11 Halo Dek
Laksamana Jay
Jangan Lupa Like
Cahaya matahari Minggu pagi menerobos masuk melalui celah gorden suite mewah itu, menyinari kekacauan yang terjadi semalam. Kamu terbangun dengan rasa pening yang menghantam hebat. Seluruh tubuhmu terasa kaku, berat, dan linuyang luar biasa menjalar dari pangkal paha hingga ke tulang belakang. Saat kamu mencoba menggeser duduk, kamu tersentak-vibrator kaca itu ternyata masih tertanam di dalam dirimu, dan klem di dadamu masih menjepit dengan sisa rasa perih yang mati rasa.
Di sampingmu, Jay sudah duduk bersandar di kepala ranjang. Ia hanya mengenakan celana kain dinasnya yang sudah kusut, bertelanjang dada memamerkan otot-ototnya yang dipenuhi keringat kering. Ia sedang menyesap sebatang rokok dengan tenang, asapnya mengepul tipis di udara pagi yang dingin karena AC.
โBangun juga akhirnya, Sayang,โ bisik Jay, suaranya serak khas bangun tidur namun tetap terdengar dominan.
Kamu meraih ponselmu yang tergeletak di lantai dengan tangan gemetar. Begitu layarnya menyala, jantungmu seolah berhenti berdetak.
Log Panggilan:
Ibu (32 Panggilan Tak Terjawab)
Ibu (15 Pesan WhatsApp)
Isa (5 Pesan WhatsApp: โ(y/n), Ibu kamu nanyain ke aku! Aku bilang kamu di sekolah, tapi dia bilang sekolah sepi!โ)
Dunia rasanya runtuh. Kamu mulai menangis terisak, menatap Jay dengan tatapan memohon. โBang... hiks... Ibu nyariin. Kebohongan aku ketahuan. Gimana ini? Aku harus pulang sekarang, Bang!โ
Jay tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun. Ia justru meraih ponselnya sendiri, lalu memutar sebuah video dengan volume yang cukup keras. Di layar itu, terlihat sosokmu yang sedang pingsan semalam, meracaukan nama Jay dengan wajahhancur sementara Jay menghajarmu tanpa ampun dari belakang.
โPulang? Silakan,โ ucap Jay sambil mengembuskan asap rokok ke wajahmu. โTapi kalau kamu melangkah keluar dari pintu ini tanpa izin Abang, video ini bakal sampai ke grup WhatsApp keluarga kamu dalam hitungan detik. Bayangin muka Ibu kamu pas lihat anaknya yang โcampingโ ternyata lagi nungging di bawah Laksamana.โ
Kamu mematung. Tangismu terhenti, digantikan oleh rasa takut yang murni. Kamu terjebak.
โSini,โ perintah Jay, menepuk kasur di depannya. โJangan pikirin Ibu kamu dulu. Dia bisa nunggu. Sekarang, tugas kamu adalah bikin Abang seneng sebelum kita check-out. Kalau kamu servis Abang dengan bener pagi ini, mungkin... Cuma mungkin, Abang bakal bantu kamu bikin alasan ke Ibu kamu.โ
Jay menarik paksa klem di dadamu hingga kamu memekik perih, memaksa wajahmu mendekat ke arahnya. โPilih, (y/n). Jadi anak baik di rumah tapi hancur karena video ini, atau tetep jadi โbudakโ Abang dan rahasia ini aman selamanya?โ
Kamu menatap mata Jay yang gelap, menyadari bahwa mulai detik ini, hidupmu bukan lagi milikmu atau ibumu. Kamu telah sepenuhnya menjadi aset milik Laksamana Jay.
Suasana pagi yang seharusnya tenang berubah menjadi panggung sandiwara yang paling mengerikan dalam hidupmu. Kamu duduk di atas pangkuan Jay, menghadapnya, dengan posisi cowgirl yang dipaksakan. Vibrator kaca itu sudah disingkirkan, diganti dengan milik Jay yang jauh lebih panas dan menuntut.
โTelepon Ibu kamu. Sekarang,โ perintah Jay dingin, jemarinya meremas pinggangmu hingga membekas. โJangan sampai suara kamu bergetar, atau video semalam langsung mendarat di grup keluarga kamu. Mengerti?โ
Kamu mengangguk lemas, air mata menetes di pipimu yang memerah. Dengan tangan gemetar, kamu menekan ikon telepon.
Tuuuut... Tuuuut...
โHalo? (y/n)?! Kamu di mana, Nak?! Ibu ke sekolah tapi gerbang dikunci, kata satpam nggak ada camping!โ suara ibumu terdengar panik dan marah di seberang sana.
