jangan lupa like
Tiga hari telah berlalu sejak insiden kompetisi mancing di danau kaki gunung. Pernikahan yang dibangun di atas fondasi keterpaksaan dan tumpukan ego tentu tidak bisa berubah menjadi dongeng manis hanya dalam semalam. Meski beberapa kali Jay berhasil melucuti pertahananmu dengan sikap manis dan perhatiannya yang tak terduga, dinamika hubungan kalian tetaplah sebuah ladang ranjau yang rapuh. Kamu masih sering menjaga jarak, bersikap sinis, dan menyimpan amarah terpendam atas bagaimana hidupmu digiring masuk ke dalam sangkar emas keluarga Park.
Pagi itu, udara di beranda villa terasa sejuk khas pertengahan musim semi. Angin semilir menerbangkan helaian bunga liar di lereng gunung, sementara matahari bersinar cerah menembus kanopi pepohonan yang mulai menghijau.
Kamu duduk bersandar di sofa rotan beranda dengan secangkir teh chamomile hangat di tangan, mengenakan cardigan rajut longgar. Di seberang meja kayu kecil, Jay duduk dengan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya terbuka santai, memangku laptop seraya membaca ringkasan operasional kantor yang sesekali dikirimkan Jungwon secara rahasia.
Mengingat janjinya yang belum lunas, kamu meletakkan cangkirmu dengan sedikit sentakan ke atas tatakan kayu.
Tuk.
“Jay.”
Jay mengangkat pandangannya dari layar laptop, menatapmu lurus dengan sorot mata tenang yang selalu sulit kamu tebak. “Ya?”
“Kamu masih punya utang satu permintaan ke aku dari taruhan mancing kemarin,” ucapmu menuntut, melipat kedua tangan di dada dengan dagu terangkat menantang.
Sebenarnya, ide pertamamu kemarin adalah menyuruh Jay berkemas dan angkat kaki dari villa ini, membiarkanmu menikmati ketenangan sendirian tanpa keberadaannya yang selalu membuat suasana terasa intimidatif. Namun, kamu sadar betul esensi dari kepergian kalian ke kaki gunung ini—sebuah upaya paksa yang disepakati untuk setidaknya saling mengenal tanpa intervensi orang tua maupun sorotan publik. Mengusirnya hanya akan membuat situasi kembali ke titik nol yang dingin.
Maka, kamu memutuskan mencari permintaan lain yang cukup merepotkan untuknya.
“Aku mau main ice skating di danau beku,” ujarmu mantap, tersenyum pongah seolah baru saja melempar bom waktu ke pangkuannya.
Jay terdiam selama beberapa detik. Tatapannya berpindah dari wajahmu, melirik pemandangan danau di kejauhan yang airnya berkilau jernih diterpa sinar matahari, lalu kembali menatapmu dengan alis terangkat tinggi.
“Ice skating?” Jay mengulangi kata-katamu dengan nada datar, sudut bibirnya sedikit berkedut menahan tawa.
“Iya. Danau beku, pakai sepatu luncur, berputar di atas es,” tambahmu sengaja menekankan setiap kata.
“Sayang, coba lihat ke luar jendela,” ujar Jay seraya mengarahkan dagunya ke arah perbukitan hijau di luar. “Sekarang musim semi. Suhu di luar enam belas derajat Celcius. Danaunya bahkan nggak punya satu pun butiran es. Mau main skating di atas apa? Lumpur?”
“Ya cari cara!” potongmu cepat, sifat temperamentalmu yang mudah tersulut mendadak mencuat. “Katanya kamu bakal nurutin semua kemauanku tanpa bantahan? Giliran aku minta hal sepele kayak gini kamu langsung banyak alasan! Kenapa kamu sekarang makin membangkang perintahku?”
“Ini bukan soal banyak alasan, tapi hukum alam,” balas Jay tenang, menutup laptopnya perlahan dan meletakkannya di meja. “Memangnya aku bisa manggil badai salju sekarang juga?”
Rasa kesal yang tiba-tiba membuncah membuatmu kehilangan kesabaran. Tanpa aba-aba, kamu meraih bantal sofa berukuran sedang di sampingmu dan melemparkannya tepat ke dada Jay.
Bugh!
Tidak puas hanya melempar bantal, kamu beranjak dari tempat duduk, melangkah cepat menghampirinya, lalu memukul bahu dan lengan kekar pria itu berkali-kali dengan kepalan tanganmu.
