JANGAN LUPA LIKEEEEE YAAAA
Enam bulan setelah hari di mana geng Senja Squad histeris di pojokan kafe, dinamika antara kamu dan Riki sudah berada di frekuensi yang sangat jauh berbeda. Tidak ada lagi drama blokir-memblokir, tidak ada lagi rasa canggung saat bertatapan di koridor kampus, apalagi suara petikan gitar fals gara-gara Riki gemetaran.
Sekarang, pemandangan Riki menunggumu di depan gedung Vokal Utama sambil membawakan tumbler isi teh madu lemon sudah jadi hal yang biasa buat anak-anak Fakultas Seni Musik.
Sore itu, di sebuah kedai pasta kecil berlampu temaram, kalian baru saja menyelesaikan makan malam santai setelah seharian berkutat dengan revisi partitur untuk tugas akhir semester. Di luar kaca kedai, hujan rintik-rintik khas Jakarta mulai turun, membasahi jalanan aspal.
Riki yang duduk di hadapanmu—mengenakan sweater rajut hitam yang lengannya ditarik sampai ke siku—tiba-tiba meletakkan garpunya. Cowok itu menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, menatapmu yang sedang asyik menghabiskan garlic bread.
“Kenapa, Ki? Masih lapar?” tanyamu polos sambil menyodorkan sepotong roti ke arahnya. “Nih, masih ada satu.” Riki tidak mengambil roti itu. Dia malah terkekeh pelan, meraih pergelangan tanganmu, lalu mengusap punggung tanganmu dengan ibu jarinya yang hangat. “Bukan itu.”
Riki merogoh saku celananya, lalu meletakkan sebuah kotak kecil berbalut kain bludru warna abu-abu gelap ke atas taplak meja, tepat di depan piringmu. Jantungmu mendadak mencelus satu ketukan. Matamu membulat kaget menatap kotak itu, lalu beralih menatap wajah Riki.
“R-riki... ini apaan?” tanyamu terbata, pikiranmu mendadak melayang ke hal-hal yang terlalu jauh. “Kamu... kita kan masih kuliah semester empat, masa kamu mau—”
“Bukan cincin lamaran, (Y/N),” potong Riki cepat sambil menahan senyum geli di bibirnya. Dia mengusap belakang lehernya yang sedikit memerah. “Dan kalopun kamu mau sekarang juga buat lamar kamu juga bisa akunya... Tapi ini kotaknya dibuka dulu coba.”
Dengan tangan yang agak gemetaran karena sisa rasa kaget, kamu membuka penutup kotak bludru tersebut. Bukan cincin berlian, melainkan sebuah kartu akses berwarna putih dengan gantungan kunci akrilik berbentuk pick gitar bertuliskan inisial nama kalian berdua: R & Y, plus sebuah anak kunci kuningan kecil di sampingnya.
Kamu mengerjapkan mata, menatap benda itu dengan dahi berkerut bingung. “Kartu akses? Apartemen siapa?”
Riki menegakkan posisi duduknya, mencondongkan badannya sedikit ke arah meja agar jarak kalian lebih dekat. Tatapan matanya yang tajam mendadak berubah menjadi sangat dalam, serius, dan penuh kehati-hatian—tipe tatapan yang selalu dia pasang kalau sedang membicarakan hal paling penting di hidupnya.
“Apartemen kita. Kalau kamu mau,” bisik Riki pelan.
“Maksudnya... living together?” suaramu mengecil, tertelan suara alunan musik jazz di kedai itu.
“Iya,” angguk Riki mantap tanpa ragu. “Unitnya di lantai 12, cuma lima menit jalan kaki ke gerbang belakang kampus kita. Tempatnya tenang, gak bising, ada ruang tengah luas yang muat buat keyboard kamu sama recording setup aku. Aku udah sewa buat setahun ke depan pakai uang tabungan hasil proyek aransemen sama royalti lagu kemarin.”
Kamu mematung di tempatmu, menatap kartu akses itu dengan campur aduk perasaan yang meledak di dada.
“Kenapa mendadak ngajak tinggal bareng, Ki?” bisikmu, menatap matanya untuk mencari alasan di balik tawaran besar ini.
Riki menghela napas panjang, meremas jemarimu di atas meja dengan sangat erat dan lembut. “Bukan mendadak, (Y/N). Aku udah mikirin ini dari dua bulan lalu,” jelas Riki jujur, suaranya terdengar begitu tulus. “Aku capek liat kamu tiap malam harus nunggu ojek online pas pulang latihan vokal. Aku gak tenang kalau kamu sendirian di kosan pas lagi sakit atau pas lagi begadang ngerjain tugas. Dan yang paling penting... aku cuma pengen pas aku bangun pagi, orang pertama yang aku liat itu kamu. Pas aku pulang latihan larut malam, pintu yang aku buka itu menuju ke kamu.”
Dadamu bergetar hebat mendengar pengakuan itu. Garis-garis pertahanan dan keraguan yang dulu pernah ada benar-benar runtuh tak bersisa. Riki yang ada di depanmu saat ini adalah pria yang ingin berbagi seluruh ruang hidupnya denganmu—bukan lagi cowok dingin yang lari saat didekati.
