❛❛Lucid Dream : Lee Heeseung❞
“Sial, mati beneran!” gerutumu panik. Kamu menatap nanar ke arah kubangan air keruh yang baru saja menelan HP-mu bulat-bulat. Nasib apes emang nggak ada yang tahu, niatnya mau cepat sampai rumah biar nggak kena hujan, malah sekarang harus berurusan sama HP yang mati total gara-gara terjatuh dari saku jeans-mu.
Kamu sempat pesimis. Gerimis masih turun tipis-tipis dan hari sudah mulai gelap. Rasanya mustahil ada konter HP yang masih buka di jam segini. Namun, ingatanmu membawa langkahmu ke sebuah ruko kecil bin usang di sudut gang sempit yang pernah kamu lihat sekilas di Google Maps.
“Permisi, Mas! Jangan tutup dulu!” serumu nyaris histeris saat melihat si pemilik toko mulai menurunkan rolling door besinya yang berdecit nyaring.
Pria itu menoleh, alisnya bertaut sedikit tidak senang. “Ada apa, Mbak? Udah mau tutup ini,” sahutnya dengan nada malas.
“Ini, Mas... HP saya mati total kemasukan air tadi pas jatuh di kubangan. Tolong banget, bisa dibenerin sekarang nggak? Saya butuh banget buat besok kerja,” kamu menatapnya dengan wajah memelas, berharap pria ini mau jadi penyelamatmu malam ini.
Si penjaga konter itu terdiam sejenak, matanya yang terlihat lelah itu menatapmu intens, lalu beralih ke HP yang kamu genggam erat. Setelah menimang-nimang cukup lama, dia akhirnya menghela napas panjang dan memberi isyarat agar kamu masuk.
“Duduk dulu. Saya cek,” ucapnya singkat.
Sekitar tiga puluh menit kamu menunggu di kursi plastik yang sudah agak reyot, ditemani suara detak jam dinding yang entah kenapa terdengar sangat keras di tengah sunyinya ruko itu.
Si Mas konter bekerja dalam diam, jemarinya bergerak lincah di bawah lampu meja yang temaram. Sampai akhirnya, layar HP-mu kembali berpendar terang—sebuah kilatan cahaya putih yang terasa sedikit terlalu silau di matamu.
“Udah nyala. Tapi hati-hati ya, Mbak...” ucap si Mas konter sambil menyerahkan HP-mu dengan senyum tipis yang sulit diartikan. “Ada beberapa sistem yang berubah sendiri gara-gara korsleting tadi. Anggap aja itu bonus biar HP-nya nggak gampang mati lagi.”
Kamu nggak terlalu ambil pusing soal omongannya. Yang penting HP-mu hidup. Setelah membayar, kamu buru-buru pamit dan melesat pulang menembus sisa-sisa gerimis malam.
Sesampainya di kamar apartment-mu, hal pertama yang kamu lakukan adalah melemparkan tas ke atas sofa dan langsung menuju kamar mandi. Tubuhmu terasa lengket dan penat. Di bawah kucuran air hangat, kamu mencoba rileks, melupakan kejadian menyebalkan di jalan tadi.
Selesai mandi kamu memakai bathrobe dengan handuk yang masih melilit di rambut, kamu merebahkan diri di kasur dan meraih HP-mu yang tergeletak di nakas. Kamu menekannya, berniat mengecek notifikasi yang tertunda.
Namun, jantungmu mendadak mencelos.
Di tengah deretan aplikasi standar milikmu, muncul sebuah ikon aplikasi baru yang nggak pernah kamu download. Warnanya hitam pekat dengan logo mata merah menyala di tengahnya. Di bawahnya tertulis nama: “OBSESSION“.
“Hah? Ini apaan? Perasaan tadi nggak ada...” gumammu bingung.
Baru saja jarimu hendak menghapusnya, layar HP-mu tiba-tiba berubah hitam total. Sebuah teks berwarna merah darah muncul perlahan di layar:
[MISSION START: NIGHT 01]
Target: Lee Heeseung.
Time Remaining: 00:05:00
Peringatan: Jangan abaikan panggilan ini. Kegagalan menyelesaikan misi akan mengakibatkan “Pengungkapan Sosial Permanen”. File pribadi Anda sekarang berada di bawah kendali kami.
