jangan lupa liike...
karena ini slowburn, jadi adegannya ga seanu itu yagesya...
Angin malam yang berhembus di balkon lantai dua belas mendadak kehilangan hawa dinginnya. Uap dari cangkir hot chocolate yang tadi mengepul di atas meja sudut terabaikan begitu saja saat kecupan lembut Riki di bibirmu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam, menuntut, dan menyalakan percik api yang selama ini tersimpan rapi di balik ketenangan sikapnya.
Tangan Riki yang semula hanya melingkar protektif di pinggangmu kini bergerak naik, menyusup ke balik helaian rambutmu yang masih wangi melati, menangkup tengkukmu dengan jemarinya yang hangat dan sedikit kasar karena kapalan senar gitar. Tarikan napasnya memberat. Ketika bibirnya melumat bibir bawahmu dengan ritme yang lambat namun begitu pekat, kamu refleks mengeluarkan lenguhan pelan yang tertahan—suara kecil yang seketika meruntuhkan sisa-sisa kendali diri sang gitaris.
Riki tidak memberi jeda. Dia menuntun langkahmu bergerak mundur dari pembatas balkon, mendorongmu perlahan melewati pintu kaca geser yang setengah terbuka. Tumit kakimu yang telanjang terseret di atas lantai parket ruang tengah yang dingin, kontras dengan tubuh Riki yang membara menempel erat di depanmu. Setiap langkah mundurmu diiringi oleh desakan tubuh tegapnya yang tak membiarkan ada celah udara di antara kalian.
“Ki... hmff...”
Kamu mencoba mencari celah untuk menarik oksigen, namun Riki justru memiringkan kepalanya, memperdalam ciuman itu hingga bibir kalian terkunci rapat. Lidahnya menyapu lembut, menuntut balasan yang membuat lututmu lemas seketika. Kedua tanganmu yang panik dan kaku akhirnya mencengkeram erat bahu kaus putih tipis Riki, meremas kain itu sebagai satu-satunya pegangan agar kamu tidak merosot jatuh ke lantai.
Ini adalah wilayah yang benar-benar asing bagimu. Di masa lalu, kamu hanya bisa memandang Riki dari kejauhan—mengagumi garis rahangnya di balik lampu panggung, mengejar bayangannya di lorong kampus, dan memohon dalam hati agar dia menoleh barang sedetik. Kamu tidak pernah sekalipun membayangkan bahwa sosok yang dulu begitu dingin dan tak terjangkau kini berdiri mengurungmu, menghembuskan napas panas di wajahmu, dan menciummu dengan intensitas yang membuat kepalamu berputar hebat.
Bunyi decak basah dan desah napas pendek yang saling bersahutan memenuhi ruang tengah yang temaram. Riki melepaskan bibirmu hanya beberapa milimeter, menempelkan dahinya ke dahimu sementara dada kalian sama-sama naik-turun memburu. Sorot mata hitamnya menatapmu begitu lekat di bawah pendar lampu gantung ruang tengah yang redup. Pupil matanya melebar, memancarkan perpaduan antara gairah yang meluap dan kelembutan yang luar biasa protektif.
“Bisa napas?” bisik Riki dengan suara serak yang begitu berat dan rendah, membuat bulu kudukmu meremang.
Kamu hanya bisa mengangguk pelan dengan bibir yang sudah sedikit bengkak dan memerah. Dadamu berdegup kencang, memukul rusukmu seperti irama drum Junghwan yang sedang memainkan tempo upbeat.
Sebelum kamu sempat merangkai kata, Riki menyusupkan kedua lengannya yang kekar ke bawah pahamu. Dalam satu gerakan mantap yang begitu mudah dan bertenaga, dia mengangkat tubuhmu ke atas, membuatmu refleks melingkarkan kedua kakimu di pinggangnya dan merengkuh lehernya erat-erat bak koala yang bergantung pada batang pohon.
“Riki! Jatuh nanti...” pekikmu tertahan, menyembunyikan wajahmu yang sudah terbakar panas di ceruk lehernya.
