jangan lupa like
Suara deru mesin mobil kursi tunggal di sirkuit privat itu kedengaran bising banget, memekakkan telinga buat siapa aja yang nggak terbiasa. Tapi buat cowok yang lagi fokus di balik kemudi, suara itu adalah satu-satunya hal yang bikin dia merasa hidup. Yang Jungwon baru aja memarkirkan mobil balap F1-nya di area pit stop. Begitu dia ngebuka helm, rambutnya yang agak basah karena keringat langsung kelihatan. Mukanya ganteng, tapi ketat banget kayak orang yang utangnya ditagih rentenir.
Nggak jauh dari sana, kamu—(y/n)—lagi duduk anteng di atas kursi lipat sambil megangin botol minum dan handuk kecil. Kamu cuma pakai dress katun kasual warna pastel yang kelihatan kontras banget sama suasana sirkuit yang maskulin dan penuh oli. Kamu ngeliatin Jungwon sambil kedip-kedip polos. Nggak ada beban. Di otak kamu yang agak loading-nya lama itu, kamu cuma mikir: “Wah, Jungwon keren banget ya kalau lagi nyetir kencang begitu.”
Jungwon jalan mendekat, mukanya langsung berubah ketus pas ngeliat kamu. Dia merebut botol minum dari tanganmu dengan kasar sampai airnya agak nyiprat ke baju kamu.
“Ngapain sih lo masih di sini? Panas tahu nggak. Lagian ngapain juga lo kudu ikut gua ke sirkuit segala?” semprot Jungwon, nadanya ketus dan ketat banget.
Kamu cuma tersenyum tipis, tipe senyum manis yang lempeng tanpa dosa. “Kan disuruh Mama sama Papa, Won. Kata mereka aku harus nemenin kamu biar kita makin akrab sebelum nikah.”
Jungwon langsung mendecih keras, matanya menatap kamu sinis. “Nikah? Heh, denger ya. Yang harusnya nikah sama lo tuh Kak Heeseung, bukan gua! Paham nggak sih lo?”
“Iya, aku tahu...” jawabmu pelan, suaranya lembut banget selembut sutra. “Tapi kan Kak Heeseung kabur bawa separuh uang keluarga, terus lost contact. Jadi kata Papa kamu, kamu aja yang gantiin karena kita seumuran.”
Jungwon rasanya mau jedotin kepala ke ban mobil. Dia frustrasi setengah mati. Kamu tuh kenapa bisa se-lempeng dan se-bodo amat ini sih? Masalahnya, Jungwon tuh udah punya cewek yang dia sayang ‘katanya’. Tapi karena ulah sialan kakaknya yang kabur bawa aset penting keluarga, nama baik orang tuanya dipertaruhkan. Satu-satunya cara biar relasi bisnis dan kehormatan keluarga Jungwon tetap tegak adalah dengan mengikat hubungan sama keluarga kamu yang terpandang. Sialnya, Jungwon yang harus jadi tumbal.
“Lo tuh bego atau gimana sih? Lo dijadiin ban serep begini kok ya mau-mau aja? Nggak punya harga diri?” gertak Jungwon lagi, sengaja pengen memicu amarahmu.
Tapi dasar kamu anaknya kelewat polos (atau mungkin agak telat mikir), kamu cuma memiringkan kepala. “Tapi Papa bilang ini demi kebaikan bersama. Aku kan anak baik, jadi aku menurut aja. Mau sama Kak Heeseung atau sama kamu, kan sama-sama sah nanti.”
Jungwon membuang muka, kehabisan kata-kata. Hati kamu yang terlalu lembut dan pembawaanmu yang super pasrah bikin gertakan dia mentah begitu aja. Kayak lagi marahin tembok yang dicat warna pink. Gemes, tapi pengen nendang.
Dua minggu kemudian, jadwal balapan F1 musim ini resmi dimulai di Eropa. Karena perintah mutlak dari bokapnya Jungwon, kamu wajib ikut terbang ke luar negeri buat “mengawasi” Jungwon—atau bahasa halusnya, biar kalian berdua terbiasa hidup bareng.
