klo nemu raw word correct me ya
Kamu jatuh terduduk di balik pintu apartemenmu yang kokoh, menghela napas panjang yang terasa menyayat dada. Tubuhmu gemetar hebat, bukan hanya karena kelelahan fisik setelah digempur tanpa ampun oleh Jake dan Sunoo di studio seni tadi, tapi juga karena beban mental yang semakin menghimpit. Ruangan apartemen yang biasanya terasa seperti tempat perlindungan paling aman, kini terasa seperti kotak kaca yang diawasi oleh ribuan mata.
Ponselmu bergetar di telapak tangan yang masih memiliki bekas lebam keunguan. Kamu menatap layarnya dengan pandangan kabur. Ada sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal, namun gaya bahasanya langsung membuat jantungmu mencelos.
“Gue tahu lo lagi nggak enak badan. Yujin bilang lo cuti sakit hari ini. Gue di depan gedung apartemen lo sekarang, mau mastiin lo nggak mati sendirian di dalem. Buka pintunya, (Y/N). Gue cuma mau ngerawat lo.”
— Sunghoon.
Ternyata Sunghoon tidak main-main. Pria dingin itu pasti sudah mendesak Yujin habis-habisan sampai temannya itu membocorkan alamat dan nomor teleponmu. Ada nada posesif yang dibungkus dengan perhatian kasar dalam pesannya. Kamu bisa membayangkan wajah datarnya yang kaku sedang berdiri di lobi, menunggu lift dengan aura yang membuat orang di sekitarnya merinding.
Belum sempat kamu memproses pesan Sunghoon, sebuah notifikasi lain muncul. Kali ini dari Heeseung.
“Jangan lupa minum obat pereda nyeri yang aku selipkan di kantong kecil tas kamu. Dosisnya sudah aku atur supaya kamu bisa tidur nyenyak. Aku senang kamu sudah sampai rumah dengan selamat. Istirahatlah, kita bicara soal ‘proyeksi’ itu lagi besok.”
Heeseung ternyata jauh lebih teliti dari yang kamu kira. Tanpa kamu sadari, saat dia merawatmu setelah pingsan di penthouse-nya subuh tadi, dia sudah menyiapkan “amunisi” agar kamu tetap bergantung padanya. Heeseung tidak tahu soal drama panasmu dengan Jake dan Sunoo di studio seni, yang dia pedulikan hanyalah memastikan bahwa “objek” yang baru saja dia klaim tetap dalam kondisi baik untuk pertemuan berikutnya.
Kamu merogoh tasmu dengan jari gemetar dan menemukan kepingan obat di sana. Pikirannya kacau. Kamu galau berat. Haruskah kamu membalas Sunghoon dan membiarkannya masuk? Jika dia masuk dan melihat lehermu yang penuh tanda dari 4 pria berbeda, apartemen ini akan berubah jadi medan pembantaian. Tapi jika kamu mengabaikannya, Sunghoon bukan tipe pria yang akan menyerah begitu saja.
Tepat saat kamu sedang berperang dengan batinmu, layar ponselmu mendadak berubah menjadi hitam pekat dengan logo OBSESSION yang berkedip merah darah. Suara detak jantung yang ritmik keluar dari speaker ponselmu, semakin lama semakin cepat.
Suara bel apartemen yang tadinya menuntut itu akhirnya berhenti. Kamu menarik napas lega saat jemarimu yang gemetar mengetik balasan singkat untuk Sunghoon.
To: Sunghoon
“Gue udah minum obat dari dokter dan mau langsung tidur. Tolong jangan ganggu dulu, gue bener-bener butuh istirahat. Makasih udah dateng.”
Kamu nggak peduli apa reaksinya—entah dia bakal nendang pintumu atau pergi dengan wajah kaku—karena prioritasmu sekarang cuma satu: bertahan hidup. Setelah mandi air hangat yang sangat lama untuk melunturkan sisa cat dari Sunoo, cairan sperma Jake dan aroma Heeseung, kamu menelan obat pereda nyeri pemberian Heeseung dan langsung menenggelamkan diri di balik selimut tebal. Tubuhmu rasanya hancur, setiap sendimu berdenyut, dan akhirnya kamu jatuh ke dalam tidur yang sangat dalam, seolah duniamu sedang restart.
[SYSTEM UPDATE: THE RECOVERY PHASE]
Current Progress: 5/7 Targets Re-Claimed.
Current Day: Selasa Malam (Post-Triple Encounter).
Rest Period: Rabu, Kamis, Jumat.
Stamina Recharge: 5% → 85% (Predicted by Friday).
Tanpa kamu sadari, saat kamu terlelap, “perang dingin” di luar sana makin memanas. Jay yang kesetanan mencarimu akhirnya berhasil mendapatkan nomor teleponmu dari Heeseung. Karena Jay tahu dari CCTV Clubnya, Heeseung yang membawamu pergi. Heeseung nggak memberikannya secara cuma-cuma, dia memberikan nomor itu dengan ancaman dingin bahwa jika Jay sampai merusak miliknya lebih parah lagi, Heeseung nggak akan segan menghancurkan relasi bisnis mereka. Jay nggak peduli—dia cuma mau memastikan kamu benar-benar nyata dan bukan sekadar mimpi mabuknya.