Riki terkekeh rendah—getaran tawanya terasa langsung di dadamu yang menempel pada dada bidangnya. “Gak bakal jatuh, Sayang. Pegangan yang erat.”
Langkah kaki Riki yang tenang dan teratur membawamu menembus koridor pendek apartemen, masuk ke dalam kamar tidur utama yang pintunya sudah terbuka. Suasana di dalam kamar begitu sunyi, hanya ada pantulan cahaya lampu kota dari balik tirai tipis yang membias di atas seprai putih bersih kasur king size.
Riki menurunkannya perlahan di tepi ranjang. Kasur pegas itu melesak lembut di bawah bobot tubuhmu. Namun sebelum kamu bisa merapikan piyama biru pastelmu yang sedikit tersingkap, Riki sudah merangkak naik ke atas ranjang, memposisikan dirinya di antara kedua kakimu, mengurungmu sepenuhnya dengan kedua lengannya yang bertumpu kokoh di sisi kiri dan kanan kepalamu.
Ruangan itu mendadak terasa begitu sempit dan panas. Aroma sandalwood dari tubuh Riki bercampur dengan wangi pelembut pakaian lavender miliknya, menciptakan atmosfer yang memabukkan.
Kamu menatap Riki yang berada tepat di atasmu. Kaus putihnya yang tipis mempertegas bahunya yang lebar dan garis otot dadanya. Rambut hitamnya yang sedikit berantakan jatuh menyapu dahinya, membingkai wajah tampan yang kini menatapmu tanpa ada sedikit pun dinding pertahanan yang tersisa.
Tubuhmu masih terasa kaku. Sebagai perempuan yang baru pertama kali menjalin hubungan asmara dan belum pernah mengalami keintiman sedalam ini, rasa panik dan malu yang luar biasa seketika menyerbu seluruh sistem sarafmu. Kamu refleks merapatkan kedua tanganmu di dada, menutupi kancing piyama bagian atas, sementara pandangan matamu bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri—tak berani menatap langsung ke dalam manik mata Riki.
Riki menangkap setiap getaran halus di tubuhmu. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat manis sekaligus penuh godaan.
“Kenapa kaku banget gitu, hm?” goda Riki dengan nada berbisik yang lembut. Tangannya bergerak pelan, meraih salah satu tanganmu yang mencengkeram kancing piyama, lalu menautkan jemarinya di sela-sela jarimu. “Mukamu merah banget, (Y/N). Merah sampai ke telinga.”
“Riki, jangan dilihatin kayak gitu...” cicitmu malu, mencoba memalingkan muka ke arah bantal. “Aku... aku gak tahu harus gimana.”
Riki menghela napas hangat yang menyapu pipimu. Dia tidak membiarkanmu bersembunyi. Dengan lembut, jari telunjuknya menyentuh dagumu, menuntun wajahmu agar kembali menatapnya.
“Liat aku,” pinta Riki lembut, matanya menatapmu dengan kejujuran yang menenangkan. Ketika pandangan kalian kembali bertemu, Riki membawa tanganmu yang berada dalam genggamannya ke dadanya sendiri—tepat di atas jantungnya yang berdegup sangat kencang dan keras, sama persis dengan debaran di dadamu.
“Kamu ngerasain ini gak?” bisik Riki, suaranya sedikit bergetar. “Aku juga gugup setengah mati, (Y/N).”
Kamu mengerjapkan mata, menatap telapak tanganmu yang merasakan detak liar di balik kaus putih Riki. “Kamu... gugup juga?”
Riki tersenyum tipis, ada semburat merah samar di tulang pipinya yang tegas, pemandangan langka yang belum pernah kamu lihat sebelumnya dari seorang Nishimura Riki.
“Iya. Ini pertama kalinya buat aku,” aku Riki jujur, suaranya parau dan dalam. “Dulu aku gak pernah peduli sama siapa pun. Aku gak pernah mikir bakal mau menyerahkan seluruh diri aku buat orang lain... sampai aku ketemu kamu. Sampai aku sadar kalau cuma kamu satu-satunya cewek yang bikin aku ngerasa sehidup ini.”