Di depan meja resepsionis hotel mewah bintang lima tempat tim balap menginap, Jungwon lagi berdebat sengit sama managernya.
“Gua nggak mau tahu, Bang! Pindahin kamar dia. Kasih kamar di lantai paling bawah atau ujung kek. Gua nggak bisa satu ruangan sama nih anak!” usir Jungwon sambil menunjuk kamu yang lagi sibuk ngeliatin lampu kristal di langit-langit lobi hotel.
Manager Jungwon si Jake itu cuma bisa menghela napas pasrah, wajahnya kelihatan gak enak hati. “Sorry banget, Won. Ini perintah langsung dari bokap lo. Beliau telepon gue kemarin, katanya kalau gue berani pisahin kamar kalian, dana sponsor dari perusahaan keluarga lo buat balapan bulan depan bakal ditahan. Gue gak bisa berkutik.”
Jungwon menjambak rambutnya sendiri. “Sialan!”
Dia berbalik, lalu menyambar pergelangan tanganmu dengan agak kasar, menarikmu masuk ke dalam lift. Kamu sempat meringis kecil karena genggamannya yang kuat, tapi kamu nggak protes apalagi ngomong kasar. Kamu cuma diam, mengikuti langkah lebarnya sampai mereka tiba di depan kamar Executive Suite.
Klek.
Pintu terbuka, menampilkan satu ranjang King Size berbalut seprai putih bersih, ruang tengah yang luas, dan pembatas kaca besar yang langsung menghadap pemandangan kota. Cuma ada satu ranjang.
“Gua tidur di kasur. Lo tidur di sofa. Jangan berani-berani lo nyentuh barang gua, dan jangan pernah ajak gua ngomong kalau nggak penting,” ancam Jungwon sambil melempar koper solonya ke pojok ruangan.
“Iya, Won. Nggak apa-apa kok. Sofanya juga kelihatan empuk,” jawabmu sambil tersenyum tulus, langsung berjalan ke arah sofa panjang dan menaruh tas kecilmu di sana.
Melihat respons kamu yang super pasrah dan tanpa perlawanan itu, sudut hati Jungwon mendadak merasa aneh. Ada rasa bersalah yang sedikit menggelitik egonya, tapi rasa kesal karena kebebasannya direnggut jauh lebih mendominasi.
Malam harinya, udara kamar hotel mendadak berubah drastis. Jungwon baru selesai mandi, cuma pakai celana training hitam tanpa atasan. Badannya yang atletis, dada bidang, dan perutnya yang six-pack terbentuk sempurna akibat latihan fisik ekstrem pembalap terpampang nyata.
Kamu lagi duduk di tepi sofa sambil mencoba menyisir rambutmu yang agak kusut. Karena kamu anaknya emang rada canggung dan polos, kamu kesulitan menjangkau bagian belakang rambutmu.
Jungwon yang awalnya pura-pura main HP di ranjang, lama-lama gerah sendiri ngeliat tingkah lambatmu. Dia mendengus, lalu beranjak dari kasur dan jalan mendekat.
Tanpa aba-aba, Jungwon merebut sisir dari tanganmu.
“Siniin. Lemot banget sih lo dari tadi,” omelnya. Tapi, gerakan tangannya saat mulai menyisir rambutmu dari belakang ternyata berbanding terbalik sama omongannya. Dia menyisir rambutmu dengan sangat pelan dan hati-hati, takut bikin kamu sakit.
Kamu terdiam, merasakan kehangatan tubuh Jungwon yang berdiri tepat di belakangmu. Aroma sabun maskulin bercampur wangi mint dari tubuhnya perlahan memenuhi indra penciumanmu.
“Won...” panggilmu pelan.
“Apa? Jangan banyak protes,” potongnya ketus.
“Kamu... beneran benci banget ya sama pertunangan ini?” tanyamu polos, mendongak ke belakang sehingga matamu langsung bertemu dengan tatapan mata tajam Jungwon.