[SYSTEM UPDATE: THE FINAL WEEKEND]
Saturday Event: International High School Festival — The Grand Finale.
Special Guest Star: Nishimura Riki (NI-KI).
Host / Organizer: Yang Jungwon (President of Student Council).
[MISSION BRIEF]
Jungwon dan Riki tidak saling mengenal secara pribadi, namun keduanya memiliki satu kesamaan: Obsesi yang Tak Terucapkan. Masing-masing dari mereka menyimpan rahasia tentang ‘wanita impian’ yang menghantui malam-malam mereka. Mereka berdua sedang dalam misi pribadi untuk mencarimu di kerumunan festival malam ini.
[WARNING]
Siklus 7 target harus tuntas sebelum matahari terbit di hari Minggu. Jika Jungwon si ‘Ketua OSIS Teladan’ dan Riki si ‘Idol Jenius’ menemukanmu di waktu yang sama... pastikan kamu punya sisa tenaga untuk tidak tumbang di tempat.
Kamu menatap pantulan dirimu di cermin. Kulitmu sudah kembali mulus, memar-memar dari Heeseung dan Jake sudah hampir hilang total berkat pijatan spa tadi pagi. Tapi jantungmu berdegup kencang. Kamu tahu festival sekolah ini bakal jadi lautan manusia, tempat yang sempurna untuk bersembunyi—sekaligus tempat yang paling berbahaya untuk terjebak.
Jungwon, si pemilik senyum kucing yang manis itu, pasti sedang sibuk mengurus operasional festival sebagai Ketua OSIS. Dia terlihat sangat berwibawa dan bersih di depan guru-guru, tapi kamu tahu gimana liarnya dia saat “perjakanya” kamu ambil dalam simulasi itu. Dia haus akan pembuktian diri.
Sedangkan Riki... dia bakal ada di atas panggung, menjadi pusat perhatian ribuan orang. Sebagai idol yang punya bakat tanpa cela, dia terbiasa mendapatkan apa pun yang dia mau. Dan saat ini, yang dia mau cuma satu: menemukan sosok yang bikin dia merasa “hidup” lebih dari sekadar tepuk tangan penggemar.
><
Malam Sabtu tiba. Kamu melangkah masuk ke area sekolah yang sudah disulap menjadi area festival yang megah dengan lampu-lampu neon dan panggung raksasa. Musik berdentum keras, dan bau makanan festival memenuhi udara.
Kamu memakai pakaian yang cukup kasual tapi tetap menonjol—pilihan yang pas agar tidak terlalu mencolok dari kejauhan, tapi sangat mematikan saat dilihat dari dekat.
Saat kamu berjalan melewati tenda-tenda organisasi, matamu menangkap sosok dengan armband Ketua OSIS di lengannya. Jungwon. Dia sedang memberikan instruksi pada bawahannya dengan wajah serius yang sangat tampan. Namun, saat dia menoleh secara tidak sengaja ke arah kerumunan, matanya berhenti tepat di sosokmu.
Seketika, aura “teladan”-nya retak. Pupil matanya melebar, dan senyum tipis yang sangat licik muncul di wajahnya. Dia membisikkan sesuatu pada temannya, lalu mulai berjalan menembus kerumunan ke arahmu.
Di saat yang sama, teriakan histeris pecah dari arah panggung utama. Riki baru saja turun dari mobil van hitamnya, bersiap untuk soundcheck terakhir sebelum tampil. Dia memakai masker hitam, tapi matanya yang tajam seperti elang terus menyapu area festival seolah sedang mencari sesuatu yang hilang.
Langkahmu terhenti saat menyadari kamu berada tepat di tengah-tengah jalur mereka berdua.
Suasana di area backstage yang remang-remang itu mendadak jadi sesak, seolah oksigen di sekitarmu tersedot habis oleh kehadiran dua predator muda ini. Kamu berdiri mematung di antara rak-rak peralatan panggung, sementara Jungwon di sebelah kananmu dan Riki di sebelah kirimu seolah sedang mengunci jalur pelarianmu.
Seketika, memory fog yang selama ini menyelimuti otak mereka pecah berantakan.
Jungwon tertegun, bayangan tentang bagaimana dia kehilangan kendali dan perjakanya di tangan wanita misterius yang sangat dominan kembali menghantam sarafnya. Sementara Riki, matanya yang tajam berkilat teringat sesi latihan “privat” di studio VIP-nya, di mana seorang fans fanatik gila (kamu) memberikan servis yang jauh melampaui batas kewajaran seorang penggemar.
“Gue kira waktu itu gue cuma halusinasi doang, ternyata beneran ya?” Jungwon melangkah mendekat, aura Ketua OSIS-nya yang rapi menguap, digantikan oleh tatapan haus akan kepemilikan.
Riki tidak mau kalah. Dia melepas masker hitamnya, membuangnya ke lantai seolah benda itu mengganggu pemandangannya. Dia menatapmu dari atas ke bawah, intens dan lapar, memastikan bahwa lekuk tubuh di depannya adalah nyata.
“Lo... fan fanatik malam itu, kan?” suara Riki rendah, serak, khas cowok yang baru bangun tidur tapi penuh ancaman.
Jungwon langsung menoleh ke arah Riki, alisnya bertaut tajam. “Fan fanatik? Maksud lo apa?”
