JANGAN LUPA LIKE
Dua pasang mata itu saling mengunci dalam pendar rembulan yang teramat jernih di puncak gedung. Jarak di antara wajah kalian terkikis perlahan, begitu tipis hingga hembusan napas hangat Jake yang teratur menyapu lembut permukaan kulit pipimu. Tanganmu masih rileks bertengger di bahu kokohnya, sementara jemari Jake yang berselimut bahan neoprene padat mengunci lembut pinggangmu. Dorongan afeksi, rasa haru, dan pendar kasih yang tertahan selama berminggu-minggu kini membuncah, menarik kalian berdua dalam gravitasi emosional yang tak terelakkan. Jake memiringkan kepalanya sedikit, matanya perlahan terpejam saat bibirnya bergerak mendekati bibirmu...
Namun, tepat pada detik puncak yang manis itu—sebelum bibir kalian benar-benar bersentuhan—tubuh Jake mendadak tersentak hebat!
BZZZZZZT!
Sensasi itu dihantamkan langsung ke dasar tengkoraknya seperti sengatan listrik bertegangan tinggi. Spidey-Sense-nya meledak liar! Getaran peringatan bahaya di belakang kepalanya bergetar begitu keras hingga membuat iris mata cokelat tua Jake membelalak seketika. Jake menarik wajahnya mundur satu sentimeter secara refleks, matanya yang tadi penuh kehangatan mendadak berubah sangat tajam dan fokus.
“Jake...?” bisikmu kaget, suara dan napasmu tertahan di udara. “Kenapa...?”
Jake tidak langsung menjawab. Dia memegang kedua bahumu, merapatkannya ke dinding beton atap yang aman, sementara seluruh indra mutasinya yang tajam dikerahkan penuh menyapu riuk angin malam kota.
Di bawah sana, belasan kilometer menembus riuk bising kendaraan, telinga Jake yang super peka menangkap raungan sirine polisi yang melolong histeris, disusul dentuman keras gesekan besi dan teriakan panik yang membelah keheningan malam. “Ada yang enggak beres...” suara Jake berubah menjadi sangat rendah, penuh tekanan adrenalin yang mendadak melonjak. “Radius 15 kilometer dari sini... ada aksi kejahatan besar.”
Kamu terperanjat, memegangi lengan kostumnya. “Apa yang terjadi, Jake?”
“Pembobolan bank pusat di kawasan bisnis,” jawab Jake cepat, matanya menatap lurus ke arah kumpulan pencakar langit di bagian timur kota tempat pendar lampu sirine merah-biru mulai memantul di awan malam. “Ada kawanan perampok bersenjata berat yang bobol brankas Bank Central. Mereka mencoba melarikan diri membawa uang jarahan... dan petugas keamanan di bawah sana kewalahan.”
Jake menoleh menatapmu kembali. Pendar romantis yang tadi menyelimuti wajahnya kini sepenuhnya tergantikan oleh fokus murni seorang pelindung kota. Namun di balik keharusan beraksi itu, ada pancaran rasa bersalah dan kepedulian yang mendalam di matanya karena harus memotong momen indah kalian.
“Gue harus antar lo balik ke apartemen Mas Heeseung sekarang juga, (Y/N),” kata Jake tegas, menarik topeng kain hitamnya ke atas hingga menutup hidung dan bibirnya.
“Jake, tapi lokasi pembobolannya jauh banget!” katamu panik campur cemas. “15 kilometer! Bersenjata berat lagi!”
Jake memegang kedua pipimu dengan kedua tangannya yang terlapis neoprene, menatap matamu lurus-lurus di balik topengnya.
“Gue bakal aman, (Y/N). Gue punya kostum ini sekarang. Gue punya pertahanan yang jauh lebih kuat,” bisik Jake dengan suara yang teramat meyakinkan. “Tapi hal paling utama buat gue adalah memastikan lo sampai di tempat Mas Heeseung dengan selamat dulu. Begitu lo aman di dalam kamar, baru gue bisa lepas kontrol penuh di lapangan.”
