12 Halo Dek
Laksamana Jay
Helikopter SAR Super Puma yang dipiloti langsung oleh instruktur senior dengan Jay berada di sampingnya menembus dinding hujan yang padat. Gelap total. Hanya sorot lampu searchlight helikopter yang mencoba membelah badai, sesekali memperlihatkan gulungan ombak raksasa setinggi gedung tiga lantai di bawah mereka. Atmosfer di dalam kabin helikopter sangat tegang, hanya deru mesin turbin dan suara statis radio yang memekakkan telinga.
βKomandan! Jarak pandang nol! Angin samping lima puluh knot! Terlalu berbahaya untuk hovering (berdiam di udara) di atas kapal!β teriak pilot melalui intercom, suaranya bergetar menahan stick kendali yang melawan alam.
Jay menatap keluar jendela yang basah. Di kejauhan, samar-samar terlihat siluet KRI Elang yang miring ekstrem, nyaris 45 derajat. Lampu darurat kapal berkedip lemah, dikelilingi oleh lautan yang mengamuk seolah ingin menelan besi tua itubulat-bulat. Ratusan prajurit muda terlihat berpegangan panik di pagar dek yang licin, mencoba bertahan dari gempuran ombak yang terus menghantam.
βKita tidak punya pilihan! Jika tidak sekarang, mereka semua tewas hipotermia atau tergiling baling-baling kapal yang mulai tenggelam!β balas Jay, suaranya datar namun penuh baja. βSaya akan turun dengan kabel hoist! Siapkan tim medis di belakang!β
Jay membuka pintu geser helikopter. Angin dingin dan air laut langsung menampar wajahnya. Ia mengaitkan tali hoist ke sabuk taktisnya, memberikan isyarat jempol pada operator kabel.
βTurunkan saya tepat di atas dek buritan! Cepat!β
Jay melompat keluar. Tubuhnya terombang-ambing ekstrem di udara, dipermainkan oleh angin badai yang kencang. Di bawahnya, KRI Elang terus bergoyang liar, membuat pendaratan menjadi target yang mustahil. Satu kesalahan kecil, tali bajaitu bisa putus atau Jay bisa menghantam dinding kapal dengan kecepatan tinggi.
BRUGH!
Jay mendarat keras di dek buritan yang licin karena oli dan air laut. Ia melepaskan kaitan tali dan langsung merangkak menuju anjungan. Pemandangan di atas kapal sangat kacau. Teriakan ketakutan, tangisan prajurit muda yang belum pernahmenghadapi maut, dan suara besi kapal yang berderit patah menciptakan simfoni kematian.
βDengarkan saya! Semuanya tenang! Ini perintah!β teriak Jay dengan suara yang menggelegar, mengatasi suara badai. Wibawanya sebagai Laksamana Pertama seketika menenangkan kepanikan. βAwak kapal! Aktifkan sekoci darurat! Prajurit! Evakuasi prioritas untuk yang cedera! Yang bisa berenang, siapkan pelampung dan lompat secara teratur ke sisi kiri kapal, menjauh dari pusaran air!β
Jay memimpin langsung evakuasi. Ia memanggul prajurit yang patah kaki, mengarahkan rantai manusia untuk memindahkan sekoci, dan menjadi orang terakhir yang memastikan setiap nyawa meninggalkan besi tua yang mulai tenggelam itu. Iabekerja seperti mesin, mengabaikan rasa lelah dari sesi panas semalam, fokusnya hanya satu: menyelamatkan ratusan nyawa ini.
Satu per satu prajurit melompat ke laut yang ganas, berjuang melawan gelombang untuk mencapai sekoci atau helikopter lain yang mulai berdatangan. Jay berdiri di titik tertinggi kapal yang kini sudut kemiringannya sudah mencapai 60 derajat. Air laut mulai menggenangi dek tempatnya berdiri.
βKomandan! Kapal akan tenggelam dalam tiga puluh detik! Tali hoist sudah diturunkan! Cepat!β teriak operator helikopter dari atas.
