JANGAN LUPA LIKE
Begitu pintu unit apartemenmu tertutup rapat dan terkunci secara otomatis, kesunyian yang mencekam namun menenangkan menyambutmu. Kamu bersandar di balik pintu, merasakan kain kemeja oversized milik Riki yang masih menyimpan aroma parfum maskulin dan sisa keringatnya yang khas. Tubuhmu masih berdenyut, rasa nyeri yang tumpul di area intimmu seolah menjadi pengingat mutlak tentang betapa liarnya gempuran Jungwon dan Riki beberapa jam yang lalu.
Tanpa ragu, kamu meraih ponselmu. Layarnya masih menampilkan rentetan notifikasi yang masuk secara agresif-panggilan tak terjawab dari Jay yang kesetanan, pesan singkat Sunghoon yang menuntut kejelasan, hingga rentetan teks dari Heeseung yang penuh perhatian namun terkesan manipulatif. Dengan satu gerakan tegas, kamu menekan tombol daya dan memilih opsi Power Off.
Layar itu menghitam. Mati total.
Sesuatu yang aneh terjadi. Biasanya, aplikasi OBSESSION akan memberikan peringatan atau getaran paksa jika kamu mencoba memutus koneksi, seolah sistem itu adalah parasit yang tidak ingin dilepaskan. Namun kali ini, dia diam. Tidak ada pemberontakan digital, tidak ada ancaman sistem. Aplikasi itu seolah tunduk, mengakui bahwa kamu telah menyelesaikan siklus tujuh target dengan kesuksesan yang absolut. Kamu telah bertransformasi dari sekadar “objek” menjadi sang pengendali yang memegang kendali penuh atas bidak-bidak catur hidupmu.
Kamu melemparkan ponsel itu ke laci paling dalam di nakas, lalu melangkah menuju ranjangmu sendiri. Selimut tebal yang dingin menyambut kulitmu yang masih “panas”. Kamu memejamkan mata, membiarkan tubuhmu tenggelam dalam kegelapan tidur yang murni.
Selama 24 jam penuh, dunia luar bagi (Y/N) tidak lagi eksis. Namun di luar sana, di tujuh lokasi yang berbeda, kegilaan mulai merayap naik.
Jay mungkin sedang membanting gelas wiskinya di ruang VIP klub karena panggilannya hanya berakhir di kotak suara. Sunghoon mungkin sedang mondar-mandir di depan lobi kantormu, wajahnya sedingin es karena pesan “merawatmu” tidak pernah dibaca. Heeseung di penthouse-nya mungkin sedang menatap layar monitor dengan tatapan kosong, bertanya-tanya mengapa “proyeksi” sempurnanya tiba-tiba menghilang dari radar. Jake & Sunoo mungkin sedang berdebat di studio mereka masing-masing, atau mungkin saling menyalahkan karena membiarkanmu pulang begitu saja malam itu. Jungwon & Riki-dua yang terakhir mencicipimu-pasti sedang berada di puncak kecemasan, takut bahwa nomor yang kamu berikan hanyalah tipuan belaka.
Mendiamkan mereka adalah strategi perang psikologis paling brutal yang pernah kamu lakukan. Kamu membiarkan ego ketujuh pria dominan itu hancur secara perlahan karena ketidakpastian. Kamu ingin mereka tahu bahwa kehadiran mereka di hidupmu adalah sebuah hak istimewa, bukan sebuah keharusan.
Namun, di tengah tidur dan pemulihanmu, ada bagian dari dirimu yang mulai memberontak. Meskipun vaginamu masih terasa sangat sensitif dan nyeri-efek dari penetrasi ganda yang ekstrem dari duo termuda-tubuhmu seolah telah “terprogram” oleh gairah ketujuh pria itu.
Ada rasa haus yang samar namun nyata di bawah permukaan kulitmu. Kamu terbiasa dengan sentuhan kasar Jay, Sunghoon, Jake, Sunoo, dominasi intelektual Heeseung, kekakuan pertama Jungwon sebelum bertemu dengan Riki hingga kelincahan Riki saat memimpin tiap rondenya. Kamu merindukan bagaimana mereka memuja tubuhmu, bagaimana mereka mendesah memanggil namamu di puncak pelepasan. Diam ini memang cara terbaik untuk mengembalikan staminamu, tapi sekaligus menjadi ujian bagi dirimu sendiri: Seberapa kuat kamu bisa bertahan tanpa candu yang telah mereka berikan?