“Nggak mau tahu! Pokoknya kamu bohong! Kamu cuma omong kosong doang!” gerutumu penuh emosi, melampiaskan kekesalan atas segala hal yang selama ini mengganjal di dadamu melalui pukulan-pukulan kecil yang mendarat di dada bidangnya dan bagi Jay kamu terlihat manis saat merajuk manja padanya.
Bugh! Bugh!
Jay sama sekali tidak mengelak atau menepis tanganmu. Tubuh tegapnya tetap berdiri kokoh menerima setiap pukulanmu yang sebenarnya tidak seberapa sakit bagi pria berotot sepertinya. Alih-alih marah atau membalas dengan bentakan, Jay justru menatap wajahmu yang memerah padam karena emosi dengan sorot mata yang teduh dan sabar. Tepat saat pukulan kelimamu hendak mendarat di dadanya, jemari Jay yang panjang dan hangat bergerak kilat menangkap kedua pergelangan tanganmu.
Greb.
Dengan satu tarikan mantap dan terkontrol, Jay menarik tubuhmu ke dalam dekapannya.
“Udah marahnya?” bisik Jay rendah, suaranya serak dan menenangkan saat ia mengunci kedua tanganmu di balik punggungnya, menempelkan tubuhmu rapat-rapat ke dada bidangnya hingga kamu bisa merasakan dentum ritmis jantungnya yang stabil.
“Lepas, Jay! Aku masih kesel sama kamu!” rontamu memberontak, berusaha mendorong dadanya dengan sisa tenaga, tetapi kuncian lengannya di pinggangmu terasa bagai sabuk pengaman yang kokoh.
“Dengerin dulu,” ujar Jay pelan, menundukkan kepalanya hingga dahinya menempel ringan di pelipismu. Hembusan napas hangatnya yang beraroma mint menyapu kulit pipimu yang terbakar emosi. “Aku nggak bisa bawa kamu ke danau es sekarang, tapi bukan berarti aku nggak punya cara lain buat bikin kamu ngerasa melayang.”
Kamu mendongak dengan napas memburu, menatap matanya yang memancarkan binar tegas namun penuh rahasia. “Maksud kamu apa?”
Tanpa menjawab dengan kata-kata, Jay melepaskan kuncian di pergelangan tanganmu, lalu beralih meraih pergelangan kakimu dan mengangkat tubuhmu ke dalam gendongannya ala bridal style.
“Jay! Turunin!” pekikmu kaget seraya refleks melingkarkan kedua lenganmu di lehernya agar tidak terjatuh.
“Diam dan pegangan yang erat,” titah Jay santai seraya melangkah membawamu masuk ke dalam ruang tengah villa yang luas beralaskan lantai kayu mengilap.
Villa ini memiliki ruang tengah bergaya arsitektur terbuka dengan lantai parket kayu jati yang sangat halus dan licin setelah dipoles. Jay mendudukkanmu di atas meja kayu rendah di tengah ruangan, lalu berlutut di hadapanmu.
Kamu memperhatikan gerak-geriknya dengan napas tertahan saat Jay mengeluarkan sepasang kaus kaki wol tebal ekstra lembut dari laci kabinet. Tanpa rasa gengsi sedikit pun, pria konglomerat yang ditakuti di dunia bisnis itu mengangkat salah satu kakimu, memasangkan kaus kaki wol tebal itu ke kakimu dengan gerakan yang luar biasa telaten dan hati-hati.
“Lantai kayu ini cukup licin kalau pakai kaus kaki wol tebal,” ucap Jay seraya mendongak menatapmu dari posisinya yang berlutut di lantai. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang begitu menawan. “Kita nggak butuh danau es buat meluncur.”
Sebelum kamu sempat mencerna perkataannya, Jay berdiri dan meraih kedua telapak tanganmu, menarikmu berdiri di atas lantai kayu yang licin. Kaus kaki wol tebal membuat pijakanmu meluncur bebas tanpa friksi, membuat tubuhmu limbung seketika.
“Jay—eh!” kamu berseru panik saat kakimu meluncur ke depan.
Dengan sigap, Jay menyusupkan satu tangannya ke pinggang rampingmu, menarikmu rapat ke tubuhnya sementara tangan satunya menautkan jemarinya di antara jemarimu. Jay yang mengenakan kaus kaki serupa mulai menggerakkan langkahnya dengan ritme yang anggun dan bertenaga.
Ia membimbing kakimu meluncur di atas permukaan lantai kayu yang licin, memutar tubuhmu dalam gerakan meluncur yang halus menyerupai tarian seluncur es di tengah ruangan beraroma kayu hangat. Cahaya matahari musim semi yang masuk melalui jendela kaca besar membingkai bayangan kalian yang bergerak selaras di atas lantai.
