Pukul 01:04 AM.
Kamar itu hanya diterangi pendar biru dari layar laptop yang masih menyala. Excel yang penuh dengan angka dan deadline kuartal depan masih menggantung, tapi bagi Jungwon, duniamu jauh lebih darurat.
Begitu telepon darimu masuk-suara isakan yang parah dan racauan tidak jelas-dia tidak bertanya dua kali. Persetan dengan laporan yang belum di-save. Jungwon menyambar kunci mobil, bahkan lupa melepas kacamata anti-radiasinya. Dia membelah jalanan Jakarta yang tumben sekali agak lengang, menuju titik share loc yang kamu kirimkan.
Di sana kamu berada. Terduduk di pinggir trotoar, mengenaskan. Dress pendekmu kusut, dan maskara mahalmu luntur, meninggalkan jejak hitam di pipi seperti luka yang menganga. Kamu mabuk berat.
Jungwon tidak marah. Dia tidak pernah bisa marah padamu. Dengan satu gerakan terbiasa, dia membopong tubuhmu. Membawa kamu ke unit apartemennya yang hanya berjarak sepuluh menit dari sana.
Begitu sampai di kamar, Jungwon merebahkanmu dengan sangat hati-hati, seolah kamu adalah porselen yang nyaris hancur. Dia memberimu air mineral, meski kamu hanya bisa mengerang dan menyumpahi satu nama: Jake.
โDia janji, Won... kita mau kencan manis setelah sekian lama..โ suaramu serak, tersedat isak tangis. โTapi dia malah milih party sama model-model itu. Aku... aku nggak penting ya buat dia?โ
Jungwon diam. Tangannya bergerak telaten mengambil kapas dan micellar water. Dia berlutut di samping ranjang, membersihkan sisa-sisa kehancuran di wajahmu. Jemarinya yang dingin karena AC bersentuhan dengan kulit pipimu yang panas karena alkohol.
Setiap kali kamu menyebut nama Jake, ada sesuatu yang retak di dada Jungwon, tapi dia menelannya bulat-bulat. Dia sudah terbiasa menjadi tempat sampah untuk sampah yang ditinggalkan Jake.
โUdah, jangan gerak terus,โ bisik Jungwon rendah. Suaranya tenang, menutupi badai di kepalanya.
Setelah wajahmu bersih, Jungwon mengambil salah satu kaos kebesarannya dari lemari. Dia ingin mengganti bajumu yang sudah bau asap rokok dan alkohol itu. Namun, saat kancing bajumu terbuka dan kain itu tersampir di bahu, kamu tiba-tiba menarik lehernya. Memaksa Jungwon jatuh ke dalam pelukanmu.
Jungwon tersentak. Dia dengan cepat menahan kedua tangannya di sisi kepalamu, menumpu berat badannya agar tidak menindihmu yang setengah telanjang. Napasmu yang beraroma gin menyapu lehernya.
Di posisi seintim itu, di bawah temaram lampu nakas, Jungwon bisa melihat betapa hancurnya kamu. Dan yang paling menyakitkan adalah kenyataan bahwa meski dia yang memelukmu sekarang, di dalam igauanmu, kamu tetap memanggil nama laki-laki yang baru saja membuangmu malam ini.
Jungwon memejamkan mata erat. Dia membiarkanmu menjadikannya pelarian, membiarkanmu menggunakan tubuhnya untuk melupakan rasa sakitmu, walau itu artinya dia harus memupuk rasa sakitnya sendiri lebih dalam lagi.
000
Hening kamar Jungwon malam itu terasa berat, seolah udara di sana berubah jadi timah. Jungwon masih mematung, kedua tangannya menahan beban tubuhnya di sisi kepalamu. Jarak kalian begitu dekat hingga dia bisa melihat pantulan luka di matamu.
