Cmiiw ya guys kalo ada salah penempatan atau ada yang janggal bisa dibicarakan baik baik, komen aja nanti biar aku benerin.
happy reading๐ฅฐ
๐ธ๏ธ
Suara ketukan gerimis kecil yang menabrak kaca jendela perpustakaan kampus selalu jadi latar suara favorit buat Jake Sim. Di sudut paling remang, di antara rak-rak buku tua yang aromanya campuran kertas lapuk dan debu tipis, Jake biasanya menghabiskan waktu bertengger sendirian.
Jake itu jenis cowok yang kalau berjalan di koridor kampus, keberadaannya seolah pudar begitu saja. Yatim piatu sejak SMA, hidup mengandalkan beasiswa prestisius dan tabungan peninggalan almarhumah tantenya, Jake membentengi dirinya dengan kacamata berbingkai hitam tebal dan sweater longgar yang selalu kelihatan kegedean di badannya. Di mata mahasiswa lain, dia cuma โsi kutu buku anehโ yang terlalu pinter tapi nggak punya teman. Orang-orang cuma nyari Jake kalau butuh jawaban tugas kuliah atau titip presensiโitu pun kalau mereka ingat namanya.
Tapi nggak ada satu orang pun di kampus itu yang tahu... kalau di balik kemeja flanelnya yang biasa saja, tubuh Jake Sim udah bukan tubuh manusia biasa lagi.
Semua kegilaan ini berawal tiga bulan yang lalu. Hari itu, jurusan mereka mengadakan kunjungan ilmiah wajib ke sebuah laboratorium riset bioteknologi terkemuka di pinggir kota. Jake, yang seperti biasa berjalan paling belakang dari rombongan, terlalu asyik mengamati salah satu terrarium isolasi eksperimental. Tanpa dia sadari, ada retakan mikro di tabung kaca penguji material radioaktif. Seekor laba-laba kecil dengan corak warna biru metallic yang aneh merayap keluar, jatuh tepat di leher belakang Jake, dan menggigitnya tajam.
Hari itu Jake cuma ngerasa lehernya panas kayak disengat lebah. Dia nggak bilang siapa-siapa karena mikir itu cuma gigitan serangga biasa. Tapi begitu sampai di rumah, demam tinggi langsung menghantamnya. Jake tidak sadarkan diri selama dua hari penuh di atas kasur tipisnya.
Dan saat dia bangun... dunia di matanya udah berubah total.
Penglihatannya yang tadinya minus lima mendadak jernih tanpa kacamata. Refleks tubuhnya meningkat sampai pada tingkat yang tak masuk akal, dia pernah refleks menangkap cangkir kopi yang jatuh dari meja bahkan sebelum cangkir itu sempat melewati tepi kayu. Otot-otot tubuhnya terbentuk padat secara misterius. Lebih gila lagi, kulit telapak tangan dan kakinya bisa menempel di permukaan tembok semulus apa pun, dan ada indra keenam di belakang kepalanyaโsejenis sensasi desiran halusโyang bakal bergetar setiap kali ada bahaya yang mendekat.
Dan yang paling aneh dari semuanya yaitu Jake bisa memproduksi jaring serat organik super kuat yang meluncur deras dari pergelangan tangannya kalau dia menekan titik saraf tertentu di telapak tangannya.
Selama tiga bulan terakhir, Jake hidup dalam ketakutan dan kebingungan luar biasa. Dia beradaptasi sendirian. Nggak ada buku panduan, nggak ada mentor. Jake mengurung diri di kamar setiap malam, mengamati setiap senti perubahan tubuhnya. Dia latihan sembunyi-sembunyi di gang-gang sepi saat tengah malam, belajar cara mengendalikan pijakan dinding, dan mencoba memahami bagaimana jaring laba-laba dari tangannya bekerja.
Meski otaknya yang kelewat encer terus menjerit kalau semua ini tidak rasional secara biologis, Jake punya satu prinsip tegas yang terbentuk dari rasa kehilangan masa lalu bahwa punya kekuatan ini bukan alasan buat jadi monster.
Kalau ada kejahatan yang terjadi di depannya, Jake nggak bisa diam aja. Meski dia tahu menindak kriminal adalah tugas polisi, nuraninya nggak bakal tenang kalau biarin orang lain terluka saat dia punya kemampuan buat menolong. Jadi, dengan berbekal hoodie hitam oversize dan topeng kain buatan sendiri yang menutup separuh wajahnya, Jake mulai berkeliaran malam-malam di sudut-sudut kota yang terabaikan.