Suasana jadi canggung sekaligus eksplosif. Mereka berdua nggak saling kenal, tapi insting mereka langsung tahu kalau ada “pria lain” yang sudah lebih dulu mencicipi apa yang mereka anggap sebagai milik mereka.
Kamu menarik napas panjang, membasahi bibirmu yang kering—tindakan refleks yang justru membuat jakun kedua pria itu bergerak naik-turun. Kamu memutuskan untuk bermain api, menggunakan kalimat provokatif yang sudah kamu siapkan untuk bernegosiasi dengan ego mereka.
“Kenalin, nama gue (Y/N). Dan gue bukan cuma sekadar halusinasi atau fan fanatik,” ucapmu dengan nada anggun namun menantang. “Gue adalah alasan kenapa kalian berdua nggak bisa tidur nyenyak seminggu ini, kan?”
Kamu melirik Jungwon, lalu beralih ke Riki. “Jungwon, makasih ya buat ‘malam pertama’ yang berkesan itu. Dan Riki... servis lo di studio VIP emang nggak ada tandingannya.”
BOOM.
Pengakuanmu seperti bom yang meledak di antara mereka. Jungwon menatap Riki dengan pandangan menghina, sementara Riki mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras.
“Jadi, lo juga main sama bocah sekolah ini?” Riki mendesis, matanya menatapmu dengan kilatan cemburu yang murni.
“Bocah sekolah?” Jungwon terkekeh sinis, melangkah maju hingga dadanya hampir bersentuhan denganmu, seolah mau menandai wilayah. “Gue yang pertama kali bikin dia teriak, bukan lo, Idol.”
Kamu menarik kerah baju Jungwon dan Riki secara bersamaan, memaksa mereka masuk ke sebuah ruang ganti sempit di area backstage yang hanya berisi gantungan kostum dan cermin besar. Suasana mendadak pengap. Jungwon yang biasanya rapi kini terlihat berantakan, sementara Riki menatapmu dengan napas yang memburu, tertantang oleh keberanianmu.
“Santai... gue nggak bakal gigit sekarang,” bisikmu sambil melepaskan cengkeramanmu, memberikan senyum misterius yang membuat mereka berdua semakin haus akan kejelasan.
Kamu bersandar di meja rias, menatap Riki yang tampak tidak sabar. “Riki, lo ada performance bentar lagi, kan? Gue punya penawaran menarik. Tampil segila mungkin malam ini. Kalau lo bisa bikin gue puas dan nggak bisa napas cuma dengan liat lo di panggung, gue bakal ikut lo.”
Lalu kamu beralih menatap Jungwon yang rahangnya mengeras. “Tapi kalau penampilan dia biasa aja... gue bakal balik sama lo, Pak Ketua OSIS. Gimana?”
Riki menyeringai tipis, matanya berkilat penuh ambisi. “Lo nantang gue di bidang gue sendiri? Oke. Liat aja nanti, (Y/N). Gue bakal bikin lo lupa cara nyebut nama cowok lain malam ini.”
Jungwon tertawa sinis, dia melangkah mendekat dan berbisik tepat di telingamu, “Gue bakal tunggu lo di parkiran belakang setelah acara selesai. Jangan telat, atau gue sendiri yang bakal seret lo dari depan panggung.” Jungwon mengambil kesempatan dengan mengecup pipimu sedikit lama, begitupun Riki yang menarikmu mendekat menghisap bibirmu sedikit kencang seolah menghisap energi dari bibirmu yang manis sebelum mereka berdua meninggalkanmu di dalam.
><
Malam itu, Riki benar-benar tampil seperti kesurupan. Dia menari dengan energi yang luar biasa, setiap gerakannya tajam, provokatif, dan seolah-olah ditujukan hanya untukmu yang berdiri di barisan VVIP atas pengaturan Jungwon. Jungwon sendiri tidak bisa melepaskan pandangannya darimu dari sudut panggung, memastikan tidak ada pria lain yang berani menyentuhmu.
Begitu festival berakhir dan kembang api meledak di langit, adrenalin mereka berdua sudah mencapai titik puncak. Jungwon dan Riki bertemu di parkiran belakang, tepat di depan mobil SUV mewah milik Riki yang sudah disiapkan.
“Gimana, (Y/N)? Puas?” Riki datang dengan keringat yang masih membasahi kausnya, napasnya memburu.
“Cukup adil,” jawabmu sambil melirik Jungwon yang sudah memegang kunci mobil. “Tapi gue berubah pikiran. Kenapa harus milih kalau gue bisa dapet keduanya sekaligus?”
Kamu memberikan syarat terakhir: “Kita nggak main di sekolah. Bawa gue ke tempat yang nggak ada orang bisa denger teriakan gue.”
><
Tanpa banyak bicara, kalian bertiga meluncur menuju sebuah penthouse pribadi milik agensi Riki yang berada di puncak gedung pencakar langit. Begitu pintu tertutup dan terkunci otomatis, suasana berubah 180 derajat. Tidak ada lagi basa-basi festival.
Jungwon langsung mendorongmu ke tembok, sementara Riki mulai melepas kausnya yang lembap.
[MISSION STATUS: THE FINAL ENCOUNTER]
Jungwon & Riki — STATUS: UNLEASHED.
Warning: Mereka tidak mengenal kata lelah. Gabungan antara tenaga atletis Jungwon dan kelenturan Riki akan membuat sistemmu overload.
