkin hidupmu.
Kamu menelan ludah, mencoba menstabilkan suaramu yang bergetar di bawah tatapan tajam Jay. βAku... aku dandan, Bang. Aku pake lipstik merah Ibu, pake hoodie kebesaran biar seragamku nggak kelihatan. Aku bilang resepnya ketinggalan tapi aku udah sering beli di sana... akhirnya apotekernya kasihan,β bohongmu, mencoba terdengar serealistis mungkin.
Jay menatapmu lurus-lurus selama beberapa detik, seolah sedang membedah kebohongan di matamu. Namun, setelah embusan napas panjang, ia menyandarkan punggungnya ke sofa, menarikmu lebih rapat ke dadanya yang bidang.
βPintar juga kamu kalau kepepet,β gumamnya. Ia tidak peduli lagi detailnya, baginya, risiko kehamilan sudah teratasi, dan itu cukup. βSini, jangan gemeteran terus. Abang ke sini karena mau nemenin kamu, bukan mau marah-marah.β
Tangannya yang kasar namun hangat mulai mengusap rambutmu yang masih lembap, memberikan pijatan lembut di tengkukmu untuk meredakan mual yang kamu rasakan. Jay berubah menjadi sosok yang sangat protektif dan manis, membisikkan kata-kata penenang yang membuat pertahananmu runtuh seketika.
βMaafin Abang ya kalau tadi keras di telepon. Abang cuma panik, nggak mau masa depan kamu hancur kalau sampai hamil sekarang. Abang lakuin ini karena Abang sayang, (y/n).β
Rasa nyaman dan hangatnya pelukan Jay membuatmu berani. Dengan suara kecil yang nyaris tenggelam di balik suara detak jantungnya, kamu mendongak.
βBang... boleh aku tanya sesuatu?β
βApa, Sayang?β
βBang Jay... sebenarnya serius nggak sih sama aku? Apa aku cuma... Cuma mainan Abang doang buat ngilangin stres?β
Jay terdiam. Ia menatap langit-langit ruang tamumu sejenak, lalu menunduk menatapmu dengan sorot mata yang dibuat seolah-olah sangat terluka oleh pertanyaanmu. Ia memegang kedua pipimu, memaksamu menatap langsung ke iris matanya yang gelap.
βMainan? Kamu pikir Abang bakal nekat antar-jemput kamu ke rumah, beliin kamu perhiasan mahal, bahkan datang ke sini malam-malam cuma buat mainan?β suaranya merendah, terdengar sangat meyakinkan.
βKamu itu masa depan Abang, (y/n). Tapi kamu harus paham posisi Abang sekarang. Abang ini Laksamana, banyak mata yang mengawasi. Kita harus main rahasia dulu sampai kamu lulus.β
Ia mencium keningmu lama, sebuah gestur yang terasa begitu suci padahal sarat akan manipulasi. βNanti, kalau kamu sudah kuliah, Abang sendiri yang bakal datang ke Ayah kamu buat minta izin serius. Tapi syaratnya satu... kamu harus terus jadigood girl buat Abang. Jangan pernah khianatin kepercayaan Abang, karena kalau kamu pergi, Abang nggak tahu bakal nekat lakuin apa ke diri Abang sendiri... atau ke kamu.β
Kalimat terakhirnya terdengar seperti janji, tapi di telingamu yang sudah terbuai, itu terdengar seperti bukti cinta yang sangat dalam. Kamu mengangguk pelan, membenamkan wajahmu di lehernya, menghirup aroma maskulin yang kini terasaseperti candu. Kamu tidak sadar, di balik pelukan hangat itu, Jay sedang tersenyum tipis -menyadari bahwa kamu sudah sepenuhnya terjerat dalam jaring yang ia buat.
β
To Be Continued
abis ini update lanjutan yg blm pernah aku up di wp





Pleaselah jay lu kudu gentleman yah, jgn cm pengen enak doang. Aku sumpahin km nyesel yg smp nyesek kl ampe cm omdo aja
.....