โJake... dia pasti bakal jemput aku, kan, Won? Dia cuma lupa, kan?โ suaramu pecah lagi. Kamu meremas kerah kemeja kerja Jungwon yang masih menempel di tubuhnya. โKasih tahu aku kalau dia sayang sama aku. Tolong...โ
Jungwon menghela napas panjang. Ada denyut nyeri di pelipisnya, mungkin karena kurang tidur, atau mungkin karena hatinya yang sedang diperas habis-habisan.
โDia sayang sama kamu,โ bisik Jungwon pelan. Suaranya datar, tanpa emosi, seperti kaset yang diputar berulang kali hanya untuk menenangkanmu. โDia cuma lagi sibuk, mungkin HP-nya mati. Kamu tahu kan pergaulan model kayak gimana.โ
Kalimat penenang itu terasa hambar. Kamu menggeleng keras, air mata kembali luntur dari sudut matamu. Kamu tahu itu bohong. Jungwon tahu itu bohong. Tapi kalian berdua terus memainkan sandiwara ini setiap kali Jake berulah.
โBohong,โ bisikmu di depan bibirnya. โKamu bohong, Won. Aku capek nungguin dia. Aku capek jadi nomor sekian di hidup dia.โ
Kamu menarik tengkuk Jungwon lebih dalam, memaksa wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajahmu. Kulitmu yang dingin bertemu dengan kehangatan tubuhnya yang baru saja pulang menembus angin malam Jakarta.
โBikin aku lupa, Won,โ pintamu, suaramu nyaris hilang tertelan isak tangis. โBikin aku lupa kalau Jake itu ada. Bikin aku seneng... cuma buat malam ini. Tolong.โ
Jungwon mematung. Matanya menatapmu dengan sorot yang hancur. Dia tahu ini salah. Dia tahu besok pagi, saat kamu bangun dengan kepala pening karena sisa alkohol, kamu akan kembali mencari notifikasi dari Jake dan dia akan kembali jadi โsi teman baikโ yang menyiapkan sarapan dan obat maag.
โKamu mabuk,โ Jungwon mencoba memperingatkan dirinya sendiri-dan dirimu. โBesok kamu bakal nyesel.โ
โAku nggak peduli,โ balamu nekat. Kamu melepaskan satu tanganmu dari lehernya, jemarimu yang gemetar mulai meraba dadanya, merasakan detak jantung Jungwon yang berpacu liar. โKamu bilang kamu mau aku bahagia, kan? Aku cuma bisa bahagia kalau aku nggak inget apa-apa sekarang.โ
Bisikanmu itu seperti racun yang paling manis. Jungwon memejamkan mata, membiarkan pertahanannya yang sudah dibangun bertahun-tahun runtuh dalam hitungan detik. Dia tahu dia hanya alat bantu. Dia tahu dia sedang menghancurkan harga dirinya sendiri demi memberikan โkebahagiaan semuโ yang kamu minta.
โJangan sebut namanya lagi kalau aku mulai,โ bisik Jungwon, suaranya kini serak dan berbahaya. โCuma aku di sini. Cuma aku, bukan Jake.โ
Jungwon akhirnya menyerah pada gravitasi. Dia membiarkan tubuhnya jatuh, menenggelamkan diri dalam keintiman yang dia tahu akan meninggalkan lubang lebih besar di hatinya besok pagi.
Kamar itu kini hanya menyisakan suara deru AC yang monoton dan deru napas yang memburu. Kamu menatap Jungwon dalam-dalam, mencari sisa-sisa kewarasan di matanya yang sayu di balik kacamata yang kini sudah terlempar entah ke mana.
Jungwon tidak bergerak. Dia membiarkanmu mengambil kendali, membiarkanmu menatap kehancurannya sendiri.
Lalu, kamu memulainya.
Bukan dengan ledakan gairah yang kasar, melainkan dengan sebuah ciuman diam. Bibirmu yang masih terasa getir karena sisa alkohol bertemu dengan bibir Jungwon yang selalu terasa seperti rumah-hangat, familiar, dan penuh penerimaan.