Namun, malam Jumat ini beda. Jake merasa dia udah sampai di batas kemampuannya menahan kebingungan sendirian. Tubuhnya belakangan ini sering merasakan kelelahan aneh setiap kali memproduksi jaring berlebih. Dia butuh jawaban.
โGue harus balik ke lab itu,โ gumam Jake pelan pada dirinya sendiri, berdiri di atas pijakan besi tangga darurat apartemennya, menatap langit malam kota yang diselimuti kabut tipis.
Jumat malam adalah waktu yang paling pas. Laboratorium bioteknologi itu pasti sudah tutup total dan libur sampai hari Senin. Walaupun sebagian besar hatinya menolak dan dibayangi ketakutan setengah mati, khawatir kalau ada peneliti yang tahu lalu menangkapnya untuk dijadikan bahan percobaan laboratorium tapi Jake nggak punya pilihan lain. Dia harus mencari data eksperimen tiga bulan lalu, mencari tahu spesies laba-laba apa yang menggigitnya, dan kalau bisa, menemukan cara untuk memecahkan masalah metabolisme ajaib di dalam darahnya.
Dengan mengencangkan tali hoodie-nya, Jake meloncat dari tepi bangunan.
Swoosh!
Mekanisme alami di pergelangan tangannya bekerja instan. Tembakan jaring tipis namun sekuat baja meluncur membelah udara malam, menempel rapat pada dinding gedung pencakar langit. Jake melayang di udara, merasakan angin malam menerpa wajahnya. Keahlian yang dia latih berbulan-bulan ini akhirnya terasa begitu alami. Dia melompat dari satu atap ke atap lain seperti bayangan yang menyatu dengan kegelapan malam.
Namun, saat Jake sedang melintasi kawasan pertokoan tua yang sepi menuju arah pinggiran kota, indra spesifik di belakang kepalanya mendadak bergetar hebat.
Bzzzt!
Sensasi peringatan bahaya itu membuat Jake langsung berhenti mendadak di tepi dinding beton sebuah gedung empat lantai. Dia menunduk, menajamkan pendengaran dan penglihatannya yang kini setajam elang.
Di gang sempit nan remang-remang di bawah sana, ada tiga orang pria berbadan besar dengan jaket kulit kusam sedang mengepung seorang perempuan.
โUdah deh, Neng, nggak usah teriak-teriak. Mending serahin tas sama HP lo kalau masih sayang sama nyawa lo,โ ancam salah satu pria bersuara serak sambil memegang pisau lipat yang memantulkan cahaya lampu jalan yang remang.
โJangan dekat-dekat! Tolong!โ suara perempuan itu terdengar bergetar hebat, langkah kakinya terhuyung mundur sampai punggungnya menempel di dinding bata yang lembap.
Jake memicingkan mata. Darahnya mendadak berdesir cepat. Tiga lawan satu, pakai senjata tajam lagi. Nggak bisa dibiarin. Tanpa berpikir panjang, Jake melompat turun dari ketinggian puluhan meter tanpa bersuara.
Thwip! Thwip! Thwip!
Sebelum tiga perampok itu sempat menyentuh target mereka, tiga utas jaring tebal mendadak meluncur deras dari kegelapan atas. Jaring-jaring itu menempel kuat di bagian belakang jaket ketiga pria tersebut.
โApa-apaan nih?!โ seru salah seorang perampok kaget.
Dengan sekali sentakan bertenaga super dari lengannya, Jake menarik jaring itu. Ketiga perampok itu terangkat dari tanah dan terlempar ke belakang, menghantam tumpukan kardus dan tong sampah besi hingga pingsan seketika.
Cewek yang tersudut itu membelalakkan mata, napasnya memburu cepat karena syok berat. Sebelum cewek itu sempat memproses apa yang baru saja terjadi, Jake langsung melompat mendekat. Dia sadar area ini terlalu berbahaya kalau perampok lain datang. โTahan napas kamu bentar,โ bisik Jake dengan suara yang sengaja dibikin berat dan rendah.
Jake menyambar pinggang cewek itu dengan satu lengan kokohnya, lalu menembakkan jaring ke arah puncak gedung terdekat.
โWait what?? Aaaaaakh!โ cewek itu menjerit pelan saat tubuhnya mendadak terangkat membelah udara malam.
