Pameran seni kampus itu ramai, tapi langkahmu gontai melewati deretan instalasi dan lukisan. Sampai di sebuah sudut yang lebih tenang, matamu menangkap sosok pria dengan kamera mirrorless mahal yang tergantung di lehernya. Jake.
Dia dikenal sebagai fotografer jenius yang “dingin” dan kabarnya impoten, tapi sejak malam itu, auranya berubah. Dia terlihat seperti pemburu yang kehilangan jejak mangsanya. Kamu memberanikan diri mendekat. Jake sedang menyendiri, jempolnya bergerak cepat menekan tombol preview di kameranya.
Kamu melirik layar kecil itu. Jantungmu hampir copot. Itu foto kamu. Foto kamu yang sedang berantakan, mungkin diambil secara candid saat kamu mencoba kabur tempo hari. Wajahmu memang agak blur, tapi lekuk tubuhmu tak terbantahkan.
“Hasil fotonya bagus,” ucapmu santai, mencoba menetralisir suasana.
Jake tersentak. Dia menoleh cepat, matanya yang biasanya ramah kini berkilat tajam. Dia menatapmu lama, dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah sedang mencocokkan setiap inci tubuhmu dengan foto di kameranya.
“Lo...” suara Jake tertahan di tenggorokan.
“Hai, Jake. Sori ya soal malam itu gue tiba-tiba ngilang,” kamu tersenyum tipis, mencoba terlihat sealami mungkin meski adrenalinmu berpacu. “Gue ada urusan mendadak banget.”
Seketika, memory fog yang menutupi ingatan Jake seolah tersapu angin. Matanya melebar. Ingatan tentang bagaimana dia “menggunakanmu” untuk membuktikan bahwa dia masih seorang pria kembali menghantamnya. Wajahmu yang tadinya buram di otaknya kini menjadi sangat jernih.
“Gue nggak salah liat, kan?” Jake melangkah maju, suaranya merendah. “Lo beneran cewek itu. Lo nyata, (Y/N). Gue kirain gue cuma halusinasi gara-gara terlalu lama nggak ‘main’.”
Kamu belum sempat menjawab saat matamu menangkap sebuah pintu kayu besar di ujung koridor yang tiba-tiba terbuka sedikit. Tanpa pikir panjang, kamu menarik lengan Jake. “Ikut gue bentar, ada yang mau gue tunjukin.”
Jake yang masih dalam kondisi shock menurut saja saat kamu menariknya masuk ke dalam ruangan luas yang berbau cat minyak dan tinner. Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi cahaya dari jendela atas.
Di tengah ruangan, ada seorang pria yang membelakangi kalian. Dia sedang mengayunkan kuasnya dengan gerakan yang sangat emosional pada sebuah kanvas raksasa yang masih basah. Itu Sunoo.
Langkahmu dan Jake terhenti seketika. Jake mematung, matanya tertuju pada lukisan itu. Di sana, tergambar seorang perempuan dengan wajah yang tertutup rambut, tapi detail pahanya... ada goresan merah yang sengaja dibuat dengan cat—persis seperti bekas yang ditinggalkan Sunoo di malam penaklukannya.
Jake mengepalkan tangan. Dia tahu persis itu kamu. Bukan karena wajahnya, tapi karena aura dan “rasa” yang terpancar dari lukisan itu sama dengan foto yang dia simpan di kameranya.
“Sunoo?” panggilmu pelan, suaramu menggema di studio yang sunyi itu.
Gerakan kuas Sunoo berhenti. Dia terdiam sejenak, bahunya menegang. Dia perlahan berbalik, matanya yang sipit dan indah itu menatapmu dan Jake yang berdiri berdampingan. Sunoo sempat kaget, tapi matanya langsung terkunci pada lekuk tubuhmu. Dia hafal setiap inci dari dirimu, meski namanya belum dia tahu.
“Sunoo, ini gue...”
Begitu kamu memanggil namanya, memory fog di otak Sunoo hancur berkeping-keping. Bayangan “wanita misterius” yang dia lukis dengan obsesif setiap malam kini berdiri tegak di depannya, tepat di sebelah pria lain yang membawa kamera.
Sunoo meletakkan kuasnya perlahan, lalu tersenyum—senyum manis yang selalu terlihat murni tapi sebenarnya sangat manipulatif.