Kamu menatap keteguhan di mata Jake. Di tengah degup jantungmu yang berpacu kencang, kamu menyadari bahwa inilah sosok Jake Sim yang sebenarnya—pria yang tak akan pernah berdiam diri saat kejahatan mengancam orang lain.
“Oke...” jawabmu mantap, membalas cengkeraman tangannya. “Bawa gue balik, terus berantas penjahat-penjahat itu!”
“Siap,” sahut Jake.
THWIP!
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Jake menyambar pinggangmu dalam dekapan paling protektif, menembakkan jaringnya ke kegelapan malam, dan meluncur membelah udara kota dengan kecepatan dua kali lipat lebih kencang dari sebelumnya!
Hanya butuh waktu kurang dari empat menit bagi Jake untuk melintasi atap-atap gedung dan mendaratkan tubuhmu dengan mulus di balkon apartemen Heeseung. Begitu kakimu menyentuh lantai balkon yang aman, Jake membimbingmu masuk ke dalam ruang tengah.
“Kunci semua pintu balkon sama jendela, (Y/N),” pesan Jake cepat, suaranya dipenuhi adrenalin yang bergelora. “Tunggu Mas Heeseung balik atau tunggu gue pulang. Gue enggak bakal lama.”
Kamu memegang tangan Jake sejenak sebelum dia berbalik. “Jake! Hati-hati!”
Jake menyunggingkan senyuman yang terbiar di balik topengnya, mengangguk mantap, lalu berbalik melompat mundur dari tepi balkon apartemen!
SWOOSH!
Sosoknya menyatu sempurna dengan kegelapan malam, melayang deras menuju titik konflik di kawasan pusat bisnis kota.
15 kilometer di bagian timur kota, area persimpangan Bank Pusat berubah menjadi zona perang mini. Dua mobil lapis baja milik kawanan perampok melaju ugal-ugalan menembus blokade barikade polisi. Suara tembakan senapan otomatis BA-BAM! BA-BAM! bergema memekakkan telinga, memantul di antara dinding-dinding kaca gedung pencakar langit. Asap tebal dari bahan peledak membumbung tinggi, sementara beberapa mobil patroli kepolisian terbalik dengan ban berasap. enam orang perampok bertopeng tengkorak dengan pelindung badan tebal sibuk menembaki petugas keamanan sambil mengangkut puluhan tas tebal berisi uang tunai hasil bobolan ke atas truk bak terbuka.
“Cepat muat semua tasnya! Polisi bantuan sebentar lagi datang! Habisi siapa saja yang mendekat!” teriak pimpinan perampok bersuara serak sambil mengarahkan senapannya ke arah dua petugas polisi yang tersudut di balik pilar beton.
Petugas polisi yang kehabisan amunisi hanya bisa berlindung pasrah saat moncong senjata otomatis itu terarah tepat ke arah mereka.
“Matilah lo!” gelak perampok itu sambil menarik pelatuk.
Namun, sebelum peluru sempat meluncur...
THWIP!
Seutas jaring perak tebal meluncur deras dari kegelapan atap gedung setinggi lima puluh meter! Jaring itu menyambar senapan otomatis dari tangan pimpinan perampok dengan sentakan luar biasa kencang, melempar senjata itu hingga hancur menghantam dinding beton.
“APA-APAAN?!” jerit pimpinan perampok itu kaget setengah mati.
BAM!
Sebuah pendaratan dahsyat menghantam kap mesin mobil lapis baja perampok hingga amblas puluhan sentimeter!
Debu dan asap pecah mengudara. Dan saat asap itu menipis... seluruh petugas polisi dan kawanan perampok membeku di tempat melihat sosok yang berdiri tegak di atas mobil tersebut. Bukan lagi pemuda ber-hoodie hitam kusam.
Di atas mobil lapis baja itu, berdiri sesosok pelindung rahasia dengan kostum bodysuit berwarna gelap yang sangat elegan dan mengintimidasi. Bahan spandex-neoprene tebal membentuk lekuk tubuh atletisnya, garis tekstur silver menyala halus di pergelangan tangannya di bawah sorotan lampu sirine, dan topeng hitamnya membingkai iris mata cokelat yang berkilat penuh keteguhan murni. Ini adalah penampilan perdana Jake Sim secara penuh di hadapan publik dengan kostum buatan tangannya sendiri!
