10 Badboy In Luv
Ni-Ki Jackson
★AYO LIKE GUYS💖★
Tiga bulan berlalu seperti putaran angin yang membersihkan sisa-sisa badai di kampus. Proses hukum berjalan dengan tegas. Mantan Ketua BEM bersama beberapa anteknya resmi ditetapkan sebagai tersangka, menyeret serta beberapa jajaran birokrasi yang terbukti ikut menikmati uang haram tersebut. Panggung sandiwara mereka runtuh sepenuhnya.
Ni-Ki, meskipun sempat ditawari posisi untuk naik jabatan sebagai Ketua BEM karena jasanya membongkar kasus, memilih langkah yang mengejutkan semua orang. Ia mengundurkan diri secara sukarela. Dengan kepala tegak, ia mengakui di depan rektorat bahwa rekam jejaknya di masa lalu-termasuk balap liar-tidak mencerminkan seorang pemimpin yang baik. Ia melepas semua tanggung jawab itu agar nama BEM dan kampus benar-benar bersih kembali ke titik nol.
Kini, roda organisasi berputar di bawah kendalimu. Kamu resmi terpilih sebagai Ketua BEM yang baru, didampingi oleh seorang adik tingkat yang memiliki idealisme serta integritas yang sama bersihnya denganmu. Kursi kepemimpinan itu akhirnya kembali ke tangan orang yang tepat.
Selama tiga bulan itu, Ni-Ki hanya dijatuhkan hukuman kurungan pendek atas keterlibatan administratif ringan, namun pihak berwenang mewajibkannya menjalani terapi mental intensif untuk menyembuhkan trauma masa lalunya. Kamu pun tidak tinggal diam. Beban emosional yang sempat meremukkan jiwamu membuatmu sadar bahwa kamu butuh bantuan. Kamu juga menjalani terapi psikologis untuk mengembalikan kekuatan dan rasa percayamu pada diri sendiri, mempersiapkan mentalmu untuk memimpin ribuan mahasiswa.
Aneh namun nyata, di tengah kesibukanmu, kamu masih menyempatkan diri mengunjungi Ni-Ki di lapas. Pertemuan di balik jeruji besi itu selalu berjalan sunyi. Kamu memang belum memaafkannya secara utuh-rasa perih itu masih menyisakan bekas-tapi setiap kali melihat matanya yang semakin tenang dan tidak lagi memancarkan amarah gelap, ada perasaan asing yang perlahan, setitik demi setitik, tumbuh di hatimu.
Hingga akhirnya, hari yang dinantikan itu tiba.
Ni-Ki dinyatakan bebas murni setelah menyelesaikan masa tahanan dan menunjukkan progres terapi yang sangat baik. Ia keluar dengan sebuah janji besar pada dirinya sendiri dan di hadapan hukum: meninggalkan seluruh keburukan sifatnya yang lalu, berhenti dari dunia balap liar, dan berkomitmen untuk berperilaku baik.
Senin pagi di koridor kampus terasa berbeda saat sosok tegap itu kembali terlihat berjalan di antara kerumunan mahasiswa. Ni-Ki kembali kuliah seperti biasa. Tidak ada lagi kemeja hitam yang berantakan atau tatapan mata predator yang mengintimidasi. Hari ini, ia memakai kemeja rapi, rambutnya tertata bersih, dan ia berjalan dengan kepala terangkat tanpa membawa beban dendam lagi. Ia benar-benar berubah total.
Kamu berdiri di dekat mading kampus, memegang beberapa berkas BEM, saat langkah kaki Ni-Ki berhenti tepat beberapa meter di depanmu.
Suasana koridor yang ramai mendadak terasa senyap bagi kalian berdua. Ni-Ki menatapmu, lalu sebuah senyuman tipis-senyuman tulus yang belum pernah kamu lihat sebelumnya-terukir di bibirnya. Tidak ada paksaan, tidak ada intimidasi, hanya ada rasa hormat dan pengaguman yang mendalam.
Kamu tidak bisa menahan sudut bibirmu untuk ikut terangkat. Ada rasa lega yang luar biasa membuncah di dadamu. Pria di depanmu ini bukan lagi monster yang merusakmu di ranjang serta di bawah meja, dan kamu bukan lagi korban yang meratap ketakutan. Kalian berdua telah melewati badai masing-masing, saling menghancurkan, namun pada akhirnya saling menyembuhkan dengan cara yang paling tidak masuk akal.
Ni-Ki melangkah mendekat, berhenti dalam jarak yang sangat sopan dan menghargai ruang pribadimu. Ia merogoh tasnya, lalu mengulurkan sesuatu kepadamu.
