Sudah satu tahun kamu berbagi atap dengan Lee Heeseung. Bagimu, Heeseung adalah pria yang nyaris sempurna—meski sedikit misterius.
Kamu mengenalnya di kebun binatang tempatmu bekerja sebagai penjaga satwa, sementara dia adalah salah satu staf di taman hiburan area yang sama.
Pertemuan klise di depan kandang singa berujung pada cinta yang dalam, hingga akhirnya kalian memutuskan untuk tinggal serumah.
Ada beberapa hal aneh tentang Heeseung yang sudah kamu terima sebagai “keunikan” pribadinya. Dia selalu memakai kalung dengan jimat batu kuno yang tak pernah lepas. Dia benci matahari terik dan hanya bisa bertahan beberapa jam di luar sebelum kulitnya tampak pucat pasi. Dan yang paling unik: Heeseung menyukai daging sangat mentah.
Sinar matahari sore musim panas menyelinap malu-malu melalui celah gorden. Kalian baru saja selesai menonton Film di Netflix sejak subuh hingga tertidur lama. Heeseung mengerang pelan, tangannya meraba sisi ranjang yang kosong. Dingin. Matanya yang berwarna abu-abu kebiruan, warna yang tidak biasa namun memabukkan itu kini terbuka perlahan.
Dia mencium aroma itu. Bukan aroma bunga, tapi aroma daging yang terkena panas dan... aroma tubuhmu yang manis.
Di dapur, kamu sedang sibuk di depan kompor. Kamu memakai kemeja kebesaran milik Heeseung yang menutupi paha, tanpa menyadari kalau pria itu sudah berdiri di ambang pintu, memperhatikan setiap gerak-gerikmu dengan tatapan lapar.
“Sore, Sayang,” gumammu tanpa menoleh. “Steakmu hampir siap. Seperti biasa, kan? Blue rare.”
Heeseung tidak menjawab. Dia berjalan mendekat, langkahnya seringan bulu, hampir tak bersuara. Tiba-tiba, lengan kokohnya melingkar di pinggangmu, menarik punggungmu rapat ke dadanya yang dingin namun keras.
“Heeseung... aku lagi masak,” bisikmu, tapi tubuhmu refleks bersandar padanya.
Heeseung menyembunyikan wajahnya di ceruk lehermu. Napasnya yang sejuk menerpa kulitmu, membuat bulu kudukmu meremang.
Dia menghisap aroma tubuhmu dalam-dalam. Bagimu, itu adalah pelukan manja. Baginya, itu adalah ujian paling berat.
Di balik kulit lehermu yang tipis, Heeseung bisa mendengar denyut nadimu. Deg, deg, deg. Darahmu mengalir deras di sana, mengeluarkan aroma manis yang jauh lebih menggoda daripada hewan buruannya di hutan. Insting predatornya meronta.
Taringnya terasa berdenyut, ingin sekali menembus kulit halus itu, menyesap kehidupan dari sana.
“Kamu wangi banget pagi ini, (y/n),” suara Heeseung terdengar lebih serak dan rendah dari biasanya.
Dia mengecup titik di mana nadimu berdenyut paling kencang. Bibirnya dingin, tapi sentuhannya mengirimkan aliran listrik ke seluruh tubuhmu.
Kamu tidak tahu kalau saat ini, matanya yang abu-abu kebiruan mulai berkilat gelap, menahan rasa haus yang purba.
“Steak-nya... nanti gosong,” suaramu mulai gemetar karena sensasi bibirnya yang merambat ke rahangmu.
Heeseung mematikan kompor dengan tangan satunya, lalu memutar tubuhmu agar menghadapnya. Dia mendudukkanmu di atas konter dapur, menyatukan tubuh kalian tanpa celah. Tatapannya terkunci pada bibirmu yang sedikit terbuka.
“Biarin aja gosong,” bisiknya. “Aku punya makanan yang lebih menarik di depan mata.”
Tangannya merambat naik ke paha batinmu, memberikan tekanan yang membuatmu terengah. Kamu menatap mata abu-abu kebiruannya yang indah, sama sekali tidak menyadari kalau pria yang sangat kamu cintai ini sedang berjuang mati-matian untuk tidak memangsamu—atau mungkin, dia sedang memilih cara lain untuk “menikmatimu” tanpa harus mengeluarkan setetes darah pun.
Heeseung mendekatkan wajahnya, hidungnya bergesekan dengan hidungmu. “Aku mencintai kamu lebih dari apa pun, (y/n). Kamu nggak akan pernah tahu seberapa besar aku menginginkan kamu saat ini.”