Jungwon menghentikan gerakan sisirnya. Jarak wajah kalian dekat banget, sampai-sampai Jungwon bisa melihat dengan jelas betapa jernih dan tulusnya sepasang matamu. Nggak ada niat jahat, nggak ada manipulasi. Kamu cuma gadis polos yang terjebak di antara ambisi dua keluarga.
Tiba-tiba, pandangan Jungwon turun ke bibir tipismu yang sedikit terbuka. Ada sensasi panas yang mendadak menjalar di bawah perutnya. Sebagai cowok normal, melihat cewek selembut dan secantik kamu pasrah di bawah kuasanya di dalam kamar hotel yang sepi ini jelas memicu sesuatu yang beringas di dalam dirinya.
Jungwon menunduk sedikit, menumpukan kedua tangannya di sandaran sofa, mengurung tubuh mungilmu. Napas panasnya mulai menerpa permukaan kulit pipimu.
“Gua emang benci sama situasinya, (y/n)...” bisik Jungwon, suaranya mendadak berubah jadi berat dan agak serak, sangat berbeda dari nada ketusnya yang tadi. Jari jemarinya yang kasar perlahan menyentuh dagumu, memaksa wajahmu untuk tetap menatapnya. “...tapi kalau lo terus-terusan masang muka polos tak berdosa kayak begini di depan gua, gua gak bisa ngejamin lo bakal balik ke Indonesia dalam keadaan masih ‘utuh’. Paham?”
Kamu mengerjapkan mata beberapa kali, menatap Jungwon dengan pandangan kosong yang super polos. Otakmu lagi-lagi butuh waktu beberapa detik buat mencerna kalimat ancaman terbarunya. Di pikiranmu yang lempeng itu, kamu cuma bingung dalam artian utuh maksudnya gimana? Memangnya aku barang yang bisa pecah?
“Utuh... maksudnya aku nggak bakal terluka ya, Won? Kamu tenang aja, aku nggak bakal jatuh dari sofa kok,” jawabmu dengan suara lembut tanpa beban, lalu tersenyum manis seolah baru saja memecahkan teka-teki logika yang sulit.
Jungwon langsung mematung. Tangannya yang tadinya mencengkeram dagumu perlahan turun, lalu dia memijat pangkal hidungnya sendiri. Cowok itu mendengus frustrasi, menahan tawa miris sekaligus gemes yang tertahan di tenggorokan. Dia benar-benar kehabisan kata-kata menghadapi kelemotan tingkat dewa yang kamu miliki.
“Nih anak beneran polos tolol atau sengaja mau bikin gua mati muda karena nahan napsu sih?” batin Jungwon menjerit.
Pandangan mata Jungwon kemudian turun, menelusuri penampilanmu malam itu. Dan detik itu juga, pertahanan iman seorang Jungwon rasanya mau runtuh ke lantai. Kamu malam ini cuma pakai daster katun tipis warna pink pastel tanpa lengan yang panjangnya cuma sebatas paha. Potongan dadanya agak rendah, mengekspos tulang selangka kamu yang seputih susu dan bayangan belahan dadamu yang mengintip malu-malu setiap kali kamu bernapas.
Daster itu tipis banget, sampai-sampai lekuk tubuh mungilmu kelihatan jelas saat lampu kamar hotel yang remang-remang menyorot dari belakang. Jungwon menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik-turun. Di matanya, kamu kelihatan sangat seksi dan mengundang, tapi ekspresi wajahmu yang polos melongo itu bikin dia makin gregetan. Antara pengen menerkam atau pengen nyentil jidat kamu karena sama sekali nggak sadar kalau kamu lagi berada di dalam radius bahaya.
Nggak tahan dengan atmosfer kamar yang mendadak terasa super panas dan bikin bagian bawah celana training-nya mulai terasa ketat, Jungwon langsung berbalik badan dengan kasar.
“Gua mau ambil air. Jangan ngikutin gua,” ketusnya sambil melangkah lebar-lebar menuju area mini kitchen yang ada di sudut kamar suite mewah itu.