“Siapa lo?! Kostum hantu apaan nih?!” teriak salah satu perampok panik sambil mengarahkan pistoI ke arah Jake.
“Well... tamatlah riwayat loh abis ini,” Jake tanpa banyak basa-basi lagi melayangkan aksinya.
SREEEET!
Dengan kecepatan yang tak tertandingi oleh mata manusia, Jake melompat turun dari kap mesin!
THWIP! THWIP!
Dua tembakan jaring meluncur presisi, mengikat kedua tangan perampok pertama dan memutarnya ke belakang hingga senjata mereka terlepas. Jake mendarat di aspal, memutar tubuhnya dalam gerakan beladiri yang teramat mulus, lalu melayangkan tendangan memutar yang menghantam dada perampok kedua!
BUM!
Perampok berbadan besar itu terlempar lima meter ke belakang, menghantam dinding truk hingga pingsan seketika.
“Buka tembakan! Habisi dia!” teriak perampok lainnya histeris.
Tiga perampok tersisa memberondongkan peluru ke arah Jake. Namun, berkat lapisan bodysuit dan bahan neoprene fleksibel di tubuhnya, pergerakan Jake justru sepuluh kali lebih lincah! Dia melompat melintasi dinding gedung, memantul di udara bagai bayangan, menghindari setiap lintasan peluru dengan prediksi refleks Spidey-Sense-nya.
THWIP!
Jake menembakkan jaring ke tas-tas berisi uang hasil curian yang ada di atas truk, mencabutnya seketika, dan menyangkutkan puluhan tas bernilai miliaran rupiah itu ke pilar beton yang tinggi—aman dari jangkauan penjahat maupun kerusakan pertarungan.
“Uang kita!” jerit pimpinan perampok.
Jake mendarat tepat di depan pimpinan perampok itu. Dengan kombinasi kekuatan fisik berdaya super yang kini terkontrol penuh dan kelenturan kostum barunya, Jake melayangkan pukulan kombinasi cepat ke arah pelindung badan perampok tersebut.
BAM! BAM! BAAAM!
Tiga pukulan presisi menghancurkan rompi pelindung perampok itu tanpa melukai organ vitalnya secara mematikan. Jake lalu mencengkeram kerah bajunya, memutarnya di udara, dan mengikat seluruh kawanan perampok itu menggunakan pintalan jaring tebal yang mengikat mereka rapat ke tiang listrik utama persimpangan jalan!
Dalam waktu kurang dari lima menit, seluruh perampok bersenjata berat yang membuat kepolisian kewalahan itu telah lumpuh total, terikat rapi tak berdaya bagaikan tangkapan dalam sarang laba-laba raksasa.
Suara sirine polisi bantuan berdatangan dari berbagai sudut jalan, memancarkan sorotan lampu merah-biru yang menerangi kawasan persimpangan. Petugas keamanan yang tadi tersudut perlahan keluar dari balik pilar, menatap sosok bertopeng dengan kostum taktis itu dengan rasa takjub dan hormat yang mendalam.
“Siapa... siapa kamu sebenarnya?” bisik salah satu perwira polisi kagum.
Jake Sim berdiri tegap di tengah persimpangan, menatap tas-tas uang yang tersangkut aman di atas pilar, lalu menoleh sekilas ke arah kamera wartawan dan petugas polisi. Di balik topeng hitamnya, Jake menyunggingkan senyuman lega.
Dia tidak menjawab dengan nama. Dia tidak butuh ketenaran.
THWIP!
Jake menembakkan jaring terakhirnya ke puncak pencakar langit tertinggi, menyentak tubuhnya melayang membelah angin malam, dan menghilang di antara pendar awan kota—meninggalkan sebuah warisan baru tentang pahlawan bertopeng yang kini resmi menjadi pelindung abadi kota tersebut.
Setengah jam kemudian. Suara geseran pintu balkon apartemen Heeseung terdengar halus. Kamu yang dari tadi duduk gelisah di sofa langsung melonjak berdiri dan berlari menuju balkon.