“Wah... lihat siapa yang mampir ke studio gue,” gumam Sunoo sambil menatapmu, lalu beralih menatap Jake dengan tatapan meremehkan. “Dan lo bawa ‘fotografer’ juga? Kayaknya pameran ini bakal jadi jauh lebih seru dari yang gue bayangin.”
Jake maju selangkah, menaruh kameranya di meja dengan kasar. “Gue nggak tau siapa lo, tapi jelasin ke gue... kenapa lo ngelukis cewek gue dengan kondisi kayak gitu?”
Suasana di studio mendadak menjadi sangat dingin. Dua pria dengan obsesi yang sama kini saling berhadapan, dan kamu berdiri di tengah-tengah mereka—sebagai pemicu ledakan yang tidak bisa dihentikan lagi.
[SYSTEM NOTIFICATION]
Double Trap Activated. The collision of the ‘Sweet Ones’ has begun.
Sunoo terkekeh sinis, suaranya yang merdu mendadak terdengar seperti gesekan pisau di atas kaca. Dia meletakkan palet catnya dengan gerakan elegan yang sengaja dibuat-buat, lalu menatap Jake dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan tatapan meremehkan.
“Cewek lo? Maksud lo... objek gue?” Sunoo menekankan kata ‘objek’ seolah kamu hanyalah benda mati yang kebetulan bernapas.
Meskipun mereka nggak saling kenal, udara di studio itu mendadak jadi berat. Ada aura persaingan yang kental banget, yang satu fotografer dengan mata yang tajam mencari detail, yang satu pelukis dengan imajinasi liar yang manipulatif. Keduanya sama-sama haus akan validasi bahwa merekalah yang paling “memilikimu”.
Sunoo beralih menatapmu, senyum manisnya muncul tapi matanya tetap dingin. “Gue rasa objek gue ini udah ngerayu banyak orang berbahaya, ya? Lihat deh, dia bahkan bawa ‘pengawal’ ke sini.”
“Kayaknya emang begitu?” jawabmu tanpa dosa, menantang maut dengan nada santai yang bikin adrenalin mereka makin terpacu.
Jake tiba-tiba menyeringai. Wajahnya yang biasanya terlihat hangat dan ramah sebagai fotografer profesional seketika berubah. Ada kilatan kegilaan yang sama dengan yang kamu lihat malam itu. Dia berjalan pelan, langkahnya mantap menuju pintu studio kayu yang berat, lalu... CKLEK.
Dia mengunci pintunya.
Kamu mematung di tengah ruangan. Tubuhmu rasanya mendadak kaku, entah karena kelelahan fisik yang belum hilang dari “serangan” Heeseung tadi subuh, atau karena tatapan kedua pria ini benar-benar mengunci pergerakanmu. Mereka menatapmu persis seperti dua ekor predator yang baru saja menyudutkan mangsa di satu gua yang sama. Tidak ada jalan keluar.
Tiba-tiba Jake menceletuk dengan nada santai tapi mematikan, “Kalo emang dia objek lo yang juga lo cari berhari-hari... kenapa kita nggak duet aja buat naklukin dia sama-sama di sini?”
Ide gila itu meluncur begitu saja dari mulut Jake, dan bukannya marah karena harus “berbagi”, insting berburu Sunoo justru langsung aktif. Dia melihat ini sebagai sebuah eksperimen seni yang menarik.
“Duet, ya?” Sunoo menggumam, dia mulai melangkah mendekat ke arahmu dari depan. “Fotografi dan lukisan... digabung dalam satu ‘kanvas’ yang nyata. Menarik juga.”
Jake sudah berada di belakangmu, tangannya yang kuat melingkar di pinggangmu, mengunci pergerakanmu agar tetap berdiri tegak. Sementara Sunoo sudah berdiri tepat di depanmu, jemarinya yang masih bercak cat minyak menyentuh dagumu, memaksamu untuk mendongak.
Kamu merasa inilah saatnya. Kamu harus memicu ledakan di antara mereka sebelum mereka benar-benar menghancurkanmu. Kamu menatap Sunoo, lalu melirik Jake lewat bahumu, memberikan senyum provokatif yang paling berbahaya yang pernah kamu buat.
“Cuma gitu aja?” bisikmu menantang. “Gue kira kalian lebih hebat dari ini. Jangan sampai kalian malah berantem sendiri pas lagi ‘eksperimen’ di atas tubuh gue.”
