πΌ TEMPO πΌ
βEvery story has its own rhythm. But ours was just a matter of wrong timing.β
Y/N - CEGIL FINAL BOSS
βAku minta maaf ya, udah bikin kamu gak nyaman selama beberapa semester ini. Kamu tenang aja, aku gak bakal ganggu kamu lagi kok. Aku udah kapok jadi cewek gila buat kamu.β
RIKI - NONCHALANT FINAL BOSS
βGue butuh kehilangan lo dulu buat sadar kalau lo adalah satu-satunya orang yang paling pengen gue lihat seumur hidup gue.β
JUNGHWAN - SI DOYAN MAKAN - TEMEN TONGKRONGAN RIKI
βGue gak bakal bisa tidur tenang sebelum liat Riki bayarin bakso kita semua gara-gara kena karma kemakan omongannya sendiri!β
JAMES - SUTRADARA PDKT - TEMEN TONGKRONGAN RIKI
βRiki itu payah soal cewek. Kalau kita gak bikin panggungnya, sampai lulus juga mereka cuma bakal tatap-tatapan tajam kayak musuh bebuyutan.β
OHYUL & RYUL - KEMBAR TAK IDENTIK - TEMEN TONGKRONGAN RIKI
βWhen ya giliran gue? Capek banget tiap hari cuma jadi penonton dan panitia sukses perjodohan orang.β β Ohyul
βRiki kalo lagi ngamuk dalam diam rasanya kayak mau bikin benteng pertahanan mau runtuh. Tolong dong (Y/N),unblock wa-nya biar kita selamat.β β Ryul
Happy Reading
πΈ
Malam sebelum KRS-an selalu terasa seperti medan perang. Di kamar kosanmu yang berantakan dengan lembaran sheet music dan stiker stiker lucu yang mulai mengelupas di pinggiran laptop, kamu duduk bersedekah di depan layar Monitor. Jam menunjukkan pukul 23.58 WIB. Layar Siakad universitas yang sering kali crash kalau diakses puluhan ribu mahasiswa bersamaan sudah kamu refresh setiap tiga puluh detik sekali.
Jarimu gemetaran di atas kursor. Di sebelah keyboard-mu, ada selembar kertas catatan kecil berisi jadwal kuliah Riki yang berhasil kamu dapatkan lewat cara-cara yang... yah, kalau Riki tahu, dia pasti bakal makin menganggapmu gila. Tapi kamu tidak peduli. Information is power, kan?
βSeni Musik 20XX. Harmoni Lanjut Kelas B. Harmoni Lanjut Kelas B. Please, jangan penuh dulu,β gumammu, menggigit bibir bawahmu sampai perih.
Kamu tahu Riki bakal mengambil kelas Harmoni Lanjut Kelas B karena dia pernah tidak sengaja membicarakannya di koridor gedung Fakultas Seni saat mengobrol dengan Junghwan. Waktu itu kamu pura-pura lagi sibuk menyetem gitar akustikmu di balik pilar, padahal telingamu terpasang lebar-lebar seperti antena parabola.
Tepat jam 00.00 WIB, tombol submit berubah warna jadi hijau. Jarimu bergerak secepat kilat. Klik. Loading. Spinning wheel of death. Kamu menahan napas. Dua detik, lima detik, sepuluh detik...
Berhasil.
Kamu menjatuhkan tubuhmu ke kasur, menatap langit-langit kamar sambil tertawa pelan. Satu langkah lebih dekat lagi ke Riki. Kamu tahu kamu gila. Kamu tahu teman-teman kosanmu sudah capek menasihatimu kalau tindakanmu ini sudah melampaui batas crush biasa dan masuk ke ranah obsesi yang agak menakutkan. Tapi buatmu, garis batas antara βobsesiβ dan βberjuang demi cintaβ itu sangat tipis. Dan kamu sudah memutuskan untuk melompat melintasi garis itu sejak semester pertama.
Hari pertama masa perkuliahan semester 4 akhirnya tiba, kamu datang ke kampus dengan penampilan yang betul-betul matang. Baju knitwear warna pastel yang pas di badan, celana kulot, rambut yang di-curl rapi, dan parfum aroma vanilla-caramel yang semerbaknya bisa tercium dari jarak lima meter. Kamu sengaja menyegarkan penampilanmu karena kamu tahu, hari ini adalah kelas pertama Harmoni Lanjut.