Riki menundukkan kepalanya, mengecup keningmu lama dan penuh takzim, lalu turun mengecup kedua kelopak matamu yang terpejam, hidungmu, hingga ke sudut bibirmu.
“Aku janji bakal pelan-pelan,” bisik Riki di depan bibirmu, suaranya adalah janji paling suci yang pernah dia ucapkan. “Kita gak lagi buru-buru. Aku yang bakal atur temponya biar kamu nyaman. Kalau ada yang bikin kamu sakit atau takut, bilang ke aku, ya?”
Kata-kata itu bagaikan mantra penenang yang meruntuhkan seluruh ketegangan di persendianmu. Rasa takutmu perlahan menguap, berganti menjadi gelombang rasa percaya yang utuh pada pria yang ada di atasmu ini. Kamu melepaskan cengkeramanmu pada bantal, lalu mengalungkan kedua tanganmu di leher Riki, menariknya lebih dekat.
“Iya, Riki... atur temponya buat kita berdua,” bisikmu tulus.
Mendengar izin yang kamu berikan, tatapan Riki berubah menjadi begitu hangat dan intens. Dia tidak lagi terburu-buru. Perlahan, jemari Riki yang lincah menelusuri garis leher piyamamu, membuka kancing kain satu per satu dengan kesabaran seorang musisi yang sedang merawat instrumen paling berharganya.
Setiap kali kulitnya yang hangat menyentuh kulit bahumu yang dingin, tubuhmu tersentak kecil oleh sengatan listrik yang asing namun manis. Riki menundukkan wajahnya, mengecup bahumu yang terbuka, lalu menyusuri lekukan leher jenjangmu dengan bibirnya yang lembut. Ciuman-ciuman kecil itu basah, hangat, dan dipenuhi bisikan-bisikan pemujaan yang membuat hatimu melambung tinggi.
“Kamu indah banget, (Y/N)...” gumam Riki di antara kecupannya di lehermu. “Cantik banget...”
Kamu memejamkan mata erat-erat, meremas helai rambut hitam di belakang kepala Riki saat sensasi panas menjalar dari leher hingga ke ujung kakimu. Napas Riki yang memburu terasa begitu nyata di kulitmu. Setiap sentuhannya berhati-hati, penuh perhitungan, dan selalu memastikan bahwa kamu siap sebelum melangkah lebih jauh.
Ketika kaus putih Riki akhirnya terlepas dan terlempar ke lantai kamar, kamu bisa merasakan panasnya kulit dada bidangnya yang menempel langsung pada kulitmu. Kontras antara tubuhnya yang tegap dan berotot dengan tubuhmu yang lebih kecil dan ramping menciptakan harmoni yang sempurna di atas ranjang itu.
Riki menatapmu lurus ke dalam matamu saat dia menyatukan jemarinya dengan jemarimu di atas bantal, menguncinya erat-erat. Tidak ada kata-kata kotor, tidak ada gerakan kasar yang menyakitkan. Yang ada hanyalah pergulatan emosi yang begitu murni—perpaduan antara gairah muda yang menggelora dan rasa cinta mendalam yang telah melewati fase penyesalan panjang.
Malam itu, di bawah temaramnya langit kota Jakarta dari jendela lantai dua belas, irama baru itu dimainkan. Riki menepati setiap katanya, dia membimbingmu dengan kelembutan yang tak terhingga, menenangkan setiap rintihan kecilmu dengan ciuman bibir yang manis, dan membiarkan setiap sentuhan berjalan dalam tempo lambat yang memabukkan.
Kalian berdua belajar bersama—mengenal lekuk tubuh masing-masing, memahami batas-batas keintiman, dan menyerahkan seluruh jiwa raga tanpa ada lagi rahasia atau rasa takut yang tertinggal.
🎸
Sinar matahari pagi yang lembut menerobos masuk melalui celah tirai kamar tidur, memancarkan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai kayu dan menyinari ranjang yang berantakan.