Tepat saat itu, ponsel di saku rokmu bergetar hebat. Sebuah notifikasi pop-up muncul di layar yang terkunci:
[CAUTION: SYNERGY DETECTED]
Jake & Sunoo have formed a temporary alliance.
Mission: The Triple Masterpiece.
Warning: Jangan biarkan salah satu dari mereka merasa kalah, atau obsesi mereka akan berubah menjadi kekerasan yang tidak terkendali.
Jake mencium tengkukmu dengan kasar, sementara tangan Sunoo mulai turun ke kancing kemejamu yang tersisa.
“Kita lihat nanti, siapa yang bakal bikin lo teriak paling kencang, (Y/N),” bisik Jake tepat di telingamu.
Studio itu kini menjadi panggung bagi dua seniman gila yang ingin mengklaim hak milik mereka.
Udara di dalam studio yang terkunci itu mendadak terasa makin tipis, pengap oleh aroma cat minyak, keringat, dan libido yang meledak-ledak. Jake dan Sunoo sama sekali tidak memberimu ruang untuk bernapas atau sekadar berpikir jernih.
Kamu digiring dengan paksa ke arah sofa kulit panjang yang bersandar di pojok remang studio, tempat bayangan mereka jatuh menindih tubuhmu. Sunoo menyambar tas miliknya yang menghalangi dengan kasar, melemparkannya ke lantai hingga isinya berhamburan, bahkan pisau yang dibuat untuk menggores pahamu ikut terlempar, lalu menunjuk ke arah rokmu dengan tatapan yang memerintah.
“Buka. Pelan-pelan. Gue mau liat gimana ‘objek’ ini memamerkan dirinya di depan dua seniman,” perintah Sunoo, suaranya dingin tapi bergetar oleh antisipasi.
Kamu menuruti mereka, jemarimu yang gemetar mulai menurunkan ritsleting rokmu, melepasnya dengan gerakan yang sengaja dibuat sensual untuk memancing insting mereka. Jake dan Sunoo pun tidak membuang waktu, mereka menanggalkan pakaian masing-masing dengan gerakan yang efisien, menanggalkan topeng kepura-puraan mereka sebagai “pria baik”.
Saat tubuhmu terekspos sepenuhnya, mata mereka langsung tertuju pada memar-memar ungu kemerahan—jejak dari Heeseung dan Jay yang masih membekas jelas di kulitmu. Bukannya merasa jijik atau mundur, mereka justru menyeringai gelap. Bagi mereka, kamu hanyalah kanvas yang sudah dicoret-coret, dan mereka berniat menimpa semua coretan itu dengan karya mereka yang lebih liar.
“Banyak banget ya yang udah pake lo hari ini? Makin kotor, makin bagus buat dijadiin inspirasi,” gumam Jake sambil mengangkat kamera mirrorless-nya.
Jake berdiri tepat di depan wajahmu, menempatkan miliknya yang sudah menegang sempurna dan berdenyut tepat di depan bibirmu. Dia memaksamu membuka mulut lebar-lebar, sementara satu tangannya sibuk mengatur fokus lensa kameranya. Cklek, cklek. Suara rana kamera beradu dengan napasmu yang memburu. Jake membidik setiap detail ekspresi wajahmu yang terhina sekaligus terangsang saat mulutmu mulai menyerep miliknya dengan sensual. Dia ingin mengabadikan setiap tetes precum dan air mata nikmatmu dalam resolusi tinggi.
Sementara itu, di belakangmu, Sunoo sudah mengambil posisinya. Posisi doggystyle yang menyerong ini bener-bener vulgar dan membuatmu merasa sangat rentan. Sunoo berlutut, kedua tangannya yang masih ternoda bercak cat minyak merayap ke pinggulmu, lalu membelah bokongmu lebar-lebar hingga dia bisa melihat dengan jelas intimmu yang sudah sangat basah, meneteskan cairanmu sendiri ke sofa kulit.
“Basah banget... lo bereaksi sebegitunya cuma karena ditonton kita berdua,” bisik Sunoo.
Sebelum melakukan penetrasi, Sunoo memajukan wajahnya. Dia menjilat intimu yang berdenyut itu dengan lidahnya yang hangat dan ahli, menyesap cairanmu seolah itu adalah cat paling mahal yang pernah dia temukan. Kamu mendesah kencang, sebuah rintihan tertahan yang hanya bisa keluar lewat hidung karena mulutmu penuh oleh milik Jake. Tubuhmu melengkung, sarafmu berteriak minta lebih.