“Apa-apaan nih?!” tanganmu gemetar, mencoba mematikan HP-nya, tapi tombolnya sama sekali nggak merespons. Detik itu juga, kamu merasakan hawa dingin yang luar biasa menusuk dari dalam layar HP-mu, dan pandanganmu mulai berputar hebat—seperti terseret masuk ke dalam sebuah lubang hitam yang tak berujung.
Pandanganmu buram, kepalamu berdenyut hebat seolah baru saja dihantam balok kayu. Saat kamu mengerjapkan mata, aroma peppermint dan musk yang maskulin langsung menyeruak masuk ke indra penciumanmu.
“Hah...?” gumammu tertahan.
Kamu bukan lagi di kamar apartment-mu yang berantakan. Kamu sekarang berdiri mematung di atas karpet bulu yang tebal dan mahal. Di depanmu, sebuah ranjang king size dengan sprei sutra berwarna abu-abu gelap mendominasi ruangan. Dan yang paling bikin jantungmu mau copot: kamu masih pakai bathrobe putih dan handuk yang melilit rambutmu yang masih basah.
Di atas ranjang itu, seorang pria sedang tertidur pulas. Wajahnya terlihat sangat simetris, hidung bangir, dan bibir yang sedikit terbuka—dia kelihatan kayak lukisan hidup. Tapi masalahnya, kamu nggak kenal dia siapa!
Tring!
HP di genggamanmu bergetar hebat. Kamu buru-buru melihat layarnya yang masih menyala merah darah.
[MISSION DETAILS: LEE HEESEUNG]
Current Status: Sleeping.
Goal: Make him reach the climax.
Time Limit: 02:00:00
Instruksi: Lakukan kontak fisik. Jika Anda keluar dari radius 5 meter, protokol “Social Exposure” akan dimulai.
“Gila! Ini beneran gila!” bisikmu sambil gemetaran. Jari jempolmu dengan kalap menekan tombol ‘Reject’ atau tanda silang di pojok layar, tapi aplikasi itu sama sekali nggak bergeming. Layarnya malah memunculkan pop-up besar bertuliskan [YES] yang menutupi seluruh layar.
Kamu mencoba menekan tombol power, mencoba membantingnya ke karpet, tapi layar itu seolah terkunci. Tulisan [YES] itu berkedip-kedip menuntut, dan sebuah suara timer mulai berdetik pelan di speaker HP-mu. Tick... tick... tick...
Akhirnya, dengan tangan gemetar dan air mata yang hampir jatuh karena takut, jarimu menyentuh tombol [YES].
[MISSION ACTIVATED]
Algoritma Ajaib: Mode Peningkatan Sensorik AKTIF.
Tiba-tiba, tubuhmu terasa sangat ringan dan ada dorongan aneh yang menjalar di pembuluh darahmu. Rasa takutmu perlahan terkikis oleh rasa penasaran yang nggak masuk akal. Kamu melangkah mendekat ke arah ranjang, menatap pria bernama Heeseung itu.
Sprei yang menutupi tubuhnya sedikit tersingkap, memperlihatkan dada polosnya yang bidang dan keras. Kamu menelan ludah. Belum sempat kamu berpikir jernih, Heeseung melenguh pelan dalam tidurnya. Dia mulai bergerak gelisah, seolah-olah “algoritma” aplikasi itu juga mulai masuk ke dalam mimpinya.
Tanganmu perlahan terulur, menyentuh pundaknya yang hangat. Saat kulitmu bersentuhan dengan kulitnya, sebuah sengatan listrik statis membuatmu tersentak, tapi anehnya... rasanya enak.
Heeseung membuka matanya perlahan. Matanya yang gelap dan sayu menatapmu lekat-lekat. Bukannya teriak maling atau bingung, dia malah menarik tanganmu hingga kamu jatuh terduduk di pinggir ranjang, tepat di sampingnya.
Napasmu memburu, jantungmu berdegup kencang hingga rasanya mau loncat keluar dari dada. Kamu bisa merasakan tatapan Heeseung yang tajam namun sayu—seperti orang yang mabuk karena pesona—terus mengunci pergerakanmu.
“Lo... siapa?” suaranya yang serak dan rendah itu bergetar, seolah dia sedang berjuang antara kesadaran dan ilusi.
