jangan lupa like
Jay berdiri beberapa jengkal di sampingmu, menggulung lengan kemeja flanelnya hingga sebatas siku. Otot-otot lengannya yang tegas tampak berkedut halus saat ia memasang umpan di ujung kail dengan gerakan tenang dan terlatih.
Setelah memastikan kail joran pertama siap dilempar, Jay tidak langsung melemparkannya ke tengah danau. Sebaliknya, ia mengambil joran pancing kedua yang berukuran sedikit lebih ramping dan berbobot ringan, lalu berbalik menghadapmu.
“Nih,” Jay mengulurkan gagang joran hitam matte itu ke hadapan wajahmu, sudut bibirnya sedikit terangkat. “Pegang.”
Kamu mengerjap pelan, melirik joran itu dengan pandangan malas bercampur ragu, lalu menyembunyikan kedua tanganmu ke dalam saku mantel. Kamu menggeleng mantap.
“Nggak mau,” tolakmu cepat tanpa ragu.
Alis Jay terangkat sebelah, sorot matanya yang tajam menatapmu heran bercampur geli. Kini suasana kian mencair, tidak ada kekakuan korporat dalam cara berbicaranya. “Kenapa nggak mau? Kita ke sini buat mancing, bukan cuma duduk bengong.”
“Aku nggak bakalan dapet apa-apa, Jay,” ucapmu beralasan, memajukan bibir beberapa senti dengan ekspresi merajuk yang alami. “Tanganku ini nggak punya bakat nelayan sama sekali. Lagian punggungku masih capek banget. Aku mau duduk anteng di sini aja, nunggu pelampung kamu gerak. Nanti kalau kamu berhasil nangkep ikan, aku bagian sorak-sorak tepuk tangan. Adil, kan?”
Jay mendengus geli, tawa rendahnya bergema di udara hening. Ia menurunkan sedikit jorannya, lalu melangkah maju satu tapak, merapatkan jarak di antara kalian hingga bayangan tubuh tegapnya menaungi tempatmu duduk.
“Mana ada adil kayak gitu,” goda Jay, suaranya terdengar begitu renyah dan santai. “Dulu kamu ngejek aku seharian gara-gara nggak bisa narik satu ikan pun. Sekarang giliran kamu yang buktiin. Siapa tahu kutukan danau ini cuma berlaku buat aku, bukan buat kamu.”
“Tetep nggak mau,” tolakmu lagi, memalingkan muka ke arah riak air di tepi danau. “Nanti malah aku yang malu kalau joranku seharian nggak ditarik ikan.”
“Coba dulu, sayang.”
Panggilan itu meluncur begitu saja dari bibir Jay tanpa beban, namun efeknya seketika menciptakan dentuman keras di balik rongga dadamu. Sayang. Kata sederhana yang jarang sekali terlontar di kehidupan rumah tangga kalian yang kaku, kini keluar begitu natural, menyengat pipimu hingga terasa memanas seketika.
Jay tidak memberimu ruang untuk menyangkal lebih jauh. Sebelum kamu sempat menarik diri, Jay berlutut dengan satu kaki di atas dermaga kayu tepat di sampingmu. Tubuhnya yang besar condong ke depan, mengurungmu di antara dermaga dan dadanya yang bidang. Ia meraih tangan kananmu yang bersembunyi di balik saku jaket, menggenggam jemarimu yang dingin dengan telapak tangannya yang besar dan hangat, lalu menyematkan gagang joran pancing itu ke telapak tanganmu.
“Pegang yang bener. Pegangannya di sini,” bisik Jay tepat di samping pelipismu. Hembusan napas hangatnya menyapu daun telingamu, membuat bulu kudukmu meremang halus.
Kamu menahan napas, berusaha keras menjaga ritme detak jantungmu agar tidak berdebar terlalu liar. “Jay... beneran, aku malas...”
“Siapa tahu keberuntungan lagi ada di pihak kamu hari ini,” sela Jay santai, mengabaikan protesmu. Tangannya yang bebas kini melingkar di punggungmu, membimbing bahumu agar menghadap ke arah danau, sementara tangannya yang lain tetap menangkup punggung tanganmu yang memegang joran. “Aku udah pasang umpan terbaik di kail kamu. Kalau kamu cuma duduk diam, ikannya mana mau nyamperin?”