Bukan dokumen ancaman, bukan juga amplop cokelat rahasia.
Itu adalah sekotak susu cokelat yang masih dingin.
“Selamat atas jabatan barunya, Ibu Ketua BEM,” ucap Ni-Ki, suaranya kini terdengar hangat dan bersih. “Gue tepatin janji gue. Gue udah balik, dan gue udah sembuh.”
Kamu menerima susu kotak itu, merasakan dinginnya menjalar ke telapak tanganmu, menghantarkan rasa hangat yang aneh langsung ke dalam hatimu. Kamu menatap matanya yang kini jernih, menyadari bahwa kisah kelam di antara kalian telah selesai, dan lembaran baru yang jauh lebih sehat baru saja dimulai di bawah terik matahari kampus yang cerah. Detik itu juga, ada sebuah tarikan napas lega yang panjang yang akhirnya bisa kamu embuskan setelah berbulan-bulan lamanya dadamu terasa sesak.
“Makasih,” ucapmu, suaramu terdengar jauh lebih ringan dan tulus dari biasanya. “Gue pegang janji lo.”
Ni-Ki tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak lagi membawa beban manipulasi. “Mau jalan bareng ke taman belakang? Kelas gue baru mulai satu jam lagi. Itu pun kalau lo nggak sibuk sama tugas baru lo sebagai Ibu Ketua.”
Kamu terkekeh pelan, menggelengkan kepala. “Aman. Wakil gue bisa diandalkan.”
Kalian berdua berjalan beriringan menyusuri koridor kampus yang ramai. Namun, ada satu hal manis yang membuat hatimu menghangat: Ni-Ki berjalan di sisi kirimu, sengaja menyisakan jarak sekitar satu langkah di antara kalian. Ia tidak lagi mencoba mencengkeram pergelangan tanganmu atau merangkulmu secara paksa. Ia sangat menghargai ruang pribadimu, menjagamu dari kerumunan mahasiswa lain tanpa membuatmu merasa terancam. Ini adalah versi Ni-Ki yang jauh lebih dewasa, tenang, dan berwibawa.
Sore itu, taman belakang kampus sedang sepi. Angin berembur pelan, menggugurkan beberapa daun kering ke atas rumput hijau. Kalian berdua duduk di salah satu bangku taman yang menghadap ke arah pepohonan rindang-suasana yang entah kenapa mengingatkanmu pada sudut sunyi di belakang gudang SMA kalian dulu.
Kamu menusuk sedotan ke susu kotak pemberiannya, lalu meminumnya perlahan. Rasa manis cokelat itu melumuri lidahmu, membawa kembali memori masa lalu yang kini tidak lagi terasa menyakitkan, melainkan terasa seperti awal dari sebuah kesembuhan.
“Terapi lo... gimana?” tanyamu memecah keheningan, memutar-mutar kotak susu di tanganmu.
Ni-Ki menyandarkan punggungnya ke sandaran bangku, menatap lurus ke depan dengan pandangan yang jernih. “Melelahkan pada awalnya. Membongkar semua kemarahan dan luka lama di depan orang asing itu nggak mudah. Tapi, psikolog gue bilang, gue harus belajar menerima kalau masa lalu gue yang rusak nggak harus mendefinisikan masa depan gue.”
Ia menoleh ke arahmu, menatapmu dengan binar mata yang penuh rasa hormat. “Gue minta maaf, (y/n). Untuk setiap ketakutan yang gue tanam di kepala lo, untuk setiap air mata yang gue paksa keluar dari mata lo. Gue tahu kata maaf nggak akan bisa menghapus trauma itu. Tapi gue mau lo tahu, laki-laki bajingan yang lo temuin beberapa bulan lalu di sekretariat... dia udah mati bareng sama runtuhnya BEM yang lama.”
Mendengar penuturan itu, sudut hatimu mencelos. Nada bicaranya begitu tulus, tanpa ada kepura-puraan. Kamu memandang wajahnya dari samping, menyadari bahwa garis rahangnya yang tegas kini tidak lagi memancarkan ketegangan yang mengintimidasi. Pria di depanmu ini benar-benar telah berjuang keras untuk merangkak keluar dari kegelapannya sendiri.
Kamu meletakkan susu kotakmu di antara kalian, lalu memutar tubuhmu menghadapnya.
