kalo dirasa kalian udah mulai ke trigger sama part ini bisa langsung skip or drop aja ya?
🔥
Keheningan yang membentang di dalam kamar utama lantai dua itu terasa jauh lebih mencekam daripada gemuruh badai di luar dinding kaca. Suara perapian yang berderak pelan menjadi satu-satunya ritme yang tersisa, beradu dengan suara isak tangis yang tertahan dan napas yang pecah tak beraturan.
Riki masih mematung di tempatnya.
Pria itu berdiri tegak tanpa sehelai benang pun, tubuh tegapnya bermandikan cahaya jingga temaram yang menonjolkan setiap lekuk otot dan urat yang masih menegang. Bekas tamparan di pipi kirinya perlahan berubah menjadi rona merah pekat, membakar kulitnya dengan rasa perih yang nyata. Namun tatapan matanya kosong, terkunci ke satu titik di lantai marmer dingin. Kilasan memori sepuluh tahun silam—kenangan kelam yang terkubur di bawah tumpukan dendam dan obsesi—telah menghantam kesadarannya begitu telak hingga melumpuhkan seluruh arogansi dan dominasi yang baru saja ia agungkan. Kejantanannya masih mengeras, berkedut basah oleh sisa-sisa penyatuan liar mereka, namun jiwanya seolah terlempar jauh dari ruangan itu.
Di hadapannya, di tepian kasur berseprai sutra yang kusut masai, kamu meringkuk seperti mangsa yang baru saja dicabik-cabik.
Kedua lututmu kamu tarik rapat ke arah dada, kedua tanganmu yang gemetar hebat mendekap erat tubuhmu sendiri dalam usaha putus asa untuk melindungi sisa-sisa kehormatan yang telah dilucuti. Setiap jengkal kulit putihmu bernoda merah—jejak gigitan tajam di ceruk leher, bekas remasan jari yang mencetak biru keunguan di pinggang dan pangkal paha, hingga ruam panas di belahan bokong akibat hantaman tangannya yang kejam. Cairan pelepasan yang belum sempat mengering mengalir lambat di sela paha bagian dalammu, menyengat perih setiap kali kulitmu bergesekan.
Rasa sakit fisik itu nyata dan menghancurkan, tetapi rasa hancur di dalam dadamu jauh lebih mengerikan. Air mata terus mengalir deras, membasahi pipi, dagu, hingga menetes ke atas seprai abu-abu. Dadamu naik turun tak beraturan, sesak oleh tangisan yang perlahan bertransformasi menjadi amarah murni yang membakar ujung lidahmu.
“Puas lo?!” suaramu meledak lagi, parau dan bergetar hebat di tengah isakan yang memilukan.
“Puas lo liat gue hancur kayak gini, Riki?! Hah?!”
Kamu mengangkat wajahmu yang basah, menatap pria yang masih bergeming itu dengan tatapan penuh kebencian yang menusuk.
“Lo pikir lo siapa?! Lo pikir dengan uang, kekuasaan, dan nama besar keluarga lo, lo bisa beli manusia dan bikin orang lain jadi budak pemuas nafsu sinting lo?!”
Napasmu tercekat, kamu terbatuk kecil menahan rasa kering di tenggorokan, namun kamu menolak untuk berhenti. Semua luka, kemarahan, rasa frustrasi, dan keputusasaan yang kamu pendam sejak pertama kali terperangkap dalam lingkaran industri ini tumpah ruah tanpa sisa.
“Dari awal lo udah jebak gue! Lo pake ciuman sepuluh detik murahan di lorong studio itu buat ngancurin reputasi gue, buat maksa gue tanda tangan kontrak kerja sama gila ini! Gue pikir lo cuma arogan, gue pikir lo cuma partner main brengsek yang haus kontrol... tapi ternyata lo monster, Riki! Lo bener-bener sakit jiwa!”
Kamu mencengkeram kain seprai di sampingmu hingga buku-buku jarimu memutih sempurna, menatapnya dengan tatapan jijik.
“Gue ini rekan kerja lo! Di atas kertas, ada batasan profesional yang harus lo hormati! Gue capek, Riki! Badan gue udah mati rasa, gue udah hampir pingsan di bawah lo LAGI! gue udah mohon-mohon buat dikasih napas... tapi lo sama sekali nggak punya hati nurani! Lo perlakukan gue lebih rendah dari binatang! Lo terus maksa, lo terus ngehujam tanpa peduli gue kesakitan atau nggak!”
