Di siang hari, kamu adalah (Y/N), si mahasiswa “nolep” yang duduk di barisan paling belakang kelas Bisnis Internasional. Kamu memakai hoodie XL yang menenggelamkan lekuk tubuhmu, kacamata minus tebal, dan rambut yang dicepol asal.
Kamu jalan sedikit membungkuk, berusaha keras menyembunyikan ukuran dadamu yang penuh agar tidak mengundang perhatian. Bagimu, kampus adalah tempat untuk bersembunyi.
Namun, saat matahari terbenam, “Luna” lahir.
Di bawah lampu neon remang-remang sebuah klub privat eksklusif, kamu berdiri di balik layar tipis yang hanya menampilkan siluetmu. Kamu mengenakan high heels 15cm dan dress transparan yang memeluk setiap inci tubuh binalmu.
Di sana, kamu tidak bungkuk. Kamu meliuk, memanjat tiang perak dengan kekuatan paha yang luar biasa, dan melakukan gerakan erotic dance yang membuat napas siapapun yang melihatnya tertahan.
Tanpa kamu sadari, di barisan kursi VIP yang paling dekat dengan panggung siluetmu, ada tiga pria yang selalu hadir.
Jay. Si kaya raya yang arogan. Dia yang selalu mengirimkan gift singa saat kamu live di TikTok. Dia terobsesi dengan cara pinggulmu bergoyang.
Jake. Si golden boy yang ramah tapi punya sisi gelap. Dia selalu mengirimkan DM panjang memuji teknik tarianmu, membayangkan bagaimana rasanya jika kakimu yang jenjang itu melingkar di pinggangnya.
Sunghoon. Si dingin yang perfeksionis. Dia tidak banyak bicara, tapi dialah yang selalu memberikan “saweran” terbesar hanya agar kamu melakukan satu gerakan split tambahan di atas tiang.
Mereka bertiga adalah pengikut setia akun TikTok-mu yang sudah memiliki jutaan pengikut. Mereka tidak tahu siapa namamu, yang mereka tahu hanya kamu adalah Luna, dewi tiang yang sangat ingin mereka miliki secara nyata.
Hari itu, kelas sedang ramai karena ada tugas kelompok. Kamu duduk sendirian di pojok, sibuk dengan buku catatanmu, saat tiba-tiba tiga pasang sepatu mahal berhenti di depan mejamu.
“Eh, culun. Minggir, ini meja biasanya buat kita naruh tas,” suara berat Jay terdengar di atas kepalamu.
Kamu tidak mendongak, hanya menggeser dudukmu tanpa suara. Kamu bisa mencium aroma parfum oud mahal milik Jay—aroma yang sama dengan yang selalu tercium dari barisan kursi VIP semalam.
“Sst, Jay. Jangan kasar-kasar, kasian dia gemeteran gitu,” sahut Jake sambil terkekeh sinis, matanya menatap kepalamu yang tertunduk.
Sunghoon hanya diam, ia sibuk menatap ponselnya, menonton ulang video terbaru dari akun TikTok “Luna”.
“Gue penasaran banget... siapa sih di balik masker itu? Tekstur kulitnya, suaranya pas ngedesah kecil di video ini... kayaknya gue pernah denger, tapi di mana ya?”
Jantungmu berdegup kencang di balik hoodie longgarmu. Kamu meremas pulpenmu kuat-kuat. Sunghoon berada tepat di sampingmu, hanya berjarak beberapa sentimeter, mendengarkan rekaman suaramu sendiri saat kamu sedang berlatih pole dance semalam.
“Udahlah Hoon, mana mungkin ada cewek di kampus ini yang se-seksi Luna,” timpal Jay sambil duduk di meja sebelahmu. “Apalagi cewek modelan begini,” ia melirikmu dengan tatapan meremehkan. “Luna itu dewi, sedangkan dia... cuma pajangan kelas yang nggak kelihatan.”