“Lo yang minta ini, (Y/N),” gumam Jungwon sambil mencium lehermu dengan kasar, menandai wilayahnya kembali. “Jangan nyesel kalau besok pagi lo nggak bisa jalan.”
Suasana di penthouse itu mendadak jadi medan perang ego yang sangat panas. Jungwon, yang pada malam pertamanya denganmu dulu bersikap submissive dan pasrah karena status perjakanya, kini benar-benar bertransformasi. Kehadiran Riki di sana—seorang idol yang hanya beda satu tahun dengannya namun punya aura dominan yang kuat—memicu adrenalin maskulin Jungwon untuk meledak. Dia nggak mau kelihatan “kecil” di depan Riki.
Jungwon langsung mengambil kendali bagian atas tubuhmu. Dia menyentakkan tanganmu ke atas kepala, menguncinya dengan satu tangan yang sangat kuat hingga kamu tidak bisa berkutik. Tanpa aba-aba, dia menciummu secara brutal. Bukan ciuman lembut, tapi pagutan lapar yang seolah ingin menghisap seluruh oksigenmu, memaksamu untuk tunduk sepenuhnya di bawah kuasanya.
“Jangan pikir gue masih bocah yang sama kayak malam itu, (Y/N),” bisik Jungwon di sela-sela ciumannya, suaranya serak dan penuh ancaman.
Sementara itu, Riki tidak membiarkan satu inci pun bagian bawah tubuhmu menganggur. Dia memelukmu dari samping secara posesif, menyandarkan dagunya di bahumu sementara tangannya yang lentur dan lihai mulai “menjajah” area intimmu. Jari-jari Riki yang biasa menari dengan presisi di panggung kini menari di atas klitoris dan lubangmu yang masih tertutup celana dalam tipis.
Kain tipis itu mulai basah kuyup karena cairanmu sendiri yang merembes. Riki tersenyum miring saat merasakan betapa panas dan berdenyutnya dirimu di bawah jemarinya.
“Baru diginiin aja udah banjir? Padahal gue belum mulai mainin yang beneran,” gumam Riki dengan nada mengejek yang seksi.
Jungwon, yang merasa “wilayahnya” diusik, semakin menggila. Tangannya yang satu lagi merayap turun ke balik kemejamu, meremas payudaramu dengan kasar namun penuh gairah. Dia memelintir putingmu hingga kamu melengkungkan tubuh, mendesah keras di dalam mulut Jungwon yang masih mengunci bibirmu.
Kamu terjepit di antara dua tenaga muda yang sangat agresif. Jungwon yang mendominasi napas dan dadamu, serta Riki yang memainkan saraf sensitifmu di bawah sana dengan ritme yang bikin otakmu nyaris blank.
[SYSTEM NOTIFICATION: PEAK SYNERGY]
Jungwon & Riki are competing for your first scream.
Sensory Overload: 88% and rising.
Riki tiba-tiba menarik celana dalammu ke samping dengan satu jari, mengekspos intimmu yang sudah sangat basah dan merah, lalu mulai memasukkan satu jarinya dengan sentakan yang dalam.
“Jungwon, liat... dia lebih suka jari gue apa ciuman lo?” Riki memprovokasi Jungwon sambil terus memacu jarinya di dalammu.
Jungwon melepaskan ciumannya sebentar, napasnya memburu dan matanya menatapmu dengan gelap. “Kita liat siapa yang bikin dia pingsan duluan malam ini.”
Kamar tidur utama di penthouse itu seketika berubah menjadi arena pemujaan yang gelap. Riki menarikmu ke atas kasur king size dengan satu sentakan kuat, sementara Jungwon dengan gerakan yang efisien dan mendominasi, melucuti setiap helai kain yang tersisa di tubuhmu. Begfitu kamu bugil sepenuhnya, tatapan matamu yang sayu karena kelelahan bercampur gairah justru menjadi bahan bakar yang membakar kewarasan mereka.
Kedua pria muda itu berdiri di sisi tempat tidur, melepas pakaian mereka sendiri dengan terburu-buru. Otot-otot perut Riki yang keras dan bahu lebar Jungwon yang kokoh terpampang jelas di bawah lampu temaram. Mereka terlihat sangat lapar, seolah tiga hari masa tenangmu adalah siksaan bagi mereka.
Riki menarikmu hingga kepalamu berada di pinggir kasur dalam posisi menghadap ke bawah, membuat leher dan dadamu terekspos sempurna. Sementara itu, Jungwon naik ke atas kasur, merangkak di antara kakimu yang dipaksa membuka lebar.
Riki berlutut di lantai, tepat di depan wajahmu. Sebelum memberikan miliknya, dia meremas payudaramu dengan kasar, meninggalkan bekas kemerahan yang kontras dengan kulit putihmu. Kamu meremas pangkal penisnya yang sudah berdenyut tegang sebelum akhirnya menuntun benda panas itu masuk sepenuhnya ke dalam rongga mulutmu.
Riki mengerang rendah, tangannya menjambak rambutmu agar kamu menyedot miliknya lebih dalam. Dia sangat menyukai bagaimana lidahmu bermain dengan lihai, menciptakan kevakuman yang membuat seluruh sarafnya menegang.
