Minggu pagi harusnya jadi waktu paling sakral untuk tidur sampai siang. Sayangnya, konsep itu tidak berlaku di hidupmu sejak Jungwon ada.
“(Y/N), bangun. Kita ke mall sekarang!”
Suara itu terlalu cerah untuk ukuran jam segini. Kamu meringkuk lebih dalam ke balik selimut, berharap dunia kembali sunyi. Tapi harapanmu runtuh ketika ujung selimutmu ditarik paksa.
“WOY—” kamu mengerang kesal, suara serak khas orang kurang tidur. “Masih pagi juga, Jungwon. Gue baru kelar marathon drakor sepuluh episode.”
Jungwon sudah duduk santai di pinggir kasurmu, rambutnya rapi, hoodie abu-abunya terlihat terlalu siap untuk hari Minggu. Wajahnya sumringah, seperti anak kecil yang baru dapat mainan baru.
“Ada photobox baru buka di mall,” katanya cepat, antusias. “Lagi promo gede. Gue langsung kepikiran lo.”
Kamu meliriknya malas, satu mata masih terpejam. “Kenapa harus sekarang?”
“Soalnya pagi masih sepi. Dan—” Jungwon tersenyum kecil, nada suaranya melunak. “Lo kan suka foto-foto begituan.”
Kalimat itu berhasil membuatmu terdiam sesaat.
Jungwon memang bukan siapa-siapamu. Bukan pacar, bukan gebetan setidaknya bukan secara resmi. Dia hanya sahabatmu. Sahabat sejak kalian bahkan belum bisa mengingat apa pun, karena orang tua kalian berteman erat sejak lama. Jungwon punya akses keluar-masuk apartemenmu tanpa perlu izin, seolah tempat ini juga setengah miliknya.
Dan entah sejak kapan, perhatiannya terasa... terlalu lebih.
Kamu mendesah, lalu duduk sambil mengucek mata. Pandanganmu jatuh ke jendela apartemen—gordennya sudah terbuka lebar, cahaya matahari pagi masuk tanpa ampun.
“Lo tuh ganggu ritual tidur orang tau gak,” gumammu.
Tapi tetap saja, kamu menerima handuk yang Jungwon sodorkan dan bangkit menuju kamar mandi.
🍦
Satu jam kemudian, kamu berjalan di samping Jungwon di dalam mall. Tangan kalian saling bergandengan bukan genggaman mesra, lebih ke genggaman protektif. Jungwon selalu begitu, terutama setelah kejadian beberapa hari lalu saat kamu hampir jatuh karena nekat belajar pakai heels.
Dan sekarang, ironisnya, kamu pakai heels lagi.
“Bajunya kok couple sih?” kamu baru sadar, melirik outfit kalian di pantulan kaca toko.
“Oh. Iya,” Jungwon menjawab santai. “Gue yang siapin tadi. Lucu, kan?”
Harusnya kamu protes. Tapi entah kenapa, pipimu malah terasa hangat.
“Mana boot-nya, Won? Kaki gue pegel,” keluhmu.
“Deket timezone. Tuh kan,” dia melirikmu sekilas. “Tadi gue ajak naik lift gamau. Milih eskalator. Udah tau pake heels.”
Kamu mendengus. “Namanya juga ke mall. Masa cuma buat photobox doang? Cuci mata dulu lah.”
“Iya, iya. Nanti kalo cape, jangan ngeluh.”
“Kok nyebelin sih lo.”
“Tapi tetep diikutin.”
Kamu terdiam. Jungwon nyengir kecil.
🍦
Antrian photobox cukup panjang. Beberapa orang melirik ke arah kalian—mungkin karena outfit yang serasi, atau cara Jungwon tanpa sadar selalu sedikit condong ke arahmu. Kamu merasa canggung, tapi Jungwon terlihat sama sekali tidak peduli.
Begitu giliran kalian masuk, suasana langsung berubah.