Di sana, di bawah remang cahaya lampu luar, Jake sedang menarik turun topeng hitamnya. Kostum bodysuit-nya sedikit berdebu di bagian bahu, namun tidak ada satu pun luka di tubuhnya. Wajah tampannya yang segar menyunggingkan senyuman hangat begitu melihatmu berlari mendekatinya.
“Jake!” pekikmu lega, langsung menubrukkan tubuhmu ke dekapannya.
Jake membalas pelukanmu dengan teramat erat, menghirup aroma wangi rambutmu yang menenangkan seluruh sisa adrenalin di dalam darahnya.
“Uang banknya aman. Perampoknya udah ditangkap polisi,” bisik Jake pelan dan hangat di dekat telingamu. “Gue balik dengan selamat, (Y/N).”
Kamu melepaskan pelukanmu pelan, memandangi wajahnya yang jernih tanpa kacamata tebal, lalu tersenyum manis dengan mata berbinar haru.
“Gue bangga banget sama lo, Jake Sim,” katamu tulus.
Jake membalas senyumanmu dengan pendar kasih yang mendalam. Di ruang tengah apartemen Heeseung yang aman itu, di bawah pendar lampu yang hangat, tidak ada lagi ketakutan akan masa depan atau keraguan akan diri sendiri. Yang tersisa hanyalah dua insan yang saling memiliki, siap menyongsong esok hari bersama-sama sebagai sebuah tim yang takkan pernah terpisahkan.
Sisa adrenalin dari aksi penyergapan perampok bank tadi perlahan menguap, berganti menjadi hening yang teramat hangat di dalam ruang tengah apartemen Heeseung. Suara pendingin udara yang berdesis halus menyatu dengan hembusan angin malam dari balik pintu balkon yang masih terbuka sedikit.
Jake menarik napas panjang, menatapmu yang berdiri tepat di depannya. Kostum bodysuit yang masih melekat di tubuhnya memberikan aura ketegasan, namun tatapan mata cokelat tuanya saat memandangi wajahmu sepenuhnya dipenuhi kelembutan yang teramat polos.
Momen romantis yang beberapa jam lalu sempat terputus di atas atap gedung kini mendadak memanggil kembali.
“Makasih ya, (Y/N)...” bisik Jake dengan suara yang sangat rendah dan serak, menyatukan jemarinya yang hangat ke dalam sela-sela jemarimu. “Udah mau nungguin gue... dan percaya sama gue.”
Kamu menyunggingkan senyuman terhangatmu, mendongakkan kepala menatap matanya dari dekat. Jarak di antara kalian kembali terkikis secara alami, tertarik oleh gravitasi emosional yang selama ini mengendap di dalam dada kalian berdua.
“Gue bakal selalu nungguin lo, Jake Sim,” balasmu lembut.
Jake memiringkan kepalanya sedikit. Ibu jarinya mengusap lembut kulit pipimu yang merona hangat. Perlahan namun pasti, Jake memejamkan matanya, menunduk untuk menyatukan bibirnya dengan bibirmu...
Namun, tepat pada detik saat helaan napas kalian saling menyapu...
Bzzzt!
Sensasi Spidey-Sense di belakang kepala Jake bergetar halus—bukan sinyal bahaya mematikan, tapi sinyal peringatan akan pergerakan seseorang di balik pintu depan!
Klek! Bip-bip-bip-bip!
Suara tombol panel pintu digital berbunyi cepat dari arah koridor luar, disusul suara gagang pintu besi yang diputar kencang!
“Mas Heeseung!” bisikmu panik setengah mati.
Seketika itu juga, kalian berdua mendorong tubuh satu sama lain dan memisahkan diri secara kilat!
Jake melompat dua langkah mundur ke belakang sofa dengan gerakan yang terlalu kencang hingga hampir menyenggol lampu hias, sementara kamu berpura-pura sibuk dan panik merapikan tumpukan kertas laporan di atas meja kayu dengan gerakan yang amat sangat canggung.
Brak!
Pintu utama apartemen terdorong terbuka lebar.