“Gue juga udah selesai sama terapi gue, Ni-Ki,” ucapmu pelan, membuat perhatiannya beralih sepenuhnya kepadamu. “Gue butuh waktu lama buat sadar kalau apa yang terjadi di antara kita... adalah akibat dari dua jiwa yang sama-sama tersesat. Gue terlalu naif sama dunia, dan lo terlalu hancur sama dunia.”
Kamu menarik napas dalam-dalam, merasakan rasa ikhlas yang murni akhirnya memenuhi rongga dadamu. “Gue nggak bisa bilang kalau trauma itu ilang 100%. Kadang gue masih suka refleks panik. Tapi... melihat lo hari ini, melihat gimana lo berani lepasin jabatan lo demi kebaikan kampus, dan gimana lo nepatin janji lo buat berubah... gue sadar kalau kesempatan kedua itu emang ada.”
Ni-Ki tertegun. Matanya sedikit berkaca-kaca mendengar kalimatmu. “(y/n)...”
“Gue mau coba, Ni-Ki,” potongmu sambil memberikan senyuman terbaikmu, senyuman yang dulu selalu ia dambakan dari balik bayang-bayang gudang sekolah. “Gue mau mulai semuanya dari awal lagi sama lo. Bukan sebagai korban dan monster, tapi sebagai dua orang asing yang kebetulan ketemu lagi di kampus ini dalam versi terbaik mereka.”
Mendengar itu, Ni-Ki perlahan mengulurkan tangannya di atas bangku taman. Telapak tangannya terbuka menghadap ke atas, menunggu dengan sabar, memberikanmu pilihan sepenuhnya untuk menyambutnya atau tidak.
Kamu menatap telapak tangan besar yang dulu pernah menjambak rambutmu dengan kasar, namun kini gemetar karena menahan rasa haru. Dengan gerakan yang pasti dan tanpa ada rasa takut lagi, kamu meletakkan telapak tanganmu di atas miliknya.
Grep.
Ni-Ki menggenggam jemarimu dengan sangat lembut, seolah kamu adalah barang paling berharga yang tidak boleh tergores sedikit pun. Ia membawa tanganmu ke depan bibirnya, mengecup punggung tanganmu lama dengan mata terpejam. Tidak ada nafsu di sana, hanya ada rasa syukur yang teramat dalam karena telah dimaafkan oleh dunianya.
“Makasih karena udah nggak pergi, (y/n),” bisiknya berwibawa, menatap langsung ke manik matamu saat ia melepaskan kecupannya. “Gue janji, kali ini lo nggak akan pernah nemuin air mata kesedihan lagi dari perbuatan gue. Gue bakal jadi rumah yang paling aman buat lo.”
Di bawah langit sore yang mulai berubah jingga, kalian berdua duduk berdampingan dengan tangan yang saling bertautan erat. Rasa pahit dari masa lalu itu kini telah melebur, digantikan oleh rasa manis yang baru, seperti sekotak susu cokelat yang menjadi saksi bahwa dua hati yang pernah saling menghancurkan, kini telah sepakat untuk saling menyembuhkan selamanya.
★
Tiga tahun setelah langkah kaki terakhir kalian bergema di koridor gedung rektorat sebagai wisudawan, dunia nyata menyambut dengan ritme yang jauh lebih sibuk. Riuh rendah demonstrasi mahasiswa, intrik politik BEM, dan aroma kertas-kertas draf tuntutan telah lama menguap, digantikan oleh deru bising kota dan tanggung jawab dewasa yang sesungguhnya.
Namun, di tengah semua perubahan fana itu, ada satu hal yang tetap konstan dan justru tumbuh semakin kokoh: genggaman tangan di antara kalian berdua.
Sore itu, hujan rintik-rintik baru saja membasahi kaca jendela sebuah apartemen di kawasan elit daerahmu tinggal. Apartemen ini tidak seangkuh dan sedingin tempat tinggal Ni-Ki dulu saat kuliah. Tempat ini jauh lebih hangat, dipenuhi dengan tanaman hias kecil di sudut balkon, jajaran buku tentang Hubungan Internasional, ilmu politik dan hukum bisnis yang berjejer rapi di rak yang sama, serta aroma panggangan roti yang memenuhi ruangan.
Kamu berdiri di dekat kitchen island, baru saja menyeduh dua cangkir kopi hangat untuk mengusir hawa dingin. Rambutmu yang dulu sering acak-acakan karena mengurus demonstrasi kampus, kini terikat rapi dengan gaya kedewasaan yang anggun.
Jabatanmu sekarang sebagai seorang Public Relations Manager di sebuah perusahaan multinasional menuntutmu untuk selalu tampil prima, namun di rumah ini, di hadapan pria itu, kamu tetaplah (y/n) yang dulu.