Tapi dasar kamu anaknya yang emang punya insting mengintil—apalagi orang tuamu sudah berpesan untuk selalu memperhatikan Jungwon—kamu malah beranjak dari sofa. Dengan langkah kaki telanjang yang nggak bersuara, kamu berjalan cepat menyusul Jungwon.
Jungwon lagi berdiri di depan dispenser, menuangkan air dingin ke dalam gelas. Pas dia berbalik sambil meneguk airnya, dia hampir saja tersedak karena wajahmu sudah berada tepat di depan dadanya yang telanjang. Kamu berdiri dekat banget, sampai-sampai pucuk kepalamu menyentuh dagunya.
“Ngapain lagi sih lo?!” bentak Jungwon, agak kaget sampai gelasnya hampir lepas.
“Aku mau bantuin kamu bawa gelasnya, Won,” katamu lembut sambil menengadah, menatapnya dengan mata bulat yang berbinar tulus.
“Nggak usah! Balik sana ke sofa!” Jungwon melangkah ke samping hendak menghindar, tapi kamu yang dasarnya bodo amat dan pengen bersikap baik malah ikut bergeser, menghalangi jalannya lagi. Kemana pun Jungwon melangkah, kamu selalu mengintil dan berdiri di depannya kayak anak ayam kehilangan induk. Jungwon bergeser ke kanan, kamu ikut ke kanan. Jungwon mau lewat kiri, kamu hadang lagi pakai senyuman polosmu.
“Lo bener-bener ya...”
Gemas, kesal, dan gairah beringas yang sudah menumpuk di ubun-ubun akhirnya membuat tindakan impulsif Jungwon keluar. Tanpa peringatan, Jungwon menaruh gelasnya di konter dengan kasar. Kedua tangan besarnya langsung menyelinap ke bawah paha mulusmu, mengangkat tubuh mungilmu dengan sangat mudah seperti mengangkat boneka, lalu mendudukkanmu di atas konter dapur marmer yang dingin, tepat di sebelah kulkas satu pintu.
“AAHH!” kamu memekik kecil karena kaget dengan perubahan posisi yang mendadak ini.
Sekarang, posisi kalian sejajar. Kamu duduk di atas konter dengan paha yang agak terbuka karena daster pinkmu tersingkap semakin tinggi ke atas, sementara Jungwon berdiri di antara kedua pahamu, mengunci pergerakanmu dengan kedua tangannya yang bertumpu di sisi kanan dan kiri paha kamu.
“Bisa diem nggak? Lo dari tadi mancing-mancing gua terus, (y/n),” bisik Jungwon, suaranya kini terdengar sangat rendah, serak, dan berbahaya. Napasnya yang memburu dan beraroma mint menerpa langsung permukaan bibirmu.
Kamu terpaku, tangan kecilmu refleks memegang pundak telanjang Jungwon yang kokoh dan terasa panas untuk menjaga keseimbangan. “Aku... aku nggak mancing kamu, Won. Aku cuma mau—”
Kalimatmu terputus total. Jungwon tidak tahan lagi. Dia memajukan wajahnya, menubrukan bibirnya ke leher jenjangmu yang wangi bedak bayi. Jungwon menyesap kulit lehermu dengan rakus, mengisapnya dengan tekanan kuat sampai kamu mendesah pelan karena sensasi geli dan sengatan aneh yang mendadak menjalar ke perut bagian bawahmu.
“Nngghh... Won, geli...” lirihmu sambil meremas pundaknya.
Jungwon nggak peduli. Dia memindahkan sesapannya ke arah tulang selangka, lalu turun lagi ke bagian atas dadamu yang terekspos oleh daster tanpa lenganmu. Dia menggigit kecil kulit lembutmu di sana, memberikan tanda kepemilikan yang merah keunguan atau lebih tepatnya sebuah hickey alias cupang yang kontras banget di kulit putihmu. Jungwon sengaja melakukan teasing, menjilati tanda itu perlahan dengan lidahnya, membuat bulu kudukmu merinding hebat, tapi dia menahan diri untuk tidak bertindak lebih jauh dari itu.