Matahari hari Minggu sudah mulai terbenam saat kamu akhirnya terbangun dengan kondisi tubuh yang jauh lebih bugar. Rasa nyeri di bawah sana sudah mereda, menyisakan denyutan samar yang justru terasa menggoda. Kamu bangkit, berjalan menuju dapur untuk minum, dan matamu tertuju pada laci nakas tempat ponselmu “dihukum”.
Kamu tahu, saat ponsel itu menyala kembali, sebuah ledakan emosi akan menghampirimu. Ketujuh pria itu tidak akan lagi hanya sekadar mengejar, mereka akan berburu untuk memastikan kamu tidak pernah menghilang lagi.
Tanganmu sedikit gemetar saat menekan tombol daya. Begitu logo ponsel muncul dan sistem memuat ulang, layar ponselmu tidak menampilkan wallpaper biasa, melainkan cahaya emas yang berpendar terang dari aplikasi OBSESSION.
[SYSTEM EVOLUTION: THE QUEEN’S COMMAND]
Status: User Dominance Confirmed.
Achievement Unlocked: The Absolute Tamer.
[FINAL MISSION: THE GRAND REUNION]
Kamu telah berhasil menaklukkan ketujuh predator secara terpisah. Sekarang, sistem memberikan hak eksklusif bagimu untuk memanggil mereka semua ke satu titik koordinat yang sama: Apartemenmu. malam ini.
[BROADCAST INITIATED]
Pesan undangan telah dikirimkan ke seluruh target (Sunghoon, Jay, Heeseung, Jake, Sunoo, Jungwon, Riki).
Estimated Arrival: 30 Menit.
Warning: Pesta sesungguhnya baru saja dimulai. Pastikan stamina dan mentalmu siap untuk menghadapi tujuh obsesi yang bertabrakan di satu ruangan.
Kamu menarik napas panjang, merasakan jantungmu berdegup kencang. Belum sempat kamu memproses pesan sistem itu, ponselmu meledak dengan notifikasi dari mereka semua yang masuk hampir bersamaan:
Jay: “Gue otw. Kalau ada cowok lain di sana, jangan salahin gue kalau apartemen lo hancur.”
Sunghoon: “Gue udah di parkiran bawah. Gue nggak akan biarin lo ngilang lagi kayak kemarin.”
Heeseung: “Aku tahu ini jebakanmu, (Y/N). Tapi aku suka cara mainmu. Sampai ketemu sebentar lagi.”
Jungwon & Riki: (Pesan Serempak) “Kita berdua datang bareng. Jangan lupa kemeja gue yang lo pake semalam, gue mau lepas itu sendiri.”
Jake & Sunoo: “Kita bawa kamera dan beberapa minuman buat nambah stamina. Malam ini bakal jadi mahakarya paling kotor yang pernah ada.”
Kamu berdiri di tengah ruang tamu, menatap pintu apartemenmu. Suasana hening di dalam unitmu mendadak terasa mencekam. Kamu masih mengenakan kemeja oversized milik Riki, rambutmu sedikit berantakan, dan aura kekuasaan terpancar dari wajahmu yang kini tidak lagi takut.
Suasana di apartemenmu mendadak berubah menjadi panggung drama paling mahal dan berbahaya yang pernah ada. Musik jazz yang mengalun rendah dengan dentuman bas yang seksi mengisi setiap sudut ruangan, kontras dengan ketegangan yang mulai merayap di udara.
Kamu duduk tenang di sofa besarmu tengah ruangan, menyilangkan kaki jenjangmu yang hanya tertutup kemeja oversized milik Riki-sebuah tanda kepemilikan yang sangat jelas bagi siapa pun yang melihatnya.
Satu per satu, “tamu-tamu” istimewamu mulai berdatangan.
Menit ke-5 Jay & Sunghoon Pintu apartemen yang tidak terkunci terbuka lebar dengan sentakan kasar. Jay masuk dengan jaket kulit hitamnya, wajahnya merah padam karena amarah yang tertahan selama 24 jam. Namun, langkahnya terhenti saat dia melihat Sunghoon tepat di belakangnya. “Lo... ngapain di sini, Bang?” geram Sunghoon, Jay dan Sunghoon juga saling mengenal karena Sunghoon adalah sepupu Jay, matanya menatap Jay tajam sebelum beralih ke arahmu. Tatapannya mendingin saat melihat kemeja pria lain melekat di tubuhmu. “Gue yang harusnya tanya itu ke lo, Hoon,” balas Jay sinis.
Menit ke-10 Heeseung Heeseung masuk dengan langkah yang sangat tenang, seolah dia sudah memprediksi skenario ini. Dia menyesuaikan letak kacamatanya, menatap Jay dan Sunghoon dengan senyum meremehkan. “Ternyata tebakanku benar. Kita semua hanyalah bidak di papan catur (Y/N) malam ini,” ucap Heeseung santai, lalu dia berjalan mendekatimu dan mengecup puncak kepalamu di depan mata Jay dan Sunghoon yang hampir meledak.