Kamu tersenyum polos, mengalungkan tanganmu di lehernya, menariknya lebih dekat. “Aku juga punya kamu, Heeseung. Seluruhnya.”
Mendengar itu, pertahanan Heeseung runtuh. Jika dia tidak bisa menyesap darahmu, maka dia akan menyesap seluruh napas dan suaramu pagi ini. Dia menciummu dengan dalam, penuh tuntutan dan gairah yang sudah tertahan selama setahun penuh, mengubah dapur yang tenang itu menjadi medan pertempuran rasa yang panas dan intim.
Ciuman Heeseung pagi itu terasa berbeda. Biasanya dia lembut, namun kali ini ada tuntutan yang mendesak, seolah dia sedang mencoba mengalihkan rasa lapar yang lain menjadi gairah yang membakar.
Tangannya yang dingin namun kuat mencengkeram pinggangmu, mengangkat tubuhmu lebih tinggi di atas konter dapur sampai kamu harus melingkarkan kaki di pinggangnya agar tidak jatuh.
“Heeseung... pelan-pelan,” desahmu di sela ciuman kalian.
Heeseung tidak menjawab. Pikirannya sudah kabur. Suara detak jantungmu di telinganya terdengar seperti tabuhan genderang yang memanggilnya untuk menyerang. Aroma darahmu yang manis sekarang bercampur dengan aroma gairah, menciptakan kombinasi yang nyaris membuat akal sehatnya hilang.
Dia melepaskan tautan bibir kalian dan kembali menyerang lehermu. Kali ini bukan sekadar kecupan. Dia menghisap kulit lehermu dengan kuat, menciptakan tanda kemerahan di sana. Lidahnya menyapu titik nadimu, dan secara tak sadar, taringnya yang biasanya tersembunyi mulai memanjang, berdenyut karena dorongan insting yang sangat kuat.
“Ah—Heeseung, sakit...” rintihmu pelan saat merasakan sesuatu yang tajam sedikit menekan kulitmu.
Suara rintihanmu seperti siraman air es bagi Heeseung. Dia tersentak, menjauhkan wajahnya dengan napas terengah-engah. Matanya yang biru abu-abu kini berkilat gelap, hampir tampak seperti badai yang siap meledak.
Urat-urat halus di sekitar matanya menonjol, dan dia segera membuang muka, berusaha menyembunyikan taringnya yang belum sepenuhnya menyusut.
Kamu terdiam, menyentuh lehermu yang terasa panas. “Heeseung? Kamu kenapa?”
“Jangan mendekat dulu, (y/n),” suaranya terdengar sangat serak, bergetar karena menahan diri. Dia mencengkeram pinggiran konter dapur begitu kuat sampai kayu itu sedikit berderit. “Aku... aku cuma terlalu bersemangat. Maaf.”
Kamu menatap punggungnya yang tegang. Setahun bersama, kamu selalu menganggap Heeseung adalah pria yang tenang walau kamu selalu bertanya kenapa setiap kali kamu ingin lebih dekat dengannya dia selalu menghindar.
Tapi melihatnya seperti ini—liar dan berbahaya—justru membangkitkan sesuatu yang asing dalam dirimu. Alih-alih takut, rasa percayamu yang polos membuatmu justru mendekat.
Kamu turun dari konter dan memeluk punggungnya dari belakang, menyandarkan pipimu pada otot punggungnya yang keras. “Aku nggak apa-apa, Heeseung. Aku milik kamu, kan? Kamu nggak perlu nahan diri kalau itu sama aku.”
Kata-katamu adalah racun sekaligus penawar bagi Heeseung. Dia berbalik dengan cepat, menangkap pergelangan tanganmu dan menguncinya di atas kepala, menyudutkanmu ke dinding dapur. Matanya menatapmu dalam, mencari ketakutan di sana, tapi yang dia temukan hanyalah pengabdian yang tulus.
“Kamu nggak tahu apa yang kamu omongin, sayang,” bisiknya tepat di depan bibirmu. “Kalau aku benar-benar nggak menahan diri, aku bisa menghancurkan kamu.”
“Kalau itu kamu, aku nggak takut,” jawabmu berani, menantang tatapannya.
Heeseung memejamkan mata, merutuki betapa polosnya dirimu. Dia mencium keningmu lama, lalu turun ke hidung, dan berakhir di bibirmu dengan lumatan yang lebih terkontrol namun jauh lebih dalam.
Tangan kanannya merayap masuk ke bawah kemeja yang kamu kenakan, mengusap kulit perutmu dengan gerakan memutar yang memabukkan, sementara tangan kirinya masih mengunci tanganmu.
