jangan lupa like yach
Malam itu ditutup dengan makan malam susulan yang jauh lebih hangat dan santai. Mi instan cup dan beberapa potong pizza dingin yang dibeli Heeseung sepulang dari laboratorium mendadak terasa seperti hidangan mewah di atas meja kayu ruang tengah. Tidak ada lagi ketegangan yang menggantung, tidak ada lagi bayangan kecemasan akan mutasi genetik yang mengintai. Hanya ada gelak tawa renyah, godaan-godaan kecil dari Heeseung soal “reaksi refleks” kalian berdua saat dia membuka pintu, dan tatapan mata Jake yang diam-diam selalu mencuri pandang ke arahmu dengan pendar kasih yang teramat tulus.
Namun, waktu tidak berhenti berputar. Kehidupan ganda sebagai mahasiswa biasa dan pelindung rahasia kota terus berjalan, menuntut Jake dan kamu untuk menyesuaikan diri dengan ritme baru yang jauh lebih berwarna.
Beberapa bulan berlalu sejak malam pembuktian kestabilan genetik Jake. Suasana semester baru di kampus terasa makin sibuk. Koridor-koridor gedung perkuliahan dipenuhi mahasiswa yang berlarian mengejar jam bimbingan atau sekadar nongkrong di selasar. Namun, ada satu pemandangan yang kini sudah menjadi hal biasa bagi seluruh penghuni jurusan: keberadaan Jake Sim yang tidak lagi pernah terlihat sendirian.
Jake kini benar-benar telah menanggalkan citra “kutu buku nolep” yang pasif. Meskipun dia tetap mengenakan kacamata berbingkai tipis dengan lensa netral tanpa minus sebagai penyamaran sosialnya, postur tubuhnya yang makin tegap, gayanya yang tenang, serta ketampanan alaminya yang tajam tidak bisa lagi disembunyikan. Dia tetap menjadi mahasiswa paling pintar di kelas yang irit bicara saat presentasi, tapi bedanya... sekarang ada kamu yang selalu duduk tepat di sampingnya.
Kalian berdua menjadi dwitunggal yang tak terpisahkan. Mulai dari mengerjakan tugas di perpustakaan, memesan es teh manis di kantin kampus, hingga berjalan bersisian menuju parkiran seusai kelas sore.
Soal Sunghoon? Jangan ditanya lagi. Sejak insiden pergelangan tangannya yang hampir diremukkan oleh cengkeraman “monster” Jake di perpustakaan waktu itu, Sunghoon tidak pernah lagi berani mendekat dalam radius lima meter di sekitarmu. Setiap kali melihat Jake melangkah di koridor, Sunghoon bakal berpaling muka dan buru-buru berbelok ke lorong lain dengan wajah pucat pasi.
“Lo tahu enggak, Jake?” katamu suatu sore sambil menyedot es teh di kantin, memperhatikan Sunghoon yang baru saja terbirit-birit melipir keluar area kantin gara-gara melihat Jake masuk. “Si Sunghoon makin hari makin kelihatan kayak cacing kepanasan kalau ketemu lo.”
Jake yang sedang merapikan lembar catatan kuliah di meja cuma menyunggingkan senyuman tipis yang teramat tampan. “Bagus dong. Berarti dia paham bahasa tubuh.”
“Sok keren banget sih lo sekarang,” godamu sambil mencubit pelan lengan kaos oblong cokelat yang dia kenakan.
Jake terkekeh halus, menangkap jemarimu di bawah meja dan menggenggamnya hangat—sebuah gerakan refleks yang kini sudah menjadi kebiasaan manis di antara kalian tanpa perlu canggung lagi. “Gue bukan sok keren, (Y/N). Gue cuma memastikan enggak ada satu orang pun yang bikin lo merasa enggak nyaman lagi di kampus ini.”
Pendar lembut di antara kalian terasa makin matang dan mengakar kuat. Tidak perlu pengakuan cinta yang menggebu-gebu di depan umum mulai dari cara Jake selalu memosisikan tubuhnya di sisi luar trotoar saat kalian berjalan, cara dia menyilangkan tangannya di belakang punggungmu saat melewati kerumunan padat, hingga cara matanya berbinar setiap kali kamu tersenyum... semua orang di kampus sudah tahu bahwa kalian saling memiliki.
Namun, di balik kehidupan kampus yang tampak normal dan manis itu, tugas rahasia sebagai pelindung kota tetap berjalan di balik layar.