Kamu menelan ludah. Tanganmu yang gemetar masih menggenggam erat pinggiran sprei sutranya. Ingatan tentang ancaman Social Exposure di layar HP tadi membuatmu nekat. Kamu mendekatkan wajahmu, hingga embusan napasmu menyapu daun telinganya.
“Sstt... jangan banyak tanya,” bisikmu dengan suara yang sengaja dibuat lembut, meski hatimu menjerit takut. “Anggap aja ini mimpi paling indah yang pernah lo punya. Dan tugas gue... cuma buat bikin lo ngerasa enak malam ini.”
Begitu kalimat itu keluar dari bibirmu, tatapan Heeseung yang tadinya curiga berubah total. Pupil matanya melebar, dan rahangnya mengeras. Seolah-olah kata-katamu adalah mantra pemikat yang langsung melumpuhkan logika pria di depanmu ini. Dia menghela napas berat, tangannya yang besar kini mendarat di pinggangmu, menarikmu semakin merapat ke tubuhnya yang panas.
“Mimpi, ya...?” gumam Heeseung pelan, suaranya kini terdengar lebih pasrah sekaligus menuntut. “Kalau gitu, jangan bangunin gue dulu.”
Dengan keberanian yang entah datang dari mana—mungkin pengaruh aplikasi gila itu—tanganmu perlahan bergerak ke arah ikatan bathrobe putih yang masih melilit tubuhmu. Jarimu yang gemetar mulai menarik talinya perlahan.
Sret...
Ikatan itu terlepas. Jubah mandi yang longgar itu perlahan merosot dari bahumu, mengekspos kulitmu yang masih lembap dan hangat di bawah lampu kamar yang temaram. Kamu bisa melihat jakun Heeseung naik turun saat dia menelan ludah dengan susah payah. Suasana kamar yang tadinya dingin mendadak berubah jadi gerah.
Begitu jubah mandi itu merosot jatuh ke lantai, udara dingin kamar langsung menyentuh kulitmu, namun rasa panas yang terpancar dari tubuh Heeseung jauh lebih mendominasi.
Heeseung tidak langsung menerjangmu. Dia justru diam terpaku sejenak, matanya menelusuri setiap inci tubuhmu yang terekspos dengan tatapan lapar yang tidak disembunyikan.
“Gila...” gumamnya lirih, suaranya parau karena gairah yang memuncak. “Gue nggak pernah punya mimpi sejelas ini.”
Tangannya yang besar dan hangat mulai bergerak, menyentuh pundakmu yang polos. Sentuhannya perlahan turun ke punggungmu, menarikmu dengan lembut tapi pasti agar semakin mendekat ke arahnya. Saat dada kalian bersentuhan, kamu bisa merasakan detak jantungnya yang berpacu liar di balik kulitnya.
Heeseung mulai menunduk, membenamkan wajahnya di ceruk lehermu. Napasnya yang panas dan berat terasa menggelitik, membuat bulu kudukmu meremang.
Dia mulai memberikan kecupan-kecupan kecil di sana, lalu sedikit menyesap kulitmu hingga kamu refleks mendesah pelan.
“Ah... Heeseung...”
Mendengar namaya disebut, Heeseung seolah kehilangan kendali. Dia beralih ke bibirmu, melumatnya dengan penuh tuntutan—seperti pria yang sudah lama haus dan akhirnya menemukan air. Jemarinya tidak tinggal diam, tangannya merayap turun, meraba lekuk pinggangmu dan menarikmu hingga kamu kini berada di atas pangkuannya.
“Kalau ini cuma mimpi, berarti gue bebas ngelakuin apa aja, kan?” bisiknya di sela-sela ciumannya.
Dia mulai menjelajahi bagian-bagian sensitifmu dengan ibu jarinya, memberikan tekanan-tekanan yang membuat tubuhmu melengkung dan lemas seketika. Setiap sentuhannya terasa berkali-kali lipat lebih nikmat, seolah aplikasi itu memang memodifikasi sensitivitas sarafmu. Heeseung terus memanjakanmu dengan foreplay yang lambat namun menyiksa, memastikan kamu benar-benar basah dan siap sebelum dia melangkah lebih jauh.
“Lo wangi banget... dan nyata banget buat ukuran cuma mimpi,” bisiknya lagi, kini tangannya mulai bekerja di bawah sana, membuat napasmu semakin tersengal. “Gue bakal bikin malam ini lama banget, biar gue nggak perlu bangun besok pagi.”