Jungwon langsung heboh, mencoba semua aksesoris yang ada. Topi lucu, kacamata aneh, bando absurd. Kamu tertawa sampai perutmu sakit melihat ekspresinya yang sengaja dibuat lebay.
“Lo kenapa sih lucu banget,” katamu sambil tertawa.
“Kan biar lo ketawa,” jawabnya ringan, seolah itu hal paling wajar di dunia.
Kalian mencoba semua pose. Pelukan sambil cubit pipi, pose pura-pura berantem, Jungwon menggendongmu ala bridal style sampai kamu refleks berteriak kecil.
“JUNGWON TURUNIN—”
“Tenang, aman,” katanya sambil tertawa.
Lalu gendong punggung, gendong koala. Kamu menahan bahunya erat-erat, jantungmu berdetak lebih cepat dari yang seharusnya.
Sampai akhirnya, layar menghitung mundur untuk pose terakhir.
“Tiga... dua—”
“Kita ngapain?” kamu panik.
Jungwon terdiam sepersekian detik. Lalu, tanpa banyak pikir, dia mencondongkan kepalanya ke arahmu. Tidak menyentuh. Tidak terlalu dekat.
Tapi cukup dekat untuk membuat dunia terasa menyempit.
Kamu refleks ikut mendekat.
Klik.
Lampu flash menyala.
Saat hasil fotonya keluar, kamu menatap lembaran itu lama. Di foto terakhir, jarak kalian nyaris nol. Senyum kalian kecil, canggung—dan jujur.
“Lucu,” gumam Jungwon pelan.
“Iya...” suaramu nyaris berbisik.
Kalian tidak membicarakan apa pun setelah itu. Tapi saat keluar dari booth, tangan Jungwon kembali menggenggam tanganmu. Kali ini lebih erat. Lebih lama.
Dan entah kenapa, kamu tidak berniat melepaskannya.
Perkembangan hubungan yang lambat memang tidak selalu tentang pengakuan. Kadang, ia hanya tentang dua orang yang terlalu nyaman untuk menyadari... bahwa mereka sudah saling memilih sejak lama.
🍦
Lampu-lampu warna-warni memantul di lantai, suara mesin permainan bercampur tawa orang-orang. Kamu mencoba hampir semua permainan yang ada—dari capit boneka yang selalu gagal di tanganmu tapi entah kenapa selalu berhasil di tangan Jungwon, sampai mesin balap yang bikin dia sok kompetitif.
“Curang,” protesmu saat boneka terakhir lagi-lagi jatuh ke tangan Jungwon.
“Ini bukan curang,” katanya sambil menyerahkan boneka itu ke kamu. “Ini bukti kalo lo harus percaya sama gue.”
Kamu mengeluarkan ponsel. “Eh, fotoin gue dong. Buat stok.”
Tanpa banyak komentar, Jungwon langsung mengambil ponselmu. Dia menurunkan sedikit ketinggian kameranya, menyuruhmu berdiri di dekat mesin permainan dengan lampu paling terang.
“Coba miring dikit,” katanya fokus.
“Ketawa dikit, jangan dipaksain.”
“Nah, gitu.”
Kamu tidak sadar betapa seriusnya dia memotret. Setiap kali kamu bergerak, Jungwon mengikuti dengan sabar. Tidak ada keluhan, tidak ada komentar iseng. Seolah yang dia lihat di layar bukan sekadar konten, tapi kamu.
“Udah belum?” tanyamu.
Jungwon mengangguk. “Udah. Bagus semua.”
Kamu mengambil ponselmu kembali, lalu membuka galeri.
Kamu terdiam.
“Ini... beneran gue?”
“Iya,” jawab Jungwon santai. “Lo emang keliatan bagus di sini dan cantik.”
Bukan angle berlebihan. Bukan edit lebay. Tapi kamu terlihat hidup—tertawa, santai, bahagia.
Giliranmu yang mengangkat ponsel.
“Sekarang lo,” katamu.
“Hah?”
“Diem. Jangan kabur lo.”
Jungwon tertawa kecil, tapi tetap menurut. Kamu memotretnya saat dia bermain basket arcade, saat fokus memegang joystick balap, bahkan saat dia lengah sambil minum air.