Suaramu meninggi, bergaung nyaring memantul di permukaan cermin meja rias yang masih merekam sisa-sisa kehancuranmu.
“Dan lo pasang kamera tersembunyi?!” Sebuah tawa getir yang pecah oleh tangis meluncur dari bibirmu. “Lo rekam semua ini buat apa?! Buat ngancam gue biar gue nggak bisa lari?! Biar gue tunduk seumur hidup di bawah telapak kaki lo?! Pengecut lo, Riki! Pria paling pengecut yang pernah gue temui seumur hidup gue!”
Isak tangismu kian deras, tubuhmu berguncang hebat di balik pelukan tanganmu sendiri. Rasa perih di pangkal paha dan denyutan di pelipismu terasa semakin menyiksa.
“Sepuluh tahun lalu... lo bilang lo nyari gue sepuluh tahun lalu?” rintihmu dengan nada getir yang meremukkan hati. “Gue bahkan nggak kenal siapa lo! Gue nggak punya ingatan apa pun tentang lo! Mau lo tersiksa, mau lo kehilangan apa pun di masa lalu lo, itu bukan urusan gue! Kenapa gue yang harus bayar semua obsesi gila lo?! Kenapa harus tubuh gue yang lo porak-porandakan buat bayar rasa lapar lo yang nggak masuk akal itu?!”
Kamu menundukkan kepala, membenamkan wajahmu di antara kedua lutut yang basah oleh keringat dan air mata, menangis sejadi-jadinya hingga bahumu bergetar kencang.
“Gue benci lo...” bisikmu parau di antara isakan panjang yang tak kunjung reda. “Gue benci lo sampai ke dasar tulang gue, Riki. Dan sampai kapan pun, sekalipun lo kurung gue di tempat ini, lo nggak bakal pernah dapetin apa pun dari gue selain rasa benci yang makin dalam setiap harinya.”
Di tengah badai makian dan tangisan yang merobek kesunyian kamar itu, Riki tetap tidak bergerak. Bayangan masa lalu yang terpicu oleh tamparanmu masih menari-nari di balik pupil matanya yang pekat, menciptakan retakan tak terlihat di balik topeng dingin yang selama ini ia kenakan.
[AUTHOR POV]
Sebelas tahun lalu, jauh sebelum nama Nishimura Riki menjadi momok yang ditakuti di balik gemerlap industri hiburan, hubungan mereka berdiri di atas fondasi yang rapuh namun intim.
Mereka tumbuh bersama di balik tembok tinggi paviliun tua keluarga Nishimura. Bagi orang luar, Riki adalah pewaris tunggal yang dingin, pendiam, dan memiliki tatapan mata yang sulit ditebak. Namun bagi (Y/N), laki-laki yang usianya terpaut sedikit lebih tua darinya itu adalah teman berbagi segalanya—tempat ia menceritakan mimpi-mimpi kecil, menyembunyikan luka, dan menghabiskan sore di antara tumpukan buku tua.
Sifat Riki saat itu sejatinya tidak jauh berbeda dengan hari ini: posesif, penuh perhitungan, dan memiliki kecenderungan mengontrol apa pun yang dianggapnya berharga. Hanya saja, di usia remaja, kegelapan itu masih terbungkus rapi di balik kedok perlindungan seorang teman dekat.
Hingga malam kelam itu tiba.
Hujan lebat mengguyur halaman belakang paviliun tua keluarga Nishimura tanpa ampun. Di bawah temaram lampu taman yang berkedip sekarat, Riki berdiri mematung di hadapan gadis kecil bergaun putih yang kuyup oleh air hujan. Gaun itu koyak di bagian dada, dan kain celana dalamnya terkoyak menyisakan rembesan darah segar yang luntur tersapu air hujan di atas bebatuan dingin. Napas keduanya memburu di tengah udara malam yang membekukan, dipisahkan oleh pecahan kaca jendela dan sebuah rahasia berbahaya yang baru saja Riki hancurkan demi mengunci gadis itu agar tidak pernah melangkah keluar dari gerbang besi.
Demi mempertahankan keberadaan (Y/N) di sisinya, demi memotong rencana keluarga gadis itu yang berniat membawanya pergi jauh ke luar negeri, Riki telah melintasi batas yang tak termaafkan. Ia merancang skenario keji yang memusnahkan seluruh jalan keluar bagi (Y/N), mengorbankan kepolosan dan rasa aman gadis itu hanya untuk membuktikan bahwa di dunia ini, tidak ada tempat berlindung selain di bawah kuasanya.