Kamu tersenyum tipis di balik masker medis yang kamu kenakan. Kalau saja kalian tahu siapa yang kalian panggil ‘dewi’ semalam sedang duduk tepat di bawah hidung kalian, pikirmu binal.
Malamnya, kamu melakukan live TikTok di kamar apartemenmu. Kamu menyalakan lampu merah remang dan mulai menari perlahan mengikuti musik RnB yang berat.
Kamu sengaja mendekatkan tubuhmu ke kamera, menunjukkan siluet dadamu yang naik turun karena napas yang memburu.
[Jay_Park02 sent a Universe!]
Caption: “Pakai dress merah yang kemarin, Luna. Aku pengen liat kamu split di atas tiang itu lagi.”
[Jake.Sim sent 100x Roses!]
Caption: “Suara napas kamu... bikin aku nggak bisa tidur semalaman. Kamu nyata nggak sih?”
[Ice_Hoon sent a Castle!]
Caption: “Aku bakal bayar berapapun asal kamu mau lepas masker itu malam ini. Aku mau liat muka asli kamu.”
Kamu mendekat ke arah layar ponsel, memberikan suara desahan kecil yang sangat sensual di dekat mic. “Sabar ya, Tuan-Tuan... rahasia itu yang bikin aku menarik, kan?”
Malam itu, kamu menyalakan lampu neon purple di kamarmu. Kamu sudah mengenakan lingerie sutra merah marun yang sangat minim, memperlihatkan lekukan tubuhmu yang selama ini kamu sembunyikan di balik hoodie XL.
Masker renda hitam menutupi hidung hingga dagumu, hanya menyisakan matamu yang menatap lensa kamera dengan tatapan sensual yang mematikan.
Sistem private call di platformmu berbunyi. Sesi pertama: Jay.
Layar terbagi. Jay muncul dengan kemeja hitam yang kancing atasnya terbuka, ia berada di dalam ruang kerjanya yang mewah.
Begitu melihat siluet tubuhmu yang memenuhi layar, Jay menarik napas panjang, tangannya langsung melonggarkan dasi.
“Luna... fuck,” geram Jay. Matanya memerah, menatap rakus ke arah dadamu yang naik turun. “Lo tahu berapa banyak uang yang gue habisin cuma buat dapetin sesi sepuluh menit ini?”
Kamu hanya tersenyum binal di balik masker. Kamu mulai meliuk di depan tiang, memutar pinggulmu perlahan. “Uang bukan masalah buat kamu, kan, Jay?” suaramu dibuat sangat rendah dan serak.
“Buka maskernya, Luna. Gue mau liat muka cewek yang bikin gue nggak bisa fokus rapat seharian,” pintanya—di samping dia jadi mahasiswa, Jay juga seorang keturunan tunggal perusahaan ayahnya, jadi tidak kaget kalo dia bilang begini—Suaranya memohon, tapi tetap ada nada otoriter. Namun, saat kamu menggeleng perlahan, Jay tidak membentak. Ia justru mengepalkan tangannya di atas meja, menahan diri. “Oke... oke, jangan dibuka. Gue nggak mau lo mutusin sambungan ini. Terus menari, Luna... please.”
Sesi berganti. Wajah Jake muncul. Berbeda dengan Jay, Jake terlihat sedang berbaring di tempat tidurnya, hanya mengenakan kaos dalam putih yang memperlihatkan otot lengannya.
“Halo, Sayang,” bisik Jake. Matanya sayu, penuh damba. “Kamu cantik banget malam ini. Suara napas kamu di video kemarin... aku putar ulang ratusan kali.”
Kamu mendekat ke kamera, membelakangi layar dan melakukan gerakan twerk lambat yang memperlihatkan betapa kencangnya bokongmu. Jake mengerang keras, ia menutup matanya sejenak, membayangkan tangan besarnya berada di sana.
“Luna, aku mau liat mata kamu lebih dekat,” pinta Jake lembut. “Tatap aku seolah aku ada di sana, di bawah kamu.”