Menit ke-15 Jake & Sunoo Keduanya masuk bersamaan, membawa aura artistik yang kotor. Jake langsung mengangkat kameranya, memotret momen di mana tiga pria lain sedang saling gertak. Sunoo tertawa kecil, matanya tertuju pada lehermu yang masih menyisakan tanda darinya. “Wah, ramai ya? Gue bawa minuman nih, (Y/N). Kayaknya kanvasnya bakal lebih seru kalau dikeroyok bareng-bareng begini,” bisik Sunoo tanpa mempedulikan tatapan membunuh dari Jay dan pandangan tidak terima dari Sunghoon.
Menit ke-20 Jungwon & Riki Duo termuda ini masuk dengan langkah penuh percaya diri. Riki langsung menyadari kemejanya ada pada tubuhmu. Dia menyeringai puas, menatap kelima pria lainnya dengan tatapan menantang. “Kemeja gue cocok banget di lo, (Y/N),” ucap Riki keras-keras, sengaja memprovokasi. Jungwon berdiri di samping Riki, melipat tangan di dada dengan aura Ketua OSIS yang kini sepenuhnya berubah menjadi pria yang ingin menguasai miliknya seperti predator yang mengklaim teritorinya. “Jadi ini ‘eksperimen’ yang lo maksud, (Y/N)? Ngumpulin kita semua dalam satu kandang?”
Kini, ketujuh pria paling berpengaruh dalam hidupmu berdiri di satu ruangan yang sama. Ruang tamumu yang luas mendadak terasa sempit. Suasana sangat eksplosif, Jay mengepalkan tinjunya, Sunghoon menatap tajam ke arah Riki, sementara Jake dan Sunoo saling berbisik merencanakan sesuatu.
Kamu menyesap anggurmu dengan perlahan, menatap mereka satu per satu melalui bibir gelas. Kamu bisa merasakan adrenalin mereka yang berpacu, cemburu yang membakar, dan gairah yang sudah di ujung batas.
“Duduk,” perintahmu singkat dengan nada yang sangat dominan. “Gue nggak suka tamu gue berdiri kayak pengawal.”
Mereka semua terdiam. Harga diri mereka sebagai pria dominan terluka, namun obsesi mereka padamu memaksa mereka untuk patuh. Mereka duduk mengelilingimu-beberapa di kursi lain, beberapa di lantai dekat kakimu-menciptakan lingkaran pemujaan yang gila.
[SYSTEM NOTIFICATION: THE ULTIMATE HAREM]
Current Status: Sevenfold Obsession.
Room Atmosphere: Highly Volatile / Hyper-Sexual Tension.
Command: Tentukan siapa yang akan mendapatkan ‘pelayanan’ pertama di depan mata yang lainnya.
Gelas anggur di tanganmu berdenting pelan saat kamu meletakkannya di meja kaca. Senyummu tipis, namun matamu memancarkan otoritas yang membuat tujuh pria dominan ini terdiam, menunggu setiap kata yang keluar dari bibirmu.
“Sebelum kita mulai pesta ini,” ucapmu rendah, memecah kesunyian yang tegang. “Gue mau dengar... bagian mana dari tubuh gue yang paling bikin kalian gila saat kita ‘main’ sebelumnya? Siapa yang ceritanya paling jujur, dia yang dapet perhatian lebih.”
Satu per satu, mereka mulai bicara. Suara mereka tumpang tindih dengan nada posesif.
Jay mendesis, matanya terpaku pada lehermu. “Gue suka cara kulit lo memerah setiap kali gue tandain. Lo kayak kanvas yang cuma boleh gue lukis pake bibir gue seorang.”
Sunghoon menimpali dengan dingin namun intens. “Paha lo. Cara lo menjepit pinggang gue seolah nggak mau lepas... itu yang bikin gue nggak bisa kerja tenang seharian apalagi waktu di ruang pribadi gue pas menghadap cermin.”
Jake & Sunoo saling melirik. “Ekspresi wajah lo pas kita siram cat sambil ngerecord ekspresi binal lo itu,” bisik Sunoo. “Lo kelihatan kayak karya seni yang hancur tapi cantik banget.”
Jungwon & Riki yang baru saja menghabiskan malam denganmu masih bisa merasakan panas tubuhmu. “Cara lo nerima kita berdua sekaligus di satu lubang yang sama,” gumam Riki dengan seringai nakal. “Gue suka suara tangisan lo pas kita masuk barengan.”