Ada rasa takut yang masih mengintai di sudut hatimu—rasa asing karena harus menyerahkan tubuhmu pada pria yang sama sekali tidak kamu kenal. Namun, seiring dengan detik timer yang terus berjalan di HP-mu, kamu menyadari satu hal: kamu tidak punya pilihan. Demi keselamatan rahasiamu, kamu harus membiarkan dirimu “dijajah” oleh Lee Heeseung.
Heeseung membimbing tubuhmu untuk berbaring di atas sprei sutra yang dingin, namun suhu tubuhnya yang membara segera menetralkan segalanya. Kamu sekarang benar-benar bugil di bawah tatapannya yang intens. Heeseung seolah tidak ingin melewatkan satu detik pun, dia memperlakukanmu layaknya sebuah mahakarya yang hanya muncul sekali dalam seumur hidup.
“Gue nggak tahu siapa lo, tapi lo... sempurna,” gumam Heeseung pelan.
Dia mulai melakukan foreplay dengan sangat teliti. Dimulai dari kening, turun ke kelopak mata, hingga ujung hidungmu diciumnya dengan lembut. Namun, kelembutan itu segera berubah menjadi gairah yang menuntut.
Heeseung menjelajahi setiap inci kulitmu, lidahnya menyapu tulang selangka, memberikan sensasi geli yang membakar, hingga turun ke area-area yang membuatmu refleks meremas rambut hitamnya yang legam. Heeseung bermain cukup lama di area dadamu yang penuh.
Sensitivitas tubuhmu meningkat drastis. Setiap sentuhan ujung jarinya terasa seperti sengatan listrik yang menyulut api di dalam perutmu.
Kamu mendongak, menatap langit-langit kamar mewah itu dengan napas yang terputus-putus. Suhu ruangan terasa melonjak drastis seiring dengan keringat tipis yang mulai membasahi kulit kalian berdua yang saling bergesekan.
Heeseung benar-benar menikmati “mimpi” ini. Dia tidak terburu-buru. Dia menyesap, menggigit kecil, dan membelai setiap lekukan tubuhmu seolah-olah dia sedang memetakan wilayah kekuasaannya yang baru. Desahan demi desahan lolos dari bibirmu tanpa bisa dicegah, membuat Heeseung semakin kehilangan akal sehatnya.
“Suara lo... bikin gue mau gila,” bisik Heeseung, suaranya kini benar-benar pecah.
Heeseung masih belum memberikan “penyelesaian” yang kamu butuhkan. Dia justru sengaja menyiksa kesadaranmu. Tangannya yang besar kini merayap turun, menyusup ke antara paha bagian dalammu yang sudah gemetar hebat.
“Ah... Heeseung, please...” desahmu parau saat merasakan jemarinya mulai bermain di area paling sensitifmu.
Heeseung tidak berhenti. Dia memandangi wajahmu yang kemerahan dengan tatapan yang nyaris memuja. Jemarinya bergerak lihai, memberikan tekanan dan ritme yang membuat duniamu seolah jungkir balik. Setiap gesekan kulitnya di sana terasa berkali-kali lipat lebih panas, seolah aplikasi itu memang sengaja menyetel sensitivitasmu di titik maksimal.
“Tell me...” bisik Heeseung, suaranya terdengar sangat menuntut di telingamu. “Siapa lo sebenarnya? Gue nggak mau cuma dapet tubuh lo di mimpi gue. Siapa nama lo?”
Pikiranmu sudah keruh. Gairah yang meledak-ledak dan tuntutan dari gerakan tangannya membuat pertahananmu runtuh. Tanpa sadar, di tengah desahan yang lolos dari bibirmu, sebuah nama terucap begitu saja.
“(Y/N)... nama gue (Y/N),” rintihmu sambil memejamkan mata erat.
Begitu nama itu keluar, gerakan tangan Heeseung mendadak berhenti sejenak. Dia mengulang namamu dengan suara rendah, seolah sedang mencicipi setiap hurufnya. “(Y/N)...”
Di dalam hati, kamu menjerit panik. Sial, kenapa gue sebutin?! Kamu cuma bisa berdoa dalam hati kalau algoritma aplikasi ini benar-benar bekerja, kalau besok pagi Heeseung hanya akan mengingat namamu sebagai bagian dari fragmen mimpi basah yang kabur.