Kamu menuruti permintaannya, memberikan tatapan sensual yang biasa kamu sembunyikan di balik kacamata culunmu. Jake terpaku. “Mata itu... kenapa rasanya familiar banget? Tapi nggak mungkin...”
Terakhir adalah Sunghoon. Ia duduk di ruangan gelap, hanya cahaya laptop yang menerangi wajah tampannya yang dingin. Ia tidak banyak bicara, ia hanya menonton setiap gerakanmu di tiang dengan intensitas yang mengerikan.
“Gue udah pelajari setiap jengkal gerakan tubuh lo, Luna,” suara Sunghoon dingin namun bergetar. “Lo punya tahi lalat kecil di pinggang kiri, dan otot paha lo... lo terlatih. Lo bukan amatir.”
Kamu tersentak kecil, Sunghoon sangat teliti. Kamu sengaja melakukan gerakan split menggantung di tiang, memperlihatkan fleksibilitas tubuhmu yang luar biasa.
“Luna, buka maskernya. Gue bakal kasih apa pun. Mobil? Apartemen? Sebut aja,” tawar Sunghoon. Saat kamu tetap diam dan hanya memberikan kecupan jauh ke kamera, Sunghoon menghela napas frustrasi. “Sial. Gue benci nggak tahu siapa lo, tapi gue lebih benci kalau gue nggak bisa liat lo nari lagi. Fine, simpan rahasia lo... untuk sekarang.”
💃🏻
Keesokan paginya di kampus, kamu masuk ke kelas dengan penampilan seperti biasa: hoodie abu-abu kebesaran, rambut dicepol berantakan, dan kacamata yang menutupi mata sensualmu. Kamu duduk di pojok, pura-pura membaca buku.
Tak lama, Jay, Jake, dan Sunghoon masuk ke kelas. Mereka bertiga terlihat sangat lelah, dengan lingkaran hitam di bawah mata, namun aura mereka tetap mengintimidasi.
“Gila, gue beneran nggak bisa tidur gara-gara Luna,” gumam Jake sambil duduk di barisan depanmu.
“Gue juga. Cewek itu beneran bikin gila. Gue sampe kepikiran mau sewa detektif buat cari tahu siapa dia,” balas Jay kasar.
Sunghoon tiba-tiba berbalik, matanya yang tajam menatapmu yang sedang menunduk. “Eh, culun,” panggilnya.
Kamu mendongak sedikit, jantungmu berpacu liar. “I-iya?” suaramu dibuat sangat canggung dan bergetar, kontras dengan desahan binalmu semalam.
Sunghoon menyipitkan mata, menatap mata di balik kacamatamu. “Parfum lo... lo pake parfum apa?”
Kamu membeku. Kamu lupa bahwa semalam kamu memakai minyak esensial sisa latihan pole dance. “I-ini cuma bau sabun bayi, Kak...”
Sunghoon diam sejenak, lalu mendengus. “Aneh. Bau lo mirip sama seseorang yang gue kenal semalam. Tapi ya sudahlah, mana mungkin cewek kayak lo punya akses ke tempat itu.”
Mereka bertiga tertawa meremehkan, kembali membicarakan “Luna” yang agung, tanpa sadar bahwa sang “Dewi” sedang menahan tawa kemenangan tepat di belakang mereka.
💃🏻
Malam itu, kamarmu terasa sangat panas. Kamu hanya mengenakan set lingerie renda transparan berwarna hitam yang nyaris tidak menutupi apa pun, dipadukan dengan stocking jala setinggi paha. Masker renda hitam masih setia menutupi wajahmu, menyisakan tatapan matamu yang kini berkilat tertantang.
Layar laptopmu terbagi menjadi empat kotak. Jay di ruang kerjanya yang mewah, Jake di kamar hotel yang remang, dan Sunghoon di apartemen pribadinya yang minimalis.
“Akhirnya... kita dapet lo barengan, Luna,” suara Jay terdengar serak. Ia sudah melepas kemejanya, memperlihatkan dada bidangnya yang berkeringat.
“Jangan banyak ngomong, Jay. Gue mau liat dia mulai,” potong Sunghoon. Matanya tertuju pada tiang perak di belakangmu.