Heeseung hanya menatapmu dalam, “Aku suka cara matamu menatapku seolah meminta lebih, bahkan waktu tubuhmu udah nggak sanggup lagi buat menerima hujamanku.”
Mereka semua tampak bingung, mempertanyakan logika mereka sendiri. Bagaimana bisa seorang perempuan yang muncul entah dari mana, tanpa latar belakang yang jelas, bisa membuat tujuh pria dengan ego setinggi langit ini bertekuk lutut?
Kamu hanya tertawa kecil. Kamu tidak mungkin bilang bahwa ini adalah kerja sistem OBSESSION. Kamu bermain kata, menyesuaikan frekuensi mereka hingga mereka percaya bahwa ini adalah takdir.
“Mungkin... karena gue adalah satu-satunya cermin yang bisa nampilin sisi paling kotor dari kalian semua,” jawabmu ambigu, merusak sisa-sisa logika mereka.
Lalu, kamu bangkit dari sofa.
Dengan gerakan lambat yang sangat provokatif, kamu membuka kancing kemeja Riki satu per satu. Kemeja itu terjatuh ke lantai, meninggalkanmu bugil sepenuhnya di tengah lingkaran tujuh predator. Kulitmu yang masih menyisakan beberapa bekas kemerahan dari Jungwon dan Riki tampak berkilau di bawah lampu apartemen.
“Siapa yang bisa bikin gue puas paling cepat,” tantangmu, menatap mereka satu per satu dengan pandangan lapar. “Dia yang berhak dapet malam ini sepenuhnya.”
Suasana meledak. Jay sudah siap menerjang, Sunghoon bangkit dari kursinya, Jungwon yang menelan ludah susah payah tergoda dengan body mantapmu, Jake dan Sunoo menjilat bibir buat siap-siap sebelum menerjangmu dan Riki sudah mencengkeram pinggiran sofa menahan gairah yang mulai naik. Namun, suara Heeseung yang berat dan tenang menghentikan gerakan mereka semua.
“Kalau bisa tujuh orang memuaskanmu secara bersamaan... kenapa kamu harus bilang begitu?” Heeseung berdiri, melangkah mendekatimu dengan aura yang paling mengintimidasi. “Kenapa harus memilih, kalau kamu bisa dihancurkan oleh kami semua di ruangan ini, sekarang juga?”
Pertanyaan Heeseung memancing seringai dari yang lain. Tantanganmu berbalik menjadi bumerang. Mereka tidak lagi bersaing untuk mendapatkanmu sendirian, tapi mereka sepakat untuk menghabiskanmu bersama-sama.
[SYSTEM CRITICAL: SEVENFOLD ASCENSION]
Current Situation: The Seven Lions have formed a pact.
Atmosphere: Extremely Dangerous / No Way Back Out.
Objective: Survival.
Heeseung memberi isyarat, dan dalam sekejap, ruang tamumu berubah menjadi lautan gairah yang kacau. Jay menarikmu ke pelukannya dari belakang. Sunghoon berlutut di depanmu, mencium pangkal pahamu yang merona. Jake & Sunoo memegangi kedua tanganmu, menariknya ke samping agar dadamu terekspos sepenuhnya bagi Heeseung. Jungwon & Riki sudah berada di posisi bawah, samping dan atas, bersiap untuk mengulang kegilaan semalam namun dengan penonton yang lebih banyak.
Sofa di ruang tamumu kini benar-benar menjadi takhta dosa. Jay, dengan rahang yang mengeras dan tatapan mata yang gelap oleh gairah yang tertahan selama 24 jam, menarik pinggulmu dengan kasar agar kamu duduk mengangkang di atas pangkuannya. Kamu bisa merasakan kejantanannya yang sudah menegang sempurna menekan tepat di pusat intimu, meski masih terhalang kain celananya.
Rencana awalmu untuk mendominasi mereka menguap begitu saja. Keberadaan tujuh pria alfa di satu ruangan menciptakan medan magnet erotis yang terlalu kuat untuk dilawan. Kamu yang tadinya ingin memegang kendali, kini hanya bisa terengah-engah, menjadi pusat gravitasi dari pemujaan yang brutal.
Heeseung melangkah maju, mengambil alih komando dengan ketenangan yang mengerikan. “Jangan terburu-buru,” ucapnya dingin, suaranya berwibawa membelah desahan napas yang memburu. “Kita bakal menghancurkannya pelan-pelan. Sampai dia nggak bisa lagi bedain antara nikmat dan siksaan.”