Heeseung menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggungmu, mengangkat tubuhmu dengan gerakan yang sangat ringan, seolah berat badanmu bukan apa-apa baginya. Dia membawamu masuk ke dalam kamar yang remang, tempat di mana rahasia setahun ini tersimpan rapat.
Begitu sampai di samping ranjang, dia tidak langsung menjatuhkanmu. Dia menatapmu dalam, lalu tangannya bergerak ke tengkuk, melepas kalung jimat yang selama ini menjadi pelindungnya. Begitu batu kuno itu diletakkan di atas nakas, atmosfer di sekitar kalian berubah drastis.
Udara mendadak terasa lebih tipis dan dingin, seolah AC kamar diturunkan ke suhu paling rendah. Aura Heeseung yang tadinya hangat dan manusiawi, kini berubah menjadi pekat, gelap, dan sangat mendominasi. Namun, anehnya, kedinginan itu justru terasa sangat menggairahkan di kulitmu yang panas.
Heeseung merebahkanmu perlahan, lalu mengungkung tubuhmu di bawahnya. Dia tidak langsung menciummu. Dia menatapmu dengan binar abu-abu kebiruannya yang kini tampak lebih tajam, hampir transparan.
“Ada yang harus aku omongin, (y/n),” suaranya rendah, bergetar karena emosi yang tertahan. “Sebelum kita melangkah lebih jauh... aku nggak mau lagi ada kebohongan di antara kita.”
Kamu menatapnya bingung, tanganmu masih melingkar di lehernya yang dingin. “Apa, Heeseung? Kamu kelihatan serius banget.”
Heeseung menghela napas panjang, jemarinya mengusap pipimu dengan sangat hati-hati, seolah kamu adalah porselen yang bisa hancur kapan saja.
“Daging blue rare yang aku makan setiap hari... itu bukan dari pasar. Setiap aku bilang mau ke pasar pagi-pagi, aku sebenarnya pergi ke hutan. Itu hasil buruanku sendiri. Darah segar yang aku minum dari botol di kulkas... itu bukan jus bit.”
Dahimu berkerut. Kamu mencoba mencerna kata-katanya. “Maksud kamu... kamu berburu? Tapi kenapa?”
Heeseung mendekatkan wajahnya, membiarkanmu melihat detail matanya yang tidak manusiawi.
“Setahun ini aku menyiksa diri sendiri buat kelihatan normal di depan kamu. Aku menahan instingku, aku menahan rasa hausku karena aku takut kamu lari. Tapi aku nggak bisa terus-terusan jadi pengecut.”
Dia menjeda sejenak, menelan ludah dengan susah payah sebelum mengucapkan kalimat yang akan mengubah hidupmu selamanya.
“Aku bukan manusia, (y/n). Aku vampir. Dan alasan kenapa mataku nggak merah adalah karena aku menolak minum darah manusia... aku cuma minum darah hewan supaya aku bisa tetap ada di sisi kamu tanpa membahayakan kamu.”
Dunia seolah berhenti berputar. Kamu membeku di bawah kungkungannya. Kata-kata “Vampir” bergema di kepalamu, terdengar mustahil namun semua bukti yang ada di depan matamu—suhu tubuhnya, matanya, kekuatannya, hingga jimat di nakas itu—mendadak masuk akal.
Kamu terdiam kaku, matamu membulat menatap pria yang selama setahun ini tidur di sampingmu. Pria yang kamu cintai ternyata adalah pemangsa puncak yang ada di dongeng-dongeng horor.
Melihat reaksimu yang membeku, mata Heeseung meredup sedih. Dia mulai menjauhkan tubuhnya, mengira kamu akan berteriak atau mengusirnya.
“Maaf... aku tahu ini gila—”
Namun, sebelum dia benar-benar menjauh, kamu menarik kembali lehernya. Rasa takut itu ada, tapi rasa cintamu yang dalam dan tulus justru lebih mendominasi. Kamu menyentuh rahangnya yang tegas, memaksanya menatapmu lagi.
“Jadi... itu alasan kenapa kamu dingin banget?” bisikmu dengan suara gemetar, tapi tidak ada kebencian di sana.
Heeseung tertegun.
“Kamu... nggak takut? Kamu nggak mau aku pergi?”
Kamu menggeleng pelan, senyum tipis yang tulus muncul di bibirmu.
“Aku kaget, Heeseung. Tapi aku nggak bisa bohong kalau aku lebih takut kehilangan kamu daripada takut sama apa kamu sebenarnya. Setahun ini kamu nggak pernah nyakitin aku, kan?”