Setelah merasa kamu sudah cukup “siap”, Sunoo memegang pinggangmu dengan cengkeraman yang meninggalkan bekas, lalu menghujamkan miliknya masuk dari belakang dengan satu sentakan yang dalam dan presisi.
Plakk!
Suara kulit yang beradu menggema di studio yang sunyi itu. Kamu tersentak maju, membuat milik Jake masuk semakin dalam ke kerongkonganmu hingga matamu berair. Jake justru tertawa rendah melihat pemandangan itu, terus menekan tombol kameranya, mengunci momen di mana kamu sedang digempur habis-habisan dari dua arah oleh dua pria yang seharusnya saling asing namun kini bersatu untuk menghancurkan pertahananmu.
“Bagus banget, (Y/N)... tetep kayak gitu. Jangan merem, liat ke lensa,” perintah Jake di sela-sela dorongannya ke mulutmu, sementara Sunoo di belakang mulai memacu ritmenya dengan tempo yang semakin gila, membuat seluruh tubuhmu bergoyang hebat di atas sofa.
Studio seni ini benar-benar berubah jadi ruang pemujaan atas tubuhmu. Jake dan Sunoo seolah sedang berkompetisi di tengah penyatuan ini, masing-masing ingin memberikan stimulasi yang paling ekstrem.
Studio itu bener-bener berubah jadi neraka paling nikmat yang pernah kamu rasain. Bau cat minyak yang menyengat bercampur sama aroma maskulin dari Jake dan Sunoo yang makin pekat. Sunoo dari belakang udah nggak pake perasaan lagi, gerakannya brutal banget, setiap tumbukannya bikin tubuhmu terdorong ke depan, menghantam milik Jake yang ada di mulutmu.
Plakk! Plakk!
Suara tangan Sunoo yang nampar pantatmu berkali-kali kedengeran nyaring banget di ruangan sunyi itu. Pantatmu udah merah meradang, dan rasa perihnya justru bikin rahimmu refleks ngetat, ngejepit milik Sunoo sekuat tenaga.
“ Akhh! Sial... lo sempit banget, (Y/N)! Jepitan lo bener-bener enak banget, gila!” Sunoo ngerang keras, suaranya pecah di ceruk lehermu sementara dia terus ngegempur tanpa ampun.
Jake nggak tinggal diam liat Sunoo dapet reaksi sehebat itu. Dia narik rambutmu ke belakang dengan sentakan kasar, maksa kamu buat dongak maksimal. Posisi ini bikin tenggorokanmu ketarik, dan Jake langsung manfaatin itu buat nancepin miliknya lebih dalem lagi ke mulutmu. Kamu cuma bisa ngeliat ke atas dengan pupil mata yang bergerak nggak karuan, air mata nikmat mulai netes dari sudut matamu karena rasa sesak dan penuh yang luar biasa.
Jake mulai nggoyangin pinggulnya, keluar masuk mulutmu secara brutal, seolah dia lagi mau ngehancurin pertahananmu dari depan. Di bawah, payudaramu terguncang hebat ngikutin ritme gila mereka berdua. Sunoo yang ngeliat itu langsung ngeraih dadamu, ngeremasnya kuat-kuat pakai tangan yang masih penuh bercak cat minyak hitam dan merah. Cat itu sekarang ngecap di kulit payudaramu, bikin tubuhmu kelihatan kayak lukisan abstrak yang kotor dan sensual.
“Liat badan lo... penuh sama warna gue,” bisik Sunoo jahat.
Tangan Sunoo yang satu lagi turun ke bawah, nyelip di antara selangkanganmu dan mulai mainin klitorismu dengan gerakan yang sangat cepat dan kasar. Tekanan dari depan (Jake), hujaman dari belakang (Sunoo), dan rangsangan di intimu bikin sistem sarafmu error. Kamu nggak sanggup nahan lagi.
Tubuhmu tersentak hebat.