Ini bukan yang pertama. Sialnya, ini sudah menjadi rutinitas yang beracun. Kamu bahkan sudah hafal bagaimana cara Jungwon membalas ciumanmu, selalu dengan kehati-hatian yang luar biasa, seolah dia takut jika dia terlalu menuntut, kamu akan sadar dan pergi kembali pada Jake.
Faktanya, Jungwon telah menyentuhmu jauh lebih banyak daripada yang pernah Jake lakukan. Jake mungkin memiliki statusmu di media sosial, tapi Jungwon memiliki setiap jengkal rapuhmu di kegelapan malam Jakarta.
Tangan Jungwon yang besar perlahan merayap ke tengkukmu, jari-jarinya membenam di antara rambutmu yang berantakan. Sentuhannya lebih berani, jujur, dan penuh pengabdian yang menyakitkan. Saat tautan bibir itu semakin dalam, kamu bisa merasakan getaran di dada Jungwon-sebuah protes bisu dari jantungnya yang terus dipatahkan oleh orang yang sama, berulang kali.
โWon...โ gumammu di sela napas yang pendek.
Jungwon tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menarikmu lebih rapat, seolah ingin menyatukan luka-lukamu ke dalam tubuhnya sendiri. Di bawah temaram lampu yang remang, kulit kalian bersentuhan-dinginnya kulitmu yang terpapar angin malam bertemu panasnya tubuh Jungwon yang terbakar emosi terpendam.
Setiap sentuhan Jungwon adalah sebuah permohonan agar kamu melihatnya, tapi kamu justru memejamkan mata erat-erat, menggunakan keintiman ini sebagai tirai untuk menutup bayangan Jake yang masih menari di kepalamu.
Jungwon tahu itu. Dia tahu bahwa saat ini, dia hanyalah obat bius bagimu. Dia hanyalah tempat berlabuh sementara sebelum badaimu reda dan kamu kembali berlayar menuju mercusuar yang salah.
Namun, alih-alih berhenti, Jungwon justru memberikan segalanya. Dia menciummu lebih dalam, menyesap isak tangismu yang tersisa, dan membiarkan dirinya tenggelam dalam dosa yang paling manis ini.
Baginya, lebih baik memilikimu dalam keadaan hancur seperti ini, daripada tidak memilikimu sama sekali.
Jungwon akhirnya berhenti menahan diri. Suara gesekan kain terdengar kasar di tengah kesunyian kamar yang menyesakkan. Dengan gerakan yang sedikit tidak sabar namun tetap penuh perhitungan, dia melepas kemeja kerjanya, membiarkannya jatuh begitu saja ke lantai, menumpuk di atas pakaianmu yang sudah lebih dulu di sana.
Di bawah temaram lampu nakas yang kuning redup, tubuh Jungwon terpapar jelas. Bahunya yang lebar dan otot-otot kencang hasil dari usahanya mengalihkan stres kerja itu sudah menjadi pemandangan yang familiar bagimu.
Kamu sudah hafal setiap lekuk tubuhnya, jauh lebih hafal daripada tubuh Jake yang lebih sering kamu lihat lewat unggahan Story orang lain di kelab malam.
Jungwon bergerak mendekat lagi. Kali ini, tatapannya tidak lagi sayu, ada binar obsesi yang dia simpan rapat-rapat selama bertahun-tahun.
โKamu yang minta, kan?โ bisiknya serak, nyaris seperti geraman.
Tangan Jungwon yang biasanya sibuk mengetik laporan kini beralih menjadi pemandu yang sangat telaten. Dia membantumu menanggalkan sisa kain yang masih menempel, gerakannya begitu halus seolah dia sedang membuka kado yang paling berharga sekaligus paling terlarang. Begitu kulit kalian benar-benar bertemu tanpa penghalang, Jungwon memejamkan mata sejenak, menghirup aroma tubuhmu yang bercampur antara parfum mahal dan keputusasaan.
