jangan lupa tinggalin jejak dimanapun kalian berada
Deru napas yang memburu perlahan melandai di dalam kamar kabin yang temaram. Udara yang semula pekat oleh panas dan keringat kini perlahan mendingin, disapu angin senja pegunungan yang menyusup lewat ventilasi kayu. Suara gesekan kulit dan derit ranjang telah lenyap, menyisakan keheningan yang begitu tenang dan intim.
Tubuhmu luruh sepenuhnya di atas kasur yang berantakan. Seprai satin kusut membelit kakimu yang lemas, sementara kelopak matamu terasa luar biasa berat. Setiap otot dan sendi di tubuhmu seperti kehilangan fungsinya, kamu bahkan tidak memiliki sisa tenaga untuk sekadar merapatkan jemari tanganmu yang terkulai di atas bantal. Jay menarik dirinya perlahan dengan gerakan yang luar biasa hati-hati.
Melihat sosokmu yang terbaring pasrah dengan dada yang masih kembang-kempis lemah, rambut berantakan yang menempel di pelipis karena peluh, serta jejak air mata kenikmatan yang mengering di pipi, sisi liar dan dominan dalam diri Jay perlahan meluruh. Hasrat liar yang tadi menuntut untuk langsung membawamu ke ronde berikutnya seketika ia kubur dalam-dalam.
Jay bangkit sejenak, melangkah menuju kamar mandi, lalu kembali dengan sebaskom air hangat dan handuk kecil yang lembut. Dengan ketelatenan yang kontras tajam dengan keliarannya beberapa saat lalu, Jay naik kembali ke atas ranjang. Ia berlutut di sisimu, memeras handuk hangat itu perlahan, lalu mulai membersihkan tubuhmu dari sisa-sisa peluh dan pelepasan yang masih menempel di kulitmu. Sentuhan kain hangat yang menyapu leher, dada, hingga ke sela-sela pahamu terasa begitu menenangkan dan menyamankan, membuat desah lega yang lemah lolos dari bibirmu yang pucat.
Setelah memastikan tubuhmu bersih dan kering, Jay menyelimutimu dengan selimut tebal berbulu domba. Ia kemudian menyusup masuk ke balik selimut yang sama, merapatkan tubuh polosnya yang hangat ke punggungmu, lalu menarikmu masuk ke dalam rengkuhannya yang kokoh. Satu lengannya yang berotot menjadi bantal di bawah kepalamu, sementara lengannya yang lain melingkari perut bagian bawahmu, menempelkan telapak tangannya yang besar dan hangat tepat di atas rahimmu.
βCapek banget, ya?β bisik Jay pelan tepat di samping telingamu. Suara baritonnya kini terdengar begitu lembut, dalam, dan sarat akan kehangatan.
Kamu hanya mampu mengangguk kecil dalam dekapannya, menyandarkan kepalamu lebih dalam ke lekuk lehernya yang beraroma sabun dan maskulin. βHampir pingsan lagi... kamu nggak ada remnya...β gumammu serak dan manja, nada suaramu begitu lirih karena kantuk dan kelelahan yang luar biasa.
Jay terkekeh rendah, getaran di dadanya merambat hangat ke punggungmu. Ia menundukkan kepalanya, mengecup lembut pelipis dan daun telingamu berulang kali sebagai permintaan maaf tanpa kata.
βTadi rencananya mau lanjut,β aku Jay jujur tanpa rasa malu, jemarinya yang hangat mulai mengusap lembut permukaan perutmu dengan gerakan melingkar yang menenangkan. βTapi lihat kamu lemas kayak gini... aku nggak tega. Di buat istirahat aja sekarang, sayang.β
Keheningan kembali menyelimuti kalian berdua selama beberapa saat. Hanya suara gemerisik pohon pinus di luar dan detak jantung Jay yang teratur di balik punggungmu yang terdengar.
Perlahan, usapan tangan Jay di perut bagian bawahmu terasa semakin penuh arti. Tekanan telapak tangannya di sana begitu hangat dan protektif, seolah ia sedang menjaga sesuatu yang luar biasa berharga.