“Pinter banget... terus kayak gitu, (Y/N),” gumam Riki dengan suara serak yang parau.
Di sisi lain, Jungwon tidak langsung melakukan penetrasi. Dia punya rencana yang lebih menyiksa. Dia menunduk, membenamkan wajahnya di antara pangkal pahamu. Lidah Jungwon yang panas dan lincah mulai menjilat intimu yang sudah banjir cairan. Kamu refleks mencoba merapatkan paha karena sensasi setruman yang terlalu kuat, mencoba mengunci pergerakan Jungwon, tapi dia jauh lebih kuat.
Jungwon menahan kedua lututmu agar tetap mengangkang lebar. Dia memainkan klitorismu dengan ujung lidahnya, memberikan tekanan yang presisi di titik paling sensitifmu. Kamu hanya bisa mengeluarkan suara erangan yang teredam oleh milik Riki di mulutmu. Tubuhmu melengkung hebat, jari-jari kakimu meringkuk karena serangan ganda ini benar-benar membuat otakmu overload.
[SYSTEM NOTIFICATION: THE YOUTH HARMONY]
Riki’s pleasure level: 92%
Jungwon’s domination level: 95%
Objective Status: Hampir mencapai klimaks pertama dari siklus terakhir.
Jungwon mendongak sebentar, matanya yang berkilat gelap menatap Riki yang sedang memejamkan mata menikmati servis mulutmu. “Riki, tahan dulu. Gue mau liat dia hancur pas gue masukin sekarang.”
Jungwon memegang miliknya yang sudah sangat keras, mengarahkannya ke lubangmu yang sudah basah kuyup karena jilatannya tadi.
Suasana di kamar penthouse itu mendadak jadi sangat pengap dan intens. Jungwon, yang sedari tadi menahan diri dengan hanya bermain lidah, akhirnya tidak tahan lagi melihat betapa basah dan berdenyutnya dirimu di bawahnya.
Dengan satu pegangan kuat pada pinggulmu—meninggalkan bekas kemerahan dari jemarinya—dia mengangkat sedikit panggulmu dan menghujamkan miliknya masuk dalam satu sentakan dalam yang telak.
“ Nggghhh—! “
Kamu tersentak hebat. Matamu membelalak lebar, air mata nikmat merembes di sudut mata karena rasa penuh yang luar biasa menghantam rahimmu. Kamu ingin berteriak, memanggil nama Jungwon atau sekadar memohon ampun, tapi suaramu tertelan bulat-bulat oleh milik Riki yang masih memenuhi rongga mulutmu hingga ke pangkal.
Riki, yang berada tepat di depan wajahmu, merasakan guncangan tubuhmu yang hebat akibat penetrasi Jungwon. Dia terkekeh rendah, suara tawanya terdengar sangat seksi sekaligus mendominasi. Dia menjambak rambutmu sedikit lebih kencang, memaksamu untuk tetap fokus pada miliknya sementara Jungwon mulai memacu ritmenya dari bawah.
“Liat lo sekarang, (Y/N)... napas aja susah, kan?” bisik Riki sambil menatap wajahmu yang memerah dan berkeringat. “Dikuasai dua orang sekaligus... ini yang lo mau dari ‘eksperimen’ gila lo itu?”
Jungwon di bawah sana benar-benar menggila. Dia tidak lagi menunjukkan sisi “anak baik” atau Ketua OSIS teladan. Setiap tumbukannya kasar dan bertenaga, membuat tubuhmu bergoyang hebat di atas kasur. Suara kulit yang beradu dan suara basah penyatuan kalian memenuhi ruangan, menciptakan harmoni erotis yang mematikan.
“Riki, jangan kasih dia napas,” geram Jungwon dengan napas memburu, pinggulnya terus bekerja tanpa henti menghancurkan pertahananmu.
Kamu benar-benar berada di titik nadir. Oksigenmu terbatas, tubuhmu digempur habis-habisan, dan sarafmu menjerit karena stimulasi ganda yang terlalu ekstrem. Kamu merasa rahimmu mulai menjepit milik Jungwon dengan kuat—tanda bahwa orgasme dahsyat akan segera meledak.
[SYSTEM WARNING: CRITICAL OVERLOAD]
Target 6/7 & 7/7 (Jungwon & Riki) reach 99% Satisfaction.
User’s Consciousness: Fading.
Final Sequence Initialized.
Riki merasakan hisapan mulutmu semakin menguat karena kontraksi orgasme, sementara Jungwon mengerang keras saat merasakan lubangmu menjepitnya seolah tidak mau melepaskannya.
Kamar penthouse itu mendadak sunyi, hanya diisi oleh suara napas yang menderu dan detak jantung yang berpacu hebat. Jungwon mengerang rendah, rahangnya mengeras saat dia merasakan jepitan rahimmu yang menggila, melepaskan seluruh muatan panasnya jauh ke dalam dirimu hingga terasa meluap. Di saat yang bersamaan, Riki menyentak kepalamu, memaksamu menelan habis seluruh pelepasannya yang kental dan panas tepat saat orgasme menghancurkan sisa kesadaranmu.
Kamu terkulai lemas, tubuhmu bergetar hebat di atas kasur king size itu. Keringat, cat yang memudar, dan cairan mereka menyatu di kulitmu. Kamu mengira ini adalah akhir dari siklus tujuh target, namun kamu salah besar.