Namun, Heeseung tidak memberimu waktu untuk menyesal. Dia menarik napas dalam, gairahnya sudah di ujung tanduk. Dia memposisikan miliknya yang sudah menegang keras tepat di depan milikmu yang sudah basah sepenuhnya karena permainannya tadi.
“Oke, (Y/N). Kalau ini mimpi, gue mau kita berdua ngerasain ini sampai mati,” ucapnya dengan tatapan gelap.
Tanpa peringatan lagi, Heeseung mendorong dirinya masuk dalam satu hentakan dalam. Kamu tersentak, punggungmu melengkung, dan napasmu tertahan di tenggorokan. Rasanya begitu penuh, begitu sesak, dan sangat nyata. Heeseung membenamkan wajahnya di ceruk lehermu, mengerang rendah saat merasakan betapa ketatnya kamu menjepitnya.
“Lo... enak banget,” gumam Heeseung di telingamu, napasnya memburu tidak beraturan. “Sempit... dan bikin nagih. God, (Y/N)... ini terlalu nyata buat disebut mimpi.”
Dunia seolah berhenti berputar saat Heeseung membenamkan dirinya sepenuhnya ke dalammu. Kamu refleks mencengkeram bahu Heeseung yang kokoh, kuku-kukumu sedikit menekan kulitnya saat kamu berusaha menyesuaikan diri dengan ukurannya yang besar dan terasa sangat penuh di dalam sana.
Tubuhmu yang kecil terasa begitu ringkih di bawah kungkungan pria ini, namun entah kenapa, rasa sesak itu perlahan berubah menjadi debaran yang luar biasa nikmat.
“Sshhh... slowly, (Y/N). Lemesin...” bisik Heeseung parau. Dia berhenti sejenak, membiarkanmu bernapas dan membiasakan diri dengan keberadaannya yang menginvasi pusat tubuhmu.
Kamu memejamkan mata, menjepit miliknya dengan kencang karena sensasi yang terlalu intens. Otot-ototmu bereaksi secara naluriah terhadap invasi itu, menciptakan jepitan yang membuat Heeseung sendiri harus menggertakkan gigi menahan erangan yang hampir meledak.
“Sial... lo ketat banget,” desis Heeseung, urat-urat di lehernya menegang.
Begitu kamu mulai merasa sedikit rileks, Heeseung mulai bergerak perlahan. Tarikan dan dorongan yang dia berikan terasa seperti gesekan panas yang menyulut api ke seluruh sarafmu. Ini adalah pertama kalinya bagimu merasakan sensasi seperti ini—sesuatu yang jauh lebih kuat dari apa pun yang pernah kamu bayangkan. Setiap tumbukan yang dia berikan mengenai titik-titik sensitif yang membuat matamu berputar ke belakang.
“Heeseung... ah! Enak... rasanya aneh...” rintihmu tanpa sadar. Kamu sudah tidak peduli lagi apakah ini mimpi atau bukan. Kamu hanya ingin rasa nikmat ini terus berlanjut.
Heeseung yang mendengar desahan kejujuranmu itu seolah mendapatkan suntikan tenaga baru. Temponya meningkat, gerakannya menjadi lebih dalam dan bertenaga. Dia menarik kakimu lebih lebar, memastikan setiap inci dari dirinya bisa menjangkau bagian terdalammu.
“Buka mata lo, (Y/N). Liat gue,” perintah Heeseung dengan nada dominan yang tak terbantah.
Saat kamu membuka mata dengan pandangan sayu, kamu melihat Heeseung sedang menatapmu dengan sorot mata yang penuh kegilaan dan kepuasan. Dia benar-benar sedang “memakanmu” melalui tatapan itu. Di sela-sela penyatuan itu, Heeseung merunduk lagi, membisikkan kalimat yang tadi sempat terputus dengan suara yang lebih dalam dan penuh gairah.
“Lo bener-bener enak... sempit, panas, dan bikin nagih. Gue nggak bakal lepasin lo meski fajar datang.”
Heeseung seolah belum puas hanya dengan penyatuan fisik yang dalam. Di tengah tempo gerakannya yang semakin memburu, dia tiba-tiba menarik tubuhmu untuk berbalik, memposisikanmu dalam keadaan menungging—sebuah posisi yang membuat miliknya bisa menghujam jauh lebih dalam dan telak ke pusat tubuhmu.