“Kalau ikannya tetep nggak mau makan gimana?” tanyamu menantang, mendongak sedikit untuk menatap wajahnya dari jarak yang luar biasa dekat. Dari sudut ini, kamu bisa melihat rahang tegasnya yang tercukur rapi, garis bibirnya yang terukir sempurna, serta binar geli di matanya yang memancarkan pesona luar biasa.
Jay membalas tatapanmu, tatapannya mendadak mengunci matamu dengan intensitas yang membuat napasmu tercekat.
“Kalau ikannya nggak mau makan...” Jay mendekatkan bibirnya ke puncak kepalamu, memberikan satu kecupan ringan namun sarat makna di helai rambutmu, “...berarti kita pulang ke kabin lebih cepet, dan lanjutin apa yang kepotong tadi subuh.”
Deg.
Semburat merah padam seketika membakar seluruh wajahmu hingga ke leher. Ingatan tentang bagaimana Jay memperlakukanmu semalam di atas ranjang kabin langsung berputar liar di kepalamu. Kamu buru-buru menoleh ke danau, menggenggam joran pancing dengan kedua tangan seolah benda itu adalah tali penyelamat hidupmu.
“Oke! Aku mancing! Aku lempar sekarang!” serumu panik bercampur gugup, membuat tawa Jay pecah seketika di belakang punggungmu.
Tawa pria itu terdengar begitu bebas dan lepas—suatu pemandangan langka yang selama ini terkubur di balik sikap dingin dan wibawanya yang kaku. Jay masih mempertahankan posisinya, menempelkan dadanya ke punggungmu saat ia membimbing kedua tanganmu mengangkat joran, bersiap mengayunkannya ke arah air danau yang jernih.
“Buka penguncinya... ayun ke belakang sedikit, lalu lepas pas di depan,” instruksi Jay dengan suara berat yang menenangkan, menuntun setiap jengkal gerakanmu dengan sabar.
Wusss—plung!
Kail pancingmu melesat di udara sebelum mendarat sempurna di tengah danau, meninggalkan lingkaran riak air yang perlahan meluas bersama pelampung merah yang kini mengapung tenang.
“Bagus,” puji Jay lembut, dagunya bertumpu ringan di pundakmu selama beberapa detik sebelum ia berdiri kembali. “Sekarang tinggal tunggu. Jangan dilepas jorannya, biar keberuntunganmu kerja.”
Kamu menelan saliva, meremas gagang joran dengan debaran dada yang belum juga surut. Jay melangkah ke sisimu, melemparkan joran miliknya sendiri ke danau, lalu duduk santai di sampingmu dengan bahu yang saling bersentuhan.
Di bawah langit pagi yang perlahan menghangat, di tengah keheningan alam kaki gunung yang damai, kamu menatap pelampung pancingmu yang bergoyang tenang di atas air. Namun jauh di dalam hatimu, kamu tahu bukan ikan di danau itu yang sedang terpancing—melainkan perasaanmu sendiri yang perlahan tapi pasti, mulai ditarik seutuhnya ke dalam genggaman pesona Jay yang tak terelakkan.
Heningnya suasana danau hanya diiringi gemerisik daun pinus yang tergesek angin dan suara kecipak air yang menghantam pilar dermaga kayu. Belum genap sepuluh menit berlalu sejak kailmu menyentuh air, pelampung merah-putih milikmu tiba-tiba tersentak ke bawah.
Plup!
Awalnya hanya getaran kecil di ujung senar, namun sedetik kemudian ujung joran pancing di tanganmu melengkung tajam ke arah permukaan danau. Tarikan yang mendadak kuat itu menyentak kedua lenganmu ke depan hingga tubuhmu nyaris condong ke arah air.
“Jay! Jay, tolongin! Ini kenapa?!” pekikmu panik, matamu membelalak lebar seraya mencengkeram gagang joran sekuat tenaga. “Jay, ada yang narik kenceng banget! Joran aku mau lepas!”
Jay yang sedang duduk santai di sampingmu langsung menoleh. Alih-alih panik, senyum tipis terukir di sudut bibirnya saat melihat kepanikanmu yang menggemaskan. Ia terkekeh rendah, suara tawanya begitu renyah dan menenangkan di tengah kepanikanmu.
“Tahan, jangan dilepas,” ujar Jay sigap. Tanpa membuang waktu, ia bergeser merapatkan tubuhnya tepat di belakangmu, melingkarkan kedua lengannya yang kekar di sisi tubuhmu untuk mengunci peganganmu pada joran.