(Y/N) menatap Riki dengan binar mata yang hancur. Rasa percaya yang telah mereka bangun sejak masa kanak-kanak luluh lantak dalam satu malam ketika ia menyadari sejauh apa Riki rela melangkah demi memanipulasi takdirnya.
PLAK!
Sebuah tamparan telak mendarat di pipi kiri Riki. Sudut hantamannya, getaran jemari kecil yang dingin itu, hingga tatapan kebencian murni yang terpancar dari manik basahnya menghantam Riki tepat di ulu hati.
“Gue benci lo, Riki! Jangan pernah berani muncul lagi di depan gue!”
Teriakan itu menjadi kalimat terakhir yang didengar Riki sebelum sirine pengawal keluarga memecah keheningan malam, menyeret paksa (Y/N) menjauh dari kehidupannya.
Beberapa hari setelah malam terkutuk itu, sebuah insiden tragis menyusul—kecelakaan beruntun berdarah yang merenggut nyawa kedua orang tua (Y/N). Gadis itu selamat secara fisik, namun trauma hebat dan benturan keras menghapus total seluruh masa lalunya di bawah kabut amnesia disosiatif. Nama (Y/N) lenyap dari seluruh catatan sipil, dihapus oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dan sosoknya ditelan bumi seolah tidak pernah ada.
Sejak hari itu, kehidupan Riki berubah menjadi neraka obsesi.
Selama sepuluh tahun berikutnya, Riki bergerak bagai orang gila. Ia menolak percaya bahwa gadis itu telah tiada. Ia mengerahkan seluruh koneksi gelap, menyusup ke database rahasia, menggelontorkan dana tak terbatas, dan menyisir setiap sudut kota tanpa henti. Di balik pertumbuhannya menjadi pria dewasa yang kejam dan diperhitungkan, hanya ada satu tujuan tunggal yang menjaga kewarasannya tetap utuh: menemukan kembali gadis kecil yang pernah menamparnya di bawah hujan.
Pencarian tanpa akhir itu akhirnya bermuara pada kenyataan pahit setahun lalu.
Riki menemukan jejak (Y/N) di tempat yang paling tidak ia duga—terjebak di dalam pusaran industri hiburan yang kotor, bernaung di bawah agensi milik Jake, dan menjalani hidup baru tanpa sedikit pun mengingat siapa dirinya. Gadis itu menatapnya sebagai orang asing, bahkan membencinya sejak pertemuan pertama akibat jebakan manipulatif yang sengaja Riki tebar di studio.
Kini, berdiri di kamar utama yang temaram dengan pipi kiri yang kembali berdenyut perih akibat tamparan dari tangan yang sama persis, bayangan masa lalu itu berputar bagai kaset rusak di kepala Riki.
Sepuluh tahun pencarian berdarah telah membawanya kembali ke titik awal bahwa gadis itu tetap membencinya dengan intensitas yang sama persis seperti malam di bawah hujan sebelas tahun lalu.
[POV YOU]
Kelelahan fisik dan mental yang menumpuk hingga melampaui batas ketahanan manusia akhirnya merenggut sisa-sisa kesadaranmu. Di atas seprai sutra abu-abu yang dingin dan basah oleh peluh serta cairan pelepasan, tubuhmu lunglai tanpa daya. Isak tangis yang tadi meraung perlahan melemah menjadi tarikan napas pendek yang patah-patah, sebelum akhirnya kepalamu terkulai ke samping, menatap nanar lantai marmer yang temaram. Pandangan matamu mengabur, menggelap perlahan, dan seluruh kebisingan dunia lenyap ditelan kehampaan total. Tubuhmu jatuh pingsan, sepenuhnya menyerah pada rasa sakit dan trauma yang menghantam bertubi-tubi.
Riki masih berdiri di tempatnya. Hawa dingin dari pendingin ruangan perlahan menyapu permukaan kulit polosnya yang basah oleh keringat. Pria itu menatap tubuh kecil yang kini tak berkutik di tepi ranjang. Pipi kirinya masih berdenyut perih—sensasi panas yang membangkitkan bayangan sebelas tahun silam dengan kejelasan yang mengerikan. Bayangan gadis kecil bergaun putih koyak di bawah derasnya hujan malam itu tumpang tindih dengan sosok tak berdaya yang tergeletak di hadapannya sekarang.