Kamu perlahan membuka matamu, merasakan kehangatan yang luar biasa melingkupi seluruh tubuhmu. Selimut tebal warna abu-abu menutupi kalian berdua hingga sebatas dada. Di sampingmu, satu lengan kekar Riki melingkari pinggangmu posesif, menarik tubuhmu menempel rapat ke dadanya yang telanjang, sementara kepalamu bersandar nyaman di ceruk lehernya.
Riki masih tertidur lelap. Garis-garis wajahnya yang biasanya tampak dingin dan tegas saat di kampus kini terlihat sangat damai dan polos. Napasnya teratur, berhembus lembut menerpa puncak kepalamu.
Kamu tersenyum kecil, merasakan pegal dan hangat yang menjalar di sekujur tubuhmu sebagai pengingat manis akan malam panjang yang baru saja kalian lewati. Jari telunjukmu terangkat pelan, menyusuri garis rahang Riki yang tajam, lalu merapikan sejumput rambut hitam yang menutupi matanya.
Sentuhan lembut itu membuat kelopak mata Riki bergerak. Perlahan, matanya yang pekat terbuka, mengerjap beberapa kali menyesuaikan diri dengan cahaya pagi sebelum akhirnya terkunci padamu.
Bukannya memasang ekspresi datar seperti dulu, sebuah senyuman lebar dan luar biasa tampan langsung terbit di wajah Riki begitu melihatmu adalah hal pertama yang dia saksikan di pagi hari.
“Pagi, Sayang,” suara Riki terdengar sangat serak dan dalam khas orang baru bangun tidur.
“Pagi, Riki,” balasmu pelan, wajahmu kembali sedikit merona mengingat apa yang terjadi semalam.
Riki yang melihat semburat merah di pipimu tertawa rendah. Dia mengeratkan dekapannya pada pinggangmu, menarikmu hingga wajah kalian hanya berjarak beberapa senti, lalu mengecup keningmu, kedua pipimu, dan terakhir bibirmu dengan kecupan basah yang hangat.
“Masih sakit gak?” tanya Riki lembut, matanya dipenuhi kekhawatiran yang tulus saat menatapmu.
Kamu menggeleng pelan sambil menyembunyikan wajahmu di dadanya yang hangat. “Udah enggak... kamu beneran lembut banget semalam.”
Riki menghela napas lega, tangannya mengusap punggungmu yang polos di balik selimut dengan gerakan menenangkan.
“Makasih ya, (Y/N),” bisik Riki di dekat telingamu, suaranya penuh rasa syukur yang begitu mendalam. “Makasih sudah percaya sama aku. Mulai hari ini dan seterusnya, aku gak bakal pernah ngebiarin kamu nyesel karena udah milih aku.”
Kamu membalas pelukannya erat-erat, mendengarkan detak jantung Riki yang kini berdetak tenang dan stabil di telingamu.
Kisah yang dulunya dimulai dari pengejaran sepihak yang melelahkan, keputusasaan seorang gadis yang terluka, hingga penyesalan mendalam dari sang gitaris dingin, kini telah bermuara di tempat yang paling indah. Di dalam unit apartemen kecil yang hangat ini, Nishimura Riki dan kamu telah menemukan rumah sejati kalian—hidup bersama dalam melodi cinta yang abadi dan tempo yang paling sempurna.
Beberapa saat kemudian...
Cahaya keemasan matahari pagi kian merekah di balik tirai tipis kamar nomor 1208. Udara sejuk dari pendingin ruangan berpadu dengan kehangatan selimut tebal yang masih melingkupi kalian berdua. Suasana kamar terasa begitu hening, hanya diisi oleh desau napas teratur dan detak jarum jam dinding yang bergerak lambat.
Ketika kamu sedikit menggeliat untuk meregangkan otot-otot tubuhmu yang masih terasa pegal setelah meraih ponsel di samping bantalmu, gerak tubuhmu tanpa sengaja membuat perut bagian bawahmu bergesekan dengan sesuatu yang padat dan hangat di balik selimut. Ada tekanan yang begitu nyata menempel di pinggulmu.
Matamu seketika membulat sempurna. Rasa kantuk yang tersisa langsung menguap tanpa jejak. Tubuhmu membeku di tempat, merasakan sensasi panas yang asing namun tak terbantahkan menekan lembut di balik kain tipis yang kalian kenakan.