Dada bidang Jay menempel pas di punggungmu, mengirimkan gelombang kehangatan yang kontras dengan udara dingin kaki gunung. Telapak tangannya yang besar dan berotot menangkup erat kedua tanganmu yang gemetar di gagang pancing, mengendalikan tarikan liar di dalam air.
“Tarik ke atas perlahan... iya, tahan posisinya,” bisik Jay dengan suara bariton yang dalam tepat di samping daun telingamu. Hembusan napas hangatnya menyapu lehermu, membuat fokusmu sempat terbelah antara ikan di danau dan kehadiran prianya yang begitu dominan. “Sekarang putar reel-nya pelan-pelan. Ikuti ritmenya.”
Dengan bimbingan Jay, kamu mulai memutar tuas penggulung senar. Tarikan di dalam air perlahan melemah saat senar digulung ke atas. Permukaan danau yang tenang seketika pecah oleh deburan buih putih, dan seekor ikan air tawar berukuran cukup besar dengan sisik keperakan berkilau memecah permukaan air, menggelepar hebat saat ditarik mendekati lantai dermaga kayu.
“Berhasil,” gumam Jay seraya menahan joran agar ikan itu mendarat sempurna di atas dek kayu.
Melihat ukuran ikan yang begitu besar—jauh melampaui ekspektasimu yang mengira kailmu hanya tersangkut lumut atau ranting—euforia kemenangan meledak seketika di dadamu.
“Dapet! Jay, beneran dapet! Lihat ikannya gede banget!” serumu girang tanpa memikirkan apa pun lagi.
Saking senangnya, kamu langsung berbalik dan menghambur ke pelukan Jay. Kedua lenganmu melingkar erat di lehernya, menubruk dada bidangnya dengan tawa lepas yang mekar di wajahmu. Jay yang masih berlutut di belakangmu sempat sedikit terkesiap oleh tubrukan manismu yang mendadak, namun sedetik kemudian kedua tangan kekarnya langsung melingkar mantap di pinggangmu, menahanmu agar tidak oleng di atas papan kayu dermaga yang licin.
Keheningan mendadak terasa begitu pekat saat tawamu perlahan mereda.
Sensasi hangat dari tubuh Jay yang merengkuhmu erat, aroma parfum kayu dan tembakau lembut yang menguar dari jaketnya, serta degup jantungnya yang berdetak teratur di bawah telapak tanganmu membuat kesadaranmu kembali sepenuhnya. Kamu tersentak pelan, menyadari bahwa kamu baru saja memeluknya dengan begitu intim dan spontan—suatu hal yang hampir tidak pernah terjadi dalam batas-batas dingin pernikahan kalian sebelumnya.
Rasa canggung seketika menyergap. Kamu menunduk, hendak menarik kedua lenganmu dari lehernya dengan pipi yang mulai merona padam. “M-maaf... aku reflek saking senangnya...”
Namun, alih-alih melepaskan dekapannya, Jay justru mempererat pelukannya di pinggangmu selama beberapa detik. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman lembut yang begitu tulus, tatapan matanya menatapmu lurus penuh binar apresiasi.
“Good job,” bisik Jay pelan, tangan kanannya terangkat mengusap puncak kepalamu dengan penuh kelembutan, merapikan anak rambut yang tertiup angin gunung. “Keberuntunganmu beneran jalan hari ini. Ikannya besar.”
Sentuhan hangat dan tatapan bangga dari Jay membuat jantungmu berdebar dua kali lebih cepat. Di saat kamu masih berusaha menenangkan ritme napas dan meredakan panas di pipimu, tiba-tiba suara dengungan halus terdengar dari joran milik Jay yang tergeletak di tepi dermaga.
Krrrk... krrk!
Pelampung pancing milik Jay ikut tenggelam, bergoyang-goyang di atas permukaan air.
“Punya kamu gerak!” tunjukmu cepat, mencoba mengalihkan rasa canggung yang masih membakar wajahmu.
Jay melepaskan pelukannya dengan tenang, lalu berdiri dan meraih joran miliknya dengan satu sentakan santai. Tanpa banyak drama, ia menggulung reel-nya dengan lihai. Hanya butuh waktu kurang dari satu menit bagi Jay untuk menarik ikannya ke darat. Namun begitu ikan itu terangkat ke udara, tawa kecil tanpa sadar lolos dari bibirmu.