Dengan bantuan Heeseung yang rutin meracik suplemen nutrisi cair berprotein tinggi di laboratorium apartemennya, fisik Jake berada dalam kondisi paling puncak sepanjang sejarah mutasinya. Kostum bodysuit buatan tangan Jake yang tersimpan rapi di dalam lemari rahasia kamar tamu Heeseung kini sudah mengalami beberapa peningkatan kecil—penambahan serat pengikat di area pergelangan tangan untuk mempercepat tembakan jaring, serta bantalan penyerap benturan di area dada.
Di malam-malam tertentu, seusai menyelesaikan tugas kuliah, Jake bakal berpamitan padamu dan Heeseung. Dia memanjat balkon apartemen, menarik topeng kain hitamnya, dan menyatu dengan kegelapan malam kota.
Masyarakat dan media massa kota kini resmi memberikan julukan bagi sosoknya: “SpiderMan” atau “Pahlawan Bertopeng”. Berita tentang aksi-aksinya menggagalkan kejahatan jalanan, menyelamatkan korban kebakaran dari gedung tinggi, hingga menghentikan pengemudi mabuk terus menghiasi halaman utama berita lokal setiap minggu. Tapi bedanya dari pahlawan di film-film... Jake tidak pernah lagi berjuang sendirian dalam ketakutan.
Setiap kali Jake beraksi di luar sana membelah angin malam, kamu dan Heeseung selalu menjadi “pos komando” utama di balik layar. Dari meja kerja ruang tengah apartemen Heeseung, kalian memantau lalu lintas frekuensi radio kepolisian melalui sistem komputer Heeseung, memberikan petunjuk jalur evakuasi tercepat, dan selalu menyiapkan handuk hangat serta susu protein segar begitu suara desisan jaring Jake mendarat di balkon seusai tugasnya tuntas.
Malam Minggu itu, udara kota terasa sangat cerah dan sejuk. Heeseung sedang pergi ke luar kota untuk menghadiri simposium ilmiah bioteknologi selama dua hari, meninggalkan apartemen sepenuhnya di bawah pengawasan kalian berdua.
Setelah menyelesaikan seluruh tumpukan tugas kuliah dan memastikan kondisi kota malam itu relatif tenang dari saluran radio polisi, kamu dan Jake memutuskan untuk menghabiskan waktu luang di balkon apartemen.
Sebuah karpet bulu tebal digelar di lantai balkon yang bersih, lengkap dengan dua cangkir cokelat hangat yang masih mengepulkan uap manis dan semangkuk camilan. Pemandangan lautan lampu kota yang membentang dari ketinggian lantai belasan tampak begitu memukau di bawah naungan sinar bulan yang jernih.
Jake duduk bersandar pada dinding balkon, mengenakan celana training santai dan kaos hitam polos favoritnya. Kamu duduk di sampingnya, menyandarkan kepalamu dengan sangat nyaman di bahu kokohnya. Lengan kanan Jake melingkari bahumu dengan teramat protektif, sementara jemarimu bertaut rapat dengan jemari tangannya yang hangat di atas pangkuan.
“Gue masih sering ngerasa kayak mimpi kalau ingat-ingat lagi,” bisikmu pelan, memandangi pendar lampu jalan di bawah sana. Jake memiringkan kepalanya sedikit, mengusap bahumu dengan ibu jarinya. “Mimpi gimana?”
“Ya mimpi...” jawabmu sambil tersenyum tipis, mendongak menatap profil samping wajahnya dari dekat. “Coba bayangin. Empat bulan lalu, kita itu cuma dua mahasiswa sekelas yang bahkan enggak pernah saling sapa. Gue cuma cewek kepo yang ngeliatin lo dari jauh di acara kunjungan lab, dan lo cuma cowok pendiam yang selalu ngumpet di balik buku tebal.”
Jake terkekeh pelan—suara tawa rendah yang selalu berhasil menggetarkan dadamu dengan rasa hangat.
“Iya ya...” aku Jake dengan suara teramat lembut. “Dulu gue mikir... hidup gue bakal berakhir menyedihkan di dalam kamar apartemen tua itu. Sendirian, ketakutan gara-gara mutasi ini, dan merasa kalau keberadaan gue enggak ada artinya buat siapa-siapa.”
Jake menoleh penuh, menatap matamu lurus-lurus. Cahaya rembulan memantulkan pendar jernih di iris mata cokelat tuanya yang kini memancarkan rasa syukur yang tak terbatas.
“Tapi ternyata...” lanjut Jake, jemarinya terangkat mengusap pelan pipimu yang hangat, “...di balik insiden gigitan laba-laba dan perampokan malam itu, takdir lagi menyiapkan hadiah paling indah buat hidup gue.”
“Hadiah paling indah?” godamu sambil menyunggingkan senyuman manis.