“Luna,” Jake memanggil, suaranya lembut tapi penuh tuntutan. “Malam ini bayaran kami nggak main-main. Kami mau kamu lakuin sesuatu yang lebih... ekstrim.”
Kamu mendekat ke kamera, mengusap bibirmu di balik masker. “Kalian mau aku ngapain, Tuan-Tuan?”
“Gue mau lo naik ke tiang itu,” perintah Jay. “Tapi kali ini, gue mau lo pake high heels 20cm itu, dan gue mau lo handstand gantung. Gue mau liat kekuatan paha lo yang selama ini gue bayangin melilit leher gue.”
Kamu tersenyum binal dan mulai bergerak. Dengan lihai, kamu memanjat tiang, membalikkan tubuhmu hingga kepala berada di bawah. Otot perutmu yang rata dan terbentuk sempurna terlihat jelas, begitu juga dengan lekuk pinggulmu yang bahenol yang kini terekspos maksimal karena gravitasi.
“Sialan... liat itu,” desis Sunghoon. Ia terlihat sedang menyandarkan punggungnya, satu tangannya bergerak di bawah layar—ia sedang menyentuh dirinya sendiri sambil menontonmu.
“Sekarang, Luna... touch yourself for us,” pinta Jake dengan napas memburu. “Bayangkan itu tangan kami. Tangan Jay di pinggangmu, tangan Sunghoon di lehermu, dan tangan aku... everywhere.”
Permintaan itu gila, tapi nominal di layar saldo akunmu terus bertambah seiring gerakanmu yang semakin berani. Kamu mulai meraba lekuk tubuhmu sendiri di depan kamera, mengikuti fantasi gila tiga pria yang paling berpengaruh di kampusmu itu. Kamu melenguh pelan, memberikan desahan-desahan yang membuat mereka bertiga mengerang frustrasi di seberang layar.
“Buka maskernya, Luna! Please! Gue tambah 50 juta sekarang!” teriak Jay yang sudah kehilangan akal sehatnya akibat horny yang memuncak.
Kamu berhenti sejenak, menatap kamera dengan tatapan paling sensual yang kamu miliki, lalu menggeleng perlahan sambil meletakkan jari telunjuk di depan bibir maskermu. Sshh.
“Jangan maksa dia, Jay. Kalau dia tutup panggilannya, kita mati penasaran,” geram Sunghoon, meskipun ia sendiri tampak sangat menderita karena ingin melihat wajahmu.
Sesi itu berakhir dengan mereka bertiga yang benar-benar “selesai” di depan layar masing-masing, sementara kamu terduduk lemas di bawah tiang, bermandikan keringat dan kemenangan.
💃🏻
Kuliah sore baru saja usai. Kamu bergegas membereskan tas, ingin segera pulang karena ada draf video pole dance terbaru yang harus kamu unggah ke TikTok. Namun, saat kamu melangkah menuju pintu, tubuhmu yang sengaja kamu buat bungkuk menabrak dada bidang seseorang.
PRAKKK!
Ponselmu terlempar dan menghantam lantai marmer dengan keras. Layarnya retak seribu, tapi karena sensor sidik jarimu tertekan saat terjatuh, layarnya justru menyala terang—menampilkan aplikasi TikTok yang sedang terbuka tepat di halaman profil “Luna”.
“Sial, sori... gue nggak sengaja,” gumam Sunghoon. Ia membungkuk untuk mengambil ponselmu, sementara Jay dan Jake berdiri di belakangnya sambil membicarakan rencana mereka untuk menonton penampilan “Luna” nanti malam.
Langkah Sunghoon membeku saat matanya menangkap gambar di layar ponselmu. Matanya menyipit, beralih dari ponsel ke wajahmu yang tertutup kacamata, lalu kembali ke ponsel.
“(Y/N)... kenapa akun Luna ada di HP lo?” suara Sunghoon mendadak dingin, membuat bulu kudukmu berdiri. “Dan ini... ini halaman dashboard kreator. Lo yang pegang akun ini?”