Atas isyarat Heeseung, Jake dan Sunoo meraih botol anggur merah yang tadi kamu minum. Dengan senyum artistik yang licik dan terlihat haus, mereka mulai menuangkan cairan merah pekat itu dari pundakmu. Anggur yang dingin merayap turun, melewati lekukan payudaramu, melintasi perutmu yang rata, hingga membasahi pangkal pahamu.
“Sayang kalau tumpah ke lantai,” bisik Sunghoon. Dia berlutut di antara kaki Jay, mulai menjilati tetesan anggur itu dari kulit perutmu dengan lidahnya yang hangat dan lihai. Di saat yang sama, Jungwon dan Riki masing-masing meraih payudaramu. Mereka menghisap putingmu yang sudah menegang keras, seolah-olah itu adalah satu-satunya sumber kehidupan mereka.
Kamu melengkungkan tubuh, kepala terdongak ke belakang tepat di bahu Jay. Namun, Sunoo segera menarik rambutmu dengan lembut tapi tegas, memaksamu membuka mulut. Dia memasukkan jarinya yang sudah basah oleh anggur ke dalam mulutmu, memintamu untuk menyesapnya sementara Jake mengabadikan ekspresi hancurmu melalui lensa kameranya.
“Liat ini, (Y/N). Lo bahkan belum disentuh ‘beneran’, tapi lo udah banjir banget sekarang,” bisik Jay di telingamu, tangannya meraba ke bawah, menemukan lubangmu yang sudah sangat basah dan berdenyut hebat.
Cairanmu meluap, bercampur dengan sisa anggur merah, menciptakan pemandangan paling provokatif yang pernah mereka lihat. Tekanan dari tujuh pasang tangan yang berbeda-beberapa meremas, beberapa membelai, beberapa mencubit-membuat sarafmu mengalami sensory overload. Kamu tidak lagi tahu tangan siapa yang sedang berada di klitorismu, atau lidah siapa yang sedang menjelajahi lehermu.
[SYSTEM STATUS: TOTAL SURRENDER]
Current Mode: The Sevenfold Altar.
Arousal Level: OFF THE CHARTS (150%).
Note: Subjek telah kehilangan kemampuan motorik untuk melawan. Dominasi beralih sepenuhnya kepada Target 1-7.
Heeseung yang sedari tadi hanya menonton, kini mulai melepas ikat pinggangnya. Dia berdiri tepat di depan wajahmu, menatapmu dengan pandangan yang seolah sedang membedah jiwamu.
“Sekarang, mari kita lihat seberapa kuat rahimmu bisa menampung kami semua secara bergantian,” gumam Heeseung.
Heeseung memberikan aba-aba untuk memulai tahap penetrasi. Tidak ada yang terburu-buru, namun setiap gerakan mereka dirancang untuk menyiksamu dengan stimulasi yang presisi.
Jay tetap di posisinya, menjadi fondasi di bawahmu saat dia menuntun miliknya masuk pertama kali dari bawah, memberikan hentakan yang dalam dan stabil.
Heeseung mengambil alih mulutmu, memaksamu untuk terus terstimulasi di bagian atas.
Sunghoon dan Riki memegangi kedua kakimu lebar-lebar, sementara Jungwon bersiap di sampingnya untuk menggantikan posisi Jay begitu dia mencapai puncaknya.
Ruang tamumu kini telah sepenuhnya bertransformasi menjadi altar pemujaan yang paling berdosa. Di bawah komando dingin Heeseung, ketujuh pria ini bergerak bagaikan mesin yang sinkron untuk menghancurkan setiap jengkal pertahanan mental dan fisikmu.
Kamu duduk di atas pangkuan Jay, kakimu dipaksa mengangkang lebar oleh Sunghoon hingga otot pahamu terasa tertarik maksimal. Jay menghujamkan miliknya dengan dorongan yang stabil dan dalam, membuat perutmu yang rata kini tampak menonjol-sebuah gundukan kecil yang tercetak jelas dari balik kulit perutmu, menunjukkan betapa besarnya kejantanan Jay yang sedang mengisi rahimmu sepenuhnya.
Sunghoon menekan gundukan di perutmu itu dengan telapak tangannya, memberikan tekanan tambahan yang membuatmu merasa seolah akan meledak dari dalam. “Liat ini, (Y/N)... perut lo berubah bentuk gara-gara Jay. Lo bener-bener wadah yang sempurna buat kita bertujuh,” bisik Sunghoon dengan nada posesif yang mengerikan.
Di bagian atas, Heeseung menguasai mulutmu. Miliknya yang besar dan tegang mengisi rongga mulutmu hingga ke pangkal, memaksamu untuk terus menyesapnya tanpa henti. Heeseung tidak kasar, namun tatapan matanya yang tajam di balik kacamata terus mengunci matamu, menikmati bagaimana akal sehatmu perlahan menguap digantikan oleh kabut gairah yang pekat.