“Iya,” jawab Jake tanpa ragu sedikit pun, suaranya mantap dan penuh kejujuran murni. “Hadiah itu... adalah lo, (Y/N).”
Keheningan yang teramat manis dan mendalam kembali melingkupi balkon itu. Angin malam yang berembus pelan menerbangkan beberapa helai rambutmu, namun rasa dingin sama sekali tidak sanggup menembus kehangatan yang tercipta di antara kalian berdua. Jake perlahan memiringkan posisinya, menangkup sisi wajahmu dengan telapak tangannya yang hangat. Tidak ada lagi ancaman bahaya yang memutus, tidak ada lagi suara tombol pintu Heeseung yang mengagetkan, dan tidak ada lagi kecanggungan yang menahan.
Dalam pendar rembulan yang menjadi saksi bisu di ketinggian kota itu, Jake menundukkan kepalanya perlahan, menyatukan bibirnya dengan bibirmu dalam sebuah kecupan yang teramat lembut, hangat, dan penuh rasa kasih yang mendalam. Kecupan itu tidak terburu-buru. Sebuah tautan rasa syukur, rasa percaya, dan janji tersirat bahwa tidak peduli seberapa berat tugas yang harus diemban di masa depan, tidak peduli seberapa berbahaya musuh yang akan menghadang di luar sana... kalian akan selalu melangkah bersama, saling menjaga dan melengkapi sebagai satu kesatuan yang utuh.
FINALLY SYIPOKAN😚
Saat Jake menarik wajahnya mundur secara perlahan, senyuman paling tampan dan paling bahagia terukir sempurna di bibirnya. Kamu membalas senyuman itu dengan membenamkan wajahmu kembali di dada tegapnya, mendengarkan detak jantungnya yang berpacu hangat di bawah telingamu. Di atas atap kota yang tenang itu, sang pahlawan rahasia tidak lagi berjuang dalam sepi. Di dalam dekapannya, ada rumah sejati yang akan selalu menyambutnya pulang—bersamamu, dalam sebuah ikatan takdir yang takkan pernah terputuskan oleh apa pun.
Malam kian larut, menyisakan deru angin sepoi-sepoi yang membelai tirai balkon yang setengah terbuka. Cahaya temaram dari dalam ruang tengah membiaskan garis-garis samar di lantai kamar tamu tempat kalian berdua beristirahat.
Rasa manis dari ciuman hangat di balkon tadi tidak begitu saja menguap saat kalian melangkah masuk ke dalam kamar. Malah, keheningan ruangan yang tertutup rapat itu membiarkan ketegangan emosional yang tersimpan selama berminggu-minggu merayap perlahan, mengubah ritme napas kalian menjadi lebih dalam dan lambat.
Jake berdiri di sisi kasur, baru saja meletakkan dua cangkir kosong ke atas meja kecil. Saat dia membalikkan badan menghadapmu, dia tidak langsung melangkah. Iris mata cokelat tuanya—yang kini tanpa penghalang lensa apa pun—menatapmu lurus-lurus. Ada pendar yang sangat berbeda di sana, bukan lagi pendar ragu seorang cowok pemalu, melainkan tatapan tajam dan penuh kehangatan dari seseorang yang memilikimu sepenuhnya.
“Jake...?” bisikmu pelan, memecah keheningan yang serasa kian menebal.
Jake tidak menjawab dengan kata-kata. Dia melangkah mendekat tanpa suara—gerakan semulus dan sehalus refleks alaminya. Setiap jengkal jarak yang terangkas di antara kalian membuat udara di sekitar terasa makin hangat.
Begitu berdiri tepat di depanmu, Jake mengulurkan kedua tangannya. Jemarinya yang panjang dan kokoh menyentuh perlahan pinggangmu, lalu dengan satu sentakan lembut namun pasti, dia menarik tubuhmu rapat ke dekapannya. Napasmu tertahan seketika saat dadamu membentur dada tegapnya. Kamu bisa merasakan detak jantung Jake berpacu dengan ritme yang sama cepatnya dengan detak jantungmu sendiri.
“Gue enggak mau kita jarak-jarakan lagi malam ini, (Y/N),” bisik Jake dengan suara yang teramat rendah, serak, dan bergetar tepat di samping telingamu.
Ibu jarinya bergerak perlahan di balik kain baju yang kamu kenakan, mengusap pinggangmu dengan kelembutan yang membakar. Rasa hangat yang menjalar dari telapak tangannya efek dari daya regenerasi dan metabolisme tubuh mutasinya meresap langsung menembus kulitmu, membuat persendianmu terasa lemas seketika.