Jake membawanya terbang. Melompati garis-garis atap gedung tinggi, bergerak secepat angin melewati riuk kota malam hari. Cewek di dekapan Jake menyembunyikan wajahnya di dada Jake, jemarinya meremas kuat kain hoodie hitam yang dipakai penolongnya.
Begitu menemukan atap gedung tua yang cukup aman dan tersembunyi dari pandangan jalan raya, Jake mendaratkan kakinya dengan mulus. Dia perlahan melepaskan cengkeramannya di pinggang cewek itu, lalu melangkah mundur terburu-buru. Jake dengan panik menarik penutup hoodie-nya lebih dalam dan menutupi separuh wajah bawahnya memakai kain hitam yang dari tadi dia kenakan. Dia berniat langsung pergi melompat dari sana tanpa menguapkan sepatah kata pun.
โTunggu! Jangan pergi dulu!โ
Suara itu membuat langkah Jake terhenti tepat di tepi atap.
Saat Jake menoleh sedikit, cewek itu sedang mengusap rambutnya yang berantakan terkena angin. Cahaya bulan purnama menyinari wajah cewek itu dengan jelas... dan jantung Jake mendadak berdegup kencang bukan karena habis bergerak ekstrem, melainkan karena kaget setengah mati.
Itu kamu. (Y/N).
Anak perempuan dari jurusannya sendiri. Cewek manis yang dikenal ramah, agak ceroboh, tapi punya rasa ingin tahu luar biasa besar terhadap apa pun di sekitarnya.
โMakasih ya udah nolongin aku...โ kamu melangkah mendekat, napasmu masih agak terengah-engah. Matamu memicing dalam kegelapan, menatap postur tubuh cowok di depanmu yang kelihatan sangat panik.
Jake tidak menjawab. Dia berusaha keras tidak peduli dan hendak langsung menjatuhkan diri ke balik dinding atap. Gue harus kabur. Kalau sampai dia tahu siapa gue, habis udah. Dia pasti bakal ngelaporin gue ke polisi karena mikir gue anomali aneh atau penjahat, batin Jake membatin panik.
โTunggu sebentar! Jake... kan?โ
Langkah Jake membeku total. Tangannya yang baru saja mau menembakkan jaring tertahan di udara.
โGue nggak salah lihat, kan? Jaket flanel yang kelihatan dari balik hoodie lo itu... itu jaket yang biasa lo pakai di kampus, kan?โ kamu melangkah lebih dekat lagi, sama sekali tidak menunjukkan rasa takut meski cowok di depanmu baru saja menunjukkan kemampuan di luar nalar manusia. โLo... Jake Sim, kan? Cowok yang duduk di pojokan kelas?โ
Jake menelan ludah dengan susah payah. Otaknya bekerja keras mencari alasan untuk mengelak. โLo... salah orang. Gue harus pergi.โ
โJake, tunggu!โ kamu secara refleks maju dan memegang lengan jaketnya. โGue janji! Gue janji demi apa pun nggak bakal bilang siapa-siapa! Tolong jangan kabur!โ
Jake menatap tanganmu yang memegang lengannya, lalu menatap matamu. Ada ketulusan dan keseriusan yang sangat jernih di sana. Nggak ada raut jijik atau takut sedikit pun.
โLo... kenal gue?โ suara asli Jake akhirnya keluar, pelan dan terdengar sangat ragu.
Kamu tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang bikin aura tegang di atap gedung itu mendadak mencair. โYa kenallah. Kita sekelas, Jake. Lagian... tiga bulan lalu pas acara kunjungan ilmiah ke laboratorium itu, gue sempat perhatiin lo tahu. Lo dari awal sampai akhir acara selalu jalan sendirian di belakang, sibuk nyatet hal-hal yang bahkan dosen aja nggak tanyakan.โ
Jake tertegun. Tiga bulan lalu? Ada orang yang memperhatikan keberadaannya? Selama ini Jake selalu merasa dirinya transparan di mata semua orang. โGue emang rada kepoan sih orangnya,โ lanjutmu sambil terkekeh pelan, mencoba menenangkan atmosfer. โTapi jujur, gue nggak nyangka cowok pendiam yang suka ngumpet di perpustakaan ternyata bisa terbang di antara gedung-gedung pakai... jaring laba-laba?โ
Jake akhirnya menarik nafas panjang, menurunkan kain yang menutup wajahnya karena sadar penyamarannya sudah gagal total. Wajahnya yang tampan namun terlihat lelah kini terekspos di bawah sinar bulan.