“Lo kenapa senyum mulu?” protesnya.
“Soalnya lo keliatan beda,” jawabmu jujur.
“Beda gimana?”
“Lebih... Jungwon.”
Dia terdiam sesaat, lalu memalingkan wajah. Telinganya sedikit merah.
Saat kamu mengunggah fotomu ke Instagram, notifikasi langsung berdatangan. Komentar dan emoji hati memenuhi layar. Itu sudah biasa.
Tapi Jungwon berdiri di sampingmu, melihat layar ponselmu dengan senyum kecil yang tenang, tidak silau, tidak terganggu.
Dan ketika kamu tanpa sadar mengunggah satu foto Jungwon ke story-mu, dia menoleh.
“Lo upload juga?”
“Kenapa? Lo cakep disini, gak boleh?”
“Boleh,” katanya pelan. “Gue cuma kaget.”
Nada suaranya aneh. Bukan keberatan. Lebih seperti... tersentuh.
Dan malam itu, di antara cahaya Timezone dan suara mesin permainan, kalian tanpa sadar saling menyimpan versi terbaik satu sama lain—bukan di galeri ponsel, tapi di hati.
Tanpa terasa malam pun turun.
🍦
Perutmu mulai lapar. Kalian makan di food court dengan tenang dan bercanda seperti biasanya lalu Jungwon berhenti di depan Mixue dan membelikannya tanpa perlu bertanya.
Stroberi sundae. Favoritmu sejak dulu.
“Gue traktir,” katanya. “Sebagai makasih udah mau main sama gue seharian.”
“Padahal gue gak minta,” katamu.
“Gue mau.”
Kalian duduk di taman kota yang sudah sepi. Lampu taman menyala redup, angin malam membawa aroma tanah basah. Dudukan batu itu sedikit tinggi, dan tanpa ragu Jungwon mengangkat pinggangmu agar kamu bisa duduk dengan nyaman.
Gerakannya otomatis. Terlalu terbiasa. Dia berdiri di antara kedua kakimu, lalu meletakkan kedua tangannya di sisi kanan-kirimu. Tidak menyentuh, tapi mengurung. Jarak kalian dekat, cukup dekat untuk membuat napas kalian bertabrakan.
Kamu menikmati es krimmu pelan. Jungwon memperhatikanmu lebih lama dari yang seharusnya.
Kalian berbagi sendok. Satu. Dua. Tidak ada yang terburu-buru.
“Won,” katamu tiba-tiba.
“Hm?”
“Makasih ya.”
“Buat?”
“Buat selalu ada.”
Jungwon tidak langsung menjawab.
Saat sudut bibirmu ternodai es krim, Jungwon mengusapnya dengan jarinya. Sentuhannya ringan. Jarinya tertahan sepersekian detik lebih lama dari perlu.
Dan saat kamu mengangkat wajah—Bibir Jungwon menempel di bibirmu. Bukan ciuman panas. Bukan juga singkat. Itu ciuman ragu, penuh rasa yang sudah lama dipendam.
Kamu hampir membalas. Hampir. Namun Jungwon lebih dulu menjauh.
“...maaf.”
Tatapannya penuh penyesalan, seolah dia baru saja melanggar sesuatu yang sakral.
Refleks, kamu menarik jaketnya. Sedikit. Memintanya kembali. Namun Jungwon menahan tanganmu.
“Kita pulang, yuk,” katanya pelan. “Besok lo kuliah. Kelas pagi.”
Kalimat itu seperti rem mendadak.
Dia menurunkanmu, menggenggam tanganmu lagi. Tapi genggamannya kini lebih hati-hati. Sepanjang jalan, kalian diam. Ciuman itu menggantung di antara kalian, tak diberi nama.
Di depan pintu apartemenmu, langkah Jungwon berhenti.
Lorong itu tenang, hanya lampu kuning yang menggantung malas di langit-langit. Udara malam merambat pelan di kulit, tapi tanganmu masih hangat—bekas genggaman yang belum sepenuhnya hilang.