“Tapi... kalau aku berantakan gimana? Kalau masakan aku gak seenak yang kamu bayangin gimana?” tanyamu dengan nada manja yang kini terdengar menggemaskan di telinga Riki.
Riki tertawa renyah, senyumannya begitu lepas sampai matanya menyipit. “Biar aku yang beresin. Biar aku yang masak kalau kamu capek. Kamu cuma perlu bawa diri kamu, baju-baju kamu, sama senyum kamu ke sana.”
Kamu menatap kartu akses itu sekali lagi, lalu meraihnya dan menggenggamnya erat di telapak tanganmu. Senyuman lebar dan anggun merekah di wajahmu.
“Oke,” jawabmu pelan tapi yakin. “Aku mau, Riki.”
Mendengar satu kata persetujuan itu, wajah Riki langsung berbinar luar biasa lega. Dia menarik tanganmu dan mencium punggung tanganmu di depan semua orang di kedai itu, tidak lagi peduli pada rasa malu atau gengsi.
Hari Sabtu berikutnya, lorong lantai 12 Apartemen Grand Melati mendadak berubah menjadi arena sirkus. Pintu unit nomor 1208 terbuka lebar. Di dalam ruang tamu yang berlantai parket kayu dan berdinding putih bersih itu, kardus-kardus cokelat bertuliskan spidol hitam sudah menumpuk di mana-mana. Ada kardus bertuliskan Buku Vokal (Y/N), Baju Riki (Jangan Dibanting), sampai Peralatan Kabel Audio.
Dan tentu saja, di mana ada Riki dan kamu, di situ ada empat pengacau setia yang siap meramaikan suasana.
“WOIIII! ES BATU INI TARUHNYA DI MANA NIH?!” teriak Junghwan dari arah pintu masuk. Badannya yang bongsor lagi memeluk kardus dispenser ukuran besar sambil napasnya ngos-ngosan kayak habis lari maraton keliling stadion. “Gila ya lo berdua, baru juga resmi pindah bareng barangnya udah kayak mau buka toko perabotan rumah tangga!”
“Taruh di pojok dekat kitchen set, Hwan!” sahutmu dari arah ruang tengah sambil sibuk menata bantal-bantal sofa warna krem.
James yang lagi duduk santai di atas karpet sambil merakit meja TV portable langsung menyeletuk sambil membetulkan letak kacamatanya. “Gokil sih. Siapa yang nyangka ya, dari yang dulu di-stalking pakai akun band kampus, sekarang malah punya dapur bareng. Hidup emang penuh plot twist.”
“Gue masih inget banget simulasi selimut abu-abu di kamar kos nomor 204 dulu,” timpal Ryul yang lagi keluar dari kamar tidur utama sambil membawa gantungan baju kosong. “Sekarang beneran serumah. Nih, Riki, lemari baju lo udah gue bagi dua. Sisi kiri buat (Y/N), sisi kanan buat lo. Awas aja kalau kaos item bau apek lo ngejajah gantungan bajunya (Y/N)!”
Ohyul yang lagi ngetes stop kontak di dekat balkon ikut tertawa ngakak. “Udah pasti dijajahlah! Riki kan kalau naruh handuk basah sembarangan di atas kasur!”
“Gue gak bakal naruh handuk di kasur, anjir!” semprot Riki yang baru keluar dari dapur sambil membawa lima gelas es sirup dingin di atas nampan kayu.
Riki meletakkan nampan itu di meja tengah, lalu menyeka keringat di pelipisnya menggunakan punggung tangan. Dia mengenakan kaus oblong abu-abu polos yang sedikit basah karena keringat, memperlihatkan otot lengannya yang terbentuk jelas sehabis menggotong kardus-kardus berat sejak pagi.
“Nih, minum dulu lo semua. Biar gak kebanyakan bacot,” kata Riki judes, tapi ada nada ramah dan terima kasih yang terselip di sana.
“Gitu dong! Ini baru namanya tuan rumah yang berbakti!” Junghwan langsung menyambar satu gelas sirup dan meneguknya sampai tandas dalam tiga detik.
Kamu yang melihat interaksi mereka cuma bisa tertawa geli dari samping sofa. Suasana apartemen baru ini mendadak terasa begitu hangat dan hidup berkat kehadiran teman-teman Riki yang selalu setia mendukung dari balik layar.
James meneguk sirupnya pelan, lalu menatap sekeliling ruangan dengan senyuman puas seorang perancang strategi. Ruang tengah apartemen itu memang sangat nyaman—ada jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah pepohonan hijau kampus di kejauhan, ada sudut khusus tempat dua gitar akustik Riki bersanding manis dengan keyboard portabel milikmu, dan ada aroma lilin aromaterapi vanila yang mulai dinyalakan di atas meja sudut.
“Tempatnya bagus, Ki,” puji James tulus, menepuk bahu Riki. “Pilihan yang bener. Jauh dari hiruk-pikuk jalan raya, tapi deket kalau mau ke studio kampus.”