Dari arah ruang kerja, pintu terbuka pelan. Ni-Ki berjalan keluar dengan langkah yang tenang dan berwibawa. Setelan kemeja kerjanya sudah ditanggalkan, kini ia hanya mengenakan kaus polos abu-abu dan celana panjang rumahan. Di usia yang semakin matang, garis wajah Ni-Ki terlihat jauh lebih tegas, namun tatapan matanya yang dulu liar kini telah bertransformasi menjadi sorot mata yang teduh dan penuh perlindungan.
Ia sekarang bekerja sebagai seorang konsultan hukum muda yang disegani, sosok yang dihormati karena integritasnya-sebuah pembuktian mutlak atas janjinya untuk membersihkan nama baiknya dari bayang-bayang masa lalu sang ayah.
Ni-Ki berjalan mendekat, memangkas jarak di antara kalian. Tanpa suara, ia menyelipkan lengannya di sekeliling pinggangmu dari arah belakang, memelukmu erat namun penuh kelembutan, lalu menyandarkan dagunya di bahumu.
“Capek?” bisiknya rendah, suaranya yang bariton bergetar hangat di dekat telingamu.
Kamu menyandarkan punggungmu sepenuhnya pada dada bidangnya, menikmati kehangatan tubuhnya yang seketika meruntuhkan seluruh penat setelah seharian menghadapi klien. “Sedikit. Tadi ada crisis management di kantor. Tapi pas pulang dan liat kamu, capeknya langsung ilang.”
Ni-Ki terkekeh pelan, sebuah suara renyah yang dulu sangat jarang ia keluarkan. Ia mengecup pelipismu dengan lembut, menghirup aroma sampo yang sangat ia hafal. “Bisa aja sekarang Ibu Mantan Ketua BEM ini diplomasi di rumah.”
Kamu berbalik dalam dekapannya, melingkarkan kedua tanganmu di lehernya. Tatapan mata kalian bertemu. Tidak ada lagi sisa-sisa ketakutan, tidak ada lagi bayang-bayang trauma yang dulu sempat membuatmu gemetar saat menatap sepasang manik mata elang itu. Terapi panjang dan konsistensi Ni-Ki selama bertahun-tahun telah menghapus seluruh residu kelam di antara kalian. Yang tersisa di sini hanyalah cinta yang matang, yang lahir dari pengampunan dan perjuangan bersama dari titik paling hancur.
Ni-Ki menatap wajahmu dengan pandangan yang dalam, seolah ia masih sering tidak percaya bahwa wanita luar biasa di depannya ini benar-benar memilih untuk tinggal dan mendampinginya. Tangannya terangkat, mengusap pipimu dengan ibu jarinya secara perlahan.
“Minggu depan ada acara reuni akbar kampus,” kata Ni-Ki pelan. “Anak-anak angkatan kita banyak yang nanya, apa kita bakal dateng bareng.”
Kamu menaikkan satu alismu, tersenyum menggoda. “Menurut kamu gimana? Nanti mereka kaget liat mantan Wakil Ketua BEM yang paling pemberontak ternyata sekarang udah jadi penurut kayak begini.”
“Aku cuma penurut kalau di depan kamu, (y/n),” balas Ni-Ki dengan nada serius namun ada kilat jenaka di matanya. Ia meraih tangan kananmu, membawa jemarimu ke depan bibirnya, lalu mengecup tepat di atas cincin emas putih polos yang melingkar di jari manismu-cincin pernikahan yang kalian sematkan satu tahun yang lalu.
“Aku udah kasih seluruh hidupku ke kamu sejak hari di mana kamu mutusin buat kasih aku kesempatan kedua di taman belakang kampus itu. Jadi, mau di depan anak-anak kampus atau di depan dunia, status aku tetap sama: milik kamu.”
Mendengar kalimatnya yang begitu berwibawa namun penuh pengabdian, hatimu membuncah oleh rasa haru yang melegakan. Kesempatan kedua yang dulu kamu ambil dengan penuh keraguan, kini telah bermekaran menjadi kenyataan yang paling indah.
Kamu menjinjitkan kakimu sedikit, merapatkan jarak hingga bibirmu menyentuh bibirnya dalam sebuah kecupan yang hangat, lambat, dan penuh dengan rasa syukur. Ni-Ki membalasnya dengan intensitas yang pas, memperdalam pagutan mereka seolah menegaskan bahwa pelabuhan terakhirnya tidak akan pernah berubah.