βSatu bulan di sini...β Jay berbisik lirih, nada suaranya berubah menjadi lebih dalam dan sarat akan pengharapan. β...semua yang aku lepas di dalam kamu selama sebulan penuh ini... aku berharap banget salah satunya berhasil tumbuh jadi anak kita.β
Mendengar kata-kata itu, matamu yang terpejam sempat terbuka sedikit. Rasa cemas yang samar melintas di benakmu. Menjadi seorang ibu, membawa darah daging pewaris keluarga konglomerat, dan memikul ekspektasi besar di pundakmu adalah hal yang selama ini membuatmu merasa belum siap sepenuhnya.
Seolah mampu membaca kecemasan yang tiba-tiba berkelebat dalam pikiranmu, Jay mempererat dekapannya di pinggangmu. Ia menempelkan bibirnya ke tengkukmu, memberikan kecupan panjang yang menenangkan setiap simpul sarafmu yang tegang.
βJangan takut,β bisik Jay dengan penuh keyakinan dan ketegasan yang menenangkan. βAku tahu kamu belum siap sepenuhnya. Tapi kamu nggak bakal sendirian lewatin ini. Semua tekanan dari Ayah, beban keluarga besar, atau apa pun yang bikin kamu cemas... biar aku yang pasang badan dan tanggung semuanya.β
Jay menyatukan jemarinya dengan jemarimu di atas perutmu, menguncinya erat.
βTugas kamu cuma satu: tetap di sampingku, jaga diri kamu, dan biarin aku yang bahagiain kamu sama calon anak kita nanti.β
Kehangatan yang tulus dari setiap kata yang ia ucapkan merembes masuk ke relung hatimu yang terdalam, menghalau segala keraguan dan rasa takut yang selama ini membayangi. Di dalam pelukan pria yang kini menjadi pelindung mutlakmu, kamu memejamkan mata dengan tenang, membiarkan dirimu terlelap dalam rasa aman yang sempurna di bawah dekapannya.
β’
Lampu sorot warna-warni dan dentuman bass yang biasanya menjadi pelarian terbaik bagi Jungwon malam itu sama sekali tidak terasa menyenangkan. Di sebuah kelab malam eksklusif di kawasan Cheongdam-dong, Jungwon duduk di sudut sofa VIP, namun matanya tidak tertuju pada kerumunan orang yang menari atau deretan botol wiski mahal di depannya. Matanya justru terpaku pada tablet kerja tipis yang menyala terang, memantulkan grafik laporan finansial kuartal kedua yang angkanya saling bertubrukan menuntut validasi segera.
βWon, lo ngapain sih bawa kerjaan ke sini? Minum dulu kali!β seru salah satu rekannya seraya menuangkan cairan keemasan ke gelas kosong Jungwon.
Jungwon hanya mendengus dingin, mematikan layar tabletnya dengan satu ketukan kasar lalu bangkit berdiri. βGue cabut. Pusing gue denger bass sambil mikirin audit properti.β
Tanpa memedulikan seruan kecewa dari lingkaran pertemanannya, Jungwon menyambar jas hitamnya dan melangkah keluar dari kelab. Selama satu bulan penuh ini, hidupnya langsung berubah seratus delapan puluh derajat. Rencana awal untuk bersenang-senang dan menikmati kebebasan tanpa bayang-bayang kakaknya hancur lebur. Jungwon bahkan hampir tidak pernah menginjakkan kaki di apartemen mewahnya sendiri, lemari pakaian darurat di kantor direksi kini menjadi rumah keduanya. Ia memilih menginap di kantor beralaskan sofa kulit panjang hanya demi memangkas waktu perjalanan agar tumpukan berkas yang menggunung bisa selesai satu per satuβmeski kenyataannya, setiap kali satu masalah teratasi, dua masalah baru selalu muncul menggantikannya.
Keesokan paginya di lantai eksekutif Park Group, suasana kerja terasa luar biasa tegang namun dipenuhi decak kagum yang tertahan.
Jungwon berjalan melintasi koridor utama menuju ruang rapat direksi. Kemeja hitamnya sengaja dibiarkan terbuka dua kancing teratas, memperlihatkan garis leher dan tulang selangka yang tegas. Lengan kemejanya tergulung rapi hingga siku, menonjolkan urat-urat di lengannya saat ia menenteng setumpuk map laporan tebal. Di bawah kelopak matanya yang tajam bak rubah, terdapat bayang tipis kelelahan karena kurang tidur. Namun alih-alih membuatnya terlihat kusut, aura lelah itu justru memancarkan pesona maskulin yang begitu dingin, matang, dan berbahaya.