Jay dan Jake langsung mendekat. Atmosfer di koridor yang mulai sepi itu berubah mencekam. Mereka bertiga menatapmu dari atas sampai bawah—dari hoodie abu-abu kumalmu hingga sepatu kets lamamu.
“Jangan bercanda, Hoon. Mana mungkin si culun ini...” Kalimat Jay terhenti saat ia melihat matamu yang bergetar tanpa kacamata yang sedikit melorot.
Tanpa banyak bicara, Sunghoon menarik lenganmu dengan kasar, menyeretmu masuk kembali ke dalam ruang kelas yang sudah kosong. Jake dengan sigap menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Klik. Suara kunci itu terdengar seperti vonis mati.
“Jelasin sekarang,” desis Jay, menyudutkanmu ke arah meja dosen.
Kamu mencoba meraih ponselmu di tangan Sunghoon dengan panik. “I-itu bukan punya aku! Aku cuma admin! Aku cuma kerja buat dia!” suaramu bergetar, mencoba mencari alasan paling masuk akal.
“Admin?” Sunghoon terkekeh sinis. Alih-alih mengembalikan ponselmu, ia justru mengangkat tubuhmu dengan paksa dan mendudukkanmu di atas meja dosen, mengurungmu dengan kedua tangannya. “Lo pikir kami bodoh? Riasan tipis di mata lo... ini eyeliner yang sama dengan yang Luna pake di sesi privat semalam.”
“Buka hoodie-nya,” perintah Jay datar.
“Nggak! Jangan!” Kamu menyilangkan tangan di depan dada, mencoba melindungi rahasiamu.
Tapi kamu kalah jumlah. Jake melangkah ke belakangmu, menangkap kedua pergelangan tanganmu dan menariknya ke belakang punggungmu dengan satu tangan besarnya, mengunci pergerakanmu sepenuhnya.
“Lepasin! Kak, tolong lepasin!” tangismu pecah, tapi itu justru memicu adrenalin mereka.
Jay berdiri di depanmu, tangannya meraih zipper hoodie-mu. Dengan satu tarikan kasar, ia menurunkan ritsleting itu hingga terbuka lebar, menampakkan tank top putih ketat yang membungkus tubuh binalmu.
Tanpa hoodie yang menenggelamkannya, dadamu yang penuh kini terpampang jelas, naik turun dengan napas yang memburu hebat.
Seketika, ruangan itu dipenuhi aroma yang sangat mereka kenal. Bau minyak esensial cendana dan vanila yang bercampur dengan keringat dinginmu—aroma khas yang selalu tercium saat kamu menari di bawah lampu neon klub.
Jay mendekatkan wajahnya ke ceruk lehermu, menghirup aroma itu dalam-dalam hingga matanya terpejam. “Bau ini... aroma ini yang bikin gue nggak bisa tidur semalaman.”
“Pantesan Luna nggak pernah mau buka masker,” bisik Jake di telingamu, suaranya serak karena gairah yang mulai memuncak. “Ternyata dia main peran jadi mahasiswi nolep di depan mata kita. Lo ngetawain kami di dalam hati, hah? Pas kami nyawer jutaan rupiah buat liat paha lo?”
Sunghoon menarik dagumu, memaksamu menatapnya. “Berapa banyak cowok di kampus ini yang udah liat tubuh binal lo tanpa baju ini, (Y/N)? Apa mereka semua tau kalau si culun ini bisa meliuk di tiang kayak pelacur kelas atas?”
Hargamu dirimu seolah diinjak-injak oleh pertanyaan erotis mereka. Kamu hanya bisa terisak, merasa sangat terekspos di bawah tatapan lapar tiga pria yang selama ini menjadi pengikut setiamu di dunia maya. Kini, mereka tidak lagi berada di balik layar, mereka nyata, dan mereka siap menagih “sesi privat” yang jauh lebih nyata.
“Nggak... tolong jangan, Kak...” rintihmu, tapi suaramu justru terdengar seperti undangan bagi mereka.