Saat kamu melangkah masuk ke studio musik 3, Riki sudah duduk di sana. Di pojok belakang dekat jendela, tempat favoritnya. Dia memakai jaket denim oversizenya yang biasa, headphones terkalung di leher, dan tangannya sibuk memetik senar gitar listrik yang bahkan tidak dicolokkan ke amplifierΒΉ. Sinar matahari pagi menembus kaca jendela, memantulkan garis rahangnya yang tajam dan rambut hitamnya yang sedikit berantakan.
ΒΉAmplifier adalah alat elektronik yang berfungsi untuk memperkuat sinyal suara atau audio yang lemah dari sumber.
Dia ganteng banget. Banget. Dan itu alasan kenapa kamu tidak pernah bisa menyerah, sekeras apa pun dia berusaha mengusirmu.
Kamu sengaja melangkah dengan tumit sepatu yang berbunyi nyaring di atas lantai kayu studio. Begitu sampai di mejanya, kamu menaruh sebotol iced salted caramel latte tepat di atas catatannya.
βPagi, Riki! Nih, buat kamu. Aku tahu semalam kamu pasti begadang mixing lagu,β ucapmu dengan nada paling manis dan manja yang kamu punya. Kamu langsung duduk di kursi kosong tepat di sebelahnya, menyandarkan dagu di atas kedua tanganmu sambil menatap wajahnya tanpa kedip.
Riki tidak langsung menatapmu. Tangannya berhenti memetik senar. Dia menghela napas panjang bisa dibilang tipe helaian napas yang keluar dari seseorang yang mendadak kena migrain. Dia menggeser kopi itu menjauh dari catatannya tanpa menyentuhnya.
βLo ngapain di sini?β suara Riki terdengar berat dan dingin, khas orang yang baru bangun atau memang malas bicara.
βYa kuliah lah, Ki. Mau ngapain lagi? Kita sekelas lagi loh di Harmoni Lanjut! Lucu banget ya, kayaknya jadwal kita emang ditakdirkan buat sejajar terus.β Kamu tersenyum lebar, menunjukkan lesung pipitmu yang biasanya disukai orang-orang tapi tidak pernah mempan buat Riki.
Riki akhirnya menoleh, menatapmu datar. Tidak ada binar gembira, tidak ada rasa penasaran. Hanya ada rasa lelah yang amat sangat di matanya. βGue tau lo yang sengaja ngatur KRS lo biar bareng gue,β kata Riki, suaranya pelan tapi menusuk. βGak usah sok kaget atau ngomongin takdir. Itβs getting creepier every semester, (Y/N).β
Kata creepy itu keluar begitu saja dari mulutnya. Santai, tanpa beban. Bagi orang lain, dipanggil creepy sama gebetan mungkin bakal bikin mereka nangis dan kabur ke toilet. Tapi kamu? Kamu cuma mengedipkan mata, memiringkan kepala, lalu terkekeh pelan.
βIh, kok creepy sih? Ini tuh namanya usaha, Riki. Lagian kan kita satu jurusan, wajar dong kalau mata kuliahnya banyak yang bentrok. Jangan pedes-pedes gitu dong omongannya, nanti kalau kamu suka sama aku gimana?β
βGue gak bakal suka sama lo.β Riki menggeser kursinya sedikit menjauh darimu. βGue risih. Beneran deh, can you just leave me alone for once? Gue ke sini mau belajar, bukan mau diladenin sikap manja lo yang kekanak-kanakan itu.β
Setiap kata yang keluar dari mulut Riki rasanya seperti jarum kecil yang ditusukkan ke dada. Sakit? Jelas. Tapi rasa sakit itu seperti ditutupi oleh lapisan tebal bernama delusi. Di otakmu yang sudah dibutakan cinta ini, respon Riki yang dingin cuma sebuah benteng yang belum berhasil kamu hancurkan. Kamu cuma perlu mencoba lebih keras lagi. Kamu cuma perlu jadi tipe cewek yang dia suka.
βYaudah iya, aku diem. Tapi kopinya diminum ya? Itu aku beliin dari tempat langganan kamu loh,β bisikmu, memajukan bibirmu sedikit, masih mencoba berakting menggemaskan di depannya.