Ketika pagutan itu terlepas, Ni-Ki tersenyum menatapmu. Ia kemudian berjalan menuju kulkas, membukanya, dan mengeluarkan sesuatu dari sana dengan senyuman misterius yang sangat familiar.
Ia meletakkannya di atas meja konter. Sekotak susu cokelat yang masih dingin.
“Aku selalu sedia ini di kulkas, buat pengingat,” ucap Ni-Ki sambil menatap susu kotak itu, lalu kembali menatapmu dengan mata yang berbinar hangat. “Buat pengingat kalau monster sekalipun bisa diselamatkan, kalau dia punya malaikat seberani kamh yang mau ngasih susu kotak cokelat di balik gudang sekolah.”
Kamu tertawa lepas, merengkuh pinggangnya dan menyembunyikan wajahmu di dadanya yang kokoh. Di balik jendela, hujan di luar kota Jakarta perlahan mereda, menyisakan pelangi yang samar di ufuk barat. Di dalam ruangan itu, dua jiwa yang pernah saling menghancurkan kini telah benar-benar utuh, menjalani kehidupan dewasa mereka dalam versi terbaik yang pernah mereka miliki-bersama, selamanya, tanpa ada lagi rahasia yang perlu disembunyikan.
★
Suasana aula besar hotel tempat reuni akbar kampus itu sangat meriah. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya hangat ke arah ratusan alumni yang hadir dengan pakaian formal terbaik mereka. Tawa, denting gelas, dan obrolan masa lalu memenuhi ruangan.
Kamu berdiri di dekat meja prasmanan dengan gaun terusan elegan berwarna moka yang potongannya agak longgar di bagian pinggang. Di sampingmu, Ni-Ki berdiri dengan gagah mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, tangannya dengan protektif melingkar di pinggang belakangmu, sesekali mengusapnya lembut tanpa sadar. Posisinya selalu memastikan kamu tidak tersenggol oleh orang-orang yang lalu lalang.
Tiba-tiba, beberapa mantan pengurus BEM dari angkatan bawah kalian berjalan mendekat dengan wajah berseri-seri.
“Kak (y/n)! Kak Ni-Ki! Astaga, pasutri legendaris BEM akhirnya dateng juga!” seru salah satu dari mereka, membuat perhatian beberapa alumni di sekitar langsung teralih ke arah kalian.
“Gila ya, udah satu tahun nikah makin nempel aja kayak prangko,” goda alumni yang lain. “Eh, tapi tunggu deh...” Pandangan mata salah satu teman perempuanmu tiba-tiba turun ke arah perutmu, lalu matanya membelalak heboh. “Kak (y/n)... kok gue salfok ya? Ini potongan gaunnya atau emang... lo lagi isi?!”
Pertanyaan frontal itu seketika membuat meja bundar di sekitar kalian mendadak senyap. Semua orang menunggu jawaban dengan mata berbinar penasaran.
Kamu refleks merona, menatap Ni-Ki yang berada di sampingmu. Bukannya panik, Ni-Ki justru terkekeh rendah. Suara tawa baritonnya yang matang terdengar sangat seksi dan penuh wibawa. Ia mempererat rangkulannya di pinggangmu, lalu dengan gerakan yang sangat lembut, tangan besarnya yang satu lagi berpindah untuk mengusap perutmu yang memang sudah mulai membuncit kecil di balik gaun moka itu.
“Iya, udah jalan empat bulan,” jawab Ni-Ki dengan nada suara yang terdengar sangat bangga dan penuh kebahagiaan. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi kecemasan masa lalu. Ia mengatakannya dengan lantang di depan semua orang.
“Aaaaa! Demi apa?! Selamat Kak!” Pekikan heboh langsung pecah di sudut ruangan itu. Ucapan selamat dan doa-doa baik langsung mengalir bertubi-tubi dari teman-teman kuliah dulu.
“Wah, calon bapak nih ya sekarang. Gimana rasanya, Ki? Masih suka balapan liar gak?” goda Evan, salah satu mantan anak BEM sambil menyenggol bahu Ni-Ki.
Ni-Ki tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya dengan tenang. “Balapan gue udah lama pensiun. Sekarang tugas gue cuma satu: jadi supir pribadi yang siaga 24 jam buat Ibu Ketua BEM ini, sama mastiin anak kita dapet asupan yang bener.”
Setelah sesi obrolan seru dan penuh tawa itu mereda, kalian berdua memutuskan untuk memisahkan diri menuju area balkon luar yang lebih sepi untuk mencari angin segar. Hawa malam kota saat ini berembus pelan, menerpa wajahmu.