“Heeseung... wait... ah!”
Kamu membenamkan wajahmu di bantal, merasakan setiap tumbukannya yang kini terasa berkali-kali lipat lebih bertenaga. Namun, kejutan sebenarnya baru saja dimulai. Dari arah belakang, tangan Heeseung merayap turun, menyelinap ke sela pangkal pahamu. Jemarinya yang panas menemukan titik paling sensitifmu yang sudah membengkak dan sangat peka.
Dia mulai memainkan klitorismu dengan gerakan memutar yang cepat dan penuh tekanan.
“Merinding, hah?” bisik Heeseung parau, napasnya yang panas menerpa tengkukmu yang berkeringat. “Tubuh lo nggak bisa bohong, (Y/N). Lo butuh ini.”
Sentuhan manualnya yang sinkron dengan setiap hantaman di dalam sana menciptakan sensasi yang belum pernah kamu bayangkan sebelumnya. Rasanya seolah seluruh sarafmu ditarik ke satu titik ledak yang sama. Tubuhmu mulai gemetar hebat, otot-otot pahamu menegang, dan kamu bisa merasakan bulu kudukmu meremang di seluruh tubuh.
“Ah! Heeseung... stop... gue... gue nggak kuat!” rintihmu dengan suara yang pecah.
Bukannya berhenti, Heeseung justru mempercepat ritme jarinya dan memperdalam setiap dorongannya. Dia seolah ingin melihatmu hancur karena kenikmatan di tangannya. Pandanganmu mulai memutih, kesadaranmu seolah melayang di ambang batas antara kenyataan dan kegilaan.
Detik berikutnya, gelombang nikmat yang dahsyat menghantammu. Kamu mengalami orgasme yang begitu hebat hingga tubuhmu kejang-kejang kecil dalam dekapan Heeseung. Jepitanmu di dalam sana menjadi sangat kencang, memeras milik Heeseung hingga pria itu mengerang keras, menjatuhkan bobot tubuhnya di atas punggungmu sambil terus bergerak liar untuk mencapai puncaknya sendiri dan menyemburkan cairannya di dalam rahimmu.
Gelombang nikmat yang dahsyat itu akhirnya perlahan surut, meninggalkan tubuhmu yang lemas tak berdaya di bawah dekapan Heeseung. Napas kalian berdua masih saling memburu, bersahutan di tengah sunyinya kamar mewah itu. Heeseung tidak langsung menjauh, dia justru semakin mempererat pelukannya dari belakang, mengecup pundakmu yang masih basah oleh keringat.
“Jangan pergi dulu...” bisik Heeseung dengan suara rendah yang sangat dalam. Tangannya merayap posesif di perutmu. “Gue bakal lanjutin ini sampai fajar datang. Mimpi ini... jangan berakhir dulu.”
Jantungmu mencelos. Kamu melirik ke arah HP-mu yang tergeletak di lantai, masih dalam keadaan gelap. Kalau Heeseung lanjut ronde kedua, kamu nggak tahu apakah tubuhmu bakal sanggup. Dengan sisa tenaga yang ada, kamu berbalik dalam dekapannya, menatap matanya yang masih sayu karena gairah.
“Heeseung... satu ronde aja, ya? Plis... lo harus istirahat,” bisikmu selembut mungkin, mencoba merayunya agar dia mau melepaskanmu.
Entah karena kekuatan sihir dari ucapanmu atau karena Heeseung memang sudah berada di titik lelahnya, pria itu akhirnya luluh. Dia menghela napas panjang, lalu menarikmu ke dalam pelukannya lagi, tapi kali ini dengan posisi spooning—dia mendekapmu erat dari samping, menyembunyikan wajahnya di tengkukmu.
“Oke... satu ronde. Tapi jangan ilang dari pelukan gue,” gumamnya pelan sebelum matanya perlahan terpejam.
Hanya dalam hitungan menit, napas Heeseung berubah menjadi teratur dan berat. Dia sudah benar-benar terlelap, menganggap semua kejadian panas tadi adalah fragmen mimpi yang akan hilang saat matahari terbit. Kamu terdiam dalam dekapannya, merasakan detak jantungnya yang tenang di punggungmu. Ada rasa hangat yang aneh, tapi juga rasa takut yang luar biasa.