Riki yang merasakan tubuhmu mendadak tegang terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar sangat serak, bergetar rendah di rongga dadanya yang menempel pada dadamu. Bukannya menjauh, Riki justru semakin merapatkan dekapannya, melingkarkan lengannya yang berotot di perutmu dan menarik pinggulmu menempel lebih erat padanya.
“Kaget, ya?” bisik Riki tepat di samping telingamu, hembusan napas hangatnya yang beraroma mint membuat bulu kudukmu meremang seketika.
Kamu mendongak perlahan, pipimu sudah semerah buah ceri matang. “R-Riki... itu...”
Riki menyunggingkan senyum tipis yang memabukkan—senyuman santai namun penuh binar nakal yang jarang sekali dia tunjukkan kepada siapa pun di kampus. Jarinya yang lentik menyusup ke sela-sela rambutmu, menyelipkannya ke belakang telinga dengan sentuhan yang begitu lembut.
“Ini wajar buat cowok tiap pagi, (Y/N),” jelas Riki dengan suara rendah yang menenangkan, berusaha mengikis rasa canggung dan panik di matamu. “Apalagi pas bangun tidur, orang pertama yang ada di pelukan aku itu cewek yang paling aku cintai. Reaksi tubuh aku gak bisa bohong.”
Wajahmu semakin terasa terbakar panas. Kamu menundukkan pandangan, menatap dada bidang Riki yang polos tanpa penutup kain, menolak untuk menatap matanya yang terlalu intens.
Riki menopang kepalanya dengan satu tangan di atas bantal, menatapmu lurus-lurus. Nada bicaranya berubah menjadi sangat lembut dan penuh kehati-hatian, menunjukkan betapa dia menghargai kenyamananmu di atas segalanya.
“Tapi... kalau kamu masih capek atau masih kerasa sakit, gak apa-apa. Kita cuma pelukan aja sampai siang,” kata Riki tulus, mengusap pipimu dengan punggung jarinya. “Cuma kalau... kalau kamu gak keberatan, dan kamu mau... aku pengen ngerasain kamu lagi pagi ini. Lebih pelan dari semalam.”
Pertanyaan itu melayang di udara yang hangat, begitu polos sekaligus dipenuhi permohonan yang manis. Kamu melihat kejujuran di mata hitam Riki—mata yang dulu selalu dingin dan berjarak, kini memandangmu seolah kamu adalah satu-satunya poros di dunianya.
Jantungmu berdegup liar di balik rusuk. Perlahan, dengan sisa keberanian yang kamu kumpulkan, kamu menganggukkan kepalamu pelan, menyembunyikan wajahmu di ceruk leher Riki yang hangat sebagai tanda persetujuan.
Melihat anggukan manismu, mata Riki seketika berbinar cerah. Sebuah senyuman penuh kelegaan terbit di wajah tampannya.
“Tunggu sebentar ya, Sayang,” bisiknya manis.
Riki bergerak perlahan, merogoh laci nakas kecil di samping tempat tidur. Suara gemerisik halus terdengar saat dia mengambil kotak kecil yang sudah dia siapkan sejak kemarin-sebenarnya Riki sudah antisipasi bahwa moment ini akan terjadi sejak beberapa bulan lalu makanya muka riki seperti kepiting rebus saat Ryul membisikkan soal pengaman-meletakkannya di atas meja agar mudah dijangkau saat waktunya tiba.
Ketika Riki kembali berbaring di hadapanmu, kendali sepenuhnya telah berpindah ke tangannya. Tidak ada ketergesaan. tempo yang dia mainkan adalah tempo lambat yang penuh pemujaan, mirip balada indah yang dimainkan pada malam yang tenang.
Riki menarik selimut tebal ke bawah secara perlahan, membiarkan udara sejuk menyapa kulitmu sebelum tubuhnya yang hangat kembali menaungi tubuhmu. Dia menatapmu dari atas, tatapannya menyapu setiap lekuk wajahmu, lehermu, hingga bahumu yang terbuka.