Tanpa sadar, kamu ngalamin orgasme pertama yang sangat dahsyat. Tubuhmu bergetar hebat, rahimmu berdenyut-denyut kencang, dan kamu cuma bisa ngeluarin suara rintihan tertahan di balik milik Jake. Kamu bener-bener jadi sangat sensitif, setiap sentuhan sekecil apa pun sekarang kerasa kayak sengatan listrik yang bikin kamu mau pingsan tapi dipaksa tetep sadar sama kegilaan mereka berdua.
Bau amis sperma dan aroma cat minyak yang menyengat bikin suasana di sudut studio itu makin pengap. Jake narik miliknya keluar dari mulutmu dengan sentakan kasar tepat saat dia mencapai puncaknya.
Crattt! Cairan kental dan panas itu menyemprot deras, mengotori wajah, rambut, dan dadamu yang sudah penuh bercak cat. Kamu cuma bisa memejamkan mata, napasmu putus-putus, sementara di saat yang bersamaan, Sunoo yang masih menghujam dari belakang mengerang rendah. Dia menanamkan miliknya sedalam mungkin ke dalam rahimmu, melepaskan beban beratnya yang terasa sangat panas dan banyak sampai kamu merasa perut bagian bawahmu penuh banget.
Tapi jangan harap mereka bakal kasih kamu waktu buat napas. Kegilaan dua “seniman” ini baru aja masuk ke babak yang lebih ekstrem.
“Belum selesai, (Y/N). Gue baru aja dapet komposisi yang sempurna buat seri foto gue selanjutnya,” bisik Jake dengan suara serak yang berbahaya.
Tanpa membiarkan tubuhmu yang gemetar hebat itu istirahat, mereka langsung menukar posisi dengan sangat efisien. Kamu ditarik, dipaksa berbaring terlentang di sofa dengan posisi kepala yang sedikit menggantung di sisi sofa—membuat leher jenjangmu terekspos dan darah mengalir ke kepala, bikin sensasi pusing yang nikmat.
Jake sekarang berada di atasmu, mengambil alih posisi missionary yang sangat intimidatif. Dia membuka pahamu lebar-lebar sampai mentok ke dada, lalu menghujam masuk ke dalam dirimu yang masih berdenyut sisa permainan Sunoo tadi.
“ Akhh! J-Jake... pelan...” rintihmu, tapi suaramu langsung terbungkus oleh tangan Jake yang mencengkeram rahangmu.
“Buka mulut lo lagi. Sunoo masih laper,” perintah Jake dingin.
Sunoo yang sekarang berdiri di sisi kepalamu yang menggantung, langsung menyodorkan miliknya yang ternyata masih tegang sempurna—seolah dia nggak kenal kata lelah. Kamu dipaksa buat mengulum milik Sunoo dalam posisi yang sangat sulit, kepala menggantung, sementara Jake menggempurmu habis-habisan dari atas dengan tenaga yang makin brutal.
Posisi ini bener-bener vulgar dan bikin kamu merasa seperti objek pemuas yang nggak punya hak suara. Setiap sentakan pinggul Jake bikin kepalamu yang menggantung itu bergoyang, memaksa mulutmu untuk terus menyesap milik Sunoo lebih dalam. Sunoo membelai rambutmu yang lengket karena cat dan sperma, menatap wajah hancurmu dengan tatapan pemujaan yang gila.
“Liat lo sekarang... bener-bener hancur di tangan kita,” gumam Sunoo sambil menekan miliknya lebih dalam ke tenggorokanmu.
Kamu bener-bener terjepit di antara dua kekuatan besar. Jake yang dominan dari bawah, dan Sunoo yang manipulatif dari atas. Seluruh tubuhmu rasanya sudah mati rasa, tapi sarafmu masih terus mengirimkan sinyal kenikmatan yang bikin air matamu terus mengalir tanpa henti.
Kombinasi antara gempuran Jake di bawah dan permainan mulutmu pada Sunoo di atas bikin studio itu cuma dipenuhi suara kulit yang beradu dan suara basah penyatuan kalian.
Kegilaan di studio itu sudah mencapai level yang nggak masuk akal. Jake, dengan senyum miring yang kelihatan sangat psiko di bawah lampu remang, sengaja naruh kameranya di atas tumpukan buku seni dan nyalain timer.
Cekrek! Cekrek! Kilatan flash berkali-kali nangkap pemandangan paling hancur dalam hidupmu: kamu yang megap-megap dengan kepala menggantung, mulut penuh sama milik Sunoo, sementara Jake masih menghujammu dari bawah. Jake mau bukti permanen, sesuatu yang bisa dia liat tiap malam buat ngebuktiin kalau “objek” paling indah di dunia ini udah takluk di bawah kakinya.