Jay menatap sekeliling untuk terakhir kalinya. Kosong. Semua sudah dievakuasi. Ia meraih tali baja itu, mengaitkannya, dan memberikan sinyal untuk ditarik ke atas. Tepat saat tubuh Jay terangkat dari dek, KRI Elang mengeluarkan suara ledakanrendah-struktur bajanya patah total. Kapal gagah itu perlahan tenggelam, tertelan kegelapan laut sedalam ratusan meter, meninggalkan buih putih dan ratusan nyawa yang berhasil diselamatkan sang Laksamana.
Sementara badai maut sedang berkecamuk di pelabuhan, kamu sedang berbaring lemas di tempat tidurmu. Tubuhmu masih terasa ganjil, sisa-sisa kepemilikan Jay masih terasa nyata di dalam dirimu. Kamu sudah membersihkan diri, menggantisprei yang bernoda, dan berbohong lagi pada ibumu bahwa kamu sangat lelah setelah camping.
Kamu terus menatap layar ponselmu, menunggu notifikasi berbunyi.
(y/n): βBang Jay... sudah sampai rumah belum? Kok nggak dibalas? Aku nungguin Abang...β
(Terkirim, Centang Satu)
Televisi di ruang tamu sedang menyala, menyiarkan berita Breaking News tentang kecelakaan kapal KRI Elang, namun volumenya dikecilkan oleh ibumu agar tidak mengganggumu tidur. Kamu tidak menyadari bahwa pria yang baru sajaβmenghancurkanmuβ sedang bertaruh nyawa di tengah badai itu.
Rasa kantuk yang luar biasa karena kelelahan fisik dan emosional perlahan menyerangmu. Matamu mulai terpejam, ponselmu terjatuh ke atas bantal. Kamu ketiduran dengan senyum tipis di bibir, memimpikan janji-janji manis Jay yang manipulatif, sama sekali tidak tahu bahwa malam ini, Laksamanamu itu benar-benar menjadi pahlawan yang sah di mata negara.
Malam itu, sekitar pukul 01.00 dini hari, Jay baru saja mendarat di dek pangkalan udara dengan seragam yang koyak dan tubuh yang basah kuyup oleh garam laut. Bahu kirinya terkilir hebat karena hantaman besi saat ia ditarik kembali kehelikopter, dan darah merembes dari luka sayat di pelipisnya. Sambil menahan ringisan perih, ia duduk di ambulans pangkalan hanya untuk mengecek ponsel pribadinya.
Ia melihat pesanmu. Ia tahu kamu pasti sedang meringkuk di balik selimut, menunggunya dengan cemas. Dengan jari yang sedikit gemetar karena kedinginan, Jay mengetik balasan.
Jay: βMaaf baru balas, Sayang. Abang baru sampai di rumah dinas. Capek banget... kamu sudah tidur ya? Mimpi indah, budak kecilku. Abang selalu ada di sana.β
Ia sengaja tidak menceritakan tentang maut yang baru saja ia lalui. Baginya, kamu adalah tempat pelarian dari dunianya yang keras-sisi lembut (dan gelap) yang ingin ia simpan rapat. Jay mematikan ponselnya, membiarkan tim medis menjahitlukanya tanpa suara, lalu tertidur karena kelelahan yang luar biasa.
β
Senin Pagi Di Sekolah...
Suasana sekolah mendadak gempar. Di kantin, di kelas, hingga di ruang guru, semua televisi menyiarkan berita yang sama. Cuplikan video amatir dari helikopter menunjukkan sosok perwira tinggi yang terjun menembus badai untukmenyelamatkan ratusan nyawa.
βLAKSAMANA PERTAMA JAY, PAHLAWAN DI BALIK EVAKUASI KRI ELANGβ
Kamu berdiri mematung di depan TV kantin, memegang botol air mineral yang hampir jatuh dari tanganmu. Jantungmu berpacu gila. Pria di layar itu... pria yang dipuji-puji sebagai pahlawan nasional, pria yang wajahnya terlihat sangat gagahmeski penuh luka itu, adalah pria yang semalam menghujammu dengan beringas di balkon hotel.