Sementara itu, Jungwon dan Riki masih berebut di dadamu. Mereka menghisap dan menggigit payudaramu dengan rakus, menciptakan kontras antara rasa sakit dan nikmat yang membuat sarafmu berdenyut hebat sambil memanjakan milik mereka sendiri.
Di belakang sofa, Sunoo berdiri dengan senyum malaikat yang kini berubah menjadi iblis. Tangannya satu mengocok miliknya sendiri, sementara tangan lainnya melingkar di lehermu-mencekikmu dengan tekanan yang cukup untuk membatasi oksigenmu namun tidak sampai mematikan. Tekanan itu membuat wajahmu memerah padam, air mata nikmat dan sesak mengalir deras membasahi pipimu. Kamu terengah-engah, mencoba mencari udara di sela-sela milik Heeseung, namun yang kamu dapatkan hanyalah stimulasi yang semakin gila.
Jake, sang fotografer gila, tidak ingin melewatkan satu detik pun. Dengan satu tangan memegang kamera profesionalnya, dia mengambil foto-foto close-up dari perutmu yang menonjol, wajahmu yang tercekik nikmat, hingga cairan yang meluap dari bawah. Tangan satunya lagi bergerak cepat mengocok miliknya yang sudah sangat tegang, siap untuk bergabung kapan saja.
[SYSTEM CRITICAL: ABSOLUTE SYMPHONY]
Current Status: Seven-Way Sensory Overload.
Physical Integrity: Stretched to the absolute limit.
Mental State: Broken / High-Level Arousal.
Note: Subjek telah mencapai ambang ‘The Golden Orgasme’.
Heeseung tiba-tiba menarik diri dari mulutmu, membiarkanmu mengambil satu napas panjang yang serak. Dia menatap ke arah yang lain, memberikan kode final.
“Cukup pemanasannya,” gumam Heeseung. “Sekarang, kita buat dia benar-benar meluap.”
Jay mulai mempercepat ritme hujamannya, sementara Sunoo mempererat cengkeramannya di lehermu, dan Jake meletakkan kameranya untuk bersiap menggantikan posisi salah satu dari mereka.
Apartemenmu kini bukan lagi sekadar tempat tinggal, melainkan sebuah ruang sakral di mana logika dan harga diri telah hancur sepenuhnya. Di bawah perintah Heeseung yang mutlak, ketujuh pria ini bergerak bagaikan mesin yang haus akan penaklukan. Strategi mereka bukan hanya tentang kenikmatan, tapi tentang bagaimana cara “mengisi” dirimu sampai ke batas fisik yang paling ekstrem.
Rotasi dimulai tanpa jeda satu detik pun. Begitu Jay mencapai puncaknya dengan geraman rendah yang menggetarkan sofa, dia menyentak pinggulnya untuk terakhir kali, membenamkan seluruh muatan panasnya jauh ke dalam rahimmu. Namun, saat Jay menarik diri, Jungwon sudah berada tepat di sampingnya, langsung menghujam masuk ke lubangmu yang masih terbuka lebar dan berdenyut karena Jay membuatmu menungging sempurna
“Jangan tutup dulu, (Y/N). Masih banyak yang harus masuk,” bisik Jungwon, melanjutkan tempo Jay dengan tenaga mudanya yang lebih agresif.
Satu per satu mereka masuk, menggantikan posisi sebelumnya dengan sinkronisasi yang mengerikan. Setelah Jungwon menguasai sendiri dan melepasnya di dalammu bercampu cairan milik Jay, Sunghoon masuk dengan ritme yang dingin namun mematikan, dia melakukan posisi lotus yang membuatmu tidak bisa berkutit sama sekali selain berkedut dan orgasme lagi dan lagi.
Sunghoon tidak sekasar Jay dan Jungwon tapi ritmenya benar-benar menyiksa akal sehatmu, begitu dia menyemburkan cairannya didalammu hingga meluber ke panggal paha kamu terkulai di pundaknya, diikuti oleh Riki yang memaksamu melakukan gaya threesome dengan Jake, di mana posisi itu jake di bawahmu dan Riki di depanmu namun kali ini posisinya kamu menghadap ke langit-langit ruang tengah membuatmu benar-benar terjepit di antara dua tiang panas.