Tapi Jake belum puas. Dia narik miliknya keluar bentar, lalu nyalain mode record di kameranya. “Jangan merem, (Y/N). Gue mau dunia liat atau seenggaknya gue sendiri yang liat, gimana jalang kecil ini melayani dua master sekaligus,” bisiknya kasar.
Jake ngeraih sabuk kulit mahalnya yang tadi dia lempar sembarangan dekat meja. Dengan gerakan yang efisien dan nggak kenal ampun, dia narik tanganmu ke depan dada, lalu melilitnya kencang banget pakai sabuk itu. Dia nggak cuma ngikat tanganmu, tapi sengaja ngehimpit payudaramu yang montok sampai volumenya kelihatan makin kencang dan menonjol karena tekanan sabuk kulit itu.
“ Nghhh! J-Jake... sakit... kenceng banget...” rintihmu tertahan. Pergelangan tanganmu mulai memar kemerahan, tapi Jake sama sekali nggak peduli. Dia justru makin bergairah liat kontras antara kulit putihmu yang halus dengan kasarnya kulit sabuk yang ngehimpit dadamu. Dia cuma mau nyalurin fantasi gilanya, nggak peduli seberapa menderita fisikmu sekarang.
Sunoo yang masih ada di posisi atas pun nggak mau ketinggalan momen. Liat payudaramu yang terhimpit kencang dan makin menonjol, dia langsung ngeraihnya lagi. Tangannya yang masih penuh bercak cat minyak dan sekarang ditambah licinnya sisa pelepasan Jake yang tadi nyemprot ke dadamu, bikin remasannya kerasa sangat erotis tapi juga menyakitkan.
“Bagus banget... dadamu jadi makin sensitif kalau ditekan gini, kan?” Sunoo ngeremas dadamu sekuat tenaga, bikin cat di tangannya makin nempel dan ngebentuk pola abstrak yang kotor di atas kulitmu.
Jake kembali merangsek masuk ke dalam dirimu dengan satu sentakan yang lebih brutal dari sebelumnya, sementara kameranya terus merekam setiap detail guncangan tubuhmu dan ekspresi wajahmu yang bener-bener nggak berdaya. Kamu cuma bisa nangis tanpa suara, tubuhmu melengkung pasrah karena tangan yang terikat bikin kamu nggak bisa ngelakuin perlawanan apa pun. Kamu bener-bener jadi budak seks mereka di tengah studio seni yang sekarang baunya udah campur aduk antara keringat, sperma, dan cat yang menyengat.
Jake dan Sunoo bener-bener menikmati setiap detik penderitaan nikmatmu. Mereka seolah nggak mau berhenti sampai kamu bener-bener breakdown secara mental.
Kegilaan di dalam studio itu mencapai titik didih yang melampaui batas kewarasan manusia normal. Suara napas yang memburu, decit sofa kulit yang tertekan beban berat, dan bunyi basah penyatuan kalian menciptakan simfoni erotis yang memekakkan telinga.
Jake terus menghujammu dari bawah dengan kekuatan penuh, setiap sentakannya terasa seperti guntur yang menggetarkan rahimmu. Sementara itu, Sunoo di atasmu tidak memberikan celah sedikit pun, dia memegang lehermu yang menggantung, memaksamu untuk menelan eksistensinya lebih dalam hingga kamu merasa hampir tersedak.
Tekanan dari sabuk kulit yang melilit tangan dan menghimpit payudaramu membuat rasa sakit dan nikmat bercampur menjadi satu bumbu yang mematikan. Kamu mengalami orgasme berkali-kali—tubuhmu tersentak hebat, rahimmu menjepit milik Jake dengan kekuatan yang membuat pria itu menggeram liar, sementara mulutmu menghisap milik Sunoo secara instingtif. Otakmu benar-benar sudah konslet, kamu tidak lagi tahu siapa yang sedang menjamahmu, yang kamu rasakan hanyalah gairah yang membakar seluruh sarafmu.
“Liat dia... dia udah nggak tahu lagi ada di mana sekarang... desah terus (Y/N)... Don’t stop,” bisik Sunoo dengan suara serak yang penuh kemenangan.