Riki tidak menjawab lagi. Dia meraih headphones-nya, memasangnya ke telinga, dan memalingkan wajahnya ke arah jendela. Memutus interaksi secara total.
Kamu menatap profil samping wajahnya. Ada sedikit rasa nyeri di dalam dadamu yang makin meluas. Kamu gila ya, (Y/N)? bisik otak kecilmu. Dia jelas-jelas benci sama kamu. Tapi kamu dengan cepat membungkam suara itu. Gak, Riki cuma belum terbiasa aja. Nanti juga dia sadar kalau cuma aku yang paling perhatian sama dia.
Kantin Fakultas Seni Musik selalu bising dengan suara dentingan piring, petikan gitar yang random, dan gelak tawa mahasiswa yang tidak punya beban hidup. Di pojok kanan, di bawah pohon beringin tua yang teduh, ada meja kayu panjang yang sudah diakuisisi secara tidak resmi oleh gengnya Riki.
Ada Junghwan, anak drum yang badannya bongsor tapi kelakuannya paling receh. Ada James, anak gitaris virtuoso yang selalu tampil ala-ala anak indie Jaksel sejati dengan kacamata berbingkai tipis dan rokok yang terselip di telinga. Lalu ada duo kembar tidak seiras, Ohyul dan Ryul, yang memegang kendali di bagian bass dan keyboard.
Dan tentu saja, Riki. Di antara mereka berlima, Riki adalah yang paling pendiam, tapi aura cool-nya paling pekat.
Siang itu, kamu berjalan menuju meja mereka sambil membawa nampan berisi dua mangkuk bakso dan dua es teh manis. Langkahmu mantap, meskipun kamu bisa melihat dari jauh kalau Riki langsung menunduk begitu melihat presensimu mendekat.
βPermisi wahai anak-anak hits musik!β sapamu heboh, langsung menarik kursi di samping Riki tanpa diminta.
βEaaa, Si Cegil datang lagi,β celetuk Junghwan langsung, disambut tawa berderai dari James dan Ryul. Junghwan meletakkan stik drumnya di meja. βGokil sih, ga pernah give up... pantang menyerah sebelum janur kuning melengkung ya lo buat menangin hati Riki?β
βApaan sih, Hwan! Orang aku mau makan siang bareng Riki kok ... Riki, nih aku beliin bakso, kuahnya udah aku kasih sambal sedikit biar gak terlalu pedas kayak kemarin.β Kamu menyorongkan mangkuk bakso itu ke hadapan Riki.
Riki yang sedang memangku gitarnya hanya menatap mangkuk itu dengan alis berkerut. βGue udah makan.β
βBohong, tadi kata Ryul kamu belum ke kantin dari pagi,β sergapmu cepat. Kamu menoleh ke Ryul yang langsung pura-pura sibuk main HP. βIya kan, Ryul?β
Ryul ketawa cengengesan. βDuh, jangan bawa-bawa gue dong, (Y/N). Gue cuma mengabarkan fakta. Tapi jujurly, perhatian lo ke Riki tuh udah tingkat dewa sih. Gue kalau dipedulitin gini sama cewek udah gue ajak nikah besok.β
βSayangnya Riki bukan lo, Ryul,β potong James sambil menghembuskan asap rokoknya ke udara. James menatapmu dengan pandangan yang sulit diartikanβcampuran antara kasihan dan menghina. βLagian lo gak capek apa, (Y/N)? Like, for real, lo tuh cakep, anak vokalis juga, cewek-cewek lain di angkatan kita banyak yang iri sama suara lo. Tapi kenapa lo memilih untuk jadi unpaid servant-nya Riki sih?β
Kata-kata James membuat suasana meja mendadak agak canggung. Ohyul yang dari tadi diam ikut menimpali, βIya nih, (Y/N). Lo too much kadang. Riki tuh tipe cowok yang makin dikejar makin kabur. Lo makin kayak gini, dia makin illfeel. Literally, lo kayak gak punya harga diri tau gak?β
Kamu merasakan wajahmu memanas. Disindir di depan orang yang kamu sukaiβoleh teman-temannya sendiriβadalah level kemalangan yang sangat tinggi. Jarimu meremas rok kainmu di bawah meja. Kamu ingin marah, kamu ingin melempar mangkuk bakso itu ke muka James. Tapi kamu takut Riki bakal makin benci padamu kalau kamu bikin keributan. Jadi, kamu melakukan apa yang selalu kamu lakukan adalah tersenyum dan pura-pura itu cuma candaan.