Mendengar itu, pertahanan Heeseung benar-benar hancur. Rasa syukur dan gairah meledak di dalam dirinya. Heeseung kembali menunduk, menciummu dengan intensitas yang sepuluh kali lipat lebih kuat dari sebelumnya.
Di tengah pergulatan gairah yang tak terkendali itu, taringnya yang memanjang tak sengaja menggores bibir bawahmu saat dia melumatnya terlalu dalam.
“Ah—” Kamu mendesah pelan, bukan karena sakit, tapi karena sensasi kejut yang menjalar ke seluruh sarafmu.
Seketika, Heeseung membeku. Dia menarik wajahnya beberapa senti, napasnya memburu tak beraturan. Matanya yang abu-abu kebiruannya kini berkilat tajam, pupilnya melebar saat melihat setitik darah merah segar merembes di bibirmu yang bengkak.
Aroma itu... aroma darah manusia yang selama ini dia hindari, kini menyeruak masuk ke indra penciumannya dengan cara yang paling provokatif.
Heeseung gemetar hebat. Rahangnya mengeras, menahan dorongan purba untuk menyerang. Dia merasa ketakutan luar biasa—takut jika dia mencicipinya sekali saja, dia tidak akan bisa berhenti dan akhirnya akan menyakitimu.
“Maaf... (y/n), maafkan aku...” gumamnya parau, mencoba menjauh dengan wajah penuh penyesalan.
Namun, alih-alih menjauh, kamu justru meraih tengkuknya. Kamu menatap matanya yang liar dengan pandangan paling lembut yang pernah dia lihat. Di saat itu, kamu ingin membuktikan bahwa kamu bukan sekadar kekasih, tapi juga pelabuhan terakhirnya.
“Heeseung, jangan pergi,” bisikmu manis. Kamu mengusap darah di bibirmu dengan ibu jari, lalu menyodorkannya tepat di depan bibirnya yang dingin.
“Hisap darahnya. Aku nggak apa-apa. Aku mau kamu tahu kalau aku nggak takut sama kamu.”
Heeseung menggeleng lemah, tapi instingnya sudah mencapai titik didih. Rasa haus yang selama ini dia tekan dengan darah hewan hutan seolah tak ada artinya dibanding setetes darah darimu.
Dengan tangan yang masih gemetar, dia akhirnya menyerah. Dia memajukan wajahnya, menjilat sisa darah di bibirmu dengan perlahan, lalu mengecup luka kecil itu dengan sangat hati-hati.
Begitu lidahnya menyentuh darahmu, Heeseung mengerang rendah. Rasanya jauh lebih memabukkan dari apa pun yang pernah dia rasakan selama ratusan tahun hidupnya.
Dia menghisap luka kecil itu, menyesap setiap tetes rasa manis yang mengalir dari nadimu ke dalam dirinya. Ciuman itu tidak lagi terasa seperti ciuman manusia, itu adalah penyatuan antara haus dan cinta yang berbaur menjadi satu gairah yang gelap.
Hingga akhirnya, tautan bibir itu terlepas. Napas kalian berdua saling memburu di udara dingin kamar tanpa jimat itu.
Heeseung menatapmu dengan kepemilikan penuh. Dia tidak lagi ragu.
Dengan gerakan yang cepat namun penuh perasaan, Heeseung membuka kancing kemeja kebesaran yang kamu kenakan satu per satu.
Saat kemeja itu jatuh ke lantai, meninggalkanmu tanpa sehelai benang pun di hadapannya, Heeseung sejenak terdiam memuja keindahanmu di bawah temaram lampu.
Dia pun segera menyentak kaos hitamnya hingga terlepas, menampakkan tubuhnya yang pucat namun berotot sempurna. Heeseung kembali merangsek maju, membenamkan wajahnya di ceruk lehermu, menghirup aroma tubuhmu yang kini bercampur dengan aroma darah dan gairah.
Dia berpindah ke dadamu, mengecup dan membenamkan wajahnya di sana seolah ingin menyerap seluruh keberadaanmu ke dalam dirinya.
“Aku mencintaimu, (y/n)... sangat mencintaimu sampai rasanya aku ingin menelanmu utuh-utuh,” bisiknya serak di atas kulitmu.
Petang itu, di dalam kamar yang sunyi, semua rahasia telah tersingkap. Tidak ada lagi penjaga satwa atau vampir hutan—yang ada hanyalah dua makhluk yang saling mendamba dalam penyatuan paling intim yang pernah ada.
TO BE CONTINUED





FIRST LAGIK
DUHHHHHHHHHH ENAK