Kamu bersandar di pagar pembatas balkon, memandangi lampu-lampu kota yang gemerlap. Ni-Ki berdiri tepat di belakangmu, mendekap tubuhmu hangat dari belakang untuk menghalau angin malam agar kamu tidak kedinginan. Kedua tangannya bertumpu di atas perutmu, menangkup calon buah hati kalian yang sedang tumbuh di sana.
“Gila ya... waktu cepet banget berlalu,” bisikmu pelan, menyandarkan kepala di dadanya. “Dulu di kampus ini kita kayak kucing dan tikus, saling ngehancurin. Sekarang... kita malah mau jadi orang tua.”
Ni-Ki mengecup puncak kepalamu lama, menghirup dalam-dalam aroma tubuhmu yang menenangkan. “Aku selalu bersyukur karena kamu nggak pernah menyerah sama aku, (y/n). Setiap malam aku selalu mikir... kebaikan apa yang udah aku perbuat sampai Tuhan ngasih kesempatan kedua sehebat ini lewat kamu.”
Ia membalikkan tubuhmu perlahan agar kalian bisa saling berhadapan. Di bawah pendar cahaya bulan, mata elang Ni-Ki tampak begitu jernih, penuh dengan pengabdian dan cinta yang mutlak untukmu.
“Anak kita nanti... dia bakal tumbuh di rumah yang penuh kasih sayang. Aku bakal pastiin dia nggak akan pernah ngerasain apa yang aku rasain dulu di masa kecil aku,” ucap Ni-Ki dengan suara yang bergetar penuh komitmen seorang ayah yang bertanggung jawab. “Aku bakal jadi bapak yang terbaik buat dia, dan suami yang paling bisa kamu andalkan seumur hidup kamu.”
Kamu tersenyum manis, air mata haru yang melegakan menggenang di pelupuk matamu. Kamu meraih wajahnya, mengusap rahang tegasnya yang kini terasa begitu menenangkan. “Aku tahu kamu bakal jadi bapak yang hebat, Ni-Ki. Karena kamu udah buktiin ke aku gimana caranya berubah jadi versi terbaik kamu.”
Ni-Ki tersenyum, lalu merogoh saku jasnya. Kamu menumpukan alismu bingung saat melihat apa yang dia keluarkan.
Bukan dot bayi, bukan juga mainan.
Itu adalah sekotak susu khusus ibu hamil... rasa cokelat.
“Nih, diminum dulu. Tadi sengaja aku bawa dari rumah pakai cooler bag kecil di mobil, takut kamu haus pas acara,” katanya dengan wajah tanpa dosa, namun terlihat sangat perhatian dan manis.
Kamu langsung tertawa lepas, merengkuh lehernya dan memeluknya erat di bawah langit malam yang indah. Dari sekotak susu cokelat di belakang gudang SMA yang penuh luka, hingga sekotak susu hamil di balkon reuni akbar yang penuh bahagia. Kisah kelam kalian telah lama usai, dan kini, lembaran baru sebagai calon orang tua telah siap kalian ukir bersama, dengan cinta yang jauh lebih kuat dari apa pun di dunia ini.
Malam semakin larut, dan keriuhan acara reuni di dalam aula berangsur-angsur meredup menjadi latar belakang yang samar. Di balkon yang sunyi ini, hanya ada kamu, Ni-Ki, dan semilir angin malam yang terasa sejuk, bukan lagi dingin yang menusuk.
Kamu menerima kotak susu hamil rasa cokelat itu dengan kekehan geli yang tertahan. “Kamu bener-bener nggak pernah berubah ya soal urusan stok susu cokelat.”
“Bedanya, yang ini nutrisinya dua kali lipat buat malaikat kecilku,” balas Ni-Ki lembut.
Ia mengambil kembali kotak susu yang baru saja kamu minum sedikit, meletakkannya di langkan balkon, lalu menangkup kedua tanganmu yang terasa agak dingin karena angin malam. Ia membawa jemarimu ke depan bibirnya, meniupnya perlahan dengan napasnya yang hangat sebelum mengecup punggung tanganmu bergantian. Sentuhan yang dulu sempat memicu kepanikan, kini menjadi satu-satunya jangkar yang membuatmu merasa paling aman di dunia.
“Gimana kalau kita pulang?” bisik Ni-Ki, matanya menatapmu dengan binar kedewasaan yang begitu meneduhkan. “Ibu hamil nggak boleh begadang, dan aku udah nggak sabar mau selonjoran bareng kamu di sofa.”