βLoh, kan aku cuma mau kejar apa yang aku suka. Masa berjuang buat cinta dibilang gak punya harga diri? Kalian tuh gak paham aja,β jawabmu dengan nada sok santai, meski suaramu agak bergetar di akhir.
Riki mendadak berdiri dari duduknya. Gerakannya yang tiba-tiba membuat kursi kayunya terseret dan menimbulkan suara berdecit yang nyaring.
βGue balik ke studio duluan,β kata Riki dingin pada teman-temannya. Dia bahkan tidak melihat ke arahmu sama sekali. Tangannya menyangklong tas gitarnya.
βRiki! Baksonya gimana? Kan belum dimakan!β panggilmu ikut berdiri, hendak menyusulnya.
Riki menghentikan langkahnya, lalu menoleh padamu. Matanya menatapmu tajam, benar-benar dingin tanpa ada sedikit pun kehangatan.
βBisa gak lo berhenti bikin gue risih di depan temen-temen gue?β bisik Riki, cukup pelan tapi sangat jelas untuk kamu dengar. βGue gak minta dibeliin bakso. Gue gak minta diperhatiin. I donβt need your affection, (Y/N). Stop acting like youβre my girlfriend, because youβre NOT. And you will NEVER be.β
Setelah mengucapkan kalimat yang menghancurkan itu, Riki berbalik dan berjalan pergi meninggalkan kantin.
Seluruh meja hening. Junghwan meringis pelan, merasa bersalah. βAnjir, Riki omongannya pedes banget hari ini...β
Kamu berdiri kaku di tempatmu. Semua mata di kantin rasanya sedang menatapmu, tertawa membicarakan cewek cegil yang baru saja ditolak secara publik untuk keseribu kalinya. Tenggorokanmu terasa gatal dan kering. Ada rasa panas yang membakar di balik matamu, menuntut untuk dikeluarkan menjadi air mata.
Tapi kamu menahannya. Kamu menggigit bibir dalammu kuat-kuat sampai rasa asin darah terasa di lidahmu.
Jangan nangis di depan mereka, batismu. Jangan kelihatan lemah.
Kamu kembali duduk di kursi, merapikan nampan bakso yang sudah dingin. βDasar Riki... gengsian banget ya dia,β ucapmu sambil tertawa kecil yang terdengar sangat dipaksakan. βYaudah deh, baksonya buat Junghwan aja. Nih, Hwan, makan.β
Junghwan menatapmu ragu. βLo... lo gak apa-apa kan gue selalu ambil jatah makan kalian berdua terus kayak gini, (Y/N)?β
βGak apa-apa lah! Aku kan kuat. Riki cuma lagi mood swing aja palingan as usual,β jawabmu riang. Tapi dalam hatimu, ada bagian kecil yang pecah dan gugur.
βOke deh, thanks ya...β James cuma bisa memijat dahinya melihat kelakuian Riki dan Junghwan sementara Ohyul dan Ryul cuma nyengir watados.
πΈ
Minggu ketiga semester 4 berlanjut, dan Dosen Pengampu Mata Kuliah Harmoni Lanjut, Pak Suga, memberikan pengumuman yang sukses membuat seluruh kelas riuh. Tugas Tengah Semester adalah membuat satu aransemen lagu akustik secara berpasangan. Dan yang paling parahβatau paling membahagiakan buatmuβpasangannya ditentukan berdasarkan nomor urut absensi.
Ketika Pak Suga membacakan namamu dan nama Riki sebagai Pasangan Nomor 4, kamu hampir saja berteriak gembira di dalam kelas. Riki di ujung sana cuma bisa memijat pangkal hidungnya, menyandarkan kepalanya ke meja kayu dengan kepasrahan yang mendalam.
βOke, jadi karena ini tugas berpasangan, aku mau kita kerjain di tempat yang tenang. Di kosan aku aja gimana, Ki? Ada keyboard sama mikrofon bagus kok,β usulmu begitu kelas selesai. Kamu sudah memblokir jalan Riki di depan pintu keluar studio.