βGila... Laksamana Jay keren banget ya! Gagah banget pas dia gendong prajurit yang pingsan itu,β bisik beberapa siswi di belakangmu.
Rasa bangga yang meledak di dadamu bercampur dengan rasa takut yang menyesakkan. Semakin tinggi posisi Jay di mata publik, semakin besar risiko yang kamu tanggung jika hubungan kalian tercium. Kamu segera merogoh ponsel, jarimumenari dengan cepat di layar.
(y/n): βBang Jay?! Aku baru liat berita! Kenapa Abang nggak bilang kalau semalam lagi misi penyelamatan?! Abang cedera ya? Ya Tuhan, aku takut banget pas liat videonya. Bang Jay nggak apa-apa kan? Tolong balas, Bang...β
Kamu menunggu. Satu menit... lima menit... hingga jam pelajaran pertama dimulai. Jay hanya membalas singkat, seolah ingin segera mengakhiri pembicaraan.
Jay: βNggak usah lebay. Abang Cuma nggak mau bikin kamu makin khawatir. Fokus sekolah, jangan banyak main hp.β
Kamu mencoba membalas lagi, mengirimkan rentetan pesan penuh perhatian dan kekhawatiran.
(y/n): βTapi Bang, luka di pelipis Abang keliatan dalam banget. Abang sudah ke dokter? Nanti sore aku boleh ke rumah dinas Abang? Aku mau obatin...β
Centang satu.
Jay tidak membalas lagi. Pesan-pesanmu selanjutnya tidak pernah sampai, seolah ia sengaja mematikan akses dunianya darimu. Kamu duduk di kelas dengan perasaan gelisah, menatap kursi kosong di sampingmu-merasa bahwa meskipun Jay telah memilikimu secara fisik, jiwanya adalah milik samudra yang luas dan tanggung jawab yang jauh lebih besar dari sekadar kamu.
Kegelisahanmu memuncak saat bel pulang sekolah berbunyi. Sepanjang pelajaran, pikiranmu hanya tertuju pada Jay. Kamu terus mengecek ponsel, berharap ada perhatian manis atau setidaknya kabar bahwa lukanya sudah membaik. Namun, saat layar ponselmu menyala, bukan kata-kata sayang yang kamu dapatkan.
Jay: βKamu sudah minum pil emergency contraception belum? Yang Abang suruh?β
Jantungmu seolah merosot ke perut. Kamu teringat kejadian di hotel semalam-bagaimana Jay berkali-kali mengeluarkan benihnya di dalam dirimu tanpa pengaman apapun. Dalam euforia dan rasa sakit yang kamu rasakan, kamu benar-benar lupa soal risiko kehamilan.
(y/n): βBelum, Bang... Abang nggak ada kasih apa-apa kemarin. Aku lupa. Harus sekarang banget ya?β
Balasan Jay datang lebih cepat, namun nadanya dingin dan penuh penekanan.
Jay: βHarus. Sekarang. Jangan sampai kecerobohan kamu ngerusak semuanya. Pergi ke apotek, beli Postinor atau sejenisnya. Abang nggak mau ada βmasalahβ yang muncul sembilan bulan lagi. Lakukan sekarang, (y/n).β
Kamu berdiri mematung di pinggir jalan depan sekolah. Air matamu nyaris jatuh. Kamu baru berusia 16 tahun, masih memakai seragam sekolah, dan Jay menyuruhmu masuk ke apotek untuk membeli kontrasepsi darurat sendirian?
(y/n): βBang... aku takut. Aku masih pakai seragam. Apoteker pasti bakal curiga atau nanya macam-macam. Aku nggak berani, Bang. Abang nggak bisa bantu?β
Jay tidak memberikan toleransi. Baginya, ini adalah bagian dari βtugasβ kepatuhanmu.
Jay: βAbang lagi di markas, nggak bisa keluar sembarangan setelah kejadian semalam. Pake jaket, tutup seragam kamu. Cari apotek yang jauh dari sekolah. Jangan manja, (y/n). Gimana pun caranya, Abang mau kamu kirim foto pil itu dalamsatu jam. Kalau nggak, Abang anggap kamu sengaja mau menjebak Abang.β
Kata-kata βmenjebakβ itu terasa seperti tamparan. Jay yang tadinya memujimu sebagai good girl, kini menatapmu sebagai ancaman bagi reputasi pahlawannya.