Setiap kali kamu nyaris kehilangan keseimbangan dan memekik panik, cengkeraman tangan Jay di pinggangmu akan semakin mengerat, menahanmu dengan sempurna sebelum membimbingmu kembali berputar ke dalam dekapannya.
“Lihat?” bisik Jay tepat di pelipismu saat ia membawamu meluncur dalam putaran panjang yang mulus. “Kamu meluncur sekarang. Lebih hangat daripada kedinginan di tengah danau beku, kan?”
Kamu menatap wajah Jay yang begitu dekat dari pandanganmu—garis rahangnya yang tegas, sorot matanya yang kini terpaku sepenuhnya padamu tanpa ada distraksi apa pun, dan senyuman tulus yang jarang sekali ia tunjukkan pada dunia.
Rasa kesal dan amarah yang tadi sempat membakar dadamu perlahan menguap tanpa jejak, digantikan oleh sensasi debaran yang begitu dahsyat di balik tulang rusukmu. Cara Jay meredam emosimu yang temperamental tanpa kekerasan, caranya mengubah kemustahilan menjadi momen sederhana yang begitu intim, selalu berhasil meruntuhkan setiap dinding pertahanan yang kamu bangun dengan susah payah.
Di tengah putaran seluncuran lantai kayu yang hangat itu, kamu menyembunyikan wajahmu di ceruk leher Jay, menghirup aroma maskulinnya yang menenangkan seraya membiarkan pipimu yang merona merah bersandar di bahunya yang kokoh.
☢
Hampir tiga minggu telah berlalu sejak deru baling-baling helikopter itu mereda dan mendaratkan kalian di hamparan padang rumput luas di kaki lembah pegunungan terpencil ini. Waktu seakan membeku di antara dinding-dinding kayu villa kabin yang megah, jauh dari hiruk-pikuk kota metropolitan, panggilan telepon dari jajaran direksi Park Group, maupun intervensi keluarga besar yang selama ini mencekik kalian berdua.
Dalam kurun waktu dua puluh satu hari isolasi yang manis sekaligus intens, dinamika di antara kalian berdua mengalami pergeseran tektonik yang nyata. Ada benang-benang kedekatan emosional yang terajut rapat—kebiasaan sarapan bersama dalam hening yang menenangkan, secangkir kopi hitam yang selalu Jay sediakan tepat saat kamu membuka mata, hingga obrolan larut malam di depan perapian yang perlahan mengikis rasa canggung.
Namun, kendati hatimu perlahan mulai luluh oleh kehangatan dan kesabaran Jay, arogansimu sebagai seorang wanita yang enggan terlihat rapuh masih berdiri kokoh. Sisi defensifmu selalu mencari cara untuk membuktikan bahwa kamu bukan sekadar pihak yang tunduk di bawah kendali pria itu. Dan tempat di mana egomu paling menuntut pembuktian mutlak adalah di atas ranjang.
Sore itu, rintik hujan musim semi membasahi kaca jendela kamar utama. Aroma tanah basah berpadu dengan wangi kayu manis dan vanila yang menguar dari lilin aromaterapi. Jay baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk kecil yang menggantung di lehernya, mengenakan celana tidur abu-abu longgar tanpa atasan, memamerkan lekuk otot dada dan perutnya yang masih berhias jejak bulir air.
Kamu yang sedang berbaring menyamping di atas kasur berbalut seprai satin gelap menatapnya lekat. Gaun tidur sutra tipis yang kamu kenakan melorot di salah satu bahu, memperlihatkan kulitmu yang halus. Desir gairah yang sudah lama kamu kenal mendadak membakar pembuluh darahmu, menuntut kepuasan yang hanya bisa dipenuhi oleh pria di hadapanmu.
“Jay,” panggilmu dengan nada datar yang dingin, tetapi sorot matamu memancarkan perintah tak terbantahkan.
Jay menghentikan langkahnya di tepi ranjang, menyugar rambutnya yang setengah basah ke belakang. Tatapan matanya yang tajam dan tenang menatapmu lurus. “Kenapa? Mau minta dibuatin teh hangat lagi?”
“Sini,” titahmu seraya menepuk area kasur di depanmu. “Duduk.”
Jay menurut tanpa banyak tanya. Pria itu menaiki ranjang dan duduk bersila tepat di hadapanmu. Sebelum Jay sempat membuka mulut untuk bertanya lebih jauh, kamu sudah bergerak lincah menaiki pangkuannya, mengangkang di atas pahanya yang kokoh dan melingkarkan kedua lenganmu di lehernya.