Lalu, dia mulai memujamu.
Jungwon mendaratkan ciuman-ciuman kecil di bahumu, turun ke tulang selangka, hingga ke setiap inci kulitmu dengan ritme yang lambat dan menyiksa. Setiap sentuhan bibirnya terasa seperti sebuah pernyataan: Aku di sini. Aku yang menjagamu. Aku yang mencintaimu sampai gila.
Dia sangat lembut-terlalu lembut untuk seseorang yang hatinya baru saja dicabik-cabik oleh kenyataan bahwa dia hanyalah pelarian. Kelembutan itu justru membuatmu sesak. Kamu ingin dia kasar, kamu ingin dia meluapkan amarahnya padamu, tapi Jungwon tetaplah Jungwon. Bahkan dalam keadaan paling hancur sekalipun, prioritas utamanya adalah kenyamananmu.
โWon... please,โ rintihmu, jemarimu meremas rambut hitamnya, menariknya agar dia melakukan lebih. Kamu tidak tahan dengan pemujaan yang begitu suci ini di saat kamu merasa begitu kotor karena terus kembali padanya demi orang lain.
Jungwon mendongak, menatapmu tepat di manik mata. Napasnya memburu, panas menyapu wajahmu.
โAku bakal kasih apa pun yang kamu mau,โ bisiknya tepat di depan bibirmu, โasalkan malam ini, jangan inget dia. Cuma aku. Bisa?โ
Dia tidak menunggu jawabanmu. Jungwon melanjutkan penjelajahannya, membiarkan harga dirinya luruh sepenuhnya di atas ranjang itu, tenggelam dalam keintiman yang dia tahu tidak akan pernah berujung pada status โmilik bersamaโ di dunia nyata Jakarta esok pagi.
Kamar itu kini hanya menyisakan suara napas yang berebut udara. Jungwon perlahan beranjak turun, memposisikan dirinya di antara kedua kakimu yang lemas. Di bawah pendar lampu yang kian remang, dia menatapmu sekali lagi-tatapan seorang pria yang sudah memberikan seluruh dunianya untuk dihancurkan olehmu.
Lalu, dia turun lebih jauh.
Kelembutan yang sedari tadi dia tunjukkan kini berubah menjadi sesuatu yang lebih intens, lebih menjajah. Saat lidahnya mulai menyentuh titik paling sensitifmu, duniamu seolah meledak menjadi jutaan kepingan cahaya. Jungwon tidak terburu-buru, dia menjajahmu dengan ketelatenan seorang pria yang ingin mencatat setiap jengkal tubuhmu dalam ingatannya.
โWon... akh...โ
Kamu mencengkeram sprei hingga buku-buku jarimu memutih. Kepalamu terlempar ke belakang, menatap langit-langit kamar yang seolah berputar. Setiap sesapan dan gerakan lidah Jungwon adalah serangan yang terencana-dia tahu persis di mana harus menekan, di mana harus menghisap, dan bagaimana membuatmu kehilangan kewarasan.
Pikiranmu tentang Jake-tentang janji yang diingkari, tentang rasa sakit hati karena dia lebih memilih teman-temannya, tentang rasa tidak berdaya-semuanya memudar. Nama itu, yang tadinya memenuhi rongga dadamu dengan sesak, kini menguap digantikan oleh sensasi panas yang menjalar dari bawah hingga ke ubun-ubun.
Jungwon memanjakanmu dengan cara yang egois. Dia ingin memastikan bahwa di saat-saat paling puncakmu, hanya namanya yang terlintas. Dia ingin lidahnya menghapus setiap sisa sentuhan Jake yang mungkin masih tertinggal di ingatanmu.
Sentuhannya semakin berani, semakin tak terkendali. Kamu bisa merasakan getaran di rahang Jungwon saat dia bekerja keras menahan napasnya sendiri demi memberikanmu kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya. Dia benar-benar gila karenamu, dan dalam kegilaan itu, dia memberikan segalanya-harga dirinya, tenaganya, dan cintanya yang tak berbalas-semuanya menyatu dalam satu momen intim yang berbahaya.