Heeseung melangkah masuk sambil membawa tas laptop tebal di satu tangan dan selembar map dokumen berstempel dinas di tangan lainnya. Jas laboratorium putihnya yang agak kusut tersangkut di lengannya. Wajahnya yang biasa dingin dan penuh perhitungan malam ini tampak luar biasa segar, memancarkan pendar kelelahan yang berbaur dengan rasa puas yang tak tertahankan.
“Astaga... capek banget rapat sama jajaran direksi...” gumam Heeseung sambil menutup pintu pakai tumit kakinya.
Dia lalu mendongak dan memandangi kalian berdua yang berdiri kaku di tengah ruangan dengan napas yang agak terengah-engah dan wajah yang sama-sama memerah padam. Heeseung memicingkan matanya curiga, menatap Jake yang berdiri kaku berselimut bodysuit di sebelah sofa, lalu melirikmu yang memegang tumpukan kertas terbalik.
“Kalian berdua... kenapa mukanya merah begitu?” tanya Heeseung sambil menaikkan sebelah alisnya, melangkah mendekati meja kerja. “Abis ngapain? Jangan bilang kalian berdua abis berantem gara-gara tugas?”
“E-enggak, Mas! Enggak ada yang berantem kok!” potongmu terburu-buru dengan nada suara yang agak melengking, buru-buru membalikkan kertas di tanganmu ke posisi yang benar. “Ini... kita lagi... lagi ngetes kelenturan kostum baru Jake! Iya, kan, Jake?!”
“I-iya, Mas Heeseung!” sahut Jake cepat, mengangguk-angguk canggung seperti anak ayam. Tangannya refleks mengusap leher belakangnya yang terasa super hangat. “Bahan neoprene-nya... agak bikin gerah.”
Heeseung menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh pelan, tidak berniat memperpanjang kecurigaannya karena ada hal yang jauh lebih penting dan raksasa yang dibawanya malam ini. Heeseung membanting map dokumen tebal di atas meja kayu dengan dentuman mantap.
“Lupakan soal gerah,” kata Heeseung, raut wajahnya mendadak berubah sangat serius dan penuh pendar kemenangan yang membuncah. “Mas punya berita luar biasa besar buat lo, Jake.”
Kamu dan Jake langsung saling berpandangan seketika, mengesampingkan rasa salah tingkah kalian. Kamu mendekat ke meja, sementara Jake melangkah maju dengan raut wajah yang penuh rasa ingin tahu.
“Berita apa, Mas Heeseung?” tanya Jake.
Heeseung membuka map dokumen berstempel dinas itu di depan kalian. Di dalamnya tertera lembaran hasil sintesis darah, struktur pemetaan kromosom, dan grafik simulasi pembelahan sel berlabel SPESIMEN A-09.
“Rapat darurat Mas sama tim ahli analisis genetika laboratorium pusat tadi malam...” Heeseung menunjuk salah satu grafik rantai DNA yang saling mengunci rapat. “...akhirnya tuntas. Mas berhasil menyelinapkan sampel darah lo yang udah Mas samarkan kodenya ke dalam pemodelan kalkulasi superkomputer laboratorium.”
Heeseung menatap Jake lurus-lurus di balik kacamatanya, menyunggingkan senyuman lebar yang sangat jarang dia perlihatkan.
“Hasilnya... mutasi genetik di tubuh lo resmi dinyatakan STABIL TOTAL,” ujar Heeseung lantang.
Kata-kata itu bergema di dalam ruang tengah yang hening.
Kamu membelalakkan mata kaget. “Maksudnya stabil total gimana, Mas?!”
“Maksudnya...” Heeseung mengetuk lembar grafik tersebut dengan jarinya. “...enzim dan protein racun laba-laba A-09 itu udah menyatu seratus persen dengan rantai DNA asli Jake. Mutasi ini bukan infeksi atau sel kanker yang bakal merusak organ dalam lo secara perlahan. Tubuh lo udah mengadaptasi genetik itu sebagai struktur biologi baru lo secara permanen. Lo enggak bakal mengalami degradasi sel, lo enggak bakal menderita kelumpuhan organ, dan lo enggak bakal mati gara-gara mutasi ini!”