Jake yang berada di belakangmu tidak berhenti. Ia menenggelamkan wajahnya di ceruk lehermu, menghirup dalam-dalam aroma esensial yang memabukkan itu. Lidahnya menyapu pelan kulit sensitifmu, membuatmu reflek melengkungkan punggung dan mengeluarkan desahan tipis yang sangat sensual.
“Ahh...”
Suara itu bagaikan pelatuk. Detik itu juga, suasana di dalam kelas yang terkunci menjadi sangat berat. Kamu bisa merasakan sesuatu yang keras menekan punggungmu dari arah Jake, dan kamu tahu Jay serta Sunghoon pun sedang menahan tegang yang luar biasa di bawah sana.
“Sialan, suara itu...” umpat Jay dengan suara serak. Ia tidak sabar lagi. Ia menarik paksa zipper hoodie-mu ke atas, membungkus kembali tubuhmu meski tank top ketatmu sudah basah oleh keringat. “Kita nggak bisa ‘main’ di sini. Terlalu banyak risiko.”
“Kasih tahu alamat apartemen lo sekarang, atau gue seret lo ke markas kami,” ancam Sunghoon sambil meremas ponselmu yang retak.
Kamu yang sudah gemetar ketakutan akhirnya membisikkan alamatmu, merasa tidak punya pilihan lain di bawah intimidasi mereka.
Perjalanan menuju apartemenmu adalah siksaan yang manis sekaligus mengerikan. Jay mengemudi dengan kecepatan tinggi, sementara Sunghoon duduk di kursi depan dengan mata yang terus memantau lewat spion tengah.
Di kursi belakang, kamu benar-benar terhimpit. Jake melingkarkan lengannya di pinggangmu, menarik tubuhmu hingga duduk di atas pangkuannya. Ia mengunci tanganmu agar kamu tidak bisa berontak, sementara tangannya yang lain mulai masuk ke balik hoodie-mu, meraba perut ratamu yang halus.
“Jangan berisik, Sayang... atau Jay bakal hilang kendali dan kita kecelakaan,” bisik Jake di telingamu, membuatmu hanya bisa menggigit bibir menahan tangis dan gejolak aneh yang mulai menjalar di tubuhmu.
Sesampainya di apartemenmu, Jay menendang pintu hingga tertutup rapat dan langsung menguncinya. Kamu dilempar ke atas sofa empuk di ruang tengah. Belum sempat kamu bangkit, Sunghoon sudah berada di depanmu.
Dengan gerakan kasar namun penuh gairah, Sunghoon mencengkeram tudung hoodie-mu dan menariknya lepas dari tubuhmu dalam satu sentakan kuat. Kini, kamu hanya mengenakan tank top putih tipis tanpa bra—memperlihatkan bentuk dadamu yang penuh dan binal dengan sangat jelas di bawah lampu apartemen yang terang.
“Selamat datang di sesi privat yang sebenarnya, Luna,” desis Sunghoon, matanya menatap lapar ke arah dadamu yang naik turun karena napas yang memburu.
Jay melepas jam tangan dan kemejanya, menyisakan kaos dalam hitam yang menonjolkan otot-ototnya. “Gue udah bayar mahal buat siluet lo selama berbulan-bulan. Sekarang, gue mau liat semuanya secara langsung. Tanpa layar, tanpa jarak.”
Jake berdiri di belakang sofa, membelai rambutmu yang kini tergerai berantakan. “Jangan takut, (Y/N). Kami bakal jaga rahasia lo... tapi sebagai gantinya, tubuh ini milik kami bertiga mulai malam ini. Lo paham?”
Kamu menatap mereka bertiga bergantian. Tiga pria paling populer di kampus kini mengurungmu di rumahmu sendiri. Kamu tidak lagi melihat mereka sebagai kakak tingkat atau pengagum rahasia, melainkan sebagai tiga predator yang siap melahapmu habis-habisan.
;
To Be Continued




Demmm
oh my god