Detik-detik menuju puncak terakhir terasa seperti ledakan nuklir. Sunoo menarik miliknya keluar sedikit lalu menghujamkannya kembali ke dalam mulutmu tepat saat dia mengerang keras, menumpahkan seluruh cairannya yang panas dan kental ke dalam kerongkonganmu hingga meluap ke sudut bibir. Di saat yang bersamaan, Jake mencapai batasnya. Dia mengangkat pinggulmu tinggi-tinggi, menanamkan miliknya sedalam mungkin, dan melepaskan muatan yang luar biasa banyak ke dalam rahimmu yang sebelumnya sudah “diisi” oleh Sunoo.
Kamu orgasme bersama Jake untuk kesekian kalinya. Tubuhmu melengkung ekstrem, matamu mendelik ke atas, dan seluruh ototmu bergetar hebat sebelum akhirnya lemas total. Kamu jatuh pingsan karena kelelahan fisik dan mental yang luar biasa, ambruk di dekapan Jake yang ikut terjatuh di atas tubuhmu, sementara Sunoo yang napasnya masih tersengal-sengal duduk di sofa, memangku kepalamu dengan tangan yang masih gemetar.
Di tengah kesunyian studio yang kini hanya diisi oleh suara napas berat tiga orang yang habis berpesta pora, layar ponselmu yang tergeletak di lantai menyala redup:
[MISSION ACCOMPLISHED: THE DOUBLE ECLIPSE]
Jake & Sunoo are now permanently bound to your scent.
Current Status: Physical and Mental Depletion.
><
Beberapa jam kemudian, kesadaranmu mulai kembali secara perlahan. Kepalamu terasa berat, dan seluruh tubuhmu terasa pegal seolah habis ditabrak truk. Saat membuka mata, kamu menyadari bahwa kamu sudah berada dalam keadaan bersih—cat minyak dan sisa-sisa pelepasan mereka sudah dilap dari kulitmu—meskipun pakaianmu dikenakan kembali dengan cara yang sangat berantakan dan asal-asalan. Kemejamu hanya dikancingkan setengah, dan rokmu terpasang miring dengan pengait yang sengaja dibiarkan terbuka.
Kamu tidak lagi berada di sofa, melainkan duduk di sebuah kursi kayu di tengah studio, sementara Jake dan Sunoo berdiri di hadapanmu. Suasana “hangat” dan “manis” yang tadi mereka tunjukkan saat sedang bergairah kini lenyap total, digantikan oleh aura dingin yang mengintimidasi.
Jake bersedekap, menatapmu dengan mata tajam seorang fotografer yang baru saja menemukan anomali dalam fotonya. Sementara Sunoo duduk di pinggiran meja, memutar-mutar pisau operasinya alih-alih memegang kuas dengan tatapan mata yang seolah bisa menembus tengkorakmu.
“Udah bangun?” suara Jake datar, tapi ada nada ancaman di sana. “Gue sama Sunoo udah ngobrol banyak pas lo pingsan. Dan ada satu hal yang nggak masuk akal buat kita berdua.”
Sunoo mencondongkan tubuhnya ke arahmu, wajah cantiknya kini terlihat sangat manipulatif. “Lo pinter banget, (Y/N). Lo tau persis kapan harus muncul di radar Jake, dan lo tau persis gimana cara masuk ke studio gue yang harusnya terkunci. Lo sengaja bikin kita berdua ketemu, kan? Lo sengaja bikin kita ‘rebutan’ lo.”
Jake melemparkan kamera ke meja, menampilkan foto-foto kalian bertiga. “Sekarang kasih tahu kita, apa tujuan lo sebenernya? Siapa yang nyuruh lo buat njebak gue sama Sunoo dalam satu ruangan? Dan yang paling penting... gimana bisa lo punya ‘bekas’ dari cowok-cowok lain yang baunya bahkan masih ada di diri lo?”
Dua pria yang tadinya saling asing kini bersatu melawanmu. Mereka bukan lagi tertipu oleh pesonamu, mereka menuntut jawaban atas permainan gila yang kamu jalankan lewat aplikasi tersebut.