Ikan yang ditangkap Jay ukurannya jauh lebih ramping dan kecil jika dibandingkan dengan ikan pertamamu yang gemuk dan berat. Ukurannya nyaris hanya setengah dari hasil tangkapanmu barusan.
“Pfft...” Kamu menutup mulut dengan punggung tangan, berusaha menahan tawa saat melihat Jay menatap ikan kecilnya dengan ekspresi datar yang bercampur tak percaya. “Kecil banget, Jay. Kayaknya itu anak ikan yang baru belajar berenang.”
Jay menaruh ikannya ke dalam ember penampung air, lalu menoleh ke arahmu. Alisnya yang tebal terangkat dengan seringai tipis yang menantang. Jiwa kompetitif pria itu jelas terusik oleh ejekan manismu.
“Setidaknya aku dapet,” kilih Jay santai, melangkah mendekat dengan tatapan yang berkilat penuh rencana jahat. “Tapi kalau kamu ngerasa seberuntung itu hari ini... gimana kalau kita bikin taruhan?”
“Taruhan apa?” tanyamu curiga, namun matamu memancarkan binar penasaran.
Jay menyilangkan tangan di depan dada, menundukkan kepalanya sedikit agar sejajar dengan pandangan matamu. “Kompetisi kecil. Siapa yang paling cepet narik 5 ekor ikan ke ember, dia yang menang. Dan yang kalah...” Jay menjeda kalimatnya, matanya menatap lekat bibirmu sebelum kembali mengunci tatapanmu, “...harus nurutin semua kemauan si pemenang tanpa bantahan. Apa pun itu.”
Awalnya kamu ragu. Menuruti semua kemauan Jay terdengar sangat berbahaya, terutama mengingat bagaimana dominan dan liarnya pria itu jika sudah menginginkan sesuatu di balik pintu kamar.
Namun ketika kamu melirik ember di sampingmu—di mana ikan raksasamu berenang megah sementara ikan Jay terlihat mungil—ditambah fakta sejarah bahwa di danau ini Jay pernah gagal total selama seharian penuh tanpa hasil, rasa percaya dirimu melambung tinggi. Keberuntungan jelas sedang berpihak padamu hari ini.
Jiwa kompetitifmu yang tertidur mendadak menyala terang.
“Oke, siapa takut!” tantangmu mantap, mengangkat dagu dengan senyum percaya diri yang cerah. “Siap-siap aja kalah, Jay. Mengingat rekor buruk kamu di danau ini, kamu pasti bakal jadi pelayan pribadiku seharian penuh!”
Jay terkekeh rendah, suara tawanya yang seksi kembali menggetarkan udara pagi saat ia kembali memasang umpan di joranmu.
“Kita lihat nanti, sayang,” bisik Jay penuh percaya diri. “Jangan nangis kalau nanti malam kemauanku bikin kamu nggak bisa tidur sampai pagi.”
Matahari kian beranjak naik, menembus sela rimbun pinus dan menghangatkan hawa sejuk di sekitar danau. Taruhan konyol yang dimulai dengan saling lempar tatapan menantang itu berubah menjadi pertarungan sengit penuh tawa dan riak air yang tak henti-hentinya memecah keheningan.
Dewi keberuntungan rupanya benar-benar sedang betah duduk di pundakmu.
Hanya berselang beberapa belas menit setelah tantangan disepakati, joranmu kembali tersentak berkali-kali. Dengan gerakan yang semakin luwes dan percaya diri, kamu berhasil menarik ikan kedua, ketiga, hingga ikan keempat masuk ke dalam ember jaring milikmu. Setiap kali pelampungmu tersentak ke dasar danau, kamu akan berseru heboh memamerkan hasil tangkapanmu ke hadapan Jay dengan senyum jahil yang merekah lebar.
Sementara itu, Jay yang berdiri tegak beberapa langkah di sampingmu tampak mulai mengernyitkan dahi. Pria yang biasanya selalu memegang kendali penuh dalam segala hal itu kini harus berkonsentrasi penuh pada jorannya sendiri, menatap permukaan air dengan sorot mata tajam yang begitu fokus hingga rahangnya mengeras samar.
Ketika embermu sudah terisi empat ekor ikan, Jay baru berhasil mengamankan dua ekor ikan berukuran sedang.