Tepat saat kamu yakin Heeseung sudah tidur nyenyak, layar HP-mu di lantai mendadak menyala terang, membelah kegelapan kamar dengan cahaya merah yang tajam.
[MISSION COMPLETE: TARGET SATISFIED]
Reward: 500 Diamonds & “The Memory Fog” Protocol.
Sekarang memulai teleportasi... Sampai jumpa besok malam untuk target selanjutnya..
Detik itu juga, tekanan lengan Heeseung di pinggangmu terasa memudar. Sensasi kasur sutra yang lembut di bawah tubuhmu berganti menjadi sprei katun milikmu sendiri.
Zlap!
Kamu tersentak bangun di atas kasur apartment-mu. Napasmu tersengal-sengal, matamu melotot menatap langit-langit kamar yang sudah sangat familiar. Kamu buru-buru meraba tubuhmu—masih memakai bathrobe putih yang tadi terlepas di kamar Heeseung, tapi sekarang jubah itu sudah kembali terikat rapi di tubuhmu.
“Gila... itu beneran bukan mimpi?” bisikmu sambil meraih HP-mu dengan tangan gemetar.
Layar HP-mu kembali normal, tapi ada satu notifikasi yang bikin kamu merinding: “Next Target in 20:59:59... Don’t be late, (Y/N).”
-ˋˏ✄┈┈┈┈
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden penthouse mewah milik Heeseung, menusuk matanya yang masih terpejam. Heeseung mengerang pelan, mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa pegal yang luar biasa di pinggang dan panggulnya membuat dia tersentak bangun sepenuhnya.
Dia menyibakkan bed cover sutranya dan menyadari satu hal: dia benar-benar bugil.
“Sial... pegal banget,” gumamnya dengan suara serak.
Heeseung memijat pangkal hidungnya, mencoba mengumpulkan kepingan ingatannya. Hal terakhir yang dia ingat adalah dia tertidur setelah hari yang melelahkan di kantor. Tapi sisa-sisa sensasi semalam masih terasa sangat membekas. Dia ingat ada seorang wanita—tubuh yang kecil, hangat, dan sangat pas dalam dekapannya.
Matanya beralih ke sisi bantal di sebelahnya yang kosong. Dia teringat posisi spooning yang sangat nyata itu. Secara refleks, Heeseung mendekatkan bantal di sampingnya ke wajahnya, lalu menghirup aromanya dalam-dalam.
Jantungnya seolah berhenti berdetak sejenak.
Bukan aroma parfumnya sendiri yang tercium, melainkan aroma manis yang lembut bercampur dengan sisa-sisa wangi sabun mandi yang feminin. Aromanya masih sangat segar, seolah wanita itu baru saja beranjak pergi sedetik sebelum dia bangun. Heeseung menunduk, melihat sisa-sisa pelepasannya yang mengering di sprei, membuktikan bahwa “mimpi” itu bukanlah sekadar bunga tidur biasa.
“Mimpi basah... tapi kenapa se-nyata ini?”
Heeseung menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, matanya menatap hampa ke arah jendela besar yang menampilkan pemandangan kota. Di kepalanya, sebuah nama tiba-tiba terngiang seperti melodi yang menghantuinya.
(Y/N)...
“Nama itu...” Heeseung bergumam sendiri, mencoba mengingat wajah wanita di mimpinya, namun anehnya, wajah itu terasa sedikit kabur, tertutup kabut tipis yang tidak bisa dia tembus. Hanya sensasi jepitan yang ketat, desahan yang memanggil namanya, dan nama (Y/N) yang tertinggal di ingatannya.
Heeseung akhirnya menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa penasaran yang mulai merayap di hatinya. Sebagai seorang CEO muda yang logis, dia tidak mungkin percaya pada hal-hal magis. Dia memilih untuk bangkit dan menuju kamar mandi, memutuskan untuk menyimpan “mimpi indah” itu sebagai rahasia kecilnya sendiri yang sangat berharga—tanpa tahu bahwa di sisi lain kota, kamu sedang ketakutan memikirkan dirinya.
❛❛Lucid Dream : Lee Heeseung❞
To Be Continued
mukanya heeseung tuh CEO-nya NYI-I-O BANGET🥵🥵🔥🔥
i love u michies 💖





FINALLYYY CERITAA INI BALIK, AKU NUNGGUIN BANGETT KAA
duh jujur aku ga ngerti miciela, gimana maksud cerita nya