Napas Jay tercekat sejenak saat tubuhmu yang hangat menempel sempurna di dada bidangnya. Tangannya yang besar secara refleks terangkat, hendak melingkari pinggangmu untuk menarikmu lebih rapat dan mengambil inisiatif. Namun, gerakan tangannya langsung kamu tepis dengan kasar.
Plak.
“Jangan sentuh pinggangku,” desismu dengan tatapan menyalang tajam. Matamu berkilat penuh dominasi dan arogansi yang membara. “Aku nggak nyuruh kamu pegang kendali sore ini.”
Jay membiarkan tangannya melayang di udara beberapa detik sebelum akhirnya ia turunkan kembali ke atas kasur, bertumpu di samping pahanya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sarat akan kesabaran.
“Oke,” ujar Jay dengan suara baritonnya yang tenang dan santai, sama sekali tidak tersulut oleh nada kasarmu. “Jadi, siapa yang mau main hari ini?”
“Aku, as usual as we did before,” jawabmu tegas tanpa ragu.
Kamu mencengkeram rahang tegasnya dengan kedua tanganmu, memaksanya menatap lurus ke dalam matamu. Jari-jemarimu menekan pipinya cukup kuat hingga kuku-kukumu meninggalkan jejak kemerahan di kulitnya yang bersih.
Ada memori otot—muscle memory yang mengakar kuat di dalam dirimu—yang selalu menuntunmu untuk mengambil alih setiap jengkal tubuh pria ini. Kamu benci saat Jay memimpin. Kamu merasa sangat terancam dan marah jika Jay berusaha mendikte tempo atau membuatmu merasa tak berdaya di bawah kuasanya. Bagimu, satu-satunya cara untuk merasa aman saat menyerahkan dirimu pada gairah adalah dengan membuat Jay Park yang berkuasa itu sepenuhnya tunduk dan pasrah di bawah kendalimu.
“Tetap di posisimu, Jay. Jangan gerak, jangan coba-coba balik posisiku ke bawah, dan jangan berani-berani nuntut apa pun sebelum aku izinin,” tuntutmu dengan napas yang mulai memburu, memperingatkannya dengan nada setengah mengancam.
Jay menatapmu lekat-lekat. Alih-alih merasa terhina oleh perintahmu yang arogan, binar di matanya justru memperlihatkan pemahaman yang begitu mendalam. Jay tahu persis bahwa arogansi dan dominasimu di atas ranjang adalah caramu membangun benteng pertahanan dari rasa takut akan kehilangan kendali. Dan Jay, dengan segala kedewasaan dan pesonanya yang matang, dengan senang hati memberikan panggung itu untukmu.
“Iya, terserah kamu,” bisik Jay patuh, nada suaranya begitu rendah dan sensual. “Aku bakal diam. Semua kendali ada di tangan kamu sore ini.”
Mendengar pengakuan pasrah dari bibirnya, rasa puas seketika menjalar di benakmu.
Tanpa membuang waktu, kamu menundukkan kepala dan menyambar bibirnya dengan ciuman yang menuntut. Ciumanmu tidak lembut; kamu melumat dan menggigit bibir bawahnya dengan agresif, menyalurkan segala rasa frustrasi, arogansi, dan gairah yang meluap di dadamu. Lidahmu menerobos masuk, mendikte ritme pertautan basah itu tanpa memberi Jay kesempatan untuk memimpin.
Jay menepati janjinya. Kedua tangannya tetap berada di atas kasur, hanya mengepal erat di atas seprai sutra saat ia menerima setiap serangan ciumanmu. Dadanya naik-turun seirama dengan napasmu yang memanas. Ia hanya membalas hisapanmu secukupnya, membiarkanmu menjadi sutradara tunggal dalam permainan ini.
Merasa telah memegang kendali penuh, kamu menarik kepalamu ke belakang, meninggalkan jejak saliva yang berkilat di bibir Jay yang kini membengkak kemerahan. Tatapanmu yang liar beralih ke lehernya yang berotot.
Kamu menurunkan bibirmu ke kulit lehernya, menghisap dan menggigit area tepat di atas tulang selangkanya hingga meninggalkan tanda merah keunguan yang pekat. Kamu ingin menandainya, ingin memastikan bahwa pria ini adalah milikmu seutuhnya saat berada di ruangan ini.
“Ssshh...” Desisan pelan lolos dari sela gigi Jay saat gigitanmu semakin dalam. Urat-urat di leher dan lengannya mencuat kaku menahan sensasi kenikmatan dan rasa perih yang kamu berikan, namun ia tetap tidak mengangkat tangannya untuk mendorong atau membalikkan posisimu.