Pelebaran kemarin dari Riki dan Jungwon membuat mereka mudah memasukimu secara bersamaan bahkan kamu sampai tidak bisa membedaan mana kenikmatan dan siksaan. Begitu mereka sampai puncak bersamaan kamu yang mengalam stimulasi ganda orgasme duluan, cairan mereka masuk ke dalam rahimmu bersamaan hingga benar benar penuh dan basah meluber di lantai.
Sunoo masuk setelahnya, membawa gairah yang sedikit sadis, membaringkanmu di karpet bulu sambil mengangkat kakimu di pundaknya. Sunoo mengangkat pinggulmu sedikit naik agar dia bisa menghujammu lebih dalam begitu dia mengeluarkan cairannya di dalammu yang sudah penuh dengan cairan yang lainnya, sementara Heeseung tetap memegang komando, memastikan kamu tidak pingsan. Setiap kali matamu mulai memutih dan kesadaranmu menghilang, Heeseung akan menjambak rambutmu atau memberikan rangsangan tajam pada putingmu agar kamu tetap terjaga menghadapi badai orgasme yang datang bertubi-tubi.
[SYSTEM CRITICAL: TOTAL OVERFLOW]
Current Status: Uterus Capacity: 98% (Critical).
Subjek: (Y/N) - Continuous Orgasm Mode Active.
Observation: Perut bagian bawah tampak membuncit secara signifikan akibat akumulasi benih ketujuh target.
Puncaknya tiba saat Heeseung menjadi yang terakhir masuk setelah menekan perutmu untuk mengeluarkan cairan yang masih ada di dalam rahimmu. Dia menghujamkan miliknya yang paling besar, mendorong tumpukan cairan dari enam pria sebelumnya lebih dalam lagi ke rahimmu. Perutmu kini benar-benar membuncit kencang, kulit perutmu yang rata kini terasa keras dan menonjol, mencetak bentuk rahim yang sudah penuh sesak oleh literan benih mereka.
Kamu menangis tanpa suara, suaramu sudah habis karena terus-menerus menjeritkan nama mereka. Tubuhmu bergetar hebat dalam kondisi multiple orgasm yang tidak kunjung berhenti. Setiap kali Heeseung bergerak, cairan kental mulai meluap keluar dari sela-sela penyatuan kalian, membasahi sofa dan paha kalian berdua. Kakimu lemas dan bergetar hebat sementara area intimmu masih terus berkedut konsisten karena stimulasi yang tiada akhirnya.
“Lihat perutmu, (Y/N),” gumam Heeseung, memaksa tangannya menekan buncitan di perut bawahmu yang sangat kencang. “Semua milik kami ada di dalam sana. Kamu nggak akan bisa berjalan sampai besok pagi.”
Jake dan Sunoo memegangi kedua tanganmu di atas kepala Sunghoon dan Jay mengulum kedua payudaramu dengan rakus, Riki dan Jungwon membuka pahamu lebih lebar hingga mengangkang sempurna, sementara Heeseung tetap fokus menghujammu sampai pelepasannya sendiri datang beberapa menit kemudian memenuhi rahimmu yang sudah overload. Desahanmu tercekat karena ludahmu sendiri, tangisanmu bahkan mulai kering. Pinggangmu rasanya seperti hampir copot begitu kesadaranmu mulai hilang saat Heeseung melepaskan dirinya darimu yang mulai banjir karena muatan cairan mereka bertujuh.
Fajar mulai menyingsing di hari Senin, menyinari ruang tamu yang sudah berantakan oleh botol anggur, botol minuman penambah stamina milik Sunoo, dan sisa-sisa pertempuran semalam. Kamu terbaring lemas di tengah-tengah mereka, tidak sanggup lagi menggerakkan jari sekalipun. Ketujuh pria itu kini duduk di sekelilingmu, menatap “karya” mereka dengan kepuasan predator yang baru saja memenangkan perburuan paling besar dalam hidup mereka.
Aplikasi OBSESSION di ponselmu menyala redup untuk terakhir kalinya:
[EPILOGUE: THE SOVEREIGN PREY]
Siklus Selesai. Ketujuh predator telah bersatu dan menandaimu secara permanen. Kamu bukan lagi pengguna aplikasi... Kamu adalah pusat dari alam semesta mereka.
Status: Permanently Owned.
><
nungguin apa?
sabar ya...
LIKE dulu dong manies💖
udah? thank u🤍
THE END
....
Cahaya fajar hari Senin menerobos masuk melalui celah gorden kamar utamamu, menyinari pemandangan yang paling absurd sekaligus erotis yang pernah terjadi dalam hidupmu. Kamu terbangun dengan napas yang masih tersenggal, merasakan sensasi berat dan penuh yang luar biasa di bagian bawah tubuhmu.