Riki menyeka bibirnya, matanya berkilat menatap Jungwon. Sebuah ide gila muncul di benaknya—sebuah obsesi untuk benar-benar menguasaimu secara total tanpa berbagi ruang sedetik pun.
“Won, satu-satu kayaknya kurang adil buat dia,” bisik Riki dengan senyum miring yang mematikan. “Gimana kalau kita masuk... barengan?”
Jungwon tertegun sejenak, namun adrenalinnya yang sedang di puncak langsung menyetujui kegilaan itu.
“Boleh tuh, gue pengen ngerasain masuk di satu lubang yang sama.” Mereka tidak memberimu waktu untuk memulihkan napas.
Riki memposisikan dirinya berbaring di bawah, sementara kamu ditarik untuk berada di atasnya. Kamu dipaksa untuk perlahan menduduki milik Riki yang sudah kembali menegang sempurna. Kamu bertumpu pada pundak Riki yang kokoh, membuat payudaramu menggantung indah tepat di depan matanya.
Riki tidak menyia-nyiakan pemandangan itu, dia meraup salah satu payudaramu, menghisap putingmu dengan rakus seolah itu adalah hidangan penutup yang paling ia tunggu.
“ Akhh! R-Riki... sesek...” rintihmu saat merasakan milik Riki memenuhi dirimu dari bawah.
Tapi siksaan nikmat itu baru dimulai. Jungwon tidak membiarkan ada celah tersisa. Dia memaksamu untuk menunduk, membuat posisimu menungging di atas Riki, memberikan ruang dan akses penuh bagi Jungwon untuk merangsek masuk dari atas.
Jungwon memegang miliknya yang sudah berdenyut, mengarahkannya ke lubangmu yang sudah direnggangkan maksimal oleh milik Riki. Dengan bantuan cairan yang sudah melimpah, Jungwon mulai menekan masuk.
Plakk!
Suara kulit yang beradu saat Jungwon mulai memaksa miliknya masuk ke samping milik Riki dalam satu lubang yang sama. Kamu menjerit tanpa suara, matamu mendelik ke atas saat merasakan dinding vaginamu dipaksa melebar melampaui batas kemampuannya. Dua penis besar kini bersaing memperebutkan ruang di dalam dirimu.
“Gila... sempit banget, (Y/N)! Tahan... lo pasti bisa nerima kita berdua,” geram Jungwon sambil terus menekan masuk hingga pangkal.
[SYSTEM CRITICAL: ABSOLUTE CAPACITY]
Target 6 & 7 Unified Attack.
Physical Status: Stretched to the Limit.
Warning: Siklus 7 target mencapai tahap final yang tidak bisa dibatalkan.
Riki yang berada di bawahmu mulai menghentakkan pinggulnya ke atas, sementara Jungwon dari atas menekanmu ke bawah. Kamu benar-benar terjepit di antara dua kekuatan yang menghancurkan. Setiap inci di dalam dirimu terasa penuh sesak, panas, dan berdenyut hebat.
Air matamu tumpah, mengalir melewati pelipis dan membasahi seprai sutra di bawah kepala Riki. Suara isak tangismu yang pecah bukan lagi tanda penolakan, melainkan perpaduan antara rasa sakit yang luar biasa karena dinding rahimmu dipaksa meregang maksimal dan kenikmatan yang terlalu intens hingga sarafmu nyaris putus.
“S-sakit... Jungwon... Riki... s-stop— ngghhh!”
Bukannya berhenti, tangisansmu justru menjadi melodi paling menggairahkan bagi dua singa muda ini. Bagi Jungwon, isak tangismu adalah bukti bahwa dia berhasil menaklukkanmu lebih dari siapa pun. Dan bagi Riki, air mata itu adalah dekorasi tercantik yang pernah dia lihat di wajah “objek” favoritnya.
“Nangis terus, (Y/N). Suara lo bikin gue makin pengen ngerusak lo,” bisik Riki serak, dia menarik tengkukmu ke bawah agar dia bisa menghisap bibir bawahmu yang gemetar, meredam teriakanmu saat Jungwon di atas mulai memacu ritme yang brutal.
Jungwon tidak memberikan ampun sedikit pun. Dia mencengkeram pinggangmu hingga jemarinya memutih, menghujamkan miliknya masuk bergesekan dengan milik Riki di dalam satu lubang yang sama.
Setiap tumbukan mereka terasa seperti serangan yang menghancurkan logika. Kamu merasa seolah tubuhmu akan terbelah menjadi dua, namun setiap kali mereka menghujam, rahimmu justru memberikan kedutan orgasme yang menyakitkan namun sangat adiktif.
“Liat ke bawah, (Y/N)! Liat gimana kita berdua ngisi lo sampe nggak ada celah lagi!” perintah Jungwon dengan napas memburu.
Kamu dipaksa melihat ke bawah, melihat bagaimana dua kejantanan besar itu keluar-masuk secara bersamaan di dalam dirimu yang sudah memerah dan bengkak. Pemandangan itu, ditambah dengan stimulasi ganda yang tidak masuk akal, membuat mentalmu benar-benar breakdown. Kamu menyerah sepenuhnya. Kamu berhenti melawan, membiarkan tubuhmu menjadi boneka pemuas bagi dua predator paling berbahaya di siklus ini.