Tanpa sepatah kata pun, Riki melangkah mendekat. Tatapan matanya yang tadi membakar penuh nafsu dan amarah kini meredup, menyisakan kekosongan yang gelap dan sulit dibaca. Ia meraih selimut tebal berbahan beludru hitam dari ujung tempat tidur, lalu menyelimuti tubuhmu yang penuh dengan ruam kemerahan, lebam keunguan, dan bekas cengkeraman tangannya. Ia merapikan ujung selimut itu hingga menutupi lehermu yang berhias jejak gigitan tajam.
Setelah memastikan tubuhmu tertutup rapat, Riki berbalik menuju kamar mandi. Suara gemericik air pancuran terdengar selama beberapa menit, membasuh sisa-sisa keringat, cairan pelepasan, dan aroma gairah yang pekat dari kulitnya. Ketika ia keluar, Riki telah mengenakan jubah tidur sutra hitam panjang yang terikat longgar di pinggangnya, memperlihatkan sebagian dada bidangnya yang masih lembap.
Riki melangkah ke sudut meja rias mahoni yang sebelumnya menjadi saksi bisu kekacauan mereka. Dari laci tersembunyi di bawah cermin, ia mengambil sebuah perangkat pengendali kecil dan menonaktifkan seluruh sistem kamera tersembunyi yang terpasang di sudut-sudut kamar. Layar indikator merah padam seketika. Ia lalu mengambil ponsel pintarnya dari atas nakas dan menekan satu panggilan cepat.
“Dateng ke Villa dan naik ke kamar utama. Sekarang,” titah Riki dingin sebelum memutus sambungan secara sepihak.
Beberapa jam kemudian, pintu kamar tidur ganda diketuk dua kali secara teratur. Pintu terbuka perlahan, menampakkan sosok Jake yang melangkah masuk dengan setelan kemeja hitam tanpa dasi dan mantel panjang yang sedikit berantakan. Wajah Jake tampak tegang, sorot matanya yang tajam langsung menyapu sekeliling ruangan—mencatat aroma pekat yang masih tertinggal di udara, seprai yang berantakan, serta sosokmu yang meringkuk tak sadarkan diri di balik selimut tebal.
Jake mengerutkan kening dalam-dalam. Ia tidak tahu secara persis apa yang baru saja terjadi di dalam kamar ini, tetapi kondisi fisikmu yang tampak seperti habis dihancurkan memicu tanda tanya besar di benaknya. Jake melangkah mendekati sisi ranjang, memperhatikan wajah pucatmu yang dipenuhi sisa air mata yang mengering dan bibir yang sedikit bengkak.
“Ada apa ini, Riki?” suara Jake terdengar berat dan sarat tuntutan. “Gue pikir rekaman untuk VOD episode eksklusif kedua malam ini bakal berjalan lancar sampai tuntas. Kenapa dia pingsan lagi? Lo apain dia?”
Riki bersandar santai di tepi meja rias mahoni, menyalakan sebatang rokok beraroma cengkeh dan menghembuskan asap tipisnya ke udara. Tatapannya menatap Jake tanpa emosi, dingin dan tak tersentuh.
“Rekaman VOD episode berikutnya untuk platform eksklusif harus ditunda,” jawab Riki datar, suaranya tenang namun memiliki ketegasan mutlak yang tidak dapat diganggu gugat. “Semua proses produksi sementara gue berhentikan sampai waktu yang belum ditentukan.”
Mendengar keputusan mendadak itu, rahang Jake mengeras. Rentetan pertanyaan dan kalkulasi bisnis langsung berputar cepat di dalam kepalanya. Bagi Jake, proyek kolaborasi gelap ini adalah tiket emasnya. Di kepalanya, satu-satunya hal yang paling ia inginkan adalah agar seluruh kontrak ini cepat selesai, episode-episode panas itu rampung diproduksi, dan dana segar ratusan juta yang dijanjikan Riki segera ditransfer penuh ke rekening perusahaannya. Setiap penundaan berarti risiko baru, ancaman kebocoran, dan tertahannya arus kas yang sangat ia butuhkan untuk membebaskan diri dari jeratan utang industri.