Saat kamu akhirnya mencapai puncak, namanyalah yang kamu desahkan. โJungwon... Jungwon...โ
Dia berhenti sejenak, mendongak menatapmu dengan wajah yang basah dan napas yang terputus-putus. Ada senyum getir sekaligus puas di sudut bibirnya saat mendengar namanya disebut, bukan nama pria lain itu. Untuk sekejap saja, di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang sedang terlelap, Jungwon merasa dia telah menang.
Walaupun dia tahu, kemenangan ini akan kadaluwarsa saat matahari terbit nanti.
Tubuhmu melengkung hebat saat pelepasan pertama itu menghantam. Kamu merasakan setiap denyutnya di sana, tepat di mana Jungwon memberikan seluruh pemujaannya. Napasmu terputus, memanggil namanya dalam desahan yang parau, sementara Jungwon menerima segalanya dengan pasrah.
Dia berhenti sejenak, menelan ludah dengan susah payah sambil menatapmu yang lemas tak berdaya di atas ranjang. Jungwon bergerak naik, meraih selimut tebalnya untuk menutupi tubuhmu yang gemetar-sebuah insting untuk melindungimu, bahkan dari dirinya sendiri.
โUdah ya? Kamu harus istirahat,โ bisiknya dengan suara yang pecah. Tangannya yang gemetar merapikan rambutmu yang basah oleh keringat.
Namun, kamu menahannya. Kamu menatapnya dengan mata sayu yang masih berkaca-kaca karena sisa alkohol dan euforia pelepasan tadi. โIsi aku, Won... please. Jangan berhenti.โ
Jungwon mematung. Matanya menatapmu dengan sorot yang penuh luka. โKamu lagi nggak sadar. Besok kamu bakal benci aku kalau kita lanjut.โ
โAku butuh kamu, Won. Bukan Jake... aku butuh kamu.โ
Kalimat itu adalah serangan telak bagi sisa pertahanan Jungwon. Mendengar kamu menyebut namanya lebih dibutuhkan daripada pria yang menghancurkanmu semalam membuat akal sehatnya yang sudah retak kini hancur berkeping-keping. Dengan napas yang memburu, dia meraih laci nakas, mengambil pengaman di sana, dan dalam sekejap dia sudah melepaskan seluruh bebannya.
Kini dia berdiri-atau lebih tepatnya berlutut-bugil sepenuhnya di hadapanmu. Tubuhnya yang atletis tampak berkilat karena keringat di bawah lampu remang, sementara miliknya yang sudah menegang sempurna menanti di depan intimu yang hangat dan kemerahan hasil dari โkerja kerasnyaโ tadi.
Jungwon masih ragu, dia ingin memastikan sekali lagi apakah ini benar-benar yang kamu inginkan. Namun, kamu sudah tidak punya kesabaran untuk keraguan.
Dengan sisa tenagamu, kamu menarik bahunya, membalikkan posisi hingga Jungwon kini terlentang di bawahmu. Kamu naik ke atas pangkuannya, merasakan panas tubuhnya yang menjalar ke kulitmu. Dengan tangan yang gemetar namun pasti, kamu menuntun miliknya yang keras itu menuju liangmu yang sudah basah dan mendamba.
Saat perlahan kamu menyatukan diri dengannya, Jungwon memejamkan mata erat, kedua tangannya mencengkeram pinggulmu dengan kuat-seolah takut jika dia tidak memegangmu sekarang, kamu akan menghilang seperti mimpi buruk di pagi hari.
Tidak ada lagi Jake. Tidak ada lagi laporan kantor. Di kamar yang gelap ini, hanya ada gesekan kulit, napas yang memburu, dan pengkhianatan yang terasa begitu nikmat bagi kalian berdua.