“Sakit, Jay?” bisikmu sinis di telinganya, jemarimu mencengkeram rambut belakangnya dan menariknya sedikit ke belakang agar ia mendongak menatapmu.
Jay membuka matanya perlahan. Sorot matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi para pebisnis papan atas kini dipenuhi kabut gairah yang pekat, menatapmu dengan kepatuhan total yang begitu memabukkan.
“Nggak,” jawab Jay serak, jakunnya naik-turun menelan saliva. “Lanjutin sesuka kamu.”
Respons pasrahnya membuat egomu melambung tinggi. Gerakan tubuhmu menjadi semakin berani dan tak terkendali. Kamu menuntun tubuhmu sendiri, bergerak di atas pangkuannya dengan ritme yang kamu tentukan sendiri—kadang lambat dan menyiksa, kadang tergesa-gesa dan liar. Setiap gesekan kain tipis dan kulit yang beradu memicu gelombang kenikmatan yang membakar akal sehatmu.
Keringat dingin mulai membasahi pelipis dan punggungmu yang meliuk anggun di atas tubuhnya. Sesekali kamu meremas bahu kekarnya, menancapkan kuku-kukumu di kulit punggungnya yang tegap sebagai tumpuan saat kamu memacu kenikmatanmu sendiri hingga ke puncak.
Dan sepanjang proses itu, Jay tetap bersikap sebagai tumpuan yang sempurna dan luar biasa pengertian.
Ketika tubuhmu mulai gemetar kelelahan karena memimpin terlalu intens, Jay tidak merebut kendali itu. Ia hanya membiarkan tubuhnya menjadi sandaran yang kokoh, menahan pinggulmu dengan lembut hanya saat kamu benar-benar butuh keseimbangan, memastikan kamu tidak tergelincir atau terluka oleh gerakanmu sendiri. Kehangatan tubuhnya dan kesediaannya untuk diredam di bawah kuasamu menciptakan rasa aman yang tak terlukiskan di dalam hatimu.
“Jay... ah...” erangmu tertahan, kepalamu terkulai lemas di pundaknya saat gelombang klimaks yang dahsyat akhirnya menyapu seluruh kesadaranmu, membuat tubuhmu kejang halus dalam dekapannya.
Saat napasmu masih tersengal-sengal dan energimu terkuras habis, barulah Jay bergerak. Dengan sangat perlahan dan hati-hati, seolah takut merusak sisa-sisa harga dirimu yang tinggi, Jay mengangkat tubuh lemasmu dan membaringkanmu di atas kasur yang empuk. Ia menarik selimut tebal hingga menutupi dadamu, lalu menyusup ke sampingmu.
Jemarinya yang hangat dan besar menyelipkan helaian rambut basah yang menempel di pipimu ke belakang telinga. Jay tidak mengejekmu, tidak menyombongkan diri, dan tidak meminta imbalan apa pun atas kepatuhannya sore ini.
“Udah puas?” tanya Jay lembut, suaranya terdengar begitu menenangkan di tengah deru hujan di luar jendela.
Kamu memalingkan muka ke samping, mencoba menyembunyikan semburat merah padam yang membakar pipimu. “Diam kamu. Aku capek.”
Jay terkekeh rendah—tawa khasnya yang selalu berhasil membuat dadamu bergetar hebat. Bukannya menjauh karena ketusmu, Jay justru merapatkan tubuhnya, menarikmu masuk ke dalam dekapannya dari belakang dan melingkarkan lengannya yang hangat di perutmu. Dagu pria itu bersandar nyaman di puncak kepalamu, memberikan ciuman lembut di pelipismu berulang kali.
“Iya, istirahat,” bisik Jay pelan tepat di telingamu. “Besok kalau mau main lagi, aku bakal tetap diam kayak tadi.”
Di dalam pelukan pria yang sengaja membiarkan dirinya ditaklukkan demi membuatmu merasa berkuasa, kamu memejamkan mata rapat-rapat. Jauh di lubuk hatimu, kamu tahu bahwa sekeras apa pun kamu berusaha mendominasi raganya, pada akhirnya hatimu sendirilah yang telah bertekuk lutut di bawah pesona dan ketulusan Jay Park.
to be continued
soon punya bojo kayak jay
rich tentang apapun
aamiin






YA ALLAH DITENGAH PUSINGNYA SKRIPSI BACA INII JADI PENGEN RABI😭😭😭✋🏻✋🏻✋🏻
Mau jay