“Jay, baru dapet dua?” godamu seraya mengayunkan kaki santai di tepi dermaga, menopang dagu dengan kedua tangan sambil menatapnya jahil. “Mau kubantu pasang umpan nggak? Biar nggak zonk kayak dulu.”
Jay melirikmu sekilas dari balik bulu matanya yang lentik, mendengus pelan dengan seringai tipis yang tak gentar. “Jangan sombong dulu. Kompetisi belum selesai.”
Dan tepat saat kalimat itu meluncur, kedua joran kalian tersentak secara bersamaan.
Krrkkk!
“Ikan kelima!” teriakmu girang. Tanpa menunggu bantuan, kamu langsung memutar reel secepat mungkin. Ikan kelima milikmu berukuran sedang, melompat ke udara dan mendarat mulus di atas dermaga kayu sebelum langsung kamu masukkan ke dalam ember. “Lima! Pas lima ekor! Aku menang!”
Di saat yang bersamaan, joran Jay melengkung jauh lebih ekstrem hingga menyentuh batas kelenturan maksimalnya. Air danau di hadapan Jay bergolak liar, menciptakan pusaran buih putih yang deras. Otot-otot lengan Jay menegang kuat, urat-urat di punggung tangannya mencuat jelas saat ia menahan tarikan raksasa dari kedalaman danau.
Dengan ketenangan dan tenaga maskulin yang luar biasa, Jay menghentak joran ke belakang dan menggulung senarnya mantap. Seekor ikan predator danau berukuran luar biasa besar—panjang dan tebalnya seukuran lengan orang dewasa—terangkat ke udara, menggelepar dahsyat saat Jay mendaratkannya dengan satu gerakan terkontrol.
Ikan tangkapan ketiga milik Jay jelas menjadi monster danau hari ini. Ukurannya bahkan membuat ikan pertamamu yang gemuk tampak biasa saja. Jay menyeka peluh tipis di pelipisnya dengan punggung tangan, lalu menunjuk ikannya yang masih menggelepar di papan kayu dengan dagunya yang terangkat angkuh.
“Lihat ukurannya,” ujar Jay dengan nada berat penuh percaya diri, menatapmu seolah ia baru saja memenangkan pertarungan hidup dan mati. “Ikan punyaku bisa buat makan kita berdua tiga hari ke depan.”
Kamu tertawa terbahak-bahak melihat bagaimana pria berwibawa itu berusaha mencari celah pembenaran. Kamu berdiri, melipat kedua tangan di dada, lalu melangkah anggun mendekati Jay dengan senyum kemenangan yang tak terbendung.
“Iya, ikannya emang seukuran lengan kamu, Jay. Keren banget, salut,” ucapmu dengan nada dibuat-buat manis, lalu menunjuk dua ember di hadapan kalian. “Tapi aturannya apa tadi? Siapa yang paling cepat dapat lima ekor. Punya kamu baru tiga ekor. Jadi kesimpulannya...”
Kamu mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Jay yang kini terpaku padamu.
“...aku yang menang. Absolute Winner.”
Jay menatapmu lama. Udara dingin pegunungan berhembus menerbangkan beberapa helai rambutmu, sementara rona merah alami di pipimu—campuran antara hawa dingin dan rasa bangga—membuat wajahmu tampak begitu memikat di bawah sinar matahari siang.
Perlahan, ketegangan di rahang Jay mencair. Seringai kecil yang sangat menawan terbit di bibirnya. Alih-alih kesal karena kalah taruhan, binar matanya justru memancarkan kelembutan dan kekaguman yang begitu dalam.
Jay melangkah maju satu tapak, memangkas jarak di antara kalian hingga ujung sepatunya bersentuhan dengan milikmu. Tangan kanannya terangkat, menyelipkan sehelai rambutmu ke belakang telinga dengan sentuhan jemari yang luar biasa hangat.
“Iya, kamu yang menang,” bisik Jay patuh, suaranya serak dan begitu intim, mengirimkan getaran halus ke seluruh sarafmu. “Sesuai perjanjian... aku bakal turutin semua kemauan kamu hari ini. Apa pun itu.”
Tatapan Jay yang mendadak terkunci begitu intens membuat debaran di dadamu kembali berpacu liar. Kemenangan ada di tanganmu, tetapi melihat bagaimana cara Jay memandangmu saat ini—seolah ia dengan senang hati menyerahkan seluruh dirinya ke dalam genggamanmu—justru membuat wajahmu kembali merona panas tanpa ampun.