Tepat saat itu, Jay sengaja menyentak pinggulnya ke atas, menghujam rahimmu dalam-dalam.
โAh-! Hhh...โ Kamu memejamkan mata erat, menggigit bibir bawahmu agar tidak mendesah. โH-halo, Bu... Maafin (y/n). Tadi... tadi sinyalnya susah di lokasi.โ
โLokasi mana?! Isa bilang dia nggak tahu!โ
Jay berbisik tepat di telingamu, suaranya halus namun mengancam. โBilang kamu ikut kegiatan organisasi gabungan di luar sekolah, Sayang. Jangan bodoh.โ
โItu, Bu... (y/n) ikut kegiatan organisasi gabungan di bumi perkemahan luar. Mendadak banget keputusannya, jadi Isa nggak ikut karena dia beda divisi,โ ucapmu lancar, mengikuti arahan Jay seolah kamu sudah terlatih berbohong.
Jay tersenyum puas. Ia mengetik sesuatu di ponselnya sendiri, lalu sebuah pesan masuk ke ponsel ibumu. โIbu, barusan (y/n) kirim foto lokasi dan surat izin digitalnya ya. Itu dari pembina organisasi (y/n),โ lanjutmu.
Jay ternyata sudah menyiapkan segalanya. Ia memiliki kenalan di komunitas pramuka dan organisasi pemuda yang bisa memalsukan administrasi dalam sekejap.
โOh... ini ada suratnya. Kenapa nggak bilang dari kemarin, Nak? Ibu sampai darah tinggi nyariin kamu,โ suara ibumu perlahan melunak, meski masih terdengar curiga. โYa sudah, pulang malam ini ya. Ibu tunggu.โ
Begitu sambungan terputus, ponselmu terjatuh ke atas kasur. Pertahananmu runtuh.
โPinter banget... budak kecil Abang ternyata bakat jadi penipu,โ bisik Jay.
Tanpa peringatan, Jay langsung menghujammu dari bawah dengan beringas. Ia memegang tengkukmu, memaksamu menatap matanya yang gelap sementara ia memacu pinggulnya tanpa ampun.
โAhhh! Jay! Sakit... hiks... tapi enak banget... ahhh!โ tangismu pecah. Kamu menangis karena rasa perih di dadamu yang masih terjepit klem, menangis karena rasa bersalah pada ibumu, dan menangis karena kenikmatan biadab yang diberikanpria ini.
โTerus sebut nama Abang! Bilang siapa yang punya rahim kamu!โ geram Jay, urat lehernya menonjol saat ia mendekati puncak.
โLaksamana Jay... ahh! Punyanya Bang Jay! Penuhin (y/n), Bang! Hancurin sekalian!โ racauamu, menyerah total pada kegilaan ini.
Kalian mencapai puncak secara bersamaan. Tubuhmu tersentak kaku, memeluk leher tegap Jay erat-alih seolah dia adalah satu-satunya pelindungmu di dunia ini, padahal dialah yang sedang menghancurkanmu. Jay meraung rendah, menyemprotkan seluruh benihnya ke dalam rahimmu yang sudah sangat penuh, membiarkan cairannya meluap keluar membasahi sprei.
Jay memelukmu erat, membiarkan kepalamu bersandar di bahunya yang bidang. Miliknya masih berdenyut di dalam dirimu, seolah tidak mau melepaskan mangsanya.
โKamu aman sekarang, (y/n). Selama kamu nurut, Ibu kamu nggak akan pernah tahu seberapa busuknya kamu di depan Abang,โ bisik Jay lembut, mencium keningmu dengan penuh kasih sayang yang palsu.
Kamu hanya bisa terisak dalam dekapannya. Kamu tahu, kamu tidak akan pernah bisa lari. Kamu telah ditaklukkan, bukan hanya secara fisik, tapi hingga ke akar jiwamu oleh sang Laksamana.
โ
Matahari sore mulai meredup, menyisakan semburat jingga di langit Jakarta saat Jay membantumu merapikan seragam Pramuka yang sempat berserakan di lantai hotel. Tubuhmu masih terasa gemetar, linu di selangkanganmu seolah menjadi pengingat permanen akan gempuran Jay yang tak kenal ampun sejak semalam.
Jay dengan telaten membantumu memakai hasduk leher merah-putih, mengikatnya dengan rapi seolah ia adalah pembina yang sangat peduli. Ia bahkan mengoleskan sedikit minyak kayu putih di lehermu untuk menyamarkan aroma maskulinnya yang tajam.