Kamu mengangguk setuju. Perjalanan pulang di dalam mobil malam itu terasa sangat tenang. Alunan musik jazz mengalir pelan dari pemutar audio, berbaur dengan suara rintik gerimis yang kembali turun membasahi jalanan Kota. Sepanjang jalan, tangan kiri Ni-Ki tidak pernah lepas menggenggam tangan kananmu di atas tuas transmisi, sesekali ibu jarinya mengusap lembut kulitmu.
Sesampainya di apartemen, suasana hangat langsung menyambut. Ni-Ki dengan telaten membantumu melepas gaun moka yang melelahkan itu, menggantinya dengan daster katun paling nyaman milikmu, sementara ia sendiri berganti pakaian dengan kaus oblong longgar.
Kini, kalian berdua sudah meringkuk bersama di atas sofa ruang tengah yang luas. Kamu bersandar di dada bidangnya, sementara kedua kaki panjang Ni-Ki membungkus tubuhmu dari belakang, seolah ia adalah perisai hidup yang melindungi seluruh duniamu. Selimut tebal membungkus kalian berdua hingga sebatas dada.
Tangan besar Ni-Ki kembali beristirahat di atas perutmu yang membuncit kecil, mengusapnya dengan gerakan melingkar yang konstan dan penuh afeksi.
“Kamu mikirin apa?” tanya Ni-Ki pelan, mengecup pundak polosmu yang terekspos.
“Mikirin beberapa bulan ke depan,” jawabmu jujur, jemarimu bermain dengan jemari Ni-Ki yang berada di atas perutmu. “Nggak lama lagi, rumah ini nggak bakal sesunyi ini lagi. Bakal ada suara tangisan bayi, popok di mana-mana, mainan berantakan... dan satu personel baru yang bakal meramaikan keluarga kecil kita.”
Ni-Ki terdiam sejenak, meresapi kalimatmu. Sebuah senyuman tulus merekah di wajah tampannya. Ia membenamkan wajahnya di lehermu, menghirup dalam-dalam aroma tubuhmu yang selalu menjadi candunya.
“Aku udah siapin semuanya di kepalaku,” gumam Ni-Ki, suaranya terdengar berwibawa namun penuh kelembutan seorang calon ayah. “Kamar sebelah bakal kita cat warna pastel yang menenangkan. Aku yang bakal begadang kalau dia nangis tengah malam supaya kamu bisa tetep istirahat. Aku juga udah belajar cara pasang car seat di YouTube kemarin pas jam istirahat kantor.”
Kamu tertawa kecil, membalikkan sedikit wajahmu untuk menatapnya dari samping. “Segitunya? Bapak konsultan hukum yang biasanya tegas di pengadilan, ternyata bisa se-pusing ini mikirin popok bayi dan printilannya?”
“Buat anak kita, dan buat kamu... aku bakal lakuin apa aja,” ucap Ni-Ki sungguh-sungguh. Tatapan matanya mengunci manik matamu, memancarkan rasa cinta dan pengabdian yang mutlak tanpa syarat. “Aku mau dia tumbuh dengan tahu kalau ibunya adalah perempuan paling hebat dan paling kuat yang pernah ada. Dan aku mau dia tahu kalau ayahnya... adalah pria yang bakal berdiri paling depan buat ngelindungin dia dari kerasnya dunia.”
Kamu merasakan keikhlasan dan ketulusan yang begitu murni meluap dari dalam dada Ni-Ki. Rasa hangat yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhmu, mengubur dalam-dalam sisa-sisa badai masa lalu yang pernah menghancurkan kalian.
Kamu berputar sepenuhnya dalam dekapannya, menangkup wajah tegas Ni-Ki dengan kedua tanganmu, lalu menyatukan kening kalian. Napas kalian berbaur dalam kesunyian malam yang menenangkan.
“Kita bakal jadi orang tua yang baik, Ni-Ki,” bisikmu pelan, menatap matanya yang kini berkaca-kaca karena haru. “Kita udah sama-sama sembuh, dan anak ini bakal tumbuh di atas pondasi cinta kita yang baru. Rumah tangga kita bakal jadi tempat paling aman buat dia, dan buat kita berdua.”
Ni-Ki tidak menjawab dengan kata-kata lagi. Ia memangkas sisa jarak di antara kalian, menyatukan bibir kalian dalam sebuah kecupan yang sangat dalam, lembut, dan penuh dengan janji masa depan. Kecupan yang merayakan akhir dari segala luka, dan menyambut awal dari babak baru yang penuh cahaya.