Jake menundukkan kepalanya, menyapukan bibirnya di sepanjang garis rahangmu, bergerak perlahan turun ke ceruk lehermu. Setiap sentuhan bibirnya terasa begitu intens, hangat, dan pekat, meninggalkan jejak sensasi desiran halus yang membuat jemarimu secara refleks meremas kain kaos hitam yang membungkus bahu kokohnya.
“Jake... ssh...” kamu mengerang pelan, menengadahkan kepalamu sedikit, memberikan akses lebih pada sentuhannya.
Jake terkekeh halus di lehermu—suara tawa rendah dan dalam yang teramat seksi. Dia mengangkat satu tangannya, menyusupkan jemarinya ke sela-sela rambut bagian belakang kepalamu, menahan posisimu agar tetap menempel padanya. Otot-otot di lengan dan dadanya menegang halus saat dia membimbing tubuhmu untuk berbaring perlahan di atas kasur queen size yang empuk. Jake menyusul di atasmu, menopang sebagian besar berat tubuhnya dengan kedua tangannya di kiri dan kanan kepalamu agar tidak menghimpitmu. Tatapannya dari atas menembus matamu dalam keheningan yang membara.
“Gue biasa nahan beban ton-tonan di luar sana, (Y/N)...” bisik Jake, napas hangatnya berembus tepat di atas bibirmu, “...tapi di depan lo... gue selalu kehilangan kendali.”
Sebelum kamu sempat membalas kalimatnya, Jake menunduk dan mengunci bibirmu kembali dalam ciuman yang jauh lebih dalam, menuntut, dan penuh dorongan gairah yang terendam lama. Sentuhannya tidak lagi ragu-ragu. Jemari Jake menelusuri setiap lekuk tubuhmu dengan kehangatan murni yang membakar rasa canggung di antara kalian sampai tak berbekas.
Dua tanganmu melingkar erat di lehernya, menarik tubuh atletisnya kian rapat tanpa memberi celah sedikit pun. Di dalam kamar yang hangat dan terlindung itu, waktu seolah berhenti berputar, menyisakan hanyutnya dua insan yang saling membutuhkan dalam balutan rasa kasih dan sensasi mendalam yang takkan pernah terlupakan.
Sensasi hangat dari napas Jake yang memburu di lehermu mendadak memicu dorongan keberanian yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya. Selama berminggu-minggu, kamu selalu melihat sisi protektifnya—bagaimana dia menahan beban belasan ton, bertindak sebagai pahlawan, atau sekadar memegangi tanganmu dengan hati-hati seolah kamu mudah pecah.
Tapi malam ini, di bawah temaram lampu kamar yang remang, kamu tidak ingin cuma jadi pihak yang dilindungi. Kamu juga sudah menantikan momen ini.Dengan gerakan cepat dan tak terduga, kamu memanfaatkan kelengahan Jake. Kamu mendorong kedua bahunya yang tegap ke bawah, lalu memutar posisi tubuhmu dengan lincah. Dalam hitungan detik, keadaan berbalik total.
Bruk.
Jake tersentak kaget saat punggungnya menempel penuh di atas kasur empuk. Sebelum dia sempat memproses apa yang terjadi, kamu sudah berpindah posisi—duduk tepat di atas perutnya yang rata dan padat, mengunci pergerakannya dari atas.
“(Y-Y/N)...?“ bisik Jake dengan suara yang mendadak gagap.
Kacamata netralnya sudah lama terlepas, menampilkan iris mata cokelat tuanya yang membelalak polos sekaligus takjub. Otot-otot perutnya yang keras bertambah tegang secara refleks di bawah tumpuan tubuhmu. Pria berdaya super yang sanggup merobohkan dinding beton itu kini benar-benar terlihat tidak berdaya, terkunci sepenuhnya di bawah kendalimu.
Kamu menyunggingkan senyuman tipis yang penuh godaan, menundukkan kepalamu sedikit agar rambutmu yang terurai mengusap pelan dadanya.
“Kenapa, Jake Sim?” godamu dengan suara rendah yang sengaja dibuat berbisik. “Kaget? Bukannya tadi lo bilang selalu kehilangan kendali di depan gue?”
Jake menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa begitu kering. Dua tangannya yang berselimut otot padat terangkat canggung di udara, bingung harus ditaruh di mana, sebelum akhirnya jemarinya bertengger ragu di pinggulmu, merasakan kehangatan tubuhmu yang menempel pas di sana.
“Gue... gue enggak nyangka lo bakal seberani ini,” cicit Jake pelan, rona merah pekat langsung menyebar mulus dari leher hingga ke ujung telinganya yang agak tertutup rambut cokelatnya.