[SYSTEM FINAL NOTIFICATION: THE SEVENTH SEAL]
Current Status: ABSOLUTE SUBMISSION.
Jungwon & Riki’s Satisfaction: 100% (Maximum reached).
Cycle 7/7: COMPLETED.
Tepat saat fajar mulai mengintip dari balik tirai penthouse, Jungwon dan Riki mencapai batas mereka. Jungwon mengerang liar, membenamkan wajahnya di ceruk lehermu saat dia melepaskan seluruh muatan panasnya yang sangat banyak jauh di dalam rahimmu. Di saat yang bersamaan, Riki yang berada di bawahmu menyentak pinggulnya ke atas untuk terakhir kalinya, menumpahkan segalanya hingga kamu merasa perut bagian bawahmu sangat hangat dan penuh sesak.
Tubuhmu kaku, orgasme yang datang kali ini begitu dahsyat hingga pandanganmu memutih dan tubuhmu bergetar saat itu juga. Kamu kehilangan kesadaran dalam posisi yang paling memalukan sekaligus paling penuh—terjepit di antara dua pria muda yang kini memelukmu erat, seolah tak akan pernah membiarkanmu kembali ke duniamu lagi.
Beberapa jam kemudian, ponselmu di nakas menyala untuk terakhir kalinya sebelum layarnya menghitam permanen:
“Selamat, (Y/N). Kamu telah menyelesaikan siklus OBSESSION. Ketujuh pria itu kini memiliki koordinatmu, aromamu, dan jejak permanen di tubuhmu. Permainan aplikasi telah usai... namun perburuan mereka di dunia nyata baru saja dimulai.”
Ruangan itu kini hanya diisi oleh suara pendingin ruangan yang halus dan deru napas berat yang mulai teratur. Kamu benar-benar tak berdaya, tubuhmu kaku dan kesadaranmu terserap habis oleh badai orgasme yang baru saja menghancurkan logika.
Ponselmu yang bergetar di nakas—berisi notifikasi penyelesaian misi dari aplikasi gila itu—sama sekali tidak menarik perhatianmu. Kamu pingsan dalam keadaan yang paling intim dan kacau yang bisa dibayangkan.
Jungwon dan Riki, yang biasanya harus tunduk pada jadwal ketat mereka, mendadak kehilangan akal sehat. Jungwon sama sekali tidak peduli pada puluhan panggilan dari anggota OSIS dan guru pembimbing yang menanyakan laporan penutupan festival. Baginya, “prestasi” terbesarnya malam ini ada di dekapannya.
Riki pun serupa. Dia membiarkan ponselnya bergetar hebat di lantai, manajernya pasti sudah gila mencarinya, bingung kenapa kunci akses kartu penthouse mendadak diblokir dari dalam oleh Riki sendiri. Sang idol muda itu hanya ingin satu hal: mengunci duniamu di dalam pelukannya.
Kalian terlelap dalam posisi yang sangat posesif. Jungwon memeluk pinggangmu dari belakang seolah takut kamu akan menguap, sementara Riki menjadikan lengan berototnya sebagai bantalmu, mengunci kakimu dengan kakinya yang panjang.
><
Fajar menyingsing, cahaya matahari mulai menyeruak masuk dari celah tirai sutra yang mahal, menyinari kulitmu yang penuh dengan tanda kepemilikan. Saat matamu terbuka perlahan, rasa pegal yang luar biasa menghantam seluruh persendianmu. Kamu mencoba bergerak, tapi dua pasang lengan kuat langsung mempererat dekapan mereka.
“Mau ke mana?” bisik Jungwon dengan suara serak khas bangun tidur, wajahnya tenggelam di lehermu. “Rapat OSIS gue bisa nunggu agak siangan... Gue nggak bakal lepasin lo kali ini.”
Riki membuka matanya, menatapmu dengan pandangan yang jauh lebih dewasa dari usianya. “Manajer gue mungkin udah di depan pintu, tapi dia nggak punya kunci ini. Lo di sini sama kita, (Y/N). Selamanya kalau perlu.”
Kamu menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa kekuatan mentalmu. Kamu tahu, jika kamu tidak bertindak sekarang, kamu akan benar-benar menjadi tawanan gairah mereka yang tak ada habisnya. Dengan suara yang gemetar namun tegas, kamu mulai melakukan perlawanan.
“Lepasin gue,” ucapmu parau. “Gue butuh napas. Kalian udah dapet apa yang kalian mau, kan? Sekarang buka pintunya.”
Jungwon dan Riki saling lirik. Ada kilat ketidaksukaan di mata mereka, tapi melihat air matamu yang kembali menggenang karena rasa sesak yang berlebihan, ego mereka sedikit melunak. Kamu harus memaksa mereka, menggunakan sisa pengaruhmu pada perasaan mereka agar mereka membiarkanmu keluar dari zona bahaya ini.
Suasana di dalam kamar penthouse yang tadinya panas dan penuh gejolak, mendadak berubah menjadi hening yang menekan saat sinar matahari mulai menyapu lantai marmer. Tubuhmu yang letih masih terperangkap di antara dua pemuda yang seolah tak rela memberikan satu inci pun ruang napas.