Setelah puas menandaimu di leher dan dada, Jungwon menarik dirinya dengan napas tersengal-sengal. Matanya melirik ke arah celananya sendiri yang sudah benar-benar menegang keras di dalam sana. Dia mengumpat dalam hati.
Tanpa sepatah kata pun, Jungwon kembali mengangkat tubuhmu dari konter, menggendongmu dengan gaya bridal style menuju tempat tidur King Size. Dia menjatuhkan tubuhmu dengan sangat hati-hati ke atas kasur yang empuk. “Tidur di sini. Jangan turun lagi sampai besok pagi,” perintah Jungwon dengan suara parau yang ketat. Dia lalu berbalik, berniat jalan kaki menuju sofa panjang untuk tidur di sana, membiarkan dirinya menderita kedinginan dan menahan rasa tegang di bawah perutnya sendirian.
Namun, baru dua langkah Jungwon berjalan, jari-jari kecilmu yang hangat mendadak meraih ujung jemari tangannya, menahannya agar tidak pergi. Jungwon menoleh, menatapmu dengan alis berkerut kesal. “Apa lagi, (y/n)? Jangan bikin gua ilang kendali ya.”
Kamu mendongak dari atas kasur, menatap Jungwon dengan tatapan kasihan yang luar biasa polos. “Won... kamu tidur di kasur aja. Di sofa nggak ada selimutnya. Terus kamu juga nggak pakai baju, cuma pakai celana begitu... nanti kalau kamu masuk angin gimana? Besok kan kamu harus latihan balap lagi.”
Jungwon memejamkan matanya rapat-rapat, meruntuki kebaikanmu yang kelewat batas dan nggak tahu tempat ini. “Dia nggak tahu apa kalau aset gua di bawah sini udah mau meledak gara-gara dia?”
“Gua nggak bakal masuk angin. Lepasin tangan lo,” usir Jungwon, mencoba menolak dengan sisa-sisa kewarasannya.
“Nggak mau. Nanti kalau kamu sakit, Papa pasti marahin aku karena nggak becus jagain kamu,” katamu lagi, kali ini matamu kelihatan berkaca-kaca, tipikal anak penurut yang takut disalahkan orang tua. Melihat mata polosmu yang tampak berkaca-kaca seperti itu, benteng pertahanan Jungwon runtuh total. Dia menghela napas panjang, mengacak rambutnya kasar, lalu pasrah.
“Oke, fine! Gua tidur di kasur,” ketus Jungwon akhirnya mengalah. Dia berjalan ke sisi kasur yang kosong, lalu menyambar guling besar yang ada di tengah-tengah. Dengan gerakan tegas, Jungwon menaruh guling itu tepat di pertengahan ranjang, membujur dari atas sampai bawah sebagai pembatas.
Jungwon merebahkan tubuh atletisnya di sisi kanan, memunggungi kamu sambil menarik selimut sampai sebatas dada.
“Denger ya, ini garis pembatas. Lo di kiri, gua di kanan. Jangan berani-berani ngelewatin guling ini atau lo bakal tahu akibatnya,” ancam Jungwon ketat sebelum memejamkan mata.
Kamu yang melihat Jungwon akhirnya mau tidur di kasur langsung merasa lega. Kamu menarik selimutmu sendiri di sisi kiri, memeluk bantal, lalu tersenyum tipis. “Iya, Jungwon. Selamat tidur ya.”
Di kegelapan kamar hotel mewah di Eropa itu, Jungwon hanya bisa membuka matanya kembali, menatap dinding dengan napas yang masih diatur berat. Sementara kamu sudah mulai memejamkan mata dengan tenang, Jungwon tahu malam-malam berikutnya bersama tunangan polosnya ini akan menjadi ujian terberat dalam karier balapnya.
to be continued
ini gua terkam aja kali ya?





Suka nih yg polos polos begini 🫢
Yg polos itu benar² sangat menguji keimanan😌