โHapus air mata kamu, (y/n). Pasang muka capek, tapi seneng. Kamu baru pulang camping, bukan baru selesai dihancurin Laksamana,โ bisik Jay sambil mengelus pipimu lembut.
Sebelum pulang, Jay membawamu ke sebuah gudang logistik milik kenalannya. Di sana, ia sudah menyiapkan sebuah tas carrier besar yang berisi perlengkapan kemah yang tampak kotor terkena tanah, lengkap dengan bingkisan plastik berisisembako dan piagam penghargaan palsu atas namamu.
[Pukul 19.30 WIB di Depan Rumahmu]
Mobil SUV hitam Jay berhenti tepat di depan pagar rumahmu. Kamu melihat ibumu sudah menunggu dengan cemas di teras. Jantungmu berdegup kencang, takut rahasia ini meledak begitu saja.
Jay turun lebih dulu dengan seragam perwiranya yang masih rapi dan gagah. Ia membukakan pintu untukmu, lalu membantu memanggul tas carrier-mu yang berat.
โSelamat malam, Ibu,โ sapa Jay dengan suara baritonal yang sangat sopan dan berwibawa. Ia melepas kacamata hitamnya, memberikan senyum formal yang sangat meyakinkan.
Ibumu tampak tertegun melihat pria berpangkat tinggi mengantar anaknya. โE-eh, malam, Pak. Bapak ini...?โ
โSaya Jay, Laksamana Pertama dari markas pusat. Saya kebetulan menjadi pengawas di kegiatan gabungan organisasi anak Ibu di bumi perkemahan tadi. Berhubung arah pulang saya searah, saya putuskan untuk mengantar (y/n) sampai depan rumah. Kasihan, dia sepertinya sangat kelelahan karena kegiatannya cukup padat dan tertinggal sama rombongan,โ ucap Jay lancar tanpa cela sedikit pun.
Ibumu langsung berubah sumringah, rasa curiganya luntur seketika melihat wibawa Jay. โYa ampun, terima kasih banyak, Pak Laksamana! Maaf jadi merepotkan. (y/n), kok nggak bilang kalau diawasi langsung sama pejabat?โ
Kamu menunduk tersipu, mencoba mengatur napas agar tidak terdengar ganjil. โI-iya, Bu. Tadi sibuk banget soalnya. Ini... (y/n) juga dapet bingkisan sembako sama piagam,โ ucapmu sambil menyerahkan plastik besar itu pada ibumu.
Jay meletakkan tas carrier-mu di teras, lalu menatapmu sekilas dengan tatapan yang hanya kamu yang mengerti-tatapan yang mengatakan bahwa kamu tetap miliknya.
โSaya pamit dulu, Bu. (y/n) anak yang sangat penurut dan berprestasi di lapangan. Saya harap dia terus diizinkan ikut kegiatan seperti ini lagi,โ ucap Jay sambil menjabat tangan ibumu secara formal.
โTentu, Pak! Silakan, kalau ada kegiatan lagi (y/n) pasti ikut! Hati-hati di jalan, Pak Jay,โ seru ibumu senang.
Begitu mobil Jay menjauh, ibumu merangkul bahumu. โTuh, liat. Kamu hebat bisa kenal orang hebat kayak gitu. Mandi sana, Nak. Bau tanah gitu badan kamu.โ
Kamu hanya bisa mengangguk lemah, masuk ke rumah dengan perasaan yang hancur berkeping-keping. Di balik seragam Pramuka yang kotor karena โtanahโ buatan Jay, rahimmu masih terasa penuh dengan sisa-sisa pelepasan pria itu, dan klemdi dadamu tadi meninggalkan bekas yang harus kamu sembunyikan rapat-rapat dari ibumu selamanya.
Mobil SUV hitam itu meluncur perlahan membelah kegelapan komplek perumahanmu. Di balik kemudi, Jay mengembuskan napas panjang, melonggarkan kerah seragam perwiranya yang terasa sedikit mencekik. Seringai tipis masih menghiasi bibirnya saat ia melirik ke jok penumpang, di mana hasduk leher Pramuka milikmu yang tertinggal tergeletak begitu saja-sebuah trofi kemenangan atas penaklukan totalnya akhir pekan ini.
Namun, ketenangan itu hancur dalam sekejap. Ponsel dinas yang terpasang di dasbor bergetar hebat dengan nada dering darurat yang melengking tinggi. Layarnya menampilkan nama: LETNAN RYUJIN.