“Lo gila?” Jake melangkah maju satu langkah, menatap Riki tajam dengan mata menyipit. “Kita udah punya jadwal rilis yang ketat, Riki. Investor di platform bawah tanah udah nunggu hasil rekaman eksklusif ini. Lo bayar gue buat bawa dia ke sini, lo udah ambil hak lo di depan kamera, dan sekarang lo mau berhenti cuma karena dia pingsan? Dia cuma kecapean. Kasih dia obat penguat atau istirahat satu jam, terus kita lanjutin rekamannya. Gue butuh transaksi ini selesai secepatnya!”
Riki mendengus pelan, sebuah senyum tipis tanpa kehangatan terbit di sudut bibirnya. Ia menurunkan rokok dari bibirnya, lalu menatap Jake lurus ke dalam pupil matanya. Dominasi aura Riki seketika menekan ruang di antara mereka.
“Gue yang megang kendali di proyek ini, Jake. Bukan lo, bukan investor lo, apalagi agensi sialan lo itu,” ucap Riki dengan intonasi rendah yang berbahaya. “Uang yang gue janjikan nggak bakal ke mana-mana. Lo bakal dapet setiap sen yang tertulis di kontrak begitu semua rencana gue selesai. Tapi untuk sekarang... keputusan gue mutlak. Rekaman berhenti.”
Jake mengepalkan kedua tangannya di dalam saku mantel. Ia tahu betul siapa yang sedang ia hadapi. Melawan Nishimura Riki secara terbuka di wilayah kekuasaannya sama saja dengan bunuh diri finansial dan profesional. Sekalipun ada dorongan aneh di dalam dadanya melihat perempuan yang selama ini ia anggap sebagai aset paling berharga—sekaligus seseorang yang pernah ia klaim secara privat—terkapar tak berdaya, ambisi materi Jake tetap mendominasi logikanya.
“Berapa lama?” tanya Jake akhirnya, berusaha mengendalikan nada bicaranya agar tetap terdengar profesional di tengah rasa frustrasinya.
Riki melirik ke arah tempat tidur, menatap lekuk tubuhmu yang tersembunyi di balik selimut tebal, sebelum kembali menatap Jake.
“Sampai dia pulih total,” jawab Riki dingin. “Bawa dia keluar dari vila ini malam ini juga. Bawa dia balik ke apartemen privat agensi lo. Rawat dia sampai sembuh total, pastikan fisiknya kembali prima tanpa ada bekas luka yang tersisa, dan jangan sampai ada pihak luar yang tahu soal kondisi dia sekarang.”
Riki mematikan puntung rokoknya di asbak kaca di atas meja rias, lalu menatap Jake dengan sorot mata yang penuh peringatan tersembunyi.
“Gue bakal panggil lo lagi kalau waktunya udah tepat. Sampai saat itu tiba, jaga dia baik-baik. Jangan biarkan siapa pun menyentuh dia selain atas perintah gue. Paham?”
Jake menelan ludah, merasakan bobot intimidasi yang tak kasat mata dari pria yang lebih muda darinya itu. Ia melirikmu sekali lagi, menyadari bahwa permainan kotor yang mereka masuki ini jauh lebih dalam dan rumit daripada sekadar transaksi video dewasa biasa.
“Gue paham,” jawab Jake singkat dan dingin.
Jake membungkuk di tepi ranjang, merengkuh tubuh lemasmu yang masih terbungkus selimut ke dalam gendongannya. Kamu tidak bergeming sedikit pun, kepalamu terkulai di dada Jake dalam ketidaksadaran yang pekat. Dengan langkah tergesa, Jake membawa tubuhmu melangkah keluar dari kamar tidur utama, meninggalkan Riki yang berdiri sendirian di tengah keheningan ruangan yang temaram, membiarkan rahasia sepuluh tahun silam tetap terkunci rapat di balik dinding-dinding dingin vila tersebut.
TO BE CONTINUED
sejauh ini cukup lega lah ya karena udh tau hubungan mereka bertiga apa?





Tuh kan bener, apa di 10 tahun lalu ditengah hujan itu y/n di perkaos ni-ki secara paksa kah ?
Sumpah aku merasa perjalanan cerita kali ini bener2 bakal panjang kaya 'halo dek' karena ini baru awalan doang belum ke tengah dan akhir. Semangat kak mici
omgg ga espek masa lalu nya, sama sekali ga kepikir sampe sana waktu baca akskskskk mantep sihh kakk semangat terus kakk micii wupyouu🫰🫶🫶