“Gue juga udah nungguin momen ini, Jake,” balasanmu jujur tanpa ragu sedikit pun.
Kamu memajukan badanmu, menyusupkan jemarimu yang halus ke sela-sela rambut cokelat Jake yang lembut, lalu menatap matanya lurus-lurus dengan pendar ketertarikan yang tak tertutup lagi.
Dengan sengaja, kamu menggerakkan jemarimu perlahan turun dari rambutnya, melewati garis rahangnya yang tegas, menelusuri lehernya, hingga berhenti di dada tegapnya yang terbungkus kaos hitam. Kamu memutar ujung jarimu di atas kain kaosnya, membuat napas Jake mendadak tertahan dan dadanya naik turun dengan cepat.
“Gimana rasanya, Kapten Spidey?” godamu lagi, menatap reaksinya yang begitu sensitif terhadap setiap sentuhan kecilmu. “Di luar sana lo bisa nahan truk belasan ton... tapi di sini, cuma gara-gara gue duduk di atas lo begini, lo langsung mati kutu kikuk gini?”
Jake menyunggingkan senyuman tipisnya yang teramat seksi—sebuah campuran antara rasa salah tingkah dan kehangatan gairah yang mulai membakar dadanya. Jemari tangannya yang tadinya ragu di pinggulmu kini mengencangkan cengkeramannya, menarik pinggulmu satu sentimeter lebih rapat ke arahnya.
“Gue emang kikuk di awal...” bisik Jake dengan suara rendah yang dalam dan serak, matanya berkilat penuh pendar menantang yang perlahan bangkit. “...tapi itu bukan berarti gue enggak bisa bales, (Y/N).”
Sebelum kamu sempat merespons kalimatnya, refleks fisik mutasi Jake yang super peka bekerja. Tanpa melepaskan posisimu dari atas tubuhnya, Jake menegakkan dada bagian atasnya. Tangannya merengkuh belakang lehermu, menarik wajahmu turun secara mendadak hingga bibir kalian bertabrakan hangat.
Ciuman kali ini bukan lagi sekadar sentuhan lembut. Jake menyesap bibir atas dan bawahmu dengan ritme yang lambat namun teramat pekat, menuntut balasan yang sama panasnya darimu. Lidahnya menyapu lembut bibirmu, mengundangmu untuk makin tenggelam dalam sensasi foreplay yang menggoda. Desahan pelan lolos dari tenggorokanmu, membuat percikan gairah di antara kalian meledak kian nyata di dalam kamar yang sunyi itu.
Jemari Jake menyusup ke dalam kaos yang kamu kenakan, menempelkan telapak tangannya yang hangat langsung di atas kulit pinggangmu. Setiap kali jemarinya yang panjang mengusap naik-turun di sepanjang tulang rusukmu, sentuhan itu mengirimkan gelombang sengatan halus yang membuat tubuhmu bergidik nikmat di atas pangkuannya.
Kamu membalas permainannya dengan menunduk lebih dalam, mengalihkan ciumanmu dari bibirnya menuju garis rahangnya yang keras, menyusur turun hingga ke ceruk leher dan tulang selangkanya. Kamu memberikan gigitan-gigitan kecil yang halus di sana, membuat Jake mengerang rendah dan mendongakkan kepalanya, meremas kain di punggungmu dengan jemarinya yang makin menuntut.
“(Y/N)... sskh...“ erang Jake lirih, napasnya yang panas menyapu bahumu yang terekspos.
Kamu menengadah kembali, menatap wajah Jake yang kini dipenuhi pendar gairah yang begitu membara—tatapan mata pria dewasa yang sepenuhnya mendambakanmu. Kamu menyunggingkan senyuman penuh kemenangan, menyapukan ibu jarimu di atas bibir bawahnya yang agak basah dan merona merah.
“Masih mau pura-pura kaku, Jake Sim?” bisikmu santai namun sarat godaan.
Jake terkekeh pendek di sela napasnya yang memburu. Tanpa menjawab dengan kata-kata lagi, dia membalikkan keadaan sekali lagi dengan kelembutan yang teramat protektif—mengangkat tubuhmu dengan mudah seolah kamu tak berbobot, menyatukan ritme napas dan detak jantung kalian dalam malam yang kian hanyut dalam lautan kasih dan sensasi yang membakar.
mwehehehe to be continued yach
duh abis ini ena ena.. akuu udh ga sabar xixixix
ketchup manja buat jake😚





Suka nii sma' gratis😋😋🤤
kakkk up sekarang nggak😭👊🏻