Jungwon melepaskan tanganmu lebih dulu. Gerakannya hati-hati, seolah takut kenangan itu jatuh dan pecah di lantai.
“Kita... sampai,” katanya akhirnya.
Kamu mengangguk. Kata-kata terasa terlalu berat untuk dinaikkan ke bibir.
Beberapa detik berlalu. Lalu Jungwon bicara, suaranya pelan—terlalu pelan untuk kebohongan yang hendak ia ucapkan.
“Yang tadi di taman...”
Ia berhenti, menarik napas. “Itu refleks gak sengaja.”
Kata-kata itu menggantung di antara kalian, tipis tapi tajam.
“Gue gak nganggep itu apa-apa,” lanjutnya, memalingkan wajah sebentar. “Lo gak perlu mikirin itu, ya.”
Kamu menatapnya. Ada banyak hal yang ingin kamu bantah, tapi semuanya terasa seperti akan merusak sesuatu yang rapuh. Lidahmu kelu, dadamu penuh.
Saat kamu hendak bicara— “Masuk ya,” Jungwon memotong lembut, hampir seperti permintaan. “Udah malam.”
Tangannya menyentuh pundakmu sesaat. Bukan untuk menahan. Bukan untuk mendekat. Hanya... memastikan kamu masih ada.
“Besok gue jemput,” katanya kemudian, dengan nada yang dibuat setenang mungkin. “Kaya biasa.”
Kaya biasa.
Kamu mengangguk lagi. Pintu tertutup perlahan, dan bunyinya terdengar lebih keras dari seharusnya di lorong yang sunyi.
🍦
Apartemen Jungwon menyambutnya dengan gelap.
Pintu tertutup di belakangnya, bunyinya berat. Jungwon tidak langsung menyalakan lampu. Jaket masih melekat di bahunya, sepatu belum dilepas. Udara di dalam terasa pengap atau mungkin dadanya saja yang sesak.
Ia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti.
“Brengsek,” erangnya pelan.
Tangannya mengepal. Rahangnya mengeras. Jungwon menunduk, napasnya berat, seperti sedang menahan sesuatu yang ingin ia banting, teriakkan, hancurkan tapi tidak tahu ke mana.
Ia menggeram. Lebih keras kali ini. Bukan karena ciuman itu. Tapi karena apa yang ia lakukan setelahnya.
Karena ia tahu persis itu bukan refleks. Ia menginginkannya. Sudah lama. Dan saat kamu menariknya kembali, saat bibirmu hampir memilihnya, ia justru mundur dan bersembunyi di balik kata gak sengaja. Itu bukan menjaga batas tapi lari dari kenyataan.
Jungwon mengusap wajahnya kasar, lalu menjatuhkan diri ke sofa. Kepalanya terangkat menatap langit-langit, tapi yang ia lihat hanya kamu. Tatapanmu yang bingung. Diam yang tidak memarahi, tapi juga tidak mengerti.
“Gue cowok macam apa sih,” gumamnya lirih.
Cowok yang berani mencium, tapi tidak berani bertanggung jawab. Cowok yang memilih aman, padahal tahu kamu siap jatuh bersamanya.
Dadanya naik turun. Ada rasa bersalah yang tidak meledak hanya menggerogoti pelan. Ponselnya tergeletak di meja. Layarnya gelap. Tidak ada pesan darimu. Tidak ada tuntutan. Dan itu justru terasa seperti hukuman paling sunyi.
Jungwon memejamkan mata. Besok pagi, ia akan menjemputmu. Ia sudah berjanji. Dan ia tahu, senyum itu akan tetap ia pakai. Nada itu akan tetap sama. Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang retak.
Karena malam ini, ia sadar:
Hal paling brengsek yang bisa dilakukan seorang cowok bukan mencium tanpa rencana melainkan mundur saat perasaan sudah saling menyentuh, lalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Dan kesadaran itu tidak akan memberinya tidur malam ini.
to be continued