“Iya,” balas Riki pelan sambil melirik ke arahmu yang sedang tertawa mendengar lelucon Junghwan. “Biar dia nyaman di sini.”
Ryul menyenggol lengan Ohyul sambil geleng-geleng kepala. “Tuh kan, Bucin tingkat dewa. Udah gak tertolong lagi sobat kita satu ini... Pesan dari gue, Rik... jangan lupa pakai pengaman.” Ryul mendekat ke sisi kanan Riki membisikkan hal yang nggak terduga membuat telinganya merah sampai leher dan langsung menoyor kepala Ryul yang malah dibalas ketawa terpingkal-pingkal.
🎸
Menjelang jam delapan malam, keempat sahabat Riki akhirnya pamit pulang setelah menghabiskan dua kotak pizza ukuran jumbo yang kamu pesankan sebagai tanda terima kasih. Suara tawa dan obrolan bising yang seharian memenuhi lorong apartemen perlahan memudar, meninggalkan keheningan yang damai di dalam unit 1208.
Semua barang sudah tertata rapi di tempatnya masing-masing.
Kamu baru saja selesai mandi, mengenakan piyama katun berlengan panjang warna biru pastel yang lembut. Rambutmu yang masih agak lembap kamu biarkan terurai bebas di bahu. Kamu melangkah menuju pintu geser kaca yang mengarah ke balkon apartemen.
Di luar sana, angin malam berhembus sejuk membelai kulit. Pemandangan lampu-lampu kota Jakarta di kejauhan berkelap-kelip indah seperti hamparan bintang di atas tanah.
Riki sudah berdiri di sana lebih dulu, bersandar pada pagar pembatas balkon sambil memegang dua cangkir hot chocolate yang mengepulkan uap manis. Dia sudah berganti pakaian memakai celana tidur abu-abu panjang dan kaus putih tipis.
Mendengar suara pintu kaca bergeser, Riki menoleh. Senyuman lembut langsung terbit di wajahnya yang tenang.
“Sini,” panggil Riki pelan, mengulurkan salah satu cangkir cokelat hangat padamu.
Kamu melangkah mendekat, mengambil cangkir itu dan menyesapnya sedikit. “Manisnya pas. Makasih, Ki.”
Riki tidak menjawab dengan kata-kata. Dia meletakkan cangkirnya sendiri di atas meja kecil di sudut balkon, lalu melangkah ke belakang tubuhmu. Dengan gerakan yang sangat alami dan tenang, kedua lengan tegap Riki melingkari pinggangmu dari belakang, menarik tubuhmu merapat ke dalam dekapannya yang hangat.
Riki menyandarkan dagunya di puncak kepalamu, menghirup aroma sampo melati dari rambutmu yang masih segar.
Dadamu berdesir hangat. Dekapan Riki di balkon malam ini terasa begitu kokoh, aman, dan menenangkan. Kamu menyandarkan seluruh berat tubuhmu ke dada bidangnya, membiarkan detak jantungnya yang berirama konstan menjadi musik latar malam kalian.
“Capek ya hari ini?” bisik Riki lembut tepat di samping telingamu. Hembusan napas hangatnya menggelitik kulit lehermu.
“Sedikit,” jawabmu jujur sambil memegang kedua lengan Riki yang melingkar di perutmu. “Tapi aku seneng banget. Tempat ini... beneran terasa kayak rumah, Ki.”
Riki mengencangkan pelukannya sedikit, membenamkan wajahnya di lekukan lehermu sebentar sebelum kembali menatap pemandangan lampu kota di depan kalian.
“Mulai malam ini,” bisik Riki dengan suara rendahnya yang penuh perasaan, “kamu gak perlu lagi takut kedinginan sendirian. Gak perlu lagi ngerasa kesepian pas lagi capek. Karena setiap kali kamu noleh ke samping... aku bakal selalu ada di sana, (Y/N).”
Kamu memutar kepalamu sedikit ke atas, menatap garis rahang dan mata hitam Riki yang menatapmu dengan binar cinta yang begitu pekat dan tak berujung.
Kamu tersenyum sangat manis, lalu mengecup rahangnya pelan. “Iya, Riki. Kita jalanin ini bareng-bareng ya?”
Riki menundukkan kepalanya, mengikis sisa jarak di antara kalian di bawah terpaan angin malam balkon lantai 12. Dia mengecup bibirmu dengan sangat lembut, hangat, dan lama—sebuah ciuman manis yang meresmikan awal dari kehidupan baru kalian berdua di bawah satu atap yang sama.
Lagu cinta yang dulu dimulai dengan nada-nada sumbang, tempo yang kacau, dan penolakan yang dingin, kini telah menemukan irama terindahnya. Dan di unit kecil di atas langit kota ini, Nishimura Riki dan kamu siap memainkan setiap bait masa depan kalian dalam harmoni yang paling sempurna.
enak enak abis ini... mau ga?
beneran kalo banyak yg minat malam ini drafnya aku upload





first, lanjut cepet kak mau begadang ni
minatt bgt mici ayo up malem ini