Di bawah hangatnya selimut dan pendar lampu ruang tengah yang temaram, kalian berdua saling mendekap erat, mendengarkan detak jantung satu sama lain yang kini berdetak seirama. Masa lalu yang kelam telah sepenuhnya menjadi sejarah, dan kini di depan mata, sebuah masa depan yang cerah dengan ketambahan satu personil kecil telah siap kalian sambut dengan tangan terbuka dan hati yang penuh dengan cinta sejati.
Di tengah suasana syahdu dan pelukan hangat itu, jemari Ni-Ki yang tadinya hanya mengusap perutmu dengan lembut, perlahan mulai merayap naik. Sentuhannya berubah, agak sedikit nakal, menggambar pola abstrak di pinggangmu yang membuatmu kegelian sekaligus merinding kecil.
“Tapi, (y/n)...” Ni-Ki berbisik di dekat telingamu, suaranya mendadak berubah serak dan rendah, jenis suara yang dulu selalu berhasil membuat lututmu lemas. “Kata dokter, di trimester kedua ini... sebenarnya udah aman, kan?”
Kamu langsung menjauhkan kepalamu sedikit, menatapnya dengan mata menyipit curiga. “Aman apa nih maksudnya? Jangan macem-macem ya, Bapak Konsultan Hukum.”
Ni-Ki terkekeh rendah, kilat jahil yang dulu sering kamu lihat saat dia masih jadi pembalap liar kini muncul lagi di matanya. Ia mengecup lehermu sekilas, membuatmu refleks bergidik. “Ya aman buat... latihan jadi orang tua yang lebih ‘akrab’ lagi. Anggap aja ini bagian dari pemanasan sebelum beberapa bulan ke depan kita bakal puasa total karena bayinya udah lahir.”
“Ni-Ki!” Kamu memukul dadanya pelan dengan wajah yang sudah memerah sempurna seperti tomat rebus. “Pikiranmu ya! Tadi baru aja ngomongin cat kamar bayi sama popok, sekarang malah nyebrang jalurnya jauh banget!”
“Kan seimbang,” godanya lagi tanpa dosa. Ia malah semakin mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya di ceruk lehermu sambil sengaja menggelitikimu dengan kecupan-kecupan kecil yang bikin kamu setengah tertawa, setengah menahan napas karena gairah yang mendadak tersulut lagi.
“Lagian, malam ini kamu cantik banget. Ibu hamil auranya emang beda, ya? Bikin suami sendiri gemes dari tadi pas di aula reuni,” bisiknya lagi, kali ini tangannya menangkup dagumu perlahan, menatap bibirmu dengan tatapan lapar yang sudah sangat kamu kenal-tapi kali ini penuh dengan cinta dan kelembutan yang mutlak.
Kamu akhirnya menyerah, tersenyum geli sambil melingkarkan kembali tanganmu di lehernya. “Alasan aja kamu! Bilang aja emang dasarnya mesum.”
“Mesumnya cuma sama istri sendiri, jadi legal, kan?” Ni-Ki menaikkan satu alisnya, tersenyum menang.
Sebelum kamu sempat membalas kalimat menyebalkannya itu, Ni-Ki sudah lebih dulu membungkam bibirmu dengan kecupan yang tidak lagi santai seperti tadi. Kali ini lebih dalam, menuntut, namun tetap diiringi kekehan kecil di sela pagutannya saat merasakan kamu membalasnya dengan sama tidak sabarnya.
Di dalam ruang tengah yang temaram itu, sisa malam kalian berlanjut dengan tawa renyah dan godaan-godaan kecil yang perlahan berubah menjadi kehangatan yang mendebarkan-sebuah bumbu manis yang menegaskan kalau seberubah apa pun Ni-Ki menjadi pria dewasa yang berwibawa, dia tetaplah Ni-Ki-mu yang selalu tahu cara membuat jantungmu berdebar gila.
THE END
inilah sosok ayah hebat buat anak-anakku kelak🫶🏻🫂
kesimpulannya apa guys?
sama-sama percaya bahwa kesempatan kedua itu ada. selama kita yakin dan bisa buktiin bahwa semua bisa berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan🤍
absen siapa yang mau exp?




huaaaa finally end with happy ending, after segala huru hara yg complicated!! 🥺💗
puas bgt sama endingnya because riki, mau menerima & bertanggung jawab atas apa yg dia perbuat, trs mau & niat menjadi pribadi yg lebih baik!! it's a good things karena ga semua org bisa, so good job riki I'm so proud of you!! 🫂💗
Ini mah di luar ekspektasi aku 😭 makasih lohhhh 🫶🫶🫶