Jay menekan tombol loudspeaker dengan gerakan tangkas. โLaksamana Jay di sini. Bicara.โ
โIzin, Komandan! Situasi darurat di Sektor 4!โ Suara Ryujin terdengar pecah, diselingi deru angin kencang dan suara alarm fungsional yang memekakkan telinga dari seberang telepon.
โKapal Angkut KRI Elang yang membawa dua kompi prajurit muda terjebak badai anomali di koordinat delta! Lambung kapal robek setelah menghantam karang yang bergeser. Kapal mulai miring tiga puluh derajat, Komandan! Air masuk ke kompartemen mesin, sistem komunikasi mereka nyaris lumpuh!โ
Wajah santai Jay seketika mengeras seperti baja. Aura dominan yang tadi ia gunakan untuk mengintimidasi dirimu kini berubah menjadi aura pemimpin perang yang mematikan. Ia membanting setir, memutar balik mobilnya di tengah jalan dengan decitan ban yang memekakkan telinga.
โSiapkan helikopter SAR di dermaga satu! Saya tiba dalam sepuluh menit!โ perintah Jay, suaranya menggelegar penuh otoritas, sama sekali berbeda dengan suara manis manipulatif yang ia gunakan padamu tadi.
Dua puluh menit kemudian jay sampai di Pangkalan Pelabuhan Utama. Atmosfer di pelabuhan sangat mencekam. Hujan deras mulai turun seolah langit ikut merasakan kegentingan. Lampu-lampu sorot raksasa menyapu permukaan laut yang bergejolak dahsyat. Ribuan prajurit berlarian dengan seragam tempur lengkap, sementara sirene pangkalan terus meraung tanpa henti, menciptakan simfoni ketakutan di tengah malam.
Jay melompat turun dari mobilnya tepat di depan menara kontrol. Ryujin sudah menunggu di sana dengan wajah pucat dan seragam yang basah kuyup.
โLapor, Komandan! KRI Elang sudah dalam posisi kritis. Tim penyelamat tidak bisa mendekat karena gelombang mencapai enam meter. Jika dalam satu jam tidak ada evakuasi udara, kapal itu akan karam sepenuhnya bersama seluruh prajurit di dalamnya!โ
Jay menatap ke arah laut lepas yang gelap gulita. Di sana, di kejauhan yang tak terlihat mata telanjang, ratusan nyawa sedang bertaruh nyawa di atas besi tua yang mulai tenggelam. Situasinya sangat kacau, teriakan instruksi melalui radio, derumesin helikopter yang mencoba take-off namun tertahan angin, dan kepanikan yang mulai merayap di wajah-wajah perwira muda.
Jay menarik napas dalam, membetulkan letak baretnya. โRyujin, ambil alih komando darat. Saya sendiri yang akan memimpin evakuasi udara dengan helikopter utama.โ
โTapi Komandan, itu terlalu berisiko! Cuacanya-โ
โIni perintah!โ potong Jay tajam, matanya berkilat dingin.
Di tengah situasi yang hidup dan mati itu, di dalam saku celananya, ponsel pribadi Jay bergetar. Sebuah pesan masuk darimu.
(y/n): โBang Jay... makasih ya buat semuanya. Aku masih ngerasa sakit di bawah sini, tapi aku kangen Abang. Hati-hati di jalan pulang ya.โ
Jay melirik pesan itu sekilas saat ia menaiki tangga helikopter. Ia tidak membalas. Ia memasukkan ponselnya ke dalam kantong taktis, mengunci rapat pintu helikopter, dan memberikan sinyal jempol kepada pilot.
Dalam pikirannya, kontras itu sangat nyata. Beberapa jam lalu ia sedang menghancurkan seorang gadis SMA 16 tahun di atas ranjang mewah, dan sekarang, ia harus bertaruh nyawa melawan alam untuk menyelamatkan ratusan prajuritnya. Atmosfer di pangkalan itu terasa sangat berat-bau solar, garam laut, dan ketegangan yang bisa dipotong dengan pisau.
Helikopter itu akhirnya terangkat, menembus badai yang gelap, membawa sang Laksamana menuju maut, sementara kamu di rumah sedang meringkuk di bawah selimut, merindukan sentuhan pria yang mungkin saja tidak akan kembali malamini.
โ
To Be Continued




jujur lebih kesel sama y/n nya karena mau aja dikibulin ๐ญ
Kakkaa... Happy end yaa๐ญ๐ญ๐ญbelum siap klo ngga end๐ญ๐ญ๐ญcemungut kakkkk๐๐๐๐๐ฅบ๐ฅบ๐๐