Jungwon perlahan mengendurkan kuncian lengannya yang posesif, sementara Riki mulai bangkit dengan napas berat untuk mencari pakaiannya yang berserakan. Namun, sebelum kaki mereka benar-benar menapak lantai untuk membiarkanmu pergi, aura di ruangan itu mendadak berubah menjadi sangat transaksional.
Jungwon menatapmu dengan mata yang tajam, kehilangan sisi lembutnya sebagai ketua OSIS. Dia menahan bahumu, memaksa matamu untuk menatapnya.
“Lo pikir setelah apa yang terjadi semalam, lo bisa jalan keluar dari pintu itu gitu aja tanpa jaminan apa pun, (Y/N)?”
Riki yang sedang memakai celananya pun menoleh, menyeringai dingin. “Lo bisa lihat semalam, kita berdua bukan tipe yang suka berbagi, tapi semalam kita setuju buat ‘kerja sama’ demi lo. Kalau lo pergi sekarang tanpa jejak, kita yang rugi. Kita butuh sesuatu yang bikin lo terikat... selamanya.”
Melihat gurat kepemilikan yang begitu dalam di wajah mereka, kamu tahu bahwa melarikan diri hanya akan membuat mereka semakin liar mengejarmu. Tanpa diminta, kamu merogoh ponselmu yang tergeletak di nakas. Dengan jemari yang masih sedikit gemetar, kamu mengetikkan nomor telepon pribadimu di ponsel mereka masing-masing.
“Ini jaminan kalian,” ucapmu dengan suara serak yang mematikan namun penuh pesona. “Gue nggak akan ngilang. Tapi kalau kalian berani ganggu ketenangan gue di luar jadwal yang gue tentukan, jangan harap kalian bisa liat gue lagi.”
Melihat rentetan angka itu, tatapan Jungwon dan Riki seketika berubah. Itu adalah “kemenangan” kecil yang sangat mereka nantikan—sebuah jalur komunikasi langsung tanpa melalui perantara aplikasi gila itu. Mereka akhirnya luluh, namun rasa tanggung jawab dan obsesi mereka untuk merawat “milik mereka” muncul ke permukaan.
Alih-alih membiarkanmu pulang dalam keadaan berantakan, mereka berdua justru membawamu ke kamar mandi utama yang sangat luas. Jungwon menyalakan kran, mengisi bathtub dengan air hangat yang mengepul, sementara Riki mencampurkan minyak esensial yang menenangkan.
Mereka tidak memaksamu untuk bermain lagi, gairah kasar semalam telah berganti menjadi pemujaan yang dalam. Dengan sangat telaten, Jungwon membantumu masuk ke dalam air hangat, sementara Riki berlutut di sisi bathtub untuk membasuh rambutmu dengan sampo beraroma maskulin miliknya.
“Badan lo penuh tanda dari kita berdua,” gumam Jungwon sambil mengusap lembut punggungmu dengan spons, membersihkan sisa-sisa penyatuan semalam hingga kulitmu kembali bersih dan segar.
Riki memijat pundakmu yang kaku, menatap pantulanmu di cermin dengan bangga. “Sekarang lo bersih, tapi jangan lupa kalau aroma gue sama Jungwon bakal tetap ada di ingatan lo.”
Mereka merawatmu layaknya sebuah karya seni yang sangat berharga—membersihkan setiap sudut tubuhmu dengan penuh kelembutan seolah ingin menghapus rasa sakit yang mereka berikan semalam, namun tetap meninggalkan kesan dominasi yang tak terbantahkan.
Setelah mandi, Riki mengambil salah satu kemeja oversized favoritnya dari lemari dan memakaikannya ke tubuhmu. Kemeja itu sangat besar hingga menutupi paha atasmu, namun aromanya benar-benar mencerminkan sosok Riki. Jungwon membantumu merapikan kancingnya satu per satu dengan teliti.
“Gue udah pesenin taksi online paling cepet buat nganter lo langsung ke depan lobi apartemen lo. Gue nggak mau ada orang lain yang liat lo dalam kondisi secantik ini,” ucap Riki sambil memberikan ponselmu kembali dan mengecup pipimu lembut.
Jungwon mengecup keningmu lama, sebuah tanda perpisahan sementara yang terasa sangat protektif. “Istirahat. Gue bakal telepon lo nanti malam. Jangan berani-berani nggak diangkat.”
Kamu melangkah keluar dari penthouse mewah itu dengan langkah yang sedikit lebih ringan, meski rasa penuh di rahimmu masih terasa nyata. Taksi sudah menunggu di bawah, siap membawamu kembali ke duniamu. Namun, saat kamu duduk di kursi belakang dan melihat ke arah jendela, kamu menyadari satu hal:
[SYSTEM FINAL SYNC]
Cycle 7/7: COMPLETED.
Current Status: Tethered to the Seven.
Note:Nomor teleponmu kini telah menjadi pusat gravitasi baru bagi mereka. Perjalananmu bukan berakhir, tapi baru saja memasuki babak yang jauh lebih personal.
TO BE CONTINUED
jangan lupa LIKE, follow dan komen ya
love you, My Michies
💖💖💖





Aaaa gasabar nunggu cerita lanjutannya yg pastinya kak mici bakal bikin tambah tegang segala sisi. Lanjutkan kak mici❤️
AKHHH, UDAHH LAMA GA BACA, LUPYUU KAKK