Mendengar penjelasan ilmiah yang teramat melegakan itu, napas Jake tertahan di tenggorokan. Rasa cemas dan ketakutan tersembunyi yang selama tiga bulan ini mengikat dasar jiwanya—bayangan bahwa tubuhnya akan hancur atau sekarat secara perlahan—seketika meleleh habis tanpa sisa.
“Beneran... Mas Heeseung?” bisik Jake, suaranya gemetar oleh rasa haru yang luar biasa besar. “Tubuh saya... bener-bener aman?”
“Aman seratus persen,” jawab Heeseung mantap. “Formula suplemen protein dan madu yang kita terapkan selama beberapa pekan terakhir ini terbukti berhasil memicu regenerasi seluler sempurna setiap kali lo kehabisan energi. Fisik lo sekarang sepuluh kali lebih tangguh dari manusia biasa.”
“Gila... oh my God!” kamu berteriak gembira tanpa sanggup menahannya lagi.
Tanpa peduli ada Heeseung yang berdiri di depan meja, kamu refleks melompat dan merangkul leher Jake dengan teramat erat!
“Jake! Denger kan?! Lo aman! Lo baik-baik aja!” serumu penuh kebahagiaan dengan mata yang berkaca-kaca.
Jake yang terpaku haru membalas pelukanmu tak kalah erat, melingkarkan kedua tangannya di pinggangmu dan menyembunyikan senyuman paling lega dan paling bahagia dalam hidupnya di ceruk bahumu. Heeseung yang menyaksikan pemandangan hangat itu cuma bisa tersenyum tipis, menggeleng-gelengkan kepala sambil bersedekah tangan. Namun, raut wajah profesionalnya kembali mengeras, mengingatkan mereka pada realitas yang sebenarnya.
“Tapi ingat, Jake...” Heeseung memotong hening gembira itu, membuat kalian melepaskan pelukan pelan-pelan. “...ini bukan alasan buat lo bisa bersikap ceroboh.”
Jake merapikan posisi berdiri dan menatap Heeseung dengan serius. “Maksud Mas Heeseung?”
“Secara biologis, tubuh lo memang aman dan stabil,” jelas Heeseung dengan suara yang tegas dan penuh penekanan. “Tapi secara sosial dan keamanan... lo harus tetap ekstra waspada. Aksi lo di luar sana sebagai pahlawan bertopeng pasti bakal bikin banyak pihak penasaran—mulai dari media, kepolisian, sampai institusi riset lain. Sekali aja identitas asli lo sebagai Jake Sim terbongkar... keselamatan lo dan (Y/N) bakal dipertaruhkan.”
Heeseung menepuk bahu kokoh Jake dengan mantap dan hangat. “Tetap pakai topeng lo. Tetap jaga rahasia ini rapat-rapat. Dan ingat... lo punya gue sama (Y/N) yang bakal selalu jadi benteng pelindung lo di balik layar.”
Jake menatap Heeseung, lalu berpaling menatapmu yang tersenyum manis penuh rasa percaya di sampingnya. Rasa dingin dan kesepian dari masa lalunya kini telah berganti menjadi sebuah kehangatan yang abadi. Jake menyunggingkan senyuman tulusnya yang teramat tampan, mengangguk mantap dengan pendar tekad murni yang berkilat di matanya.
“Siap, Mas Heeseung,” kata Jake dengan suara mantap. “Saya bakal selalu waspada dan menjaga kepercayaan ini.”
Malam itu, di dalam apartemen Heeseung yang hangat dan aman, tidak ada lagi bayangan ketakutan akan mutasi atau ancaman masa depan. Di balik benang-benang kostum rahasia dan jalinan kasih yang tak terpisahkan, Jake Sim telah menemukan takdir dan rumah terindahnya—bersamamu dan tim kecil yang siap menyongsong esok hari dengan keberanian yang tak pernah padam.
JANGAN LUPA TINGGALKAN KOMENTAR YA





Bener² yah gangguan tuh pst selalu ada aja pas momen mau beromantis😒
Bener² yah gangguan tuh pst selalu ada aja pas momen mau beromantis😒