Kamu berusaha keras untuk membuka mulut. Kamu ingin menjerit, memberitahu Jake dan Sunoo bahwa ini semua adalah kegilaan sistemik—bahwa ada aplikasi terkutuk di ponselmu yang mengatur pertemuan ini sejak servis Minggu lalu. Namun, tenggorokanmu serasa dikunci oleh tangan tak kasat mata. Setiap kali kamu mencoba mengucapkan kata “aplikasi” atau “servis HP”, suaramu hilang, hanya menyisakan desisan tertahan.
Sistem OBSESSION tidak mengizinkan rahasianya bocor.
Alih-alih kejujuran, yang keluar dari bibirmu justru adalah kalimat provokasi yang paling beracun. Kamu menyandarkan punggung di kursi kayu itu, menyilangkan kaki dengan anggun meski tubuhmu masih gemetar, lalu tersenyum sinis—senyum yang membuat tatapan Jake dan Sunoo semakin gelap.
“Tujuan gue?” kamu tertawa rendah, terdengar sangat manipulatif. “Kalian berdua cuma objek eksperimen pribadi gue. Gue cuma pengen tahu, antara si fotografer ramah yang ‘dingin’ dan pelukis psikopat yang ‘manis’, siapa yang lebih hebat buat bikin gue berantakan di atas ranjang. Dan jujur... gue belum puas nentuin pemenangnya.”
Jake menggeram, rahangnya mengeras sampai urat lehernya menonjol, sementara Sunoo menggenggam pisau operasinya hingga sedikit bengkok mata pisaunya. Kamu melihat ego mereka terluka sekaligus tertantang secara brutal.
“Tapi,” lanjutmu sambil berdiri perlahan, mendekati mereka dan mengusap dada Jake lalu beralih ke rahang Sunoo, “rahasiain ini dari dunia luar, ya? Kalau kalian tetap diam, mungkin gue bakal kasih ‘ujian ulang’ kapan-kapan. Sekarang... antar gue pulang. Badan gue capek gara-gara kalian.”
Permainan anggunmu berhasil membungkam kecurigaan logis mereka untuk sementara, menggantinya dengan keinginan untuk kembali mendominasi. Jake awalnya ingin menarik tanganmu dengan kasar untuk membawamu ke mobilnya, tapi Sunoo lebih cepat. Dia merangkul pinggangmu dengan posesif, seolah tidak mau kalah sedetik pun.
Akhirnya, kedua pria itu berakhir mengantarmu pulang dalam satu mobil—sebuah pemandangan absurd di mana Jake menyetir dengan aura membunuh, sementara Sunoo duduk di sampingmu di kursi belakang, terus menggenggam tanganmu yang masih memar bekas ikatan sabuk.
><
Begitu sampai di depan gedung apartemenmu, suasana menjadi sangat tegang. Kamu turun dari mobil dengan sisa tenaga yang ada, tapi Jake dan Sunoo ikut turun, berdiri tegak di depan lobi sambil memperhatikan nomor unit dan lantai tempat tinggalmu dengan sangat teliti.
[CAUTION: SAFE HOUSE COMPROMISED]
Jake Sim & Kim Sunoo now have your physical coordinates.
Security Level: Critical.
System Note: Selama rahasia ini terkubur, apartemenmu bukan lagi tempat yang aman. Mereka bisa datang kapan saja untuk menagih ‘eksperimen’ selanjutnya.
Jake menatapmu tepat di mata sebelum kamu masuk ke lobi. “Jangan harap bisa ganti sandi pintu tanpa gue tahu, (Y/N). Gue bakal balik lagi buat mastiin siapa pemenang yang lo cari itu.”
Sunoo hanya melambaikan tangan dengan senyum manisnya yang sekarang terlihat jauh lebih mengerikan. “Istirahat yang cukup, Objek Sayang. Sampai ketemu di ‘sesi’ berikutnya.”
Kamu berhasil masuk ke unit apartemenmu dan langsung mengunci pintu. Kamu jatuh terduduk di balik pintu, air mata lelah mulai mengalir. Tubuhmu hancur, rahasiamu terancam, dan sekarang lima dari tujuh pria (Sunghoon, Jay, Heeseung, Jake, Sunoo) sudah menandaimu secara fisik dan lokasi.
TO BE CONTINUED
sekian terima vote dan komen dengan senang hati💕
support kalian bikin aku makin semangat lanjutin cerita ini sampai selesai🫶🏻
maaf kalo ada typo
love u all, my michies💖




kakk lanjutt, akuu sukaa sekalii😻