☢
Pemandangan kota metropolitan dari lantai tiga puluh gedung pencakar langit Park Group tampak seperti deretan miniatur yang bergerak lambat. Di dalam ruangan kerja direksi yang beraroma kayu ek dan pendingin ruangan yang menusuk, tumpukan berkas laporan kuartal berserak di atas meja kaca hitam.
Jungwon memijat pangkal hidungnya yang mancung, menyandarkan punggungnya pada kursi kulit ergonomis seraya menghela napas panjang. Kemeja putihnya sudah tergulung berantakan hingga siku, dan dasi sutranya sedikit dilonggarkan—tanda nyata betapa kacaunya beban kerja yang ditinggalkan sang kakak sulung di pundaknya.
Drrrrtt... drrrrtt...
Ponsel pribadinya yang tergeletak di samping laptop bergetar nyaring di atas meja kaca, menampilkan nama kontak yang selalu sukses membuat pelipis Jungwon berdenyut nyeri: Ayah.
Jungwon mendecak sinis. Jarinya sempat menggantung di udara, menimbang-nimbang apakah ia harus membiarkan panggilan itu mati dengan sendirinya. Namun, mengenal watak sang kepala keluarga yang keras kepala dan tak mengenal kata kompromi, mengabaikan panggilan hanya akan memicu badai yang lebih merepotkan.
Dengan gerakan malas, Jungwon menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga.
“Ya, Ayah?” sapa Jungwon dengan nada suara yang sengaja ia buat sedatar dan seformal mungkin.
“Di mana kakakmu?” Suara berat, penuh dominasi, dan tanpa basa-basi langsung menyambar dari seberang sambungan telepon. “Ayah dapat laporan dari dewan komisaris kalau Jay membatalkan tiga agenda penting hari ini dan nggak ada di kantor. Dia pergi ke mana? Bawa istrinya juga, kan?”
Jungwon memutar bola matanya malas, menyandarkan dagu di atas kepalan tangannya.
Sebenarnya, Jungwon tahu persis ke mana Jay membawamu pergi. Sebelum menghilang tanpa jejak dari radar ibu kota, Jay sempat meneleponnya larut malam dengan instruksi tegas bernada dingin: ‘Pegang kendali kantor untuk beberapa hari. Jangan ada yang tahu ke mana aku pergi, terutama Ayah. Kalau sampai bocor, aku pastikan separuh saham divisi propertimu aku potong.’
Jay jelas butuh ruang untuk bernapas dan menyelesaikan dinamika rumah tangganya yang rumit bersamamu, jauh dari campur tangan keluarga besar. Dan Jungwon, terlepas dari segala keluhannya yang harus menjadi ‘tumbal’ tumpukan pekerjaan kantor, sangat menghormati batas yang dibuat kakaknya itu.
“Mana saya tahu, Yah,” jawab Jungwon santai, mengetukkan ujung pena mewahnya ke atas meja dengan ritme beraturan. “Bang Jay kan sudah dewasa, punya keluarga sendiri, bukan anak TK yang harus lapor ke adiknya tiap mau melangkah keluar rumah.”
“Jungwon! Jaga bicaramu!” bentak sang ayah dari seberang saluran, nada suaranya meninggi penuh ketidaksukaan. “Jay memegang tanggung jawab besar atas nama keluarga dan perusahaan! Menghilang tanpa kejelasan di tengah audit tahunan bersama istrinya itu tindakan yang sangat tidak bertanggung jawab! Ayah yakin kamu tahu ke mana mereka pergi!”
“Saya beneran nggak tahu, Ayah,” potong Jungwon cepat, nadanya terdengar dingin dan tak acuh. “Bang Jay cuma titip mandat operasional ke sekretarisnya. Kalau Ayah penasaran, lacak aja sendiri atau tunggu sampai dia pulang. Gampang, kan?”
Helaan napas berat dan penuh amarah terdengar dari seberang garis telepon. “Kalian berdua benar-benar sama saja. Selalu membangkang dan sulit diatur!” Ayahnya terdiam sejenak sebelum beralih ke topik yang paling dibenci Jungwon di muka bumi. “Lalu bagaimana dengan kencan buta kemarin malam? Putri dari Dirut Lee bilang kamu cuma duduk lima belas menit, beralasan ada rapat darurat, lalu malah tertangkap kamera sedang minum di club kawasan Gangnam sampai subuh. Mau kamu apa sebenarnya, Jungwon?!”