Riki menatapmu dengan pandangan lelah. βGak. Gue gak mau ke kosan lo. Kita kerjain di studio kampus aja. Atau di tempat netral.β
βIh, studio kampus kan sering ramai, Ki. Nanti kita gak fokus. Yaudah kalau gitu di kafe langganan kamu aja gimana? Yang di daerah Senopati itu?β
Riki menghela napas. βTerserah. Jam lima sore nanti. Jangan telat, dan please... dateng buat ngerjain tugas, bukan buat godain gue.β
βSiap, KAPTEN!β kamu memberikan gestur hormat yang kekanak-kanakan, berusaha membuat suasana hati Riki melunak. Tapi Riki cuma berjalan melewatinya tanpa merespons.
Jam lima sore kurang sepuluh menit, kamu sudah duduk di pojok kafe bergaya industrial itu. Kamu membawa laptop, iPad untuk bikin sheet music, dan membawa satu buku catatan kecil yang covers-nya penuh dengan stiker. Kamu sengaja berdandan tidak terlalu mencolok hari ini hanya kaos putih polos dilapisi cardigan rajut oversized dan celana jeans. Kamu ingat pernah mendengar Riki bilang kalau dia suka cewek yang tampilannya simple dan effortless.
Lihat kan, Riki? Aku bisa kok jadi tipe cewek kamu, batinmu manis.
Jam lima lewat lima belas menit, Riki baru datang. Dia membawa gitar akustiknya. Wajahnya terlihat lelah, sepertinya habis latihan rutin dengan grup musiknya.
βSori telat, macet di jalan,β katanya singkat sambil duduk di hadapanmu. Dia langsung mengeluarkan laptopnya sendiri tanpa membuang waktu. βLo udah ada ide lagu apa yang mau di-aransemen?β
βUdah! Aku kepikiran lagu pop 90-an gitu, terus kita bikin versi jazz-ballad. Kamu yang main gitar, aku yang nyanyi, nanti di tengah-tengah kamu masuk vokal dua. Gimana?β matamu berbinar-binar saat menjelaskan ide yang sudah kamu susun semalaman itu.
Riki mendengarkan penjelasannya. Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu ini, dia tidak langsung memotong atau menolak ulasannya. Dia tampak berpikir, jarinya menggetuk-getuk meja kayu. βBoleh juga,β gumam Riki pelan. βLagu apa spesifiknya?β Kamu menyebutkan sebuah judul lagu romantis klasik. Riki mengangguk-angguk kecil, mulai memetik gitarnya pelan untuk mencari kunci dasar yang pas dengan jangkauan vokalnya dan vokalnya Riki.
Selama satu jam pertama, semuanya berjalan sangat lancar. Ini adalah momen paling damai yang pernah kamu lewati bersama Riki selama dua tahun terakhir. Tidak ada bentakan, tidak ada tatapan sinis. Hanya ada suara petikan gitar Riki yang lembut dan harmoni suaramu yang menyatu dengan vokalnya yang berat. Di detik-detik seperti ini, kamu merasa semua usahamu yang gila tidak sia-sia. Kamu merasa ada harapan. Tapi harapan itu runtuh secepat bangunan dari kartu.
Pintu kafe terbuka, dan klintingan bel pintu berbunyi. Seorang cewek jangkung dengan rambut panjang bergelombang dan gaya pakaian yang sangat stylish masuk ke dalam kafe. Cewek itu adalah Stella anak Seni Rupa angkatan atas yang rumornya pernah dekat dengan Riki semester lalu.
Riki yang tadinya fokus pada layar laptopnya, mendadak menghentikan jarinya begitu melihat Stella. Pandangan matanya berubah total. Tidak ada lagi rasa lelah atau dingin di matanyaβyang ada hanyalah binar ketertarikan yang tidak pernah dia perlihatkan padamu. Stella melambaikan tangan ke arah Riki, dan Riki membalas lambaian itu dengan senyuman tipis... senyuman nyata, bukan senyum sinis. βEh, Riki! Lagi ngerjain proyek ya?β tanya Stella saat menghampiri meja kalian.
βIya, Stel. Tugas Harmoni,β jawab Riki. Suaranya terdengar jauh lebih lembut dan ramah. Beda banget sama cara dia ngomong ke kamu. Stella melirik ke arahmu, memberikan senyum sopan yang terasa dingin. βOh, sama (Y/N) ya. Yaudah deh, lanjutin aja. Gue mau ketemu temen di lantai atas. Nanti kalau udah selesai, text me ya, Ki. Ada yang mau gue omongin soal exhibition minggu depan.β
βSip, nanti gue kabarin,β balas Riki manis.