“Cantik banget...” gumam Riki dengan suara serak yang memuja.
Bibir Riki menyentuh keningmu lama, lalu turun ke kelopak matamu yang terpejam rapat, mengecupnya dengan kelembutan yang membuat hatimu meleleh. Ciuman-ciuman kecil itu terus berlanjut menuruni tulang hidungmu, pipimu, hingga akhirnya bibir hangatnya mendarat sempurna di atas bibirmu.
Ciuman pagi itu tidak menuntut, melainkan manis, lambat, dan dalam. Bibir Riki melumat bibirmu dengan ritme yang teratur, sesekali lidahnya menyapu bibir bawahmu, memancing desahan halus dari tenggorokanmu. Setiap kali kamu merespons ciumannya, tangan Riki yang kokoh mengusap pinggangmu, menuntunmu agar tubuhmu semakin rileks di atas seprai putih yang lembut.
Tangannya yang terlatih memainkan senar gitar—tangan dengan jari-jari panjang, lentik, dan berkapalan halus—mulai menjelajahi kulit tubuhmu. Sentuhan jemari Riki terasa begitu presisi. Dia tahu persis bagaimana cara menyentuh dengan lembut tanpa menimbulkan rasa sakit, menelusuri lekuk pinggangmu, naik ke rusukmu, lalu turun perlahan membelai paha bagian dalammu.
Sentuhan itu mengirimkan gelombang sengatan listrik yang manis ke seluruh sarafmu. Tubuhmu tersentak kecil, kedua tanganmu secara alami mencengkeram erat bahu bidang Riki.
“Riki... ah...” desahmu pelan saat bibir Riki berpindah ke lekukan lehermu, menghirup aroma kulitmu sambil mengecup area sensitif di bawah telingamu.
“Rileks ya, Sayang... nikmatin aja. Ada aku di sini buat manjain kamu,” bisik Riki lembut di antara kecupannya.
Jemari Riki yang lincah terus bekerja, membelai dan memanjakan setiap jengkal bagian dirimu yang paling sensitif dengan kesabaran luar biasa. Sentuhannya yang berulang dengan tekanan yang pas perlahan membangkitkan kehangatan alami dari dalam dirimu, membuat napasmu kian memburu dan dada kalian naik-turun dalam irama yang seirama.
Riki memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajahmu. Ketika melihat matamu yang sayu dan bibirmu yang terbuka mencari udara, senyuman puas terukir di sudut bibirnya. Dia memastikan bahwa sebelum melangkah lebih jauh, kamu telah sepenuhnya hanyut dalam gelombang kenikmatan yang dia ciptakan.
Gelombang rasa hangat itu memuncak secara perlahan dan pasti. Tubuhmu bergetar hebat di bawah bimbingan sentuhan jemarinya yang terampil, hingga akhirnya sebuah pelepasan yang manis menyapu seluruh kesadaranmu, membuatmu mengerang lembut dan merapatkan kedua kakimu memeluk kehangatan yang meluap.
Riki mengecup bibirmu yang bergetar, menenangkan degup jantungmu dengan pelukan hangat dan bisikan lembut yang tak henti memujimu.
“Pintar banget... kamu hebat banget, (Y/N),” bisik Riki parau, menyeka keringat halus di pelipismu dengan penuh rasa sayang.
Napasmu masih terengah-engah pelan saat Riki perlahan bangkit sedikit, mengambil pembungkus pelindung dari atas nakas. Dengan gerakan yang tenang dan terlatih, dia menyiapkan dirinya, memastikan semuanya aman dan nyaman untuk kalian berdua.
Ketika Riki kembali memposisikan dirinya di antara kedua kakimu, tatapan matanya begitu pekat dan dalam. Tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi rasa canggung. Yang ada hanyalah penyerahan diri yang utuh dari dua insan yang telah saling menemukan.
Riki menautkan jemari tangan kanannya ke sela-sela jemarimu di atas bantal, menguncinya erat-erat.
“Liat aku ya, (Y/N),” pinta Riki lembut, suaranya sarat akan emosi yang tulus. “Aku masuk sekarang.”