Sepanjang koridor, para karyawan wanita tak henti-hentinya mencuri pandang dan berbisik kagum. Citra Jungwon yang selama ini dikenal sebagai pria muda pembangkang, urakan, dan hobi berpesta perlahan terkikis di mata mereka. Selama satu bulan memegang kendali penuh, Jungwon membuktikan bahwa darah keluarga Park mengalir pekat di dalam dirinya. Ketegasan, kecekatan dalam mengambil keputusan krusial, hingga cara berpikir strategisnya sama persis dengan Jay.
Tentu saja, perubahan pesona ini membuat beberapa karyawati dan sekretaris divisi mencoba mencari peruntungan. Ada yang sengaja mengantarkan kopi hangat tepat di waktu malam, menawarkan diri untuk membantu merapikan berkas, atau sekadar berlama-lama di ruangannya dengan senyuman manis.
Namun, Jungwon sama sekali tidak tertarik. Setiap kali ada yang mencoba melewati batas profesionalisme, Jungwon langsung menggertak dengan tatapan tajam dan nada suara yang membekukan ruangan, mengusir mereka seketika karena ia benci fokusnya dihancurkan oleh hal-hal yang tidak penting.
Tepat pukul sebelas malam, saat kantor sudah sepi dan Jungwon baru saja merebahkan kepalanya di atas tumpukan dokumen di meja kerjanya yang luas, ponsel pintarnya bergetar di atas meja kaca.
Bzzzt... bzzzt...
Sebuah notifikasi pesan masuk dari kontak berlabel Jay Bro.
Dengan mata yang menyipit menahan kantuk dan rasa lelah yang luar biasa, Jungwon membuka aplikasi pesan singkat.
Jay Bro: Siap-siap. Nggak lama lagi kamu bakal punya keponakan.
Awalnya, otak Jungwon yang kelelahan membaca kalimat itu sebagai lelucon basi. Jarinya sudah bersiap mengetik cemoohan tajam dan sarkasme panjang seperti biasanya untuk membalas keisengan sang kakak yang tega membiarkannya menderita sendirian di kantor.
Namun, tepat sebelum jemarinya menekan tombol kirim, Jungwon mematung. Matanya membelalak lebar, kantuknya seketika hilang tak berbekas.
Ia membaca ulang deretan kata di layar ponselnya itu sekali lagi, memastikan penglihatannya tidak buram karena kelelahan. Jay bukan tipe orang yang suka melempar lelucon murahan tentang hal sakral seperti keluarga atau momongan, apalagi mengingat betapa kerasnya usaha sang kakak di kaki gunung sana.
Jungwon segera mengetik balasan dengan jemari yang bergerak cepat.
Jungwon: Gila lo ya? Beneran berhasil? Seriusan?!
Beberapa detik berlalu dalam ketegangan sebelum tanda centang biru berubah dan sebuah balasan singkat masuk.
Jay Bro: π
Hanya sebuah emotikon senyum tipis penuh arti.
Namun bagi Jungwon, arti di balik simbol sederhana itu sudah lebih dari cukup. Rencana Jay untuk meluluhkan hati istrinya dan membangun keluarga seutuhnya telah membuahkan hasil nyata. Itu artinya, perang dingin di antara kakaknya telah berakhir, sang kakak akan segera kembali ke ibu kota untuk memegang kendali perusahaan lagi minggu depan, dan penderitaan panjang Jungwon sebagai tumbal kantor akhirnya resmi usai.
Jungwon menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kulit seraya melempar ponselnya ke meja. Tawa lega yang lepas akhirnya keluar dari bibirnya.
βBaguslah kalau berhasil,β gumam Jungwon seraya tersenyum puas menatap langit-langit ruang kerjanya. βMinggu depan gue ambil cuti sebulan penuh, matiin ponsel, dan tidur sampai stamina gue balik normal.β
to be continued
won... sama aku aja ayo





ini masih lanjutknn..
ntar kira' ada part jungwon nya jga gk?? part jungwon ketemu pasangan nya, yg kyk Jay intinya, semoga ada yhh, semangatt...
Kita aminkan keinginan bro jay iniπ
Giliran si uwon dah yg cuti, tp cuti dia mah malah dipake molor bukan cari calon atau jalanΒ² kekπ€¦