Saat kamu perlahan menurunkan tubuhmu, menyambutnya masuk sepenuhnya, sebuah desahan panjang dan berat lolos dari bibir Jungwon. Suaranya bukan hanya desahan nikmat, tapi terdengar seperti rintihan seseorang yang akhirnya menyerah pada takdirnya.
โWon... akhh...โ
Kamu mencengkeram bahu lebarnya, kuku-kukumu meninggalkan jejak kemerahan di kulit atletisnya. Liangmu yang hangat dan basah menjepitnya dengan erat, menciptakan sensasi panas yang membuat pandangan Jungwon mengabur. Dia membiarkanmu memegang kendali sejenak, kedua tangannya terkunci pada pinggulmu, membantu setiap pergerakan naik-turunmu yang masih sedikit tidak stabil karena pengaruh sisa alkohol.
โKamu... kamu sadar siapa yang di bawah kamu sekarang, kan?โ suara Jungwon serak, hampir pecah. Dia menarik kepalamu turun, memaksa matamu menatap matanya yang memerah. โSebut nama aku. Sekali aja, sebut nama aku.โ
โJungwon... hnggh... Jungwon...โ
Mendengar namanya disebut dengan nada yang begitu memohon, Jungwon kehilangan sisa kendalinya. Dia membalikkan keadaan dengan cepat, mengunci tubuhmu di bawahnya dengan satu gerakan dominan. Kini dia yang memimpin, melakukan hentakan-hentakan yang dalam dan penuh perasaan.
Setiap tumpuan berat tubuhnya, setiap gesekan kulit yang berkeringat, terasa begitu raw. Kamar itu kini dipenuhi suara-suara yang jujur; decit ranjang yang ritmis, suara kulit yang bertemu, dan desahan napas yang saling memburu. Jungwon tidak melakukannya dengan kasar, tapi setiap dorongannya terasa begitu posesif-seolah dia sedang mencoba mengukir namanya di dalam rahimmu agar kamu tidak pernah bisa melupakannya.
โAku sayang kamu sampai mau mati, tapi kamu selalu lari ke dia,โ bisik Jungwon tepat di telingamu, suaranya bergetar di tengah desahannya yang makin berat. โMalam ini... tolong, jangan bayangin dia. Biarin aku yang jadi satu-satunya buat kamu, walaupun cuma sampai subuh.โ
Kamu tidak bisa menjawab. Otakmu sudah terlalu penuh dengan sensasi yang Jungwon berikan. Lidahnya kini beralih menyesap lehermu, memberikan tanda yang dia tahu akan kamu tutupi dengan concealer besok pagi saat kamu bertemu Jake. Namun baginya, tanda itu adalah bukti keberadaannya di hidupmu.
Saat puncaknya semakin dekat, gerakan Jungwon semakin intens. Dia memelukmu sangat erat, seolah ingin menyatukan jiwanya yang hancur ke dalam tubuhmu yang sedang mencari pelarian. Kamu merasakan kedutan hebat di dalam dirimu, dan tak lama kemudian, Jungwon pun mencapai batasnya. Dia mengerang rendah, menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu saat dia melepaskan segalanya di dalam sana-seluruh cinta, kemarahan, dan keputusasaan yang dia simpan bertahun-tahun untukmu.
Kamar itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara napas yang terputus-putus. Jungwon tidak langsung menjauh. Dia tetap di sana, memelukmu dengan sisa tenaga yang ada, menghirup aroma keringat dan aromamu yang kini menyatu dengan dirinya.
Dia tahu, saat napas kalian kembali normal, dia akan kembali menjadi โteman nyamanmuโ yang tidak dianggap. Tapi untuk beberapa menit tadi, dia adalah duniamu. Dan baginya, itu cukup untuk menghancurkan dirinya sekali lagi besok pagi.
-หหโโโโโ
To Be Continued
โI present to you the safe place - Yang Jungwonโ
-M