β
Kamu berdiri di depan sebuah apotek besar dengan tangan yang gemetar hebat. Kamu sudah mengenakan jaket hoodie untuk menutupi seragam sekolahmu, tapi wajahmu yang masih polos tidak bisa berbohong. Kamu merasa semua orang yang lewat sedang menghakimimu.
Kamu masuk dengan langkah ragu. Bau obat-obatan yang menyengat membuat perutmu makin mual.
βAda yang bisa dibantu, Dek?β tanya apoteker wanita di balik etalase, menatapmu dengan dahi berkerut.
Lidahmu kelu. Kamu teringat ancaman Jay tentang video itu, tentang masa depanmu, dan tentang reputasi Laksamananya. Kamu meremas ujung jaketmu, mencoba mengatur napas yang sesak.
βS-saya... mau beli obat... itu... Postinor,β bisikmu sangat lirih, hampir tidak terdengar.
Apoteker itu terdiam sejenak, tatapannya berubah menjadi tajam dan menyelidik. βMaaf? Obat apa tadi? Kamu sudah menikah? Obat itu harus dengan resep dokter kalau untuk usia kamu.β
Duniamu terasa berputar. Kamu ingin lari, tapi perintah Jay menggema di kepalamu. Di saku jaketmu, ponselmu bergetar lagi-sebuah pesan singkat dari Jay yang hanya berisi: β50 menit lagi.β
Langit Jakarta sudah berubah menjadi ungu gelap, memantulkan cahaya neon dari papan nama rumah sakit militer yang menjulang tinggi di kejauhan. Kamu berdiri di depan sebuah apotek besar yang terasa dingin dan asing. Lokasi ini sengajakamu pilih karena letaknya yang jauh dari zona sekolahmu, namun dekat dengan kompleks pangkalan TNI AL-tempat yang kamu asumsikan sebagai wilayah kekuasaan Jay.
Di dalam apotek, bau antiseptik yang tajam membuat mual di perutmu semakin menjadi-jadi. Kamu berdiri di depan etalase kaca dengan jari-jari yang memucat karena meremas tali tas sekolah.
βMbak... tolong, saya mau beli Postinor. Disuruh... disuruh kakak saya. Dia lagi sakit di rumah, nggak bisa keluar,β suaramu bergetar hebat, nyaris pecah. Kamu mencoba memasang wajah setegar mungkin, tapi keringat dingin yang mengucur di pelipismu mengkhianati segalanya.
Apoteker wanita di depannya menatapmu dengan tatapan yang sangat menghakimi. Ia menurunkan kacamatanya, memindai seragam Putih abu-abu OSIS yang sedikit terlihat di balik jaket hoodie-mu. βKakak kamu? Mana resepnya? Atauminimal tunjukkan KTP dia lewat ponsel. Dek, ini obat keras, nggak bisa sembarangan. Apalagi kalau buat anak sekolah kayak kamu. Mending kamu pulang saja, atau saya panggilkan keamanan kalau kamu tetap memaksa.β
Matamu mulai panas. Rasa putus asa menyergap. Kamu membayangkan pesan Jay yang menuntut foto pil itu, membayangkan video di hotel itu tersebar, dan membayangkan masa depanmu hancur karena benih yang tertanam di rahimmu. Kamu hampir saja berbalik untuk lari sambil menangis jika sebuah tangan yang kokoh tidak tiba-tiba mendarat di bahumu.
βMaaf, Mbak. Ini adik saya. Saya yang menyuruhnya masuk duluan tadi karena saya harus parkir mobil.β
To Be Continued
kalian yang bisa baca sampe part ini keren sih, mental kalian kuat banget
π«Άπ»π΅βπ«




i'm here kak. even di sela-sela kesibukan kerja dan kuliah aku tetap pantau kok postingan "halo dek" ini π
Anjirr anjirr deg degan parahhh woiii