โGue nggak berniat buat jadi aneh atau sok pahlawan,โ bisik Jake, nada suaranya terdengar pasrah dan jujur. โGue cuma... nggak sengaja dapat kemampuan ini pas kunjungan hari itu. Dan gue nggak tahu harus minta tolong ke siapa.โ
Kamu menatap Jake dengan intens. Keingintahuanmu yang besar berbaur dengan rasa empati yang mendalam melihat betapa terbebannya cowok pintar ini sendirian. โSebenarnya lo mau ke mana malam-malam gini pakai kostum begini, Jake?โ tanyamu lembut.
Jake mengusap leher belakangnya yang terasa dingin. โGue mau balik ke laboratorium tempat kita kunjungan tiga bulan lalu. Malam Jumat gini pasti sepi dan tutup. Gue harus cari dokumen eksperimen mereka. Tubuh gue... belakangan ini makin aneh, dan gue takut banget kalau ini ternyata berbahaya buat metabolisme gue. Tapi di sisi lain, gue juga takut setengah mati kalau sampai ketahuan orang sana... gue bisa-bisa ditangkap dan dijadiin bahan penelitian mereka.โ
Mendengar penjelasan Jake yang terus terang dan jujur, pikiranmu langsung berputar cepat. Rasa ingin tahumu dan dorongan buat membantu kawan sekelasmu yang sendirian ini mendadak membuncah. โKalau lo nekat bobol ke sana sendirian tanpa tahu tata letak arsipnya, lo pasti bakal pemicu alarm, Jake,โ katamu cepat.
Jake menaikkan sebelah alisnya. โTerus gue harus gimana? Gue butuh data itu.โ
Kamu tersenyum penuh arti. โGue bisa bantu lo.โ
โHah? Gimana caranya?โ
โKakak sepupu gue kerja di sana. Dia staf bagian kearsipan data digital laboratorium itu,โ jelasmu mantap. โGue tahu struktur folder arsip mereka karena kakak sepupu gue sering cerita betapa ketatnya sistem keamanan di sana. Kalau cuma nyari berkas eksperimen spesies tiga bulan lalu, gue bisa bantu lo retas atau cari jalurnya tanpa perlu memicu alarm keamanan!โ
Jake melotot kaget. โLo... seriusan? Tapi kenapa lo mau bantu gue? Kita bahkan nggak pernah ngobrol sebelumnya.โ
Kamu menatap Jake lurus-lurus, melipat kedua tangan di dada. โKarena lo baru aja nyelametin nyawa gue dari tiga perampok berpisau tanpa minta imbalan apa pun. Dan... karena gue bisa lihat kalau lo orang baik yang lagi ketakutan sendirian. Nggak ada salahnya kan sesama mahasiswa saling bantu?โ
Kata-kata itu menghantam dada Jake dengan hangat. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir, Jake merasa dia tidak benar-benar sendirian di dunia ini. Tanpa berpikir panjang lagi, Jake memutuskan untuk mempercayaimu.
โOke,โ kata Jake mantap. โTapi jangan di sini. Terlalu terbuka dan dingin. Kita ke tempat gue aja.โ
โTempat lo?โ
โApartemen tua peninggalan tante gue. Satu-satunya tempat aman yang gue punya,โ ujar Jake pelan. โDi sana gue bakal ceritain semuanya secara detail ke lo. Termasuk apa aja yang udah terjadi sama tubuh gue selama tiga bulan ini.โ
Jake mengulurkan tangannya padamu. โSiap buat terbang sekali lagi?โ
Kamu menatap uluran tangan Jake, lalu tersenyum manis dan menggenggamnya erat. โSiap. Tapi kali ini pelan-pelan ya, Jake Sim! Gue masih agak trauma sama tingginya!โ
Jake terkekeh tipis ia tawa tulus yang sudah sangat lama tidak pernah terpancar dari wajahnya. Dengan perlahan, dia merangkul pinggangmu dengan protektif, menembakkan jaringnya ke kegelapan malam, dan membawa kalian berdua membelah angin malam menuju apartemen kecilnya, memulai sebuah rahasia besar yang kini tidak lagi harus dia tanggung sendirian.
๐ธ๏ธ
tbc
sebenenya udh nulis sampe chap 7 tp kalo rame aku lanjut hari ini juga





Lnjut kak please ๐ฅบ
MOM , SUKA BNGT SAMA POV NYAA I LOVE YUUUUUUU