Secara perlahan, tanganmu merayap turun, menyentuh perut bawahmu yang terasa keras dan membuncit secara signifikan. Cairan hangat-benih dari ketujuh pria yang telah menggempurmu tanpa henti-terus merembes keluar dari intimmu yang sudah bengkak, membasahi sprei sutra yang kini sudah tak berbentuk. Kamu benar-benar lemas, setiap sel di tubuhmu seolah berteriak karena kelelahan yang teramat sangat.
Kamu mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Entah bagaimana caranya, saat kamu pingsan tadi, mereka telah memindahkanmu dari sofa ruang tamu ke atas kasur-mu. Di sekelilingmu, tujuh predator itu tertidur dalam posisi mencar-mencar:
Jay tertidur duduk bersandar di kepala ranjang dengan tangan masih memegang pergelangan kakimu yang dia pangku di pahanya.
Riki dan Jungwon meringkuk di sisi kiri dan kanan pinggulmu setengah memeluk, seolah menjaga wilayah yang baru saja mereka jelajahi.
Sunghoon berada di sisi kananmu dengan kepala mendusel di dadamu mencari posisi nyaman yang paling empuk dan Sunoo berada di ujung kasur berselimutkan sprei yang sudah terlepas entak sejak kapan, sementara Jake tertidur di lantai beralaskan karpet bulu dengan kamera yang masih berada dalam dekapannya.
Dan Heeseung... dia berada paling dekat dengan kepalamu menjadikan lengannya sebagai bantalmu yang paling nyaman, napasnya teratur dan tenang.
Dengan sisa tenaga yang ada, kamu meraih ponselmu di nakas. Kamu ingin melihat apa perintah gila selanjutnya dari aplikasi itu. Namun, matamu membelalak. Ikon OBSESSION sudah tidak ada. Layar ponselmu bersih, hanya menyisakan aplikasi standar bawaan pabrik. Tidak ada jejak sistem, tidak ada riwayat chat, tidak ada peringatan sensor. Seolah-olah aplikasi itu adalah hantu digital yang memang diciptakan hanya untuk menyeretmu ke dalam pusaran obsesi ini, dan setelah misinya selesai-setelah kamu benar-benar “hancur” dan ditaklukkan oleh ketujuh pria ini-ia menguap begitu saja ke udara.
Kamu menghembuskan napas lelah, sebuah tawa getir lolos dari bibirmu yang pecah. Kamu dipermainkan oleh teknologi, namun dampaknya pada tubuh dan hidupmu sekarang sangat nyata. Kamu menutup mata kembali, berniat tenggelam dalam tidur panjang untuk memulihkan stamina yang terkuras habis.
Tepat saat kesadaranmu mulai memudar, Heeseung perlahan membuka matanya.
Dia tidak bergerak, hanya melirik kecil ke arah ponselmu yang baru saja padam, lalu beralih menatap wajahmu yang lelah. Heeseung telah terjaga sejak kamu meraba perutmu tadi. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, tersungging di sudut bibirnya-senyum yang menyimpan rahasia besar.
Apakah Heeseung tahu tentang aplikasi itu? Atau apakah dia adalah bagian dari penciptanya?
Heeseung tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia hanya mengulurkan tangan, mengusap helai rambutmu yang berantakan dengan sangat lembut, lalu kembali memejamkan mata, memeluk bahumu dengan protektif.
Dia ingin menikmati sisa waktu tenang ini sebelum dunia nyata kembali memburu kalian-sebelum ketujuh pria ini bangun dan menyadari bahwa mulai hari ini, mereka harus berbagi satu “ratu” yang sama selamanya.
-ˋˏ✄┈┈┈┈
THE ENDDDDDDDDD
TERIMA KASIH BANYAK ATAS SUPPORT KALIAN SELAMA INI
🤍🤍🤍🤍🤍🤍🤍
MAKASIH YA UDAH MAU LIKE WALAUPUN AKU PAKSA
sangat senang jika kalian berpartisipasi dalam memberi komentar setelah baca part ini
cape soalnya bikin cerita begini tapi minim apresiasi dari pembaca🐱
maaf ya kalo ceritanya berantakan dan ga nyambung kalo dibaca ulang hehehe aku ngetiknya setengah sadar mungkin juga banyak yang double kalimatnya





Uwaaa udh end aja, pdhl msh bnyk misteri yg perlu dipecahkan berharap ada extra partnya di wp soalnya aku baca chap 1 smp 10nya di wp. Tapi gapapa open ending seperti ini jg udh oke. Makasih kak mici, ceritamu ga pernah gagal untuk dibaca. Sehat selalu dan semangat yah❤️❤️❤️