Jungwon menyunggingkan senyum miring—senyum sinis yang sarat akan kelelahan mental.
Kencan buta kemarin malam adalah kencan buta ke-40 yang dipaksakan ayahnya selama dua tahun terakhir. Empat puluh wanita dari kalangan konglomerat, pewaris chaebol, hingga putri politisi elit telah disodorkan ke hadapannya seperti barang dagangan di etalase pameran. Dan dari empat puluh pertemuan itu, hasilnya selalu sama persis: gagal total.
Bukan karena Jungwon tidak menarik—dengan paras menawan, tatapan mata rubah yang memikat, dan posisi strategis di Park Group, para wanita itu justru antre mendekatinya. Namun, Jungwon sendiri yang secara sengaja menyabotase setiap kencan buta tersebut. Mulai dari sengaja datang terlambat, mengarang alasan konyol tentang sakit perut akut, membicarakan hal-hal absurd, hingga kabur di tengah acara makan malam demi berpesta dan clubbing bersama teman-temannya sampai pagi.
Tingkahnya memang menyebalkan dan kekanak-kanakan di mata sang ayah, tetapi itu adalah satu-satunya bentuk pertahanan dirinya.
“Putri Dirut Lee terlalu membosankan, Yah. Obrolannya cuma seputar tas bermerek dan pesta amal,” sahut Jungwon ringan, sama sekali tak merasa bersalah. “Lagian, saya kan sudah berkali-kali bilang ke Ayah... saya nggak tertarik dijodoh-jodohkan.”
“Pernikahan dalam keluarga kita bukan soal rasa tertarik, Jungwon! Ini soal aliansi bisnis dan masa depan dinasti keluarga!” desak ayahnya penuh penekanan.
Mendengar kalimat itu, tawa getir lolos dari bibir Jungwon.
Aliansi bisnis? Masa depan dinasti?
Jungwon sudah melihat sendiri bagaimana ‘aliansi bisnis’ itu bekerja pada kakaknya. Ia menyaksikan bagaimana Jay dan kamu dipaksa masuk ke dalam sangkar pernikahan tanpa cinta atas nama tuntutan keluarga, bagaimana rumah tangga kakaknya selama ini dipenuhi atmosfer dingin, perang dingin yang sunyi, dan kerumitan emosional yang menyiksa kedua belah pihak sebelum akhirnya Jay mulai berjuang mati-matian memperbaiki hubungan kalian di kaki gunung sana.
Melihat keruwetan, rasa frustrasi, dan belenggu yang dialami kakaknya membuat Jungwon bersumpah dalam hati: ia lebih memilih melajang seumur hidup dan dicap sebagai pria brengsek pembangkang daripada harus menukar kebebasannya dengan pernikahan politis yang menyesakkan.
“Kalau masa depan dinasti itu artinya harus hidup kayak robot dan terjebak di pernikahan ruwet kayak Bang Jay, maaf aja, saya nggak berminat,” ujar Jungwon tegas, suaranya kini terdengar begitu tajam tanpa nada bercanda sedikit pun. “Terserah Ayah mau marah atau coret nama saya dari daftar warisan. Yang jelas, berhenti kirim nomor wanita asing ke sekretaris saya.”
“Jungwon, kamu—”
Pip.
Sebelum ayahnya sempat meluapkan amarah lebih jauh, Jungwon langsung memutuskan panggilan secara sepihak. Ia melempar ponselnya ke atas tumpukan map berkas dengan napas memburu.
Ruang kerja direksi kembali hening.
Jungwon memutar kursinya, menatap hamparan langit cerah di balik jendela kaca besar. Membayangkan Jay yang saat ini mungkin sedang memancing dengan tenang bersamamu di tempat terpencil tanpa gangguan dering telepon kantor, Jungwon mendengus pelan seraya tersenyum tipis.
“Nikmatin waktu kalian berdua di sana, Bang,” gumam Jungwon lirih pada dirinya sendiri. “Urusan neraka di kantor ini, biar gue yang tahan dulu sebentar.”
to be continued
Oh to be your wife, Jay






Gedeg bgt ma para tetua yg bepikiran kolot. Lebih mementingkan aliansi drpd kebahagian anak sendiri. Aku botakin juga bapak si jay ma jungwon👱♂️😏
MOMM LANJUT PLEASEE😭✋🏻✋🏻✋🏻😭😭😭