Kamu menatap lurus ke dalam manik mata hitam Riki yang jernih, mengangguk kecil seraya menarik napas dalam-dalam.
Perlahan dan dengan kehati-hatian penuh, Riki menyatukan dirinya denganmu. Karena persiapan yang begitu lembut dan kehangatan yang telah membasahi sebelumnya, penyatuan itu terasa jauh lebih mulus dan alami dibandingkan malam sebelumnya. Desahan panjang yang penuh kelegaan lolos dari bibir Riki saat dia berhasil masuk sepenuhnya ke dalam dekapan hangatmu.
Riki memejamkan matanya sejenak, menghembuskan napas berat untuk mengontrol gelombang sensasi luar biasa yang seketika menghantam dirinya. Bahunya yang tegap menegang, urat-urat di lengannya menonjol saat dia menahan berat tubuhnya agar tidak menimpamu sepenuhnya.
“Nyaman?” tanya Riki berbisik, membuka matanya untuk memastikan ekspresimu.
“Iya... nyaman banget, Ki,” jawabmu lirih, mengusap rahang tegasnya dengan tanganmu yang bebas.
Riki tersenyum tipis, lalu mulai menggerakkan pinggulnya dalam ritme yang lambat dan teratur. Setiap dorongannya penuh dengan kelembutan, tidak tergesa-gesa, memberi ruang bagi tubuh kalian untuk menyesuaikan tempo bersama.
Di dalam kamar yang bermandikan cahaya pagi itu, hanya ada suara napas yang berpadu, derit pelan pegas ranjang, dan bisikan-bisikan cinta yang mengalir tulus. Riki membimbingmu melewati tangga nada kenikmatan baru—bukan sebagai cowok angkuh yang dulu membuatmu menangis, melainkan sebagai pasangan hidup yang memperlakukanmu bagaikan permata paling berharga.
Ketika ritme itu mencapai puncaknya, pelukan Riki semakin mengerat di tubuhmu. Dia membenamkan wajahnya di ceruk lehermu, mengecup kulit bahumu saat kalian berdua mencapai akhir dari melodi pagi itu bersama-sama dalam pelukan yang hangat dan tak terpisahkan.
Keheningan kembali merayap di dalam kamar tidur utama. Sisa-sisa napas memburu perlahan mereda menjadi desah yang teratur dan damai. Riki perlahan merosot ke sampingmu, menarikmu ke dalam dekapannya tanpa melepaskan pelukannya sedetik pun. Selimut abu-abu kembali ditarik menutupi tubuh kalian yang hangat dan sedikit berkeringat.
Kepalamu bersandar nyaman di atas dada bidang Riki, mendengarkan detak jantungnya yang berdegup kencang dan berangsur-angsur tenang. Satu tangan Riki mengelus punggung polosmu dengan gerakan memutar yang menenangkan, sementara bibirnya tak henti mengecup puncak kepalamu.
“Capek ya?” tanya Riki pelan, suaranya serak namun terdengar sangat bahagia.
Kamu tersenyum kecil di balik dadanya, melingkarkan satu tanganmu di pinggang rampingnya. “Dikit. Tapi seneng...”
Riki tertawa renyah, mengangkat dagumu pelan agar bisa menatap wajahmu yang masih merona manis.
“Nanti siang aku masakin sup ayam hangat ya,” janji Riki dengan tatapan penuh kasih sayang. “Hari ini kamu gak usah ngapa-ngapain. Cuma istirahat bareng aku di kasur.”
Kamu mengangguk patuh, memejamkan mata dan menikmati aroma wangi tubuh Riki yang kini menjadi aroma paling menenangkan di seluruh dunia. Di apartemen baru ini, lembaran hidup kalian baru saja dimulai—dan setiap detik yang terlewati menjanjikan bait-bait lagu terindah yang akan kalian ciptakan bersama selamanya.
end ya xixixi thank u sudah antusias sama cerita ini
I love you guys❤️😘
jangan lupa tinggalin jejak





🌹🌹
kak serius udah end?