Begitu Stella naik ke lantai atas, suasana di meja kalian langsung berubah kembali menjadi sedingin es. Riki kembali menatap laptopnya, tapi fokusnya jelas sudah hilang. Dia beberapa kali mengecek HP-nya, mengetik pesan dengan cepat sambil tersenyum sendiri.
Kamu menatap Riki dari balik layar laptopmu. Ada rasa panas yang luar biasa bergejolak di dalam dadamu. Rasa cemburu yang membakar, bercampur dengan rasa hina yang teramat sangat. Kamu sudah mengikutinya kemana-mana, membelikannya makanan, mengingat semua hal kecil tentang dia, tapi satu senyuman dari Stella bisa membuat fokusnya teralihkan sepenuhnya.
βKi,β panggilmu, suaramu kini tidak lagi manja. Suaramu terdengar datar.
βKenapa?β jawab Riki tanpa mengalihkan pandangannya dari HP.
βKamu suka ya sama Kak Stella?β
Pertanyaan itu membuat jari Riki berhenti mengetik. Dia mengangkat wajahnya, menatapmu dengan pandangan yang kembali dingin dan penuh kekesalan.
βBukan urusan lo, (Y/N).β
βAku cuma tanya, Ki. Lagian kan aku yang lagi ada di depan kamu sekarang. Kita lagi ngerjain tugas bareng. Bisa gak HP-nya disimpan dulu?β
Riki meletakkan HP-nya di meja dengan agak keras. Tak!
βLo bisa gak sih sehari aja gak usah ngatur-ngatur hidup gue?β kata Riki dengan nada tinggi, membuat beberapa pengunjung kafe melirik ke arah kalian. βGue mau bales chat siapa, gue mau suka sama siapa, itu hak gue. Lo tuh bukan siapa-siapa gue, (Y/N)! Lo cuma temen seangkatan yang kebetulan dapet kelompok bareng gue. Get a grip!β
βTapi aku padahal udah berusaha banget buat jadi cewek yang kamu suka, Ki!β suaramu mulai meninggi, tidak bisa dibendung lagi. βAku belajarin semua lagu favorit kamu, aku beliin kopi yang kamu suka, aku bela-belain ambil kelas yang sama biar bisa ada di dekat kamu! Kurang apa aku, Riki?!β
Riki tertawaβsebuah tawa retoris yang menyakitkan.
βItu masalah lo! Gue gak pernah minta semua itu dari lo! Gue gak pernah minta lo buat rubah diri lo atau ngikutin gue kayak orang gila!β Riki menunjuk dadamu dengan jarinya. βLo mau tahu kenapa gue gak akan pernah suka sama lo? Karena lo itu obsessive. Lo gak beneran suka sama gue, (Y/N). Lo cuma suka sama ide tentang gue yang ada di kepala lo. Lo tuh gila.β
Lo tuh gila.
Kata itu menghantam dadamu seperti hantaman godam yang menghancurkan seluruh dinding pertahananmu. Kamu terpaku. Kata-kata Riki kali ini tidak lagi terasa seperti tantangan yang harus kamu kalahkan. Kata-kata itu terasa seperti vonis mati.
Riki langsung merapikan gitar dan laptopnya dengan terburu-buru, lalu berdiri. βProyek ini kita bagi tugas aja. Lo bikin bagian partitur vokalnya, gue yang aransemen musiknya. Gak usah ketemu lagi kalau gak penting-penting banget.β
Riki pergi melangkah meninggalkan kafe, naik ke lantai dua untuk menghampiri Stella. Kamu sendirian di meja itu. Di hadapan dua cangkir kopi yang sudah dingin dan laptop yang masih menyala. Kali ini, air matamu benar-benar menetes. Satu tetes, dua tetes, membasahi kertas catatarmu yang penuh dengan stiker-stiker lucu.
to be continued
sakit nih anak









LANJUT PLS. BIKIN RIKI CARI CARI YEEN. BIKIN RIKI MENYESAL UDA JAHAT SM MANUSIA SEIMUT LUCU CANTIK SEGEMAS YEEN
FIRST MOMMM